239. MARJIAM MENGAJARI MARIA MAGDALENA "BAPA KAMI"           


1 Agustus 1945

Langit sekali lagi jernih di atas Laut Galilea. Sekarang sesudah hujan membasuh pergi debu, semuanya kelihatan lebih indah dari sebelum badai. Udara jernih sempurna dan dengan menatap langit kau akan mendapatkan kesan bahwa langit tampak lebih tinggi dan lebih ringan… sehelai tirai transparan yang dibentangkan antara bumi dan semarak Firdaus. Danau mencerminkan biru tua langit dan airnya yang biru-hijau merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata.

Fajar hari. Yesus bersama BundaNya, Marta dan Maria Magdalena menaiki kapal Petrus. Di samping Petrus dan Andreas, juga Zelot, Filipus dan Bartolomeus ada bersama-Nya. Sebaliknya Matius, Tomas, kedua sepupu Yesus, Iskariot berada di perahu lain bersama Yakobus dan Yohanes. Mereka berlayar menuju Betsaida, suatu perjalanan pendek yang ditopang oleh hembusan angin lembut. Penyeberangan berlangsung hanya beberapa menit saja.

Ketika mereka hendak tiba, Yesus berkata kepada Bartolomeus dan sobatnya yang tak terpisahkan, Filipus: "Kalian akan pergi dan memberitahu kaum kerabat perempuan kalian. Aku datang ke rumah kalian hari ini." Dan Ia menatap pada mereka penuh arti.

"Ya, Guru. Apakah Engkau tidak akan menganugerahi aku atau Filipus sukacita menerima-Mu sebagai tamu kami?"

"Kita akan tinggal hanya sampai matahari terbenam dan Aku tidak ingin menjauhkan Simon Petrus dari sukacita menikmati kebersamaannya dengan Marjiam."

Perahu tiba di pantai dan berhenti. Mereka turun dari kapal dan Filipus serta Bartolomeus berpisah dari rekan-rekan mereka untuk pergi ke desa.

"Kemanakah mereka berdua itu pergi?" Petrus bertanya pada sang Guru Yang pertama turun dari perahu dan sekarang ada di sampingnya.

"Untuk memberitahu kaum kerabat perempuan mereka."

"Jadi, aku akan pergi dan memberi tahu Porphirea juga."

"Tidak perlu. Porphirea begitu baik hingga tidaklah perlu untuk membuatnya bersiap apapun. Hatinya hanya dapat memberikan kasih."

Wajah Petrus berbinar penuh sukacita mendengar pujian bagi istrinya dan tidak mengatakan apapun lainnya.

Sementara itu, juga para perempuan sudah turun dari perahu, melewati sebilah papan (yang ditempatkan untuk mereka sebagai suatu dermaga), dan pergi menuju rumah Simon.

Marjiam, yang hendak membawa domba-dombanya keluar untuk merumput di rerumputan segar di sisi-sisi yang lebih rendah dari bukit Betsaida, adalah yang pertama melihat mereka dan dia memaklumkan kedatangan mereka dengan suatu pekik sukacita dan berlari untuk memeluk Yesus, Yang sudah membungkuk untuk menciumnya. Dia lalu pergi kepada Petrus. Juga Porphirea, yang kedua tangannya belepotan tepung, tiba dan membungkuk, menyalami mereka.

"Damai sertamu, Porphirea. Kau tidak berharap kami datang begitu cepat, bukan? Tapi Aku antusias membawa BundaKu kepadamu, bersama dua murid perempuan, dan juga berkat-Ku. BundaKu sangat ingin bertemu kembali dengan si bocah. Itu dia dalam pelukan-Nya. Dan para murid perempuan ingin bertemu denganmu… ini istri Simon: murid yang baik dan tidak banyak bicara, lebih aktif dalam ketaatannya dari banyak yang lainnya. Dan ini Marta dan Maria dari Betania. Dua bersaudara. Kasihilah kalian satu sama lain."

"Mereka yang Engkau bawa kepadaku lebih terkasih bagiku dari darahku sendiri, Guru. Mari. Rumahku menjadi lebih indah setiap kali Engkau menjejakkan kaki di dalamnya."

Maria menghampiri Porphirea dengan tersenyum dan memeluknya seraya berkata: "Aku lihat bahwa kau sungguh seorang ibu yang penuh kasih. Si bocah sudah jauh lebih baik dan bahagia. Terima kasih."

"Oh! Perempuan Yang diberkati melebihi semua perempuan lainnya! Aku tahu bahwa adalah karena Engkau aku beroleh sukacita dipanggil ibu. Dan Engkau harus tahu bahwa aku tidak akan pernah menyedihkan-Mu dengan tidak menunaikan hak istimewa itu. Mari masuk, bersama saudari-saudari…"

Marjiam menatap pada Magdalena penuh ingin tahu. Banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya. Pada akhirnya dia berkata: 'Tapi… kau tidak ada di Betania…"

"Tidak. Tapi aku akan selalu ada di sana sejak sekarang," kata Magdalena memerah wajahnya dan tersenyum lemah. Dia membelai si bocah sembari mengatakan: "Bahkan meski kita baru saja bertemu, apakah kau mengasihi aku?"

"Ya, sebab kau baik. Kau menangis, ya kan? Itulah sebabnya mengapa kau baik. Dan namamu Maria, bukan? Juga nama ibuku adalah Maria dan dia baik. Semua perempuan, yang namanya Maria, selalu baik. Tapi," dia mengakhiri perkataannya, untuk tidak melukai Porphirea dan Marta, "tapi banyak dari mereka yang punya nama lain juga baik. Siapakah nama ibumu?"

"Eucheria...  dan dia sangat baik," dan dua aliran besar airmata menuruni wajah Maria dari Magdala.

"Apakah kau menangis sebab dia sudah mati?" tanya si bocah, dan dia membelai tangan Maria yang indah, yang disilangkannya di atas gaun gelapnya, yang jelas adalah gaun Marta yang sudah dipermak untuknya, sebab kelimannya sudah diturunkan. Dan si bocah menambahkan: "Kau jangan menangis. Kau tahu, kita tidak sendirian. Para ibu kita selalu ada dekat kita. Yesus yang mengatakannya. Dan mereka bagai para malaikat pelindung. Yesus juga yang mengatakannya. Dan jika kita baik, mereka akan datang dan menemui kita ketika kita mati dan kita akan naik kepada Allah dalam pelukan ibu kita. Itu betul, kau tahu? Ia yang mengatakannya!"

Maria Magdalena mendekapkan penghibur kecilnya dalam pelukannya dan menciumnya seraya berkata: "Jadi doakan supaya aku dapat menjadi baik."

"Tapi bukannya kau sudah baik? Hanya mereka yang baik yang pergi bersama Yesus… Dan jika orang belum sepenuhnya baik, orang menjadi baik, supaya dapat menjadi murid Yesus. Sebab kau tidak dapat mengajarkan apa yang tidak kau ketahui. Kita tidak dapat mengatakan: 'Ampunilah,' jika kita tidak terlebih dahulu mengampuni. Juga kita tidak dapat mengatakan: 'Kamu harus mengasihi sesamamu,' jika kita tidak terlebih dahulu mengasihinya. Tahukah kau doa Yesus?"

"Tidak tahu."

"Tentu saja, kau bersama-Nya belum lama. Doa itu begitu indah, kau tahu? Menyebutkan segala hal ini. Dengarkan batapa indahnya." Dan Marjiam secara perlahan mendaraskan "Bapa Kami" dengan penuh perasaan dan iman.

"Betapa baik kau mengenalnya," kata Maria dari Magdala penuh kagum.

"Ibuku yang mengajarkannya padaku pada waktu malam dan Bunda Yesus pada waktu siang. Jika kau mau, aku akan mengajarkannya padamu. Maukah kau ikut bersamaku? Domba-domba sudah mengembik. Mereka lapar. Aku akan membawa mereka ke padang rumput. Ikutlah bersamaku. Aku akan mengajarkan padamu bagaimana mendoakannya dan kau akan menjadi sepenuhnya baik," dan dia meraih tangan Maria.   

"Tapi aku tidak tahu apakah Guru ingin…"

"Pergilah, tentu saja, Maria. Kau punya seorang anak tak berdosa sebagai seorang sahabat dan beberapa kambing kecil… Kau boleh pergi, dalam damai…"

Maria dari Magdala pergi bersama si bocah dan dia dapat terlihat pergi dengan didahului oleh ketiga ekor domba. Yesus menatap mereka… dan yang lain-lainnya juga. "Saudariku yang malang!" seru Marta.

"Jangan mengasihaninya. Dia adalah sekuntum bunga yang tengah memperkuat tangkainya sesudah badai. Dapat kau mendengarnya?... Dia tertawa… Ketakberdosaan selalu merupakan penghiburan."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama