274. KARYA BELAS KASIH JASMANI DAN ROHANI           

8 September 1945  

Yesus berada di dataran Khorazim, di sepanjang Lembah Yordan bagian atas, di antara Danau Genesaret dan Danau Merom. Wilayah ini diselimuti kebun-kebun anggur dan sudah saatnya musim panen.

Pastinya Ia telah berada di sana selama beberapa hari, karena para murid yang tadinya berada di Sicaminon sudah menggabungkan diri dengan-Nya pagi ini, dan di antara mereka ada Stefanus bersama Hermas. Ishak meminta maaf karena tidak datang lebih awal, karena, katanya, para murid baru dan ketidakpastiannya - apakah dia harus membawa mereka atau tidak - sudah menyebabkan keterlambatan. "Tapi," katanya, "Aku pikir bahwa jalan ke Surga terbuka bagi mereka semua yang berkehendak baik; dan mereka berdua ini, meski mereka adalah murid Gamaliel, tampaknya demikian."

"Kau benar dan kau sudah melakukan hal yang tepat. Bawalah mereka kemari."

Ishak pergi dan kembali bersama kedua murid.

"Damai sertamu. Apakah perkataan apostolik nampak begitu benar bagi kalian hingga kalian memutuskan untuk menggabungkan diri?"  

"Ya, dan Sabda-Mu di atas segalanya. Jangan suruh kami pergi, Guru."

"Mengapa Aku harus menyuruh kalian pergi?"

"Karena kami adalah murid Gamaliel."

"Jadi? Aku menghormati Gamaliel yang agung dan Aku ingin dia bersama-Ku, karena dia layak untuk itu. Hanya itu saja kekurangannya demi menjadikan kebijaksanaannya sempurna. Apa yang dia katakan kepada kalian ketika kalian meninggalkannya? Karena tentunya kalian mengucapkan selamat tinggal kepadanya."

"Ya, dia mengatakan kepada kami, 'Kamu beruntung bahwa kamu bisa percaya. Berdoalah agar aku bisa melupakan supaya bisa mengingat.'"

Para rasul yang sudah berkumpul di sekeliling Yesus dengan penuh rasa ingin tahu saling menatap satu sama lain dan bertanya dengan berbisik, "Apakah maksudnya? Apakah yang dia inginkan? Melupakan supaya mengingat?"

Yesus mendengar bisik-bisik mereka dan menjelaskan, "Dia ingin melupakan kebijaksanaannya untuk menerima kebijaksanaan-Ku. Dia ingin melupakan bahwa dia adalah Rabbi Gamaliel untuk mengingat bahwa dia adalah seorang putera Israel yang menantikan Kristus. Dia ingin melupakan dirinya sendiri, untuk mengingat Kebenaran."

"Gamaliel bukan seorang yang tidak benar, Guru," jawab Hermas menyesal.

"Bukan. Tapi campur-aduk perkataan manusia-yang-malang yang adalah tidak benar. Perkataan menggantikan Sabda. Kamu harus melupakannya, dengan membebaskan dirimu darinya dan datang kepada Kebenaran semurni seorang perawan untuk dikenakan baju kembali dan dibuat subur. Kerendahan hati diperlukan untuk itu. Kesulitanů"

"Jadi, kami harus melupakan juga?"

"Pasti. Kamu harus melupakan segalanya yang berhubungan dengan manusia. Dan ingat apa yang berhubungan dengan Allah. Ayo. Kamu bisa melakukannya."

"Kami ingin melakukannya," tegas Hermas.

"Sudahkah kamu hidup sebagai murid?"

"Ya, sudah. Sejak hari kami mendengar bahwa Pembaptis dibunuh. Berita itu menyebar dengan sangat cepat di Yerusalem, disampaikan oleh orang-orang istana dan para komandan Herodes. Wafatnya membangunkan kami dari kelambanan kami," jawab Stefanus.

"Darah para martir adalah selalu suatu kehidupan baru bagi orang-orang yang lamban, Stefanus. Ingatlah itu."

"Ya, Guru. Apakah Engkau akan berbicara hari ini? Aku lapar akan sabda-Mu."

"Aku sudah selesai berbicara.Tetapi Aku akan berbicara lagi, dan berbicara sangat banyak, kepada kalian para murid. Rekan-rekanmu, para rasul, sudah memulai misi mereka, setelah persiapan yang matang. Tetapi mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan dunia. Dan semuanya harus dilakukan pada waktu yang tepat. Aku seperti orang yang punya tanggal kedaluwarsa dan harus melakukan semuanya sebelum tanggal itu. Aku minta kamu semua membantu-Ku, dan dalam nama Allah Aku menjanjikanmu pertolongan dan masa depan yang mulia."

Mata tajam Yesus mendapati seorang laki-laki yang sepenuhnya terbalut dalam sehelai mantol linen: "Bukankah kau Yohanes, sang imam?"

"Ya Guru. Hati bangsa Yahudi lebih gersang dari lembah luas yang dikutuk. Aku lari mencari Engkau."

"Dan imamatmu?"

"Kusta mengusirku darinya untuk pertama kalinya. Orang-orang, untuk kedua kalinya, sebab aku mengasihi-Mu. Kasih karunia-Mu menarikku pada dirinya: kepada Engkau. Itu mengusirku juga, dari tempat yang cemar ke tempat yang murni. Engkau telah memurnikanku, Guru, baik dalam tubuhku maupun dalam jiwaku. Dan apa yang murni tidak dapat dan jangan sampai mendekati apa yang tidak murni. Itu akan menjadi suatu penghinaan bagi-Nya, Yang memurnikan."

"Penilaianmu keras, tetapi bukannya tidak benar."
"Guru, masalah keluarga yang tidak menyenangkan diketahui oleh mereka yang tinggal dalam keluarga dan hendaknya dibicarakan hanya kepada orang-orang yang berpikiran lurus. Engkau demikian, dan bagaimanapun Engkau tahu. Aku tidak akan mengatakannya pada orang-orang lain. Kita di sini adalah: Engkau, para rasul, aku dan dua orang yang tahu sebagaimana Engkau dan aku. Jadi..."

"Baiklah. Tapi... Oh! Kau di sini juga? Damai sertamu. Apa kau datang untuk membagikan lebih banyak makanan?"

"Tidak, aku datang untuk mendapatkan makanan-Mu."

"Apa panenmu gagal?"

"Oh! tidak. Panenan tidak pernah begitu melimpah. Tetapi, Guru-ku, aku mencari roti yang lain dan panenan yang berbeda: Milik-Mu. Dan aku membawa bersamaku si kusta yang telah Engkau sembuhkan di ladangku. Dia kembali kepada tuannya. Tetapi baik dia maupun aku punya Tuan untuk diikuti dan dilayani: Engkau."

"Mari: satu, dua, tiga, empat... Hasil panen yang bagus! Tetapi sudahkah kau pertimbangkan posisimu di Bait Allah? Kau tahu, dan Aku tahu... dan Aku tidak akan berkata lebih banyak."

"Aku seorang yang bebas dan aku pergi kemana aku mau," kata Yohanes, si imam.

"Aku juga," kata orang yang datang terakhir: Yohanes, si ahli Taurat, yang membagikan makanan di kaki Gunung Sabda Bahagia pada hari Sabat.

"Dan kami juga bebas," kata Hermas dan Stefanus.

Dan Stefanus menambahkan, "Berbicaralah kepada kami, Tuhan. Kami tidak tahu apa sebenarnya misi kami. Berilah kami yang setidaknya perlu diketahui guna memungkinkan kami melayani-Mu dengan segera. Sisanya akan datang sementara kami mengikuti-Mu."

"Ya. Di gunung, Engkau berbicara tentang sabda bahagia. Dan itu adalah suatu pengajaran bagi kami. Tetapi apa yang harus kami lakukan sehubungan dengan orang-orang lain, dalam kasih kami yang kedua, kasih kepada sesama kita?" tanya Yohanes, si ahli Taurat.

"Di mana Yohanes dari En-Dor?" adalah satu-satunya jawaban Yesus.

"Dia ada di sana, Guru, bersama orang-orang yang telah disembuhkan."

"Suruhlah dia datang kemari."

Yohanes En-Dor segera datang. Yesus menumpangkan tangan-Nya ke bahu Yohanes sebagai suatu salam istimewa dan berkata, "Kau di sini. Sekarang Aku akan berbicara. Tapi Aku ingin kalian, yang menyandang nama yang suci, berada di hadapan-Ku. Kau, rasul-Ku; kau, seorang imam; kau, seorang ahli Taurat; kau, Yohanes murid Pembaptis; dan akhirnya, kau, untuk melengkapi rangkaian kasih karunia yang dianugerahkan oleh Allah. Dan jika kau adalah yang terakhir Aku sebutkan, kau tahu bahwa kau bukan yang terakhir dalam hati-Ku. Suatu hari yang lalu Aku menjanjikan khotbah ini padamu. Kau akan mendapatkannya sekarang."

Dan Yesus, sebab Ia hendak melakukannya, mendaki sebuah gundukan tanah, supaya semua orang dapat melihat-Nya, dan kelima orang Yohanes berada di baris pertama, di hadapan-Nya. Di belakang mereka ada sekelompok murid yang berbaur dengan orang banyak yang datang dari setiap bagian Palestina demi mencari kesehatan atau doktrin.

"Damai sertamu sekalian dan kebijaksanaan atasmu.

Dengarkan. Suatu hari, lama berselang, seorang bertanya kepada-Ku apakah dan sampai sejauh manakah Allah maharahim [berbelas-kasihan] kepada orang-orang berdosa. Adalah seorang berdosa yang mengajukan pertanyaan itu, dan meskipun dia telah diampuni, dia tidak dapat percaya bahwa Allah telah mengampuninya sepenuhnya. Dan Aku menenangkan kegelisahannya melalui perumpamaan-perumpamaan. Aku meyakinkannya dan menjanjikan padanya bahwa demi dia, Aku akan selalu berbicara mengenai kerahiman, sehingga hatinya yang penuh sesal, yang menangis dalam dirinya seperti seorang anak yang hilang, dapat merasa yakin sudah berada dalam kepemilikan Bapa-nya Yang di Surga. Allah itu Maharahim sebab Allah itu Kasih. Seorang abdi Allah harus berbelas-kasih demi meneladani Allah. Allah menggunakan kerahiman [belas kasihan] untuk menarik anak-anak-Nya yang sesat kepada Diri-Nya. Seorang abdi Allah harus menggunakan belas-kasih sebagai cara untuk membawa orang-orang yang salah jalan kembali kepada Allah. Ajaran kasih adalah wajib bagi semua orang. Tetapi harus tiga kali lipat dalam diri para abdi Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan Surga jika orang tidak mengasihi. Hanya itu saja yang perlu dikatakan kepada orang-orang percaya. Tetapi kepada para abdi Allah, Aku katakan, 'Kamu tidak dapat membuat orang-orang percaya mendapatkan Surga jika kamu tidak mengasihi mereka dengan kasih yang sempurna.' Dan siapakah kamu, yang berkerumun di sini sekeliling-Ku? Sebagian besar darimu adalah anak-anak Allah yang memiliki tujuan hidup yang cemerlang, keras, terberkati, sempurna dari abdi Allah dan pelayan Kristus. Dan apa saja tugas-tugasmu dalam hidup sebagai abdi dan pelayan? Kasih total kepada Tuhan dan kasih total kepada sesama. Tujuanmu adalah untuk melayani. Bagaimana? Dengan membawa kembali kepada Allah mereka yang sudah direnggut dunia, daging, iblis dari Allah. Dengan cara apa? Dengan kasih. Kasih, yang bisa aktif dalam ribuan cara, dan hanya punya satu tujuan: untuk membuat orang mengasihi. Mari kita renungkan Sungai Yordan kita yang indah. Betapa mengesankan besarnya di Yerikho! Tetapi apakah seperti itu di sumbernya? Tidak. Ia hanyalah tetesan air dan akan tetap seperti itu andai ia selalu sendirian. Sebaliknya, dari gunung-gunung dan bukit-bukit pada kedua sisi lembahnya, ribuan anak sungai, entah sendiri atau terdiri dari banyak anak sungai kecil, mengalir ke dalam palungnya, dan ia semakin dan semakin berkembang dari aliran kecil air biru keperakan yang begitu menyenangkan dan riang ria dalam perkembangannya hingga menjadi sungai besar yang damai tenang, mengalir bak sehelai pita biru langit di antara tepian suburnya yang hijau zamrud.

Seperti itulah kasih. Ia pada awalnya adalah aliran yang sangat kecil di antara bayi-bayi pada Jalan Hidup, yang hanya dapat menghindari dosa-dosa berat karena takut akan hukuman, tetapi kemudian, sementara maju di jalan kesempurnaan, banyak anak sungai kecil dari keutamaan pokok ini, melalui kehendak kasih, muncul dari gunung-gunung manusia yang keras, sombong, gersang, dan kasar dan semua membantu untuk membuatnya naik dan memancar keluar: dukacita dan sukacita, sama seperti di atas pegunungan salju beku dan matahari melelehkannya, membentuk sungai-sungai. Semuanya membantu membuka jalan baginya: kerendahan hati juga pertobatan. Semuanya melayani untuk mengantarkannya ke sungai awal. Sebab suatu jiwa, yang didorong ke Jalan itu, senang egonya dihancurkan, dan rindu untuk bangkit kembali dengan ditarik oleh Allah-Matahari, sesudah menjadi suatu sungai yang indah, perkasa, dan bermanfaat.

Aliran-aliran kecil yang memberi makan aliran embrionik dari kasih yang mengagumkan ini, di samping keutamaan-keutamaaan, adalah perbuatan-perbuatan yang diajarkan oleh keutamaan-keutamaan kepada manusia untuk dilakukan: perbuatan-perbuatan, yang adalah aliran-aliran kasih, adalah perbuatan belas kasih. Mari kita merenungkannya bersama. Beberapa sudah diketahui oleh Israel, sebagian akan diberitahukan kepadamu oleh-Ku, karena hukum-Ku adalah kesempurnaan kasih.

(1) Memberi makan orang yang lapar

Ini adalah suatu kewajiban atas syukur dan kasih. Dan suatu kewajiban dalam meneladani. Anak-anak berterima kasih kepada bapanya atas roti yang dia upayakan untuk mereka. Dan ketika mereka tumbuh dewasa, mereka meneladani sang bapa dengan mengupayakan melalui kerja mereka, roti untuk anak-anak mereka sendiri dan untuk bapa mereka, yang sekarang sudah tak dapat lagi bekerja, sebab usia tuanya, suatu balas kasih yang adil atas kebaikan yang diterima. Perintah keempat menyatakan: 'Hormatilah bapa dan ibumu.' Orang menghormati usia tua orangtua mereka dengan memastikan mereka tidak perlu mengemis roti dari orang-orang lain. Tetapi perintah yang pertama datang sebelum yang keempat: 'Kasihilah Allah dengan segenap keberadaanmu' dan yang kedua: 'Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.' Mengasihi Allah dalam Diri-Nya Sendiri dan mengasihi-Nya dalam diri sesama adalah untuk menjadi sempurna. Orang mengasihi-Nya dengan memberikan roti kepada mereka yang lapar, dengan mengingat betapa banyak kali Ia melegakan kelaparan manusia melalui mukjizat-mukjizat.

Tetapi tanpa memperhitungkan karunia manna dan burung puyuh, marilah kita merenungkan mukjizat terus-menerus gandum, yang tumbuh melalui kemurahan Allah Yang memberi manusia tanah yang cocok untuk diolah dan Ia mengatur dan mengendalikan angin, hujan, panas, musim, supaya benih bisa menjadi bulir gandum dan bulir gandum menjadi roti. Dan bukankah merupakan suatu mukjizat dari kerahiman-Nya fakta bahwa oleh terang adikodrati Ia mengajarkan kepada anak-Nya yang bersalah bahwa rumput yang tinggi ramping itu, dengan ujung bulir-bulir biji keemasan berbau hangatnya matahari yang terbungkus dalam salut keras dari sisik kasar, adalah makanan, yang harus dipungut manusia, dibuang sekamnya, ditumbuk, diremas dan dipanggang? Allah yang mengajari manusia semua itu. Dan Ia mengajarinya bagaimana memanennya, membuang sekamnya, menumbuknya, mengadoninya dan memanggangnya. Ia menempatkan batu-batu di dekat bulir-bulir itu dan air di dekat batu dan melalui sarana refleksi air dan matahari Ia menyalakan api pertama di bumi dan angin meniupkan beberapa bulir gandum ke dalam api; bulir gandum yang terpanggang menebarkan bau yang sedap, supaya manusia bisa mengerti bahwa gandum lebih lezat ketika dipanggang dengan api, daripada gandum dalam bulirnya sebagaimana burung-burung menyantapnya, atau direndam dalam air, setelah ditumbuk, sebagai pure yang lengket. Sekarang sesudah kamu menyantap roti lezat yang dipanggang dalam oven keluarga, apakah kamu tidak merenungkan betapa banyak kerahiman yang ditunjukkan oleh pencapaian kesempurnaan yang sebegitu rupa dalam memanggang, dan betapa banyak kemajuan yang telah dicapai pengetahuan manusia dari bulir pertama yang dikunyah seperti yang dilakukan oleh kuda, hingga menjadi roti seperti sekarang ini? Dan oleh siapa? Oleh Sang Pemberi roti. Dan hal yang sama berlaku untuk segala jenis makanan, yang manusia, melalui pencerahan yang bermanfaat, telah mampu memilahnya dari antara tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, yang disebarkan oleh Sang Pencipta di segenap penjuru bumi, suatu tempat hukuman dari Bapa untuk anak-Nya yang bersalah.

Dengan demikian, memberikan sesuatu untuk dimakan kepada orang yang lapar merupakan suatu doa syukur terima kasih kepada Tuhan dan Bapa, Yang memuaskan lapar kita, dan itu adalah meneladani Bapa, Yang keserupaannya dianugerahkan kepada kita dengan cuma-cuma, dan yang harus terus kita tingkatkan dengan meneladani perbuatan-Nya.

(2) Memberi minum orang yang haus
Pernahkah kamu berpikir apa yang akan terjadi jika Bapa tidak membiarkan hujan turun ke atas bumi? Dan andai Ia berkata: 'Karena kekejamanmu yang keji terhadap orang yang haus, Aku akan menghentikan awan turun ke bumi,' bisakah kita memprotes dan mengutuk? Air, lebih dari gandum, adalah milik Tuhan. Sebab gandum diupayakan oleh manusia, tetapi hanya Allah yang mengupayakan awan-gemawan, yang turun sebagai hujan atau embun, kabut atau salju, menghidupi ladang-ladang dan mengisi waduk-waduk, memenuhi sungai dan danau, memberi perlindungan pada ikan, yang melegakan rasa lapar manusia bersama binatang-binatang lain. Jika seseorang meminta padamu: 'Berilah aku minum,' dapatkah kamu katakan padanya: 'Tidak. Air ini milikku dan aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya'? Pembohong! Siapakah di antara kamu yang membuat sekeping saja salju atau setetes hujan? Siapakah di antara kamu yang menguapkan sebutir saja embun berlian dengan panas astralnya? Tak seorang pun. Adalah Allah yang melakukannya. Dan jika air turun dari langit dan naik kembali ke sana, itu hanya karena Allah mengendalikan bagian dari ciptaan itu sebagaimana Ia mengendalikan yang lainnya.

Karenanya, berikanlah air sejuk dari sumber mata air bumi, atau air jernih dari sumurmu, atau air yang memenuhi wadukmu, kepada mereka yang haus. Itu adalah air Allah. Dan itu untuk semua orang. Berikanlah pada yang haus. Untuk suatu perbuatan sekecil itu, yang tidak membuatmu mengeluarkan biaya apa pun dan tidak melibatkan pekerjaan apa pun selain dari menyerahkan satu cawan atau satu buyung air, Aku katakan padamu bahwa kamu akan menerima ganjaran di Surga. Sebab, bukan air, melainkan tindakan amal kasih adalah besar di mata dan penghakiman Allah.

(3) Memberi pakaian orang yang malang

Ketelanjangan, aib, kesengsaraan yang menyedihkan melintasi jalanan-jalanan bumi: orang-orang lanjut usia yang merana, orang-orang yang lumpuh karena penyakit atau kemalangan, para penderita kusta yang hidup kembali melalui kemurahan Tuhan, para janda yang menanggung banyak anak, orang-orang yang disingkirkan dari setiap kenyamanan oleh kemalangan, anak-anak kecil yatim piatu yang tak berdosa. Apabila mata-Ku mengamati bumi yang luas, Aku bisa melihat di mana-mana orang-orang yang telanjang atau berpakaian compang-camping, yang nyaris tak dapat melindungi kesopanan mereka, yang tidak melindungi mereka dari dingin. Dan semua orang malang itu memandang dengan mata sayu pada orang-orang kaya yang lewat dengan mengenakan pakaian halus dan sepatu yang nyaman. Mata sayu dan kebaikan pada diri orang-orang yang baik, mata sayu dan kebencian pada diri mereka yang kurang baik. Mengapa kamu tidak menolong kesusahan mereka, membuat mereka yang baik jadi lebih baik, melalui sarana kasihmu, dan menyingkirkan kebencian pada mereka yang kurang baik?

Jangan katakan: 'Aku punya hanya cukup untuk diriku sendiri.' Seperti halnya roti, selalu ada sesuatu yang lebih dari apa yang dibutuhkan di atas meja dan dalam lemari pakaian orang-orang yang tidak sepenuhnya terabaikan. Di antara mereka yang sekarang mendengarkan Aku, ada lebih dari seorang yang dari pakaian-bekas membuat pakaian-pakaian untuk anak yatim atau anak malang dan dari sehelai seprei usang membuat tali-tali bedung untuk bayi tak berdosa yang tak memilikinya. Dan ada seorang, seorang pengemis, yang selama bertahun-tahun membagikan roti hasil susah payah mengemisnya, dengan seorang penderita kusta yang tidak bisa pergi dan mengemis roti di depan pintu orang-orang kaya. Dan dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu bahwa orang-orang yang berbelas-kasih seperti itu tidak didapati di antara orang kaya, tetapi di antara orang dari kelas-kelas miskin yang bersahaja yang tahu dari pengalaman mereka sendiri betapa menyakitkannya kemiskinan itu.

Lagi, di sini, seperti halnya air dan roti, renungkan bahwa wol dan linen yang kamu pakai untuk membalut tubuhmu, berasal dari hewan dan tumbuhan, yang diciptakan Bapa bukan hanya untuk mereka yang kaya, tetapi untuk semua orang. Sebab Allah memberi manusia hanya satu kekayaan: Kasih karunia-Nya, kesehatan dan inteligensi. Bukan kekayaan kotor, yang adalah emas, yang kamu tinggikan ke kemuliaan yang tak berguna, sementara sebagai logam, ia tidak lebih indah dibandingkan yang lainnya dan ia jauh lebih tidak berguna dibandingkan besi, yang dengannya kamu membuat sekop dan bajak, garu dan sabit, pahat, palu, gergaji dan alat ketam, yakni peralatan kudus untuk pekerjaan kudus. Dan kamu meninggikan emas ke kemuliaan palsu lewat hasutan Setan, yang sudah membuatmu, anak-anak Allah, seliar hewan buas. Allah telah memberimu kekayaan dari apa yang kudus demi membuatmu semakin dan semakin kudus! Bukan kekayaan yang membunuh ini, yang menumpahkan begitu banyak darah dan begitu banyak air mata.

Dan berikanlah pakaian sebagaimana ia diberikan kepadamu. Berikan dalam nama Tuhan, tanpa takut telanjang. Adalah lebih baik mati kedinginan, sesudah menelanjangi dirimu sendiri demi seorang pengemis, daripada dingin hatimu, bahkan meski kamu berbalut pakaian halus, sebab kurang amal kasih. Kehangatan dari suatu perbuatan baik yang dilakukan lebih berkenan dibandingkan kenyamanan dari sehelai mantol wol murni dan tubuh orang-orang malang yang dibalutnya, yang berbicara kepada Allah dengan mengatakan: 'Berkatilah mereka yang sudah memberi kami pakaian.'

(4) Memberi naungan kepada orang asing

Jika memuaskan rasa lapar orang dan melegakan dahaga mereka dan memberi pakaian mereka yang malang menggabungkan keugaharian suci dan keadilan terberkati [dua dari Keutamaan Pokok] hingga ke amal kasih tersuci [salah satu dari Keutamaan Teologis], sehingga nasib saudara-saudara kita yang malang itu diringankan melalui kekudusan kita, bilamana kita memberikan apa yang berlimpah pada kita, dengan perkenanan Allah, atas nama mereka yang berkekurangan karena kejahatan manusia atau karena penyakit, maka memberikan keramah-tamahan kepada para peziarah menggabungkan amal kasih dengan kepercayaan dan dengan menghargai sesama kita. Dan itu suatu keutamaan juga, kamu tahu. Suatu keutamaan yang menunjukkan kebaikan, di samping amal kasih, dalam diri mereka yang memilikinya. Sebab dia yang baik bertindak baik, dan sebab pada umumnya kita berpikir bahwa orang lain bertindak seperti kita, maka kepercayaan dan kesederhanaan dengan percaya bahwa perkataan orang lain adalah benar, menunjukkan bahwa dia yang mendengarkannya adalah orang yang berbicara kebenaran dalam perkara-perkara penting maupun remeh dan tidak punya rasa tidak percaya terhadap apa yang dikatakan orang lain padanya.

Mengapa orang harus memikirkan peziarah yang meminta naungan: 'Dan bagaimana jika dia adalah seorang pencuri atau pembunuh?' Apa kamu begitu terikat pada kekayaanmu, sehingga takut, karena hal itu, dari setiap orang asing yang datang ke rumahmu? Apa kamu begitu terikat pada hidupmu hingga ngeri ketakutan akan pikiran kehilangannya? Apa? Apa kamu pikir Allah tidak dapat melindungimu dari perampok? Apa? Apa kamu takut kalau-kalau orang yang lewat mungkin saja seorang perampok, sedangkan kamu tidak takut pada tamu jahat yang merampok darimu apa yang tidak tergantikan? Berapa banyak yang memberikan naungan kepada roh-roh jahat dalam hati mereka! Aku dapat katakan: semua orang memberi naungan pada dosa pokok, namun tak seorang pun yang takut akan hal itu. Apa kekayaan dan kehidupan adalah satu-satunya hal yang berharga? Apa mungkin keabadian tidak lebih berharga sebab kamu mengijinkan dosa merampoknya dan membunuhnya darimu? O jiwa-jiwa malang, yang dirampok hartanya dan diserahkan kepada pembunuh-pembunuh, seolah tak berharga, sementara rumah-rumah dikunci dan digembok, dijaga dengan anjing-anjing guna mengamankan barang-barang yang tidak bisa kita bawa bersama kita ketika kita mati!

Mengapa kita harus melihat seorang perampok dalam diri setiap peziarah? Kita semua bersaudara. Rumah harus terbuka bagi saudara yang lewat. Apa seorang peziarah tidak sedarah dengan kita? Tentu saja ya! Dia adalah darah daging Adam dan Hawa. Apa dia bukan saudara kita? Kenapa bukan? Bapa-nya hanya satu: Allah, Yang telah memberikan kepda kita masing-masing suatu jiwa yang identik, sebagaimana bapa hanya memberikan kepada anak-anak dari perkawinan yang sama darah yang sama. Apa dia miskin? Pastikan bahwa rohmu, yang jauh dari persahabatan dengan Tuhan, tidak lebih miskin dari dia. Apa pakaiannya compang-camping? Pastikan bahwa jiwamu tidak lebih compang-camping karena dosa. Apa kakinya berbalut lumpur atau debu? Pastikan bahwa egomu tidak lebih lusuh oleh kejahatan, dibandingkan sandal kotornya yang lusuh sebab begitu banyak digunakan berjalan. Apa penampilannya tidak menyenangkan? Pastikan bahwa penampilanmu tidak lebih tidak menyenangkan di mata Allah. Apa dia berbicara bahasa asing? Pastikan bahwa bahasa hatimu tidak tak terpahami di kota Allah.

Kamu harus melihat seorang saudara dalam diri setiap peziarah. Kita semua peziarah menuju Surga dan kita semua mengetuk di pintu-pintu di sepanjang jalan ke Surga. Dan pintu-pintu itu adalah para patriark, orang-orang benar, para malaikat dan para malaikat agung, yang kita mohon untuk menolong dan melindungi kita, supaya kita dapat mencapai tujuan kita, tanpa menjadi letih dan jatuh ke dalam kegelapan malam, ke dalam bekunya cuaca yang sedingin es, menjadi mangsa dari serigala dan jakal yang mengintai, dari nafsu jahat dan roh-roh jahat. Sebagaimana kita ingin para malaikat dan para kudus menunjukkan kasih mereka kepada kita dengan memberi kita naungan dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan kita, maka marilah kita melakukan hal yang sama kepada para peziarah di bumi. Dan setiap kali kita membuka rumah kita dan tangan kita, menyapa seorang asing dengan perkataan manis seorang saudara, dan dengan memikirkan Allah, Yang mengenalnya, Aku katakan kepadamu bahwa kita akan sudah menempuh bermil-mil sepanjang jalan menuju Surga.

(5) Melawat orang sakit
Sungguh, sebagaimana manusia adalah peziarah, demikian pula mereka adalah orang yang sakit. Dan penyakit jiwa adalah yang terparah, yang tak terlihat dan yang mematikan. Dan meski begitu orang tidak jijik dengannya. Sakit moral tidak menjijikkan. Bau busuk kejahatan tidak memualkan. Murka yang keji tidak mengerikan. Gangren seorang penderita kusta rohani tidak membuat orang muak. Makam penuh dengan kebusukan orang yang jiwanya mati dan kebusukannya tidak membuat seorang pun menyingkir. Dia yang menghampiri kecemaran-kecemaran macam itu tidak dikutuk. Betapa malang dan sempitnya pemikiran manusia! Tetapi katakan pada-Ku: manakah yang lebih berharga, roh, atau darah dan daging? Bisakah materia merusakkan apa yang non-materia sekedar hanya dengan dekat dengannya? Tidak, Aku katakan padamu itu tidak bisa. Nilai roh tak terhingga dibandingkan daging dan darah, itu benar; daging tidak lebih kuat dari roh. Dan roh bisa rusak oleh hal-hal rohani, bukan oleh hal-hal materiil. Jika seseorang merawat seorang penderita kusta, rohnya tidak menjadi kusta; sebaliknya, karena amal kasihnya diamalkan dengan gagah berani, hingga tahap mengucilkan diri di lembah kematian demi iba kepada saudaranya, setiap noda dosa akan disingkirkan darinya. Karena amal kasih adalah absolusi dosa dan pemurnian pertama.

Selalu camkan dalam benak prinsip berikut: 'Apa yang aku ingin orang perbuat padaku, andai aku seperti dia?' Dan bertindaklah seperti yang kamu ingin orang lain perbuat padamu. Israel masih memiliki hukum kunonya. Tetapi akan datang harinya, dan fajarnya tak lagi sangat jauh, ketika orang akan menyembah, sebagai lambang dari keindahan mutlak, gambaran dari Dia, yang akan menjadi pengulangan materiil dari Manusia sengsara dari Kitab Yesaya dan Korban yang Dianiaya dari Mazmur Daud, Yang akan menjadi Penebus umat manusia, sebab Dia menjadikan Diri-Nya serupa dengan seorang penderita kusta, dan semua orang yang kering kehausan, sakit, letih, menangis di bumi akan bergegas menuju luka-luka-Nya bagai kijang bergegas menuju sumber mata air, dan Dia akan memuaskan dahaga mereka, akan menyembuhkan mereka, memulihkan mereka, akan menghibur tubuh dan jiwa mereka, dan yang terbaik dari orang-orang percaya akan rindu untuk menjadi seperti Dia, berbalur luka-luka, mencurahkan darah mereka, didera, dimahkotai duri, disalibkan, agar supaya manusia ditebus, dengan demikian melanjutkan karya dari Raja segala raja dan Penebus dunia.

Kamu, yang masih seorang Israel, tetapi sudah mengenakan sayap untuk terbang ke Kerajaan Surga, mulai pikirkan, dari saat ini, konsepsi dan evaluasi baru ini mengenai penyakit, dan dengan memuji Allah yang memeliharamu dalam keadaan sehat, membungkuklah atas mereka yang menderita dan di ambang maut. Suatu hari salah seorang rasul-Ku mengatakan pada salah seorang saudaranya, 'Jangan takut menyentuh orang kusta. Dengan kehendak Allah tak ada penyakit yang akan menyerang kita.' Dia benar. Allah melindungi para abdi-Nya. Tetapi bahkan meski kamu tertular sementara kamu menyembuhkan si sakit, kamu akan ditempatkan, di kehidupan mendatang, di antara para martir kasih.

(6) Mengunjungi para tahanan

Apa kamu pikir bahwa hanya ada penjahat di galley? Satu mata dari keadilan manusia buta dan mata yang lainnya menderita gangguan penglihatan, sehingga salah melihat unta sebagai awan dan ular sebagai ranting berbunga; menghakimi dengan keliru. Terlebih lagi karena mereka yang memimpinnya kerap kali dengan sengaja menggerakkan awan-awan asap, sehingga orang melihat dengan lebih keliru. Tetapi bahkan meski para tahanan semuanya adalah perampok atau pembunuh, akan salah bagi kita untuk menjadi perampok dan pembunuh dengan menjauhkan dari mereka harapan akan pengampunan melalui cemoohan kita.

Para tahanan yang malang! Mereka tidak berani mengarahkan mata mereka kepada Allah, sebab dibebani kejahatan mereka. Belenggu mereka sungguh terlebih menyakiti jiwa mereka daripada kaki mereka. Celakalah mereka jika mereka berputus asa akan Allah! Atas kejahatan terhadap sesama, mereka akan menambahkan dosa keputusasaan akan pengampunan. Galley adalah silih, sama seperti sekarat di perancah. Tetapi tidak cukup sekedar membayar apa yang berkaitan dengan masyarakat manusia untuk kejahatan yang dilakukan. Adalah perlu untuk membayar juga dan lebih dari segalanya apa yang berkaitan dengan Allah, guna menyilih dan mendapatkan hidup kekal. Tetapi dia yang memberontak dan berputus asa, menyilih hanya yang berkaitan dengan masyarakat. Biarkan si orang hukuman atau si tahanan mendapatkan kasih dari saudara-saudaranya. Itu akan menjadi menjadi suatu terang dalam gelap. Itu akan menjadi suatu suara. Tangan yang menunjuk ke atas sementara suara berkata, 'Kiranya kasihku memberitahumu bahwa Allah mengasihimu, sebab Ia menempatkan dalam hatiku kasih ini untukmu, saudaraku yang malang,' dan terang memungkinkan manusia untuk melihat Allah, Bapa mereka Yang Maharahim.

Biarkan amal kasihmu pergi dengan alasan yang lebih kuat untuk menghibur para martir dari ketidakadilan manusia: baik mereka yang sama sekali tidak bersalah maupun mereka yang sudah dihantar untuk membunuh oleh suatu kuasa yang keji. Jangan menghakimi apa yang sudah dihakimi. Kamu tidak tahu mengapa orang terdorong untuk membunuh. Kamu tidak tahu bahwa sering kali orang yang membunuh tak lain adalah orang yang mati, dan robot otomatis yang sama sekali tak punya akal budi, sebab suatu pembunuhan tanpa darah telah merenggut akal budinya dengan pengkhianatan pengecut yang keji. Allah tahu. Itu cukup. Dalam kehidupan mendatang banyak budak galley, pembunuh dan perampok akan terlihat di Surga, sedangkan banyak orang, yang tampaknya sudah dirampok dan dibunuh, akan terlihat di Neraka, sebab dalam kenyataannya para korban-semu itu adalah perampok sesungguhnya dari kedamaian, kejujuran dan kepercayaan orang lain dan pembunuh-hati yang sesungguhnya. Mereka adalah korban hanya karena mereka adalah yang terakhir diserang, sesudah mereka menyerang secara diam-diam selama bertahun-tahun. Membunuh dan mencuri adalah dosa. Tetapi antara orang yang membunuh dan merampok karena dia dihantar pada kejahatan yang demikian oleh orang lain dan kemudian bertobat, dan orang yang membujuk orang lain untuk berbuat dosa dan tidak bertobat, maka orang yang terakhir ini akan dihukum dengan lebih berat, karena dia membujuk orang lain untuk berbuat dosa dan tidak merasa menyesal.

Jadi, dengan tidak menghakimi mereka, berbelas-kasihlah kepada para tahanan. Selalu camkan dalam benak bahwa andai semua pembunuh dan pencuri manusia harus dihukum, maka hanya sedikit saja laki-laki dan perempuan yang tidak akan mati di galley dan di atas perancah. Bagaimana harus kita sebut para ibu itu yang mengandung tetapi tidak ingin melahirkan buah rahimnya? Oh! Janganlah kita bermain kata-kata! Mari kita sebut mereka dengan terus terang dengan nama mereka: 'Pembunuh.' Apakah yang harus kita katakan tentang orang-orang itu yang merampas reputasi dan posisi orang lain? Sebut saja dengan siapa mereka: 'Pencuri.' Apakah sebutan untuk para laki-laki dan perempuan itu, yang berzinah atau menganiaya sanak mereka hingga ke tahap mendorong mereka melakukan pembunuhan atau bunuh diri, dan untuk para penguasa bumi yang menghantar rakyatnya ke keputusasaan dan dari keputusasaan ke kekerasan? Ini dia: 'Pembunuh.' Yah? Apakah tidak ada yang lolos? Jadi dapat kamu lihat bahwa kita hidup tanpa khawatir di antara para penjahat, yang sudah terhindar dari keadilan, yang memadati rumah-rumah dan kota-kota, bersentuhan dengan kita di jalan-jalan, tidur di penginapan yang sama dengan kita, dan berbagi makanan dengan kita. Dan kendati demikian, siapakah yang tanpa dosa? Jika jari Allah harus menulis di dinding ruangan di mana pikiran-pikiran manusia berkembang, yakni di dahi manusia, dengan kata-kata yang menggambarkan orang itu sebagaimana dia dulu, sekarang, atau mendatang, maka akan sangat sedikit yang akan mendapatkan kata: 'Tak Berdosa' tertulis dalam huruf-huruf yang cemerlang. Di dahi-dahi orang akan tercantum kata-kata: 'Pezinah' 'Pembunuh' 'Pencuri' 'Pembantai' dalam huruf-huruf yang sehijau iri hati, atau sehitam pengkhianatan, atau semerah kejahatan.

Jadi, tanpa menjadi sombong, berbelas-kasihlah kepada saudara-saudaramu, yang dari sudut pandang manusia kurang beruntung dibandingkanmu, dan sekarang berada di galley menyilih apa yang tidak kamu silih, meski bersalah atas kejahatan yang sama. Kerendahan hatimu akan lebih sempurna dengan melakukannya.

(7) Menguburkan orang mati

Kontemplasi mengenai kematian merupakan suatu pelajaran hidup. Aku ingin membawa kamu semua ke hadapan kematian dan berkata kepadamu: 'Berupayalah dengan sungguh untuk hidup sebagai orang-orang kudus demi beroleh kematian ini saja: perpisahan sementara tubuh dari jiwa, untuk bangkit sesudahnya dengan jaya untuk selamanya, semua berkumpul bersama dalam kebahagiaan tak terperi.'

Kita semua dilahirkan telanjang. Kita semua akan mati dan jasad fana kita ditakdirkan untuk membusuk. Entah raja atau pengemis, sebagaimana kita dilahirkan demikianlah kita mati. Dan jika kemegahan raja memungkinkan jenazahnya diawetkan untuk jangka waktu yang lebih lama, dekomposisi tetap merupakan takdir dari daging yang mati. Apa itu mumi? Daging? Bukan. Mumi adalah materi yang difosilkan dengan rempah-rempah atau tiruannya, materi yang mengayu. Mumi bukan mangsa cacing, karena telah diubah dan dibakar dengan sari pati, tetapi merupakan mangsa ulat-ulat kayu, seperti halnya kayu tua.

Tetapi debu menjadi debu kembali, sebab Allah bersabda demikian. Meski begitu sebab debu itu membungkus roh dan dihidupkan olehnya, seperti sesuatu yang menyentuh kemuliaan Allah - demikianlah jiwa manusia - kita harus menyimpulkan bahwa itu adalah debu yang dikuduskan, tidak seperti benda-benda yang bersentuhan dengan Tabernakel. Ada setidaknya satu saat ketika jiwa sempurna: saat Allah menciptakannya. Dan meski Dosa merusaknya, merampas kesempurnaannya, sebab Dosa Asalnya, ia masih memberikan keindahan pada materia dan sebab keindahannya berasal dari Allah, suatu tubuh didandani dan patut dihormati. Kita adalah bait suci dan karenanya kita patut dihormati, sebagaimana tempat-tempat di mana Tabernakel berhenti selalu dihormati.

Karenanya, berikanlah kepada orang mati amal kasih dari suatu istirahat yang terhormat sementara menantikan kebangkitan, dan dalam keharmonisan indah tubuh manusia kontemplasikanlah pikiran dan tangan ilahi yang mengandung dan membentuknya dengan begitu sempurna dan hormatilah karya Tuhan juga dalam jenazahnya.

Tetapi manusia bukan hanya daging dan darah. Dia juga jiwa dan pikiran. Yang terakhir ini menderita juga, dan harus dibantu dengan belas kasih.

(1) Mengajari orang yang tidak tahu

Ada orang-orang bodoh yang berbuat salah hanya karena mereka tidak tahu yang baik. Betapa banyak yang tidak tahu atau tahu secara salah hal-hal mengenai Allah dan bahkan mengenai hukum-hukum moral! Mereka lesu bagai orang-orang yang kelaparan sebab tidak ada yang memuaskan rasa lapar mereka dan mereka menderita kekurangan gizi akibat kurangnya kebenaran yang bernutrisi. Pergi dan ajarilah mereka, karena itu sebabnya Aku telah mengumpulkanmu dan Aku mengutusmu. Berikan roti roh kepada yang lapar akan roh. Mengajari orang-orang yang tidak tahu dalam bidang rohani, melegakan rasa lapar orang-orang yang kelaparan. Dan jika suatu ganjaran diberikan untuk sepotong roti yang ditawarkan kepada tubuh yang lesu, agar ia tidak mati, ganjaran apakah yang akan diberikan kepada dia yang memuaskan roh dengan kebenaran abadi dan memberinya hidup abadi? Jangan tamak dengan apa yang kamu ketahui. Itu diberikan kepadamu tanpa biaya atau batasan. Berikanlah tanpa tamak, sebab itu milik Allah, seperti air dari langit, dan hendaknya diberikan sebagaimana ia diberikan kepada kita.

(2) Berdoa untuk orang yang hidup dan yang mati

Jangan tamak atau bangga dengan apa yang kamu ketahui. Tetapi berikan dengan murah hati dan dengan rendah hati. Dan berikan doa kelegaan penuh belas-kasih kepada yang hidup dan yang mati yang haus akan rahmat. Air tidak akan ditolak oleh tenggorokan yang kering. Oleh karenanya, apa yang harus diberikan kepada hati orang-orang hidup yang menderita, dan apa yang dapat menyilih jiwa-jiwa orang mati? Doa, doa yang berlimpah sebab penuh kasih, dan semangat matiraga.

Doa harus tulus, bukan mekanis seperti suara roda di jalanan. Apakah suaranya atau rodanya yang membuat kereta bergerak maju? Adalah roda yang bekerja keras guna menggerakkan kereta. Hal yang sama berlaku bagi doa mekanis vokal dan bagi doa aktif. Yang pertama adalah suara dan tidak lebih. Yang terakhir adalah kerja, di mana kekuatan bekerja keras dan penderitaan meningkat, tetapi ia mencapai tujuannya. Berdoalah lebih melalui sarana matiraga daripada dengan bibirmu dan kamu akan memberikan kelegaan kepada yang hidup dan yang mati, dengan memenuhi perbuatan kedua dari belas kasih rohani. Dunia akan lebih diselamatkan oleh doa-doa mereka yang tahu bagaimana berdoa, daripada oleh dengungan pertempuran yang membosankan.

(3) Menasihati orang yang ragu

Banyak orang percaya di dunia. Akan tetapi mereka tidak percaya teguh. Mereka goyah seolah mereka ditarik ke arah-arah yang berlawanan, dan tanpa maju barang satu langkah pun, mereka mengerahkan kekuatan mereka dengan sia-sia. Mereka adalah orang-orang yang bimbang. Mereka yang ragu berkata: 'tetapi", 'jika', 'dan lalu.' Mereka yang bertanya: 'Akankah sungguh demikian?', 'Dan jika tidak?', 'Bisakah aku?', 'Dan jika aku tidak berhasil?' dan seterusnya. Mereka seperti tumbuhan bearbine [= Convolvulus], yang tidak merambat naik terkecuali mereka mendapatkan sesuatu untuk bertaut, dan bahkan meski mereka mendapatkannya, mereka menjuntai ke sana kemari; dan bukan hanya perlu mencari penopang bagi mereka, tetapi orang harus mengarahkannya ke atas di setiap tautan setiap hari.

Oh! Tumbuhan itu sungguh menguji kesabaran dan belas kasihan orang lebih dari seorang anak yang terbelakang! Tetapi dalam nama Tuhan, jangan tinggalkan mereka! Berikan iman yang cemerlang, kekuatan yang berkobar kepada para tawanan dari dirinya sendiri itu dan dari penyakit kabur mereka. Bimbing mereka menuju matahari dan langit. Jadilah tuan dan bapa bagi pikiran ragu-ragu itu tanpa kenal lelah atau hilang kesabaranmu. Mereka mematahkan semangatmu? Baiklah. Betapa sering kamu mematahkan semangat-Ku dan bahkan lebih lagi Bapa Yang di Surga dan Yang tentunya sering berpikir bahwa Sabda tampaknya telah menjadi Daging dengan sia-sia, sebab manusia masih bimbang bahkan sekarang ketika mereka mendengar Sabda Allah berbicara.

Kamu tidak akan menganggap dirimu lebih berharga dari Allah atau dari-Ku! Jadi bukalah penjara-penjara dari para tawanan 'tapi' dan 'jika' ini. Bebaskan mereka dari belenggu mereka: 'Bisakah aku', 'Jika aku tidak berhasil?' Yakinkan mereka bahwa adalah cukup untuk melakukan yang terbaik dan Allah akan puas. Dan jika kamu melihat mereka jatuh dari penopang mereka, jangan berlalu dengan mengabaikan mereka, tetapi bangkitkan mereka kembali. Seperti ibu, yang tidak akan berlalu bila anak mereka jatuh, tetapi mereka berhenti, mengangkatnya, membersihkannya, menghiburnya dan menggendongnya sampai dia tak lagi takut jatuh. Dan mereka melakukannya selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun apabila kaki-kaki si anak lemah.

Memberi pakaian mereka yang telanjang secara rohani dengan (4) mengampuni orang yang menyakitimu.

Menyakiti adalah melawan amal kasih. Kurangnya amal kasih menjauhkan orang dari Allah. Jadi dia yang menyakiti menjadi telanjang dan hanya pengampunan dari orang yang disakiti dapat mengenakan kembali pakaian pada ketelanjangan yang demikian. Sebab dia membawa Allah kembali padanya. Allah menantikan orang yang disakiti untuk mengampuni sebelum Ia mengampuni keduanya, orang yang disakiti sesama maupun orang yang menyakiti sesama dan menyakiti Allah. Sebab - mari kita mengakuinya - tidak ada seorang pun yang tidak menyakiti Tuhan-nya. Tetapi Allah mengampuni kita jika kita mengampuni sesama kita, dan mengampuni sesama kita jika orang yang disakiti itu mengampuni. Hal itu akan dilakukan padamu seperti kamu melakukannya pada orang lain. Ampuni, oleh karenanya, jika kamu ingin diampuni dan kamu akan bersukacita di Surga atas perilaku amal kasihmu; seperti sehelai mantol bertabur bintang dikenakan pada bahu kudusmu.

(5) Berbelas-kasihlah kepada mereka yang menangis. Mereka telah terluka oleh kehidupan dan hati mereka berduka dalam kasih sayang mereka.

Jangan mengurung diri dalam ketenanganmu seperti dalam sebuah benteng. Menangislah bersama mereka yang menangis, hiburlah mereka yang menderita, lipurlah lara mereka yang telah kehilangan sanak karena kematian. Jadilah bapa bagi anak-anak yatim piatu, anak bagi orangtua, saudara bagi satu sama lain.

Mengasihi. Mengapa hanya mengasihi mereka yang bahagia? Mereka sudah mendapatkan bagian sinar mentari mereka. Kasihilah orang yang menangis. Mereka adalah yang paling kurang disukai dunia. Tetapi dunia tidak menyadari nilai airmata. Kamu tahu. Kasihilah karenanya, mereka yang menangis. Kasihi mereka bila mereka pasrah dalam dukacita mereka. Kasihilah mereka dengan terlebih lagi bila mereka memberontak melawan dukacita mereka. Jangan cela mereka, tetapi dengan lembut yakinkan mereka akan kebenaran dari dukacita dan dan manfaat dari dukacita. Melalui selubung airmata mereka dapat melihat wajah Allah yang berubah rusak, dan airmuka-Nya penuh kesombongan dan dendam. Tidak. Jangan gempar! Itu hanya suatu halusinasi yang diakibatkan oleh demam dukacita. Bantu mereka agar suhunya dapat mereda.

Biarkan iman segarmu bagai es yang dikenakan pada pasien yang mengigau. Dan ketika demam tinggi itu turun dan diikuti dengan ketumpulan dan kemajalan pikir khas dari mereka yang tersadar dari suatu trauma, maka berbicaralah kepada mereka sekali lagi mengenai Tuhan, seolah sesuatu yang baru, dengan lemah lembut dan dengan sabar, seperti yang akan kamu lakukan saat menghadapi anak-anak yang sudah menjadi terbelakang karena penyakit... Oh! Suatu kisah indah, yang diceritakan untuk menghibur orang, si anak abadi! Dan lalu diamlah. Jangan memaksa... Jiwa bekerja dengan sendirinya. Bantu jiwa dengan belaian dan doa. Dan ketika jiwa bertanya, 'Jadi itu tadi bukan Allah?', jawablah: 'Bukan. Ia tidak ingin menyakitimu, sebab Ia mengasihimu, juga atas nama mereka yang tidak lagi mengasihimu karena kematian atau sebab-sebab lain.' Dan ketika jiwa berkata: 'Tapi aku mendakwa-Nya,' katakan: 'Ia telah melupakannya, sebab itu adalah demammu.' Dan ketika jiwa berkata: 'Aku ingin memiliki-Nya,' katakan: 'Ini Dia! Di pintu hatimu, menantikanmu membukanya untuk-Nya.'

(6) Bersabar terhadap orang yang menyusahkan. Mereka datang untuk mengacaukan rumah kecil ego kita, bagai peziarah datang untuk mengacaukan rumah di mana kita tinggal. Tetapi sebagaimana Aku katakan padamu untuk menyambut peziarah, demikianlah Aku katakan padamu untuk menyambut orang-orang ini.

Apakah mereka menyusahkan? Tetapi jika kamu tidak mengasihi mereka, karena masalah yang mereka datangkan atasmu, mereka mengasihimu, kurang lebih dengan benar. Sambutlah mereka karena kasih yang demikian. Dan bahkan meski mereka datang dengan rasa ingin tahu, benci, hinaan padamu, bersabarlah dan beramal-kasihlah. Kamu dapat menyempurnakan mereka melalui kesabaranmu. Tetapi kamu bisa mengguncang mereka melalui kurangnya amal kasihmu. Menyesallah sebab mereka berdosa; tetapi terlebih lagi menyesal membuat mereka berdosa dan membuat dirimu sendiri berdosa. Terima mereka dalam nama-Ku, jika kamu tidak dapat menerima mereka dengan kasihmu sendiri. Dan Allah akan mengganjarimu, dengan datang Sendiri, kelak, untuk membalas kunjungan ini dan membatalkan kenangan yang tidak menyenangkan itu dengan belaian adikodrati-Nya.

(7) Akhirnya berusahalah untuk menguburkan orang-orang berdosa demi mempersiapkan mereka kembali ke Hidup Rahmat. Tahukah kamu bilamana kamu melakukan itu? Ketika kamu menegur mereka dengan desakan yang kebapaan, sabar, penuh kasih. Seolah kamu menguburkan sedikit demi sedikit bagian tubuh yang buruk itu sebelum menyerahkannya ke kuburnya yang menantikan perintah Allah: 'Bangkit dan datanglah kepada-Ku.'

Tidakkah orang-orang Yahudi menyucikan orang mati demi hormat terhadap tubuh, yang akan bangkit kembali? Menegur orang-orang berdosa adalah seperti menyucikan anggota tubuh mereka, prosedur pertama untuk penguburan. Rahmat Tuhan akan melakukan selebihnya. Sucikan mereka melalui amal kasih, airmata, dan kurban. Jadilah pahlawan untuk merenggut suatu jiwa dari kerusakan. Jadilah pahlawan-pahlawan.

Kamu tidak akan dibiarkan tanpa ganjaran. Sebab jika ganjaran diberikan untuk secawan air yang diberikan kepada tubuh yang haus, apakah yang akan diberikan kepada dia yang melegakan suatu jiwa dari kehausan yang mengerikan?

Aku sudah selesai. Itulah perbuatan-perbuatan belas kasih jasmani dan rohani yang meningkatkan kasih. Pergi dan praktekkan. Dan kiranya damai Allah dan damai-Ku sertamu sekarang dan selamanya."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama