261. DI RUMAH DORA DAN FILIPUS           


24 Agustus 1945

Yesus kembali menuju Nazaret melalui sebuah jalan yang melingkar melintasi perbukitan, dengan memanfaatkan naungan dari hutan kecil zaitun dan kebun buah-buahan yang tersebar di wilayah yang subur dan diolah dengan baik ini.

Namun ketika Ia tiba di suatu persimpangan jalan yang memotong jalan ke Ptolemais, Ia berhenti dan berkata: "Marilah kita berhenti di rumah itu, di mana Aku pernah beristirahat sebelumnya, kita akan bersantap, dan sementara matahari bergerak mengitari lintasannya, marilah kita tinggal bersama sebelum kita berpisah lagi. Kita akan pergi menuju Tiberias, BundaKu dan Maria akan pergi ke Nazaret, Yohanes dan Ermasteus ke Sicaminon."

Dengan menyusuri sebuah hutan kecil zaitun mereka mengarahkan langkah kaki mereka menuju sebuah rumah petani yang besar namun rendah, yang berhias pohon ara seperti lazimnya, dan diperindah dengan rangkaian-rangkaian dedaunan yang menggantung dari sebatang pohon anggur yang merambat naik ke tangga luar dan membentangkan cabang-cabangnya ke atas teras.  

"Damai sertamu. Aku sekali lagi di sini."

"Mari Guru. Engkau selalu disambut. Semoga Allah menganugerahkan damai kepada-Mu dan kepada teman-teman-Mu," jawab seorang laki-laki setengah baya yang tengah menyeberangi halaman dengan membawa sepemeluk kayu bakar. Dia lalu berseru: "Sara! Sara! Guru di sini bersama murid-murid-Nya. Tambahkan lebih banyak tepung ke adonan rotimu!"

Seorang perempuan yang belepotan tepung keluar dari salah satu ruangan. Dia jelas tadinya sedang mengayak, sebab dia masih memegang di tangannya sebuah pengayak dengan kulit gandum di dalamnya; dia berlutut di depan Yesus dengan tersenyum.

"Damai sertamu, perempuan. Aku membawa BundaKu padamu, seperti yang Aku janjikan. Ini Dia. Dan ini saudari iparnya, ibunda Yakobus dan Yudas. Di mana Dina dan Filipus?"

Perempuan itu, sesudah menyalami kedua Maria, menjawab: "Dina baru saja melahirkan bayi perempuannya yang ketiga kemarin. Kami sedikit kecewa, sebab kami masih belum diberi seorang cucu laki-laki. Tetapi kami bahagia juga, bukan begitu Matatias?"

"Ya, sebab dia bayi yang cantik dan dia selalu adalah darah daging kami. Kami akan memperlihatkannya pada-Mu. Filipus pergi untuk menjemput Anna dan Naomi dari orangtuanya yang sudah lanjut usia, tapi dia akan segera kembali."

Perempuan itu kembali ke pemanggangannya sementara si laki-laki, sesudah meletakkan kayu bakar ke dalam oven, melayani para tamu dengan menawarkan tempat duduk dan susu segar, jika mereka mau, atau buah-buahan dan zaitun, jika mereka lebih suka itu.

Ruangan di lantai dasar sejuk dan teduh, luas dengan dua buah pintu, yang satu di depan, yang lain di belakang; pintu pertama dinaungi oleh sebatang pohon ara besar, pintu kedua dinaungi oleh sebuah pagar tanam-tanaman yang tinggi dengan bunga-bunga berbentuk bintang, yang bentuknya mirip bunga matahari, tetapi dengan helai-helai bunga yang lebih kecil. Demikianlah seberkas cahaya hijau emerald memasuki ruangan besar itu, yang sungguh merupakan suatu kelegaan bagi mata yang letih oleh cahaya terik matahari. Ada bangku-bangku dan meja-meja dalam ruangan, yang mungkin adalah ruangan di mana para perempuan memintal dan menenun dan para lelaki memperbaiki perkakas pertanian mereka atau menyimpan persediaan tepung dan buah-buahan, sebagaimana tampak dari beberapa tiang kecil dengan banyak cantelan dan papan-papan, di samping lemari-lemari panjang sepanjang tembok. Rami linen yang seperti benang rambut halus tampak bagai jalinan-jalinan longgar, tergantung di tembok yang dilabur putih, dan sehelai kain merah menyala yang dibentangkan di atas sebuah peralatan tenun yang tidak ditutupi tampak menyemarakkan seluruh ruangan dengan warna terangnya yang mencolok.

Nyonya rumah, yang sudah selesai memanggang, kembali dan menanyai para tamu apakah mereka ingin melihat bayi yang baru dilahirkan itu.

Yesus menjawab: "Aku pasti akan memberkatinya."     

Maria, sebaliknya, berdiri dengan berkata: "Aku akan datang dan menyalami ibunya."

Semua perempuan pergi keluar.

"Sungguh sangat nyaman di sini," kata Bartolomeus yang jelas sangat letih.

"Ya. Tenang dan teduh. Kita semua pasti akan tertidur," tegas Petrus, yang sudah mengantuk.

"Tiga hari lagi kita akan berada di rumah untuk jangka waktu yang lama. Kalian akan dapat beristirahat sebab kalian akan pergi menginjili di daerah sekitar," kata Yesus.

"Dan bagaimanakah dengan Engkau?"

"Aku akan tinggal di Kapernaum sebagian besar waktu, sesekali pergi ke Betsaida. Dan Aku akan menginjili mereka yang mengabungkan diri dengan-Ku di sana. Lalu, pada bulan Tisyri kita akan mulai menjelajahi negeri kembali. Semetnara itu, Aku akan mengajar kalian di sore hari…"

Yesus terdiam sebab Ia melihat bahwa tidur menjadikan perkataan-Nya sia-sia. Ia menggelengkan kepala-Nya sembari tersenyum, sementara menyaksikan kelompok yang dikuasai rasa letih itu tertidur dengan mengambil posisi yang paling nyaman. Ada keheningan bisu dalam rumah dan di negeri yang bermandikan sinar matahari. Suatu tempat yang memikat hati. Yesus menuju pintu yang dekat pagar tanam-tanaman bunga dan melalui cabang-cabangnya Ia menatap pada perbukitan Galilea yang damai, yang diselimuti pepohonan zaitun yang masih abu-abu.

Suara samar tapak kaki terdengar di atas kepala-Nya bersamaan dengan tangisan ragu seorang bayi yang baru dilahirkan. Yesus mendongak dan tersenyum pada BundaNya Yang turun dengan menggendong dalam buaian-Nya sebuah buntalan kecil putih dari mana tiga bagian mungil kemerahan muncul: kepala yang mungil dan dua kepalan tangan mungil yang aktif bergerak.

"Lihat, Yesus, sungguh bayi yang elok! Dia ada miripnya dengan-Mu ketika Engkau baru berusia sehari. Rambut-Mu begitu terang warnanya, hingga Engkau tampak seperti tak memiliki rambut, jika saja berkas-bekasnya tidak dinaikkan dalam ikalan-ikalan tipis seperti awan wol, dan Engkau semerah mawar juga. Dan lihat, lihat, sekarang sesudah dia membuka mata mungilnya di sini di keteduhan dan dia mencari dada ibunya, matanya biru gelap, seperti mata-Mu… Oh! sayang! Tapi Aku tidak punya susu, kecil-Ku sayang, mawar kecil-Ku, merpati kecil-Ku!" dan Bunda Maria meninabobokan si bayi yang lalu berhenti menangis dan tertidur, dengan terkecap-kecap bak seekor merpati kecil.   

"Bunda, apakah Engkau melakukan itu juga pada-Ku?" tanya Yesus sementara mengamati BundaNya meninabobokan si bayi, dengan pipi-Nya ditempelkan pada kepala mungil berambut terang itu.

"Ya, Nak. Tapi Aku menyebut-Mu 'anak domba kecil-Ku'. Dia cantik, ya kan?"  

"Sangat cantik dan kuat. Ibunya boleh bangga padanya," tegas Yesus, Yang juga membungkuk untuk mengamati tidurnya si kanak-kanak tak berdosa itu.

"Sayangnya tidak… Suaminya marah sebab semua anaknya perempuan. Memang benar bahwa laki-laki lebih berguna untuk ladang-ladang yang kami punya. Tapi ini bukan salah puteri kami…" desah nyonya rumah yang baru saja datang.

"Mereka masih muda. Biarkan mereka saling mencintai dan mereka akan punya anak-anak lelaki juga," kata Tuhan mantap.

"Ini Filipus… Dia akan murung sekarang…" erang si perempuan yang sedih hati itu. Dan dengan suara yang lebih lantang dia berkata: "Filipus, Rabbi Nazaret ada di sini."

"Aku senang bertemu dengan-Nya. Damai serta-Mu, Guru."

"Dan sertamu, Filipus. Aku melihat bayimu yang cantik. Dan Aku masih menatapnya, sebab dia sungguh patut dipuji. Allah memberkatimu dengan anak-anak yang cantik, sehat dan baik. Kau sepatutnya sangat bersyukur kepada-Nya… Tidakkah kau menjawab Aku? Kau kelihatan kesal…"  

"Aku tadinya berharap anak laki-laki!"

"Kau tak hendak mengatakan pada-Ku bahwa kau tidak adil dengan mendakwa kanak-kanak tak berdosa ini sebab dia perempuan atau kau tidak akan berlaku keras terhadap istrimu?" tanya Yesus dengan keras.

"Aku ingin anak laki-laki! Demi Tuhan dan demi diriku sendiri!" seru Filipus geram.

"Dan apa kau pikir bahwa kau akan mendapatkannya melalui ketidakadilan dan pemberontakan? Apa kau mungkin sudah membaca pikiran Allah? Apa kau lebih tinggi dari-Nya sehingga kau dapat berkata kepada-Nya: 'Lakukan itu sebab itu adil?' Murid perempuan-Ku ini tidak punya anak, misalnya. Dan meski begitu dia berkata pada-Ku: 'Aku memberkati kemandulanku yang memberiku sayap untuk mengikuti-Mu.' Dan murid ini, ibu dari empat putera, antusias agar keempatnya bukan lagi menjadi miliknya. Benar begitu, Maria dan Susana? Apa kau mendengarnya? Sementara kau, meski baru menikah beberapa tahun dengan seorang perempuan yang subur, dan diberkati dengan tiga kuntum mawar yang mendamba kasihmu, kau marah? Kepada siapa? Kenapa? Kau tak hendak mengatakannya pada-Ku? Baiklah, Aku akan mengatakannya padamu sebab kau egois. Simpan perasaan burukmu itu. Bukalah tanganmu untuk kanak-kanak ini yang dilahirkan dari benihmu dan sayangilah dia. Ayo! Gendong dia!" dan Yesus mengambil buntalan linen kecil dan menempatkannya dalam gendongan si ayah muda. Dia lalu kembali berkata: "Pergilah kepada istrimu, yang sekarang sedang menangis, dan katakan padanya bahwa kau mencintainya. Atau Allah sungguh tidak akan pernah memberimu seorang anak laki-laki. Aku mengatakannya padamu. Pergilah!..."

Laki-laki itu naik ke kamar istrinya.

"Terima kasih, Guru!" bisik ibu mertuanya. "Dia bersikap sangat kasar sejak kemarin…"

Laki-laki itu turun sesudah beberapa menit dan mengatakan: "Aku sudah melakukannya, Tuhan-ku. Dia berterima kasih kepada-Mu. Dan dia menyuruhku untuk meminta-Mu memberi nama bayi ini sebab… dalam kegeramanku yang tidak adil aku sudah memutuskan sebuah nama yang terlalu jelek…"

"Namai dia Maria. Dia sudah menghisap airmata kegetiran bersama tetes pertama susunya, yang juga getir sebab kekerasanmu, supaya dia dapat dipanggil Maria dan Maria akan mengasihinya. Betul begitu, Bunda?"

"Tentu saja, kecil sayang yang malang. Dan dia begitu cantik. Dan dia pasti akan menjadi seorang yang baik dan menjadi sebuah bintang kecil dari Surga."

Mereka kembali masuk ke ruangan besar di mana para rasul tertidur pulas, terkecuali Yudas, yang kelihatan tegang dan gelisah.

"Kau membutuhkan-Ku, Yudas?" tanya Yesus.

"Tidak, Guru, tapi aku tidak bisa tidur dan aku ingin pergi keluar sebentar."

"Siapa yang menahanmu? Aku juga hendak pergi keluar. Aku akan naik ke bukit kecil itu. Sepenuhnya teduh… Aku akan beristirahat dengan berdoa. Apa kau mau ikut dengan-Ku?"

"Tidak, Guru. Aku akan mengganggu-Mu sebab aku tidak dalam kondisi yang baik untuk berdoa. Mungkin… mungkin aku kurang enak badan dan itu tidak mengenakkanku…"

"Jadi, tinggallah di sini. Aku tidak memaksa siapa pun. Selamat tinggal. Selamat tinggal, para perempuan. Bunda, jika Yohanes En-Dor bangun, suruhlah dia datang pada-Ku, sendirian saja."

"Ya, Nak. Damai serta-Mu."

Yesus pergi keluar, Maria dan Susana membungkuk untuk mengamati kain di atas peralatan tenun. Maria duduk dengan kedua tangan-Nya di atas pangkuan, sedikit membungkuk. Mungkin Ia sedang berdoa juga. Maria Alfeus segera bosan mengamati tenunan. Dia duduk di pojok yang paling gelap dan segera tertidur.

Susana berpikir bahwa itu adalah ide yang baik dan mengikutinya.

Hanya Maria dan Yudas yang terjaga: yang pertama tenggelam dalam pikiran-Nya, yang terakhir mengamati-Nya dengan tatapan yang terbuka lebar, yang tiada pernah beralih dari-Nya. Pada akhirnya dia bangkit dan menghampiri-Nya perlahan dan tanpa suara. Kendati dia seorang pemuda yang sungguh teramat tampan, dia memberiku kesan akan seekor kucing atau ular yang tengah menghampiri mangsanya, aku tidak tahu mengapa. Mungkin sebab aku tidak suka padanya, aku merasa bahwa setiap langkahnya adalah tipu daya dan berbahaya… Dia memanggil-Nya dengan suara lirih: "Maria!"

"Apa yang kau inginkan dari-ku, Yudas?" Maria bertanya lembut menatap padanya dengan mata-Nya yang paling penuh kasih.

"Aku ingin berbicara dengan-Mu…"

"Berbicaralah. Aku mendengarkan."

"Tidak di sini… Aku tidak ingin seorang pun mendengarku… Maukah Engkau pergi keluar sana sebentar? Di sana juga teduh…"

"Marilah pergi… Tapi lihat. Mereka semuanya tidur… kau bisa berbicara di sini juga," kata Santa Perawan. Namun demikian Ia bangkit berdiri dan pergi keluar mendahuluinya dan bersandar pada pagar tanam-tanaman berbunga yang tinggi.

"Apa yang kau inginkan dari-Ku, Yudas?" Ia bertanya lagi, dengan menatap tajam pada si rasul yang kelihatan merasa agak tidak enak dan sulit berbicara. "Apa kau tidak enak badan? Atau apa kau sudah melakukan sesuatu yang salah dan kau tidak tahu bagaimana mengatakannya? Atau apa kau merasa bahwa kau dalam tahap hendak melakukan sesuatu yang salah dan merupakan beban bagimu untuk mengakui bahwa kau tergoda? Bicaralah, nak. Sebagaimana Aku menyembuhkan tubuhmu, Aku akan menyembuhkan jiwamu. Katakan pada-Ku apa yang membuatmu gelisah, dan jika Aku dapat, Aku akan membantumu. Jika Aku tidak dapat melakukannya sendiri, Aku akan mengatakannya pada Yesus. Bahkan meski kau sudah melakukan suatu dosa berat, Ia akan mengampunimu jika Aku meminta-Nya. Sungguh, Yesus akan segera mengampunimu, juga… Tapi mungkin kau malu kepada-Nya, sang Guru. Aku seorang ibunda… Aku tidak membuat siapa pun merasa malu."   

"Tidak, tidak akan, sebab Engkau seorang ibunda dan Engkau begitu baik. Engkau adalah damai bagi kami semua. Aku merasa… sangat gelisah. Aku punya karakter yang sangat jahat, Maria. Aku tidak tahu apa yang ada dalam darahku dan dalam hatiku… Terkadang aku tak lagi dapat mengendalikannya… dan lalu aku akan melakukan hal-hal yang paling ganjil… dan paling buruk."

"Bahkan bersama Yesus dekatmu, tidak dapatkah kau melawan pencobaan?"

"Ya. Dan aku menderita karenanya, percayalah. Begitu adanya. Aku seorang celaka yang malang."

"Aku akan berdoa untukmu, Yudas."

"Itu tidak cukup."

"Aku akan meminta orang-orang benar berdoa untukmu tanpa memberitahukan pada mereka untuk siapa doa itu."

"Itu tidak cukup."

"Aku akan meminta anak-anak berdoa. Ada begitu banyak dari mereka yang datang kepada-Ku, di kebun sayur-mayur dan buah-buahan-Ku, seperti burung-burung kecil yang mencari biji jagung. Dan belaian-Ku dan perkataan yang Aku ucapkan kepada mereka adalah biji jagung bagi mereka. Aku berbicara kepada mereka mengenai Allah… Dan mereka, jiwa-jiwa kecil yang tak berdosa, lebih memilih itu daripada permainan dan dongeng. Doa kanak-kanak menyenangkan bagi Tuhan."

"Tidak semenyenangkan doa-Mu. Tapi itu masih tidak cukup."

"Aku akan meminta Yesus untuk berdoa kepada Bapa untukmu."

"Itu masih belum cukup."

"Lebih dari itu adalah mustahil! Doa Yesus menaklukkan juga roh-roh jahat…"   

"Ya, tetapi Yesus tidak akan selalu berdoa. Dan aku akan kembali menjadi diriku sendiri… Yesus selalu mengatakan demikian, Ia akan pergi suatu hari, aku harus memikirkan saat ketika aku akan tanpa-Nya. Yesus sekarang hendak mengutus kami untuk menginjili. Aku takut pergi bersama dengan musuhku ini, yang adalah diriku sendiri, untuk mewartakan Sabda Allah. Aku ingin sudah sempurna."

"Tetapi, nak, jika bahkan Yesus tidak berhasil, siapakah yang akan pernah dapat melakukannya?"

"Engkau, Bunda! Ijinkan aku tinggal beberapa waktu lamanya bersama-Mu. Orang-orang kafir dan para pelacur sudah tinggal bersama-Mu. Jadi, aku boleh tinggal juga. Jika Engkau tidak menghendaki aku berada di mana Engkau tinggal, pada malam hari aku akan pergi dan tidur di rumah Alfeus dan Maria Klopas, tetapi aku akan melewatkan siang hari bersama-Mu dan anak-anak. Di masa lalu aku mencoba melakukan hal-hal sendiri, dan menjadikan situasinya bertambah buruk. Jika aku pergi ke Yerusalem, aku punya terlalu banyak teman yang jahat dan dalam situasiku sekarang, apabila aku merasa seperti ini, aku akan menjadi bahan tertawaan mereka… Sama halnya jika aku pergi ke kota lain manapun. Pencobaan di perjalanan membakarku dengan pencobaan ini yang sudah aku punyai. Jika aku pergi ke Keriot, ke rumah ibuku, aku akan menjadi budak kesombongan. Jika aku undur diri ke suatu tempat terpencil, kesunyian akan mengoyakku dengan suara-suara Setan. Tapi jika aku tinggal bersama-Mu, oh! Aku merasa bahwa itu akan berbeda!... Ijinkan aku ikut! Katakan pada Yesus untuk mengijinkanku melakukan ini! Apakah Engkau ingin aku sesat? Apakah Engkau takut padaku? Engkau menatapku dengan wajah bagai seekor rusa terluka yang tanpa sisa daya untuk meloloskan diri dari penyerangnya. Tetapi aku tidak akan menyakiti-Mu. Aku punya seorang ibu juga … dan aku lebih mengasihi-Mu darinya. Kasihanilah aku seorang berdosa, Maria! Lihat: aku menangis di kaki-Mu… Jika Engkau menolakku, itu akan menjadi kematian rohaniku…" dan Yudas sungguh menangis di kaki Maria; Ia menatap padanya dan mata-Nya penuh belas-kasihan dan derita bercampur takut. Ia sangat pucat.

Namun Ia maju selangkah, sebab Ia nyaris tenggelam dalam pagar tanam-tanaman guna menjauhkan diri dari Yudas yang menghampiri-Nya terlalu dekat, dan Ia menumpangkan tangan ke atas rambut Yudas yang gelap. "Tenanglah, jika tidak mereka akan mendengarmu! Aku akan berbicara kepada Yesus. Dan jika Ia setuju… kau akan ikut ke rumah-Ku. Aku mengesampingkan pemikiran dunia. Itu tidak menyakiti jiwa-Ku. Aku dicekam kengerian hanya jika Aku bersalah kepada Allah. Fitnah tidak membuatku bergeming. Tak seorang pun akan berbicara buruk mengenai Aku sebab Nazaret tahu bahwa Puteri-nya tidak akan menimbulkan skandal bagi kota-Nya. Bagaimanapun, terjadilah apa yang akan terjadi, Aku sangat ingin agar kau dapat menyelamatkan jiwamu. Sekarang aku akan pergi kepada Yesus. Damai sertamu." Dan Ia membungkus Diri-Nya dengan kerudung-Nya, yang putih seperti warna gaun-Nya, dan Ia berjalan bergegas sepanjang jalan setapak yang menghantar naik ke sebuah bukit kecil yang diselimuti pepohonan zaitun.

Ia mencari YesusNya dan menemukan-Nya tenggelam dalam meditasi. "Nak, ini Aku… Dengarkanlah Aku!"

"Oh! Bunda! Apakah Engkau datang untuk berdoa bersama-Ku? Betapa sukacita dan kelegaan yang Engkau berikan pada-Ku!"

"Ada apa, Nak? Apakah jiwa-Mu menderita? Apakah Engkau sedih? Katakanlah pada BundaMu!"

"Engkau sudah mengatakannya, menderita dan letih. Bukan terutama karena kerja atau kemalangan yang Aku lihat dalam hati orang-orang, melainkan tak dapat berubahnya para sahabat-Ku. Tetapi Aku tidak ingin tidak adil terhadap mereka. Satu saja yang mengkhawatirkan-Ku: Yudas anak Simon…"

"Nak, Aku datang untuk berbicara pada-Mu mengenai dia…"

"Apakah dia sudah bersalah pada-Mu? Apakah dia sudah menyedihkan-Mu?"        

"Tidak. Tetapi aku merasa iba padanya seperti Aku akan merasa iba jika Aku melihat seorang yang sangat cemar… Anak yang malang! Betapa sakit jiwanya!"

"Dan Engkau merasa iba padanya? Engkau tak lagi takut padanya? Engkau dulu…"

"Nak, iba hati-Ku bahkan terlebih besar dari rasa takut-Ku. Dan Aku ingin membantu-Mu dan membantunya untuk menyelamatkan jiwanya. Kau dapat melakukan segalanya, dan Engkau tidak membutuhkan-Ku. Tetapi Engkau katakan bahwa semua orang harus bekerjasama dengan Kristus dalam penebusan… dan anak itu begitu sangat butuh ditebus!"

"Apakah lagi yang dapat Aku lakukan untuknya selain dari apa yang sudah Aku lakukan?"

"Tak ada lagi yang dapat Kau lakukan. Tapi Kau dapat membiarkan-Ku melakukannya. Dia meminta-Ku untuk mengijinkannya tinggal di rumah kita sebab dia pikir bahwa dia akan dapat mengenyahkan monsternya di sana… Kau menggelengkan kepala-Mu? Kau tidak menghendakinya? Aku akan mengatakan padanya…"

"Bukan, Bunda. Bukan Aku tidak menghendakinya. Aku menggelengkan kepala-Ku sebab Aku tahu bahwa itu sia-sia. Yudas adalah seperti orang yang tengah tenggelam dan meski dia sadar bahwa dia tengah tenggelam, karena kesombongannya dia menolak tali yang sudah dilemparkan kepadanya guna menariknya ke tepian. Dia tidak punya kemauan untuk tiba di tepian. Sesekali, dia ngeri akan tenggelam dan dia mencari dan meminta pertolongan, dia bertaut pada tali… dan lalu, dikuasai sekali lagi oleh kesombongan, dia menolak pertolongan, menepiskannya, dia ingin mandiri… dan dia menjadi semakin dan semakin berat sebab air berlumpur yang menelannya masuk. Tetapi sebab Aku ingin melakukan tugas-Ku dengan seksama, maka biarlah hal itu terjadi juga, Bunda yang malang… Ya, Bunda yang malang, sebab Engkau menyerahkan Diri-Mu Sendiri, demi kasih pada suatu jiwa, pada penderitaan bahwa ada dekat-Mu… seorang yang menakutkan-Mu."

"Tidak, Yesus. Jangan berkata begitu. Aku ini seorang perempuan malang sebab Aku masih tunduk pada antipati. Celalah Aku. Aku pantas untuk itu. Tidak seharusnya Aku merasa enggan terhadap siapa pun, demi Engkau. Itulah sebabnya mengapa Aku adalah seorang perempuan malang. Oh! Aku berharap Aku dapat mengembalikan pada-Mu Yudas dalam keadaan sembuh secara rohani! Memberimu suatu jiwa adalah memberi-Mu suatu harta. Dan orang yang memberikan suatu harta bukanlah seorang yang malang. Nak!... Haruskah Aku pergi dan mengatakan pada Yudas bahwa hal itu boleh, bahwa Engkau setuju? Engkau pernah mengatakan: 'Harinya akan tiba ketika Engkau akan berkata: "Betapa sulitnya menjadi Bunda Sang Penebus."' Aku sudah pernah mengatakannya sekali… untuk Aglae… Tapi apa artinya satu kali? Umat manusia begitu banyak jumlahnya! Dan Engkau adalah Penebus segenap umat manusia. Nak!... Nak!... Seperti Aku membawa bayi mungil itu dalam tangan-tangan-Ku guna membawanya kepada-Mu untuk diberkati, biarkan Aku membawa Yudas dalam tangan-tangan-Ku, supaya Aku dapat membawanya pada berkat-Mu…"

"Bunda… Bunda… Dia tak pantas mendapatkan Engkau…"

"Yesus, ketika Kau ragu untuk memberikan Marjiam kepada Petrus, Aku katakan pada-Mu bahwa hal itu akan berguna baginya. Kau tak dapat menyangkal bahwa Petrus sudah menjadi manusia baru sejak saat itu… Biarkan Aku mencobanya dengan Yudas."

"Terjadilah seturut kehendak-Mu! Dan kiranya Engkau diberkati sebab niat kasih-Mu kepada-Ku dan Yudas! Sekarang marilah kita berdoa bersama, Bunda. Sungguh menyenangkan berdoa bersama-Mu!..."

… Matahari baru mulai tenggelam ketika aku melihat mereka berangkat dari rumah yang memberi mereka tumpangan.

Yohanes En-Dor dan Ermasteus berpamitan pada Yesus begitu mereka tiba di jalanan. Maria, bersama para perempuan, sebaliknya melanjutkan perjalanan bersama PutraNya menyusuri suatu jalan melintasi hutan-hutan kecil zaitun di perbukitan. Mereka membicarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi hari itu.

Petrus berkata: "Filipus pasti sudah gila! Dia nyaris hendak tidak mengakui istri dan anaknya, andai Engkau tidak di sana untuk membuatnya mendengarkan pertimbangan akal sehat."

"Marilah kita berharap bahwa dia akan bertekun dalam pertobatannya dan dia tidak punya perangai buruk lainnya terhadap perempuan. Bagaimanapun… adalah karena perempuan dunia ini terus berlangsung," kata Tomas, dan banyak yang lainnya tertawa atas canda cerdasnya itu.

"Memang benar. Tetapi mereka lebih tidak tahir dibandingkan kita dan…" jawab Bartolomeus.

"Tidak pernah! Sehubungan dengan ketidaktahiran… kita juga bukan malaikat! Sekarang, aku ingin tahu apakah sesudah Penebusan akan selalu sama halnya bagi kaum perempuan. Mereka mengajarkan pada kita untuk menghormati ibu, dan menaruh hormat pada saudari, puteri, bibi, anak perempuan dan saudari ipar dan lalu… Terkutuklah di sini, terkutuklah di sana! Bait Allah tidak perlu dikatakan. Berulang kali kita tidak diperkenankan menghampiri mereka… Hawa berdosa? Setuju. Tetapi Adam juga berdosa. Tuhan menghukum Hawa… dan dengan sangat keras. Tidakkah itu cukup?"

"Tomas! Musa juga menganggap perempuan tidak tahir."

"Dan Musa, tanpa perempuan, sudah pasti tenggelam… Tapi, ingatlah Bartolomeus, meski aku tidak seterpelajar sepertimu, sebab aku hanya seorang pandai emas, aku ingatkan kau bahwa Musa menyebutkan ketidaktahiran jasmaniah perempuan supaya kita menghormati mereka, bukan untuk mengutuk mereka."

Debat semakin sengit. Yesus, Yang berada di depan mereka bersama para perempuan dan Yohanes serta Yudas Iskariot, berhenti dan dengan berbalik ke belakang Ia masuk ke dalam diskusi: "Ada di depan Tuhan suatu bangsa yang secara moral dan secara rohani tanpa karakter yang jelas dan tercemar oleh relasi dengan para penyembah berhala. Ia menghendaki menjadikan bangsa itu secara fisik dan secara rohani kuat. Demikianlah ajaran-ajaran yang Ia berikan adalah ajaran-ajaran yang berguna baik bagi kekuatan fisik maupun kejujuran moral. Ia tidak dapat berbuat lain untuk mengendalikan nafsu manusia dan dengan demikian menghindarkan pengulangan dosa-dosa yang menyebabkan bumi ditenggelamkan dan Sodom dan Gomora dibumihanguskan. Tetapi, di masa mendatang perempuan yang sudah ditebus tidak akan ditindas seperti dia sekarang. Larangan-larangan sehubungan dengan kebijakan fisik akan tetap, tetapi halangan-halangan untuk kedatangannya kepada Tuhan akan disingkirkan. Aku sudah menyingkirkannya guna mempersiapkan imam-imam perempuan pertama dari era mendatang."

"Oh! Akan adakah imam-imam perempuan?!" tanya Filipus yang nyaris terpaku.

"Jangan salah mengerti Aku. Mereka tidak akan menjadi imam-imam seperti kaum laki-laki, mereka tidak akan mengkonsekrasikan dan tidak akan melayani karunia-karunia Allah, yang sekarang masih belum dapat kalian mengerti. Tetapi mereka akan termasuk dalam golongan imam [sacerdotal], yang bekerjasama dalam banyak cara dengan para imam demi kepentingan jiwa-jiwa."

"Apakah mereka akan berkhotbah?" tanya Bartolomeus tercengang.

"Seperti BundaKu telah berkhotbah."

"Akankah mereka melakukan ziarah apostolik?" tanya Matius.

"Ya. Mereka akan sangat maju dalam iman, dan harus Aku akui, dengan kegagah-beranian yang lebih besar dari kaum laki-laki."

"Akankah mereka melakukan mukjizat?" tanya Iskariot tertawa.

"Sebagian akan melakukan mukjizat-mukjizat juga. Tetapi jangan anggap mukjizat sebagai hal esensial. Mereka, sebab adalah para perempuan yang kudus, akan melakukan banyak mukjizat pertobatan melalui doa-doa mereka."

"Huh! Akankah perempuan berdoa hingga tahap melakukan mukjizat!" gerutu Natanael.

"Jangan berpikiran sempit seperti ahli Taurat, Bartolomeus. Apa itu doa menurutmu?"

"Menyapa Allah dengan sarana rumusan yang kita kenal."

"Itu dan lebih lagi. Doa adalah percakapan dari hati dengan Allah dan itu sepatutnya menjadi keadaan habitual manusia. Perempuan, sebab hidup mereka yang lebih terbatasi dari kita dan sebab kemampuan afeksi mereka yang lebih kuat dari kita, lebih condong pada percakapan yang demikian dengan Allah dibandingkan kita. Mereka menemukan penghiburan atas penderitaan mereka di dalamnya, kelegaan dalam pekerjaan mereka, yang bukan hanya pekerjaan dalam rumah dan dalam prokreasi, melainkan juga dalam menoleransi kita, kaum laki-laki; mereka menemukan apa yang menghapus airmata mereka dan apa yang mendatangkan damai dan sukacita pada hati mereka. Sebab mereka tahu bagaimana berbicara kepada Allah dan mereka akan tahu bahkan lebih baik di masa mendatang. Kaum laki-laki akan menjadi raksasa dalam doktrin, kaum perempuan akan menjadi mereka yang mendukung laki-laki dan dunia dengan doa-doa mereka, sebab banyak kemalangan akan dihindarkan melalui doa-doa mereka dan banyak hukuman akan diringankan. Dengan demikian mereka akan melakukan mukjizat-mukjizat, yang tidak kasat mata dalam sebagian besar perkara dan hanya diketahui oleh Allah saja, tetapi tidak kurang nyatanya."

"Engkau juga mengerjakan suatu mukjizat yang tidak kasat mata tapi nyata hari ini. Betul begitu, Guru?" tanya Tadeus.

"Ya, saudara-Ku."

"Akan lebih baik mengerjakan mukjizat yang kelihatan mata," komentar Filipus.

"Apa kau ingin Aku mengubah anak perempuan itu menjadi anak laki-laki? Suatu mukjizat sungguh adalah perubahan dari apa yang sudah ditakdirkan, suatu ketidakteratuan yang menguntungkan, jadi, yang Allah anugerahkan demi mendengar doa orang dan dengan demikian membuktikan kepadanya bahwa Ia mengasihinya, atau bahwa Ia adalah Ia. Tetapi sebab Allah adalah keteraturan, Ia tidak pernah melanggar keteraturan secara tidak wajar. Anak itu dilahirkan sebagai perempuan, dan dia akan tetap menjadi perempuan."

"Aku begitu sedih pagi ini!" kata Santa Perawan menghela napas panjang.

"Mengapa? Bayi yang tidak dicintai itu bukan bayi-Mu," kata Susana. Dan dia menambahkan: "Apabila aku melihat seorang anak yang tidak beruntung, aku katakan: 'Beruntungnya aku tidak punya anak!'"

"Jangan berkata begitu, Susana! Itu bukan cinta kasih. Aku juga dapat berkata begitu sebab satu-satunya Keibuan-Ku adalah di luar hukum alam. Tetapi Aku tidak mengatakan itu, sebab Aku selalu berpikir: 'Andai Allah tidak menghendaki-Ku menjadi seorang perawan, benih itu mungkin saja jatuh atas-Ku, dan Aku akan menjadi ibu dari anak yang tidak bahagia,' dengan berpikiran demikian Aku mengasihani mereka semua… Sebab Aku katakan: 'Dia bisa saja menjadi anak-Ku' dan sebagai seorang ibu, Aku menginginkan semua anak baik, sehat, dikasihi dan mengasihi, sebab setiap ibu mengharapkan itu untuk anak-anaknya sendiri," jawab Maria lemah lembut. Dan Yesus terlihat memeluk-Nya sekilas, begitu bersinar-sinar Ia menatap pada-Nya.

"Itu sebabnya mengapa Engkau mengasihani aku…" kata Iskariot dengan suara lirih.

"Aku mengasihani semua orang. Bahkan andai dia adalah pembunuh PutraKu. Sebab Aku pikir bahwa dia adalah yang paling membutuhkan pertolongan… dan kasih. Sebab seluruh dunia pasti akan membencinya."

"Donna, Engkau akan harus berjuang keras membelanya demi memberinya waktu untuk bertobat… Aku akan menyingkirkannya segera …" kata Petrus.        

"Di sinilah kita berpisah, Bunda, Allah serta-Mu. Dan sertamu, Maria. Dan sertamu juga, Yudas." Mereka saling memberikan kecupan dan Yesus menambahkan: "Ingatlah bahwa Aku sudah menganugerahkan suatu yang besar kepadamu, Yudas. Jadikan itu berguna dan bukannya merugikanmu. Selamat tinggal."

Dan Yesus bersama kesebelas rasul pun pergi; Susana menuju ke arah timur dengan bergegas; sementara Maria, saudari ipar-Nya dan Iskariot menapaki jalanan lurus di depan.  
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama