364. DI GETSEMANI DAN BETANIA.
SI MURID BOCAH MARJIAM MENDAKWA YUDAS SEBAGAI SEORANG PENCEMAR.            


3 Januari 1946   

Yesus memasuki Taman Getsemani yang asri tenang.

Marjiam masih bersama-Nya dan dia tertawa memikirkan betapa cemas pastinya Petrus tergopoh-gopoh untuk menggabungkan diri dengan mereka. Dia berkata, "Oh! Guru! Aku ingin tahu bagaimana dia tentunya sudah mengomel! Dan andai Engkau pergi ke Betania dan tidak berhenti di sini, dia akan berada dalam keadaan yang mengenaskan."

Yesus juga tersenyum menatap pemuda itu dan Dia menjawab, "Ya. Dia akan menghujani-Ku dengan erangannya. Tapi itu akan mengajarinya untuk lebih berhati-hati lain kali. Sementara Aku berbicara tadi, dia tidak memperhatikan, tetapi berbicara dengan orang-orang lain..." (Perhatian Petrus teralih saat Yesus mengajar, dan tidak memperhatikan Yesus pergi).

"Ada orang-orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya, Tuhan," kata Marjiam, yang tidak lagi tertawa, tetapi mencoba untuk membela Petrus.

"Orang bisa membuat gerak isyarat dengan niat baik bahwa dia akan menjawab nanti, ketika Sabda Tuhan sudah selesai diwartakan. Ingatlah itu, dalam hidupmu kelak, ketika kau menjadi seorang imam. Kau harus memberikan hormat terbesar saat kau mengajar dan di tempat di mana kau mengajar."

"Tapi, Tuhan, itu adalah Marjiam yang malang yang akan berbicara..."

"Tidak masalah. Selalu Allah Yang berbicara melalui bibir para abdi-Nya di saat pelayanan mereka. Dan sebab itu Dia harus didengarkan dalam keheningan dan dengan hormat."

Wajah Marjiam berubah masam, yang mengungkapkan perasaan batinnya.

Yesus memperhatikannya dan berkata, "Apa kau tidak yakin? Kenapa ekspresimu seperti itu? Bicaralah, Nak, tanpa rasa takut."

"Tuhan-ku, aku hanya bertanya-tanya apakah Allah ada di bibir dan di hati para imam-Nya sekarang ini, dan aku merasa gemetar ngeri akan pemikiran bahwa para imam mendatang mungkin seperti mereka... Dan aku menyimpulkan dengan mengatakan bahwa... banyak imam menampilkan Allah dengan buruk... Aku pasti sudah berbuat dosa... Tapi mereka sangat jahat dan tamak, sangat memuakkan... sehingga..."

"Jangan menghakimi. Tapi ingatlah sensasi jijikmu. Camkan itu dalam benak di masa mendatang. Dan dengan segenap kekuatanmu, hindari menjadi seperti mereka yang membuatmu jijik dan pastikan bahwa mereka yang berada di bawah arahanmu juga tidak seperti itu. Jadikan kejahatan yang kau lihat berguna untuk tujuan yang baik. Setiap tindakan dan pengetahuan harus diubah menjadi kebaikan melalui penilaian dan kehendak yang benar."

"Oh! Tuhan! Sebelum kita masuk ke dalam rumah, yang sudah di depan mata, tolong jawab pertanyaan yang lain! Engkau tidak menyangkal bahwa para imam sekarang ini bersalah. Engkau katakan padaku untuk tidak menghakimi. Tapi Engkau menghakimi. Dan Engkau bisa melakukannya. Dan Engkau menghakimi dengan adil. Sekarang dengarkanlah, Tuhan, pertanyaanku. Ketika para imam sekarang berbicara tentang Allah dan agama, kita tahu seperti apa sebagian besar dari mereka, tetapi aku mengacu pada yang terburuk di antara mereka, apakah kita harus mendengarkan mereka sebagai orang benar?"

"Ya, Anak-Ku, selalu. Demi hormat terhadap misi mereka. Ketika mereka melakukan tindakan sehubungan dengan pelayanan mereka, mereka bukan lagi Hanas, seorang manusia, atau Zadok, seorang manusia, dan seterusnya. Mereka adalah 'imam'. Selalu pisahkan kemanusiaan yang malang dari pelayanan."

"Tetapi jika mereka bertindak bahkan sangat buruk..."

"Allah yang akan menyelenggarakan. Dan lalu!... Dengarkan, Marjiam! Tidak ada orang yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Dan tidak ada orang yang sepenuhnya sangat baik sehingga berhak menghakimi saudara-saudaranya sebagai sepenuhnya jahat. Kita harus mencamkan dalam benak kesalahan-kesalahan kita sendiri, dan melawannya dengan kualitas-kualitas baik dari mereka yang ingin kita hakimi, maka kita akan memiliki ukuran yang tepat untuk penilaian yang murah hati. Aku belum menemukan orang yang sepenuhnya jahat."

"Bahkan Doras pun tidak, Tuhan?"

"Bahkan dia pun tidak, karena dia adalah suami yang jujur dan ayah yang pengasih."

"Bahkan ayah Doras pun tidak?"

"Dia juga suami yang jujur dan ayah yang pengasih."

"Tapi tidak lebih dari itu!"

"Tidak lebih dari itu. Tapi sehubungan dengan itu dia tidak jahat. Jadi dia tidak sepenuhnya jahat."

"Apakah Yudas juga tidak jahat?"

"Tidak."

"Tapi dia tidak baik."

"Dia tidak sepenuhnya baik dan dia tidak sepenuhnya jahat. Apa kau tidak yakin dengan apa yang Aku katakan?"

"Aku yakin bahwa Engkau sepenuhnya baik dan bahwa Engkau sepenuhnya bebas dari kejahatan. Ya, aku yakin bahwa Engkau demikian. Dan sedemikian rupa, hingga Engkau tidak pernah mendakwa siapa pun..."

"Oh! Putra-Ku sayang! Jika Aku mengucapkan sepatah kata pertama dakwaan, kamu semua akan menyerang si terdakwa seperti binatang buas!... Aku mencegahmu melakukannya, supaya kamu jangan tercemar dosa penghakiman yang terburu-buru. Cobalah untuk mengerti Aku, Marjiam. Ini bukan pertanyaan masalah Aku tidak melihat kejahatan di mana ada kejahatan, atau Aku tidak melihat campuran kebaikan dan kejahatan pada diri orang. Bukan pula masalah Aku tidak mengerti apakah jiwa naik ke atas atau jatuh ke tingkat bawah dari Aku membimbingnya. Ini tidak ada hubungannya dengan itu semua, Nak. Tapi masalahnya adalah kebijaksanaan untuk menghindarkan kurangnya cinta kasih dalam dirimu. Dan Aku akan selalu melakukannya. Juga di masa mendatang, ketika Aku harus menyatakan pendapat-Ku tentang seseorang. Tidak tahukah kau, Nak, bahwa terkadang kata-kata pujian dan dorongan lebih berguna daripada banyak celaan? Tidak tahukah kau bahwa dari seratus kasus yang sangat buruk, kasus yang dianggap relatif baik, setidaknya separuhnya menjadi sangat baik, karena, sesudah ditolong oleh sabda-Ku, mereka juga dibantu oleh orang-orang yang sangat baik hati, yang jika tidak, akan menjauhi orang-orang yang didakwa sebagai sangat jahat? Jiwa-jiwa harus didukung, bukan dibiarkan depresi. Tetapi jika Aku bukan orang pertama yang mendukung mereka dan menutupi kesalahan mereka, dengan mendesakmu untuk berbaik hati kepada mereka dan membantu mereka, kamu tidak akan pernah mengabdikan dirimu pada mereka dengan pengampunan yang aktif. Ingat itu, Marjiam..."

"Ya, Tuhan... (satu helaan napas panjang). Aku akan mengingatnya... (helaan napas panjang lainnya)... Tapi itu sangat sulit di hadapan bukti-bukti yang pasti..."

Yesus menatapnya. Tapi Dia hanya bisa melihat bagian atas dahi Marjiam, yang sudah menundukkan wajahnya.

"Marjiam, mendongaklah. Lihat Aku. Dan katakan pada-Ku: bukti mana yang sulit untuk diabaikan?"

Perasaan Marjiam bercampur aduk... Wajahnya yang kecokelatan memerah... Dia menjawab, "Yah... ada banyak, Tuhan..."

Yesus mendesak, "Kenapa kau menyebut Yudas? Karena dia adalah satu 'bukti.' Mungkin bukti yang lebih sulit untuk kau atasi... Apa yang sudah Yudas lakukan padamu? Dalam hal apa dia mengguncangkanmu?" dan Yesus meletakkan tangan-Nya pada bahu orang muda itu, yang sudah begitu merah padam wajahnya hingga menjadi ungu tua.

Marjiam menatap pada-Nya dengan airmata berkilau di matanya, dia lalu membebaskan diri dan berlari pergi seraya berteriak, "Yudas adalah pencemar!... Tapi aku tidak bisa mengatakannya... Hormatilah aku, Tuhan!..." dan dia bersembunyi di pepohonan, dan dipanggil dengan sia-sia oleh Yesus, Yang membuat gerak isyarat duka patah semangat.

Namun suara-Nya telah menarik perhatian orang-orang di rumah di Getsemani. Dan Yunus muncul di pintu dapur bersama Bunda Yesus, diikuti oleh para murid perempuan: Maria Klopas, Maria Salome dan Porphirea. Ketika melihat Yesus, mereka pergi menyongsong-Nya.

"Damai sertamu semua! Ini Aku, Bunda!"

"Sendirian? Kenapa?"

"Aku mendahului yang lain-lainnya. Aku meninggalkan mereka di Bait Allah... Tapi Aku tadi bersama Marjiam..."

"Dan di mana anakku sekarang? Aku tidak melihatnya," tanya Porphirea yang terlihat agak kesal.

"Dia tadi pergi ke sana... Tapi dia akan segera kemari. Apakah kamu punya cukup makanan untuk semua orang? Yang lain-lainnya akan segera kemari."

"Tidak, Tuhan, tidak punya. Tadinya Engkau katakan bahwa Kau akan pergi ke Betania..."

"Tentu saja... Tapi kemudian Aku pikir lebih baik datang kemari. Pergilah cepat untuk mendapatkan apa yang diperlukan dan kembalilah segera. Aku akan tinggal di sini bersama BundaKu."

Para murid perempuan langsung taat tanpa membantah.

Yesus tinggal sendirian bersama Maria dan mereka berjalan perlahan di bawah cabang-cabang pohon yang lebat, melalui mana berkas-berkas matahari yang tipis bagai jarum melukiskan lingkaran-lingkaran emas kecil di rerumputan hijau.

"Aku akan pergi ke Betania sesudah kita bersantap, bersama Simon."

"Simon anak Yunus?"

"Bukan, Simon Zelot. Dan Aku akan membawa Marjiam bersama-Ku…" Yesus terdiam dan termenung.

Maria memperhatikan dan bertanya, "Apakah Marjiam membuat-Mu tidak senang?"

"Tidak, Bunda. Sebaliknya! Apa yang membuat-Mu berpikir begitu?"

"Kenapa Kau termenung?... Kenapa Kau memanggil-manggilnya seperti itu? Dan kenapa dia meninggalkan-Mu? Kenapa dia lari dari-Mu seolah-olah dia malu? Dia bahkan tidak datang untuk menyalami ibunya dan Aku!"

"Bocah itu melarikan diri karena pertanyaan-Ku."

"Oh!..." Maria sangat tercengang. Dia terdiam beberapa saat, lalu berbisik, seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri, "Pasangan di Firdaus Duniawi melarikan diri sesudah mereka berdosa, saat mereka mendengar suara Allah... Tapi kita harus memahami anak itu, Nak. Dia sedang bertumbuh menjadi manusia dewasa... dan mungkin... Setan menggigit setiap manusia, Nak," kata Maria dengan suara memohon yang mengibakan hati...

Yesus menatap-Nya dan berkata, "Betapa keibuannya Engkau! Engkau adalah 'Bunda'! Tapi janganlah berpikir bahwa anak itu sudah berdosa. Sebaliknya, Aku meyakinkan-Mu bahwa dia menderita karena dia telah terluka oleh suatu penyingkapan yang mengguncang. Dia murni dan sangat baik... Aku akan membawanya bersama-Ku hari ini, supaya dia tahu, tanpa diberitahu, bahwa Aku memahaminya. Kata-kata tidak akan ada gunanya, dan bagaimanapun, Aku tidak akan bisa menemukan suatu pun yang dapat membenarkan pencemaran atas ketidakberdosaan." Yesus mengucapkan kata-kata terakhir dengan suara tegas.

"Oh! Nak! Apakah seburuk itu? Aku tidak akan menanyakan satu nama pun kepada-Mu. Tapi jika salah seorang dari kita bisa membuat anak itu berduka, hanya bisa dia itu... Benar-benar iblis!"

"Ayo kita pergi mencari Marjiam, Bunda. Dia tidak akan lari dari-Mu."

Mereka pergi dan menemukannya di balik semak hawthorn.

"Apa kau mengumpulkan bunga hawthorn untuk-Ku, putraku sayang?" tanya Maria seraya menghampiri dan memeluknya...

"Tidak, tapi aku merindukanmu," kata Marjiam dengan wajahnya masih basah oleh air mata.

"Dan Aku telah datang. Ayo kita pergi sekarang, karena hari ini kau akan pergi ke Betania bersama YesusKu! Dan kau harus berpakaian pantas."

Wajah Marjiam bersinar penuh sukacita, sebab dia sudah mengatasi rasa malunya, dan dia berkata, "Hanya Dia dan aku?"

"Dan Simon Zelot."

Marjiam yang masih bocah, melompat kegirangan dan berlari keluar dari persembunyiannya dan menjatuhkan diri dalam pelukan Yesus. Dia sangat bergairah.

Yesus tersenyum, dan untuk membesarkan hatinya, Dia berkata, "Pergi dan lihatlah apakah bapamu sudah datang." Dan sementara Marjiam berlari pergi, Yesus berkata, "Dia masih anak-anak, meskipun sangat bijaksana dalam berpikir. Adalah suatu kejahatan nyata mendukakan hatinya. Tetapi Aku akan mengambil tindakan yang diperlukan," dan Dia berjalan menuju rumah bersama Maria.

Sebelum mereka tiba di sana, mereka melihat Marjiam berlari kembali ke arah mereka. "Guru... Bunda... Ada beberapa orang... beberapa dari mereka adalah yang di Bait Allah... Para proselit... Ada seorang perempuan... Seorang perempuan yang ingin bertemu dengan-Mu, Bunda.. Dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan-Mu di Betlehem... Namanya Naomi."

"Aku bertemu begitu banyak perempuan, kala itu! Tapi ayolah kita pergi..."

Mereka tiba di halaman terbuka yang kecil di mana rumah itu berada. Sekelompok orang sedang menantikan Yesus dan begitu melihat-Nya, mereka prostratio. Namun seorang perempuan seketika berdiri dan berlari ke arah Maria, menjatuhkan diri di depan kaki-Nya dan menyapa-Nya dengan nama-Nya.

"Siapakah engkau? Aku tidak ingat kau. Berdirilah."

Perempuan itu berdiri dan hendak berbicara ketika para rasul tiba dengan terengah-engah.

"Tuhan, kenapa Kau lakukan itu? Kami berlarian kian kemari di Yerusalem seperti orang gila. Kami pikir Kau pergi ke rumah Yohana atau ke rumah Annalea... Kenapa Kau tidak tinggal bersama kami?" mereka bertanya dengan sedikit bingung.

"Karena kita sekarang sudah bersama-sama, tidak ada gunanya menjelaskan kenapa. Biarkan perempuan ini berbicara dengan tenang."

Mereka semua berkumpul di sekelilingnya untuk mendengarkannya.

"Engkau tidak ingat aku, o Maria dari Betlehem. Tetapi selama tigapuluh satu tahun aku mengingat nama-Mu dan wajah-Mu sebagai simbol belas kasihan. Aku juga datang dari jauh, dari Perga, karena Dekrit itu. Dan aku hamil. Tapi aku berharap bisa pulang ke rumah sebelum waktunya. Suamiku jatuh sakit dalam perjalanan dan dia menjadi lemah dan meninggal di Betlehem. Aku melahirkan anakku duapuluh hari sebelum dia meninggal. Dan tangisku menembus langit dan mengeringkan payudaraku serta mengubah air susuku menjadi racun. Dan sekujur tubuh anakku maupun tubuhku melepuh dan lecet... Dan kami dilemparkan ke dalam gua dan dibiarkan mati di sana... Yah... Kau satu-satunya yang datang dengan hati-hati, lagi dan lagi, selama sebulan penuh, dan Kau membawakan kami makanan dan mengobati luka-luka kami, menangis bersamaku dan menyusui anakku, yang berhutang nyawa kepada-Mu... Kau mengambil risiko dirajam batu karena mereka menyebutku 'perempuan kusta'... Oh! Bintang-ku yang manis! Aku tidak akan melupakan itu. Aku pergi ketika aku sudah sembuh. Dan di Efesus aku mendengar tentang pembantaian kanak-kanak. Aku mencari-Mu untuk waktu yang lama. Aku tidak bisa percaya bahwa Kau telah dibunuh bersama PutraMu pada malam yang mengerikan itu. Tapi aku tidak pernah menemukan-Mu. Musim panas yang lalu seseorang dari Efesus mendengar PutraMu, dia mendapati siapa Dia, dia mengikuti-Nya selama beberapa waktu dan bersama-Nya dan bersama orang-orang lain di Tabernakel... Dan ketika dia kembali, dia memberitahuku. Dan aku datang untuk menemui-Mu, Bunda Suci, sebelum aku mati. Aku datang untuk memberkati-Mu untuk setiap tetes air susu yang Kau berikan kepada Yohanes-ku, dengan merelakannya dari PutraMu..." Perempuan itu mencucurkan airmata, dengan sikap hormat, dengan kepalanya sedikit tertunduk, dan menggenggam lengan Maria dengan kedua tangannya ...

"Orang jangan pernah menolak untuk memberi makan bayi, saudari. Dan..."

"Oh! tidak. Aku tidak bisa menjadi saudari-Mu! Engkau adalah Bunda Sang Juruselamat, dan aku adalah seorang perempuan menderita yang malang, jauh dari rumah, seorang janda dengan bayi yang menyusu, yang payudaranya sekering sungai di musim panas... Aku tentulah sudah mati tanpa-Mu. Kau memberiku segalanya dan aku bisa kembali kepada saudara-saudaraku, yang adalah pedagang di Efesus, terima kasih kepada-Mu."

"Kita adalah dua ibu, dua ibu yang malang, dengan dua bayi, di dunia yang luas. Adalah dukamu menjadi seorang janda, dan duka-Ku adalah hati-Ku ditembusi karena PutraKu, seperti yang dinyatakan Simeon tua kepadaku di Bait Allah. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang saudara perempuan dengan memberimu apa yang tidak lagi kau miliki. Apakah putramu masih hidup?"

"Dia ada di sana. Dan Putra Kudus-Mu menyembuhkannya pagi ini. Semoga Dia diberkati untuk itu!"

Dan dia prostratio di hadapan Sang Juruselamat seraya berteriak, "Yohanes, datang dan bersyukurlah kepada Tuhan."

Seorang laki-laki, sebaya dengan Yesus, meninggalkan teman-temannya dan maju. Dia kuat dan wajahnya jujur, meskipun dia tidak tampan. Tapi ekspresi dari matanya yang dalam sungguh indah.

"Damai sertamu, saudara dari Betlehem. Dari penyakit apa Aku menyembuhkanmu?"

"Dari kebutaan, Tuhan. Aku sudah kehilangan satu mata, dan aku akan kehilangan mata yang lain. Aku adalah kepala sinagoga, tetapi aku tidak bisa lagi membaca gulungan-gulungan suci."

"Sekarang kau akan membacanya dengan iman yang lebih besar."

"Tidak, Tuhan. Aku sekarang akan membaca Engkau. Aku ingin tinggal bersama-Mu, tanpa tuntutan atas air susu yang aku hisap dari payudara yang menyusui-Mu. Hari-hari dalam satu bulan bukanlah apa-apa dan tidak bisa membuat ikatan apa pun, tetapi belas kasihan BundaMu di masa lalu dan belas kasihan-Mu pagi ini adalah segalanya."

Yesus berbicara kepada si perempuan, "Dan apa yang kau katakan?"

"Bahwa putraku akan menjadi milik-Mu dua kali. Terimalah dia, Tuhan. Dan impian Naomi yang malang pun akan terpenuhi."

"Sungguh baik. Kau akan menjadi milik Kristus." Dan berbalik ke arah para rasul-Nya Dia berkata, "Terimalah rekanmu dalam nama Tuhan."

Para proselit meluap dalam emosi. Semua laki-laki ingin tinggal, tetapi Yesus berkata dengan tegas, "Tidak. Kamu akan tetap seperti kamu adanya. Pulanglah ke rumahmu, bertekunlah dalam imanmu dan nantikanlah saatnya untuk dipanggil. Dan kiranya Tuhan selalu sertamu. Pergilah."

"Akankah kami mendapati-Mu di sini lagi?" mereka bertanya.

"Tidak. Seperti burung yang terbang dari dahan ke dahan, Aku bergerak tanpa istirahat. Kamu tidak akan mendapati-Ku di sini. Aku tidak punya rencana perjalanan dan tidak punya tempat tinggal. Tetapi jika itu adalah hal yang benar, kita akan bertemu lagi dan kamu akan mendengarkan Aku. Pergilah. Biarkan perempuan itu tinggal bersama si murid baru."

Dan Dia memasuki rumah dengan diikuti oleh para perempuan dan para rasul yang sangat tergerak hatinya dan mengomentari kisah yang tidak mereka ketahui sejauh ini, dan tentang cinta kasih Maria yang luhur mulia.  




Dan Yesus pergi ke Betania dengan langkah pasti. Simon Zelot dan Marjiam ada di samping-Nya. Mereka berdua sangat senang sudah dipilih untuk kunjungan itu.

Marjiam, yang kini lebih bersemangat, mengajukan banyak pertanyaan tentang perempuan yang dari Efesus itu dan apakah Yesus mengetahui kisah itu.

"Aku tidak tahu. Perbuatan baik BundaKu tidak terhitung banyaknya dan dilakukan dalam keheningan yang begitu lembut hingga pada umumnya tidak diketahui orang."

"Tapi kisah ini benar-benar indah," kata Zelot.

"Ya, sungguh sangat indah sehingga aku ingin menceritakannya kepada Yohanes En-Dor. Bagaimana menurut-Mu, Guru? Akankah kita mendapatkan surat-suratnya di Betania?"

"Aku hampir yakin ya."

"Kita juga harus menemukan perempuan yang sembuh dari kusta itu," kata Zelot.

"Ya. Dia menaati hukum dengan setia. Tapi waktu pentahirannya sekarang tentu sudah berakhir."

Betania muncul di dataran tingginya yang luas. Mereka lewat di depan rumah di mana dulu ada burung-burung merak, flamingo, dan burung-burung stilt. Rumah itu sekarang tertutup dan ditinggalkan. Simon memperhatikannya.

Namun komentarnya terpotong oleh sapaan ceria Maximinus yang muncul di pintu gerbang. "Oh! Guru Yang Kudus! Betapa banyak kebahagiaan dalam begitu banyak kesedihan!"

"Damai sertamu. Kenapa sedih?"

"Karena Lazarus sangat menderita dengan kedua kakinya yang penuh luka. Dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk meredakan sakitnya. Tetapi dia akan merasa lebih baik, setidaknya secara rohani, ketika dia melihat-Mu."

Mereka masuk ke dalam taman dan sementara Maximinus berjalan di depan, mereka berjalan santai menuju rumah.

Maria Magdala berlari keluar sambil berteriak memuja, "Rabuni," dan dia diikuti oleh Marta yang lebih tenang. Mereka berdua terlihat sangat pucat layaknya orang yang banyak menderita dan kurang tidur.

"Berdirilah. Ayo kita langsung menengok Lazarus."

"Oh! Guru! Guru, Kau bisa melakukan segalanya, sembuhkanlah saudaraku!" Marta memohon.

"Ya, Guru Yang baik! Dia menderita lebih dari yang bisa dia tanggung! Dia kehabisan tenaga dan dia mengerang kesakitan. Dia pasti akan mati, jika terus begitu. Kasihanilah dia, Tuhan!" desak Maria.

"Aku penuh kerahiman. Tetapi saat mukjizat belum tiba baginya. Biarkan dia menjadi kuat dan jadilah kuat bersamanya. Bantu dia untuk melakukan kehendak Allah."

"Ah! Maksudmu dia harus mati?!" tanya Marta dengan mengerang dan menangis.

Dan Maria, yang matanya berkilau oleh airmata dan kasih, kasih ganda, untuk Yesus dan untuk saudaranya, berseru, "Oh! Guru, tetapi dengan begini Kau menghalangiku untuk mengikuti dan melayani-Mu, dan Kau menghalangi saudaraku menikmati kebangkitanku. Tidakkah Kau ingin rumah Lazarus bersukacita karena satu kebangkitan?"

Yesus menatapnya dengan tersenyum ramah dan jenaka, dan Dia berkata, "Hanya untuk satu? Satu saja? Ayolah! Kamu tidak banyak memikirkan-Ku jika kau berpikir bahwa Aku hanya bisa melakukan satu hal saja! Jadilah baik dan kuat. Ayo kita pergi. Dan jangan menangis seperti itu. Kau akan mengecilkan hatinya dengan prasangka yang menyedihkan." Dan Dia berjalan mendahului mereka.

Untuk merawat Lazarus dengan lebih nyaman, mereka menempatkannya di sebuah kamar dekat perpustakaan, di seberang ruang makan. Maximinus menunjukkan pintu kepada-Nya, tetapi membiarkan Yesus masuk seorang diri.

"Damai sertamu, Lazarus, sahabat-Ku terkasih!"

"Oh! Guru Yang kudus! Damai serta-Mu. Tidak ada lagi damai untukku, untuk tubuhku. Dan jiwaku tertekan. Aku sangat menderita, Tuhan! Berilah aku perintah kasih, "Lazarus, bangkitlah" dan aku akan bangkit dengan sepenuhnya sembuh untuk melayani-Mu..."

"Aku akan memberikan perintah itu padamu, Lazarus. Tapi tidak sekarang," jawab Yesus seraya memeluknya.

Lazarus sangat kurus dan kekuningan, dengan mata cekung. Dia jelas sakit parah dan lemah. Dia menangis seperti seorang anak kecil dengan menunjukkan kedua kakinya yang bengkak kebiruan, dengan luka-luka, yang menurutku adalah varises dan berdarah di beberapa tempat. Dia mungkin berharap bahwa dengan menunjukkan situasinya yang mengerikan kepada Yesus, Dia mungkin tergerak hati-Nya dan mengerjakan mukjizat. Namun Yesus menutupi luka-luka itu dengan hati-hati dengan perban linen yang disemprot dengan balsam.

"Apakah Kau datang untuk tinggal di sini?" tanya Lazarus dengan kecewa.

"Tidak, tapi Aku akan sering datang ke sini."

"Apa? Kau juga tidak melewatkan Paskah bersamaku tahun ini? Aku sengaja menyuruh mereka membawaku ke sini. Pada hari raya Pondok Daun Kau berjanji kepadaku bahwa Kau akan tinggal bersamaku untuk waktu yang lama sesudah Pentahbisan..."

"Ya. Tapi tidak sekarang. Apa Aku mengganggumu jika Aku duduk di sini, di tepi tempat tidurmu?"

"Oh! tidak. Sebaliknya kesejukan tangan-Mu seolah meredakan panas demamku. Mengapa Engkau tidak tinggal, Tuhan?"

"Karena seperti kau tersiksa oleh luka-luka, Aku tersiksa oleh para musuh. Meski Betania dianggap dalam batas-batas Perjamuan untuk semua orang, dalam kasus-Ku itu akan dianggap dosa, jika Aku merayakan Paskah di sini. Segala sesuatu yang Aku lakukan dianggap berdosa oleh Mahkamah Agama dan kaum Farisi..."

"Ah! kaum Farisi! Itu benar! Tapi di rumahku, maka... Setidaknya itu!"

"Tentu saja! Tapi Aku akan merujuknya pada saat terakhir, untuk berjaga-jaga."

"Ya! Jangan percaya mereka. Semuanya berjalan baik dengan Yohanes. Engkau tahu? Ptolmai datang kemarin bersama orang-orang lain dan dia membawakan beberapa surat untukmu. Saudariku yang menyimpannya. Tapi di mana Marta dan Maria? Apakah mereka tidak bertindak sebagai nyonya rumah untuk-Mu?" Lazarus gelisah seperti kebanyakan orang sakit.

"Jangan khawatir. Mereka di luar bersama Simon dan Marjiam. Aku datang bersama mereka. Dan Aku tidak butuh apa-apa. Aku akan memanggilnya." Dan Dia memanggil mereka yang sudah bertindak bijak dengan tetap berada di luar.

Marta keluar dan kembali dengan dua gulungan yang dia serahkan kepada Yesus. Sementara itu Maria memberitahukan bahwa seorang pelayan Nikodemus mengatakan bahwa dia datang mendahului tuannya, yang akan datang bersama Yusuf Arimatea. Dan pada saat yang sama Lazarus ingat akan seorang perempuan yang "datang kemarin atas nama-Mu," katanya.

"Ah! Ya! Apakah kau tahu siapa dia?"

"Dia memberitahu kami. Dia adalah putri seorang kaya dari Yerikho, yang pergi ke Siria bertahun-tahun yang lalu, ketika ayahnya itu masih muda. Ayahnya memanggilnya Anastasica sebagai kenangan akan bunga gurun. Tapi, dia tidak mau menyebutkan nama suaminya," jelas Marta.

"Itu tidak perlu. Suaminya tidak mengakuinya dan dengan begitu dia hanya 'murid.' Di mana dia?"

"Dia letih dan dia sedang tidur. Dia mengalami masa sulit selama hari-hari dan malam-malam terakhir. Jika Kau menghendakinya, aku akan memanggilnya."

"Tidak. Biarkan dia tidur. Aku akan menemuinya besok."

Lazarus menatap Marjiam dengan kagum. Marjiam merasa tegang. Dia ingin tahu isi gulungan itu. Yesus memperhatikannya dan membukanya. Lazarus berkata, "Apa? Apakah dia tahu?"

"Ya, dia tahu, juga yang lain-lainnya, kecuali Natanael, Filipus, Tomas, dan Yudas..."

"Kau melakukan hal yang benar dengan tidak membiarkan dia tahu," seru Lazarus. "Aku punya banyak keraguan dan ketakutan..."

"Aku bukannya tidak bijaksana, Sahabat-Ku terkasih," kata Yesus menyelanya dan Dia membaca gulungan-gulungan itu dan lalu menceritakan berita-berita utamanya, yaitu, bahwa keduanya sudah menetap dan kerasan, bahwa sekolahnya berkembang pesat, dan bahwa semuanya akan berjalan dengan sangat baik jika kesehatan Yohanes tidak menurun. Tetapi Yesus tidak bisa berbicara lebih lanjut karena mereka diberitahu tentang kedatangan Nikodemus dan Yusuf.

"Semoga Allah melindungi-Mu, Guru! Senantiasa, seperti pagi ini!"

"Terima kasih, Yusuf. Dan kau, Nikodemus, apakah waktu itu kau tidak ada di sana?"

"Tidak. Tetapi aku mendengar bahwa Kau telah datang dan aku pikir aku harus datang ke rumah Lazarus, karena aku hampir yakin bahwa aku akan mendapati-Mu di sini. Dan Yusuf bergabung denganku."

Mereka berbicara tentang peristiwa-peristiwa pagi itu dengan berdiri sekeliling tempat tidur Lazarus, yang sangat tertarik mendengarnya dan tampaknya teralihkan dari penderitaannya.

"Tetapi Gamaliel, Tuhan! Apakah Kau mendengarnya?" tanya Yusuf Arimatea.

"Ya."

Nikodemus berkata, "Aku malah ingin mengatakan: Tetapi Yudas Keriot, Tuhan! Setelah Kau pergi, aku mendapatinya berteriak-teriak seperti setan di tengah-tengah sekelompok murid dari para rabi. Dia mendakwa dan sekaligus membela-Mu. Dan aku merasa pasti bahwa dia yakin dia melakukan hal yang benar. Mereka ingin mencari-cari kesalahan-Mu, dan tentu saja mereka dihasut untuk melakukannya oleh para guru mereka. Dia membantah tuduhan mereka dengan sengit dengan mengatakan: 'Guru-ku hanya punya satu kesalahan saja! Dia tidak cukup menggunakan kuasa-Nya. Dia kehilangan kesempatan-kesempatan emas. Dia menjemukan orang-orang baik dengan kelemah-lembutan-Nya yang berlebihan. Dia adalah Raja! Dan Dia harus bertindak sebagai Raja. Kamu memperlakukan-Nya sebagai pelayan karena Dia begitu lemah lembut. Dia menghancurkan Diri-Nya sendiri dengan tidak menjadi apa-apa selain lemah lembut. Satu-satunya yang perlu bagimu, orang-orang kejam yang keji, adalah deraan dari kuasa mutlak yang kejam. Oh! kenapa aku tidak bisa menjadikan-Nya seorang Saulus yang kejam!'"

Yesus menggeleng-gelengkan kepala-Nya tanpa mengatakan apa pun.

"Dan meski begitu, dia mengasihi-Mu dengan caranya sendiri," kata Nikodemus.

"Benar-benar orang yang membingungkan!" seru Lazarus.

"Ya. Kau benar. Meski aku sudah bersamanya selama dua tahun, aku belum mengerti dia," tegas Zelot.

Maria Magdala berdiri dengan keagungan seorang ratu dan dengan suaranya yang merdu dia menyatakan, "Aku sudah mengerti dia lebih dari siapa pun: dia adalah kejijikan yang ditempatkan dekat Kesempurnaan. Dan tidak ada lagi yang bisa dikatakan," dan dia keluar untuk melakukan suatu tugas dan membawa Marjiam bersamanya.

"Mungkin Maria benar," kata Lazarus.

"Aku juga berpikir begitu," kata Yusuf.

"Dan bagaimana menurut-Mu, Guru?"

"Aku katakan bahwa Yudas adalah seorang 'manusia.' Seperti Gamaliel. Seorang manusia terbatas yang dekat dengan Allah yang tak terbatas. Manusia sangat terbatas dalam pemikirannya, hingga, terkecuali dia bernapas dalam atmosfir rohani, dia hanya bisa menerima satu gagasan saja, yang dengannya dia berdegil dan bersikukuh untuk selamanya. Dan dia melakukannya bahkan melawan bukti yang ada, dengan keras kepala dan tegar tengkuk, bahkan melampaui iman pada apa yang paling mengguncangkannya. Gamaliel, bagaimanapun, memiliki iman, seperti segelintir orang di Israel, pada Mesias, Yang dia kenali dan Yang dia lihat sekilas dalam diri seorang Kanak-kanak. Dan dia setia pada perkataan Kanak-kanak itu... Dan hal yang sama berlaku bagi Yudas. Karena dia penuh dengan gagasan Mesianik, sebagaimana anggapan sebagian besar orang di Israel, dan di mana dia diteguhkan oleh manifestasi pertama yang dia miliki tentang Aku, dia melihat dan ingin melihat Kristus sebagai raja. Raja duniawi yang berkuasa... dan dia setia pada pendapat macam itu. Oh! Betapa banyak, bahkan di masa mendatang, yang akan menghancurkan diri mereka sendiri karena konsep iman yang salah, dengan berdegil melampaui akal! Tapi bagaimana menurutmu? Adalah mudah untuk mengikuti kebenaran dan keadilan dalam segala hal? Bagaimana menurutmu? Adalah mudah untuk mencapai keselamatan hanya karena seseorang adalah Gamaliel atau rasul Yudas? Tidak. Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu bahwa lebih mudah bagi seorang anak, bagi seorang percaya biasa untuk diselamatkan, daripada bagi seseorang yang diangkat ke suatu tugas atau misi khusus. Pada umumnya kebanggaan akan panggilan mereka menguasai mereka yang dipanggil untuk suatu tujuan khusus, dan kesombongan seperti itu membuka pintu bagi Setan dan menolak Allah. Lebih mudah bagi bintang untuk jatuh daripada batu. Yang Terkutuk berupaya untuk menyingkirkan bintang-bintang dan dengan licik dia mendakwa dirinya sendiri guna menaikkan mereka yang terpilih dan lalu menjungkir-balikkannya. Jika seribu atau sepuluh ribu orang jatuh ke dalam kesalahan umum, kehancurannya hanya mempengaruhi diri mereka sendiri. Tetapi jika seseorang yang ditunjuk untuk suatu tujuan khusus jatuh dan menjadi alat Setan dan bukannya alat Allah, suara Setan dan bukan 'suara-Ku,' murid Setan dan bukannya 'murid-Ku', maka kehancurannya jauh lebih parah dan bahkan bisa membawa kesesatan yang serius, yang melukai jiwa-jiwa yang tak terhitung banyaknya. Yang baik yang Aku berikan akan menghasilkan banyak kebaikan jika jatuh di tanah yang rendah hati, yang akan tetap rendah hati. Tetapi jika ia jatuh di tanah yang sombong atau yang menjadi sombong karena karunia yang diterima, maka yang baik berubah menjadi jahat. Gamaliel dikaruniai salah satu dari manifestasi pertama Kristus. Itu seharusnya menjadi panggilan awalnya kepada Kristus. Itulah sebabnya kenapa dia tuli terhadap Suara-Ku yang memanggilnya. Yudas dikaruniai untuk menjadi seorang rasul: seorang dari keduabelas rasul di antara ribuan orang di Israel. Itu seharusnya menjadi pengudusannya. Tapi akan menjadi apakah itu?... Sahabat-sahabat-Ku, manusia adalah Adam abadi... Adam memiliki segalanya. Segalanya kecuali satu hal. Dia menginginkan satu hal itu. Dan andai manusia tetap menjadi Adam! Kerap kali dia menjadi Lucifer. Dia memiliki segalanya kecuali keilahian. Dia menginginkan itu. Dia ingin yang adikodrati untuk mencengangkan, untuk dipuji, ditakuti, dikenal, termasyhur... Dan untuk memiliki sesuatu yang hanya Allah saja yang dapat memberikannya secara cuma-cuma, dia memeluk Setan, yang adalah Monyet Allah dan memberikan karunia-karunia adikodrati palsu. Oh! Betapa mengerikan nasib iblis-iblis itu! Aku meninggalkanmu, sahabat-sahabat-Ku. Aku akan undur diri sejenak. Aku perlu memusatkan diri pada Allah..."

Yesus, Yang sangat sedih, keluar... Mereka yang tinggal: Lazarus, Yusuf, Nikodemus dan Zelot, saling pandang satu sama lain.

"Apakah kau memperhatikan betapa sedihnya Dia?" Yusuf bertanya kepada Lazarus dengan suara pelan.

"Ya. Dia seolah-olah melihat suatu penglihatan yang mengerikan."

"Apa yang bisa mengkhawatirkan Dia?" tanya Nikodemus.

"Hanya Dia dan Bapa Yang Kekal yang tahu," jawab Yusuf.

"Kau tahu apa itu, Simon?"

"Tidak. Dia tentunya mengalami depresi selama berbulan-bulan."

"Semoga Allah menyelamatkan-Nya! Tapi kebencian pasti tumbuh."

"Ya, Yusuf. Kebencian tumbuh... Aku takut Kebencian akan segera menaklukkan Kasih."

"Jangan berkata seperti itu, Simon! Jika itu harus terjadi, aku tidak akan lagi minta disembuhkan! Lebih baik mati daripada melihat kesesatan yang paling mengerikan."

"Sakrilegi yang paling mengerikan, harusnya kau katakan begitu, Lazarus..."

"Meski begitu... Israel benar-benar bisa melakukan itu. Ia siap untuk mengulangi gerakan Lucifer dengan berperang melawan Tuhan yang Terberkati," kata Nikodemus seraya menghela napas.

Sesudahnya, ada keheningan yang menyedihkan, seolah-olah masing-masing mereka memiliki ganjalan di tenggorokannya... Semakin gelap dalam ruangan itu di mana empat orang benar tengah merenungkan kriminal-kriminal masa depan.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama