365. SURAT DARI ANTIOKHIA            


22 Januari 1946   

Yesus telah meninggalkan Betania bersama dengan orang-orang yang bersama-Nya, yaitu Simon Zelot dan Marjiam. Namun bersama mereka bergabung juga Anastasica, yang sepenuhnya berbalut kerudung dan berjalan di samping Marjiam, sementara Yesus sedikit di belakang mereka bersama Simon. Kedua pasangan itu bercakap-cakap sementara berjalan. Masing-masing membicarakan apa yang ada dalam hati mereka.

Anastasica berkata kepada Marjiam, melanjutkan topik yang sama dari percakapan mereka, "Aku sangat ingin bertemu dengan-Nya." Dia mungkin berbicara tentang Eliza dari Bet-Zur. "Percayalah, aku tidak sebegitu tersentuh ketika aku menikah atau ketika aku dinyatakan kusta. Bagaimana aku harus menyapa-Nya?"

Dan Marjiam dengan senyum ramah, yang sekaligus serius, menjawab, "Oh! dengan nama-Nya yang sebenarnya! Bunda!"

"Tapi aku belum mengenal-Nya! Apakah itu tidak terlalu sok akrab? Lagipula, siapalah aku, dibandingkan dengan-Nya?"

"Siapalah aku tahun lalu. Tidak, kau jauh lebih baik dariku! Aku adalah anak kecil yatim piatu yang miskin, dekil, ketakutan, dan kasar. Meski begitu, sejak dari saat pertama Dia selalu memanggilku 'Nak' dan Dia telah menjadi Bunda sejati bagiku. Tahun lalu aku gemetar karena kegembiraan menanti untuk bertemu dengan-Nya. Tetapi ketika aku bertemu dengan-Nya, aku tidak lagi gemetar. Aku tidak lagi menderita teror yang mengalir dalam darahku sejak aku melihat, dengan mata seorang anak: pertama, murka alam yang sama sekali menghancurkan rumah dan keluargaku dan lalu ... dan lalu, masih dengan mata seorang anak, aku harus melihat bagaimana manusia bisa lebih kejam daripada serigala dan vampir... Dan aku gemetar... Aku menangis... sepanjang waktu... dan di sini aku merasakan sensasi menyakitkan dari ketakutan, kesedihan, kebencian, segalanya... Dalam beberapa bulan aku mengenal semua kejahatan, kesedihan dan kekejaman yang ada di dunia... Dan aku tidak percaya bahwa masih ada kebaikan, kasih, perlindungan..."

"Bagaimana? Ketika Guru membawamu?!... Dan ketika kau berada di antara murid-murid-Nya, siapa yang begitu baik?!"

"Aku masih gemetar, saudariku... dan aku masih membenci. Oh! Butuh waktu lama bagiku untuk bisa yakin bahwa aku tidak perlu takut... Dan butuh waktu yang bahkan lebih lama untuk bisa tidak membenci mereka yang sudah membuat jiwaku menderita dengan mengenalkannya pada bisa menjadi apakah manusia: iblis yang berpakaian sebagai binatang buas. Orang menderita dengan konsekuensi yang bertahan lama, terutama apabila dia masih kecil... Suatu tanda membekas, karena hati seorang anak masih lembut dan hangat dengan ciuman ibunya dan ia haus akan lebih banyak ciuman daripada roti. Dan bukannya ciuman, dia malah menerima pukulan..."

"Anak yang malang!"

"Ya. Malang. Sungguh malang! Aku tidak lagi memiliki harapan apa pun kepada Allah atau rasa hormat kepada manusia... Aku takut pada manusia. Bahkan ketika aku dekat dengan Yesus atau dalam pelukan Petrus, aku takut... Aku dulu biasa berkata, 'Mungkinkah ini? Oh! Ini tidak akan bertahan lama. Mereka akan bosan juga menjadi baik...' Dan aku sangat rindu ada bersama Maria. Seorang ibu adalah selalu seorang ibu, ya kan? Dan sesungguhnya, ketika aku melihat-Nya, ketika aku ada dalam pelukan-Nya, aku tidak lagi takut. Aku mengerti bahwa masa laluku sudah berlalu dan bahwa dari neraka aku sudah datang ke firdaus... Ketika aku melihat bahwa mereka melupakanku dan meninggalkanku, aku sedih untuk terakhir kalinya... Aku selalu berprasangka buruk. Dan aku menangis. Oh! Betapa dengan penuh kasih Dia memelukku kala itu. Aku tidak pernah lagi meratapi kematian ibuku sejak saat itu dan aku tidak gemetar lagi... Maria adalah kebaikan dan damai bagi orang-orang yang tidak bahagia..."

"Dan aku juga butuh kebaikan dan damai..." kata perempuan itu seraya mendesah.

"Dan kau akan segera beroleh damai. Lihat tumbuh-tumbuhan hijau di bawah sana? Di sanalah damai tersembunyi, dalam rumah di Getsemani."

"Dan apakah Eliza juga akan ada di sana? Apa yang harus aku katakan kepada mereka. Apa yang akan mereka katakan kepadaku?"

"Aku tidak tahu apakah Eliza ada di sana. Dia sakit."

"Oh! Dia tidak akan mati, kan?! Jika dia mati, siapa yang akan menerimaku sebagai anaknya?"

"Jangan takut. Dia mengatakan, 'Kau akan memiliki ibu dan rumah.' Dan itulah yang akan terjadi. Ayo kita berjalan sedikit lebih cepat. Aku tidak bisa menahan diri saat aku berada dekat Maria."

Mereka mempercepat langkah mereka dan aku tidak bisa lagi mendengar mereka berbicara.

Zelot memperhatikan bahwa mereka hampir berlari sepanjang jalan yang ramai dan dia berkata kepada Yesus, "Mereka terlihat seperti kakak beradik. Lihat betapa akrabnya mereka."

"Marjiam adalah teman yang baik bagi siapa pun. Itu adalah keutamaan yang sulit dan sangat diperlukan untuk misinya mendatang. Aku peduli untuk meningkatkan disposisi positif macam itu dalam dirinya, karena itu akan sangat berguna baginya."

"Kau melatihnya sesuai selera-Mu sendiri. Benarkah itu, Guru?"

"Ya. Usianya memungkinkan-Ku untuk melakukannya."

"Dan meski begitu, Kau juga bisa membentuk Yohanes Felix tua..."

"Ya. Karena dia membiarkan-Ku menghancurkannya dan menciptakannya kembali sama sekali baru."

"Itu benar. Aku memperhatikan bahwa para pendosa terbesar, begitu mereka berbalik, dalam kebenaran mereka melampaui kita, yang relatif bersalah. Mengapa?"

"Karena pertobatan mereka sebanding dengan dosa mereka. Sangat mendalam. Sebagai konsekuensinya, pertobatan itu meremukkan mereka di bawah kilangan kesedihan dan kerendahan hati. 'Dosaku selalu ada dalam benakku,' kata pemazmur. Itu membuat roh mereka tetap rendah hati. Itu adalah kenangan yang baik ketika dipersatukan dengan harapan dan kepercayaan pada Kerahiman. Setengah sempurna, dan bahkan kurang dari setengah, sering kali berakhir dengan berhenti di tempat, karena mereka tidak dipacu oleh penyesalan sebab sudah melakukan dosa berat dan oleh perlunya melakukan silih supaya bisa maju menuju kesempurnaan sejati. Mereka stagnan seperti genangan air dan mereka puas karena mereka jernih. Tetapi bahkan air yang paling jernih pun akan menjadi berlendir dan kotor, terkecuali pergerakan memurnikannya dari partikel-partikel debu dan serpih-serpih yang ditiup angin masuk ke dalamnya."

"Dan apakah ketidaksempurnaan, yang kita biarkan ada dan bercokol dalam diri kita, adalah debu dan serpih-serpih?"

"Ya, Simon. Kau juga masih terlalu stagnan. Gerakanmu menuju kesempurnaan nyaris tidak terlihat. Tidak tahukah kau bahwa waktu berlalu cepat? Tidakkah kau berpikir bahwa dalam waktu yang tersisa, kau harus berjuang untuk menjadi sempurna? Jika kau tidak memiliki kekuatan kesempurnaan, yang harus dicapai melalui tekad yang kuat dalam waktu yang masih tersisa, bagaimana kau akan bisa melawan badai yang ditimbulkan Setan dan para pengikutnya melawan Guru dan Ajaran-Nya? Harinya akan datang ketika kamu akan benar-benar bingung dan kamu akan bertanya pada diri sendiri: 'Kenapa kita benar-benar kewalahan, sebab kita bersama-Nya selama tiga tahun?' Jawabannya ada dalam dirimu, dalam perilakumu! Dia yang lebih berupaya untuk menjadi sempurna dalam waktu yang masih tersisa, akan lebih mampu untuk tetap setia."

"Tiga tahun... Jadi... Oh! Tuhan-ku!... Jadi, apakah kami akan kehilangan Engkau musim semi mendatang?"

"Pohon-pohon ini memiliki buah-buahnya yang kecil dan Aku akan mencicipinya ketika buah-buah itu masak. Tetapi sesudah buah tahun ini, Aku tidak akan menicipi buah dari panen yang baru... Jangan berduka, Simon. Duka itu mandul. Kuatkan dirimu dalam kebenaran supaya bisa setia pada saat yang mengerikan."

"Ya, Tuhan. Dengan segenap kekuatanku. Bolehkah aku memberitahu yang lain-lainnya juga? Supaya mereka bisa siap juga?"

"Ya, boleh. Tapi hanya mereka yang punya kemauan kuat yang akan melakukannya."

"Dan bagaimana dengan yang lain-lainnya? Apakah mereka akan binasa?"

"Tidak. Tapi mereka akan diuji dengan keras oleh sikap mereka. Mereka akan menjadi seperti orang yang berpikir bahwa dia kuat dan kemudian mendapati dirinya dirobohkan dan dikalahkan. Mereka akan tercengang dan terhina. Rendah hati, pada akhirnya! Karena, percayalah, Simon, jika tidak ada kerendahan hati, tidak mungkin untuk maju. Kesombongan adalah batu tempat tumpuan Setan berdiri. Mengapa menyimpannya dalam hatimu? Apakah makhluk mengerikan itu seorang guru yang menyenangkan?"

"Tidak, Tuhan, tidak."

"Dan meski begitu kamu tetap menyimpan dalam hatimu poin yang mendukung, kursi untuk pelajaran-pelajarannya. Kamu penuh dengan kesombongan. Kamu memilikinya untuk segala sesuatu dan untuk segala alasan. Kamu bahkan bangga menjadi 'murid-Ku.' Tapi, betapa bodohnya kamu, apakah perbandingan antara siapa dirimu dengan Dia Yang memilihmu, tidak menyembuhkanmu? Bukan karena Aku memanggilmu, maka kamu akan menjadi orang-orang kudus. Itu akan tergantung pada menjadi apa kamu sesudah panggilan-Ku. Kekudusan adalah sebuah bangunan yang dibangun tiap-tiap orang oleh dirinya sendiri. Kebijaksanaan dapat mengajarimu metode dan rencananya. Tetapi tergantung padamu untuk melakukan pekerjaan utamanya."

"Itu benar. Jadi, kami tidak akan binasa. Sesudah pencobaan, apakah kami akan lebih kudus karena kami rendah hati?…"

"Ya." Singkat dan tegas 'ya.'

"Begitukah Kau mengatakannya, Guru?"

"Ya, begitulah Aku mengatakannya."

"Kau ingin kami menjadi kudus sebelum pencobaan..."

"Ya, Aku menghendakinya, sehubungan dengan semua orang."

"Semua orang? Tidakkah kami semua akan setara dalam pencobaan?"

"Sebelum pencobaan, atau selama pencobaan, atau sesudah pencobaan, kamu tidak akan setara. Namun demikian Aku memberikan kepada semua orang sabda yang sama..."

"Dan kasih yang sama, Guru. Kami sangat bersalah kepada-Mu…"

Yesus menghela napas...

Zelot, sesudah keheningan yang cukup panjang, hendak berbicara. Namun para rasul dan para murid yang sudah bertemu Marjiam di lereng bawah Getsemani, bergegas ke arah mereka, dan Simon diam sementara Yesus menjawab salam semua orang dan lalu pergi ke hutan kecil zaitun dan rumah, dengan berjalan di samping Petrus.

Petrus memberitahu-Nya bahwa mereka sudah berjaga-jaga sejak fajar, bahwa Eliza masih sakit di rumah Yohana, bahwa beberapa orang Farisi sudah datang sore sebelumnya, bahwa... bahwa… segudang berita yang agak memusingkan, dan akhirnya, pertanyaan, "Dan bagaimana dengan Lazarus?" yang dijawab Yesus secara rinci. Petrus, yang sangat ingin tahu, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Dan... tidak ada apa-apa, Tuhan? Tidak ada… berita?"

"Ya. Kau akan diberitahu pada waktu yang tepat. Di mana Marjiam dan perempuan itu? Sudah di rumah?"

"Oh! tidak. Perempuan itu tidak berani untuk terus. Dia duduk di pinggir jalan menantikan-Mu. Marjiam... Marjiam... menghilang. Apa dia lari ke rumah?"

"Ayo kita percepat langkah kita."

Namun tidak peduli seberapa cepat mereka bergegas, saat mereka tiba di rumah, Maria bersama saudara iparnya, Salome, Porphirea, istri Bartolomeus, dan istri Filipus, sudah keluar untuk memuliakan-Nya.

Yesus menyalami mereka dari jauh dan mengarahkan langkah-Nya ke tempat di mana Anastasica duduk dengan rendah hati, Dia meraih tangannya dan membimbingnya kepada BundaNya dan para perempuan. "Ini bunga Paskah tahun ini, Bunda. Hanya satu tahun ini. Kiranya berkenan bagi-Mu karena Aku yang membawanya."

Perempuan itu sudah berlutut. Maria membungkuk dan membangkitkannya seraya berkata, "Anak perempuan ada di hati bukan di kaki ibundanya. Ayo, putri-Ku. Biarlah kita saling mengenal wajah kita, karena jiwa kita sudah saling mengenal satu sama lain. Ini sebagian dari saudari kita. Sebagian lagi akan datang. Biarlah kita menjadi keluarga yang baik hati yang penuh kasih kepada semua anggotanya dan penuh kekudusan demi kemuliaan Allah."

Para murid perempuan saling mencium satu sama lain dengan penuh kasih dan saling bertukar sapa. Mereka memasuki rumah dan naik ke teras yang dikelilingi oleh bunga-bunga putih dari ratusan pohon zaitun. Kelompok berpisah: Yesus bersama para lelaki, para perempuan bersama pendatang baru. Susana yang sudah pergi ke kota, kembali bersama suaminya. Yohana datang bersama anak-anak. Annalea muncul dengan wajah malaikatnya; dan Yairus, yang tadinya bersama para murid ketika mereka berlari menuju Yesus, kembali bersama putrinya, yang menggabungkan diri dengan kelompok perempuan, dekat Maria, Yang membelainya.

Ada damai dan kasih dalam pertemuan itu. Kemudian matahari terbenam dan sebelum membubarkan mereka yang harus kembali ke rumah mereka sendiri atau ke rumah tumpangan di mana mereka menjadi tamu, Yesus mengumpulkan mereka semua untuk berdoa dan memberkati mereka. Dia kemudian membubarkan mereka dan tinggal bersama mereka yang lebih suka berkumpul di rumah di Getsemani atau melewatkan malam di bawah pepohonan zaitun, daripada pergi. Jadi para perempuan - yang tinggal adalah: Maria, Maria Alfeus, Salome, Anastasica, Porphirea; para lelaki adalah: Yesus, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yudas Alfeus, Yakobus dan Yohanes Zebedeus, Simon Zelot, Matius dan Marjiam.

Makan malam segera berakhir. Kemudian Yesus mengajak BundaNya dan Maria Alfeus untuk pergi bersama-Nya dan para murid ke dalam hutan kecil zaitun yang sunyi.

Mungkin para perempuan lain juga ingin pergi. Namun Yesus tidak mengajak mereka, sebaliknya Dia berkata kepada Salome dan Porphirea, "Hiburlah saudari baru kita dengan berbicara tentang hal-hal kudus dan kemudian pergilah tidur tanpa menunggu kami. Damai sertamu." Jadi ketiga perempuan itu pasrah pada nasib mereka.

Petrus agak sebal hati dan dia menjadi diam; semua yang lain, sebaliknya, bercakap-cakap sementara pergi berkelompok menuju batu karang Yesus, tempat sengsara mendatang. Mereka duduk di pinggirannya, dengan menghadap Yerusalem, yang perlahan mulai tenang, sesudah kekacauan hari itu.

"Nyalakan beberapa ranting, Petrus."

"Kenapa?"

"Karena Aku ingin membacakan untukmu apa yang sudah ditulis oleh Yohanes dan Sintikhe. Sebab kau tidak puas, sebaiknya kau tahu bahwa itulah alasan mengapa Aku tidak membawa serta ketiga perempuan itu."

"Tapi istriku di sana malam itu!..."

"Tetapi akan tidak sopan untuk mengecualikan hanya Salome dari murid-murid perempuan lama... Bagaimanapun ini akan memberimu kesempatan untuk melampiaskan hasrat bicaramu, sebab kau akan bisa memberitahu istrimu yang bijaksana apa yang sekarang akan kau dengar."

Petrus, yang bersukacita atas pujian untuk istrinya dan atas izin untuk memberitahukan kepadanya rahasia itu, tidak lagi muram dan dia menyibukkan diri dengan menyalakan api yang terang darimana lidah-lidah api menyala lurus, dan tidak menari-nari, di udara yang tenang.

Yesus mengeluarkan dari pinggang-Nya kedua surat itu, Dia membukanya dan membacakannya di tengah-tengah lingkaran sebelas wajah yang penuh perhatian.

 "'Kepada Yesus dari Nazaret, hormat dan berkat. Kepada Maria dari Nazaret, berkat dan damai. Kepada saudara-saudaraku yang kudus, damai dan sehat walafiat. Kepada Marjiam tercinta, damai dan peluk sayang.

Airmata dan senyum ada di hatiku dan di wajahku sementara aku duduk menulis surat ini kepadamu semua. Kenangan, nostalgia, harapan, dan damai atas tugas yang sudah aku tunaikan, ada bersamaku. Semua masa lalu, yang berharga bagiku, yaitu, masa lalu, yang dimulai duabelas bulan yang lalu, ada di hadapanku dan mazmur syukur kepada Allah melambung dari hatiku, sebab Dia terlalu berbelas-kasihan kepadaku, seorang pelaku kejahatan. Semoga Kau diberkati dan bersama-Mu Bunda Tersuci Yang melahirkan-Mu ke dunia ini, dan bunda yang lain yang aku kenang sebagai penjelmaan belas kasihan. Dan bersama-Mu semoga Petrus, Yohanes, Simon, Yakobus dan Yudas, dan Yakobus lainnya, dan Andreas dan Matius diberkati. Dan terakhir semoga Marjiam-ku tersayang diberkati, dan aku sudah membawanya ke dalam hatiku untuk memberkatinya. Semoga kamu semua diberkati atas apa yang sudah kamu berikan kepadaku, dari saat aku bertemu denganmu hingga saat aku meninggalkanmu! Oh! bukan atas keinginanku sendiri! Semoga Allah mengampuni mereka yang merenggutku jauh darimu! Semoga Allah mengampuni mereka. Dan semoga Dia menambahkan kekuatan dalam diriku untuk mengampuninya. Untuk sementara ini, melalui pertolongan-Nya dan bersama-Nya aku bisa melakukannya. Tetapi sendirian, tidak, aku belum akan bisa melakukannya, karena terlalu menyakitkan luka yang mereka perbuat terhadapku dengan merenggutku dari Hidup sejati, dari-Mu, Yesus Yang Mahakudus. Masih terlalu menyakitkan, kendati penghiburan-Mu adalah hujan sejuk yang terus-menerus bagiku…'"

Yesus melihat sekilas beberapa baris tanpa membacanya. Dan Dia melanjutkan, "'Hidupku...'" tetapi Petrus, yang memungkinkan Guru melihat dengan jelas dengan memegang ranting yang bernyala-nyala dan mengangkatnya tinggi-tinggi, dengan berdiri di dekat-Nya dan menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang tertulis, berkata, "Bukan, bukan itu! Mengapa Kau tidak membacanya, Guru? Kau sudah melewatkan sesuatu! Aku ini keledai bodoh, tetapi tidak sampai aku tidak bisa membaca dengan perlahan. Aku bisa membaca, 'Janji-janji-Mu telah melampaui harapanku…'"

"Kau ini sangat menjengkelkan! Kau ini lebih payah dari seorang anak!" kata Yesus tersenyum.

"Tentu saja! Aku ini hampir tua! Jadi aku lebih licik daripada seorang anak."

"Kau juga harus bertindak dengan lebih berhati-hati."

"Berhati-hati itu baik untuk menghadapi musuh. Di sini kita bersama teman-teman. Yohanes mengatakan sesuatu yang indah tentang-Mu. Dan aku ingin tahu. Supaya aku tahu jalan mana yang harus aku tempuh seandainya Kau mengirimku ke tempat lain, seperti paket barang. Tolonglah, baca semuanya! Bunda, tolong beritahu Dia bahwa tidak adil untuk membacakan berita-berita yang sudah disortir, seolah-olah itu adalah ikan-ikan kecil. Berikan kepada kami semuanya: rumput laut, lumpur, ikan-ikan kecil, dan ikan-ikan yang bagus menawan, semuanya! Tidakkah kamu semua mendukungku! Kamu kelihatan seperti orang-orangan di depanku. Dan kamu membuatku marah! Dan kamu sekarang tertawa!"

Hampir tidak mungkin untuk tidak tertawa melihat kegairahan Petrus yang meluap-luap bagai anak kuda jantan yang tak sabar, dengan menggoyang-goyangkan rantingnya yang bernyala-nyala, dan tanpa menghiraukan percikan-percikan api yang jatuh ke atasnya.

Yesus harus menyerah, untuk menenangkannya dan melanjutkan membaca.

 "'Janji-janji-Mu telah melampaui harapanku pada janji-Mu. Oh! Guru Yang Kudus! Ketika di pagi musim dingin yang menyedihkan itu Kau berjanji kepadaku bahwa Kau akan datang untuk menghibur murid-Mu yang tertekan, aku tidak mengerti nilai sebenarnya dari janji-Mu. Kesedihan dan keterbatasan manusia menindas kekuatan rohku, yang terlalu tumpul untuk bisa memahami betapa luasnya janji-Mu.

Semoga Engkau diberkati, oh Tamu rohani di malam-malamku, yang dengan demikian bukanlah malam kesedihan dan duka seperti yang aku bayangkan sebelumnya, melainkan harapan akan Engkau, atau pertemuan sukacita dengan-Mu. Malam, kengerian bagi orang-orang sakit, orang-orang buangan, orang-orang kesepian, para pelaku kejahatan, sudah menjadi bagiku, Felix, benar-benar kegembiraan untuk melakukan kehendak-Mu dan melayani-Mu, penantian para gadis bijaksana akan kedatangan sang mempelai laki-laki. Jiwaku yang malang memiliki bahkan lebih banyak lagi. Ia memiliki berkat menjadi pengantin perempuan yang menantikan Cintanya, yang datang ke kamar pengantin untuk memberinya selalu sukacita dari pertemuan pertama mereka dan ekstasi yang meneguhkan dari persatuan mereka.

Oh! Guru dan Tuhan-ku, sementara aku memberkati-Mu karena memberiku begitu banyak, aku mohon pada-Mu untuk mengingat dua janji lain yang Kau berikan padaku. Yang terpenting, bagiku manusia yang sangat lemah, adalah untuk tidak membiarkanku hidup pada saat sengsara-Mu. Kau tahu kelemahanku! Jangan biarkan dia, yang demi-Mu mengosongkan dirinya dari kebencian, jangan biarkan dia mengenakan kembali seragam kebencian yang berduri dan membara, melalui kebenciannya kepada para algojo-Mu. Janji lainnya untuk murid-Mu yang malang, yang juga terlalu lemah dan tidak sempurna: berada dekatku, seperti Kau katakan, pada saat ajalku. Sekarang aku tahu bahwa tidak ada jarak bagi-Mu, dan bahwa lautan, gunung, sungai, dan kehendak manusia tidak bisa menghalangi-Mu untuk memberikan kenyamanan akan kehadiran-Mu yang nyata kepada orang-orang yang Kau kasihi, aku tidak lagi ragu bahwa aku dapat memiliki-Mu saat aku menghembuskan napas terakhirku. Datanglah, Tuhan Yesus! Datanglah segera untuk membawaku pada damai.

Sekarang sesudah aku berbicara kepada-Mu tentang jiwaku, aku akan memberitahu-Mu tentang pekerjaanku.

Aku punya banyak murid, dari berbagai ras dan negara. Supaya tidak menyakiti seorang pun dari mereka, aku membagi mereka; dan satu hari aku mengajar orang-orang yang tidak mengenal Allah dan hari berikutnya orang-orang percaya, dengan keuntungan yang baik, mengingat kurangnya guru di sini. Aku memberikan uang penghasilanku kepada orang-orang miskin, yang dengan demikian aku tarik kepada Tuhan. Aku kembali menggunakan nama lamaku, bukan karena aku suka, tetapi karena kehati-hatian. Ketika aku di dunia, aku adalah 'Felix'. Sepanjang jam-jam di mana aku milik Yesus, aku adalah 'Yohanes': kasih karunia Allah. Aku menjelaskan kepada Filipus bahwa nama asliku adalah Felix dan bahwa aku dipanggil Yohanes hanya demi membedakanku dari saudara-saudaraku. Dan dia tidak heran mengingat kebiasaan umum dalam mengganti nama atau memanggil orang dengan nama panggilan. Aku berharap bisa melakukan banyak pekerjaan baik di sini, dengan begitu mempersiapkan jalan bagi saudara-saudaraku yang kudus. Jika aku lebih kuat, aku ingin menjelajah negeri dan membuat Nama-Mu dikenal di sana. Mungkin aku akan bisa melakukannya di awal musim panas atau saat cuaca lebih sejuk di musim gugur. Jika kesehatanku prima, aku akan melakukannya. Udara bersih di Antigonea, kebun-kebun, yang begitu damai dan indah, bunga-bungaan, anak-anak, ayam-ayam kecil, cinta kasih para tukang kebun, dan di atas semua itu, kasih sayang Sintikhe yang mendalam, bijaksana, sebagai seorang anak perempuan, sangat bermanfaat bagiku. Aku akan katakan bahwa kesehatanku sudah membaik. Tetapi Sintikhe tidak sependapat, meskipun aku hanya menyimpulkannya melalui perawatan terus-menerus yang tekun yang dia lakukan untukku, untuk makananku, untuk istirahatku dan untuk memastikan bahwa aku tidak kedinginan... Tapi aku sungguh merasa lebih baik. Apakah mungkin ini bukan sekedar kesadaran akan kewajiban orang yang ditunaikan dengan gagah berani? Itulah yang dikatakan Sintikhe. Dan aku ingin tahu apakah dia benar. Karena kewajiban adalah masalah moral, sedangkan penyakit adalah masalah jasmani. Aku juga ingin tahu apakah Engkau akan benar-benar datang kepadaku atau apakah Engkau hanya akan muncul dalam indra rohaniku, tetapi dengan begitu sempurna hingga aku tidak bisa mengatakan di mana realitas material dari Kehadiran-Mu berakhir. Guru terberkati yang terkasih, Yohanes-Mu berlutut memohon berkat-Mu. Damai dan berkat bagi BundaMu, bagi Maria dan saudara-saudara yang kudus. Ciuman untuk Marjiam supaya dia ingat untuk mengirimkan kepadaku sabda suci-Mu, yang adalah roti bagi orang-orang buangan yang bekerja di kebun anggur Tuhan."

Itu surat Yohanes... Bagaimana menurutmu?"

Mereka semua saling bertukar kesan... Namun hal yang menonjol adalah tentang Kehadiran Yesus. Mereka mengusik-Nya dengan banyak pertanyaan... bagaimana bisa, apakah bisa, dan apakah Sintikhe melihatnya, dan seterusnya...

Yesus memberi isyarat kepada mereka untuk diam dan Dia membuka gulungan Sintikhe. Dia membaca:

"'Dari Sintikhe kepada Tuhan Yesus dengan segenap kasih yang mampu dia berikan. Hormat dan pujian kepada Bunda kita yang Terberkati. Terima kasih dan berkat untuk saudara-saudaraku dalam Tuhan. Pelukan dari saudara perempuannya yang nun jauh untuk Marjiam.

Yohanes sudah memberitahu-Mu tentang kehidupan kami, Guru. Dia memberitahu-Mu dengan sangat sintetis apa yang dia lakukan, dan apa yang aku lakukan dengan cara yang feminin. Sekolah kecilku penuh dengan gadis-gadis dan aku mendapatkan keuntungan rohani yang bagus, karena aku menghantar mereka kepada-Mu, Tuhanku, dengan berbicara tentang Allah yang benar sementara kami bekerja bersama. Di wilayah ini, di mana begitu banyak ras berbaur, ada keruwetan agama yang rumit. Begitu rumit hingga... agama bukan apa-apa selain dari agama yang tidak dapat dipraktikkan, potongan-potongan agama yang tidak ada gunanya lagi. Di tengah-tengahnya ada iman orang Israel yang kaku tak kenal kompromi, yang dengan bebannya memutuskan benang-benang usang dari agama-agama lain tanpa menghasilkan apa-apa. Karena Yohanes punya murid-murid, dia harus bertindak dengan bijak. Aku bisa maju lebih bebas dengan para gadisku. Perempuan selalu dianggap sebagai makhluk yang lebih rendah, sebegitu rupa hingga keluarga-keluarga yang berbeda agama tidak peduli jika gadis-gadis itu berbaur dalam satu sekolah. Sudah cukup jika mereka belajar seni menyulam yang bermanfaat. Dan diberkatilah konsep cemooh yang dimiliki dunia tentang kami para perempuan, karena itu memungkinkanku untuk semakin memperluas lapangan karyaku. Karya sulam kami laris manis dan cepat terjual, kemasyhuran kami tersiar, para perempuan bangsawan datang dari jauh. Dengan demikian aku memiliki kesempatan untuk berbicara kepada mereka semua tentang Allah... Oh! bagaimana bahkan benang, yang menjadi bunga, binatang, bintang di alat tenun dan di kain kami, berguna untuk mengarahkan jiwa-jiwa kepada Kebenaran, jika orang menghendakinya. Karena aku mengenal beberapa bahasa, aku bisa berbicara bahasa Yunani kepada orang-orang Yunani, bahasa Latin kepada orang-orang Romawi, bahasa Ibrani kepada orang-orang Ibrani. Dengan bantuan Yohanes, aku meningkatkan pengetahuanku tentang bahasa terakhir.

Minyak urapan Maria merupakan sarana lainnya untuk masuk lebih dalam. Aku sudah membuat banyak, dengan esensi yang kami miliki di sini, dan aku menambahkan satu partikel dari minyak urapan asli, untuk menyucikannya. Bisul dan borok, luka dan masalah dada hilang begitu saja. Akan tetapi, benar bahwa ketika aku menggosok dan membalut bagian-bagian yang sakit, aku terus-menerus menyebutkan dua Nama suci Yesus dan Maria. Bermain kata dengan nama Yunani Kristus, aku menyebut minyak urapan itu: "Mur yang Diurapi". Bukankah demikian? Bukankah esensi menyehatkan dari Mur Allah, Yang Putra Tunggal-Nya adalah Engkau, ada di dalamnya, o Minyak berharga, yang menjadikan kami raja? Aku kerap kali harus tidur hingga larut malam untuk menyiapkan lebih banyak minyak urapan baru dan aku akan meminta Bunda Tersuci kita untuk membuat lebih banyak dan mengirimkannya kepadaku pada hari raya Pondok Daun, supaya aku bisa mencampurkannya pada apa yang sudah dibuat oleh hamba Allah yang rendah ini. Tetapi jika aku salah dalam melakukan itu, beritahu aku, Tuhan dan aku akan berhenti melakukannya.

Yohanes terkasih banyak memujiku. Dan apa yang harus aku katakan tentang dia? Dia menahan rasa sakit yang pahit, tetapi kekuatannya mengagumkan. Jika aku tidak tahu rahasianya, aku akan heran. Tetapi sejak malam itu, ketika kembali dari orang sakit, aku mendapatinya dalam keadaan ekstasi dan transfigurasi, dan aku mendengar kata-katanya, dan aku prostratio sebab aku tahu bahwa Kau hadir bersama hamba-Mu itu, aku tidak lagi terkejut. Mungkin sebagian saudaraku akan heran mendengar bahwa aku tidak menyesal bahwa aku tidak melihat juga. Kenapa aku harus menyesal? Semua yang Engkau berikan adalah baik dan cukup. Dan masing-masing kita menerima apa yang pantas kita dapatkan dan apa yang kita butuhkan. Oleh karenanya adalah benar bahwa Yohanes bisa memiliki-Mu secara kasatmata, sedangkan aku hanya memiliki-Mu dalam jiwaku saja.

Apakah aku bahagia? Sebagai seorang perempuan, aku menyesal mengingat waktu yang aku lewatkan bersama-Mu dan Maria. Tapi sebagai jiwa, aku sangat bahagia, karena sekarang aku melayani-Mu, Tuhanku. Aku menganggap waktu bukanlah apa-apa. Aku menganggap bahwa ketaatan adalah uang untuk masuk ke Kerajaan-Mu. Aku menganggap bahwa melayani-Mu adalah anugerah yang bahkan melampaui apa yang bisa diimpikan oleh hamba malang itu di saat ekstasinya dan bahwa Kau telah memberiku anugerah untuk melayani-Mu. Aku beranggapan bahwa meski aku terpisah dari-Mu sekarang, pada akhirnya aku akan memiliki-Mu untuk selama-lamanya. Dan aku menyanyikan lagu Yohanes seperti yang dilakukan burung-burung woodlark di musim semi di ladang-ladang emas Hellas. Gadis-gadisku menyanyikannya karena kata mereka lagu itu indah. Aku membiarkan mereka bernyanyi diiringi irama peralatan tenun, yang sangat mirip dengan irama dayung di hari yang jauh itu, karena menurutku menyebutkan nama-Mu, Bunda, menghantar orang pada Rahmat.

Yohanes memintaku untuk menambahkan pada informasi yang dia kirimkan kepada-Mu, mengenai seorang warga yang sangat baik dari Antiokhia. Namanya Nikolaus. Dia adalah penaklukan pertamanya untuk kawanan domba-Mu. Kami sungguh berharap Nikolaus tidak akan mengecewakan reputasi tinggi yang kami berikan padanya di hati kami.

Berkatilah aku hamba-Mu, Tuhan. Berkatilah aku, Bunda; berkatilah aku, kamu semua, orang-orang kudus, dan kau juga, anak terberkati, yang bertumbuh dalam kebijaksanaan dekat Tuhan.'

Itulah yang ditulis Sintikhe. Dan dia menambahkan catatan kaki, yang tidak diketahui Yohanes. Dia mengatakan, "Yohanes unggul dan menjadi lebih kuat hanya dalam jiwanya. Yang lainnya menurun kendati perawatan. Dia sangat bergantung pada awal musim panas. Aku pikir bahwa dia tidak akan mampu melakukan apa yang dia katakan. Aku khawatir musim dingin akan melemahkan hidupnya... Tapi dia dalam damai. Dan dia disucikan oleh perbuatan-perbuatan dan penderitaannya. Topanglah kekuatannya dengan kehadiran-Mu, Tuhan-ku! Aku mohon pada-Mu untuk menundukkanku pada segala jenis rasa sakit sebagai ganti atas karunia ini untuk murid-Mu itu. Sementara kami mengirimkan surat-surat ini lewat Ptolmai, kepada Lazarus, aku mohon kepada-Mu untuk mengatakan kepada Lazarus dan saudara-saudara perempuannya bahwa kami mengingat kebaikan mereka kepada kami dan bahwa kami berdoa terus-menerus dan dengan sungguh-sungguh untuk mereka.'"

Sekali lagi mereka semua saling bertukar kesan. Andreas membungkuk untuk menanyakan sesuatu kepada Maria dan dia heran melihat airmata di wajah-Nya. "Apakah Engkau menangis?" dia bertanya padanya.

"Mengapa Engkau menangis, Bunda," banyak dari mereka bertanya.

"Aku tahu mengapa Dia menangis," kata Marjiam.

"Jadi, kenapa?"

"Karena Yohanes menyinggung kematian Tuhan."

"Tentu saja! Apakah itu benar? Dan bagaimana dia tahu, ketika dia sudah tidak lagi bersama kita, kapan Engkau mengatakannya?"

"Karena Aku mengatakannya untuk menghiburnya."

"Hmm! Menghibur!..."

"Ya, menghibur. Janji bahwa dia tidak akan harus menunggu lama untuk masuk ke Kerajaan. Dia pantas mendapatkannya karena dia mengunggulimu dalam kemauan dan ketaatan. Mari kita kembali ke rumah. Kita akan menyiapkan balasan kita untuk diberikan kepada Ptolmai dan kau akan menambahkan gulungan-gulunganmu, Marjiam."

"Ah! Aku mengerti! Dia menulis untuk mereka!..."

"Ya. Ayo kita pergi. Besok kita akan pergi ke Bait Allah..."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama