229. PEREMPUAN YANG MENDERITA PENDARAHAN DAN PUTERI YAIRUS  


11 Maret 1944

Penglihatan ini muncul ketika aku sedang berdoa, dan aku letih serta galau, dan dengan demikian dalam kondisi terburuk untuk memikirkan perkara-perkaraku. Akan tetapi keletihan jasmani dan mental serta kegalauan lenyap begitu Yesus-ku muncul dan aku pun menulis.  

Yesus sedang berjalan di suatu jalanan berdebu bermandikan sinar matahari yang terbentang sepanjang tepi danau. Ia mengayunkan langkah-Nya menuju desa dengan dikelilingi oleh suatu himpunan besar orang, yang pastilah menantikan-Nya. Orang banyak berdesak-desakan sekeliling-Nya meski pada kenyataannya para rasul mendorong dengan tangan dan bahu mereka untuk membuka jalan bagi-Nya dan berseru-seru membujuk orang banyak untuk memberi jalan.

Tetapi Yesus tidak marah oleh begitu banyak kekacauan. Sebab Ia lebih tinggi satu kepala dari mereka yang di sekeliling-Nya, Ia menatap dan tersenyum ramah pada khalayak ramai yang berhimpitan sekeliling-Nya. Ia menjawab salam mereka, Ia membelai beberapa anak laki-laki yang berhasil menerobos pagar kaki orang-orang dewasa dan dengan demikian dapat mendekati-Nya. Ia menumpangkan tangan-Nya ke atas kepala bayi-bayi yang diunjukkan ibu mereka di atas orang-orang yang lebih dekat dengan Yesus, sehingga Ia dapat menjamahnya. Dan Ia terus berjalan, dengan perlahan, dengan sabar, di tengah teriakan dan desakan terus-menerus yang tentunya akan menjengkelkan orang lain.

Seorang laki-laki berteriak: "Beri jalan, beri jalan." Suatu suara yang terengah-engah dan pastilah dikenal orang banyak, jelas suara dari seorang yang berpengaruh, karena orang banyak membuka jalan, meski dengan susah-payah, sebab begitu berjubel, guna membiarkan lewat seorang laki-laki sekitar limapuluh tahun usianya. Dia mengenakan pakaian panjang yang longgar dan pada sekeliling kepalanya ada semacam saputangan putih, yang kedua ujungnya terjuntai jatuh ke kedua pipi dan lehernya.

Ketika tiba di hadapan Yesus, dia prostratio di depan kaki-Nya dan berkata: "Oh! Guru, mengapakah Engkau pergi begitu lama? Gadis kecilku sakit parah. Tak seorang pun dapat menyembuhkannya. Hanya Engkau sajalah harapan ibunya dan harapanku. Marilah, Guru. Aku telah menantikan-Mu dengan harap cemas yang hebat. Sudi datanglah segera. Puteri tunggalku tengah meregang nyawa…" dan dia menangis.

Yesus menumpangkan tangan-Nya ke atas kepala laki-laki yang menangis itu, yang terbungkuk dan gemetar oleh isak tangis, dan menjawabnya: "Janganlah menangis. Milikilah iman. Puterimu akan hidup. Marilah kita pergi kepadanya. Berdirilah. Marilah kita pergi!" Perkataan terakhirnya kedengaran seperti suatu perintah. Sebelumnya, Ia adalah sang Penghibur, sekarang adalah sang Penguasa yang berbicara.

Mereka berangkat. Yesus berjalan di samping si ayah yang menangis dan menggenggam tangannya. Dan ketika laki-laki malang itu terlebih terguncang oleh isak tangis yang terlebih pilu, aku melihat Yesus menatap padanya dan menggenggamkan tangan-Nya dengan lebih erat. Ia tidak melakukan apapun lainnya, tetapi betapa banyak kekuatan yang pastilah mengalir masuk ke dalam jiwa yang diperlakukan seperti itu oleh Yesus!  

Sebelumnya Yakobus yang berada di tempat di mana si ayah sekarang berada. Tetapi Yesus membuatnya minggir untuk memberikan tempat kepada si ayah. Petrus berada di sisi lain Yesus. Yohanes berada di samping Petrus dan mereka berdua berupaya membendung desakan orang banyak, sementara Yakobus dan Iskariot melakukan yang sama di sisi lainnya, di sebelah si ayah yang menangis. Sebagian murid lainnya berada di depan, sebagian di belakang Yesus. Tetapi betapa suatu tugas yang mustahil! Teristimewa bagi ketiga murid yang di belakang, di antaranya aku melihat Matius, tidak dapat menahan tembok manusia itu. Tetapi ketika mereka terlalu banyak mengeluh atau mereka nyaris memaki khalayak ramai yang mendesak, Yesus menoleh ke belakang dan berkata lembut: "Biarkan orang-orang kecil-Ku!..."

Akan tetapi, pada suatu saat tertentu, Ia berbalik dengan suatu gerakan mendadak dengan melepaskan tangan si ayah dan Ia berhenti. Bukan hanya kepala-Nya yang berputar ke sekeliling, melainkan keseluruhan tubuhnya. Ia kelihatan lebih tinggi, sebab Ia telah mengambil suatu sikap rajawi. Dengan wajah serius penuh tanya Ia mencermati orang banyak. Matanya berkilat, bukan keras, melainkan penuh wibawa: "Siapa yang menyentuh Aku?" Ia bertanya.  

Tak seorang pun menjawab.

"Siapa yang menyentuh Aku, Aku ulangi," desak Yesus.

"Guru," jawab para murid. "Tidakkah Engkau lihat bagaimana orang banyak berdesak-desakan sekeliling-Mu dari segala penjuru? Mereka semua menyentuh-Mu, meski kami sudah berusaha keras."         

Yesus, sementara berbicara, menatap tiga atau empat kali pada seorang perempuan kecil, sekitar empatpuluh tahun usianya, berpakaian sangat miskin dan bertubuh kurus kering, yang berupaya menghilang di tengah kerumunan orang banyak dan melenyapkan diri sama sekali. Kedua mata-Nya pastilah membakarnya. Perempuan itu yang tahu bahwa dia tidak dapat melarikan diri, kembali dan merebahkan diri di depan kaki-Nya, nyaris mencium debu jalanan dengan wajahnya, sementara kedua lengannya terentang tanpa berani menyentuh Yesus.

"Ampunilah aku! Aku yang melakukannya. Aku sakit. Aku sakit selama duabelas tahun! Aku dijauhi semua orang. Suamiku meninggalkanku. Aku membelanjakan semua yang aku miliki supaya aku dapat tidak dianggap aib, dan aku dapat hidup seperti semua orang lainnya. Tetapi tak seorang pun dapat menyembuhkanku. Lihat, Guru? Aku renta sebelum waktunya. Kekuatanku telah meninggalkanku dengan penyakit pendarahan yang tak tersembuhkan dan damaiku pergi bersamanya. Mereka mengatakan kepadaku bahwa Engkau baik. Aku diberitahu oleh seorang yang Engkau sembuhkan dari kusta dan yang, sebab dia sendiri telah dikucilkan selama bertahun-tahun, tidak memandang hina padaku. Aku tidak berani mengatakannya kepada-Mu sebelumnya. Ampunilah aku! Aku pikir jika Aku hanya menyentuh-Mu saja, maka aku akan sembuh. Tetapi aku tidak menjadikan-Mu najis. Aku menyentuh sekelebat saja pinggiran jubah-Mu, pinggiran yang menyapu tanah, di atas debu jalanan… Aku sendiri debu… Tetapi sekarang aku sembuh, semoga Engkau diberkati! Saat aku menyentuh jubah-Mu, segala keluhanku berakhir. Aku seperti semua perempuan lainnya. Aku tidak akan lagi dihindari orang. Suamiku, anak-anakku dan sanak keluargaku akan dapat tinggal bersamaku dan aku akan dapat membelai mereka. Aku akan menjadi orang yang berguna dalam keluargaku. Terima kasih, Yesus, Guru-ku yang baik. Semoga Engkau diberkati untuk selama-lamanya!"

Yesus menatap padanya dengan kebaikan yang tak terkira. Ia tersenyum dan berkata: "Pergilah dalam damai, puteri-Ku. Imanmu telah memulihkan kesehatanmu. Bebaslah dari segala keluhanmu untuk selamanya. Jadilah baik dan bahagia. Pergilah."

Sementara Ia masih berbicara, seorang laki-laki tiba. Aku pikir dia adalah seorang pelayan, dan dia berbicara kepada si ayah yang tengah menantikan sepanjang waktu, dengan penuh hormat namun antusias untuk segera berangkat kembali, seakan dia tegang dan gelisah. "Puterimu sudah meninggal. Percuma sajalah merepotkan Guru. Jiwanya sudah pergi dan para perempuan sudah meratapinya. Ibunya mengutusku untuk memberitahukannya padamu dan dia memintamu untuk datang segera."

Ayah malang itu menyuarakan suatu erangan pilu. Dia menyembunyikan wajahnya dalam kedua tangannya, menekankan dahinya dan matanya serta menundukkan kepalanya seolah dia terkena pukulan.  

Sebab Yesus tenggelam dalam mendengarkan dan menjawab si perempuan, orang akan berpikir bahwa Ia tidak melihat ataupun mendengar apapun, sebaliknya Ia berpaling dan dengan menempatkan tangan-Nya ke atas pundak bungkuk si ayah yang malang, Ia berkata: "Sobat, Aku katakan padamu: 'Milikilah iman.' Aku ulangi: 'Milikilah iman.' Janganlah takut. Puterimu akan hidup. Marilah kita pergi kepadanya." Dan Ia berangkat, dengan mendekapkan laki-laki yang patah hati itu ke sisi tubuh-Nya.

Khalayak ramai, melihat betapa hebat dukacita dan sebab amat tersentuh hatinya oleh mukjizat yang baru terjadi, ketakutan dan berhenti, mereka lalu membuka jalan, membiarkan Yesus dan para murid-Nya berjalan cepat, sementara mereka mengikuti dalam kesadaran akan Rahmat yang lewat. Mereka berjalan demikian sekitar seratus yard, mungkin lebih - aku tidak pandai memperkirakan - berjalan menuju pusat kota.

Orang banyak berjubel di depan sebuah rumah terpandang, menyampaikan komentar-komentar dengan suara melengking yang nyaring atas peristiwa yang terjadi dan menanggapi seruan-seruan yang terlebih nyaring yang berasal dari rumah melalui pintu yang terbuka lebar. Seruan-seruan gemetar yang menembusi ulu hati, tampaknya disuarakan secara monoton oleh suara yang terlebih melengking dari seorang penyanyi solo, yang ditanggapi pertama-tama oleh sekelompok suara yang lemah dan lalu diikuti oleh kelompok lain dengan suara lantang. Ada cukup banyak kegemparan untuk mengakibatkan bahkan seorang yang sehat pun mati.       

Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk berhenti di depan pintu, dan Ia meminta Petrus, Yohanes dan Yakobus mengiuti-Nya. Ia memasuki rumah bersama mereka, dengan sepanjang waktu menggandeng lengan si ayah yang menangis. Dengan menggandengnya seperti itu, Ia kelihatan ingin menanamkan ke dalam dirinya keyakinan bahwa Ia ada di sana untuk membuatnya bahagia. Para peratap perempuan (aku akan menyebut mereka para peraung), ketika mereka melihat tuan rumah dan Guru, melipat-gandakan jeritan mereka. Mereka bertepuk tangan, menabuh tamborin, membunyikan kerincing untuk mengiringi ratapan mereka.   

"Diamlah," kata Yesus. "Tidak perlu menangis. Anak itu tidak mati. Dia tidur."

Para perempuan berteriak lebih nyaring, sebagian bergulung-gulung di lantai, sebagian mencakar-cakar diri mereka sendiri, dan menjambak-jambak rambut mereka (atau mereka berpura-pura melakukannya), demi membuktikan bahwa dia sungguh sudah mati. Para pemusik dan teman-teman dari keluarga itu menggeleng-gelangkan kepala mereka mendengar gagasan Yesus yang dianggap khilaf. Mereka berpikir bahwa Ia telah teperdaya. Tetapi Ia mengulang: "Diamlah!" dengan begitu energik hingga kegaduhan, meski tidak berhenti sama sekali, berubah menjadi bisik-bisik. Dan Ia pun lewat.

Ia masuk ke dalam sebuah kamar yang kecil. Seorang gadis kecil yang sudah mati terbaring di atas tempat tidur. Dia kurus, sangat pucat, sudah didandani dan rambutnya yang berwarna gelap sudah ditata rapi. Ibunya menangis di sisi kanan pembaringan dan menciumi tangan mungil bak lilin dari anak yang sudah mati itu. Yesus… betapa tampannya Ia sekarang! Aku jarang melihat-Nya demikian! Ia menghampiri pembaringan dengan penuh peduli. Ia kelihatan seolah meluncur atau melayang di atas lantai, begitu cepat Ia menghampiri tempat tidur kecil itu. Ketiga rasul berdiri dengan punggung mereka menghadap pintu, yang telah mereka tutup dari pandangan para penonton yang ingin tahu. Si ayah berdiri di kaki pembaringan.

Yesus pergi ke sisi kiri pembaringan dan dengan tangan kiri-Nya Ia meraih tangan kiri si anak yang sudah tak bernyawa. Ya, aku melihat-Nya dengan baik. Adalah tangan kiri, baik dari Yesus maupun dari si anak. Ia mengangkat tangan kanan-Nya dengan telapak tangan terbuka, hingga setinggi bahu-Nya dan lalu menurunkannya dalam sikap seorang yang mengangkat sumpah atau memberikan suatu perintah. Ia berkata: "Gadis kecil, Aku katakan padamu: Bangunlah!"       

Ada saat ketika semua orang merasa amat tegang, terkecuali Yesus dan si anak. Para rasul menjulurkan leher mereka agar dapat melihat lebih jelas. Si ayah dan ibu menatap pada anak mereka dengan mata penuh duka. Sejenak kemudian suatu desah napas menaikkan dada si anak. Suatu rona samar mewarnai wajahnya yang bak lilin dan pucat kematiannya memudar. Bayangan seulas senyum muncul pada bibirnya sebelum matanya terbuka, seolah dia tengah menikmati suatu mimpi yang indah. Yesus masih menggenggam tangannya. Dia dengan lembut membuka kedua matanya dan memandang sekeliling seolah dia baru bangun dari tidur. Dia pertama-tama melihat wajah Yesus, Yang menatap padanya dengan mata-Nya yang paling indah dan dengan tersenyum lembut menyemangatinya, dan dia tersenyum pada-Nya.

"Bangunlah," ulang Yesus. Dan Ia menyingkirkan dengan tangan-Nya segala hiasan pemakaman yang ditebarkan di atas pembaringan dan sekelilingnya (bunga, selubung, dsb. dsb.) dan membantunya berdiri dan mengambil langkah-langkah pertama, dengan memegang tangannya.

"Berilah dia makan sekarang," perintah-Nya. "Dia sembuh. Allah telah mengembalikannya kepada kalian. Bersyukurlah kepada-Nya untuk itu. Dan jangan katakan kepada siapa pun apa yang telah terjadi. Engkau tahu apa yang terjadi padanya. Engkau percaya dan imanmu pantas mendapatkan mukjizat. Yang lainnya tidak memiliki iman. Sia-sia saja berupaya untuk meyakinkan mereka. Allah tidak memperlihatkan Diri-Nya kepada mereka yang menyangkal mukjizat. Dan kau, gadis kecil-Ku, jadilah baik. Selamat tinggal! Damai bagi rumah ini." Dan Ia pergi keluar dengan menutup pintu di belakang-Nya.

Penglihatan pun berakhir.   




Aku ingin mengatakan padamu bahwa dua point darinya yang membuatku bersukacita adalah saat di mana Yesus mencari di antara orang banyak siapa yang telah menyentuh-Nya dan terlebih lagi saat berdiri dekat si gadis kecil yang mati, Ia meraih tangannya dan mengatakan padanya untuk bangun. Damai dan keyakinan telah masuk ke dalam diriku. Adalah mustahil bagi Ia Yang Maharahim dan Mahakuasa seperti-Nya, untuk tidak berbelas-kasihan pada kita dan tidak menaklukkan si Jahat yang membunuh kita.

Yesus untuk sementara ini tidak menyampaikan komentar, pula Ia tidak mengatakan suatu pun mengenai hal-hal lain. Ia melihat bahwa aku nyaris mati tetapi tidak berpikir bahwa benar demikian, bahwa aku akan merasa lebih baik malam ini. Biarlah terjadi seturut kehendak-Nya. Aku sudah cukup bahagia mendapatkan penglihatan-Nya.      
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama