251. KEMBALI KE SICAMINON. YESUS BERBICARA TENTANG IMAN            

pohon elm

13 Agustus 1945

Penduduk Sicaminon, terdorong oleh rasa ingin tahu, menyerbu tempat di mana para rasul tadinya berada, sepanjang hari, menantikan kembalinya sang Guru. Para murid perempuan, sementara itu, tidak menyia-nyiakan waktu; mereka mencuci pakaian-pakaian yang kotor oleh debu dan basah oleh keringat, dan di pantai kecil itu ada suatu deretan cemerlang pakaian-pakain yang tengah dikeringkan oleh angin dan matahari. Sementara hari sore dan menjadi gelap, kelembaban kabut lautan mulai terasa, mereka berbegas mengangkat pakaian-pakaian itu, meski masih belum kering benar. Sebelum melipatnya, mereka mengencangkannya ke segala penjuru dan menindasnya, supaya pakaian-pakaian itu dapat tampak rapi bagi para pemiliknya.

"Marilah kita menghantarkan pakaian Maria kepadanya dengan segera," kata Maria Alfeus. Dan dia mengakhiri perkataannya: "Ia sudah sangat menderita sejak kemarin dan hari ini dalam kamar yang kecil menyesakkan itu!..."

Dengan demikian aku sadar bahwa Yesus telah absen selama lebih dari satu hari, sepanjang mana Maria dari Magdala, yang hanya punya satu pakaian saja, harus tinggal dalam rumah, hingga pakaiannya kering.

Susana menanggapi: "Untunglah ia tidak pernah mengeluh! Aku tadinya tidak berpikir bahwa ia sebegitu baik."

"Dan begitu rendah hati, seharusnya kau katakan demikian, dan pendiam. Perempuan malang! Adalah iblis yang menyiksanya! Sejak ia dibebaskan oleh Yesus-ku, ia telah sekali lagi menjadi dirinya sendiri, tepat seperti ketika ia masih seorang gadis."

Dan dengan saling bercakap satu sama lain, mereka tiba kembali di rumah dengan membawa cucian.

Sementara itu Marta sedang sibuk mempersiapkan makanan dan Santa Perawan membersihkan sayur-sayuran di sebuah baskom tembaga dan lalu merebusnya untuk makan malam.

"Ini dia. Semuanya kering, bersih dan terlipat rapi. Dan mereka sungguh sangat membutuhkannya. Pergilah kepada Maria dan berikan kepadanya pakaiannya," kata Susana seraya menyerahkan tumpukan pakaian kepada Marta.

Kedua bersaudari itu muncul tak lama sesudahnya. "Aku berterima kasih kepada kalian berdua. Pengorbanan memakai pakaian yang sama selama berhari-hari adalah yang paling menyiksaku," kata Maria dari Magdala sembari tersenyum. "Sekarang aku merasa bersih dan segar."

"Pergi dan duduklah di luar; ada angin yang sejuk semilir. Kau pasti membutuhkannya sesudah terkurung," kata Marta, yang, sebab lebih kecil perawakannya dari saudarinya dan tidak sebegitu montok dadanya, dapat mengenakan pakaian milik Susana atau milik Maria Alfeus, sementara pakaiannya sendiri sedang dicuci.

"Kali ini kita harus mendayagunakannya semaksimal mungkin. Tetapi di masa mendatang kita akan membawa tas-tas kecil, seperti yang lain-lainnya, dan kita tidak akan harus menghadapi segala masalah ini," kata Magdalena.

"Apa? Kau hendak mengikuti-Nya seperti kami?"

"Tentu saja. Terkecuali Ia mengatakan padaku untuk melakukan yang sebaliknya. Aku sekarang akan pergi ke pantai untuk melihat apakah mereka datang. Apakah mereka akan datang sore ini?"

"Aku harap demikian," jawab Santa Perawan Tersuci. "Aku khawatir sebab Ia pegi ke Fenisia. Tetapi Aku tahu bahwa Ia bersama para rasul dan bagaimanapun orang-orang Fenisia mungkin saja lebih baik dari kebanyakan orang lainnya. Ketika aku pergi ke sumber mataair, seorang ibu menghentikan-Ku sambil berkata: 'Apakah Engkau bersama sang Guru Galilea, Ia yang mereka sebut Mesias? Jika ya, mari dan tengoklah puteraku. Demam sudah menderanya selama lebih dari setahun.' Aku pergi ke rumah kecil itu. Makhluk malang! Dia kelihatan seperti sekuntum bunga kecil yang akan mati. Aku akan mengatakannya pada Yesus."

"Ada orang-orang lainnya juga yang ingin disembuhkan. Mereka lebih antusias untuk disembuhkan daripada diberikan pengajaran," kata Marta.

"Sulit bagi orang untuk menjadi sepenuhnya rohani. Suara dan kepentingan-kepentingan daging lebih kuat terasa," jawab Perawan.

"Bagaimanapun, banyak yang hidup kembali secara rohani sesudah suatu mukjizat."

"Ya, Marta. Dan itu adalah salah satu alasan mengapa PutraKu mengerjakan begitu banyak mukjizat. Demi kasih kepada manusia, tetapi juga demi menariknya melalui suatu sarana yang demikian ke Jalan-Nya, yang, jika tidak, banyak yang tidak hendak mengikutinya."

Yohanes dari En-Dor, yang tadi pergi bersama Yesus, sekarang kembali ke rumah bersama banyak murid yang menuju rumah-rumah kecil di mana mereka tinggal. Nyaris pada saat yang bersamaan Magdalena kembali seraya berkata: "Mereka tiba. Itu adalah kelima perahu yang berangkat kemarin saat fajar. Aku mengenalinya dengan sangat baik."

"Mereka tentunya letih dan haus. Aku akan pergi dan mengambil lebih banyak air. Air yang dari sumber mataair sungguh sejuk," dan Maria Alfeus pergi keluar dengan membawa beberapa tempayan.

"Marilah kita pergi dan menyongsong Yesus. Ayo," kata Santa Perawan. Dan Ia pergi keluar bersama Magdalena dan Yohanes dari En-Dor, sebab Marta dan Susana, keduanya wajahnya memerah sebab sangat sibuk mempersiapkan makan malam, tinggal dekat kompor dapur.

Dengan berjalan sepanjang sebuah tembok mereka tiba di sebuah dermaga kecil, di mana perahu-perahu nelayan lainnya sudah masuk dan ditambatkan. Dari ujung dermaga adalah mungkin orang mendapatkan suatu pemandangan yang sangat indah akan keseluruhan teluk dan akan kota dengan mana teluk itu dinamakan, dan orang dapat juga melihat kelima perahu yang melaju cepat, dengan agak sedikit miring ke satu sisi, sebab angin sepoi-sepoi dari utara menerpa layar, dan dengan demikian menguntungkan dan pada saat yang sama mendatangkan kelegaan bagi para penumpangnya yang letih dan kegerahan.

"Lihat bagaimana tangkasnya Simon dan yang lain-lainnya melakukan manuver. Mereka mengikuti perahu pemandu dengan sangat cekatan. Mereka sekarang sudah melewati gelombang; sekarang mereka mengarah ke lautan terbuka guna menghindari arus yang kuat di sana. Bagus… Sekarang semuanya sudah terkendali. Mereka akan segera tiba di sini," kata Yohanes dari En-Dor. Sesungguhnya perahu-perahu itu semakin dan semakin mendekat dan adalah mungkin orang mengenali para penumpang di dalamnya.  

Yesus berada di perahu pertama bersama Ishak. Ia telah bangkit berdiri dan perawakan-Nya yang tinggi tampak dalam segala kemuliaannya hingga layar yang tergulung diterpa angin menyembunyikan-Nya selama beberapa menit. Sesungguhnya perahu membelok untuk mendekati dermaga kecil itu dan lewat di depan para perempuan yang berdiri di sana. Yesus tersenyum seraya melambai kepada mereka, sementara mereka mulai berjalan cepat agar tiba di tempat pendaratan pada saat yang bersamaan dengan perahu.

"Kiranya Allah memberkati-Mu, PutraKu!" kata Maria menyalami Yesus Yang turun dari perahu ke dermaga.

"Kiranya Allah memberkati-Mu, Bunda. Apakah Engkau khawatir? Orang yang kami cari tidak ada di Sidon. Kami pergi hingga sejauh Tirus. Dan kami mendapatinya di sana. Ayo, Ermasteus... Ini, Yohanes. Orang ini ingin diajari. Aku mempercayakannya padamu."

"Aku tidak akan mengecewakan-Mu dalam mengajarinya sabda-Mu. Terima kasih, Guru! Ada banyak orang yang menantikan Engkau," jawab Yohanes dari En-Dor.

"Ada juga seorang anak laki-laki sakit yang malang, Nak, dan ibunya ingin Engkau pergi ke sana."

"Aku akan pergi kepadanya segera."

"Aku tahu siapa perempuan itu, Guru. Aku akan menghantarkan-Mu ke sana. Ermasteus, ikutlah bersama kami. Kau akan mulai mengenal kebaikan tak terhingga Tuhan kita," kata laki-laki dari En-Dor itu.

Petrus mendarat dari perahu yang kedua, Yakobus dari yang ketiga, Andreas dari yang keempat, Yohanes dari yang kelima; keempat nakhoda diikuti oleh para rasul lainnya atau para murid yang bersama mereka semuanya berkumpul sekeliling Yesus dan Maria.

"Pulanglah. Aku akan segera ke sana juga. Sementara itu persiapkanlah makan malam dan katakan kepada mereka yang menantikan kita bahwa Aku akan berbicara kepada mereka di akhir vesper."

"Dan bagaimana jika ada orang-orang yang sakit?"

"Aku akan menyembuhkan mereka terlebih dahulu. Bahkan sebelum makan malam, supaya mereka dapat pulang ke rumah dengan gembira."

Mereka pun berpisah. Yesus bersama Yohanes dari En-dor dan Ermasteus pergi menuju kota, sementara yang lain-lainnya berjalan kembali menyusuri pantai yang berkerikil, dengan menceritakan apa yang sudah mereka lihat atau dengar, dengan segembira kanak-kanak yang pulang kepada ibunya.

Juga Yudas dari Keriot kelihatan gembira. Dia memperlihatkan semua persembahan yang diberikan kepadanya oleh para nelayan kerang, dan lebih dari itu, dia memamerkan sebuah kantong kecil berisi barang berharga. "Ini untuk Guru. Apabila Ia tidak mengenakannya, siapakah yang mungkin dapat melakukannya? Mereka menarikku ke samping seraya berkata: 'Kami punya beberapa koral berharga di perahu kami, dan kami juga punya sebutir mutiara. Bayangkan! Harta karun. Aku tidak tahu bagaimana kami dapat sebegitu beruntung. Tetapi kami akan memberikannya dengan sukarela kepadamu untuk Guru. Mari dan lihatlah.' Aku pergi bersama mereka demi menyenangkan mereka, sementara Guru telah undur diri ke dalam sebuah gua untuk berdoa. Sungguh koral dan mutiara yang indah, bukan yang besar, tapi indah. Aku katakan kepada mereka: 'Janganlah jauhkan diri kalian sendiri dari barang-barang berharga ini. Guru tidak mengenakan perhiasan. Sebaliknya berikan padaku yang ungu itu untuk dipergunakan sebagai hiasan untuk jubah-Nya.' Mereka punya bungkusan kecil ini. Mereka mendesak untuk memberikan semuanya padaku, apapun resikonya. Terimalah, Bunda, buatlah sesuatu yang indah darinya untuk Tuhan kita, sebab Engkau tahu bagaimana mengerjakannya. Tetapi pastikan bahwa Engkau melakukannya. Jika Ia tahu mengenai ini, Ia pasti akan menjualnya untuk fakir miskin. Dan kami ingin melihat-Nya berpakaian sebagaimana pantas bagi-Nya. Betulkan?"

"Oh! Betul! Aku menderita apabila aku melihat-Nya berpakaian begitu sederhana di antara orang-orang lain, sementara Ia adalah seorang raja, dan mereka bahkan tidak lebih dari hamba, dan walau begitu mereka mengenakan perhiasan dan pakaian yang sungguh indah. Dan mereka menatap pada-Nya seolah Ia tidak pantas berada dekat mereka!" kata Petrus.

"Ehi! Apa kau lihat bagaimana tuan-tuan di Tirus itu mencemooh saat kita berpamitan kepada para nelayan?!" jawab saudaranya.

"Aku katakan pada mereka: 'Kalian sepatutnya malu, kalian anjing! Sehelai benang dari jubah putih-Nya saja berharga lebih dari seluruh pakaian dan perhiasan kalian," kata Yakobus Zebedeus.

"Sebab Yudas sudah mendapatkannya, aku harap Engkau mempersiapkannya untuk sang Tabernakel," kata Yudas Tadeus.

"Aku belum pernah memintal kain ungu. Tapi Aku akan mencobanya…" kata Santa Perawan sembari menyentuh wool halus berwarna cerah yang selembut sutera.

"Inangku seorang yang ahli dalam hal itu. Kita akan dapat menemuinya di Kaisarea. Dia akan memperlihatkan pada-Mu bagaimana melakukannya. Engkau akan segera belajar, sebab Engkau melakukan semuanya dengan begitu baik. Aku akan memasang pita sekeliling leher, lengan dan pinggiran jubah-Nya: warna ungu pada kain linen atau wool yang seputih salju, dengan dekorasi palma atau mawar seperti yang kita lihat pada pualam Tempat Kudus, dan simpul Daud di tengahnya. Akan kelihatan sangat cantik," kata Magdalena yang adalah seorang ahli dalam hal estetika.

Marta mengatakan: "Ibu kami membuat desain itu, sebab sangat indah, pada jubah yang dikenakan Lazarus dalam perjalanannya ke Siria ketika dia mengambil hak atas tanah kami di sana. Aku menyimpannya sebab itu adalah karya terakhir dari ibu kami. Aku akan mengirimkannya kepada-Mu."

"Aku akan mengerjakannya dengan mendoakan ibu kalian."

Mereka tiba di rumah-rumah kecil. Para rasul menyebar guna mengumpulkan mereka yang menginginkan sang Guru, khususnya mereka yang sakit…

Dan Yesus kembali bersama Yohanes dari En-Dor dan Ermasteus. Dan Ia lewat dengan menyalami mereka yang sudah memadati area depan rumah-rumah kecil. Senyum-Nya adalah berkat.

Mereka membawa kepada-Nya seorang laki-laki yang sudah pasti mengalami masalah mata, yang nyaris buta akibat radang mata bernanah, dan Ia menyembuhkannya. Lalu giliran seorang laki-laki yang sakit malaria, yang begitu kurus kering dan kulitnya sekuning orang Cina, dan Ia menyembuhkannya. Lalu seorang perempuan memohon suatu mukjizat khusus: air susu bagi payudaranya, yang tidak menghasilkannya, dan dia memperlihatkan bayinya, yang baru beberapa hari usianya, yang kekurangan makan dan sepenuhnya merah, mungkin karena peradangan. Dia mengerang: "Lihat? Kepada kami dikatakan untuk mematuhi laki-laki dan untuk memperanakkan keturunan. Tetapi apakah gunanya itu jika kami melihat anak-anak kami menderita? Ini adalah anakku yang ketiga, dan aku sudah menguburkan kedua lainnya dalam kubur, sebab payudaraku yang tidak memberikan air susu. Dan yang ini pun hendak mati juga, sebab dia dilahirkan pada masa yang terik ini, yang lainnya: bertahan hidup sepuluh bulan, yang satunya enam bulan, dan membuatku menangisi mereka bahkan terlebih lama ketika mereka mati akibat masalah pencernaan. Andai aku dapat memberikan air susuku kepada mereka, maka itu tidak akan terjadi…"

Yesus menatap padanya dan berkata: "Anakmu akan hidup. Milikilah iman. Pulanglah dan begitu sampai di sana susuilah bayimu. Milikilah iman."

Perempuan itu pergi dengan taat bersama bayinya yang malang, yang mengerang seperti seekor anak kucing, dekat dada ibunya.

"Akankah dia punya air susu?"

"Tentu saja."

"Aku katakan bahwa bayinya akan hidup, tetapi dia tidak akan pernah punya air susu, dan adalah sudah suatu mukjizat jika bayi itu hidup. Dia hampir mati kelaparan."

"Sebaliknya aku katakan bahwa dia akan punya air susu."

"Tentu saja."

"Tidak, tidak akan."

Orang-orang yang hadir memberikan pendapat-pendapat yang berbeda.

Sementara itu Yesus undur diri untuk makan. Ketika Ia keluar untuk berkhotbah, khalayak ramai bahkan terlebih besar jumlahnya sebab kabar akan mukjizat anak laki-laki yang sakit demam, yang atasnya Yesus mengerjakan mukjizat begitu Ia mendarat, sudah menyebar ke segenap penjuru kota.

"Aku memberikan kepada kalian damai-Ku supaya damai-Ku dapat mempersiapkan kalian untuk mengerti. Adalah tidak mungkin untuk mendengarkan Suara Tuhan dalam badai. Setiap kekacauan adalah gangguan bagi Kebijaksanaan, yang adalah damai tenang, sebab berasal dari Allah. Kekacauan, sebaliknya, tidak berasal dari Allah, sebab kekhawatiran, kegelisahan, kebimbangan adalah karya Yang Jahat guna menyengsarakan anak-anak manusia dan memisahkan mereka dari Allah.

Aku akan menceritakan kepada kalian suatu perumpamaan supaya kalian dapat mengerti ajaran-Ku dengan lebih jelas.

Seorang petani punya banyak pepohon di ladang-ladangnya dan banyak pohon anggur yang menghasilkan buah berlimpah, di antaranya ada sebuah pohon dengan kualitas istimewa, yang sangat dibanggakannya. Suatu tahun, pohon anggur itu menghasilkan banyak dedaunan namun sedikit buah anggur. Seorang teman berkata kepada si petani: 'Itu sebab kau tidak cukup memangkasnya.' Tahun berikutnya petani itu memangkasnya dengan jauh terlebih banyak. Pohon anggur itu hanya bertunas sedikit dan menghasilkan lebih sedikit buah anggur. Seorang teman lain mengatakan padanya: 'Itu sebab kau memangkasnya terlalu banyak.' Tahun ketiga si petani membiarkannya saja. Pohon anggur itu tidak menghasilkan buah anggur sama sekali, hanya sedikit dedaunan yang berkerut-kerut, diselimuti penyakit. Teman ketiga mengatakan: 'Pohon itu akan mati sebab tanahnya tidak baik. Bakarlah.' 'Kenapa? Itu adalah tanah yang sama seperti yang ditumbuhi tanaman-tanaman lainnya dan aku merawatnya tepat sama seperti yang aku lakukan terhadap yang lainnya. Sebelumnya, dia sangat subur!' Temannya angkat bahu dan pergi.

Seorang pengelana yang tak dikenal lewat dan berhenti untuk menatap pada si petani yang dengan murung bersandar pada pohon anggurnya yang malang. 'Ada apa?' dia bertanya. 'Seorang meninggal dalam keluargamu?' 'Tidak. Tetapi pohon anggur ini, yang dulu begitu aku sayangi, hampir mati. Dia tak lagi punya getah dan tidak menghasilkan buah. Satu tahun sedikit buah, tahun berikutnya lebih sedikit, tahun ini sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Aku sudah melakukan semua yang mereka katakan padaku, tetapi sia-sia belaka.'

Pengelana tak dikenal itu memasuki ladang dan menghampiri pohon anggur. Dia merasakan daunnya, mengambil sejumput tanah dengan tangannya, menciumnya, meremasnya dengan jemarinya, melihat pada batang pohon elm yang menopang pohon anggur. 'Kau harus menyingkirkan batang itu. Pohon anggur ini menjadi mandul karenanya.'

'Tetapi batang itu adalah penopangnya selama bertahun-tahun!'

'Katakan padaku, sobat: ketika kau menanam pohon anggur ini, seperti apakah pohon anggur dan seperti apakah batang pohon itu?'

'Oh! Suatu tunas anggur berumur tiga tahun yang indah. Aku mendapatkannya dari pohon anggur lain milikku, dan untuk membawanya kemari, aku menggali sebuah lubang yang dalam, supaya akar-akarnya tidak rusak ketika dibawa pergi dari tanah asalnya. Aku menggali sebuah lubang serupa di sini juga, bukan, sebuah lubang yang lebih besar, supaya dia dapat segera menyesuaikan diri, dan aku mencangkul tanah sekelilingnya, guna melembutkannya, supaya akar-akarnya dapat menyebar segera, tanpa halangan. Aku menanamnya dengan sangat hati-hati, dengan menempatkan di bawahnya pupuk yang baik. Seperti kau tahu, akar-akar tumbuh kuat dengan segera jika mendapatkan makanan yang tepat. Aku tidak memberikan begitu banyak perhatian pada pohon elm itu; hanyalah sebuah pohon kecil yang ditanam di sana guna menopang tunas anggur. Sesungguhnya, aku menanamnya asal saja dekat tunas anggur, aku menimbunnya dengan tanah dan pergi. Kedua pohon itu berakar, sebab tanahnya baik. Pohon anggur bertumbuh besar dengan berjalannya waktu, dia dirawat, tanah sekelilingnya dicangkul, dan dia dipangkas. Pohon elm, sebaliknya, nyaris tidak tumbuh. Tetapi apa juga gunanya!... Kemudian elm itu tumbuh kuat. Lihat betapa indahnya dia sekarang? Apabila aku datang kemari, dari kejauhan aku dapat melihat puncaknya tegak menjulang bagai sebuah menara dan dia tampak bagai panji-panji dari kerajaan kecilku. Dulu pohon anggur menyelubunginya dan orang tidak dapat melihat dedaunannya yang indah. Tetapi lihatlah, betapa elok dia menjulang di atas sana, di bawah sinar matahari! Dan betapa elok batangnya! Tegak dan kokoh. Pohon itu akan dapat menopang pohon anggur ini selama bertahun-tahun, bahkan meski dia menjadi pohon-pohon anggur seperti yang diambil oleh para penjelajah Israel dekat Sungai Anggur. Sebaliknya…'  

'Dia membunuhnya. Dia menaklukkannya. Semuanya sudah benar bagi pohon anggur untuk hidup: tanah, tempatnya, cahaya, sinar matahari, perawatan yang kau berikan padanya. Tetapi pohon elm membunuhnya. Dia menjadi terlalu kuat. Dia menjerat akar-akar pohon anggur dan mencekiknya, dia merampas semua air tanah, dia menghalanginya bernapas dan menerima cahaya yang dibutuhkan. Tebanglah pohon kokoh yang tak berguna ini segera, dan pohon anggurmu akan hidup kembali. Dan dia akan hidup kembali bahkan dengan terlebih baik jika kau dengan sabar menggali tanah untuk membongkar akar-akar pohon elm dan lalu memotongnya, demi memastikan bahwa akar-akar itu tidak bertunas. Percabangan-percabangan terakhir mereka akan membusuk di tanah, dan begitu mati mereka akan menjadi hidup, sebab akan menjadi pupuk, suatu hukuman yang pantas atas keegoisannya. Bakarlah batangnya, lalu manfaatkanlah. Sebatang pohon tak berguna yang membahayakan hanya baik dijadikan kayu bakar, dan dia harus dienyahkan supaya semua makanan dalam tanah dapat diperuntukkan bagi tanaman yang baik dan berguna. Milikilah iman akan apa yang aku katakan padamu dan kau akan gembira.'

'Tetapi, siapakah kau? Katakan padaku supaya aku dapat memiliki iman.'

'Aku adalah Yang Bijaksana. Dia yang percaya kepada-Ku akan selamat,' dan Ia pun pergi.

Si petani agak bimbang. Kemudian dia berbulat hati dan dia mengambil gergaji. Dan dia memanggil teman-temannya untuk menolongnya. 'Apa kau gila?' 'Kau akan kehilangan keduanya baik pohon elm maupun pohon anggur.' 'Aku akan memotong hanya puncaknya saja, guna memberikan ruang udara pada pohon anggur. Tetapi, tidak lebih.' 'Pohon anggur harus punya penopang. Kau akan melakukan suatu pekerjaan yang tak berguna.' 'Aku heran siapakah gerangan Ia! Mungkin orang yang membencimu, tanpa kau menyadarinya.' 'Atau seorang gila' dan selanjutnya.

'Aku akan melakukan apa yang dikatakan-Nya kepadaku. Aku memiliki iman kepada-Nya' dan dia menebang pohn elm itu hingga ke akarnya, dan belum puas, dia membiarkan terekspos akar-akar dari kedua tanaman dalam suatu lingkaran luas sekelilingnya, dan dengan sabar dia memotong akar-akar pohon elm, dengan seksama agar tidak merusak akar-akar pohon anggur, dia lalu menimbun lubang itu, dan sebab pohon anggur itu tidak punya penopang, dia menempatkan sebatang tonggak besi kokoh dekatnya dengan kata 'Iman' tertulis pada sebilah papan kayu yang diikatkan pada puncak tiang.

Yang lain-lainnya pergi dengan menggeleng-gelengkan kepala. Musim gugur dan musim dingin berlalu dan musim semi pun tiba. Tunas-tunas anggur yang melilit sekeliling penopangnya mulai berhiaskan kuncup-kuncup, pertama-tama tertutup bagai kantong-kantong beludru keperakan, lalu separuh terbuka oleh daun-daun baru berwarna jamrud, lalu sepenuhnya terbuka, dan akhirnya menghasilkan tunas-tunas baru yang kuat dari batangnya, sepenuhnya berselimutkan bunga-bunga kecil yang berubah menjadi buah-buah anggur. Ada lebih banyak berkas-berkas anggur daripada daun-daunnya, dan dedaunannya lebih besar, lebih hijau, lebih kuat, berukuran dua kali atau tiga kali atau lebih banyak tandannya. Dan tiap-tiap berkas sarat dengan buah-buah anggur mengagumkan yang tebal dagingnya dan banyak airnya.   

'Dan sekarang apa kata kalian? Apakah pohon elm itu adalah penyebab layunya pohon anggurku atau bukan? Apakah Yang Bijaksana benar atau tidak? Apakah aku benar atau tidak dalam menuliskan pada papan itu: "Iman"?' kata si petani kepada teman-temannya yang tercengang.

'Kau benar. Kau bahagia sebab kau punya iman dan kau dapat menghalau masa lalu dan mengabaikan informasi salah yang diberikan kepadamu.'

Itulah perumpamaannya. Sehubungan dengan perempuan yang tidak menghasilkan air susu, itulah jawabnya. Lihatlah ke arah kota."

Mereka semua berpaling dan melihat si perempuan yang tadi; dia berlari-lari ke arah mereka, dan meski dia berlari dia tidak melepaskan bayinya dari payudaranya yang sekarang penuh air susu, yang dihisap oleh si bayi dengan rakusnya hingga nyaris membuatnya tersedak. Perempuan itu baru berhenti ketika dia berada di depan kaki Yesus, di depan Siapa dia melepaskan bayinya dari puting susunya sejenak, seraya berseru: "Terpujilah Ia, kiranya dia boleh hidup untuk-Mu!"

Sesudah itu Yesus kembali berbicara: "Dan kalian sudah punya jawaban atas asumsi kalian yang berbeda-beda atas mukjizat itu. Akan tetapi, perumpamaan itu memiliki makna yang terlebih luas dari episode singkat tentang iman yang beroleh ganjaran. Dan inilah maknanya.

Allah telah menanam pohon anggur-Nya, umat-Nya, di tempat yang sesuai, dan menyuplainya dengan semua yang dibutuhkan untuk tumbuh dan menghasilkan semakin dan semakin banyak buah, menopangnya dengan tuan-tuan supaya umat dapat memahami Hukum dengan lebih mudah, dan menjadikan Hukum sebagai kekuatannya. Tetapi tuan-tuan itu ingin mengungguli sang Pemberi Hukum, dan mereka semakin dan semakin merajalela hingga mereka mengajukan diri mereka sendiri lebih dari Sabda Abadi. Dan Israel menjadi mandul. Allah lalu mengutus Yang bijaksana supaya mereka di Israel yang dengan jiwa benar menyesali kemandulan macam itu dan mengupayakan penyembuhan ini dan itu, seturut perkataan dan nasehat dari para tuan, yang terpelajar secara manusiawi namun tidak terpelajar secara rohani, dan dengan demikian jauh dari mengetahui apa yang harus dilakukan guna mengembalikan hidup kepada roh Israel, dapat beroleh nasehat sehat yang sejati.

Tetapi, apakah yang terjadi? Mengapakah Israel tidak pulih kekuatannya dan menjadi energik seperti pada masa keemasan kesetiaannya kepada Allah? Sebab nasehatnya adalah: enyahkan segala parasit yang telah tumbuh merusakkan apa yang Kudus: Hukum Sepuluh Perintah Allah, sebagaimana ia diberikan, tanpa kompromi, keraguan, kemunafikan apapun… Enyahkan guna memberikan udara, ruang, makanan pada Anggur, pada Umat Allah… Dan suatu penopang yang kuat, tegak, kokoh, unik, dengan nama yang secemerlang matahari: Iman. Tetapi nasehat itu tidak diterima. Aku, oleh karenanya, mengatakan kepada kalian bahwa Israel akan binasa, sementara dia masih dapat hidup kembali dan memiliki Kerajaan Allah jika dia percaya dan melakukan perubahan dan mengubah dirinya dengan sungguh-sungguh.

Pergilah dalam damai dan Tuhan besertamu."
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama