367. KAMIS SEBELUM PASKAH. DI BAIT ALLAH.            


24 Januari 1946   

Aku tidak melihat makanan dibagikan kepada para penderita kusta di Hinom, aku hanya mendengar para rasul membicarakannya. Namun aku pikir tidak ada mukjizat yang dikerjakan di antara mereka, karena Simon Petrus berkata, "Kesendirian yang kejam sudah menjauhkan mereka dari percaya dan menyadari di mana Kesehatan itu."

Mereka kemudian memasuki kota melalui Gerbang yang menuju pinggiran kota Ofel yang padat penduduknya.

Setelah beberapa langkah, Annalea keluar dengan penuh sukacita dari pintu yang setengah terbuka dan memuliakan Guru dan berkata, "Ibuku sudah mengizinkanku untuk tinggal bersama-Mu, Tuhan, sampai malam."

"Apakah Samuel tidak akan kecewa?"

"Tidak ada lagi Samuel dalam hidupku, Tuhan. Dan terpujilah Yang Mahatinggi untuk itu. Bagaimanapun, semoga Dia mengabulkan doaku, bahwa Samuel tidak meninggalkan-Mu, Allah-ku, seperti dia sudah meninggalkanku." Seulas senyum gagah berani muncul di bibirnya, sementara airmata berkilau di matanya yang murni.

Yesus menatap lekat padanya dan sebagai jawaban, Dia hanya berkata, "Bergabunglah dengan murid-murid perempuan," dan Dia melanjutkan langkah-Nya.

Namun ibu Annalea yang sudah tua, yang tua lebih karena kesedihannya daripada karena usianya, mendekati Yesus juga, membungkuk hormat tetapi dengan patah hati, dan dia berkata, "Damai serta-Mu, Guru. Kapankah aku bisa berbicara kepada-Mu? Aku sangat khawatir!..."

"Segera, perempuan." Dan berbicara kepada mereka yang bersama-Nya, Dia berkata, "Tetaplah di sini di luar. Aku akan masuk ke dalam rumah ini sebentar," dan Dia hendak mengikuti perempuan itu. Namun Annalea memanggil-Nya dari kelompok para murid perempuan, hanya dengan sepatah kata saja, "Guru!" tetapi betapa bermaknanya itu! Dan sambil mengucapkannya dia mengatupkan kedua tangannya, seolah-olah dia sedang memohon...

"Jangan takut. Damai. Perkaramu ada dalam tangan-Ku dan begitu juga rahasiamu," jawab Yesus meyakinkan. Dia kemudian masuk dengan cepat melalui pintu yang setengah terbuka.

Di luar, baik laki-laki maupun perempuan berkomentar penuh rasa ingin tahu mengenai kejadian tersebut, karena mereka semua antusias ingin tahu...

Di dalam, Yesus mendengarkan perempuan tua itu. Bersandar dengan punggung-Nya pada pintu, yang telah Dia sendiri tutup sesudah masuk, dengan tangan terlipat di dada, Dia mendengarkan si ibu yang menangis, yang menceritakan kepada-Nya mengenai ketidaksetiaan tunangan putrinya, yang sudah mengambil kesempatan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari ikatannya... "Jadi Annalea sama seperti tidak diakui, dan dia tidak akan pernah menikah sekarang, karena dia mengatakan bahwa Engkau tidak menyetujui orang menikah sesudah tidak diakui. Tapi tidaklah demikian. Dia masih seorang gadis! Dia tidak memberikan dirinya kepada laki-laki lain, karena dia tidak pernah menjadi milik laki-laki mana pun. Dan laki-laki itu bersalah atas kekejaman. Dan bahkan lebih lagi. Karena dia ingin menikah dengan seorang perempuan lain dan putriku yang akan dianggap bersalah dan dunia akan menertawakannya. Pastikan Engkau menyelesaikan perkara ini, Tuhan, karena semua ini terjadi karena-Mu."

"Karena Aku, perempuan? Dalam hal apa Aku telah berdosa?"

"Oh! Engkau tidak berdosa. Tapi laki-laki itu mengatakan bahwa Annalea jatuh cinta kepada-Mu. Dan dia berpura-pura cemburu. Dia datang ke sini tadi malam, tapi Annalea sedang bersama-Mu. Dia tiba-tiba sangat marah dan bersumpah bahwa dia tidak lagi akan menikahinya, dan Annalea yang datang tepat saat itu menjawab kepadanya: 'Kau melakukan hal yang benar. Aku hanya menyesal bahwa kau menutupi kebenaran dengan dusta dan fitnah. Kau tahu bahwa orang mengasihi Yesus hanya dengan jiwanya. Tetapi jiwamulah yang sekarang rusak dan meninggalkan Terang untuk mengikuti daging, sementara aku meninggalkan daging untuk mengikuti Terang. Kita tidak lagi bisa sepikir seperti seharusnya pasangan yang menikah. Jadi, kau bisa pergi, dan semoga Allah menjagamu.' Annalea tidak meneteskan setetes airmata pun, lihat? Tidak ada suatu pun yang akan menyentuh hati laki-laki itu! Harapanku dikecewakan! Annalea, dia... menyebabkan kehancurannya sendiri, melalui kesembronoannya. Panggil dia Tuhan dan bicaralah padanya. Buat dia mengerti. Carilah Samuel. Dia tinggal bersama Abraham, kerabatnya, di rumah ketiga sesudah Mataair dekat pohon ara. Tolonglah aku! Tapi bicaralah kepada Annalea dulu, baru…"

"Sejauh menyangkut bicara, Aku akan berbicara kepadanya. Tetapi kau harus bersyukur kepada Tuhan Yang melepaskan ikatan manusiawi yang tidak menjanjikan suatu pun yang baik. Laki-laki itu tidak konsisten dan tidak adil terhadap Allah dan terhadap perempuannya..."

"Ya, tetapi sangat mengerikan bahwa dunia menganggap Annalea bersalah dan Kau juga, hanya karena dia adalah murid-Mu."

"Dunia mendakwa dan kemudian melupakan. Surga sebaliknya adalah kekal. Putrimu akan menjadi bunga Surga."

"Mengapa kala itu Kau membuatnya hidup? Dia akan menjadi bunga jika tidak didera fitnah. Oh! Sebab Kau adalah Allah, panggillah dia, buat dia mengerti, dan lalu buatlah Samuel mempertimbangkan..."

"Ingat, perempuan, bahwa bahkan Allah tidak mengekang kehendak dan kebebasan manusia. Samuel dan putrimu berhak mengikuti apa yang mereka rasa baik untuk mereka. Annalea teristimewa berhak..."

"Kenapa?"

"Karena dia dicintai Allah lebih dari Samuel. Karena dia mencintai Allah lebih dari dia mencintai Samuel. Putrimu adalah milik Allah!"

"Tidak. Itu tidak berlaku di Israel. Seorang perempuan harus menikah... Dia adalah putriku... Pernikahannya akan memberiku damai untuk masa depan..."

"Putrimu akan sudah berada di kuburnya selama satu tahun jika Aku tidak menyembuhkannya. Siapakah Aku, menurutmu?"

"Guru dan Allah."

"Dan sebagai Allah dan Guru, Aku memberitahumu bahwa Yang Mahatinggi lebih berhak atas anak-anak-Nya dibandingkan siapa pun, dan bahwa banyak yang akan berubah dalam Agama dan bahwa mulai dari sekarang adalah mungkin bagi para perawan untuk tetap demikian selamanya, demi cinta kepada Allah. Jangan menangis, ibu. Tinggalkan rumahmu dan ikutlah bersama kami, sekarang. Datanglah! BundaKu ada di luar sana bersama para ibu yang gagah berani lainnya yang sudah memberikan anak-anaknya kepada Tuhan. Bergabunglah dengan mereka..."

"Bicaralah kepada Annalea... Cobalah, Tuhan!" erang perempuan itu sambil menangis.

"Baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan," kata Yesus. Dan Dia membuka pintu dan memanggil, "Bunda, masuklah bersama Annalea."

Mereka segera masuk.

"Anak-Ku, ibumu ingin Aku mengatakan padamu untuk mempertimbangkan kembali perkara ini. Dia ingin Aku berbicara kepada Samuel. Apa yang harus Aku lakukan? Bagaimana pendapatmu?"

"Kau boleh berbicara kepada Samuel. Tidak, aku mohon Kau melakukannya. Tetapi hanya karena aku ingin dia menjadi benar sesudah mendengar-Mu. Sejauh menyangkut aku, Kau tahu. Aku mohon kepadamu untuk memberikan jawaban yang paling sebenarnya kepada ibuku."

"Apakah kau dengar, perempuan?"

"Jadi yang mana jawabannya?" perempuan tua itu bertanya dengan suara putus asa; dia berharap kata-kata pertama putrinya adalah pertobatannya, tapi kemudian dia menyadari bahwa itu tidak terjadi.

"Jawabannya adalah bahwa selama satu tahun ini putrimu telah menjadi milik Allah dan kaulnya akan berlangsung sepanjang hidupnya."

"Oh! betapa malangnya aku! Ibu mana yang lebih malang daripadaku?!"

Maria melepaskan tangan gadis itu untuk membawa si perempuan tua masuk ke dalam pelukan-Nya, dan Dia berkata kepadanya dengan lemah lembut, "Janganlah berbuat dosa dengan pikiranmu dan lidahmu. Bukan kemalangan, tetapi kemuliaan besar memberikan seorang anak kepada Allah. Dulu kau pernah mengatakan kepada-Ku bahwa kau menyesal bahwa kau hanya memiliki seorang putri, karena kau akan bersuka memiliki seorang putra yang dikonsekrasikan bagi Tuhan. Kau tidak memiliki seorang putra, tetapi seorang malaikat yang akan mendahului Juruselamat dalam kemenangan-Nya. Dan kau katakan bahwa kau malang? BundaKu secara spontan mengkonsekrasikan Aku kepada Allah sejak dari saat pertama dia merasakan-Ku dalam rahimnya, sesudah mengandung Aku di usia lanjut. Dan dia memiliki Aku hanya selama tiga tahun saja. Dan Aku memilikinya tapi dalam hati-Ku. Walau demikian, itu memberinya damai, pada saat kematiannya, bahwa dia telah memberikan Aku kepada Allah... Jadilah baik sekarang... ikutlah ke Bait Allah untuk menyanyikan pujian bagi Dia Yang begitu mengasihimu hingga memilih putrimu sebagai mempelai-Nya. Biarlah hatimu menjadi benar-benar bijaksana. Dan kebijaksanaan sejati meliputi tidak membatasi kemurahan hati kita kepada Tuhan."

Perempuan itu tidak lagi menangis. Dia mendengarkan... Dia kemudian mengambil keputusan. Dia mengambil mantelnya dan membungkus diri di dalamnya. Namun, lewat di depan putrinya dia berkata seraya menghela napas, "Pertama penyakitmu, lalu Tuhan... Ah! Aku tidak akan memilikimu!..."

"Tidak, ibu. Jangan berkata begitu! Ibu tidak pernah memilikiku seperti ibu memilikiku sekarang. Keduanya, ibu dan Allah. Allah dan ibu. Kalian berdua saja... sampai kematianku..." dan dia memeluknya dengan lemah lembut seraya berkata, "Berkatmu, ibu! Berkatmu... karena aku sudah sangat menderita harus membuatmu menderita. Tetapi Allah menginginkan aku demikian…"

Mereka saling mencium dengan menangis. Mereka lalu keluar didahului oleh Yesus dan Maria dan mereka menutup pintu dan bergabung dengan murid-murid perempuan...

... "Mengapa kita masuk lewat sini, Tuhan? Bukankah lebih baik masuk lewat sisi yang lain?" tanya Yakobus Zebedeus.

"Karena, dengan masuk lewat sini, kita akan lewat di depan Antonia."

"Dan Kau berharap... Hati-hati, Guru!... Mahkamah Agama sedang memata-matai-Mu," kata Tomas.

"Bagaimana kau tahu?" Bartolomeus bertanya padanya.

"Cukuplah dengan mempertimbangkan betapa antusiasnya orang-orang Farisi ingin tahu. Aku diberitahu bahwa mereka terus menerus datang dengan banyak dalih untuk mengamati apa yang kita lakukan!... Untuk apa, jika tidak untuk mencari-cari kesalahan Guru?"

"Kau benar. Jadi janganlah kita lewat Antonia, Guru. Jika orang Romawi tidak melihat-Mu, itu jauh lebih baik."

"Dan alasan untuk itu bukanlah kekhawatiranmu terhadap-Ku melainkan terlebih karena rasa muakmu terhadap mereka, bukan begitu, Bartolomai? Betapa bijaksananya jika kau mengenyahkan kepicikan macam itu dari hatimu!" jawab Yesus, Yang, bagaimanapun, melanjutkan langkah-Nya, tanpa menghiraukan siapa pun.

Untuk pergi ke Antonia, mereka harus melewati Sixtus di mana bangunan-bangunan Yohana dan Herodes berada, saling berdekatan. Dan Yonatan ada di pintu bangunan Khuza dan begitu melihat Yesus, dia memberitahu orang-orang seisi rumah. Khuza segera keluar dan membungkuk hormat kepada Yesus. Yohana mengikutinya, dan dia sudah siap untuk bergabung dengan kelompok murid perempuan.

Khuza berkata, "Aku dengar bahwa Kau akan tinggal bersama kami hari ini. Berilah anugerah kepada hamba-Mu ini untuk mendapatkan-Mu sebagai tamunya di pesta makan malam."

"Ya. Asalkan kau mengizinkan-Ku menjadikannya pesta makan malam amal untuk orang-orang miskin dan malang."

"Seperti yang Kau kehendaki, Tuhan-ku. Beri aku perintah-Mu dan aku akan melakukan apa yang Kau kehendaki."

"Terima kasih. Damai sertamu, Khuza."

Yohana bertanya, "Apakah Kau punya instruksi untuk Yonatan? Dia siap melayani-Mu."

"Aku akan memberikannya sesudah Aku pergi ke Bait Allah. Ayo kita pergi, sebab mereka menantikan kita."

Tak lama kemudian mereka melewati istana indah milik Herodes yang kejam. Namun bangunan itu tertutup, seolah-olah tidak berpenghuni. Mereka lewat dekat Antonia. Para prajurit menyaksikan arak-arakan kecil orang Nazaret itu.

Mereka masuk ke Bait Allah. Sementara para perempuan berhenti di bagian bawah, para lelaki terus melanjutkan ke tempat yang diperuntukkan bagi mereka. Demikianlah mereka tiba di tempat di mana anak-anak dipersembahkan dan perempuan ditahirkan. Ada sekelompok kecil orang dengan seorang ibu muda yang menyaksikan upacara ritus itu.

"Seorang anak kecil dipersembahkan kepada Allah, Guru!" kata Andreas yang mengamati peristiwa itu.

"Kalau aku tidak salah, dia adalah perempuan dari Kaisarea Filipi, perempuan yang dari kastil. Dia lewat di depanku saat kami menantikan-Mu di Gerbang Emas," kata Yakobus Alfeus.

"Ya. Dan ibu mertuanya serta superintenden Filipus juga ada di sana. Mereka tidak melihat kita. Tapi kita melihat mereka," tambah Tadeus.

Dan Matius berkata, "Sebaliknya kami melihat Maria Simon bersama seorang laki-laki tua. Tapi Yudas tidak ada di sana. Perempuan itu terlihat sangat sedih. Dia melihat sekeliling dengan cemas."

"Kita akan mencarinya nanti. Ayo kita berdoa sekarang. Dan kau, Simon anak Yunus, berilah persembahan di peti persembahan atas nama semua orang."

Mereka berdoa untuk waktu yang lama, sementara orang-orang mengamati mereka dan satu sama lain saling menunjuk-nunjuk Guru.

Percekcokan singkat, di mana suara melengking seorang perempuan terdengar menonjol, membuat mereka yang tidak khusuk berdoa menoleh.

"Jika aku datang ke sini untuk mempersembahkan putraku kepada Allah, aku bisa tinggal sedikit lebih lama untuk mempersembahkannya kepada Dia Yang telah menyelamatkannya bagi Allah," kata suara melengking itu.

Dan suara sengau kaum laki-laki bersikeras, "Perempuan tidak diizinkan berhenti di sini sesudah ritus. Pergilah."

"Ya, tapi sesudah Dia."

"Panggil Dia, kalau begitu, dan pergilah bersama-Nya."

"Sebentar! Biarkan perempuan itu berbicara dan menjelaskan bagaimana dia bisa mengatakan bahwa Orang Nazaret itu menyelamatkan anak itu bagi Allah," kata suara lambat seorang laki-laki.

"Apa pentingnya, Yonatan Uziel?"

"Apa pentingnya!? Jelas ada dosa lain di sini. Bukti baru. Dengarkan aku, perempuan. Bagaimana Laki-laki itu menyelamatkan putramu? Maukah kau mengatakannya kepada kami, para pencari kebenaran yang gigih?" tanya orang Farisi, yang bukan orang baru bagiku, dengan berirama.

"Pasti, dan dengan rasa syukur. Aku putus asa karena bayiku lahir mati. Aku seorang janda dan anak ini adalah segalanya bagiku. Dia datang dan menghidupkannya kembali."

"Kapan? Di mana?"

"Di Kaisarea Filipi. Aku berasal dari kastil Kaisarea."

"Hidup kembali! Itu mungkin si anak hanya tiba-tiba pingsan sementara..."

"Tidak. Dia sudah mati. Ibuku bisa mengatakannya padamu. Dan superintenden kastil juga bisa mengatakannya padamu. Orang Nazaret itu datang dan menghembuskan napas ke dalam mulutnya dan bayi itu tersedak dan menangis."

"Dan kau di mana?"

"Di tempat tidur, pak. Aku baru saja melahirkan anak itu."

"Oh, betapa mengerikan!"

"Ah! Terkutuk!"

"Najis!"

"Sakrilegi!"

"Lihat? Aku benar dalam hal menginterogasinya."

"Kau bijaksana, Yonatan Uziel! Bagaimana kau tahu?"

"Aku tahu Laki-laki itu. Aku melihat-Nya mencemari hari Sabat di wilayahku di dataran demi memuaskan rasa lapar-Nya..."

"Ayo kita usir Dia dari sini!"

"Ayo kita laporkan perkara ini kepada imam-imam."

"Tidak, ayo kita tanyai Dia apakah Dia telah mentahirkan Diri-Nya. Kita tidak bisa mendakwa tanpa mengetahui..."

"Diam, Eleazar. Jangan mencemari dirimu dengan pembelaan yang konyol."

Dorcas muda, yang terjebak di tengah begitu banyak kekacauan, meledak dalam tangis dan berteriak, "Oh! Jangan celakai Dia karena aku!"

Namun beberapa laki-laki yang cepat naik pitam sudah mendatangi Tuhan dan mereka dengan angkuh berkata kepada-Nya, "Kemarilah dan jawab kami."

Para rasul dan para murid diliputi kemarahan dan ketakutan. Yesus dengan tenang dan berwibawa mengikuti mereka yang memanggil-Nya.

"Apakah Kau kenal perempuan ini?" mereka berteriak seraya mendorong-Nya ke tengah lingkaran yang sudah terbentuk sekeliling Dorcas dan menunjuk pada perempuan itu seolah-olah dia penderita kusta.

"Ya. Dia seorang janda muda dan ibu dari Kaisarea Filipi. Dan itu adalah ibu mertuanya. Dan itu adalah superintenden kastil. Jadi?"

"Perempuan ini mendakwa-Mu masuk ke dalam kamarnya saat dia masih sedang melahirkan anaknya."

"Itu tidak benar, Tuhan! Aku tidak mengatakan begitu. Aku mengatakan bahwa Engkau menghidupkan kembali putraku. Dan tidak lebih! Aku ingin menghormati-Mu, malahan aku mencelakai-Mu. Oh! Ampuni aku!"

Superintenden Filipus campur tangan untuk membelanya dan dia berkata, "Itu tidak benar. Kau berbohong. Perempuan ini tidak mengatakan begitu dan aku saksinya, dan aku siap bersumpah untuk itu, dan juga bahwa Rabbi tidak masuk ke dalam kamar, tetapi Dia mengerjakan mukjizat dengan berdiri di pintu."

"Diam kau, pelayan."

"Tidak akan. Dan aku akan mengatakannya kepada Filipus yang menghormati Rabbi lebih daripadamu, kamu penyembah palsu dari Allah Yang Mahatinggi."

Subyek perselisihan berubah dari perempuan menjadi politik dan agama. Yesus diam. Dorcas menangis.

Eleazar, tamu yang jujur di perjamuan di rumah Ismael, berkata, "Aku pikir keraguan sudah disingkirkan dan tuduhan tidak lagi berlaku, dengan demikian Rabbi bebas untuk pergi."

"Tidak. Aku ingin tahu apakah Dia telah mentahirkan Diri-Nya sesudah menyentuh mayat itu. Biarkan Dia bersumpah untuk itu demi Yahwe!" teriak Yonatan Uziel.

"Aku tidak mentahirkan Diri-Ku karena anak itu tidak mati, dia hanya kesulitan bernapas."

"Ah! Sekarang tepat bagi-Mu untuk mengatakan bahwa dia tidak dihidupkan kembali, eh?" teriak seorang Farisi lainnya.

"Mengapa Kau tidak membualkannya seperti yang Kau lakukan di Kedesh?" tanya yang lain.

"Jangan buang waktu kita! Ayo kita mengusir-Nya dan menyampaikan dakwaan baru kepada Mahkamah Agama. Segudang dakwaan!"

"Dakwaan yang mana?" tanya Yesus.

"Yang mana? Bahwa Kau menyentuh si perempuan kusta dan tidak mentahirkan Diri-Mu. Bisakah Kau menyangkalnya? Bahwa Kau bersumpah di Kapernaum, sebegitu rupa hingga murid-murid-Mu yang lebih benar meninggalkan-Mu. Bisakah Kau menyangkalnya?"

"Aku tidak menyangkal apa pun. Tapi Aku tidak berdosa, karena kau, Zadok, yang sekarang mendakwa-Ku, diberitahu oleh suami Anastasica bahwa perempuan itu tidak menderita kusta, dan kau tahu, kau mak comblang dari perzinahan Samuel, dan kau berdusta di hadapan dunia bersamanya, demi memelihara nafsu berahi manusia cabul itu, dengan menyebut kusta apa yang bukan kusta dan mengutuk seorang perempuan dengan siksa disebut 'kusta' di Israel, hanya karena kau adalah kaki tangan dari suaminya yang bersalah."

Zadok, ahli Taurat, seorang dari mereka yang ada di Giscala dan kemudian di Kedesh, tersingkap jelas perbuatannya oleh pernyataan Yesus; dia menyelinap pergi tanpa komentar lebih lanjut, sementara orang banyak meneriakinya dengan cemooh.

"Tenang! Tempat ini suci," kata Yesus. Dan Dia berkata kepada perempuan itu dan kepada mereka yang bersamanya, "Ayo kita pergi. Ikutlah bersama-Ku ke tempat di mana mereka menantikan-Ku." Dan Dia berangkat dengan agung dan berwibawa, diikuti oleh para murid-Nya.

Dorcas, yang sementara itu ditanyai oleh banyak orang, menceritakan kisahnya, dengan setiap kali mengulang, "Putraku adalah milik-Nya dan aku akan mempersembahkannya kepada-Nya."

Superintenden, sebaliknya, menghampiri Yesus dan berkata, "Guru, aku memberitahu Filipus tentang mukjizat ini. Dia mengutusku untuk memberitahu-Mu bahwa dia suka pada-Mu. Waspadalah terhadap jerat Herodes... dan orang-orang lain. Tetapi dia juga ingin mendengarkan-Mu, dan bertemu dengan-Mu. Maukah Kau datang ke rumah-Nya hari ini? Dia akan dengan senang hati menyambut-Mu, juga di Tetrarki."

"Aku bukan seorang aktor atau pun penyihir. Aku adalah Guru Kebenaran. Biarkan dia datang kepada Kebenaran dan Aku tidak akan menolaknya."

Mereka berada di Halaman Perempuan. "Itu Dia!" seru para murid perempuan memberitahu Maria yang cemas karena keterlambatan yang terjadi.

Mereka semua berkumpul bersama dan Yesus hendak membubarkan orang-orang dari Kaisarea supaya Dia bisa pergi dan mencari Maria, ibu Yudas, tetapi Dorcas berlutut dan berkata, "Aku sudah mencari-Mu sebelum perempuan ini, yang ingin Engkau temui, dan yang adalah ibu dari salah seorang murid-Mu. Aku mencari-Mu untuk mengatakan kepada-Mu, 'Anak ini milik-Mu. Dia adalah putraku satu-satunya dan aku mempersembahkannya kepada-Mu. Kau adalah Allah Yang Hidup. Terimalah dia sebagai abdi-Mu.'"

"Tahukah kau apa artinya itu? Itu berarti bahwa kau mempersembahkan putramu pada penderitaan, bahwa kau akan kehilangan dia sebagai seorang ibu dan kau akan mendapatkannya kembali sebagai seorang martir di Surga. Apakah kau rasa kau bisa menjadi martir melalui anakmu?"

"Ya, Tuhan-ku. Aku akan menjadi martir melalui kematiannya, dan aku akan menderita kemartiran seorang ibu yang malang. Demi Engkau aku akan menjadi martir yang lebih sempurna, berkenan kepada Tuhan."

"Terjadilah demikian!... Oh! Maria Simon, kapan kau datang?"

"Baru saja. Bersama kerabatku Ananias... aku juga mencari-Mu, Tuhan..."

"Aku tahu. Aku mengutus Yudas untuk memberitahumu untuk datang. Apakah dia tidak datang?"

Ibu Yudas menundukkan kepalanya dan berbisik, "Aku meninggalkan rumah segera sesudah dia dan aku pergi ke Getsemani. Tapi Engkau telah pergi dari sana!... Aku berlari ke Bait Allah... Dan sekarang aku menemukan-Mu... Tepat pada waktunya untuk mendengar gadis ini, yang sudah menjadi seorang ibu dan sangat bahagia!... Oh! Aku berharap aku bisa mengatakan kepada-Mu seperti yang dia lakukan, Tuhan, tentang Yudas yang baru lahir... begitu lembut... seperti salah seekor dari anak domba kecil ini..." dan sambil menangis dia menunjuk pada anak-anak domba yang mengembik yang akan dikurbankan. Dia menyelubungi diri dengan mantelnya untuk menyembunyikan air matanya.

"Ikutlah bersama-Ku, ibu. Kita akan berbicara di rumah Yohana. Di sini bukan tempat yang tepat."

Para murid perempuan menerima ibu Yudas ke tengah kelompok mereka, sementara kerabatnya Ananias berbaur dengan para murid. Dorcas dan ibu mertuanya juga pergi bersama para murid perempuan, dan Maria Alfeus dan Salome terpesona sementara menimang anak itu.

Mereka menuju pintu keluar. Namun sebelum mereka tiba di sana, seorang budak Romawi datang membawa perkamen lilin untuk Yohana, yang membacanya dan menjawab, "Katakan bahwa tidak apa-apa. Sore ini di rumahku."

Kemudian seruan sukacita Jaia dan ibunya ketika mereka melihat Juruselamat, "Ini Dia, ini Dia Pemberi terang! Semoga Kau diberkati, Terang Allah!" dan mereka prostratio, wajah mereka berseri-seri penuh kebahagiaan. Orang banyak berkumpul, bertanya-tanya, mengerti, memuji.

Lalu ada Matias tua, yang memberi Yesus dan murid-murid-Nya tumpangan di malam berbadai dekat Yabesy-Gilead, dan dia memuliakan dan memberkati Guru.

Dan ada kakek Marjiam dan para petani lainnya, kepada siapa Yesus berkata sesudah berbicara kepada Yohana, "Ikutlah bersama-Ku," seperti yang Dia katakan kepada Dorcas, Jaia dan Matias.

Namun, dekat Gerbang Emas mereka bertemu dengan Markus Yosia, murid tidak beriman, yang sedang berbicara penuh semangat kepada Yudas Iskariot. Yudas melihat Guru datang dan dia memberitahu temannya itu, yang berbalik ketika Yesus sudah berada di belakangnya. Mata mereka bertemu. Betapa tatapan mata Yesus kepadanya! Tapi dia sekarang tuli terhadap semua kuasa suci. Supaya bisa segera melarikan diri, dia nyaris mendorong Yesus ke tiang. Dan Yesus bereaksi hanya dengan berkata, "Markus, berhenti. Kasihanilah jiwamu dan kasihanilah ibumu!"

"Setan!" teriak yang lain. Dan dia pergi.

"Betapa mengerikan!" teriak para murid. "Kutuklah dia, Tuhan!" dan Iskariot adalah yang pertama mengatakannya.

"Tidak. Aku bukan lagi Yesus, jika Aku melakukannya... Ayo kita pergi."

"Tapi bagaimana dia menjadi seperti itu? Dia begitu baik!" kata Ishak, yang sangat sedih oleh perubahan Markus, hingga dia tampak seperti ditembusi anak panah.

"Itu misteri. Tidak bisa dijelaskan!" kata banyak dari antara mereka.

Dan Yudas Keriot berkata, "Aku membuatnya berbicara. Semua yang dikatakannya adalah bidah, tetapi dia mengatakannya sedemikian rupa hingga dia nyaris meyakinkanmu. Dia tidak sangat bijaksana seperti ketika dia dulu seorang benar."

"Kau harusnya mengatakan bahwa dia tidak sangat bodoh ketika dia dirasuki dekat Gamala!" kata Yakobus Zebedeus.

Dan Yohanes bertanya, "Kenapa Tuhan, dia tidak begitu mencelakai-Mu, padahal dia kerasukan? Tidak bisakah Engkau menyembuhkannya supaya dia tidak mencelakai-Mu?"

"Karena dia sekarang sudah menerima satu roh jahat yang cerdas dalam dirinya. Sebelumnya, dia adalah tempat tinggal satu legiun roh-roh jahat, yang sudah mendudukinya melalui kekerasan. Tapi dia tidak menyetujui kepemilikan itu. Sekarang kecerdasannya menginginkan Setan dan Setan sudah menempatkan suatu kekuatan iblis yang cerdas dalam dirinya. Dan Aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kepemilikan yang terakhir ini. Aku akan harus melakukan kekerasan terhadap kehendak bebas manusia."

"Apakah itu membuat-Mu sedih, Guru?!"

"Ya. Itu adalah penderitaan-Ku... Kekalahan-Ku... Dan itu mendukakan-Ku, karena jiwa-jiwa yang seperti itu hilang. Hanya karena itu. Bukan karena celaka yang mereka lakukan terhadap-Ku."

Mereka semua sekarang berdiri dalam satu kelompok, menunggu jalanan bebas dari kepadatan orang dan lalu-lalang. Dan ibu Yudas menatap putranya dengan begitu saksama hingga Yudas bertanya kepadanya, "Ya? Ada apa denganmu, ibu? Apakah ini pertama kalinya ibu melihat wajahku? Ibu benar-benar sakit dan aku harus membawamu berobat..."

"Aku tidak sakit, nak! Dan ini bukan pertama kalinya aku melihatmu!"

"Jadi?"

"Jadi… tidak apa-apa. Aku hanya berharap kau tidak pantas mendapatkan perkataan Guru yang seperti itu."

"Aku tidak meninggalkan-Nya dan aku tidak mendakwa-Nya. Aku adalah rasul-Nya!"

Mereka melanjutkan perjalanan hingga Yesus berhenti untuk menyalami Yohana dan para murid perempuan yang akan pergi ke rumah Yohana. Sebaliknya, semua laki-laki akan pergi ke Getsemani.

"Kita semua sebenarnya bisa pergi ke sana. Aku ingin mendengar apa yang dikatakan Eliza."

"Kau akan bertemu dengannya. Karena hanya baru hari ini dia akan diberitahu, dan oleh-Ku, bahwa Aku mempercayakan Anastasica kepadanya."

"Dan apakah akan ada perjamuan malam ini?"

"Ya, Aku sudah mengatakan kepada Yohana apa yang harus dilakukan."

"Apa yang harus dia lakukan? Kapan Kau memberitahunya?"

"Kau akan tahu. Aku memberitahunya sebelum dia meninggalkan kita, saat Aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Ayo kita cepat pergi supaya kita bisa berada di kebun Yohana pada waktunya."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama