248. MENUJU SICAMINON            


10 Agustus 1945

Pagi yang cerah dan tenang membantu kelompok apostolik dalam mendaki bukit-bukit yang terbentang ke arah barat, yakni menuju laut.

"Kita melakukan hal yang tepat dengan tiba di pegunungan ketika hari masih pagi. Kita tidak akan dapat bertahan di dataran di bawah terik seperti ini. Teduh dan sejuk di sini. Aku merasa kasihan kepada mereka yang mengikuti jalan Romawi. Oke-oke saja pada musim dingin, tentunya," kata Matius.

"Sesudah bukit-bukit ini kita akan mendapati angin dari laut. Itu selalu meredakan udara," kata Yesus.

"Kita akan makan di puncak. Kali lalu sungguh indah. Dan dari sini pastilah jauh lebih indah sebab kita lebih dekat dengan Gunung Karmel dan dengan laut," tambah Yakobus Alfeus.

"Tanah air kita sungguh indah!" seru Andreas.

"Ya. Segalanya ada. Pegunungan berselimutkan salju, bukit-bukit, danau-danau dan sungai-sungai yang indah, segala macam pepohonan, dan ada juga laut. Sungguh suatu negeri elok yang dielu-elukan oleh para pemazmur, para nabi kita, para ksatria besar dan penyair kita," kata Tadeus.

"Ulangilah sebagian darinya, sebab kau tahu begitu banyak hal," kata Yakobus Zebedeus.

"'Dengan keindahan Firdaus Ia membentuk tanah Yudas.
Dengan senyum para malaikat-Nya Ia menghiasi tanah Naftali
dan dengan sungai-sungai dari madu surgawi Ia memberi rasa pada buah-buah tanahnya…
Seluruh ciptaan tercermin dalam dirimu, ya permata Allah,
yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat-Nya yang kudus.
O tanah yang berbahagia, keindahanmu adalah bagi hati anak-anakmu
lebih manis dari anggur subur yang masak di sisi-sisi bukitmu,
lebih nikmat dari susu yang memenuhi ambing domba-domba betinamu,
lebih memabukkan dari madu dengan rasa bunga-bungaan yang menghiasimu.
Langit turun untuk menjadi sebuah sungai yang menyatukan dua permata,
dengan membentuk medali dan ikat pinggang pada gaun hijaumu.
Yordan menyanyi, satu dari lautanmu tersenyum,
sementara yang lainnya mengingatkan manusia bahwa Allah penuh ketakjuban
dan di senja hari bukit-bukit seolah menari bagai para gadis yang riang di padang,
dan di saat fajar yang bak malaikat pegununganmu berdoa atau memadahkan Haleluya
dalam semarak matahari, atau menyembah kuasa-Mu dengan bintang-bintang,
Allah Yang Mahatinggi, Engkau tidak melingkungi kami dalam batas-batas yang sempit,
melainkan Engkau memberikan kepada kami lautan terbuka untuk mewartakan kepada kami bahwa dunia adalah milik kami.'"

"Bagus. Sangat indah! Aku hanya pernah berada di danau dan Yerusalem; selama bertahun-tahun aku tidak melihat manapun lainnya. Sejauh ini aku mengenal hanya Palestina. Tetapi aku yakin bahwa tidak ada yang terlebih indah di dunia," kata Petrus penuh kebanggaan nasionalis.  

"Maria mengatakan padaku bahwa lembah Nil juga indah," kata Yohanes.

"Dan laki-laki yang dari En-Dor berbicara mengenai Siprus seolah itu adalah firdaus," tambah Simon.

"Eh! Tetapi tanah kita!..."

Dan semua rasul terkecuali Iskariot dan Tomas, yang ada bersama Yesus sedikit lebih di depan yang lain-lainnya, melanjutkan pembicaraan dengan memuji keindahan Palestina.

Para perempuan adalah yang terakhir tiba, sebab mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak memungut benih-benih bunga-bungaan untuk ditebarkan di kebun-kebun mereka, juga sebab bunga-bungaan itu sungguh indah yang akan menjadi kenangan perjalanan mereka.

Beberapa elang, aku pikir itu adalah elang laut atau burung hering, terbang dalam lingkaran-lingkaran besar di atas puncak-puncak bukit, dengan sesekali menukik untuk mencari mangsa. Dan dua burung hering mulai berkelahi, saling menyerang satu sama lain dengan gerakan-gerakan tangkas di udara, keduanya kehilangan bulu-bulu mereka di setiap serangan: suatu duel yang indah namun sengit yang berakhir dengan terbang perginya pihak yang kalah, yang mungkin undur diri untuk mati di suatu puncak gunung terpencil. Setidaknya, itulah apa yang dipikirkan semua orang, dengan menilai terbangnya yang susah payah, seolah burung itu hendak mati.

"Ketamakan itu tidak ada gunanya," komentar Tomas.

"Ketamakan dan kedegilan selalu berakibat masalah. Juga mereka bertiga itu kemarin!... Kerahiman abadi! Betapa takdir yang mengerikan!" kata Matius.

"Apakah mereka tidak akan pernah sembuh?" tanya Andreas.

"Tanyakanlah pada Guru."

Ketika ditanyakan pada Yesus, Ia menjawab: "Adalah lebih baik bertanya apakah mereka akan bertobat. Sebab dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu bahwa adalah lebih baik mati sebagai seorang penderita kusta yang kudus daripada seorang pendosa yang sehat. Kusta akan tetap ada di Bumi, dalam kubur. Dosa akan ada selamanya."

"Aku sungguh sangat suka dengan khotbah-Mu kemarin sore," kata Zelot.

"Aku, sebaliknya, tidak. Terlalu keras untuk terlalu banyak orang di Israel," kata Iskariot.

"Kau seorang dari mereka?"

"Tidak, Guru."

"Jadi, baiklah. Mengapa kau gusar?"

"Sebab itu dapat berdampak buruk bagi-Mu."

"Jadi, seharusnya Aku bersepakat dengan para pendosa dan menjadi kaki tangan mereka, guna menghindari dampak buruk yang mungkin?"

"Aku tidak berkata begitu. Engkau tidak dapat berbuat seperti itu. Tetapi diamlah. Janganlah memusuhi mereka yang berkuasa…"

"Diam berarti memberikan persetujuan. Aku tidak memberikan persetujuan atas dosa. Baik pada orang kebanyakan, maupun pada mereka yang berkuasa."

"Lihat apa yang terjadi pada Pembaptis?"

"Kemuliaannya."

"Kemuliaannya? Aku pikir itu adalah kehancurannya."

"Aniaya dan kematian yang diderita demi setia pada kewajiban kita adalah kemuliaan bagi manusia. Seorang martir adalah selalu jaya."

"Tetapi dengan kematiannya dia menghindarkan diri dari menjadi seorang guru, dan mendukakan para muridnya dan para kerabatnya. Dia membebaskan dirinya sendiri dari segala penderitaan, tetapi dia meninggalkan yang lain-lainnya dalam penderitaan yang terlebih besar. Pembaptis tidak punya kerabat, itu benar. Tetapi dia masih punya kewajiban terhadap murid-muridnya."

"Bahkan meski dia punya kerabat, akan masih tetap sama halnya. Panggilan lebih dari sekedar darah."

"Dan bagaimana dengan perintah keempat?"

"Perintah itu sesudah perintah-perintah yang menyangkut Allah."

"Engkau lihat kemarin bagaimana seorang ibu dapat menderita untuk puteranya…"

"Bunda! Kemarilah."

Maria bergegas menghampiri Yesus dan bertanya: "Apakah yang Engkau inginkan, Nak?"

"Bunda, Yudas dari Keriot memperdebatkan perkara-Mu, dia mengasihi Engkau dan mengasihi Aku."

"Perkara-Ku? Sehubungan dengan apa?"

"Dia ingin meyakinkan-Ku untuk lebih bijaksana, supaya Aku tidak akan harus menderita seperti sanak kita, Pembaptis. Dan dia mengatakan pada-Ku bahwa putera haruslah berbelas-kasihan kepada ibunya, dengan menjauhkan diri dari masalah demi untuk ibunya, sebab itulah apa yang ditetapkan perintah keempat. Bagaimanakah pendapat-Mu? Berbicaralah Bunda, supaya Engkau dapat dengan lemah lembut mengajar Yudas kita."  

"Aku katakan bahwa Aku tidak akan lagi mengasihi PutraKu sebagai Tuhan, bahwa Aku akan mulai meragukan apakah selama ini Aku salah dan apakah Aku selalu ditipu sehubungan dengan Kodrat-Nya, apabila Aku melihat-Nya gagal dalam kesempurnaan-Nya, dengan merendahkan pemikiran-Nya ke tingkat pemikiran manusia, dengan kehilangan pandangan akan pemikiran adikodrati yakni, penebusan, upaya untuk menebus manusia, demi kepentingan manusia sendiri dan demi kemuliaan Allah, dengan harga menyerahkan Diri-Nya Sendiri pada penderitaan dan kebencian. Aku akan tetap mengasihi-Nya sebagai seorang Putra yang dihantar pada kesesatan oleh suatu kekuatan jahat, dan Aku akan mengasihi-Nya karena iba, sebab Ia adalah PutraKu, sebab Ia akan menjadi seorang terpuruk yang malang, tetapi Aku tidak akan dapat mengasihi-Nya dengan kepenuhan kasih sebagaimana Aku mengasihi-Nya sekarang bahwa Aku melihat-Nya setia pada Allah."

"Maksud-Mu pada Diri-Nya Sendiri."

"Pada Allah. Sekarang Ia adalah Mesias Allah dan harus setia kepada Allah seperti semua orang lainnya, bahkan lebih dari semua orang lainnya, sebab misi-Nya terlebih besar dari orang-orang lainnya yang dulu, sekarang, atau akan pernah ada di Bumi, dan Ia pastilah mendapatkan dari Allah pertolongan yang sesuai bagi misi yang sebegitu besar."

"Tetapi jika sesuatu yang buruk terjadi pada-Nya, tidakkah Engkau akan menangisi-Nya?"

"Aku akan mencurahkan semua airmata-Ku. Tetapi Aku akan meneteskan airmata darah jika Aku melihat-Nya tidak setia kepada Allah."

"Itu akan meringankan sebagian besar dosa dari mereka yang menganiaya-Nya."

"Kenapa?"

"Sebab keduanya, baik Engkau maupun Ia, hampir-hampir membenarkan mereka."

"Jangan percaya itu. Dosa-dosa mereka akan selalu sama di mata Allah, entah kami menilai bahwa itu tidak terelakkan, atau kami menganggap bahwa tidak ada orang di Israel yang harus dipersalahkan terhadap Mesias."

"Orang di Israel? Dan jika mereka itu adalah orang-orang bukan Yahudi, tidakkah akan sama?"

"Tidak, tidak akan sama. Orang-orang bukan Yahudi akan hanya bersalah terhadap sesama manusia. Israel mengenal siapakah Yesus itu."

"Banyak di Israel yang tidak tahu."

"Mereka tidak mau tahu. Mereka dengan sengaja tidak mau percaya. Dengan demikian mereka menambahkan ketidakpercayaan pada anti-kasih dan mereka mengingkari pengharapan. Itu bukanlah dosa kecil, Yudas, menginjak-injak ketiga keutamaan yang utama. Itu adalah dosa berat, lebih berat secara rohani dibandingkan perbuatan jasmani apapun melawan PutraKu."

Yudas, yang kehabisan kata untuk berargumentasi, membungkuk untuk mengikatkan tali sandalnya dan tertinggal di belakang.

Mereka tiba di puncak gunung, atau tepatnya di suatu permukaan karang yang datar nyaris di puncak, yang menjorok dari tebing seolah ingin lari menuju lautan biru yang indah. Sebuah hutan lebat pepohonan holm-oak menyaring seberkas sinar hijau zamrud yang jernih, yang ditembusi berkas-berkas matahari lembut setipis jarum. Puncak gunung yang mempesona dan berangin, terbuka ke pesisir laut terdekat, seberang rangkaian Gunung Karmel yang agung. Di bawah, di kaki gunung dengan permukaan karang datar yang menjorok seolah antusias untuk terbang ke atas, sesudah beberapa ladang kecil yang terhampar di bagian tengah sisi gunung, ada lembah sempit dengan sebuah sungai dalam, yang pastilah dengan dahsyat mengalir deras pada saat-saat banjir, tetapi sekarang menyusut menjadi sebuah aliran kecil air yang berbuih keperakan di tengah palungnya. Aliran air itu mengalir menuju laut sepanjang kaki Gunung Karmel. Suatu jalanan terbentang sepanjang aliran air, di atas tepi kanannya dan menghubungkan sebuah kota yang terletak di tengah teluk dengan kota-kota lain yang di pedalaman, mungkin di Samaria, jika aku tidak salah.

"Kota itu Sicaminon," kata Yesus. "Kita akan tiba di sana menjelang malam. Marilah kita beristirahat sekarang, sebab jalan turunnya sulit, meski sejuk dan pendek."

Dan dengan duduk dalam sebuah lingkaran, mereka saling berbincang satu sama lain dan kepada para perempuan, sementara memanggang di sebuah tempat pemanggangan desa seekor anak domba, yang pastilah merupakan pemberian dari para gembala….
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama