366. KAMIS SEBELUM PASKAH. PERSIAPAN DI PAGI HARI.             


23 Januari 1946   

Fajar merekah. Orang-orang menjadi seperti burung yang mulai aktif terbang, bekerja dan bernyanyi di pagi hari. Rumah di Getsemani perlahan bangun, tetapi diinterupsi oleh Sang Guru, Yang pulang dari berdoa saat fajar, tetapi mungkin juga Dia keluar sepanjang malam untuk berdoa.

Perkemahan orang-orang Galilea di dekatnya, di dataran tinggi Gunung Zaitun, perlahan-lahan bangun, dan teriakan serta seruan bisa terdengar di udara yang jernih, dan meskipun mereka terpisah oleh jarak, mereka cukup jelas untuk membuat orang mengerti bahwa para peziarah saleh yang berkumpul di sana akan memulai kembali ibadat Paskah yang terinterupsi malam sebelumnya.

Kota terbangun, dan kebisingan yang memenuhinya selama hari-hari yang penuh sesak ini pun dimulai, dengan ringkikan keledai-keledai para tukang sayur, dan desakan para pedagang anak domba di gerbang-gerbang masuk, dan dengan embikan menyentuh hati dari ratusan anak-anak domba kecil, yang dibawa dalam gerobak, pelana beban, atau dipanggul menuju takdir tragis mereka, yang memanggil-manggil induknya dengan mengembik sedih, tanpa tahu bahwa mereka harus menangis karena hidup mereka akan berakhir terlalu dini. Dan kebisingan semakin meningkat dengan langkah-langkah kaki di jalan-jalan dan orang-orang yang saling memanggil satu sama lain dari satu teras ke teras lain, atau dari teras ke jalan dan sebaliknya. Dan keributan itu, yang disamarkan oleh jarak, mencapai lembah Getsemani yang tenang, bagi deru ombak laut.

Berkas-berkas cahaya matahari pagi menyorot salah satu dari kubah-kubah berharga Bait Suci dan membuatnya bersinar seolah-olah itu adalah matahari yang turun ke bumi, matahari kecil yang bertumpu pada alas seputih salju, begitu indah meski begitu kecil. Para murid laki-laki dan perempuan menatap Titik keemasan itu dengan penuh kagum. Itulah Rumah Tuhan! Itulah Bait Allah! Untuk memahami apa arti tempat itu bagi orang Israel, orang cukup melihat bagaimana mereka memandanginya. Mereka seakan-akan melihat Wajah Mahakudus Allah yang bercahaya dalam kilauan emas yang disinari matahari. Adorasi dan cinta untuk negeri mereka, kebanggaan suci menjadi orang Ibrani lebih jelas terungkap melalui tatapan mereka daripada yang mungkin bisa diungkapkan oleh kata-kata mereka.

Porphirea, yang tidak pergi ke Yerusalem selama bertahun-tahun, tersentuh hatinya hingga menangis dan tanpa sadar meremas lengan suaminya yang menunjukkan, aku tidak tahu apa, kepadanya, dan dia bersandar sedikit padanya dan seperti seorang pengantin, yang jatuh cinta kepada pengantin laki-lakinya, dia mengaguminya dan senang diajar olehnya.

Sementara itu, para perempuan lain berbicara dengan suara yang sangat pelan, sepatah dua patah kata, saling bertanya apa yang harus dilakukan siang hari itu, dan Anastasica, yang merasa seperti seorang asing yang tersesat, sedikit menjauh, asyik dengan pikirannya sendiri.

Maria, Yang sedang berbicara dengan Marjiam, melihat Anastasica dan mendekatinya serta memeluk pinggangnya dengan lengan-Nya. "Apa kau merasa agak kesepian, putri-Ku terkasih? Kau akan merasa lebih baik hari ini. Lihat? PutraKu menyuruh para rasul untuk pergi ke rumah-rumah para murid perempuan untuk memberitahu mereka bahwa mereka diminta berkumpul dan menantikan-Nya di rumah Yohana pada sore hari. Dia mau berbicara kepada kita para perempuan dan sebelum melakukannya Dia pasti akan memberimu seorang ibu. Perempuan itu sangat baik. Aku telah mengenalnya sejak Aku berada di Bait Allah. Bahkan kala itu dia bertindak sebagai ibu kepada para perawan yang lebih muda. Dan dia akan mengerti hatimu karena dia sangat banyak menderita juga. PutraKu menyembuhkannya tahun lalu dari melankolis yang mematikan, yang dialaminya sesudah kematian kedua putranya. Aku mengatakan ini kepadamu supaya kau tahu siapa yang akan mengasihimu mulai dari sekarang dan siapa yang akan kau kasihi. Tetapi seperti tahun lalu aku katakan kepada Simon Petrus, yang menerima Marjiam sebagai putranya, sekarang aku katakan kepadamu, 'Jangan biarkan kasih sayang ini melemahkan hatimu dalam kehendak hatimu untuk melayani Yesus.' Jika itu terjadi, maka anugerah Allah akan lebih berbahaya daripada kusta, karena itu akan memadamkan niat baik dalam dirimu yang suatu hari akan memberimu Kerajaan."

"Jangan khawatir, Bunda. Sepanjang menyangkut aku, aku akan mengubah kasih sayang ini menjadi nyala api untuk semakin mengobarkan diriku dalam melayani Juruselamat. Aku tidak akan bertambah berat dalam kasih sayang itu, pun aku juga tidak akan membuat Eliza tumpul, sebaliknya kami akan saling mendukung satu sama lain dan dalam kompetisi suci, dengan pertolongan Tuhan, kami akan terbang di sepanjang jalan-Nya."

Sementara mereka berbicara, beberapa murid lama dan baru tiba dari perkemahan orang-orang Galilea, dari kota, dari rumah-rumah yang tersebar di sepanjang lereng-lereng gunung, dari dusun atau pinggiran kota, dari mana saja, dari luar kota, di salah satu dari dua jalan yang dari Yerusalem menuju Betania, dan tepatnya di jalan yang lebih panjang, yang jarang dilalui Yesus. Yang terakhir tiba adalah Filipus bersama keluarganya, Tomas sendirian saja, dan Bartolomeus bersama istrinya.

"Di manakah anak-anak Alfeus, Simon dan Matius?" tanya Tomas sebab dia tidak melihat mereka.

"Mereka sudah pergi lebih dahulu. Dua yang terakhir ke Betania, untuk memberitahu saudari-saudari di sana untuk berada di rumah Yohana pada sore hari. Dua yang pertama pergi ke tempat Yohana dan Annalea, untuk memberitahu Yohana bahwa Aku akan berada di rumahnya sore ini. Kita akan bertemu pada pukul tiga di Gerbang Emas. Sementara itu, ayo kita pergi dan memberi sedekah kepada para pengemis dan penderita kusta. Biarlah Bartolomeus dan Andreas pergi mendahului dan membeli bahan makanan untuk mereka. Kita akan mengikuti mereka perlahan dan akan berhenti di pinggiran kota Ofel, dekat Gerbang, dan lalu kita akan pergi ke penderita kusta yang malang."

"Kita semua?" tanya sebagian, yang tidak terlalu antusias.

"Semua murid dan semua murid perempuan. Paskah sudah menyatukan kita semua, hal yang tidak pernah mungkin sebelumnya. Mari kita lakukan bersama-sama apa yang akan menjadi kewajiban mendatang laki-laki dan perempuan yang berkarya dalam Nama-Ku. Ini Yudas anak Simon datang dengan tergesa-gesa. Aku senang karena ingin dia bersama kita juga."

Sesungguhnya Yudas datang dengan terengah-engah. "Apakah aku terlambat, Guru? Ini salah ibuku. Tidak seperti kebiasaannya dan tidak seperti apa yang sudah aku katakan kepadanya, dia datang. Aku mendapatinya kemarin malam di rumah seorang teman kami. Dan pagi ini dia membuatku terus berbicara... Dia ingin ikut denganku. Tapi aku tidak memperbolehkan dia ikut."

"Kenapa tidak? Apakah Maria Simon mungkin tidak pantas berada di tempatmu? Dia jauh lebih pantas darimu. Jadi, larilah dan jemput dia dan bergabunglah dengan kami di Bait Allah, di Gerbang Emas."

Yudas pergi tanpa membantah. Yesus berangkat; Dia di depan bersama para rasul dan para murid-Nya. Para perempuan, dengan Maria di tengah, berada di belakang para lelaki.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama