235. MARIA MAGDALENA DI RUMAH SIMON, SI FARISI     


21 Januari 1944

Untuk menghiburku dalam penderitaanku yang kompleks dan membuatku melupakan kejahatan manusia, Yesus-ku menganugerahiku kontemplasi manis ini.       

Aku melihat sebuah aula mewah. Sebuah kandelar dengan banyak cabang tergantung di tengah aula dan sepenuhnya dinyalakan. Aula dihiasi permadani gantung yang indah; ada perabotan dan kursi-kursi yang indah bertatah dan didekorasi dengan gading dan daun-daunan dari logam mulia.

Ada sebuah meja bujur sangkar besar di tengah, terdiri dari empat meja yang digabungkan menjadi satu. Meja telah ditata untuk banyak tamu (semuanya laki-laki) dan dihampari taplak-taplak meja yang indah serta peralatan makan yang sangat mewah. Ada amphora-amphora dan cawan-cawan mahal dan banyak pelayan hilir mudik sekeliling meja menyajikan makanan dan menuangkan anggur. Tidak ada orang di tengah meja bujur sangkar. Aku dapat melihat lantai yang indah yang memantulkan cahaya dari kandelar minyak. Sekeliling meja ada banyak dipan-dipan, semuanya ditempati oleh para tamu.

Aku tampaknya berada di suatu pojok temaram di ujung aula, dekat sebuah pintu, yang terbuka lebar, meski disekat oleh sebuah permadani gantung yang berat yang digantung pada pintu.

Tuan rumah dan para tamu paling penting berada di sisi seberang, yakni, sisi paling jauh dari pintu. Tuan rumah adalah seorang tua, yang mengenakan jubah putih lebar yang dikencangkan sekeliling pinggangnya dengan sebuah ikat pinggang bersulam. Pada sekeliling kerah, pergelangan tangan dan pinggiran jubah terdapat hiasan sulaman, yang dijahitkan seolah pita-pita atau garis-garis sulaman. Tetapi aku tidak suka ekspresinya. Jahat, dingin, angkuh dan tamak.          

Di sisi seberangnya, berhadapan dengannya, adalah Yesus-ku. Aku melihatnya dari samping, nyaris dari belakang punggung-Nya. Ia mengenakan jubah putih biasanya, sandal, dan rambut-Nya yang panjang dibelah dua pada bagian kening.

Aku melihat bahwa baik Ia maupun semua tamu tidak duduk tegak sekeliling meja, seperti yang aku pikir akan dilakukan orang di dipan-dipan itu, sebaliknya mereka berbaring sejajar. Dalam penglihatan mengenai perkawinan di Kana, aku tidak memberikan banyak perhatian pada detail-detail ini. Aku melihat bahwa mereka makan dengan bertumpu pada siku kiri mereka, tetapi mereka tidak kelihatan sungguh berbaring, mungkin sebab dipan-dipannya lebih pendek dan tidak sebegitu mewah. Yang aku lihat sekarang ini adalah sungguh pembaringan-pembaringan, dan kelihatan seperti dipan-dipan Turki modern.

Yohanes ada dekat Yesus dan sebab Yesus berbaring pada siku kiri-Nya, seperti semua orang lainnya, Yohanes berada di antara meja dan tubuh Yesus, dengan sikunya sejajar dengan kunci paha sang Guru, agar dia tidak menghalangi-Nya sementara Ia makan, tetapi jika dia mau, dia dapat berbaring tersembunyi pada dada-Nya.

Tidak ada perempuan di meja. Mereka semua berbicara dan tuan rumah sesekali berbicara kepada Yesus dengan keramah-tamahan yang nyata dibuat-buat. Jelas bahwa dia ingin menunjukkan kepada-Nya dan juga kepada mereka semua yang hadir, bahwa dia sangat menghormati-Nya, seorang nabi miskin dan agak pemarah, sebagaimana banyak orang menganggap-Nya demikian, dengan mengundang-Nya ke rumahnya yang mewah… Aku melihat Yesus menjawab dengan lemah lembut dan tenang. Ia tersenyum samar pada mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya, tetapi senyum-Nya menjadi cemerlang apabila Yohanes berbicara kepada-Nya atau bahkan sekedar menatap-Nya.

Aku melihat tirai indah yang menutupi pintu disingkapkan dan seorang perempuan muda masuk. Dia cantik jelita, berpakaian mewah dan rambutnya ditata mengagumkan. Berkas-berkas rambut pirangnya yang sangat tebal dijalin secara artistik membentuk sebuah hiasan indah pada kepalanya. Rambutnya begitu kemilau dan lebat hingga dia seolah mengenakan sebuah helm keemasan dengan hiasan relief. Jika aku hendak membandingkan gaun yang dikenakannya dengan gaun-gaun yang selalu aku lihat dikenakan Santa Perawan Maria, akan aku katakan bahwa yang ini sangat istimewa dan rumit. Ada gesper-gesper pada bahu, hiasan-hiasan untuk menautkan lipit-lipit di atas dada, rantai-rantai emas kecil untuk memberi bentuk pada dada, dan ikat pinggang berhiaskan kancing-kancing dan batu-batu permata. Sungguh sehelai gaun yang vulgar, yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah. Kerudung di kepalanya begitu tipis hingga… tidak menutupi apapun: sekedar merupakan tambahan hiasan belaka. Sandalnya adalah sandal yang sangat mahal, dari kulit merah dengan gesper-gesper emas dan tali-temali yang dijalin sekeliling mata kakinya.

Semua orang, terkecuali Yesus, berpaling untuk memandangnya. Yohanes menatapnya sejenak, lalu menatap Yesus. Yang lain-lainnya menatap padanya dengan angan-angan jahat yang kentara. Tetapi perempuan itu tidak memandang mereka, pun tidak mempedulikan bisik-bisik yang muncul saat dia masuk, ataupun kedipan mata orang-orang yang hadir, terkecuali Yesus dan murid-Nya. Yesus berpura-pura tidak melihat apa-apa. Ia melanjutkan percakapan-Nya dengan tuan rumah.

Perempuan itu pergi menghampiri Yesus dan berlutut di kaki sang Guru. Dia menempatkan di atas lantai sebuah vas kecil, berbentuk seperti sebuah amphora berperut gendut, menanggalkan kerudungnya sesudah melepaskan sebuah jepit panjang yang mahal harganya, yang melekatkan kerudung pada rambutnya, dia melepaskan cincin-cincin dari jemarinya dan menempatkan semuanya di atas dipan dekat kaki-kaki Yesus. Dia lalu menempatkan kaki-kaki Yesus pada kedua tangannya, pertama kaki kanan dan lalu kaki kiri, membuka tali-tali sandal-Nya dan menempatkan sandal di atas lantai. Dia lalu mencium kaki-kaki-Nya dan meledak dalam tangis, dia mengistirahatkan kepalanya di atas kaki-kaki itu, membelainya, sementara airmata membanjiri wajahnya bagai tetes-tetes hujan, yang berkilau dalam terang kandelar dan membasahi kaki-kaki mengagumkan itu.

Yesus memalingkan kepala-Nya sekilas dan dengan perlahan, dan mata-Nya yang dalam beristirahat sejenak pada kepala perempuan yang diistirahatkan itu. Suatu tatapan absolusi. Ia lalu melihat lagi ke tengah aula, membiarkannya bebas meluahkan airmatanya.

Namun tidak demikian halnya dengan mereka yang lain: mereka mencaci, mengedipkan mata dan mengejek. Si Farisi duduk tegak sesaat untuk dapat melihat dengan terlebih jelas dan matanya menyiratkan nafsu, kedongkolan hati dan cemooh. Dia berhasrat terhadap perempuan itu, dan perasaan itu jelas kentara. Dia mendongkol sebab perempuan itu telah masuk dengan begitu bebas, yang dapat menyebabkan orang-orang lainnya berpikir bahwa dia adalah tamu yang biasa berkunjung ke rumah itu. Dan dia mencemooh sehubungan dengan Yesus…

Tetapi perempuan itu tidak mengindahkan apapun. Dia terus mencucurkan banjir airmata tanpa suara. Dia menangis dan sesekali dia terisak. Dia lalu mengurai rambutnya, sesudah melepaskan jepit-jepit emasnya, yang menjaga tatanan rambutnya yang rumit dan dia menempatkan juga jepit-jepit itu dekat cincin-cincin dan jepit kerudung yang panjang. Gulungan-gulungan rambut keemasan terjuntai di punggungnya. Dia meraih rambutnya dengan kedua tangan, membawanya ke depan tubuhnya dan menyapukannya pada kaki-kaki Yesus yang basah, hingga dia melihat bahwa kaki-kaki itu sudah kering. Dia mencelupkan jemarinya ke dalam vas kecil dan mengeluarkan balsam kekuningan yang sangat harum mewangi. Suatu harum semerbak, perpaduan antara bunga lily dan tuberose [Polianthes tuberose, rempah-rempah], tersebar ke segenap penjuru aula. Perempuan itu menggunakannya dengan royal, dia melumurkannya, sembari mencium dan membelai kaki-Nya sekaligus.

Yesus sesekali menatap padanya dengan penuh cinta belas-kasihan. Yohanes, yang memandang sekeliling dengan tercengang ketika perempuan itu meledak dalam tangis, tidak dapat mengalihkan matanya dari Yesus dan si perempuan dan menatap keduanya bergantian.

Wajah si Farisi menjadi semakin bertambah muram. Aku sekarang mendengar sabda-sabda terkenal itu dari Injil dan aku mendengarnya diucapkan dalam suatu nada dan dengan suatu tatapan, yang menyebabkan orang tua yang mendongkol hati itu menundukkan kepalanya.

Aku mendengar kata-kata absolusi untuk perempuan itu, yang pergi dengan meninggalkan perhiasan-perhiasannya di kaki Yesus. Dia sudah mengikatkan kerudung sekeliling kepalanya, dengan demikian mengikat rambutnya yang berantakan sebaik mungkin. Yesus, sementara berkata padanya: "Pergilah dalam damai," menempatkan tangan-Nya sesaat di atas kepalanya yang beristirahat. Suatu gerakan yang sungguh teramat lemah lembut.  




Yesus sekarang berkata kepadaku:

"Apa yang membuat si Farisi dan teman-temannya menundukkan kepala mereka dan yang tidak disebutkan dalam Injil, adalah sabda yang oleh roh-Ku, dalam satu tatapan, dibidikkan padanya dan menembusi masuk ke dalam jiwanya yang kering gersang. Aku menjawab padanya jauh lebih banyak dari yang dituliskan, sebab tak satu pun pemikiran dari orang-orang itu tersembunyi dari-Ku. Dan dia mengerti bahasa bisu-Ku, yang lebih bermakna dan mencela dari perkataan-Ku.

Aku berkata padanya: 'Tidak. Jangan buat dakwaan-dakwaan tersembunyi yang jahat demi membenarkan dirimu sendiri di hadapan dirimu sendiri. Aku tidak memiliki kecenderungan pada percabulan sepertimu. Dia tidak datang kepada-Ku sebab tertarik oleh sensualitas. Aku bukan kamu atau seperti mereka yang sepertimu. Dia datang kepada-Ku sebab pembawaan-Ku dan sabda-Ku, yang dia dengar secara kebetulan, telah menerangi jiwanya, yang sudah ditinggalkan percabulan dalam kegelapan yang kelam. Dan dia datang sebab dia ingin mengatasi sensualitasnya dan dia tahu, makhluk malang itu, bahwa dia tidak akan pernah dapat berhasil dari dirinya sendiri. Dia mencintai roh-Ku, bukan yang lain selain dari roh-Ku, yang dirasanya baik secara adikodrati. Sesudah begitu banyak kejahatan yang dia terima dari kalian semua, yang sudah mengambil keuntungan dari kelemahannya untuk kejahatan kalian sendiri, dengan mengganjarinya cemoohan kalian yang menderanya, dia datang kepada-Ku, sebab dia tahu bahwa dia telah menemukan Kebaikan, Sukacita dan Damai, yang dia cari secara sia-sia dalam pesta-pora dan kesia-siaan dari dunia yang jahat ini. Sembuhkan kusta jiwamu, hai Farisi munafik, supaya kamu dapat memiliki pandangan yang benar atas perkara-perkara. Tinggalkan kebanggaan pikiran dan berahi daging. Kustanya jauh lebih busuk dari kusta tubuhmu. Jamahan-Ku dapat menyembuhkanmu dari kusta tubuhmu, sebab kau memohon pada-Ku untuk menyembuhkanmu, tetapi Aku tidak dapat menyembuhkanmu dari kusta jiwamu, sebab kamu tidak ingin disembuhkan, sebab kamu menyukainya. Tetapi dia ingin sembuh. Dan demikianlah Aku membersihkannya, dan Aku membebaskannya dari rantai-rantai perbudakannya. Si pendosa sudah mati. Tetapi, dia masih di sana, dalam perhiasan-perhiasan itu yang dengan rasa bersalah dia persembahkan pada-Ku supaya Aku dapat menyucikannya, dengan mempergunakannya bagi kebutuhan para murid-Ku dan kebutuhan-Ku dan bagi kaum miskim, yang Aku tolong melalui sarana kelebihan dari orang-orang lain, sebab Aku, sang Tuan alam semesta, tiada memiliki apa-apa sekarang sebab Aku adalah Juruselamat manusia. Dia masih di sana, dalam harum mewangi yang dioleskan pada kaki-kaki-Ku, parfum yang sudah direndahkannya seperti rambutnya, pada bagian tubuh-Ku yang kamu anggap remeh untuk disegarkan dengan air dari sumurmu, kendati Aku telah berjalan begitu jauh demi membawakan terang kepadamu juga. Si pendosa sudah mati. Dan Maria dilahirkan kembali, secantik seorang gadis bersahaja, melalui dukacitanya yang mendalam dan kasihnya yang tulus. Dia membasuh dirinya dengan airmatanya. Dan dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu, hai Farisi, bahwa antara pemuda ini yang mengasihi Aku dalam kemurnian kemudaannya, dan perempuan itu yang mengasihi Aku dalam ketulusan pertobatan dari hati yang dilahirkan kembali bagi Rahmat, Aku tidak membuat pembedaan. Dan kepada pemuda Murni dan perempuan Bertobat itu Aku mempercayakan tugas memahami pemikiran-Ku seperti yang tak dapat dilakukan orang lain, pula tugas memberikan penghormatan terakhir pada Tubuh-Ku, dan salam pertama (Aku tidak memperhitungkan salam istimewa untuk BundaKu) ketika Aku akan bangkit dari mati.' Itulah apa yang ingin Aku katakan kepada si Farisi melalui wajah-Ku.

Tetapi Aku akan menarik perhatianmu pada sesuatu yang lain: untuk sukacitamu dan sukacita banyak orang. Juga di Betania Maria mengulangi tindakan kasih itu yang menandai fajar penebusannya. Ada tindakan-tindakan pribadi, yang diulangi dan yang khas bagi seseorang seperti style seseorang. Itu adalah tindakan-tindakan yang jelas. Tetapi, sebagaimana adil, di Betania tindakan kasih itu tidak dihinakan sebegitu rupa dan lebih tersembunyi dalam adorasi penghormatannya.

Maria telah pergi jauh sejak fajar penebusannya itu. Suatu perjalanan yang sangat panjang. Kasih, bagai suatu angin kencang, telah meniupnya naik tinggi dan jauh unggul. Kasih telah membakarnya bagai api, memusnahkan daging tidak murninya dan menjadikan roh yang telah dimurnikan sebagai tuan barunya. Dan Maria, yang sekarang berbeda dalam martabat kewanitaannya yang hidup kembali, sebab dia berbeda dalam berbusana, yang sekarang sesederhana busana BundaKu, dalam tatanan rambutnya, dalam tatapannya, perilakunya, perkataannya, Maria baru ini punya suatu cara baru untuk menghormati-Ku melalui sarana tindakan yang sama itu. Dia mengambil yang terakhir dari vas-vas parfumnya, yang disimpannya untuk-Ku, dan menuangkannya ke atas kaki-kaki-Ku dan kepala-Ku, tanpa mencucurkan airmata, dengan wajah bahagia sebab kasih dan kepastian bahwa dia telah diampuni dan diselamatkan. Maria sekarang dapat menyentuh kepala-Ku dan mengurapi-Ku. Tobat dan kasih telah membersihkannya melalui api serafim dan dia adalah seorang serafim.

Ulangi itu pada dirimu sendiri, Maria, 'suara' kecil-Ku dan ulangi itu pada jiwa-jiwa. Pergi, katakan pada jiwa-jiwa agar jangan takut datang kepada-Ku sebab mereka merasa bersalah. Dia yang banyak mengasihi akan banyak diampuni. Yakni, dia yang mengasihi Aku. Kalian, jiwa-jiwa malang, tidak tahu betapa dahsyat Juruselamat mengasihi kalian! Jangan takut pada-Ku. Marilah. Dengan penuh percaya. Dengan penuh keberanian. Aku membuka Hati-Ku dan kedua tangan-Ku untukmu.

Selalu ingat: 'Aku tidak membuat pembedaan antara dia yang mengasihi Aku dengan kemurniannya yang tanpa cela dan dia yang mengasihi Aku dalam ketulusan pertobatan dari hati yang dilahirkan kembali bagi Rahmat.' Aku sang Juruselamat. Selalu ingat itu.

Pergilah dalam damai. Aku memberkatimu."   




22 Januari 1944

Sepanjang hari aku memikirkan mengenai dikte Yesus kemarin malam dan mengenai apa yang aku lihat dan aku mengerti, bahkan meski itu tidak dikatakan.

Sementara itu, berbicara mengenainya, aku katakan kepadamu bahwa percakapan dari mereka yang hadir dalam perjamuan, sejauh yang dapat aku mengerti, yakni, bagian yang dipercakapkan dengan Yesus, adalah mengenai peristiwa sehari-hari: orang-orang Romawi, Hukum yang ditentang oleh mereka, dan lalu misi Yesus sebagai Guru dari suatu sekolah yang baru. Tetapi di balik apa yang kelihatan sebagai keramah-tamahan itu, adalah jelas bahwa mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang licik dan menjebak guna mempermalukan-Nya. Suatu tugas yang sulit, namun Yesus dalam beberapa patah kata memberikan jawaban yang tepat dan pasti untuk tiap-tiap masalah.

Sebagai misal, ketika mereka menanyai-Nya mengenai dari sekolah atau sekte khusus manakah Ia telah menjadi seorang guru baru, Ia menjawab jelas: "Dari sekolah Allah. Adalah Ia Yang Aku ikuti dalam Hukum kudus-Nya dan Yang untuk kepentingan-Nya Aku membaktikan Diri-Ku, dengan memastikan bahwa hukum itu diperbaharui bagi kaum kecil ini (dan Ia dengan penuh kasih menatap pada Yohanes, dan dalam Yohanes, pada semua orang yang berhati baik) dalam segala intisarinya, seperti pada hari ketika Tuhan Allah memaklumkannya di Sinai. Aku membawa manusia kembali kepada Terang Allah."

Untuk pertanyaan lain, mengenai bagaimana pendapat-Nya mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh Kaisar, yang menjadi penguasa Palestina, Ia menjawab: "Kaisar adalah siapa dia sebab itulah apa yang Allah kehendaki. Ingat nabi Yesaya. Melalui inspirasi ilahi, tidakkah dia menyebut Asyur 'cambuk' murka-Nya? Cambuk yang menghukum umat Allah, sebab sudah menjadi terlalu terpisah dari Allah dan tampilan lahiriahnya dan rohaninya munafik? Dan tidakkah Ia mengatakan bahwa sesudah menggunakannya sebagai suatu penghukuman, Ia akan membinasakan dia sebab dia akan telah menyalahgunakan tugasnya, dengan menjadi terlalu angkuh dan keji?"

Itulah kedua jawaban yang paling mengesankanku.

Kemudian sore ini Yesus-ku berkata padaku seraya tersenyum:

"Aku sepantasnya memanggilmu seperti Aku memanggil Daniel. Kau adalah perempuan berpengharapan dan kau Aku sayangi sebab kau begitu menginginkan Allah-mu. Dan Aku dapat terus mengatakan kepadamu apa yang dikatakan kepada Daniel oleh malaikat-Ku: 'Janganlah takut, sebab sejak hari pertama ketika kau menggunakan hatimu untuk mengerti dan merendahkan diri di hadapan Allah, doa-doamu telah didengarkan dan doa-doamu itu merupakan alasan mengapa aku datang.' Tetapi di sini bukan malaikat yang berbicara. Aku yang berbicara kepadamu: Yesus.

Maria, Aku selalu datang ketika 'suatu hati antusias untuk mengerti.' Aku bukan Allah yang keras kaku. Aku adalah Kerahiman Yang Hidup. Dan Aku datang lebih cepat dari pikiran mereka yang berharap kepada-Ku. Dan Aku pergi segera kepada Maria Magdalena yang malang, yang begitu terbenam dalam dosa, dengan roh-Ku, begitu Aku merasa bahwa kerinduan untuk mengerti timbul dalam dirinya. Kerinduan untuk mengerti terang Allah dan keadaan kegelapannya sendiri. Dan Aku menjadi Terang-nya.

Aku berbicara kepada banyak orang hari itu, tetapi sesungguhnya Aku berbicara hanya kepadanya. Aku melihat hanya dia yang sudah mendatangi kami dengan didorong oleh kobaran jiwanya, yang memberontak melawan daging yang memperbudaknya. Aku melihat hanya dia dengan wajah malangnya di tengah kegalauan, senyumnya yang dipaksakan, yang berupaya menyembunyikan begitu banyak tangisan hatinya, di bawah tampilan percaya diri dan kegembiraan palsu, yang merupakan suatu tantangan bagi dunia dan bagi dirinya sendiri. Aku melihat hanya dia, yang lebih terjerat dalam onak duri daripada domba yang hilang dalam perumpamaan dan dia tengah tenggelam dalam kejijikan hidupnya sendiri, kejijikan yang dibawa naik ke permukaan bagai gelombang-gelombang yang membawa naik air dari dasar.

Aku tidak mengucapkan perkataan-perkataan luar biasa, pun Aku tidak menyinggung suatu subyek tertentu mengenainya, seorang pendosa tersohor, sebab Aku tidak ingin mempermalukannya, dengan memaksanya untuk melarikan diri, untuk menjadi malu datang kepada-Ku. Aku membiarkannya dalam damai… Aku membiarkan sabda-Ku dan tatapan-Ku turun ke dalam dirinya, bekerja di sana untuk mengubah dorongan hati sesaat menjadi masa depannya yang kudus mulia. Aku berbicara melalui salah satu dari perumpamaan-perumpamaan yang paling halus lembut: seberkas cahaya dan kelemah-lembutan yang disorotkan hanya untuknya. Dan sore itu, sementara Aku menjejakkan kaki di rumah si Farisi kaya yang sombong itu, di mana sabda-Ku tidak dapat bekerja menjadi kemuliaan masa depan sebab dibunuh oleh kebanggaan Farisi, Aku sudah tahu bahwa dia akan datang sesudah menangis getir dalam kamar kejahatannya dan bahwa dia sudah memutuskan mengenai masa depannya dalam terang airmatanya.

Baik daging maupun benak manusia terbakar oleh berahi ketika mereka melihatnya masuk. Semua orang menatap padanya penuh nafsu, terkecuali kedua 'orang murni' yang hadir dalam perjamuan: Yohanes dan Aku. Mereka semua berpikir bahwa dia datang sebab satu dari perubahan moodnya yang tiba-tiba yang biasa terjadi, suatu kerasukan setan yang sebenarnyalah yang menghantarnya ke affair-affair yang sekonyong-konyong. Tetapi setan sudah dikalahkan. Dan ketika mereka semua memperhatikan bahwa dia tidak melihat mereka, mereka dengan iri berpikir bahwa dia sudah datang untuk-Ku. Manusia selalu mencemari juga hal-hal yang termurni, apabila dia hanya daging dan darah. Hanya mereka yang murni yang memiliki pandangan yang benar sebab tidak ada dosa dalam diri mereka yang mengacaukan pikiran mereka.

Namun tidak ada alasan untuk takut sebab manusia tidak mengerti, Maria. Allah mengerti. Dan itu cukup bagi Surga. Kemuliaan yang berasal dari manusia tidak menambahkan barang seons pun pada kemuliaan yang adalah takdir dari jiwa-jiwa terberkati di Firdaus. Selalu ingat itu. Maria Magdalena yang malang selalu dihakimi secara keliru dalam perbuatan-perbuatan baiknya. Tetapi dia tidak dihakimi secara keliru dalam perbuatan-perbuatan jahatnya sebab perbuatan-perbuatan jahatnya adalah suapan berahi yang ditawarkan pada lapar tak terpuaskan dari orang-orang cabul. Dia dikritik dan dihakimi secara keliru di Nain, di rumah si Farisi dan dia dikritik dan dicela di Betania, di rumahnya sendiri.

Tetapi Yohanes, yang mengatakan suatu perkataan luar biasa, punya kunci untuk lontaran kritik terakhir: 'Yudas… sebab dia adalah seorang pencuri.' Aku katakan: 'Si Farisi dan teman-temannya sebab mereka cabul.' Lihat? Berahi atas sensualitas, tamak akan uang mengangkat suara mereka untuk mengkritik perbuatan-perbuatan baik. Orang-orang baik tidak mengkritik. Tidak pernah. Mereka mengerti.

Tetapi Aku akan mengulanginya, kritik dari dunia tidaklah penting. Apa yang penting adalah penghakiman Allah."        
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama