368. KAMIS SEBELUM PASKAH. PENGAJARAN KEPADA PARA RASUL.            


25 Januari 1946   

Dalam perjalanan kembali ke rumah Yohana, sementara mereka terpencar di antara orang-orang yang memadati jalanan dan memisahkan satu sama lain banyak dari para murid yang mengikuti Yesus, Petrus, yang bersama Guru dan kedua putra Alfeus, bertanya, "Tuhan, sekarang sementara kita bisa saling berbicara sedikit, maukah Engkau memberitahuku sesuatu, yang sudah menjadi pikiranku sejak semalam?"

"Tentu saja, Simon. Katakanlah, dan Aku akan menjawabmu."

"Sejak semalam aku memikirkan rahmat besar yang Engkau anugerahkan kepada Yohanes di Antigonea. Kau tahu, itu benar-benar rahmat yang luar biasa! Sesuatu yang unik. Dianugerahkan kepadanya seorang! Namun, Sintikhe juga pantas mendapatkan banyak seperti itu... Dan ada banyak orang baik... yang pantas melihat-Mu... tapi mereka melihat-Mu hanya ketika mereka dekat dengan-Mu. Misalnya, betapa itu akan merupakan penghiburan bagi kami, ketika Engkau mengutus kami ke dalam dunia! Dan ada saat-saat ketika sepatah sabda-Mu akan menjernihkan poin-poin keraguan bagi kami... Tapi Engkau tidak pernah menampakkan diri kepada kami... Mengapa ada perbedaan ini?"

"Singkat kata, Simon-Ku terkasih, apakah kau mungkin sedikit cemburu?..."

"Tidak! Tapi... Yah, aku ingin tahu tiga hal: kenapa itu dianugerahkan kepada Yohanes En-Dor, dianugerahkan kepadanya seorang, dan apakah suatu hari itu akan terjadi pada kami juga, misalnya padaku, melihat-Mu secara mukjizat dan dibimbing oleh-Mu tentang bagaimana aku harus bersikap."

"Dan inilah jawaban-Ku. Rahmat dianugerahkan kepada Yohanes karena dia adalah roh yang paling rela, tetapi dia, karena petualangan masa lalunya, memiliki kelemahan-kelemahan, yang lebih bersifat fisik daripada apa pun, dan yang mungkin bisa merusakkan bangunan peninggiannya kepada Allah, yang dia bangun. Lihat, sahabat-Ku terkasih? Masa lalu kita, yang ada pada kita untuk waktu yang lama adalah bagaikan kerak yang berakar dalam, yang tidak hanya menorehkan tanda-tanda yang tak terhapuskan, tetapi juga meninggalkan kecenderungan-kecenderungan yang tetap dalam diri setiap orang. Lihat, misalnya, rumah kecil itu yang dibangun di kaki gunung. Air yang mengalir menuruni lereng gunung saat hujan telah perlahan-lahan merembesinya. Saat ini ada sinar matahari yang hangat, yang akan berlangsung selama berbulan-bulan. Namun jamur yang telah merembesi mortarnya akan selalu ada bagai noda-noda kusta. Rumah itu sudah ditinggalkan karena dinyatakan terinfeksi. Pada masa lalu yang lebih ketat, rumah itu akan sudah dirobohkan sama sekali, seturut Hukum. Mengapa bencana yang demikian menimpa rumah malang itu? Karena pemiliknya tidak memiliki parit kecil yang digali sekelilingnya guna mencegah air menggenangi fondasinya dan guna menjauhkan sisi yang menghadap gunung dari air yang mengalir turun dari sana. Rumah itu sekarang tidak hanya kelihatan jelek, tetapi juga bobrok karena lembab. Jika seorang yang berniat baik mengetahui poin-poin praktis itu dan kemudian membersihkannya, membongkar temboknya dan mengganti batu-batu bata yang berjamur dengan yang baru, rumah itu akan bisa digunakan kembali. Tetapi rumah itu akan selalu rentan oleh kelemahan yang demikian, yakni apabila terjadi gempa bumi ia akan menjadi rumah pertama yang roboh. Yohanes dirembesi selama bertahun-tahun oleh kejahatan dunia yang beracun. Melalui kekuatan kehendaknya, dia telah menyingkirkannya dari jiwanya, ketika jiwanya itu menjadi hidup kembali. Tetapi ada kelemahan-kelemahan yang masih tertinggal, tersembunyi dalam dagingnya, dalam bagiannya yang lebih rendah... Rohnya kuat, tetapi tubuhnya lemah dan dagingnya mengakibatkan badai ketika stimulusnya terhubung dengan unsur-unsur dunia, yang mampu mengguncang ego seseorang. Yohanes!... Betapa banyak partikel masa lalunya telah disingkirkan oleh apa yang terjadi! Aku membantu perlawanannya, pemurniannya, kemenangannya atas kambuhnya masa lalunya. Aku memberikan penghiburan untuk penderitaannya yang terlalu pahit, sebaik Aku bisa. Karena dia pantas mendapatkannya. Karena adalah benar untuk membantu kehendak yang kudus ketika semua kejahatan dunia menyerangnya. Apakah kau sudah diyakinkan?"

"Ya, Guru... Dan apakah Engkau menampakkan diri hanya kepadanya saja?"

Yesus tersenyum melihat Petrus yang menatap pada-Nya dari bawah seperti seorang kanak-kanak mengamati wajah bapanya. Dia menjawab, "Tidak hanya kepada dia saja. Kepada yang lain-lainnya juga, yang jauh, yang membangun kekudusan mereka, dengan susah payah dan sendirian."

"Siapakah mereka?"

"Tidak perlu tahu itu."

Yakobus Alfeus bertanya, "Dan bagaimana dengan kami, misalnya, ketika kami sendirian dan, siapa tahu, bagaimana kami akan disiksa oleh dunia?... Tidakkah Engkau akan menolong kami dengan kehadiran-Mu?"

"Kamu akan memiliki Parakletos dengan terang-Nya."

"Baiklah... Tapi aku... Aku tidak mengenal Dia... dan... Aku pikir aku tidak akan pernah berhasil memahami Dia. Sebaliknya Engkau... Aku akan berkata, 'Oh! Ini dia Sang Guru' dan aku akan bertanya kepada-Mu apa yang harus aku lakukan, sebab aku tahu pasti bahwa itu adalah Engkau…," kata Petrus. Dan dia mengakhiri perkataannya, "Parakletos! Terlalu tinggi untuk seorang nelayan yang malang! Aku bertanya-tanya bagaimana sulit bahasa-Nya dan bagaimana ringannya Dia: sekilas hembusan yang lewat... Siapa yang akan merasakannya? Aku butuh guncangan yang keras, teriakan, supaya, sebab aku ini orang bodoh, aku bisa bangun dan mengerti. Tetapi jika Engkau menampakkan diri kepadaku, aku akan melihat-Mu, jadi!... Berjanjilah padaku, tidak, berjanjilah pada kami, berjanjilah bahwa Kau akan menampakkan diri kepada kami juga. Tapi seperti Kau adanya! Dalam daging dan darah. Supaya orang bisa melihat-Mu dengan baik dan mendengarkan-Mu dengan lebih baik."

"Dan jika Aku datang untuk mencelamu?"

"Tidak masalah! Setidaknya - kamu berdua setuju, kan? - setidaknya kami tahu apa yang harus dilakukan!"

Kedua putra Alfeus mengangguk setuju.

"Baiklah, aku berjanji padamu. Tetapi, percayalah pada-Ku, Parakletos akan membuat Diri-Nya dimengerti oleh jiwamu. Tetapi Aku akan datang dan berkata kepadamu: 'Yakobus, lakukan ini dan itu. Simon Petrus, tidak tepat bagimu melakukan itu. Yudas, kuatkan dirimu untuk siap menghadapi ini atau itu.'"

"Oh! Sangat bagus. Aku merasa lebih baik sekarang. Dan sering-seringlah datang, Kau ingatlah! Karena aku akan menjadi seperti seorang kanak-kanak malang yang tersesat, yang tidak melakukan apa-apa selain menangis dan... melakukan hal yang salah..." Dan Petrus nyaris mulai menangis sekarang...

Yudas Tadeus bertanya, "Tidak bisakah Kau melakukannya untuk semua orang, bahkan sekarang ini? Maksudku: untuk mereka yang ragu, bersalah, yang menyangkal. Mungkin mukjizat..."

"Tidak, saudara-Ku. Sebuah mukjizat melakukan banyak kebaikan, teristimewa mukjizat macam itu, ketika dianugerahkan pada saat yang tepat dan di tempat yang tepat, kepada orang-orang yang tidak secara sengaja bersalah. Ketika, sebaliknya, dianugerahkan kepada orang-orang yang secara sengaja bersalah, itu akan menambah kebersalahan mereka, karena itu meningkatkan kesombongan mereka. Mereka menyalahartikan karunia Allah sebagai kelemahan Allah, seolah-olah Allah memohon kepada orang-orang yang sombong macam itu untuk mengizinkan Dia mengasihi mereka. Mereka menganggap karunia Allah sebagai hasil dari jasa-jasa besar mereka. Mereka mengatakan: 'Allah merendahkan Diri-Nya di hadapanku, karena aku kudus.' Kemudian kerusakannya sempurna sudah. Kerusakan Markus Yosia, misalnya, dan orang-orang lain yang bersamanya... Celakalah mereka yang mengambil jalan Setan itu. Karunia Allah berubah dalam diri mereka menjadi racun Setan. Diberkati dengan karunia yang luar biasa adalah ujian terbesar dan teraman dari tingkat peninggian dan kehendak kudus dalam diri orang. Sangat sering orang menjadi bersukacita secara manusiawi karenanya, dan dari segi rohani dia menjadi sepenuhnya manusiawi, dia kemudian turun lebih rendah dan menjadi setan."

"Kalau begitu, kenapa Allah menganugerahkannya kepada mereka? Lebih baik jika Dia tidak menganugerahkannya!"

"Simon anak Yunus, ketika ibumu ingin kau belajar berjalan, apakah dia terus mendekapmu dalam kain lampin dan dalam pelukannya sepanjang waktu?"

"Tidak. Dia menempatkanku di lantai dengan kaki-kakiku bebas."

"Apakah kau pernah jatuh?"

"Tak terhitung banyaknya! Juga karena aku sangat... Yah, sejak aku masih kanak-kanak, aku ingin melakukan sesuatu sendiri dan aku berusaha melakukan semuanya dengan baik."

"Tapi kau tidak lagi jatuh sekarang!"

"Tentu saja tidak! Sekarang aku tahu bahwa memanjat sandaran kursi itu berbahaya, bahwa menggunakan talang hujan untuk meluncur turun dari atap ke tanah adalah salah, dan bahwa mencoba terbang dari pohon ara ke dalam rumah seperti burung adalah bodoh. Tapi waktu kecil, aku tidak mengerti. Dan jika aku tidak mati, itu adalah benar-benar suatu misteri. Tapi sedikit demi sedikit aku belajar untuk menggunakan kakiku dan juga otakku dengan benar."

"Jadi Allah melakukan hal yang baik dengan memberimu kaki dan otak, dan ibumu juga melakukan hal yang baik dengan membiarkanmu belajar?"

"Sudah pasti!"

"Dan Allah melakukan hal yang sama dengan jiwa-jiwa. Dia menganugerahi mereka karunia, dan seperti seorang ibu yang baik Dia memperingatkan dan mengajar mereka. Tapi selanjutnya setiap orang harus mempertimbangkan sendiri bagaimana menggunakannya."

"Dan jika dia bodoh?"

"Allah tidak menganugerahkan karunia kepada orang-orang bodoh. Dia mengasihi mereka, kendati kelemahan mereka, tetapi Dia tidak menganugerahkan kepada mereka apa yang tidak bisa mereka hargai."

"Tetapi seandainya Dia memang menganugerahkannya kepada mereka, dan mereka menggunakannya secara salah?"

"Allah akan memperlakukan mereka seperti mereka adanya: orang cacat, dan karenanya tidak bisa bertanggung jawab. Dia tidak akan menghakimi mereka."

"Dan jika seorang itu cerdas saat menerimanya, dan kemudian dia menjadi bodoh atau gila?"

"Jika perubahan itu dikarenakan penyakit, dia tidak bersalah karena tidak mempergunakan karunia itu."

"Tapi... salah satu dari kami, misalnya? Markus Yosia... atau... seorang yang lain, lalu?"

"Oh! Dalam hal itu akan lebih baik baginya untuk tidak dilahirkan! Tapi begitulah bagaimana yang baik dipisahkan dari yang jahat... Prosedur yang menyakitkan tapi adil."

"Topik menarik apa yang menjadi pembicaraan kalian? Apakah itu tidak menyangkut kami?" tanya rasul-rasul lain yang, berkat jalan yang lebar, bisa bergabung kembali dengan Yesus.

"Kami membicarakan banyak hal. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang kusta yang menjangkiti rumah. Aku akan mengulanginya untukmu nanti," jawab Petrus.

"Tapi, itu takhayul! Yang dianggap benar pada masa itu. Tembok tidak terdampak kusta. Orang-orang kuno yang bodoh menerapkan karakteristik binatang pada pakaian dan tembok. Teori tidak masuk akal yang membuat kita bodoh," komentar Iskariot memamerkan pengetahuannya.

"Tidak tepat seperti yang kau katakan, Yudas. Di bawah apa yang tampaknya fiksi, yang sesuai dengan mentalitas pada masa itu, mereka mencapai suatu jangkauan penting, yang berhubungan dengan tinjauan masa depan yang suci. Sama seperti banyak ajaran Israel kuno lainnya. Ajaran tentang menjaga kesehatan masyarakat. Adalah tugas para pembuat undang-undang agar masyarakat terpelihara kesehatannya, hal itu menghormati dan melayani Allah karena manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Oleh karenanya ajaran-ajaran itu janganlah diabaikan, sebagaimana kita tidak mengabaikan hewan dan tumbuhan. Memang benar bahwa rumah-rumah yang disebut kusta, tidak memiliki penyakit fisik kusta. Tetapi mereka memiliki kesalahan posisi dan konstruksi, yang membuatnya tidak sehat dan itu terungkap oleh noda-noda yang disebut 'kusta tembok'. Dalam jangka panjang rumah-rumah itu bukan hanya tidak sehat bagi manusia, tetapi juga membahayakan karena rentan runtuh. Demikianlah Hukum menetapkan apa yang benar dan memerintahkan rumah-rumah itu untuk ditinggalkan dan direnovasi, dan bahkan dirobohkan, jika sesudah diperbaiki masih menunjukkan tanda-tanda penyakit."

"Oh! Bahaya apa yang bisa diakibatkan oleh sedikit lembab? Kelembaban bisa dikeringkan dengan anglo."

"Maka kelembaban tidak akan terlihat secara lahiriah dan muslihatnya bahkan lebih besar. Kelembaban akan tumbuh di kedalaman dan menyebabkan korosi, dan suatu hari rumah itu akan runtuh dengan mengubur orang-orang yang ada di dalamnya. Yudas, Yudas! Lebih baik menjadi sangat waspada daripada tidak bijaksana."

"Aku bukan rumah."

"Kau adalah rumah bagi jiwamu. Jangan biarkan kejahatan merembesi rumahmu dan menghancurkannya berkeping-keping... Waspadalah terhadap keselamatan jiwamu. Kamu semua harus waspada."

"Aku akan waspada, Guru. Tapi katakan yang sebenarnya, apakah perkataan ibuku membuat-Mu sangat terkesan? Dia sakit. Dia membayangkan banyak hal. Aku harus membuatnya sembuh. Sembuhkan dia untukku, Guru."

"Aku akan menghiburnya. Tapi kaulah satu-satunya yang bisa menyembuhkannya, menghilangkan kecemasannya."

"Dia cemas tanpa alasan. Percayalah padaku, Tuhan."

"Lebih baik begitu, Yudas. Lebih baik begitu. Tetapi cobalah untuk menghilangkan kecemasannya sepenuhnya, melalui perilaku yang lebih dan lebih benar. Jika ada kecemasan, pasti ada alasannya. Hapuskan pikiran kecemasan itu, dan ibumu dan Aku akan memberkatimu."

"Guru, apakah Kau takut aku akan seperti Markus Yosia?"

"Aku tidak takut apa-apa."

"Ah! Baguslah! Karena aku tadi benar-benar berusaha untuk meyakinkan Markus. Dan aku pikir adalah tugasku untuk melakukannya. Tidak ada orang yang melakukannya! Tapi aku bersemangat bagi jiwa-jiwa, sungguh!"

"Berhati-hatilah agar tidak ada bahaya yang menimpamu," kata Petrus ramah.

"Apa maksudmu?" tanya Yudas agresif.

"Hanya ini: untuk menangani apa yang terbakar, kau harus menggunakan sesuatu yang tahan api."

"Apa, dalam kasus kita?"

"Apa? Kekudusan yang luar biasa."

"Dan aku tidak memilikinya, ya kan?"

"Baik kau, atau aku, atau siapa pun di antara kita tidak memilikinya. Jadi... kita mungkin akan membuat diri kita sendiri terbakar dan menanggung luka bakar."

"Jadi, siapa yang akan menjaga jiwa-jiwa?"

"Guru, untuk saat ini. Kelak, ketika kita sudah memiliki sarana untuk melakukannya, sesuai janji-Nya, kita akan melakukannya."

"Tapi aku ingin melakukannya sekarang. Orang tidak pernah bekerja terlalu dini untuk Tuhan."

"Ya, aku pikir kau benar. Tetapi pekerjaan pertama bagi Tuhan harus dilakukan dalam diri kita sendiri. Pergi mengkhotbahkan kekudusan kepada orang-orang lain sebelum mengkhotbahkannya kepada diri kita sendiri, adalah…"

"Kau egois."

"Sama sekali tidak."

"Ya, kau egois."

"Tidak."

Perselisihan dimulai. Yesus campur tangan, "Sebagian besar dari apa yang Petrus katakan adalah benar. Ada juga kebenaran dalam apa yang kau katakan. Karena khotbah harus berdasarkan fakta. Jadi kau harus menguduskan dirimu supaya bisa berkata, 'Lakukan apa yang aku lakukan karena itu benar.' Dan itu menegaskan apa yang dikatakan Petrus. Tetapi berkarya bagi jiwa-jiwa lain juga membantu menyempurnakan jiwa kita sendiri, karena kita didorong untuk menyempurnakan diri kita sendiri, jangan sampai mereka yang bertobat balik mengkritik kita. Tapi, ini dia kita sudah berada di rumah Yohana... Ayo kita masuk dan menikmati berada di antara para pekerja Tuhan, dan berkhotbah, melalui fakta, di masa mendatang."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama