273. YESUS BERJALAN DI ATAS AIR           


4 Maret 1944  

Akhir senja, menjelang malam, sebab aku nyaris tak dapat melihat jalanan yang mendaki ke sebuah bukit kecil yang diselimuti pepohonan, yang aku pikir adalah zaitun. Namun cahaya begitu redup hingga aku tak yakin. Pepohonannya tidak tinggi, tetapi rindang dan bengkok, khas zaitun. Yesus sendirian. Ia mengenakan jubah putih dan sehelai mantol biru tua. Ia mendaki dan masuk ke sebuah hutan kecil. Ia melangkah mantap. Ia tidak berjalan cepat, tapi sementara Ia melangkah, Ia berjalan jauh tanpa bergegas. Ia berjalan hingga tiba di semacam balkon alami yang mengatasi sebuah danau, yang damai dan tenang dalam cahaya bintang-bintang yang sudah menghiasi langit bagai mata-mata yang cemerlang. Keheningan melingkupi Yesus dengan rengkuhannya yang mengistirahatkan, melepaskan-Nya dari orang banyak dan dari bumi, membuat-Nya melupakan mereka dan mempersatukan-Nya dengan langit, yang seolah turun untuk menyembah Sang Sabda Allah dan membelai-Nya dengan cahaya bintang-bintangnya.

Ia berdoa dalam postur seperti kebiasaan-Nya: berdiri dengan kedua tangan terentang ke samping. Ada sebuah pohon zaitun di belakang-Nya dan Ia kelihatan seolah sudah disalibkan pada batang pohonnya yang gelap. Sebab Ia tinggi, cabang-cabang yang berdaun hanya sedikit lebih tinggi di atas-Nya dan cabang-cabang itu menggantikan prasasti pada Salib dengan suatu perkataan yang sesuai untuk Kristus. Di sana: "Raja orang Yahudi". Di sini: "Raja Damai". Pohon zaitun yang damai itu menyampaikan kebenaran kepada mereka yang bisa memahaminya. Ia berdoa untuk jangka waktu yang lama. Ia lalu duduk di kaki pohon, di atas sebuah akar tebalnya yang menonjol keluar, dan mengambil sikap kebiasaan-Nya dengan kedua tangan-Nya terlipat di depan dada dan kedua siku-Nya beristirahat di atas kedua lutut-Nya. Ia bermeditasi. Aku bertanya-tanya percakapan apakah gerangan yang dilakukan-Nya dengan BapaNya dan Roh Kudus, sekarang sementara Ia sendirian dan dapat sepenuhnya adalah Allah. Allah dengan Allah!

Aku rasa bahwa berjam-jam berlalu demikian sebab aku melihat bahwa bintang-bintang sudah berubah posisi dan banyak yang sudah tenggelam di barat.

Tepat ketika terang muncul, atau lebih tepatnya luminositas, sebab masih belum dapat disebut terang, mulai kelihatan di cakrawala sebelah timur yang jauh, suatu hembusan angin mengguncang pohon zaitun. Lalu tenang. Lalu angin kembali bertiup dan dengan terlebih kencang dan menjadi semakin dan semakin ganas dalam jeda-jeda pendek. Terang fajar, yang baru saja muncul, mengalami kesulitan membuka jalannya sebab suatu massa awan yang gelap, sudah menyerbu langit, dengan didorong oleh hembusan angin yang semakin dan semakin kencang. Danau juga tidak lagi tenang. Aku pikir itu adalah awal badai seperti yang sudah aku lihat dalam penglihatan angin ribut. Derak cabang-cabang berdaun dan deru air sekarang memenuhi udara, yang beberapa saat lalu begitu tenang.

Yesus bangun dari meditasi-Nya. Ia berdiri dan menatap ke danau. Ia mengamatinya dalam cahaya bintang-bintang yang tersisa dan dari remang fajar yang pucat, dan melihat perahu Petrus, yang berusaha sekuat tenaga untuk mencapai pantai seberang, namun tak dapat. Yesus menarik mantol-Nya erat-erat sekeliling tubuh-Nya, dengan mengangkat ke atas kepala-Nya, seolah sebuah tudung, pinggiran mantol yang menggantung, yang akan menghalangi-Nya menuruni bukit, dan Ia berlari ke bawah, bukan ke jalanan dari mana Ia datang, melainkan ke suatu jalan setapak yang sangat curam, yang menghantar orang langsung ke danau. Ia berlari begitu kencang hingga Ia seolah terbang.

Ketika Ia mencapai pantai yang didera deburan ombak, yang meninggalkan di pantai suatu pinggiran buih yang berdesir lembut, Ia terus berjalan cepat, seolah Ia sedang melangkah bukan di atas elemen cair yang terombang-ambing tiada henti, namun di atas trotoar yang paling kokoh dan paling mulus di bumi. Ia sekarang menjadi terang. Semua cahaya samar yang masih datang dari beberapa bintang yang redup dan dari fajar berbadai seakan berkumpul pada-Nya, menyatu bagai pendaran cahaya sekeliling tubuh ramping-Nya. Ia terbang di atas gelombang-gelombang, puncaknya yang berbuih dan gulungan-gulungan gelap di antara gelombang-gelombang, dengan kedua tangan-Nya direntangkan ke depan, sementara mantol-Nya menggembung sekeliling pipi-Nya dan terkepak-kepak hebat, sebab terikat sekeliling tubuh-Nya, bagaikan sayap.

Para rasul melihat-Nya dan melontarkan seruan ketakutan, yang dibawa angin ke arah Yesus.

"Jangan takut. Ini Aku." Suara Yesus, meski angin menerjang, dihantarkan dengan jelas melintasi danau.

"Apakah itu sungguh Engkau, Guru?" tanya Petrus. "Jika itu Engkau, suruhlah aku datang dan menemui-Mu, dengan berjalan di atas air seperti Engkau."

Yesus tersenyum, "Datanglah." Ia berkata biasa saja, seolah berjalan di atas air adalah hal yang wajar di dunia.

Dan Petrus, yang setengah telanjang, mengenakan hanya sehelai jubah pendek tanpa lengan, melompat keluar dari perahu dan berjalan ke arah Yesus.

Tetapi ketika ia berjarak kira-kira limapuluh yard dari perahu dan masih cukup jauh dari Yesus, ia dicekam ketakutan. Sejauh ini kasihnya menopangnya. Sekarang, kodrat manusianya menguasainya danů bulu kuduknya berdiri. Seperti orang yang berpijak di tanah licin, atau masih lebih baik, di pasir hisap, ia mulai terhuyung-huyung, meraba-raba, tenggelam. Dan semakin ia meraba-raba dan ketakutan, semakin ia tenggelam.

Yesus telah berhenti dan menatapnya. Ia serius dan menanti. Tetapi Ia tidak mengulurkan barang satu jari pun; kedua tangan-Nya terlipat dan Ia tidak mengambil satu langkah maju atau mengucapkan sepatah kata pun.

Petrus perlahan tenggelam. Mata kaki, tulang kering, lututnya menghilang. Air mencapai hingga pinggulnya, naik ke atasnya, hingga ke pinggangnya. Kengerian nampak di wajahnya. Kengerian  juga melumpuhkan pikirannya. Dia tidak lebih dari daging yang takut tenggelam. Dia bahkan tidak berpikir untuk berenang. Tidak. Dia menjadi tumpul oleh ketakutan.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk menatap pada Yesus. Dan begitu ia menatap-Nya, pikirannya mulai pulih dan melihat di mana keselamatan berada. "Guru, Guru-ku, selamatkan aku."  

Yesus membuka lipatan kedua tangan-Nya dan seolah diterbangkan oleh angin atau oleh ombak, Ia bergegas menuju sang rasul dan mengulurkan tangan-Nya seraya berkata: "Oh! betapa manusia yang kerdil imannya. Mengapa kau meragukan-Ku? Mengapa kau ingin melakukannya sendiri? "

Petrus yang mencengkeram tangan Yesus dengan kejang, tidak menjawab. Dia menatap pada-Nya hanya untuk mengetahui apakah Ia marah, dengan bercampur sisa ketakutan dan bangkitnya pertobatan.

Tetapi Yesus tersenyum padanya dan memegang erat pergelangan tangannya, hingga mereka tiba di perahu dan menjangkah masuk ke dalamnya. Lalu Yesus memberi perintah, "Pergilah ke pantai. Dia basah kuyup." Dan Ia tersenyum menatap pada murid yang malu itu.

Gelombang mereda sehingga memudahkan untuk mendarat dan kota yang terlihat di masa lalu dari ketinggian sebuah bukit sekarang perlahan nampak di kejauhan pantai.

Penglihatan berakhir di sini.


___________________________________________________________________________________________

Yesus bersabda:

"Sering kali Aku bahkan tidak menunggu dipanggil, ketika Aku melihat anak-anak-Ku dalam bahaya. Dan sering kali Aku bergegas menolong seorang anak yang tidak tahu berterima kasih kepada-Ku.

Kau tertidur atau kau dicekam kekhawatiran dan kecemasan hidup. Aku mengamati dan berdoa untukmu. Aku adalah Malaikat dari segenap orang dan Aku memeliharamu dan tiada suatu pun yang terlebih mendukakan hati-Ku dari ketidakmungkinan campur tangan-Ku sebab kamu menolak keterlibatan-Ku, sebab kamu memilih untuk bertindak sendiri, atau lebih buruk lagi, kamu meminta yang Jahat untuk membantumu. Seperti seorang bapa yang mendengar anaknya berkata padanya: 'Aku tidak mengasihimu. Aku tidak menginginkanmu. Keluarlah dari rumahku,' Aku dihinakan dan Aku terlebih menderita dibandingkan Aku menderita karena luka-luka-Ku. Walau begitu, jika kamu tidak berkata pada-Ku, 'Enyah', dan kamu tidak peduli hanya karena kekhawatiran hidup, maka Aku Sang Pengawas Abadi siap untuk datang bahkan sebelum Aku dipanggil. Dan jika Aku menunggumu untuk mengucapkan sepatah kata, seperti yang terkadang Aku lakukan, itu hanya demi mendengarmu memanggil-Ku.

Betapa menyenangkan, betapa manis mendengar manusia memanggil-Ku. Mendengar bahwa mereka ingat bahwa Aku adalah 'Sang Juruselamat'. Aku tidak akan menceritakan sukacita tak terhingga yang meliputi dan meninggikan-Ku ketika ada orang yang mengasihi-Ku dan memanggil-Ku tanpa membutuhkan apapun. Dia memanggil-Ku sebab dia mengasihi-Ku lebih dari dia mengasihi siapa pun di dunia dan dipenuhi sukacita, sebab Aku, hanya dengan menyerukan: 'Yesus, Yesus', sebagaimana anak-anak memanggil: 'Mama, mama' dan mereka merasakan manisnya madu di bibir mereka, sebab kata sederhana 'mama' memiliki dalam kata itu sendiri rasa ciuman keibuan.

Para rasul sedang mendayung menaati perintah-Ku untuk pergi dan menantikan-Ku di Kapernaum. Dan Aku, sesudah mukjizat roti, pergi dari kerumunan khalayak ramai, seorang diri, bukan karena Aku meremehkan mereka atau karena Aku lelah. Aku tidak pernah meremehkan manusia, tidak, bahkan ketika mereka bersikap buruk terhadap-Ku. Aku menjadi marah hanya ketika Aku melihat Hukum diinjak-injak atau rumah Allah dicemari. Tetapi itu ketika menyangkut kepentingan Bapa, bukan Aku. Dan Aku ada di bumi sebagai yang pertama dari para abdi Allah, untuk melayani Bapa Surgawi. Aku tiada pernah lelah dalam membaktikan Diri-Ku bagi orang banyak, bahkan ketika Aku melihat mereka begitu tumpul, lamban dan manusiawi hingga mengecilkan hati bahkan mereka yang paling penuh percaya diri dalam misi mereka. Tidak, justru sebab mereka sangat kurang, Aku melipatgandakan pengajaran-Ku hingga tak terbatas, Aku memperlakukan mereka tepat seperti murid-murid yang terbelakang dan Aku membimbing roh mereka dalam penemuan dan inisiasi yang paling mendasar, seperti seorang guru yang sabar membimbing tangan-tangan yang canggung dari para murid untuk membentuk huruf-huruf pertama dan dengan demikian memungkinkan mereka untuk mengerti dan menulis. Betapa besar kasih yang telah Aku berikan kepada orang banyak! Aku menuntun daging mereka untuk membimbing mereka kepada roh. Aku mulai dari daging juga. Tetapi jika Setan, lewat daging, memimpin ke Neraka, Aku memimpin ke Surga.

Aku ingin sendirian saja untuk bersyukur kepada Bapa atas mukjizat roti. Ribuan orang sudah diberi makan. Dan Aku mendorong mereka untuk mengatakan, 'Terima kasih' kepada Tuhan. Tetapi begitu orang ditolong, dia lupa mengatakan 'terima kasih'. Aku yang mengatakannya atas nama mereka. Dan sesudah itu... dan sesudah itu Aku bersatu dengan BapaKu, Yang kasih-Nya begitu Aku rindukan. Aku ada di bumi, tetapi seperti kulit yang tanpa nyawa. Jiwa-Ku tercondong kepada BapaKu, Yang Aku rasakan bersandar pada Sabda-Nya, dan Aku katakan kepada-Nya: 'Aku mengasihi-Mu, Bapa Yang Kudus!' Merupakan suatu sukacita bagi-Ku untuk mengatakan kepada-Nya, 'Aku mengasihi-Mu.' Berkata demikian sebagai seorang Manusia di samping sebagai Allah. Aku merendahkan perasaan-Ku sebagai Manusia, sementara Aku mempersembahkan kepada-Nya degupan hati-Ku sebagai Allah. Aku seolah menjadi magnet yang menarik semua kasih manusia, manusia yang mampu sedikit mengasihi Allah dan Aku menghimpun segala kasih yang demikian dan mempersembahkannya dari lubuk Hati-Ku. Aku seolah menjadi satu-satunya yang ada: Aku, Sang Manusia, yang adalah ras manusia, bercakap-cakap sekali lagi dengan Allah, di suatu senja yang sejuk, seperti pada hari-hari yang tanpa dosa itu.

Akan tetapi, meski berkat-Ku sempurna, sebab itu adalah berkat kasih, hal itu tidak menjauhkan perhatian-Ku dari kebutuhan manusia. Dan Aku menjadi tersadar akan bahaya yang dihadapi anak-anak-Ku di danau. Dan Aku meninggalkan Sang Kasih demi kasih. Cinta kasih harus bersegera.

Mereka menganggap-Ku sebagai hantu. Oh! betapa sering, anak-anak-Ku yang malang, kalian menganggap-Ku hantu, suatu objek yang mengerikan! Jika kalian senantiasa memikirkan Aku, kalian akan segera mengenali-Ku. Tapi ada hantu-hantu lain dalam hatimu, dan itu membuatmu pusing. Tapi Aku membuat Diri-Ku dikenal. Oh! andai saja kalian mendengarkan-Ku!

Mengapa Petrus tenggelam sesudah berjalan sebegitu jauh? Kau mengatakannya: sebab kodrat manusianya menguasai rohnya.

Petrus sangat 'manusia'. Andai itu adalah Yohanes, ia tidak akan berani lancang, pun ia tidak akan berubah pikiran. Kemurnian menganugerahkan kebijaksanaan dan kekuatan. Tetapi Petrus adalah 'manusia' dalam arti yang sebenarnya. Ia sungguh ingin unggul, menunjukkan bahwa 'tak seorang pun' yang mengasihi sang Guru sebagaimana ia mengasihi-Nya, ia ingin menonjolkan diri, dan hanya sebab ia adalah salah seorang rasul-Ku, ia pikir ia mengatasi kelemahan daging. Sebaliknya, Simon yang malang, hasilnya, ketika ia diuji, jauh dari luhur. Tetapi itu perlu, agar ia nantinya menjadi orang yang akan melestarikan kerahiman Sang Guru dalam Gereja yang baru dimulai.

Petrus tidak hanya dikuasai ketakutan akan nyawanya yang terancam maut, tetapi, seperti yang kau katakan, ia menjadi tak lain dari 'daging yang gemetar.' Ia tak lagi berpikir, ia tak lagi menatap-Ku. Kalian semua melakukan hal yang sama. Semakin dekat bahayanya, semakin kalian ingin melakukan sesuatu sendiri. Seolah kalian dapat melakukan sesuatu! Kalian tidak pernah pergi jauh dari-Ku, atau menutup hati bagi-Ku atau bahkan mengutuki-Ku, sementara di jam-jam ketika kalian seharusnya berharap pada-Ku dan berseru pada-Ku. Petrus tidak mengutuki-Ku. Tetapi ia melupakan-Ku dan Aku harus mengajukan kehendak-Ku untuk memanggil rohnya kepada-Ku, supaya ia dapat menatap pada Guru dan Juruselamat-nya.

Aku memberinya absolusi sebelumnya atas dosa keraguannya, sebab Aku mengasihinya, sebab laki-laki impulsif ini, begitu ia dikukuhkan dalam kasih karunia, akan dapat terus maju tanpa gangguan lebih lanjut ataupun keletihan hingga sejauh kemartiran, dan akan tak kenal lelah dalam melemparkan jaring mistiknya demi membawa jiwa-jiwa kepada Guru-nya. Dan ketika ia berseru memohon pertolongan-Ku, Aku tidak berjalan, Aku terbang untuk menolongnya dan Aku menggenggamnya erat-erat untuk membimbingnya menuju keselamatan. Celaan-Ku lunak sebab Aku memahami keadaan-keadaan yang meringankan Petrus. Aku adalah advocata dan hakim terbaik yang ada dan yang akan pernah ada. Atas nama semua orang.

Aku memahami kalian, anak-anak-Ku yang malang! Dan bahkan ketika Aku mengatakan sepatah kata celaan, senyum-Ku melunakkannya. Aku mengasihimu. Itu saja. Aku ingin kamu punya iman. Dan jika kamu sungguh memilikinya, Aku akan datang dan membawamu keluar dari bahaya. Oh! andai Bumi dapat mengatakan, 'Guru, Tuhan, selamatkanlah aku!' Satu seruan, dari seluruh Bumi, akan sudah cukup, dan Setan beserta sektariannya akan segera dikalahkan. Tetapi kamu tidak tahu bagaimana punya iman. Aku melipatgandakan sarana-sarana demi membimbingmu kepada iman. Tetapi sarana-sarana itu jatuh ke dalam lumpurmu seperti batu jatuh ke dalam lumpur rawa dan terbenam di sana.

Kalian tidak mau memurnikan air jiwa kalian, kalian lebih suka menjadi kotoran busuk. Tidak masalah. Aku melakukan tugas-Ku sebagai Sang Juruselamat Abadi. Dan bahkan meski Aku tidak dapat menyelamatkan dunia sebab dunia tidak ingin diselamatkan, Aku akan menyelamatkan dari dunia mereka yang demi mengasihi-Ku, seperti sebagaimana Aku seharusnya dikasihi, bukan lagi dari dunia."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama