255. YESUS BERBICARA TENTANG HARAPAN           


18 Agustus 1945

Beberapa penggarap anggur, yang sedang lewat kebun buah-buahan, dengan memikul keranjang-keranjang berisi buah-buah anggur keemasan, yang seolah terbuat dari batu amber, melihat para rasul dan bertanya kepada mereka: "Apakah kalian para peziarah atau orang asing?"

"Kami adalah para peziarah Galilea yang dalam perjalanan menuju Gunung Karmel," jawab Yakobus Zebedeus mewakili semua orang, yang bersama-sama rekan para nelayan tengah meregangkan kaki mereka guna mengatasi sisa kantuk. Iskariot dan Matius baru saja terjaga di rerumputan di mana mereka berbaring, sementara mereka yang lebih tua, sebab sangat letih, masih tertidur. Yesus sedang berbicara kepada Yohanes dari En-Dor dan Ermasteus, sementara Santa Perawan dan Maria Klopas ada di dekatnya, tetapi mereka tidak berbicara. Para penggarap anggur bertanya: "Apakah kalian datang dari jauh?"

"Kaisarea adalah perhentian terakhir kami. Sebelumnya kami di Sicaminon dan lebih jauh lagi. Kami datang dari Kapernaum."

"Oh! Suatu perjalanan yang jauh dalam musim seperti ini! Tetapi, mengapakah kalian tidak singgah di rumah kami? Ada di sana, lihat? Kami dapat memberi kalian air sejuk untuk menyegarkan diri, dan sedikit makanan, makanan desa, tapi enak. Marilah ikut."

"Kami akan segera berangkat. Bagaimanapun, semoga Allah mengganjari kalian."

"Gunung Karmel tidak akan pergi dalam kereta berapi seperti yang dilakukan nabinya," kata seorang petani dengan setengah serius. "Tidak ada lagi kereta yang datang dari Surga untuk membawa nabi pergi. Tidak ada lagi nabi di Israel. Kata mereka, Yohanes sudah mati," kata petani lainnya.  

"Mati? Sejak kapan?"

"Itulah yang dikatakan kepada kami oleh beberapa orang yang datang dari daerah Yordan. Apakah kalian menghormatinya?"

"Kami adalah murid-muridnya."

"Mengapakah kalian meninggalkannya?"

"Untuk mengikuti Anak Domba Allah, Mesias Yang ia maklumkan. Sobat, Ia masih di Israel. Dan jauh lebih dari sekedar kereta berapi yang akan diperlukan untuk membawa-Nya secara pantas ke Surga. Tidakkah kalian percaya kepada Mesias?"

"Tentu saja! Kami memutuskan untuk pergi dan mencari-Nya ketika musim panen usai. Mereka mengatakan bahwa Ia penuh semangat dalam menaati Hukum dan bahwa Ia pergi ke Bait Allah pada hari-hari raya yang ditentukan. Kami akan segera pergi untuk perayaan Pondok Daun dan akan tinggal di Bait Allah setiap hari supaya dapat bertemu dengan-Nya. Dan jika kami tidak menemukan-Nya, kami akan pergi mencari-Nya hingga kami menemukan-Nya. Sebab kalian mengenal-Nya, katakan kepada kami: benarkah bahwa Ia di Kapernaum nyaris sepanjang waktu? Benarkah bahwa Ia tinggi, muda, berkulit pucat, berambut terang dan bahwa suara-Nya berbeda dari semua orang lainnya, sebab menyentuh hati orang, dan bahkan binatang-binatang dan pepohonan mendengarkannya?"

"Suara itu menyentuh setiap hati, terkecuali hati kaum Farisi, Gamala. Mereka menjadi semakin keras."

"Mereka bahkan bukan binatang. Mereka adalah setan, termasuk dia yang namanya sama denganku itu. Tapi, katakanlah kepada kami: benarkah bahwa Ia begitu lembut hati hingga berbicara kepada semua orang, untuk menghibur semua orang, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit dan mempertobatkan orang-orang berdosa?"

"Apakah kalian percaya itu?"

"Ya, kami percaya. Tapi kami ingin mendengarnya dari kalian yang mengikuti-Nya. Oh! Aku berharap kalian mau membawa kami kepada-Nya!"

"Tapi ada pada kalian kebun-kebun anggur untuk dirawat."

"Tapi ada pada kami juga jiwa untuk dirawat, dan itu nilainya lebih dari kebun anggur kami. Apakah Ia di Kapernaum? Dengan berjalan cepat kami akan dapat pergi dan kembali dalam waktu sepuluh hari…"

"Orang yang kalian cari ada di sana. Ia beristirahat dalam kebun anggurmu dan sekarang sedang berbicara kepada orang tua itu dan orang yang muda itu, dan BundaNya dan saudari BundaNya ada di samping-Nya."

"Orang itu… Oh!... Apakah yang harus kami lakukan?"

Mereka menjadi terpaku sebab sungguh tercengang. Mereka semua mengarahkan mata menatap pada-Nya. Segala daya hidup mereka terpusat pada mata mereka.

"Jadi? Kalian begitu antusias ingin bertemu dengan-Nya, dan sekarang kalian tidak bergerak? Apa kalian sudah menjadi tiang garam?" kata Petrus menyentuhkan jarinya pada mereka.

"Bukan… hanya… Tapi apakah Mesias begitu sederhana?"

"Bagaimana kalian membayangkan-Nya? Duduk di atas takhta yang berkilat-kilat dengan mengenakan mantol kerajaan? Apa kalian pikir bahwa Ia adalah seorang Ahasyweros baru?    

"Tidak. Tapi… begitu sederhana, dan Ia begitu kudus!"

"Sobat, Ia sederhana justru karena Ia kudus. Baik, mari kita lakukan ini… Guru! Bersabarlah, kemarilah dan kerjakan suatu mukjizat. Ada beberapa orang di sini yang mencari-Mu, tapi mereka mematung saat melihat-Mu. Kemarilah dan buatlah mereka bergerak dan berbicara kembali."

Yesus, Yang berbalik ketika Ia dipanggil, bangkit dengan tersenyum dan datang menghampiri para pengarap anggur, yang wajahnya begitu terpikat hingga mereka seolah ketakutan.

"Damai sertamu. Apakah kalian menghendaki Aku? Ini Aku," dan Ia melakukan gerak tubuh biasanya dengan kedua tangan-Nya, yang direntangkan-Nya seolah Ia memberikan Diri-Nya.

Para penggarap anggur jatuh berlutut dan tinggal diam.

"Janganlah takut. Katakan pada-Ku apa yang kalian inginkan."

Mereka menawarkan keranjang-keranjang mereka yang sarat anggur, tanpa berkata-kata.

Yesus mengagumi keelokan buah-buah anggurnya, dan berkata: "Terima kasih." Ia mengulurkan tangan dan mengambil seberkas dan lalu mulai menyantapnya.

"O Allah Yang Mahatinggi! Ia makan seperti kita!" kata seorang yang bernama Gamala seraya mendesah.

Adalah tidak mungkin untuk tidak tertawa mendengar pernyataan yang demikian. Yesus juga tersenyum lebih lebar dan nyaris meminta maaf, Ia berkata: "Aku adalah Putra Manusia!"

Gerakan tubuh-Nya telah mengatasi kemajalan mereka akibat sukacita luar biasa, dan Gamala berkata: "Tak hendakkah Engkau memasuki rumah kami, setidaknya hingga vesper? Kami ada banyak, sebab kami tujuh laki-laki bersaudara bersama para istri dan anak-anak kami, dan lalu ada mereka yang lanjut usia yang menantikan kematian dalam damai."

"Marilah kita pergi. Panggillah rekan-rekan kalian untuk bergabung bersama kita. Bunda, kemarilah bersama Maria."

Dan Yesus pun berangkat di belakang para petani yang sudah bangkit berdiri dan berjalan sedikit menyamping guna melihat-Nya berjalan. Jalanan itu sempit dan terbentang di antara pepohonan yang terjalin satu sama lain oleh pohon-pohon anggur.

Segera mereka tiba di rumah, atau tepatnya rumah-rumah, sebab ada beberapa rumah yang membentuk suatu alun-alun dengan sebuah halaman bersama yang luas di tengahnya, di mana ada sebuah sumur. Pintu masuknya melalui sebuah koridor panjang, yang berfungsi sebagai lobi dan ditutup pada malam hari dengan sebuah pintu berat.

"Damai bagi rumah ini dan bagi mereka yang tinggal di dalamnya," kata Yesus seraya memasuki rumah dan mengangkat tangan-Nya untuk memberkati, dan lalu menurunkannya untuk membelai seorang bayi mungil setengah telanjang, yang menatap pada-Nya dengan terpikat: bayi itu elok dalam baju kecilnya yang tanpa lengan, yang sudah melorot ke pundaknya yang montok; kakinya telanjang, dengan satu jari dalam mulutnya dan sekeping roti, yang disemir minyak, pada tangan lainnya.

"Itu Daud, anak dari saudaraku yang termuda," jelas Gamala, sementara seorang dari para petani anggur lainnya memasuki rumah di sebelahnya guna memberitahu orang-orang di dalamnya, dan dia lalu keluar dan memasuki rumah lainnya dan begitu seterusnya, sehingga wajah-wajah dari berbagai usia melongok dan masuk ke dalam, dan pada akhirnya keluar sesudah berbenah diri secara singkat.  

Ada seorang laki-laki lanjut usia sedang duduk di sebuah naungan, di bawah perlindungan sebuah pohon ara raksasa; dia memegang sebuah tongkat di tangannya. Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya, seolah tidak ambil peduli.

"Dia adalah ayah kami," Gamala menjelaskan. "Dia adalah seorang dari orang-orang tua dalam keluarga ini, sebab istri Yakub juga membawa ayahnya kemari, ketika dia ditinggal sebatang kara, lalu ada ibu yang sudah tua dari Lea, istri termuda di sini. Ayah kami buta. Kedua matanya ditutup dengan sehelai selubung. Sebab begitu banyak sinar matahari di halaman! Begitu banyak panas menyengat dari tanah! Ayah yang malang! Dia sangat sedih. Tapi dia seorang yang sangat baik. Dia sekarang sedang menantikan cucu-cucunya, yang adalah satu-satunya sukacitanya."

Yesus menghampiri laki-laki tua itu. "Kiranya Allah memberkatimu, bapa."

"Semoga Allah mengembalikan berkat-Mu kepada-Mu, siapa pun Engkau," jawab laki-laki itu seraya mendongakkan kepalanya ke arah datangnya suara.  

"Takdirmu kurang menyenangkan, bukan begitu?" tanya Yesus lembut, sembari memberi isyarat kepada yang lain-lain untuk tidak mengatakan Siapa yang sedang berbicara.

"Takdir datangnya dari Allah, sesudah begitu banyak kebaikan yang telah Ia berikan kepadaku sepanjang masa hidupku yang panjang. Sebagaimana aku menerima yang baik dari Allah, aku harus menerima juga nasib buruk penglihatanku. Bagaimanapun, ini tidak abadi. Ini akan berakhir di pangkuan Abraham."

"Kau benar. Akan lebih parah jika jiwamu yang buta."

"Aku selalu berupaya untuk menjaga penglihatan jiwaku sempurna."

"Bagaimana kau melakukannya?"

"Engkau Yang berbicara, adalah seorang muda, suara-Mu yang mengatakannya padaku. Apa Kau mungkin seperti kaum muda jaman sekarang yang semuanya buta, sebab mereka tanpa agama, eh? Berhati-hatilah, adalah suatu kemalangan besar menjadi tidak percaya dan tidak melakukan apa yang Allah katakan kepada kita. Seorang tua yang mengatakannya pada-Mu, Anak-ku. Jika Kau meninggalkan Hukum, Kau akan buta, baik di bumi maupun di kehidupan mendatang. Kau tidak akan pernah melihat Allah. Sebab akan datang harinya ketika Mesias Penebus akan membuka gerbang-gerbang Allah bagi kita. Aku terlalu tua untuk melihat hari itu di sini di bumi. Tapi aku akan melihatnya dari pangkuan Abraham. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mengeluhkan apapun. Sebab aku berharap bahwa melalui kegelapanku aku akan menyilih semuanya yang mungkin sudah aku lakukan yang tidak berkenan bagi Allah, dan bahwa aku dapat layak bagi-Nya dalam kehidupan kekal. Tapi Kau masih muda. Jadilah setia, Nak, supaya Kau dapat melihat Mesias. Sebab waktunya sudah dekat. Pembaptis yang mengatakannya. Kau akan melihat-Nya. Tapi jika jiwa-Mu buta, Kau akan menjadi seorang dari mereka yang dikatakan Yesaya. Kau akan punya mata, tapi Kau tidak akan melihat."

"Apakah engkau ingin melihat-Nya, bapa?" tanya Yesus seraya menempatkan satu tangan di atas kepalanya yang beruban.

"Aku ingin melihat-Nya. Tentu saja. Tapi aku lebih suka pergi tanpa melihat-Nya, daripada aku melihat-Nya dan anak-anakku tidak mengenali-Nya. Aku masih memiliki iman kuno dan itu sudah cukup bagiku. Mereka… Oh! dunia jaman sekarang…"

"Bapa, oleh karenanya lihatlah sang Mesias, dan kiranya senja hidupmu dimahkotai dengan sukacita," dan tangan Yesus meluncur dari kepala yang beruban menuruni keningnya hingga dagu berjenggot si laki-laki tua itu, seolah Ia sedang membelainya, dan sementara itu Ia membungkuk di atas wajahnya yang sudah uzur.

"Oh! Tuhan Yang Mahatinggi! Tapi, aku bisa melihat! Aku melihat… Siapakah Engkau, dengan wajah yang tak dikenal ini, yang, namun demikian, familiar bagiku, seolah aku sudah pernah melihat-Mu?... Tapi… Oh! Betapa bodohnya aku! Engkau Yang sudah memulihkan penglihatan mataku adalah Mesias Yang terberkati! Oh!" Laki-laki tua itu menangis di atas kedua tangan Yesus, yang sudah dia raih, membasahinya dengan airmata dan kecupan-kecupan.  

Segenap sanak keluarga gempar.

Yesus membebaskan tangan-Nya dan Ia membelai laki-laki lanjut usia itu kembali seraya berkata: "Ya, ini Aku. Mari, supaya kau dapat mengenal sabda-Ku sebaik mengenal wajah-Ku." Dan Ia pergi menuju sebuah tangga kecil, yang menghantar ke sebuah teras teduh yang sepenuhnya terlindung oleh sebuah pergola lebat. Semua orang mengikuti-Nya.

"Aku telah berjanji pada para murid-Ku untuk berbicara kepada mereka tentang harapan dan Aku hendak menceritakan suatu perumpamaan guna menerangkannya. Inilah perumpamaan itu: orang Israel tua ini. Bapa Surgawi memberi-Ku subyek untuk mengajar kalian semua keutamaan agung yang menopang Iman dan Kasih, bagai lengan-lengan sebuah kuk.

Suatu kuk yang manis. Perancah umat manusia bagaikan lengan salib, takhta keselamatan bagaikan penopang dari keseluruhan ular yang ditinggikan di padang gurun. Perancah umat manusia. Jembatan dari jiwa untuk terbang membubung kepada Terang. Dan itu ditempatkan di tengah, antara Iman yang esensial dan Kasih yang paling sempurna, sebab tanpa Harapan tidak dapat ada Iman dan tanpa Harapan, Kasih mati. Iman memprasyaratkan harapan yang tak kunjung padam. Bagaimana orang dapat percaya bahwa orang akan mencapai Allah jika orang tidak berharap pada Kemurahan-Nya? Apa yang dapat menopangmu sepanjang masa hidupmu jika kamu tidak berharap pada kehidupan kekal? Bagaimana kita dapat berkanjang dalam keadilan jika kita tidak menghibur harapan bahwa setiap perbuatan baik kita dilihat oleh Allah Yang akan mengganjari kita untuk itu? Demikian pula bagaimana dapat Kasih hidup dalam diri kita jika kita tidak punya harapan? Harapan mendahului Kasih dan mempersiapkannya. Sebab orang perlu berharap untuk dapat mengasihi. Mereka yang sudah kehilangan segala harapan, tidak dapat mengasihi. Inilah tangganya, yang terdiri dari anak-anak tangga dan pegangan tangga: Iman adalah anak-anak tangga, Harapan adalah pegangannya; di puncaknya ada Kasih kemana orang mendaki melalui sarana kedua yang lainnya. Manusia berharap untuk dapat percaya, dan percaya untuk dapat mengasihi.   

Orang ini tahu bagaimana berharap. Dia dilahirkan. Seorang bayi Israel sama seperti semua orang lainnya. Dia tumbuh dewasa dengan pengajaran yang sama seperti semua orang lainnya. Dia menjadi putera Hukum sama seperti semua lainnya. Dia menjadi seorang laki-laki dewasa, seorang suami, seorang ayah, tua, dengan senantiasa menaruh harapan pada janji-janji yang dibuat kepada para patriark dan diulang oleh para nabi. Dalam usia tuanya bayang-bayang datang mengatasi matanya, tapi tidak mengatasi hatinya. Harapan selalu menyala di dalamnya. Harapan untuk melihat Allah. Untuk melihat Allah di kehidupan mendatang. Dan, dalam harapan akan penglihatan abadi itu, ada suatu harapan yang terlebih akrab dan terlebih mesra: 'untuk melihat sang Mesias.' Dan dia mengatakan pada-Ku, tanpa mengetahui siapakah pemuda yang sedang berbicara kepadanya: 'Jika Kau meninggalkan Hukum, Kau akan buta, baik di bumi maupun di Surga. Kau tidak akan melihat Allah dan kau tidak akan mengenal Mesias.' Dia berbicara sebagai seorang bijak. Ada terlalu banyak orang di Israel sekarang yang buta. Mereka tidak punya harapan sebab harapan dibunuh oleh pemberontakan mereka terhadap Hukum, yang selalu merupakan suatu pemberontakan, bahkan meski diselubungi oleh jubah-jubah suci, jika itu bukan penerimaan sabda Allah sepenuhnya, Aku berbicara mengenai Allah, bukan mengenai sturktur bangunan atas yang ditempatkan di sana oleh manusia, yang sebab terlalu banyak dan sepenuhnya manusiawi, dilalaikan tepat oleh orang-orang yang menempatkannya di sana, dan diperlakukan bagai oleh mesin, sebagai kewajiban, dengan lesu, dengan tanpa menghasilkan buah oleh orang-orang lain. Mereka tak lagi punya harapan. Tetapi mereka mencemooh kebenaran abadi. Oleh karenanya mereka tidak lagi punya Iman ataupun Kasih. Kuk ilahi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar dia dapat menjadikannya ketaatan dan ganjarannya, salib surgawi yang dianugerahkan Allah kepada manusia guna menyulap ular-ular Kejahatan, supaya dia dapat menjadikannya kesehatannya, telah kehilangan lengan salibnya, yang menopang nyala api yang putih dan yang merah: Iman dan Kasih, dan kegelapan turun ke dalam hati manusia.

Laki-laki lanjut usia ini mengatakan pada-Ku: 'Adalah suatu kemalangan besar menjadi tidak percaya dan tidak melakukan apa yang Allah katakan kepada kita.' Itu benar. Aku meneguhkannya. Hal itu lebih parah dari buta jasmani, yang dapat disembuhkan demi memberikan kepada seorang benar sukacita untuk melihat kembali matahari, padang-padang rumput, buah-buah dari tanah, wajah anak-anak dan cucu-cucunya, dan di atas segalanya, apa yang adalah harapan dari harapannya: 'Untuk melihat Mesias Tuhan.' Aku berharap keutamaan yang demikian hidup dalam jiwa setiap orang di Israel dan lebih dari itu dalam jiwa-jiwa mereka yang lebih terpelajar dalam hukum. Tidaklah cukup untuk sekedar pergi ke Bait Allah atau dari Bait Allah, tidaklah cukup untuk mengenal dan menghafal sabda dari Kitab. Adalah perlu untuk menjadikannya hidup dari hidup kita melalui sarana ketiga keutamaan ilahi. Ada pada kalian suatu teladan: semuanya mudah dihadapi di mana ketiganya hidup, bahkan kemalangan. Sebab kuk Allah selalu adalah kuk yang ringan yang membebani hanya tubuh tapi tidak menciutkan roh.   

Pergilah dalam damai, kalian yang tinggal dalam rumah orang-orang Israel yang baik ini. Pergilah dalam damai, bapa tua. Kau memiliki kepastian bahwa Allah mengasihimu. Akhirilah hidup benarmu dengan menempatkan kebijaksanaanmu dalam hati anak-anak dari darah dagingmu sendiri. Aku tak dapat tinggal, tetapi berkat-Ku tinggal di sini, di antara tembok-tembok yang berlimpah dengan rahmat seperti buah-buah anggur dari kebun anggur ini."

Dan Yesus hendak pergi. Tetapi Ia harus tinggal setidaknya cukup lama untuk menemui suku ini dari berbagai tingkat usia, dan menerima apa yang ingin mereka berikan kepada-Nya, hingga kantung-kantung perjalanan mereka bagai kulit-kulit kambing gembul… Kemudian barulah Ia dapat menempuh perjalanan kembali, sepanjang suatu jalan pintas melintasi kebun anggur, yang ditunjukkan kepada-Nya oleh para penggarap anggur, yang baru mau meninggalkan-Nya hanya ketika rombongan telah mencapai jalanan utama, di mana terlihat sebuah dusun kecil di mana Yesus dan para sahabat-Nya dapat tinggal melewatkan malam.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama