270. KEBERANGKATAN KE ARAH TARICHEA           


5 September 1945  

Yesus kembali ke rumah tengah malam. Ia memasuki kebun sayur-mayur dan buah-buahan tanpa suara. Ia menatap sejenak ke dalam dapur yang gelap. Ia melihat ke dalam kedua ruangan di mana ada tikar-tikar dan pembaringan-pembaringan. Semuanya juga kosong. Hanya pakaian-pakaian ganti, yang tertumpuk di lantai, mengatakan bahwa para rasul sudah kembali. Rumah begitu sunyi hingga seolah tak berpenghuni.

Yesus, dengan suara yang lebih senyap dari bayangan, mendaki anak-anak tangga kecil, putih tak bercela dalam putihnya bulan purnama, dan tiba di teras. Ia menyusurinya. Ia seolah roh yang bergerak tanpa suara, roh yang cemerlang. Dalam pijar putih bulan, Ia kelihatan lebih kurus dan lebih tinggi. Dengan satu tangan Ia mengangkat tirai di pintu ruangan atas. Tirai itu telah dibiarkan tertutup sejak para murid Yohanes memasukinya bersama Yesus. Di dalamnya ada para rasul, duduk di sana sini, dalam kelompok ataupun sendirian, bersama murid-murid Yohanes dan Menahem; ada juga Marjiam yang tidur dengan kepalanya di atas lutut Petrus. Bulan menerangi ruangan dengan berkas-berkas sinar pendarnya melalui jendela-jendela yang terbuka lebar. Tak seorang pun berbicara. Dan tak seorang pun tidur, terkecuali si bocah, yang duduk di atas sehelai tikar di lantai.

Yesus memasukinya tanpa suara dan Tomas adalah yang pertama melihat-Nya. "Oh! Guru!" ia berseru kaget.

Semua yang lainnya bangkit berdiri. Petrus dalam kegairahannya, nyaris melompat, namun dia ingat si bocah dan ia bangkit perlahan, dengan menempatkan kepala Marjiam yang berambut gelap ke atas tempat duduknya, dan dengan demikian ia adalah yang terakhir tiba dekat Yesus, sementara sang Guru, dengan suara letih seorang yang telah sangat menderita, menjawab Yohanes, Yakobus dan Andreas, yang mengungkapkan duka mereka kepada-Nya: "Aku mengerti. Tetapi hanya orang yang tidak percaya dapat merasa merana karena kematian. Bukan kita, yang tahu dan percaya. Yohanes tak lagi terpisahkan dari kita. Sebelumnya demikian. Bukan, ia memisahkan kita. Entah bersama-Ku, atau bersamanya. Sekarang, tidak lagi demikian. Di mana ia berada, Aku berada. Ia dekat dengan-Ku."

Petrus dengan kepalanya yang berambut abu-abu menyeruak di antara mereka yang muda dan Yesus melihatnya: "Kau habis menangis juga, Simon anak Yunus?" Dan Petrus dengan suara yang lebih serak dari biasanya: "Ya, Tuhan. Sebab aku dulu murid Yohanes juga. Dan lalu… Malam Sabat yang lalu aku mengeluh bahwa kehadiran kaum Farisi akan menggetirkan Sabat kita! Sekarang ini Sabat yang sungguh getir! Aku membawa si bocah, untuk menikmati Sabat yang lebih menyenangkan… Sebaliknya…"

"Jangan berkecil hati, Simon anak Yunus. Yohanes tidak hilang. Aku mengulangi itu untukmu juga. Dan sebagai gantinya, kita punya tiga murid yang sudah disempurnakan. Di mana si bocah?"

"Di sana, Guru. Dia tidur…"

"Biarkan dia tidur," kata Yesus seraya membungkuk di atas kepala mungil berambut gelap yang tidur dengan damai. Dan Ia bertanya lagi: "Apa kalian sudah makan malam?"

"Belum, Guru. Kami menantikan-Mu dan kami khawatir, sebab Engkau datang lambat, sebab kami tidak tahu di mana harus mencari-Mu… dan kami seolah telah kehilangan Engkau juga."

"Kita masih punya banyak waktu untuk bersama. Baik, siapkan makan malam, sebab sesudahnya kita harus pergi ke suatu tempat. Aku perlu sendirian di antara para sahabat, dan jika kita di sini besok, kita akan selalu dikelilingi orang banyak."

"Dan aku bersumpah pada-Mu bahwa aku tidak akan tahan menghadapi mereka, khususnya ular-ular dari jiwa-jiwa Farisi itu. Dan akan menjadi suatu yang paling menyedihkan jika senyum mengembang di antara mereka mengenai kita di sinagoga!"

"Jadilah baik, Simon!... Aku sudah memikirkan itu juga. Itulah sebabnya mengapa Aku kembali untuk membawa kalian bersama-Ku."

Kegelisahan di wajah mereka dapat lebih jelas terlihat dalam terang dari lampu-lampu kecil yang sudah dinyalakan di kedua ujung meja. Hanya Yesus yang agung berwibawa dan Marjiam yang tersenyum dalam tidurnya.

"Si bocah sudah makan," kata Petrus.

"Jadi, lebih baik biarkan dia tidur," kata Yesus.

Dan di tengah para murid-Nya, Ia menawarkan dan membagikan makanan seadanya, yang disantap tanpa selera. Dan makan malam pun segera berakhir.

"Sekarang katakan pada-Ku apa yang sudah kalian lakukan…" kata Yesus menyemangati.

"Aku pergi bersama Filipus masuk ke desa di Betsaida dan kami menginjili dan menyembuhkan seorang anak laki-laki yang sakit," kata Petrus.

"Sebetulnya adalah Simon yang menyembuhkannya," kata Filipus, yang tidak ingin mendapatkan bagi dirinya kemuliaan yang bukan miliknya.

"Oh! Tuhan! Aku tidak tahu bagaimana aku melakukannya. Aku berdoa khusyuk, dengan segenap hatiku, sebab aku merasa kasihan kepada si kecil yang sakit itu. Aku lalu mengurapinya dengan minyak, aku menggosoknya dengan tangan-tanganku yang kasar… dan dia sembuh. Ketika aku melihat rona tubuhnya kembali dan dia membuka matanya, yakni, ketika aku melihatnya hidup kembali, aku nyaris takut."

Yesus menempatkan tangan-Nya ke atas kepalanya tanpa mengatakan apa pun.  

"Yohanes membuat orang takjub dengan mengusir roh johat. Tapi aku yang harus berbicara," kata Tomas.

"Saudara-Mu Yudas juga melakukannya," kata Matius.

"Andreas juga," kata Yakobus Alfeus.

"Simon Zelot, sebaliknya, menyembuhkan seorang kusta. Oh! dia tidak takut menyentuhnya! Dan dia berkata padaku: 'Jangan takut. Dengan kehendak Allah, tak ada penyakit fisik yang akan menjangkiti kita," kata Bartolomeus.

"Kau benar, Simon. Dan bagaimana dengan kalian berdua?" Yesus bertanya kepada Yakobus Zebedeus dan Iskariot yang sedikit lebih jauh; Yakobus sedang berbicara kepada ketiga murid Yohanes sementara Yudas menyendiri dan sebal hati.

"Oh! Aku tidak melakukan apa-apa," kata Yakobus. Tetapi Yudas melakukan tiga mukjizat mengagumkan: seorang buta, seorang lumpuh, seorang yang kerasukan. Dia kelihatan seperti seorang gila bagiku. Tapi, itulah apa yang dikatakan orang…"

"Dan kau bermuka masam, ketika Allah telah membantumu begitu banyak?" seru Petrus.

"Aku bisa rendah hati juga," kata Iskariot.

"Dan kami menjadi tamu dari seorang Farisi. Aku agak malu. Tetapi Yudas tahu bagaimana menghadapi mereka dan dia sungguh menenangkan si Farisi. Pada hari pertama dia tidak bersahabat, tetapi sesudahnya… Benar kan, Yudas?"

Yudas mengangguk tanpa berbicara.

"Sangat bagus. Dan kalian akan melakukannya dengan semakin baik. Kita akan bersama-sama lagi minggu depan. Sementara itu… Simon, pergi dan siapkanlah perahu. Kau juga, Yakobus."

"Untuk semua orang, Guru? Tidak akan muat buat kita."

"Tak bisakah kau mendapatkan satu perahu lagi?"

"Ya, jika aku minta pada saudara iparku. Aku akan pergi."

"Pergilah. Dan kembalilah segera begitu kau siap. Dan jangan katakan terlalu banyak pada mereka."

Keempat nelayan pergi. Yang lainnya turun ke bawah untuk mengambil tas kantong dan mantol mereka. Menahem tinggal bersama Yesus. Si bocah masih terus tidur.  

"Guru, Engkau akan pergi jauh?"

"Aku belum tahu… Mereka letih dan sedih. Aku juga. Aku berpikir untuk pergi ke Tarichea, masuk ke desa, untuk menyendiri dalam damai…"

"Ada padaku kuda, Guru. Tetapi, jika Engkau mengijinkanku, aku akan ikut jalan danau. Apakah Engkau akan lama di sana?"

"Mungkin sepanjang pekan, tetapi tidak lebih lama."

"Kalau begitu, aku ikut. Guru, berkatilah aku di keberangkatan pertama ini. Dan legakan hatiku dari beban."

"Yang mana, Menahem?"

"Aku merasa bersalah meninggalkan Yohanes. Mungkin, andai aku di sana…"

"Tidak. Saatnya baginya. Dan ia pasti senang melihatmu datang kepada-Ku. Jangan biarkan itu menyedihkanmu. Tidak, berupayalah untuk membebaskan diri dengan segera dan dengan benar dari satu-satunya beban yang kau miliki: kesenangan sebagai manusia. Jadilah rohani, Menahem. Kau bisa. Kau bisa demikian. Selamat tinggal, Menahem. Damai sertamu. Kita akan segera bertemu di Yudea."

Menahem berlutut dan Yesus memberkatinya. Ia lalu membangkitkannya dan menciumnya.

Yang lain-lainnya kembali masuk dan saling bertukar salam, baik para rasul maupun para murid Yohanes. Para nelayan adalah yang terakhir datang. "Kami siap, Guru. Kita bisa pergi."

"Bagus. Katakan selamat tinggal pada Menahem yang tinggal di sini sampai besok sore. Siapkan bahan makanan, bawa air dan mari kita berangkat. Usahakan sedikit mungkin bersuara."

Petrus membungkuk untuk membangunkan Marjiam.

"Jangan, biarkan. Dia bisa menangis. Aku akan mengangkatnya," kata Yesus dan Ia dengan lembut mengangkat si bocah yang merengek sedikit, tetapi secara inting membuat dirinya nyaman dalam gendongan Yesus.

Mereka mematikan lampu-lampu lalu pergi keluar dengan menutup pintu. Mereka turun ke lantai bawah dan di ambang pintu mereka mengucapkan selamat tinggal sekali lagi kepada Menahem, dan lalu, dalam suatu barisan, sepanjang jalanan yang diterangi sinar rembulan mereka menuju ke danau: sebuah cermin raksasa keperakan di bawah bulan di titik zenitnya. Ketiga lampu kecil di haluan perahu, yang sudah berada di air, bagai tiga titik merah di cermin yang bisu. Mereka naik dan mengambil tempat di perahu, para nelayan adalah yang terakhir naik ke perahu. Petrus dan seorang pelayan di perahu di mana Yesus berada, Yohanes dan Andreas di perahu kedua, Yakobus dan seorang pelayan di perahu ketiga.

"Ke manakah kita akan pergi, Guru?" tanya Petrus.

"Ke Tarichea. Tempat di mana kita mendarat sesudah mukjizat Gadara. Tak akan berlumpur sekarang. Dan akan tenang."

Petrus mulai berlayar dan kedua perahu lainnya berlayar mengikutinya. Tak seorang pun berbicara. Hanya ketika mereka sudah di danau terbuka dan Kapernaum lenyap dalam sinar bulan dan benda-benda menghadirkan suatu tampilan yang seragam dalam debu keperakannya, Petrus berkata, seolah dia sedang berbicara kepada kemudi: "Dan aku senang. Mereka akan mencari kita, sayang, dan terima kasih kepadamu, mereka tidak akan menemukan kita."

"Kepada siapa kau berbicara, Simon?" tanya Bartolomeus.

"Kepada perahuku. Tidak tahukah kau bahwa perahu seperti seorang mempelai bagi seorang nelayan? Betapa banyak yang sudah aku ceritakan kepadanya! Lebih banyak dari kepada Porphirea. Guru!... Apakah si bocah terselimuti dengan baik? Udara lembab di danau di waktu malam…"

"Ya. Dengar, Simon, Kemarilah. Aku ingin berbicara kepadamu."

Petrus mempercayakan kemudi kepada pelayan dan datang kepada Yesus.

"Aku katakan Tarichea. Tetapi akan bisa juga berada di sana sesudah Sabat untuk mengucapkan selamat tinggal sekali lagi kepada Menahem. Tak bisakah kau menemukan suatu tempat dekat sini di mana kita dapat tinggal dalam damai?"

"Oh! Guru! Dalam damai untuk kita dan juga untuk perahu-perahu? Untuk perahu-perahu kita harus pergi ke Tarichea atau ke suatu pelabuhan di pantai yang lain. Tetapi jika yang Engkau maksudkan adalah kita, cukuplah untuk masuk ke dalam hutan di balik Yordan, di mana hanya binatang-binatang buas yang akan menemukan-Mu… dan mungkin seorang nelayan serabutan yang sedang mengawasi jaringnya. Kita bisa meninggalkan perahu-perahu di Tarichea. Kita akan di sana saat fajar dan kita akan pergi dengan segera lewat arungan. Mudah menyeberanginya pada masa ini dalam tahun."

"Sungguh baik. Kita akan lakukan itu…"

"Dunia memuakkan-Mu juga, eh? Engkau lebih memilih ikan dan nyamuk, eh? Engkau benar."

"Tidak memuakkan-Ku. Orang tidak boleh muak. Tetapi Aku tidak ingin kau menimbulkan suatu skandal dan Aku ingin mendapatkan penghiburan dalam dirimu pada hari Sabat."

"Guru-Ku!..." Petrus mencium kening Yesus dan pergi seraya menghapus sebutir besar airmata yang memaksa menetes dan mengalir menuruni jenggotnya. Dia kembali ke kemudinya dan dengan mantap mengarahkannya ke selatan; sinar bulan memudar sementara si planet memposisikan diri di balik sebuah bukit, menyembunyikan wajah raksasanya dari pandangan manusia, namun masih menjadikan langit putih dengan terangnya dan danau keperakan di pesisir timur. Sisanya berwarna indigo gelap yang nyaris tak dapat dibedakan dalam terang lampu haluan perahu.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama