249. YESUS BERTEMU PARA MURID DI SICAMINON           


11 Agustus 1945

Adalah di tepian sebuah sungai dalam yang mengalir deras Yesus mendapati Ishak beserta banyak murid yang aku kenal maupun tidak.

Di antara yang aku kenal ada: kepala sinagoga Air Jernih, Timoneus; Yusuf dari Emaus, yang didakwa melakukan inses; pemuda yang tidak ikut menguburkan ayahnya demi mengikuti Yesus; Stefanus, Habel, si kusta yang disembuhkan dekat Khorazim bersama temannya Samuel; Salomo, tukang tambang dari Yerikho, dan banyak lagi, yang aku kenali tetapi aku tidak ingat sedikit pun di mana aku melihat mereka ataupun nama mereka. Banyak wajah yang sungguh aku kenali, tetapi hanya sebatas sebagai wajah para murid. Dan ada banyak orang-orang lain yang sudah dipertobatkan oleh Ishak atau oleh para murid tersebut di atas yang mengikuti kelompok utama itu dengan harapan dapat bertemu dengan Yesus.

Pertemuan mereka lembut, penuh sukacita dan hormat. Mata Ishak berbinar dengan sukacita, ketika dia menatap pada sang Guru dan memperlihatkan kepada-Nya kawanan barunya dan sebagai ganjaran dia meminta Yesus untuk menyampaikan beberapa patah kata kepada orang-orangnya.

"Tahukah kau suatu tempat yang tenang di mana kita dapat berkumpul bersama?"

"Di ujung teluk ada sebuah pantai lapang, dengan beberapa gubuk nelayan, yang kosong pada masa ini dalam tahun sebab tempat itu tidak sehat dan sebab masa mencari ikan untuk diasinkan sudah berakhir dan para nelayan sudah pergi ke Siro-Fenisia untuk mencari kerang. Banyak dari antara mereka yang sudah percaya kepada-Mu sebab mereka mendengar-Mu berbicara di kota-kota dekat laut atau sebab mereka bertemu dengan para murid, dan mereka memberikan kepada kami gubuk-gubuk kecil itu untuk beristirahat. Kami pergi ke sana sesudah melakukan suatu misi. Sebab ada banyak hal yang perlu dilakukan di wilayah ini, yang sungguh sudah rusak oleh banyak hal. Aku ingin pergi hingga sejauh Siro-Fenisia, dan aku akan dapat melalukannya lewat laut, sebab pesisirnya kering kerontang oleh terik matahari dan mustahil pergi ke sana dengan berjalan kaki. Tetapi aku seorang gembala, bukan seorang pelaut, dan di antara orang-orangku tidak ada bahkan seorang pun yang dapat berlayar."

Yesus, yang mendengarkan dengan seksama, sembari tersenyum simpul, dan dengan sedikit merendahkan kepala-Nya, sebab Ia begitu tinggi dibandingkan si gembala yang kecil, yang bagai seorang prajurit sedang melaporkan semuanya kepada jenderalnya, menjawab: "Allah menolongmu sebab kerendahan hatimu. Jika Aku dikenal di sini itu adalah karena kau, murid-Ku, dan bukan yang lainnya. Kita sekarang akan menanyai orang-orang dari danau apakah mereka merasa mereka dapat berlayar di laut, dan jika mungkin, kita akan pergi ke Siro-Fenisia." Dan Ia berbalik memandang berkeliling untuk mencari Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, yang sedang asyik bercakap-cakap kepada beberapa murid, sementara Yudas dengan hangat mengucapkan selamat kepada Stefanus, dan Zelot, Bartolomeus dan Filipus ada dekat para perempuan. Empat murid lainnya ada bersama Yesus.

Keempat nelayan itu segera datang. "Apa kalian merasa siap untuk mengarungi lautan?" tanya Yesus.

Keempat murid saling menatap satu sama lain dengan tercengang. Petrus mengaruk-garuk rambutnya sementara memikirkannya. Dia lalu bertanya: "Tapi kemana? Jauh dari pantai? Kami ini nelayan ikan air tawar…"     

"Tidak, sepanjang pesisir, sejauh Sidon."

"Hm! Aku pikir itu bisa dilakukan. Bagaimana pendapat kalian?"

"Aku pikir juga begitu. Danau atau laut, masih tetap hal yang sama: air," kata Yakobus.

"Tidak: itu bahkan akan lebih indah dan lebih mudah," seru Yohanes.

"Aku tidak tahu bagaimana kau dapat berkata seperti itu," jawab saudaranya.

"Adalah kecintaannya pada lautan. Dia yang mencintai sesuatu, melihat segala kesempurnaan di dalamnya. Jika kau mencintai seorang perempuan seperti itu, kau akan menjadi seorang suami yang sempurna," kata Petrus bergurau seraya mengguncang-guncangkan tubuh Yohanes dengan sayang.

"Tidak, aku berkata begitu sebab di Askelon aku melihat bahwa manuver-manuvernya sama dan navigasinya sangat mulus," jawab Yohanes.   

"Baik, jadi marilah kita pergi!" seru Petrus.

"Bagaimanapun, akan lebih baik membawa serta seorang dari sini. Kita tidak punya pengalaman dengan laut ini dan dengan kontur kedalamannya," kata Yakobus .

"Oh! Aku bahkan tidak akan berpikir seperti itu. Ada Yesus bersama kita! Sebelumnya aku belum yakin, tetapi sesudah Ia menenangkan danau! Marilah kita pergi bersama Guru ke Sidon. Mungkin ada suatu hal baik yang perlu dilakukan di sana," kata Andreas.

"Baik, marilah kita pergi. Kalian akan mendapatkan perahu-perahunya besok. Mintalah pada Yudas anak Simon untuk memberi kalian uang."

Dan semuanya berbaur bersama, para rasul dan para murid - dan tidak perlu dikatakan betapa bahagianya kebanyakan dari mereka, teristimewa mereka yang sudah mengenal Yesus - mereka menapaki kembali jejak kaki mereka menuju kota, dan berjalan mengitari pinggiran kota, hingga mereka tiba di ujung teluk, yang menjorok ke lautan bagai sebuah lengan yang bengkok. Ada beberapa rumah kecil di sana, tersebar di pantai sempit berkerikil, yang mewakili pojok kota yang paling kumuh dan jarang penduduknya, yang berpenghuni hanya pada jarak-jarak tertentu. Tembok dari rumah-rumah kecil berbentuk kubus itu sudah aus oleh kadar garam serta usia dan semuanya tertutup. Ketika para murid membukanya, tampak kesuramannya yang berasap serta perabotan-perabotan pokok yang seadanya.

"Ini dia. Tidak indah, tapi bersih dan nyaman," kata Ishak, yang bertindak sebagai tuan rumah.

"Barang-barang seadanya ini jelas tidak indah. Air Jernih adalah sebuah istana kerajaan dibandingkan ini. Dan ada sebagian yang mengeluh!..." gerutu Petrus.

"Tapi ini sungguh merupakan suatu kekayaan bagi kami."

"Tentu saja! Hal yang terpenting adalah memiliki atap tempat bernaung dan saling mengasihi satu sama lain. Oh! lihat, itu Yohanes kita! Apa kabar? Di mana saja kau selama ini?"

Tetapi Yohanes dari En-Dor, meski tersenyum pada Petrus, berlari untuk menyalami Yesus Yang menjawabnya dengan perkataan yang teramat lemah lembut.

"Aku tidak mengijinkannya ikut sebab dia tidak sehat… Aku lebih suka dia tinggal di sini. Dia begitu pandai menghadapi warga dan mereka yang menginginkan informasi mengenai Mesias…" kata Ishak.

Laki-laki dari En-Dor itu sungguh jauh lebih kurus dari sebelumnya. Tetapi wajahnya damai tenang. Kurus kering tubuhnya mempermuliakan penampilannya, sehingga orang berpikir mengenainya sebagai seorang yang sudah terkena dampak kemartiran ganda dari daging dan jiwa.

Yesus mengamatinya dan bertanya: "Kau tidak sehat, Yohanes?"

"Aku tidak lebih buruk dari sebelum aku bertemu dengan-Mu. Dan itu sejauh menyangkut tubuhku. Sehubungan dengan jiwaku, aku pikir aku tengah pulih dari luka-luka khasku."

Yesus menatap pada matanya yang damai dan pelipisnya yang cekung, namun tidak mengatakan apapun. Ia menempatkan tangan pada bahunya sementara memasuki sebuah rumah kecil bersamanya, ke dalam mana mereka sudah membawa baskom-baskom berisi air asin untuk menyegarkan kaki mereka yang letih dan bejana-bejana berisi air sejuk untuk menyegarkan dahaga mereka, sementara di luar mereka menempatkan meja pada sebilah papan desa yang dinaungi oleh pergola sangat sederhana dari tanaman creeper yang menjalar.

Sementara senjakala merayap dan lautan membisikkan doa-doa sorenya dengan desiran ombak yang memecah di pantai yang berkerikil, sungguh indah menyaksikan Yesus bersantap malam bersama para perempuan dan para rasul, dengan duduk di atas bilah papan yang kasar, sementara yang lainnya, dengan duduk di lantai, atau di tempat-tempat duduk atau keranjang-keranjang yang dibalikkan, membentuk sebuah lingkaran sekeliling meja utama.

Perjamuan segera usai dan meja dibersihkan bahkan dengan terlebih segera, sebab hanya ada sangat sedikit piring, hanya untuk tamu-tamu yang lebih penting. Lautan sudah berubah menjadi nila-hitam di bawah malam tak berbintang. Dan segala keagungannya tampil di saat yang sedih namun khidmad ini, khas pantai laut.

Yesus, Yang figur tinggi dan putih-Nya mencolok dalam bayang-bayang yang semakin dan semakin gelap, bangkit dari meja dan maju ke tengah kelompok apostolik, sementara para perempuan undur diri. Ishak dan seorang laki-laki lain menyalakan api-api kecil di pantai guna menerangi malam dan menjauhkan kawanan nyamuk, yang mungkin berasal dari rawa-rawa dekat sana.

"Damai sertamu sekalian.

Kerahiman Allah telah mempersatukan kita sebelum saat yang ditentukan, dengan memberikan sukacita timbal balik kepada hati kita. Aku telah menyelidiki hati kalian semua, yang secara moral baik, sebagaimana dibuktikan dengan keberadaan kalian di sini, menantikan-Ku, dibentuk dalam Aku, namun demikian masih belum sempurna secara rohani sebagaimana dibuktikan oleh beberapa reaksi kalian yang menunjukkan bagaimana manusia lama Israel masih tinggal dalam diri kalian dengan segala gagasan dan syak wasangkanya, dan manusia baru, manusia Kristus dengan mentalitas Kristus yang luas, terang berbelas-kasihan dan bahkan cinta kasih yang terlebih luas lagi belum muncul dari dalamnya, bagai seekor kupu-kupu muncul dari kepompongnya. Janganlah merasa malu jika Aku telah meneliti dengan cermat dan menyelidiki segala rahasiamu. Seorang guru harus mengenali murid-muridnya guna mengoreksi kesalahan-kesalahan mereka, dan percayalah pada-Ku, jika dia seorang guru yang baik, dia tidak akan jijik terhadap mereka yang padanya didapati lebih banyak kesalahan, sebaliknyalah dia memberikan perhatian terlebih besar pada mereka, guna menyempurnakan mereka. Kalian tahu bahwa Aku seorang Guru yang baik. Dan sekarang marilah kita merenungkan reaksi-reaksi dan syak wasangka itu, marilah kita merenungkan bersama alasan mengapa kita berada di sini, dan sebab sukacita yang kita alami dengan berkumpul bersama, marilah kita memuji Allah, Yang selalu menyelenggarakan suatu kesejahteraan bersama dari suatu kesejahteraan individu.

Aku telah mendengar dari bibir kalian sendiri betapa kalian mengagumi Yohanes dari En-Dor, dan kekaguman kalian bahkan terlebih mendalam sebab dia mengakui diri sebagai seorang pendosa yang bertobat dan atas kondisi masa lalu dan masa sekarangnya dia mendasarkan argumentasi dari khotbahnya bagi mereka yang ingin dia hantar kepada-Ku. Memang benar: dia dulu seorang pendosa. Sekarang dia adalah seorang murid. Banyak dari antara kalian yang sekarang sudah datang kepada Mesias melalui jasanya. Dengan demikian kalian dapat melihat bahwa Allah menciptakan umat baru Allah tepat melalui sarana-sarana itu yang akan diremehkan oleh manusia lama Israel.

Aku sekarang meminta kalian untuk menahan diri dari salah menilai kehadiran seorang saudari, yang tak dapat dipahami manusia Israel lama sebagai seorang murid. Aku tadi meminta para perempuan untuk pergi dan beristirahat. Aku tidak sebegitu antusias untuk menyuruh mereka beristirahat. Karena Aku harus dapat menyampaikan kepada kalian suatu permenungan yang seksama dan kudus mengenai pertobatannya dan dengan demikian menghindarkan kalian dari berbuat dosa melawan kasih dan keadilan, itulah sebabnya mengapa Aku memberikan perintah itu, yang sudah pasti mengecewakan mereka.

Maria dari Magdala, si pendosa besar, yang tidak punya dalih untuk dosanya, sudah kembali kepada Allah. Dan dari siapakah dia akan mengharapkan iman dan kerahiman selain dari Allah dan para pelayan Allah? Seluruh Israel, dan bersama Israel orang-orang asing yang ada di antara kita, yang mengenalnya dengan sangat baik dan menghakiminya dengan sangat keras, mengkritik dan menertawakan kebangkitannya, sekarang sesudah dia bukan lagi kaki tangan mereka dalam kejahatan.

Kebangkitan. Itulah kata yang tepat. Membangkitkan daging dari kematian bukanlah mukjizat terbesar; melainkan hanya suatu mukjizat relatif sebab ditakdirkan untuk dibatalkan suatu hari kelak oleh kematian. Aku tidak memberikan kekekalan kepada mereka yang dagingnya Aku bangkitkan dari kematian, melainkan Aku memberikan kekekalan kepada mereka yang tersadar dalam jiwa mereka. Dan sementara seorang, yang tubuhnya mati, tidak mempersatukan kehendaknya dengan kehendak-Ku supaya kembali hidup dan karenanya dia tidak beroleh ganjaran, ada suatu kehendak teguh dalam diri orang yang hidup kembali secara rohani, bukan, kehendaknya ada di sana terlebih dahulu. Dan dengan demikianlah dia beroleh ganjaran.

Aku tidak mengatakan ini demi membenarkan Diri-Ku sendiri. Aku harus memberikan pertanggung-jawaban dari perbuatan-Ku hanya kepada Allah semata. Tetapi kalian adalah murid-murid-Ku. Dan tiap-tiap dari kalian harus menjadi Yesus yang lain. Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang boleh menjadi masa bodoh atau bersalah atas suatu pun dari kesalahan-kesalahan yang berakar dalam itu, di mana begitu banyak orang bersatu dengan Allah hanya dalam nama.

Semuanya dapat menjadi suatu perbuatan yang baik. Juga apa yang tampaknya kurang pantas untuk itu. Apabila suatu materia dipersembahkan pada kehendak Allah, bahkan meski materia itu adalah yang paling pasif, dingin dan kotor, dia dapat menjadi hidup, berkobar dengan keindahan yang murni.

Aku akan memberikan kepada kalian suatu contoh yang diambil dari Kitab Makabe. Ketika Nehemia diutus kembali ke Yerusalem oleh Raja Persia, mereka memutuskan untuk mempersembahkan kurban di altar yang sudah ditahirkan dalam Bait Allah yang telah dibangun kembali. Nehemia ingat bahwa pada waktu mereka ditangkap oleh bangsa Persia, para imam yang bertugas untuk ibadat Allah biasa mengambil api dari altar dan menyembunyikannya di suatu tempat rahasia, di dasar sebuah lembah, di sebuah sumur kering yang dalam, dan mereka melakukannya dengan sangat cermat dan diam-diam hingga hanya mereka sajalah yang tahu di mana api suci itu berada. Sementara Nehemia mengenangkan semua itu, ia meminta para cucu dari para imam itu untuk pergi ke tempat yang oleh para imam, sebelum ajal, telah disingkapkan kepada anak-anak mereka, yang pada gilirannya menyampaikannya kepada anak-anak mereka, mewariskan rahasia dari ayah kepada anak, dan untuk mengambil api suci guna menyalakan api untuk persembahan. Tetapi ketika para cucu itu turun ke dalam sumur rahasia, mereka tidak menemukan api di sana, dan sebaliknya mereka menemukan air lumpur, suatu lumpur kental yang berbau busuk, yang telah disaring turun ke sana dari segala saluran kotoran yang tersumbat dari kota Yerusalem yang hancur. Dan mereka memberitahukannya kepada Nehemia, yang menyuruh mereka untuk mengambil sebagian dari air itu dan membawanya naik kepadanya. Sesudah menempatkan kayu bakar di altar dan kurban-kurban di atasnya, dia memerciki semuanya dengan berlimpah dengan air lumpur itu. Orang banyak tercengang dan para imam terguncang, tetapi mereka mengamati dan melakukan semuanya dengan penuh hormat, hanya karena adalah Nehemia yang memerintahkannya kepada mereka. Namun betapa sedih hati mereka! Dan betapa mereka merasa patah hati! Seperti langit yang mendung menjadikan hari suram, demikianlah ketidakpastian membuat orang-orang itu murung. Tetapi matahari menembusi awan-awan dan berkas-berkasnya turun ke atas altar dan kayu api yang sudah diperciki dengan air lumpur menjadi berjolak, dan api segera melalap kurban, sementara para imam mendaraskan doa-doa yang telah ditulis oleh Nehemia, menyanyikan madah-madah Israel yang paling indah, hingga seluruh kurban dilalap habis. Dan demi meyakinkan khalayak ramai bahwa Allah dapat mengerjakan mukjizat-mukjzat juga melalui sarana-sarana yang paling tidak layak, apabila itu digunakan untuk suatu tujuan yang benar, Nehemia memerintahkan agar air yang tersisa dipercikkan pada beberapa batu besar. Dan segera sesudah batu-batu itu diperciki, batu-batu itu berjolak dan dipadamkan oleh api besar yang datang dari altar.  

Setiap jiwa adalah api suci yang ditempatkan oleh Allah di altar hati manusia agar dapat membakar kurban hidup melalui kasih kepada sang Pencipta hidup. Setiap hidup adalah suatu holocaust, apabila diamalkan dengan baik, dan setiap hari adalah kurban untuk dipersembahkan secara kudus. Akan tetapi para perusak datang, para penindas manusia dan para penindas jiwa manusia. Api jatuh ke dalam sumur yang dalam, bukan melalui suatu kepentingan yang kudus, melainkan melalui kebodohan yang menentukan. Dan direndam oleh segala pembuangan dari liang-liang kejahatan, dia menjadi lumpur kental yang busuk, hingga seorang imam turun ke dasar itu dan membawa lumpur itu naik ke siang hari, menempatkannya pada holocaust dari kurbannya sendiri. Sebab - dan ingat ini - kegagahan dari manusia yang hendak dipertobatkan tidaklah cukup: juga kegagahan dari dia yang mempertobatkan dibutuhkan. Bukan, yang terakhir ini harus mendahului yang pertama, 'sebab jiwa-jiwa diselamatkan melalui kurban kita.' Sebab dengan demikianlah kita berhasil dalam membawa lumpur berubah menjadi api dan Allah untuk menghakimi sebagai sempurna dan menyukakan kekudusan-Nya kurban yang tengah terbakar itu.

Kemudian, sebab masih belum cukup untuk meyakinkan dunia bahwa lumpur yang bertobat itu membakar lebih hebat dari api biasa, bahkan meski itu adalah api yang dikonsekrasikan - api biasa berguna hanya untuk membakar kayu dan kurban, yakni, material yang mudah terbakar - maka lumpur yang bertobat itu menjadi sebegitu dahsyat hingga menjolakkan dan membakar bahkan batu-batuan, yang adalah material yang tahan api. Tidakkah kalian heran dari manakah kedahsyatan yang demikian datang atas lumpur itu? Tidak tahukah kalian? Akan Aku katakan kepada kalian: sebab dalam semangat pertobatan mereka menyatu dengan Allah, api dengan api; api yang naik, api yang turun; api yang menawarkan kasihnya sendiri, api yang memberikan kasihnya sendiri; pelukan dari dua yang mengasihi dan saling menemukan satu sama lain, yang menggabungkan diri menjadi satu saja. Dan sebab api Allah adalah yang lebih besar, dia melimpahi, menggungguli, merasuki, meresapi dan api dari lumpur yang bertobat itu bukan lagi suatu api relatif dari suatu ciptaan, melainkan api tak terhingga dari Yang Tak Diciptakan: dari Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, Allah Yang Tak Terhingga.

Itulah apa yang sesungguhnya dan sepenuhnya mempertobatkan para pendosa besar, yang telah dengan murah hati membaktikan diri mereka sendiri demi pertobatan mereka tanpa menahan suatu pun dari masa lalu mereka, dengan membakar diri mereka sendiri sebagai hal yang pertama, di bagian mereka yang terlebih berat, melalui sarana api yang muncul dari lumpur mereka, yang telah lari kepada Rahmat dan telah disentuh oleh Rahmat. Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepada kalian bahwa banyak bebatuan di Israel yang akan diserang api Allah oleh sebab perapian-perapian yang bernyala-nyala ini, yang akan semakin dan semakin berkobar, hingga manusia ciptaan sama sekali dilalap habis. Dan dari takhta-takhta mereka di Surga mereka akan terus membakar bebatuan, yang suam-suam kuku, yang bimbang, yang ragu-ragu dari Dunia, dan sebagai cermin-cermin rohani sejati yang membakar, mereka akan menghimpun berkas-berkas Yang Esa dan Tritunggal guna mengarahkannya ke atas umat manusia dan membuatnya berkobar dalam Allah.   

Aku akan mengulang bahwa Aku tidak harus membenarkan perbuatan-Ku, tetapi Aku ingin kalian memahami konsepsi-Ku dan menjadikannya konsepsi kalian sendiri. Suatu konsepsi yang salah, suatu syak wasangka kaum Farisi bahwa adalah mencemarkan Allah dengan membawa seorang pendosa yang bertobat kepada-Nya, janganlah pernah menghentikan kalian dari suatu perbuatan yang demikian yang adalah pemahkotaan sempurna dari misi yang Aku takdirkan atas kalian. Selalu camkan dalam benak bahwa Aku tidak datang demi menyelamatkan orang-orang kudus, melainkan orang-orang berdosa. Dan berlakulah demikian juga, sebab seorang murid tidak lebih dari Guru-nya, dan jika Aku tidak menganggap jijik menggandeng tangan mereka yang adalah sampah Dunia yang merasa membutuhkan Surga - yang sesudah begitu lama pada akhirnya merasakannya -, dan dengan bersukacita Aku membawa mereka kepada Allah, sebab itulah misi-Ku, dan segenap jiwa yang takluk membenarkan inkarnasi-Ku, yang merendahkan Ketakterhinggaan-Ku, demikian pula janganlah kalian menganggap jijik melakukannya, sebab kalian adalah orang-orang yang tidak sempurna, dan kalian semua telah menjadi kurang lebih mengenal ketidaksempurnaan, sebab kalian berasal dari kodrat yang sama dengan saudara-saudaramu yang berdosa, dan Aku telah memilih kalian ke bilangan para juruselamat supaya karya-Ku di Dunia dapat diteruskan untuk selamanya, seolah Aku terus hidup di dunia dalam suatu hidup yang tanpa akhir.

Dan demikianlah yang akan terjadi, sebab persatuan para imam-Ku akan menjadi seperti bagian vital dari tubuh agung Gereja-Ku, yang atasnya Aku akan menjadi Roh yang menghidupkan, dan partikel-partikel tak terbilang jumahnya dari umat yang percaya akan berkumpul sekeliling bagian vital ini guna membentuk satu tubuh saja, yang akan disebut seturut nama-Ku. Akan tetapi, andai bagian imam ini kehilangan vitalitas [= daya hidup] akankah partikel-partikel yang tak terhitung banyaknya itu dapat hidup? Sesungguhnya, sebab Aku ada dalam tubuh, Aku dapat memperluas Hidup-Ku sejauh partikel-partikel yang paling jauh, dengan tanpa menghiraukan saluran-saluran dan waduk-waduk yang tersumbat dan yang tak berguna, yang enggan untuk menunaikan misi mereka. Sebab hujan turun ke mana saja dia kehendaki dan partikel-partikel yang baik, sebab dapat dari diri mereka sendiri merindukan hidup, akan masih hidup dalam Hidup-Ku. Tetapi akan jadi apakah ke-Kristenan nantinya? Suatu kumpulan akrab dari jiwa-jiwa, yang satu dekat dengan yang lainnya. Yang satu dekat dengan yang lainnya dan kendati demikian dipisahkan oleh saluran-saluran dan waduk-waduk yang tidak lagi menghubungkan mereka, dengan mendistribusikan kepada setiap partikel darah vital yang berasal dari satu pusat saja. Tetapi akan ada dinding-dinding pemisah dan jurang-jurang pemisah di mana partikel-partikel akan saling menatap satu sama lain, dan mereka akan bermusuhan secara manusiawi, dan menderita secara rohani, dengan berkata dalam roh mereka: 'Dan meski begitu kita adalah saudara-saudara dan kita masih merasa demikian, kendati mereka telah memisahkan kita!' Akan menjadi suatu kedekatan jiwa-jiwa, bukan suatu persatuan atau suatu organisme. Dan kasih-Ku akan bersinar penuh derita atas kerusakan yang demikian… Lebih jauh, janganlah berpikir bahwa itu berlaku hanya bagi skisma-skisma religius. Tidak. Itu berlaku juga bagi semua jiwa-jiwa yang tinggal sendirian sebab para imam menolak untuk menopang mereka, untuk merawat mereka, untuk mengasihi mereka, dengan melanggar misi mereka, yang adalah mengatakan dan melakukan apa yang Aku katakan dan lakukan, yakni: 'Datanglah kepada-Ku, kalian semua, dan Aku akan menghantarmu kepada Allah.'

Pergilah dalam damai, sekarang, dan Allah besertamu."

Khalayak ramai bubar perlahan, menuju rumah-rumah kecil mereka. Juga Yohanes dari En-Dor bangkit. Ia tadi membuat catatan sepanjang Yesus berbicara dan sebab memeriksa apa yang sudah dia tulis, dia menjadi merah padam dekat perapian. Namun Yesus menghentikannya dengan berkata: "Tinggallah sebentar bersama Guru-mu." Dan Ia membuatnya dekat dengan-Nya hingga mereka semua sudah pergi. "Marilah kita pergi hingga ke batu karang itu yang dekat air. Bulan tinggi di langit dan kita dapat melihat jalan kita."

Yohanes taat tanpa membantah. Mereka beranjak pergi dari rumah-rumah itu sekitar dua ratus meter dan duduk di sebuah batu raksasa, yang tidak aku ketahui apakah itu adalah reruntuhan sebuah dermaga, ataukah percabangan ekstrim dari sebuah tebing yang jatuh masuk ke dalam lautan, ataukah reruntuhan dari salah satu rumah-rumah kecil itu yang ditelan air yang selama berabad-abad semakin maju ke pantai. Aku tahu bahwa sementara dari pantai kecil itu adalah mungkin untuk memanjat ke batu karang, dengan memanfaatkan rongga-rongga dan tonjolan-tonjolan batu, yang membentuk semacam suatu anak-anak tangga, di sisi pantai pemandangannya adalah sebuah tebing terjal yang berakhir di lautan biru. Karena air pasang, separuh batu karang dikelilingi air, yang bergemuruh dan dengan lembut menghantam halangan dan lalu undur diri dengan suara desahan yang berat, menjadi hening sejenak, lalu mulai dari awal kembali, dengan gerakan-gerakan teratur dan suara tamparan, desahan dan jeda, bagai suatu musik sinkopasi. Mereka duduk di tempat paling puncak dari batu raksasa yang diterjang lautan. Bulan menggalurkan sebuah jalan keperakan di permukaan air dan lautan tampak biru gelap di bawah sinar rembulan, sementara sebelum bulan terbit, lautan bagai suatu hamparan kehitaman yang luas di kegelapan malam.

"Yohanes, tidakkah kau mengatakan pada Guru-mu alasan mengapa tubuhmu menderita?"

"Engkau tahu, Tuhan-ku. Tetapi janganlah katakan: 'dia menderita.' Katakan saja: 'dia tengah dimakan habis.' Itu lebih tepat, dan Engkau tahu, dan Engkau juga tahu bahwa dia tengah dimakan habis oleh sukacita. Terima kasih kepada-Mu, Tuhan. Aku mengenali diriku sendiri juga, dalam lumpur yang menjadi api. Tetapi aku tidak akan punya waktu untuk menjolakkan batu-batu. Aku akan segera mati. Aku sudah menderita terlalu hebat melalui kedengkian dunia dan aku bersukacita terlalu hebat oleh karena kasih kepada Allah. Tetapi aku tidak menyesali hidup. Aku bisa saja berdosa lagi di sini, atau gagal dalam misi yang Engkau takdirkan atas kami. Aku sudah gagal dua kali dalam hidupku. Dalam misiku sebagai seorang guru, sebab seharusnya aku dapat mencari tahu apa yang diperlukan guna menyempurnakan diriku dan aku tidak melatih diriku… Dalam misiku sebagai seorang suami, sebab aku tidak dapat membentuk istriku… yang adalah logis. Sebab aku tidak dapat menyempurnakan diriku sendiri, aku juga tidak dapat menyempurnakannya. Aku bisa saja gagal dalam misiku sebagai seorang murid. Dan aku tidak mau gagal dengan Engkau. Oleh karenanya, diberkatilah kematian jika ia datang untuk membawaku ke tempat di mana orang tidak lagi dapat berdosa! Tetapi, jika aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang murid yang mengajar, aku akan menjadi seorang murid yang berkurban, yang takdirnya lebih serupa dengan takdir-Mu. Engkau mengatakannya sore ini: 'Membakar diri kita sendiri sebagai hal yang pertama.'"  

"Yohanes, apakah itu suatu takdir yang kau derita, atau apakah itu suatu persembahan yang kau buat?"

"Suatu persembahan, yang aku buat, jika Allah tidak memandang hina lumpur yang sudah menjadi api."

"Yohanes, kau melakukan banyak penitensi."

"Para kudus melakukannya, Engkau adalah yang pertama. Maka adalah adil bahwa dia sepatutnya melakukannya, dia yang punya begitu banyak untuk dilunasi. Tetapi apakah Engkau pikir bahwa persembahanku tidak menyukakan Allah? Apakah Engkau melarangku melakukannya?"

"Aku tidak pernah ikut campur dalam kerinduan baik dari suatu jiwa yang mengasihi. Aku datang untuk mengkhotbahkan melalui fakta-fakta aktual bahwa penderitaan adalah silih dan dukacita penebusan. Aku tidak dapat menyangkal Diri-Ku sendiri."

"Terima kasih, Tuhan. Itu akan menjadi misiku."

"Apa yang sudah kau tulis, Yohanes?"

"Oh! Guru! Terkadang muncul dalam diri si tua Felix ini kebiasaan-kebiasaannya sebagai seorang guru. Aku memikirkan Marjiam. Dia punya sepanjang hidupnya untuk mewartakan Engkau, tetapi sebab usianya, dia tidak di sini untuk mendengarkan khotbah-khotbah-Mu. Aku pikir aku sebaiknya menuliskan pengajaran-pengajaran tertentu yang Engkau sampaikan kepada kami dan yang tidak dia dengar, sebab dia asyik bermain, atau dia nun jauh bersama salah seorang dari kita. Ada begitu banyak kebijaksanaan dalam sabda-Mu, juga dalam yang tampaknya paling remeh! Percakapan-percakapan keseharian-Mu adalah suatu pelajaran mengenai hal-hal setiap hari dan setiap manusia, mengenai yang tampaknya paling remeh dalam hidup, yang bagaimanapun adalah yang paling penting, sebab dengan menumpuknya hal-hal itu akan membentuk suatu beban berat, yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, penyerahan diri untuk ditanggung secara kudus.

Adalah lebih mudah untuk melakukan satu saja perbuatan besar yang heroik daripada seribu perbuatan kecil yang untuknya suatu kehadiran terus-menerus dari keutamaan dibutuhkan. Dan meski begitu, orang tidak akan sampai pada suatu perbuatan besar, baik dalam perbuatan baik maupun buruk, aku mengetahuinya melalui pengalaman sehubungan dengan kejahatan, terkecuali orang menimbun banyak perbuatan-perbuatan kecil, yang tampaknya remeh. Aku mulai membunuh ketika, capai akan perbuatan main-main istriku, aku memandang sebelah mata padanya untuk pertama kalinya. Aku telah menuliskan pengajaran-pengajaran singkat-Mu untuk Marjiam. Dan sore ini aku ingin membuat satu catatan mengenai pengajaran agung-Mu. Aku akan meninggalkan karyaku untuk si bocah, supaya dia dapat mengenangkan aku, si guru tua, dan dia dapat memiliki apa yang jika tidak demikian tidak akan pernah dimilikinya. Sabda-Mu: suatu harta pusaka yang mengagumkan baginya. Apakah Engkau mengijinkanku?"

"Ya, Yohanes. Tetapi tinggallah dalam damai sepenuhnya, seperti lautan ini. Lihat? Akan teralu panas bagimu untuk berkelana di bawah terik matahari, dan kehidupan apostolik sangatlah berat. Kau sudah berjuang begitu banyak dalam hidup. Sekarang Allah memanggilmu kepada Diri-Nya dalam sinar rembulan yang damai ini yang membuat segalanya tenang dan murni. Majulah dalam kebaikan Allah. Aku dapat katakan padamu: Allah berkenan padamu."

Yohanes dari En-Dor meraih tangan Yesus, menciumnya dan berbisik: "Dan walau demikian akan sungguh indah dapat mengatakan kepada dunia: 'Datanglah kepada Yesus!'"

"Kau akan mengatakannya dari Firdaus, di mana kau akan juga menjadi sebuah cermin yang membakar. Marilah kita pergi, Yohanes. Aku ingin membaca apa yang sudah kau tuliskan."

"Ini, Tuhan. Dan esok hari aku akan memberi-Mu gulungan lainnya di mana aku menuliskan sabda-sabda lainnya."

Mereka turun dari batu raksasa itu, dan dalam cahaya rembulan yang paling cemerlang, yang telah mengubah pantai yang berkerikil menjadi keperakan, mereka kembali ke rumah-rumah kecil. Mereka saling mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, Yohanes dengan berlutut, Yesus memberkatinya dengan tangan-Nya ditumpangkan di atas kepalanya dan memberinya damai-Nya.      
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama