369. KAMIS SEBELUM PASKAH. DI RUMAH YOHANA KHUZA.            


26 Januari 1946   

"Damai bagi rumah ini dan semua orang di dalamnya" adalah salam Yesus ketika Dia memasuki aula masuk yang luas nan megah, semuanya menyala, kendati saat itu siang hari. Dan lampu bukannya tidak diperlukan. Memang benar bahwa saat itu siang hari dan matahari bersinar menyilaukan di luar, di jalan-jalan, dan di gedung-gedung bercat putih, tetapi juga benar bahwa di sini cahayanya pastilah redup. Sebenarnya aula itu seperti suatu koridor, sepanjang rumah, terbentang dari pintu depan yang sangat besar ke taman, yang tanaman asrinya bisa terlihat di ujung lain koridor, di bawah sinar matahari yang cerah. Dan taman itu terlihat jauh, karena permainan perspektif. Dengan demikian cahaya redup di aula pastilah tampak bagai bayangan, terutama bagi orang-orang yang datang dari luar, yang matanya silau oleh sinar matahari yang cemerlang. Oleh karena itu, Khuza sudah mengatur agar banyak mangkok tembaga timbul yang lebar, yang dipasang pada dua tembok aula pada jarak yang teratur, dinyalakan semua, termasuk lampu tengah, sebuah bejana besar dari batu pualam merah muda bertatah batu-batu jasper dan batu-batu berharga warna-warni lainnya, yang, karena cahaya, tampak keluar dari dalam batu pualam yang transparan, dan bersinar bagai bintang-bintang, memancarkan pelangi pada tembok biru tua, pada wajah orang-orang dan pada lantai dari pualam cipolin. Dan bintang-bintang warna-warni yang sangat kecil itu kelihatan bergerak hinggap pada dinding dan wajah, karena lampu berayun lembut dalam aula panjang, dan dengan demikian segi-segi dari bebatuan berharga itu terus-menerus berubah posisi.

"Damai bagi rumah ini," ulang Yesus, sementara Dia maju, dengan tak kunjung henti memberkati para pelayan yang prostratio di lantai dan para tamu yang heran sebab dikumpulkan di istana sang bangsawan, begitu dekat dengan Guru...

Para tamu! Gagasan Yesus tampak jelas sekarang. Perjamuan kasih yang Dia inginkan di rumah sang murid perempuan yang baik adalah halaman Injil yang diamalkan. Ada para pengemis, ada mereka yang lumpuh, yang buta, orang-orang tua, yatim piatu, janda-janda muda dengan anak-anak kecil bergelayut di gaun mereka atau mengisap susu ibu mereka yang sedikit dan kurang gizi. Kekayaan Yohana sudah mengganti pakaian compang-camping mereka dengan yang sederhana, tetapi baru dan bersih. Namun jika rambut mereka, yang sudah dirapikan sebagai langkah bijak kebersihan, dan pakaian bersih mereka membuat orang-orang malang ini, yang dibariskan oleh para pelayan atau dibantu ke tempat duduk mereka, terlihat tidak semenyedihkan sebelumnya, yakni ketika Yohana menyuruh membawa ke rumahnya orang-orang ini dari gang-gang, persimpangan-persimpangan, dan jalanan untuk kereta yang menuju ke Yerusalem, di mana kesengsaraan mereka disembunyikan sebab malu atau dipertontonkan untuk menerima sedekah, masih ada tanda-tanda kesulitan hidup yang tergurat di wajah mereka, juga penyakit di tubuh mereka, dan kemalangan dan kesepian di mata mereka...

Yesus lewat dan memberkati mereka. Setiap orang yang malang menerima berkat, dan jika tangan kanan Yesus terangkat untuk memberkati, tangan kiri-Nya diturunkan untuk membelai kepala beruban orang-orang tua yang gemetar atau kepala anak-anak yang tidak berdosa. Demikianlah, dia mengelilingi aula, memberkati semua orang, juga mereka yang datang ketika Dia sudah memberkati dan yang, karena berpakaian compang-camping, bersembunyi takut dan malu-malu di pojok, sampai para pelayan dengan ramah membawa mereka ke tempat lain, untuk dibasuh dan diberi pakaian bersih, seperti orang-orang yang sudah datang terlebih dahulu.

Seorang janda muda lewat dengan sekelompok kecil anak-anaknya... Sungguh pemandangan yang mengenaskan! Yang terkecil sama sekali telanjang, ditutupi oleh kerudung usang ibunya... yang lebih besar hanya mengenakan apa yang diperlukan untuk terlihat layak. Hanya anak laki-laki tertua, seorang anak laki-laki yang jangkung dan kurus, yang mengenakan setelan yang pantas, tetapi dia bertelanjang kaki.

Yesus memperhatikan perempuan itu, lalu Dia memanggilnya dan berkata, "Dari mana asalmu?"

"Dari dataran Sharron, Tuhan. Lewi sudah akil balig... Dan aku harus membawanya ke Bait Allah... karena ayahnya sudah meninggal," dan perempuan itu menangis dalam diam, tangisan bisu seorang perempuan yang sudah mencurahkan begitu banyak air mata.

"Kapan suamimu meninggal?"

"Setahun akhir Syebat. Aku tengah hamil dua bulan..." dan dia menelan isak tangisnya, agar tidak mengganggu Yesus yang membungkuk di atas bayinya.

"Jadi bayinya berumur delapan bulan?"

"Ya, Tuhan."

"Apa pekerjaan suamimu?"

Perempuan itu membisikkan sesuatu dengan suara yang begitu pelan, hingga Yesus tidak mengerti. Dia membungkuk untuk mendengarkannya dan berkata, "Katakan pada-Ku, dan jangan takut."

"Dia adalah seorang tukang ladam di sebuah bengkel... Tapi dia sakit parah... dia menderita luka-luka yang bernanah." Dan dia mengakhirinya dengan suara yang sangat pelan, "Dia seorang prajurit Romawi."

"Tapi kau seorang Israel?"

"Ya, Tuhan. Tapi janganlah tolak aku sebagai najis. Itulah yang dilakukan saudara-saudaraku ketika aku pergi dan memohon belas-kasihan ketika Kornelius meninggal..."

"Jangan takut akan hal itu! Apa pekerjaanmu sekarang?"

"Aku bekerja sebagai pelayan, jika ada yang membutuhkan tenaga, sebagai pengumpul bulir gandum yang tercecer, buruh cuci, pemukul rami... Aku melakukan apa saja... untuk memberi makan anak-anak. Lewi sekarang akan bekerja sebagai petani... jika mereka mau menerimanya... karena dia berdarah campuran."

"Percayalah kepada Allah!"

"Andai aku tidak percaya, aku sudah bunuh diri bersama semua anakku, Tuhan!"

"Pergilah, perempuan. Kita akan bertemu lagi," dan Dia membiarkannya pergi. Sementara itu Yohana sudah datang dan dia berlutut, menantikan Guru melihatnya. Yesus sesungguhnya berbalik dan melihatnya. "Damai sertamu, Yohana. Kau sudah menaati-Ku dengan sempurna."

"Adalah sukacitaku untuk menaati-Mu. Tetapi aku bukanlah satu-satunya yang mempersiapkan 'istana' yang Kau inginkan ini. Khuza membantuku dalam segala hal dan begitu juga Marta dan Maria. Dan Eliza juga. Sebagian mengirim para pelayan mereka untuk mendapatkan apa yang diperlukan dan membantu para pelayanku mengumpulkan para tamu, sebagian membantu para inang dan para pelayan di kamar mandi untuk membasuh 'mereka yang terkasih,' sebagaimana Kau menyebut mereka. Sekarang, jika Kau izinkan, aku akan memberi semua orang makanan ringan, supaya mereka tidak kelaparan menunggu makanan mereka."

"Tentu saja, lakukanlah. Di mana para murid perempuan?"

"Di teras atas di mana aku mempersiapkan meja. Apakah aku sudah melakukan hal yang benar?"

"Ya, Yohana. Kita semua akan beroleh damai di atas sana."

"Ya, itulah yang aku pikirkan. Bagaimanapun, di aula mana pun aku tidak akan bisa menata meja untuk begitu banyak orang... Dan aku tidak ingin memisahkan mereka, untuk menghindari kecemburuan dan penderitaan. Orang-orang malang sangat sensitif dan sangat mudah marah... Mereka adalah satu luka besar, dan satu tatapan sekilas saja sudah cukup untuk membuat mereka menderita..."

"Ya, Yohana. Kau memiliki hati yang penuh belas kasihan dan kau mengerti. Kiranya Allah memberkatimu atas simpatimu. Apakah ada banyak murid perempuan?"

"Oh! Semua yang berada di Yerusalem!... Tapi, Tuhan... mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang salah... Aku ingin berbicara dengan-Mu secara pribadi."

"Bawalah Aku ke tempat di mana kita bisa sendirian."

Mereka masuk ke sebuah ruangan, yang pastilah ruang bermain Maria dan Matias, karena mainan berserakan di mana-mana.

"Nah, Yohana?"

"Oh, Tuhan-ku, aku benar-benar tanpa pikir... Tapi aku bertindak begitu spontan, begitu terburu-buru! Khuza mencelaku. Tapi sekarang... Seorang dari budak Plautina datang ke Bait Allah dengan sebuah perkamen. Plautina dan teman-temannya bertanya apakah mereka bisa bertemu dengan-Mu. Aku menjawab, 'Ya, sore ini di rumahku.' Dan mereka akan datang... Apakah aku melakukan hal yang salah? Oh! Bukan sehubungan dengan-Mu!... Tetapi karena yang lain-lainnya, karena mereka semuanya yang adalah orang Israel... dan mereka tidak mengasihi seperti Engkau. Jika aku melakukan kesalahan, aku akan memastikan bahwa itu akan diperbaiki... Tetapi aku sangat antusias bahwa dunia, seluruh dunia, harus mengasihi-Mu, bahwa... bahwa aku tidak berpikiran bahwa Engkau seorang yang Sempurna di dunia dan terlalu sedikit orang yang mencoba meneladani-Mu."

"Kau melakukan hal yang benar. Hari ini Aku akan berkhotbah kepadamu melalui perbuatan. Dan kehadiran orang-orang bukan Yahudi di antara orang-orang yang percaya kepada Yesus Sang Juruselamat akan menjadi salah satu hal yang harus dilakukan di masa mendatang oleh mereka yang percaya kepada-Ku. Di mana anak-anak?"

"Mereka ada di mana-mana, Tuhan," jawab Yohana tersenyum, sebab dia sekarang tak lagi cemas, dan dia mengakhiri, "Mereka senang dengan jamuan ini dan berlarian kian kemari seperti burung-burung kecil yang bahagia."

Yesus meninggalkannya, Dia kembali masuk ke aula, memberi isyarat kepada orang-orang yang bersama-Nya, dan Dia pergi ke kebun untuk naik ke teras yang luas.

Kegiatan penuh sukacita memenuhi rumah dari gudang bawah tanah hingga atap rumah. Sebagian orang hilir mudik dengan bahan-bahan makanan dan peralatan rumah tangga, dengan tumpukan pakaian, dengan kursi-kursi, menemani tamu, menjawab mereka yang mengajukan pertanyaan, dan semuanya penuh kasih dan suka cita. Yonatan mengamati, mengawasi dan menasihati dan dia tak kenal lelah dan serius dalam tugasnya sebagai superintenden.

Ester tua, yang senang melihat Yohana begitu hidup dan sehat, tertawa-tawa di tengah lingkaran anak-anak miskin, yang diberinya kue, sementara dia menceritakan kisah-kisah yang indah kepada mereka. Yesus berhenti sejenak untuk mendengarkan kesimpulan luar biasa dari salah satu kisah ini yang mengatakan "bahwa Allah memberikan banyak pertolongan kepada Fajar Mei yang baik, yang tidak pernah memberontak melawan Tuhan karena masalah yang datang ke rumahnya, sehingga Fajar Mei adalah keselamatan dan kekayaan juga bagi adik-adiknya. Para malaikat biasa mengisi kotak roti kecilnya, dan menyelesaikan pekerjaan tenunnya untuk membantu gadis yang baik itu, dengan berkata, 'Dia adalah saudari kita karena dia mengasihi Tuhan dan sesamanya. Dia harus kita bantu.'"

"Kiranya Allah memberkatimu, Ester! Aku hampir saja ingin berhenti dan mendengarkan perumpamaan-perumpamaanmu! Maukah kau mengizinkan-Ku?" kata Yesus seraya tersenyum.

"Oh! Tuhanku! Akulah yang harus mendengarkan-Mu! Tapi untuk anak-anak kecil ini aku cukup baik, meskipun aku seorang perempuan tua yang bodoh dan malang!"

"Jiwamu yang benar itu berguna juga bagi orang-orang dewasa. Teruskan, Ester, teruskanlah..." dan Dia tersenyum padanya sementara Dia pergi.

Para tamu sekarang tersebar di segenap penjuru kebun yang besar dan menikmati makanan ringan mereka, melihat sekeliling dan memandang satu sama lain dengan takjub. Mereka berbicara bertukar komentar tentang nasib baik mereka yang tak terduga. Ketika melihat Yesus lewat, mereka berdiri, jika mereka bisa melakukannya, atau mereka membungkuk hormat.

"Makanlah dengan nikmat dan berkatilah Tuhan," kata Yesus yang lewat dalam perjalanan-Nya ke kamar-kamar tukang kebun, di mana tangga luar dimulai dan menghantar orang ke teras besar.

"Oh! Rabuni-ku!" teriak Magdalena sementara berlari keluar dari sebuah ruangan dengan kedua tangan penuh lampin dan baju-baju mungil bayi. Suaranya selembut organ merdu dan memenuhi jalan nan teduh penuh bunga-bunga mawar.

"Maria, Tuhan sertamu. Ke mana kau pergi dengan terburu-buru?"

"Oh! Ada padaku sepuluh bayi yang harus diberi pakaian! Aku sudah memandikan mereka dan sekarang aku akan mengenakan pakaiannya. Kemudian aku akan membawa mereka kepada-Mu dalam keadaan sesegar bunga. Aku harus berlari, Guru, karena... Bisakah Kau dengar mereka? Mereka seperti sepuluh anak domba kecil yang mengembik..." dan dia berlari sambil tertawa. Dia kelihatan sangat cantik dan anggun dalam gaun halus sederhana dari linen putih, yang diikat di pinggang dengan ikat pinggang perak tipis dan rambutnya diikat dalam simpul sederhana di tengkuknya, disangga oleh pita putih yang diikatkan menjadi simpul di dahinya.

"Betapa berbedanya dia dari dia dulu saat di Gunung Sabda Bahagia!" seru Simon Zelot.

Di anak tangga pertama mereka bertemu dengan putri Yairus dan Annalea, yang turun begitu lincah hingga mereka tampak seolah terbang.

"Guru!", "Tuhan!" seru mereka.

"Tuhan sertamu. Kemana kamu pergi?"

"Mengambil beberapa taplak meja. Pelayan Yohana menyuruh kami. Apakah Engkau akan berbicara, Guru?"

"Tentu!"

"Oh! kalau begitu, larilah, Mirjiam! Ayo kita bergegas!" kata Annalea.

"Kau punya waktu sebanyak yang kau perlukan untuk melakukan apa yang harus kau lakukan. Aku menunggu orang-orang lain. Tapi sejak kapan kau mengganti namamu menjadi Mirjiam?" Yesus bertanya sembari menatap putri Yairus.

"Hari ini. Baru saja. BundaMu yang memberiku nama itu. Karena... benarkah, Annalea? Ini adalah hari besar bagi empat perawan..."

"Ya, benar! Haruskah kita memberitahu Tuhan, atau haruskah kita membiarkan Maria yang memberitahu-Nya?"

"Biarlah Maria yang memberitahu-Nya. Pergilah, Tuhan-ku. BundaMu akan mengatakannya pada-Mu," dan mereka berlari dengan lincah, di puncak masa muda mereka; mereka adalah manusia dalam sosoknya yang cantik, tetapi terlihat bagai malaikat karena binar matanya...

Pada anak tangga ketiga mereka berpapasan dengan Eliza dari Bet-Zur, yang menuruni tangga, terlihat sangat serius, bersama istri Filipus.

"Ah! Tuhan!" seru istri Filipus. "Kau memberi kepada sebagian orang, tetapi Kau mengambil dari sebagian orang lainnya!... Tapi semoga Engkau tetap saja diberkati!"

"Apa yang kau bicarakan, perempuan?"

"Engkau akan segera tahu... Betapa menyedihkan dan betapa mulianya, Tuhan! Engkau melumpuhkanku dan memahkotaiku."

Filipus, yang berada dekat Yesus, berkata, "Apa yang kau katakan? Apa yang kau bicarakan? Kau istriku dan aku berhak mengetahui apa yang terjadi..."

"Oh! Kau akan diberitahu, Filipus. Pergilah dengan Guru sekarang."

Sementara itu Yesus bertanya kepada Eliza apakah dia sudah pulih sepenuhnya. Dan perempuan itu, yang kesedihan masa lalunya telah memberinya keagungan seorang ratu yang berduka, menjawab, "Ya, Tuhan-ku. Tetapi menderita dengan damai dalam hati bukanlah hal yang menyakitkan. Dan sekarang aku memiliki damai dalam hatiku."

"Dan kau akan segera memiliki lebih banyak damai."

"Apa, Tuhan?"

"Pergilah, dan ketika kau kembali, kau akan diberitahu."

"Yesus di sini! Yesus di sini!" teriak kedua anak, yang wajahnya bersandar pada pagar berhiaskan mode arabesque yang membatasi sisi-sisi teras, darimana orang bisa melihat ke kebun di bawahnya. Sesungguhnya, teras dengan pagar yang darinya tergantung cabang-cabang mawar dan melati yang sedang mekar itu merupakan taman gantung yang besar yang di atasnya selembar velarium [=awning pada masa Romawi kuno] warna-warni telah dihamparkan sebagai pelindung terhadap sinar matahari.

Semua orang di teras yang sibuk menyiapkan meja berbalik mendengar teriakan Maria dan Matias dan dengan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, mereka datang menyongsong Yesus, yang kedua lutut-Nya digelayuti kedua anak itu.

Yesus menyapa banyak perempuan yang berkerumun sekeliling-Nya. Di antara para murid perempuan yang sebenarnya atau istri, saudara, anak perempuan dari para rasul dan para murid, ada beberapa yang kurang familier dan kurang dikenal, seperti istri Simon sepupu-Nya, para ibu dari para kusir keledai Nazaret, ibunya Habel dari Betlehem di Galilea, Hana Yudas (dari rumah dekat Danau Merom), Maria Simon ibunya Yudas Keriot, Naomi dari Efesus, Sara dan Marcella dari Betania (Sara adalah perempuan yang disembuhkan Yesus di Gunung Sabda Bahagia dan dikirim kepada Lazarus bersama Ismael tua; aku pikir dia sekarang adalah pelayan Maria Lazarus), kemudian ada ibunya Jaia, ibunya Filipus dari Arbela, Dorkas si ibu muda dari Kaisarea Filipi bersama ibu mertuanya, ibunya Annalea, Maria dari Bozrah, perempuan yang disembuhkan dari kusta yang datang ke Yerusalem bersama suaminya, dan banyak lagi yang wajahnya tidak asing bagiku, tetapi namanya tidak bisa aku ingat.

Yesus berjalan di sepanjang teras empat persegi panjang besar, yang dari satu sisinya orang bisa melihat ke bawah ke Sixtus dan Dia berhenti dekat ruangan berbentuk kubus yang rendah di sisi utara teras, di mana aku pikir tangga bagian dalam berakhir. Seluruh Yerusalem dan daerah sekitarnya terlihat. Ini adalah pemandangan yang menakjubkan. Semua murid perempuan dan para perempuan lainnya berhenti menata meja dan berkumpul di sekeliling-Nya. Para pelayan melanjutkan pekerjaan mereka.

Maria ada dekat Putranya. Dalam cahaya keemasan yang masuk melalui velarium besar yang dibentangkan di sebagian besar area teras dan yang menjadi berkas cahaya zamrud yang lembut yang menyentuh wajah-wajah, sesudah masuk melalui jalinan semak mawar dan melati yang membentuk pergola, Dia tampak bahkan lebih muda dan lebih ramping; seorang saudari dari para murid perempuan yang lebih muda, hanya sedikit lebih tua, dan seindah mawar yang terindah yang bermekaran di taman gantung atau di pot-pot bunga yang besar yang ditempatkan sekelilingnya dengan mawar, melati, bunga lily dari lembah dan tanam-tanaman lembut lainnya.

"Bunda, istriku berbicara aneh!... Apakah yang terjadi, mengapa dia mengatakan bahwa dia dilumpuhkan dan sekaligus dimahkotai?" tanya Filipus yang antusias untuk tahu.

Maria tersenyum ramah menatap kepadanya, dan meskipun tidak biasa berakrab-akrab, Dia meraih tangannya seraya berkata, "Bisakah kau memberikan kepada Yesus-Ku apa yang paling kau sayangi? Kau benar-benar harus bisa... karena Dia memberimu Surga dan Jalan menuju ke sana."

"Tentu saja, Bunda... terutama jika apa yang aku berikan kepada-Nya akan membuat-Nya bahagia."

"Ya. Filipus, putrimu juga mengkosekrasikan dirinya kepada Tuhan. Dia memberitahu-Ku dan ibunya beberapa saat yang lalu, di hadapan banyak murid perempuan..."

"Apa? Kau!" seru Filipus tercengang seraya menunjuk pada gadis lembut itu, yang bergayut pada Maria seolah-olah dia ingin dilindungi. Sang rasul menelan dengan susah payah pukulan kedua ini yang membuatnya kehilangan harapan untuk memiliki cucu, Dia menyeka keringat yang mengucur tiba-tiba akibat berita itu ... dan menatap pada orang-orang sekelilingnya. Dia bergulat dan menderita.

Putrinya mengerang, "Bapa... maafkan aku... dan berkati aku," dan dia menjatuhkan diri di kakinya.

Filipus membelai rambut cokelat putrinya secara mekanis dan menelan ludah. Akhirnya dia berbicara, "Orang mengampuni anak-anaknya yang berbuat dosa... Dengan mengkonsekrasikan dirimu kepada Guru, kau tidak berbuat dosa... dan bapamu yang malang ini hanya bisa berkata kepadamu: 'Semoga kau diberkati'... Ah! putriku!... Betapa manis dan mengerikannya kehendak Allah!" dan dia membungkuk, membangkitkan putrinya, memeluknya, mencium kening dan rambutnya. Dia lalu menghampiri Yesus dan berkata kepada-Nya, "Ini dia. Aku adalah bapanya. Tapi Kau adalah Tuhan-nya! Hakmu lebih kuat daripada hakku... Terima kasih, Tuhan, untuk... untuk sukacita bahwa..." dan dia tidak bisa melanjutkan... Dia berlutut di kaki Yesus dan membungkuk untuk menciumnya seraya mengerang, "Tidak ada cucu ... tidak pernah... Mimpiku!... Senyum di masa tuaku!... Maafkan airmataku, Tuhan-ku... Aku orang malang..."

"Berdirilah, Sahabat-ku. Dan berbahagialah karena kau memberikan bunga-bunga awal pada petak-petak bunga malaikat. Ayo. Kemarilah, antara Aku dan BundaKu. Marilah kita mendengar dari-Nya bagaimana hal ini terjadi, karena Aku bisa memastikanmu bahwa Aku tidak bisa disalahkan atau dipuji untuk itu."

Maria menjelaskan, "Aku sendiri hanya tahu sedikit. Kami para perempuan saling berbicara satu sama lain, dan seperti yang sering terjadi, mereka bertanya kepada-Ku tentang kaul keperawan-Ku. Mereka juga bertanya kepada-Ku seperti apa gadis-gadis masa mendatang itu, yang berkarya dan yang kemuliaannya telah Aku lihat sebelumnya bagi mereka. Dan aku menjawab semampu-Ku... Dan aku melihat bagi mereka suatu kehidupan doa dan kelegaan dari penderitaan yang disebabkan oleh dunia bagi YesusKu. Aku berkata: 'Adalah para perawan yang akan mendukung para rasul dan yang akan memurnikan dunia yang cemar, memberi pakaian dan mengharumkannya dengan kemurnian mereka; mereka akan menjadi malaikat-malaikat yang menyanyikan pujian untuk menutupi hujat dunia. Dan Yesus akan berbahagia, dan akan menganugerahkan rahmat kepada dunia dan akan berbelas kasihan kepadanya, berkat anak-anak domba ini yang tersebar di antara serigala-serigala...' dan Aku mengatakan hal-hal lain.

Kemudian putri Yairus berkata kepada-Ku, 'Beri aku nama, Bunda, untuk masa mendatangku sebagai seorang perawan, karena aku tidak bisa membiarkan laki-laki mana pun menikmati kesenangan dari tubuhku, yang dihidupkan kembali oleh Yesus. Tubuhku ini milik-Nya seorang, hingga dagingnya berada dalam makam dan jiwanya berada di Surga,' dan Annalea berkata: 'Itulah yang juga aku rasakan harus aku lakukan. Dan sekarang aku merasa lebih bahagia daripada burung layang-layang, karena semua ikatan telah diputuskan.' Saat itulah putrimu, Filipus, berkata, 'Aku akan menjadi sepertimu juga: perawan selamanya!' Ibunya - itu dia datang - menunjukkan kepadanya bahwa orang tidak bisa mengambil keputusan yang demikian begitu saja. Tapi dia tidak mau berubah pikiran. Dan ketika ditanya apakah itu adalah ide lama yang ada dalam benaknya, dia menjawab 'bukan' dan kepada mereka yang bertanya bagaimana dia mendapatkan ide itu, dia berkata, 'Aku tidak tahu. Seolah-olah seberkas cahaya telah menembusi hatiku dan aku mengerti betapa aku mengasihi Yesus.'"

Istri Filipus bertanya kepada suaminya, "Pernahkah kau dengar itu?"

"Ya, perempuan. Daging kita mengerang... padahal seharusnya bersukacita karena ini adalah pemuliaannya. Daging kita yang berat sudah melahirkan dua malaikat. Jangan menangis, perempuan. Kau sendiri yang mengatakan bahwa Dia memahkotaimu... Seorang ratu tidak menangis ketika dia menerima mahkotanya..."

Namun Filipus juga menangis, dan banyak lagi lainnya, baik laki-laki maupun perempuan, yang menangis, sekarang sesudah mereka semua berkumpul di teras. Maria Simon meledak dalam tangis yang tak terkendlikan di sudut. Maria Magdala menangis di sudut yang lain, dengan menarik dan memelintir gaun linennya, dari mana dia secara mekanis mencabuti benang-benang yang menghiasi pinggirannya. Anastasica menangis dan dia mencoba menyembunyikan wajah sedihnya dengan tangannya.

"Mengapa kamu menangis?" tanya Yesus. Tidak ada yang menjawab.

Yesus memanggil Anastasica dan bertanya sekali lagi kepadanya. Perempuan itu menjawab, "Karena, Tuhan, untuk kenikmatan yang memuakkan dari satu malam saja, aku kehilangan kesempatan untuk menjadi salah seorang perawan-Mu."

"Setiap keadaan baik, jika orang melayani Tuhan di dalamnya. Dalam Gereja mendatang, baik para perawan maupun yang mereka sudah menikah akan dibutuhkan. Keduanya berguna demi kemenangan Kerajaan Allah di dunia dan demi karya saudara-saudara imam mereka. Eliza dari Bet-Zur, kemarilah. Hiburlah perempuan yang masih muda belia ini…" Dan dengan tangan-tanganNya sendiri Dia menempatkan Anastasica dalam pelukan Eliza. Dia mengamati mereka sementara Eliza membelai Anastasica, yang merasa nyaman dalam pelukan keibuannya, dan Dia kemudian bertanya, "Eliza, tahukah kau kisahnya?"

"Ya, Tuhan. Dan aku merasa iba padanya, sebab dia seperti merpati tanpa sarang."

"Eliza, apakah kau mengasihi saudari ini?"

"Apakah aku mengasihinya? Ya, sangat. Tapi bukan sebagai saudari. Dia bisa menjadi putriku. Dan sekarang sebab aku memeluknya, aku merasa seolah-olah aku menjadi ibu yang berbahagia dari masa lalu. Kepada siapakah Kau akan mempercayakan rusa yang lembut ini?"

"Kepadamu, Eliza."

"Kepadaku?" Perempuan itu melonggarkan pelukannya untuk menatap Tuhan dengan tatapan tidak percaya.

"Kepadamu. Apa kau tidak mau dia?"

"Oh! Tuhan! Tuhan-ku!"... Eliza merangkak dengan berlutut ke arah Yesus dan dia tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana mengungkapkan kegembiraannya.

"Berdirilah dan jadilah ibu yang kudus untuknya dan biarlah dia menjadi putri yang kudus untukmu, dan semoga kamu berdua maju di jalan Tuhan. Maria Lazarus, kau barusan saja begitu ceria, kenapa kau menangis sekarang? Di mana sepuluh bunga yang akan kau bawakan untuk-Ku?..."

"Mereka kenyang dengan makanan dan tidur dalam kemurnian mereka, Guru... Dan aku menangis sebab aku tidak akan pernah memiliki kemurnian perawan dan jiwaku akan menangis untuk selamanya, tanpa pernah kenyang... karena aku sudah berdosa…"

"Pengampunan-Ku dan airmatamu membuatmu lebih murni dari mereka. Kemarilah dan jangan menangis lagi. Serahkan airmata kepada mereka yang memiliki sesuatu yang membuat mereka malu. Ayo. Pergi dan bawa kemari bunga-bungamu; dan kamu boleh pergi juga, kamu ibu-ibu dan para perawan. Pergi dan katakan pada tamu-tamu Allah untuk naik kemari. Kita harus membubarkan mereka sebelum Gerbang ditutup, karena banyak dari mereka tinggal di pedesaan."

Mereka semua taat dan pergi, sehingga di teras hanya tinggal Yesus, Yang membelai Maria dan Matias; Eliza dan Anastasica, yang sedikit lebih jauh, saling bergandengan tangan, saling menatap satu sama lain, dengan tersenyum dan menangis karena sukacita; Maria Simon yang atasnya Maria membungkuk dalam belas kasihan; dan Yohana, yang berdiri di pintu ruangan, melihat ke arah Yesus dalam sikap yang tak pasti. Para rasul dan para murid sudah turun bersama para perempuan untuk membantu para pelayan dalam membimbing orang-orang lumpuh, buta, timpang, dan orang-orang lanjut usia yang bungkuk karena usia, mendaki tangga yang panjang.

Yesus mendongakkan kepala-Nya, yang tadinya meunduk di atas kedua anak itu, dan melihat Maria membungkuk di atas ibu Yudas. Yesus bangkit dan menghampiri mereka. Dia meletakkan tangan-Nya di atas kepala Maria Simon yang berambut abu-abu dan bertanya, "Mengapa kau menangis, perempuan?"

"Oh! Tuhan! Aku sudah melahirkan iblis! Tidak ada ibu di Israel yang akan sesedih aku!"

"Maria, seorang ibu yang lain dan untuk alasan yang sama sepertimu, pernah mengatakannya kepada-Ku dan masih mengatakannya. Ibu-ibu yang malang!..."

"Oh! Tuhan-ku, karenanya apakah ada seorang lain, yang seperti Yudas-ku, jahat dan kejam kepada-Mu? Oh! Tidak mungkin! Dia memiliki-Mu, meski begitu dia kecanduan praktik-praktik kotor. Meski hidup dalam atmosfer-Mu, dia penuh percabulan dan seorang pencuri dan dia mungkin akan menjadi seorang pembunuh. Dia... oh! Pikirannya penuh dusta! Dia hidup dalam kegalauan. Buatlah dia mati, Tuhan, demi belas kasihan-Mu! Buatlah dia mati!"

"Maria, hatimu membuatnya lebih buruk daripada dia sebenarnya. Ketakutan membuatmu gila. Tapi kau harus tenang dan berakal sehat. Bukti apa yang kau miliki tentang perilakunya?"

"Aku tidak memiliki bukti apa pun. Tapi itu adalah longsoran salju yang akan segera jatuh. Aku mendapatinya dan dia tidak bisa menyangkal bukti bahwa... Itu dia... Demi Tuhan, diamlah! Dia menatapku. Dia curiga. Dia adalah dukaku. Tidak ada ibu di Israel yang lebih tidak bahagia daripada aku!..."

Maria berbisik, "Aku... karena Aku menambahkan duka semua ibu yang tidak bahagia ke dalam dukacita-Ku sendiri... Karena dukacita-Ku disebabkan oleh kedengkian seluruh dunia, bukan hanya kedengkian satu orang."

Yohana memanggil Yesus dan Dia menghampirinya; sementara itu Yudas mendatangi ibunya, yang masih dihibur oleh Maria, dan dia menghardiknya, "Apa kau sudah bisa menunjukkan kegilaanmu dan memfitnahku? Apa kau senang sekarang?"

"Yudas! Begitukah caramu berbicara kepada ibumu?" tanya Maria dengan keras. Ini pertama kali aku melihat-Nya seperti itu...

"Ya. Karena aku capek dengan penganiayaannya."

"Oh! Putraku, ini bukan penganiayaan! Ini cinta! Kau mengatakan bahwa aku sakit. Tapi kaulah yang sakit! Kau mengatakan bahwa aku memfitnahmu dan aku mendengarkan musuh-musuhmu. Tapi kau yang menganiaya dirimu sendiri, sebab kau mengikuti dan bersahabat dengan orang-orang jahat yang akan merusakmu. Karena kau lemah, nak, dan mereka menyadari kelemahanmu... Dengarkan ibumu. Dengarkan Ananias, yang sudah tua dan bijaksana. Yudas! Kasihanilah aku! Yudas!!! Kemana kau pergi, Yudas?!"

Yudas, yang nyaris berlari melintasi teras, berbalik dan berteriak, "Ke tempat di mana aku berguna dan dihormati," dan dia bergegas menuruni tangga, sementara ibu yang tidak bahagia itu, dengan bersandar pada tembok pembatas, berteriak kepadanya, "Jangan pergi! Jangan pergi! Mereka ingin merusakmu! Nak! Putraku!..."

Yudas sudah sampai di lantai bawah di mana pepohonan menghalangi ibunya melihatnya. Dia muncul kembali sesaat di ruang kosong sebelum masuk aula.

"Dia sudah pergi!... Kesombongan melumatkannya!" erang ibunya.

"Mari kita berdoa untuknya, Maria. Mari kita berdoa bersama, kita berdua ..." kata Santa Perawan seraya menggenggam tangan ibu yang sedih dari pembunuh di masa mendatang.

Sementara itu para tamu mulai berdatangan... dan Yesus berbicara kepada Yohana. "Baiklah. Biarlah mereka datang. Akan jauh lebih baik jika mereka mengenakan pakaian Yahudi, untuk menghindari timbulnya prasangka banyak orang. Aku akan menunggu mereka di sini. Pergi dan panggillah mereka," dan dengan bersandar di tiang pintu Dia melihat kedatangan para tamu, yang dengan ramah dihantar oleh para rasul dan para murid laki-laki dan perempuan ke meja-meja sesuai pengaturan yang sudah dibuat sebelumnya. Di bagian tengah ada meja rendah untuk anak-anak, sejajar dengan itu adalah semua meja lain di kedua sisinya.

Dan sementara orang-orang buta, lumpuh, timpang, dan orang-orang tua yang bungkuk karena usia, dan para janda mengambil tempat duduk, dengan kisah-kisah sedih mereka tergurat di wajah mereka, keranjang-keranjang besar dan peti-peti kecil, yang sudah diubah menjadi buaian-buaian bayi dan terlihat seindah keranjang-keranjang bunga, dibawa masuk, dengan bayi-bayi yang terlelap dari ibu-ibu yang miskin. Dan Maria Magdala, yang sekarang dalam semangat yang lebih baik, menghampiri Yesus seraya berkata, "Bunga-bunga sudah tiba. Datang dan berkatilah mereka, Tuhan-ku."

Pada saat yang sama Yohana muncul di puncak tangga dalam dan berkata, "Guru, inilah murid-murid perempuan orang bukan Yahudi." Mereka adalah tujuh perempuan yang mengenakan pakaian gelap polos seperti perempuan Yahudi. Masing-masing mengenakan kerudung yang menutupi wajah dan mantel yang panjangnya mencapai kaki. Dua dari mereka berperawakan tinggi dan agung, yang lain-lain tingginya sedang. Namun ketika mereka menanggalkan mantel, sesudah menyapa Guru dengan hormat, Plautina, Lydia dan Valeria dengan mudah dikenali, begitu juga Flavia, perempuan yang dibebaskan dari perbudakan yang menuliskan sabda Yesus di kebun Lazarus; lalu ada tiga orang asing. Salah seorang dari mereka, yang kelihatan seperti biasa memberikan perintah, berlutut sambil berkata kepada Tuhan, "Dan semoga Roma prostratio di kaki-Mu bersamaku." Yang seorang lagi adalah seorang nyonya berusia sekitar limapuluh tahun. Yang terakhir adalah seorang gadis yang selangsing dan secantik bunga liar.

Meskipun para perempuan Romawi itu berpakaian seperti orang-orang Yahudi, Maria Magdala mengenali mereka dan dia berbisik, "Claudia!!!" dan menatap padanya dengan mata terbuka lebar.

"Ini aku. Aku bosan mendengar sabda-Nya dari orang-orang lain. Kebenaran dan Kebijaksanaan harus ditimba langsung dari sumbernya."

"Apakah menurutmu mereka akan mengenali kami?" Valeria bertanya kepada Maria Magdala.

"Aku rasa tidak, kecuali jika kau menyingkapkan identitasmu dengan saling memanggil nama. Bagaimanapun aku akan menempatkanmu di tempat yang aman."

"Tidak, Maria. Biarkan mereka berada di meja-meja, melayani para pengemis. Tidak ada seorang pun yang akan berpikiran bahwa para perempuan bangsawan melayani orang-orang yang malang dan terendah di kalangan Yahudi," kata Yesus.

"Perkataan-Mu adalah perkataan yang bijaksana, Guru. Karena kesombongan sudah tertanam dalam diri kami sejak lahir."

"Dan kerendahan hati adalah tanda yang paling jelas dari doktrin-Ku. Mereka yang mau mengikuti Aku harus mencintai Kebenaran, Kemurnian dan Kerendahan Hati, mereka harus murah hati kepada semua orang dan gagah berani dalam menentang pendapat manusia dan kekerasan para Tiran. Ayo kita pergi."

"Maafkan aku, Rabbi. Gadis ini adalah seorang budak dan putri dari orangtua budak. Aku menebusnya karena dia keturunan Yahudi dan Plautina menerimanya di rumahnya sendiri. Tetapi aku ingin memberikannya kepada-Mu, karena aku pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Namanya Egla. Dia milik-Mu."

"Bawa dia, Maria. Nanti kita putuskan apa yang harus dilakukan... Terima kasih, perempuan."

Yesus pergi ke teras untuk memberkati anak-anak. Para perempuan ningrat itu membangkitkan banyak rasa ingin tahu. Namun dengan mengenakan pakaian yang nyaris jelek dan tatanan rambut gaya Yahudi, mereka tidak menimbulkan kecurigaan. Yesus pergi ke tengah teras, ke meja anak-anak, dan Dia berdoa, mempersembahkan makanan kepada Allah atas nama semua orang, Dia memberkatinya dan menyuruh mereka untuk mulai makan.

Para rasul, murid, murid perempuan, dan perempuan bangsawan adalah pelayan dari orang-orang miskin, dan Yesus memberikan teladan dengan menyingsingkan lengan lebar jubah merah-Nya dan merawat anak-anak dengan bantuan Mirjiam anak Yairus dan Yohanes. Mulut begitu banyak orang yang kurang gizi sangat sibuk, tetapi mata mereka semua tertuju kepada Tuhan. Ketika hari mulai gelap, velarium besar disingkirkan dan para pelayan membawa lampu, meskipun itu belum diperlukan.

Yesus bergerak di sekeliling meja-meja. Dia membesarkan hati semua orang dengan perkataan dan dengan pertolongan-Nya sendiri. Beberapa kali Dia lewat dekat dua perempuan ningrat, Claudia dan Plautina, yang dengan rendah hati memecahkan roti untuk tamu-tamu yang buta, lumpuh atau cacat, atau mereka bantu minum anggur; Dia tersenyum pada para perawan-Nya yang mengurus para perempuan, dan pada para ibu dari para murid yang dengan ramah membantu orang-orang yang malang itu; Dia tersenyum pada Maria Magdala yang melakukan yang terbaik di meja orang-orang lanjut usia, yang paling menyedihkan dari semua meja, karena penuh dengan orang-orang yang batuk dan gemetar, yang mulut ompongnya mengunyah makanan dengan gusi dan air liur mereka. Dia membantu Matius yang mengguncang seorang anak, sebab remah kue, yang dia hisap dan gigit dengan gigi-gigi barunya, sudah masuk ke jalan yang salah. Dan Dia menyalami Khuza, yang tiba di awal jamuan dan sekarang memotong-motong daging dan menyajikannya seperti seorang pramusaji yang cakap.

Jamuan usai. Wajah yang lebih berona dan mata yang lebih berbinar dari orang-orang malang jelas menunjukkan kepuasan mereka.

Yesus membungkuk di atas seorang laki-laki tua yang gemetar dan bertanya kepadanya, "Pikiran apa yang membuatmu tersenyum, bapa?"

"Aku hanya berpikir bahwa ini bukan mimpi. Sampai beberapa saat yang lalu aku pikir aku sedang tidur dan bermimpi. Tapi sekarang aku merasa bahwa ini sungguh-sungguh benar. Tetapi siapakah yang membuat Engkau begitu baik, sehingga Engkau menjadikan murid-murid-Mu begitu baik? Hidup Yesus!" dia berteriak mengakhiri.

Dan semua suara orang-orang malang itu, yang jumlahnya ratusan, berteriak, "Hidup Yesus!"

Yesus sekali lagi menuju tengah teras dan Dia membuka tangan-Nya lebar-lebar, memberi isyarat kepada mereka untuk diam dan tenang dan Dia mulai berbicara, sementara duduk dengan seorang anak di lutut-Nya.

"Ya, hidup Yesus, bukan karena Aku adalah Yesus. Tetapi karena Yesus berarti kasih Allah, Yang menjadi manusia dan turun di antara manusia untuk dikenal dan untuk mengenalkan kasih yang akan menjadi tanda era yang baru. Hidup Yesus, karena Yesus berarti Juruselamat dan Aku akan menyelamatkanmu. Aku akan menyelamatkan semua orang, kaya dan miskin, anak-anak dan orang lanjut usia, orang Israel dan orang kafir, semua orang, asalkan kamu memberikan kehendakmu untuk diselamatkan. Yesus adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk yang ini atau yang itu. Yesus milik semua orang. Dia milik semua orang dan untuk semua orang. Aku adalah Kasih yang rahim dan Keselamatan yang pasti. Apa yang harus dilakukan orang untuk menjadi milik Yesus dan dengan demikian diselamatkan? Beberapa hal. Tapi hal-hal yang hebat. Bukan hebat dalam arti hal-hal yang sulit, seperti yang dicapai oleh raja-raja. Tetapi hebat karena menghendaki manusia memberikan kekuatan dan iman yang baru ke dalam hidupnya untuk melakukan hal-hal tersebut dan untuk menjadi milik Yesus. Demikianlah kasih, kerendahan hati, iman, penyerahan diri, belas kasihan diperlukan. Sekarang, kamu para murid, hal hebat apakah yang sudah kamu lakukan hari ini? Kamu mungkin berkata: 'Tidak ada. Kami melayani orang makan.' Bukan. Kamu sudah melayani kasih. Kamu sudah merendahkan dirimu sendiri. Kamu sudah memperlakukan orang-orang dari segala ras sebagai saudara, tanpa bertanya siapa mereka, apakah mereka sehat atau baik. Dan kamu sudah melakukan itu dalam nama Tuhan. Mungkin kamu mengharapkan kata-kata yang luar biasa dari-Ku, untuk pendidikanmu. Aku telah membuatmu melakukan hal-hal hebat. Kita awali hari dengan doa, kita menolong para penderita kusta dan pengemis, kita beribadat kepada Yang Mahatinggi di Rumah-Nya, kita memulai kasih persaudaraan dan kita memberikan kepedulian kepada para peziarah dan orang-orang miskin, kita melayani karena melayani untuk kasih adalah menjadi seperti Aku, Yang adalah Abdi dari para abdi Allah, seorang Abdi hingga tahap dibinasakan oleh maut demi melayani kamu dengan keselamatan…" Yesus disela oleh teriakan dan derap langkah kaki. Sekelompok orang Israel yang heboh berlari menaiki tangga. Para perempuan Romawi yang paling terkenal, yaitu, Plautina, Claudia, Valeria dan Lydia, undur diri dengan hati-hati menutupi wajah dengan kerudung mereka. Para pengganggu menyerbu masuk ke teras dan kelihatan sedang mencari, entah apa.

Khuza, yang merasa tersinggung, menghadapi mereka dan bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"

"Tidak ada hubungannya denganmu. Kami mencari Yesus dari Nazaret, bukan kau."

"Aku disini. Tidak bisakah kamu melihat Aku?" tanya Yesus seraya meletakkan si anak dan berdiri penuh wibawa.

"Apa yang Kau lakukan di sini?"

"Kamu bisa lihat sendiri. Aku melakukan apa yang Aku ajarkan, dan Aku mengajarkan apa yang harus dilakukan: mengasihi orang-orang malang. Apa yang sudah dilaporkan kepadamu?"

"Kami mendengar teriakan hasutan. Dan karena ada hasutan di mana pun Kau berada, kami datang untuk melihat."

"Ada damai di mana Aku berada. Teriakannya adalah: 'Hidup Yesus.'"

"Tepat. Dan baik di Bait Allah maupun di istana Herodes mereka berpikir bahwa orang-orang berkomplot di sini melawan..."

"Melawan siapa? Siapakah raja Israel? Bukan Bait Allah, juga bukan Herodes. Romawi memerintah di sini dan siapa pun yang berpikir untuk menjadi raja di mana Romawi memerintah, pasti sudah gila."

"Kau mengatakan bahwa Kau adalah raja."

"Ya, Aku adalah raja. Tapi bukan dari kerajaan ini. Itu terlalu remeh bagi-Ku! Juga Kekaisaran terlalu remeh. Aku adalah Raja Kerajaan Surga, Kerajaan Kasih dan Roh. Pergilah dengan damai. Atau kamu boleh tinggal, jika kamu mau, dan belajar bagaimana orang mencapai Kerajaan-Ku. Inilah rakyat-Ku: yang miskin, yang tidak bahagia, yang tertindas; dan yang baik, yang rendah hati, yang murah hati. Tinggallah di sini dan bergabunglah dengan mereka."

"Tapi Kau selalu berpesta di rumah-rumah mewah, di antara perempuan-perempuan cantik dan..."

"Cukup! Kamu tidak bisa menudingkan dakwaan-dakwaan terhadap Sang Rabbi dan menghina Dia di rumahku. Enyah!" guntur Khuza.

Tapi sosok ramping seorang gadis berkerudung melompat masuk ke teras dari tangga bagian dalam. Dia berlari seringan kupu-kupu hingga tiba pada Yesus, di mana dia menjatuhkan kerudung dan mantelnya, melemparkan dirinya di depan kaki-Nya dan mencoba mencium kaki-Nya.

"Salome!" teriak Khuza dan orang-orang lain juga.

Yesus telah menarik diri begitu kuat guna menghindari kontak dengannya, hingga kursi-Nya terbalik dan Dia mengambil keuntungan dari situasi itu dengan menempatkan kursi di antara Diri-Nya dan Salome sebagai pembatas. Mata Yesus begitu berkilat dan mengerikan hingga menimbulkan ketakutan pada semua orang.

Salome menyeringai kurang ajar dan berkata, "Ya, ini aku. Teriakan terdengar di Istana. Herodes sudah mengirimkan pesan untuk memberitahu-Mu bahwa dia ingin bertemu dengan-Mu. Tapi aku sudah mencegat utusannya. Ikutlah denganku, Tuhan. Aku sangat mencintai-Mu dan aku sangat ingin memiliki-Mu! Aku juga daging Israel."

"Pulanglah ke rumahmu."

"Istana menunggu-Mu untuk menghormati-Mu."

"Ini Istana-Ku. Aku tidak kenal Istana lainnya atau kehormatan lainnya," dan dengan tangan-Nya Dia menunjuk pada orang-orang miskin yang duduk di meja.

"Aku sudah membawakan-Mu hadiah untuk itu. Ini perhiasan-perhiasanku."

"Aku tidak menginginkannya."

"Mengapa Kau menolaknya?"

"Karena perhiasan-perhiasan itu kotor dan dipersembahkan untuk tujuan yang kotor. Pergi!"

Salome berdiri, dia tercengang. Dia melemparkan tatapan sekilas pada Yang Termurni dan Yang Mengerikan, Yang mengecamnya dengan tangan-Nya terulur dan mata yang berkilat bagai api. Salome dengan diam-diam melihat pada semua orang dan melihat ejekan atau rasa jijik di wajah semua orang. Orang-orang Farisi ketakutan melihat peristiwa yang dahsyat itu. Para perempuan Romawi berani maju untuk melihat lebih jelas.

Salome melakukan upaya terakhir, "Kau menghampiri bahkan penderita kusta..." katanya penuh iba dan memohon.

"Mereka sakit. Kau adalah seorang gadis nakal. Pergi!"

"Pergi!" yang terakhir ini begitu kuat hingga Salome memungut kerudung dan mantelnya dan dengan terbungkuk-bungkuk dan merangkak dia pergi menuju tangga.

"Berhati-hatilah, Tuhan!... Dia berkuasa... Dia bisa mencelakai-Mu," bisik Khuza dengan suara pelan.

Namun Yesus menjawab dengan suara yang sangat lantang, hingga semua orang, dan gadis yang diusir itu terutama, bisa mendengar, "Tidak masalah. Aku lebih suka dibunuh daripada bersekutu dengan kejahatan. Keringat seorang perempuan cabul dan emas seorang pelacur adalah racun neraka. Persekutuan pengecut dengan orang yang berkuasa adalah dosa. Aku-lah Kebenaran, Kemurnian dan Penebusan. Dan Aku tidak akan berubah. Pergi. Tunjukkan jalan keluar padanya."

"Aku akan menghukum para pelayan yang membiarkan dia masuk."

"Jangan menghukum siapa pun. Satu saja yang harus dihukum: gadis itu. Dan dia dihukum. Dan dia harus tahu, dan kamu semua harus tahu bahwa Aku mengetahui niatnya, yang membuat-Ku muak. Biarkan ular itu kembali ke sarangnya. Sang Anak Domba akan kembali ke kebun-kebun-Nya."

Yesus duduk. Dia berkeringat. Dia lalu berkata, "Yohana, berikan derma kepada mereka masing-masing, supaya hidup mereka tidak begitu menyedihkan selama beberapa hari... Apa lagi yang bisa Aku lakukan bagimu, o anak-anak kesedihan? Apa yang kamu ingin Aku berikan kepadamu? Aku bisa membaca hatimu. Damai dan kesehatan bagi orang sakit yang bisa percaya!"

Ada jeda singkat, kemudian seruan... dan banyak yang berdiri dengan sembuh total. Orang-orang Yahudi yang sudah datang untuk menangkap-Nya terheran-heran, dan dalam keantusiasan orang banyak atas mukjizat dan atas kemurnian Yesus, tak seorang pun yang memperhatikan mereka saat mereka pergi.

Yesus tersenyum saat mencium anak-anak. Dia kemudian mempersilakan para tamu untuk pulang, tetapi Dia menahan para janda dan berbicara kepada Yohana atas nama mereka. Yohana membuat catatan dan mengundang mereka untuk datang hari berikutnya. Mereka pun pergi juga. Yang terakhir pergi adalah orang-orang lanjut usia...

Para rasul, para murid laki-laki dan perempuan dan para perempuan Romawi tetap bersama Yesus, Yang berkata, "Begitulah seharusnya pertemuan-pertemuan di masa mendatang. Kata-kata tidak diperlukan. Biarlah bukti fakta berbicara kepada roh dan pikiran. Damai sertamu."

Yesus pergi menuju tangga bagian dalam dan menghilang dengan diikuti oleh Yohana dan yang lain-lainnya.

Di kaki tangga Dia bertemu Yudas, yang berkata, "Guru, jangan pergi ke Getsemani! Musuh-musuh-Mu mencari-Mu di sana. Nah, ibu, apa yang kau katakan sekarang? Kau menuduhku, tetapi jika aku tidak pergi, aku tidak akan tahu tentang jerat yang sudah dipasang untuk Guru. Ayo kita pergi ke rumah lain!"

"Datanglah ke rumah kami, kalau begitu. Hanya sahabat-sahabat Allah yang masuk ke rumah Lazarus," kata Maria Magdala.

"Ya. Biarlah mereka yang kemarin di Getsemani datang ke rumah Lazarus bersama saudara-saudara perempuan Lazarus. Besok kita akan mengambil tindakan yang diperlukan."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama