242. DI RUMAH DI KANA           


4 Agustus 1945

Di rumah di Kana kegembiraan atas kedatangan Yesus sedikit kurang meriah dibandingkan saat mukjizat perkawinan. Tidak ada pemain musik, tidak ada tamu-tamu, rumah tidak dihiasi dengan bunga-bunga dan daun-daun evergreen, tidak ada meja-meja yang ditata untuk banyak tamu, pun tidak ada pengurus rumah tangga dekat bufet-bufet dan bejana-bejana batu penuh anggur. Tetapi kasih mengungguli segalanya dan itu diberikan dalam bentuk dan ukuran yang tepat, yakni, bukan kepada tamu, yang mungkin juga seorang kerabat jauh, namun masih seorang manusia, melainkan kepada Tamu Guru Yang Kodrat sebenar-Nya dikenali dan diakui dan Yang Sabda-Nya dihormati sebagai suatu yang ilahi. Hati mereka yang di Kana, oleh karenanya, mengasihi dengan keseluruhan dirinya Sahabat Agung, Yang muncul dalam jubah linen-Nya di pintu masuk kebun, di hijau asri kebun dan merah matahari tenggelam, yang memperindah segalanya dengan kehadiran-Nya, mengkomunikasikan damai-Nya bukan hanya kepada hati mereka kepada siapa Ia menyampaikan salam-Nya, melainkan juga kepada seluruh alam raya.

Dan itu sungguh tampak seolah selubung damai sukacita yang khidmad dihamparkan ke mana pun Ia mengarahkan mata biru-Nya. Kemurnian dan damai mengalir dari mata-Nya, kebijaksanaan dari bibir-Nya dan kasih dari hati-Nya. Apa yang hendak aku katakan mungkin tampak mustahil bagi pembaca halaman-halaman ini. Dan kendati demikian, tempat yang sama, yang sebelum kedatangan Yesus adalah suatu tempat yang biasa, atau suatu tempat yang sibuk tanpa kemungkinan damai, yang diasumsikan seharusnya bebas dari kesibukan kerja, dimuliakan begitu Ia muncul di sana, dan kesibukan menjadi tertib dan tidak menghalangi kemungkinan pemikiran-pemikiran adikodrati berbaur dengan kerja manual. Aku tidak tahu apakah aku menceritakannya dengan jelas.

Yesus tidak pernah bermuka masam, tidak bahkan ketika Ia lebih jijik terhadap sesuatu yang terjadi, melainkan selalu bermartabat mulia dan mengkomunikasikan martabat adikodrati yang begitu rupa ke tempat di mana Ia melangkah. Yesus tidak pernah menjadi seorang teman yang riang gembira atau seorang yang suka mengeluh, yang tertawa sinis atau tampak terlalu mencemaskan kesehatannya, tidak bahkan di saat-saat kegembiraan paling besar ataupun kesedihan paling mendalam. Senyum-Nya tiada duanya. Tak ada seorang pelukis pun yang akan pernah dapat mereproduksinya. Senyumnya bagai suatu cahaya yang memancar dari hati-Nya, suatu terang cemerlang di saat-saat sukacita terbesar sebab suatu jiwa telah ditebus atau menghampiri Kesempurnaan: akan aku katakan sebagai seulas senyum optimistis, ketika Ia memberikan persetujuan atas perbuatan-perbuatan spontan dari para sahabat atau para murid-Nya dan menikmati kebersamaan mereka; seulas senyum malaikat biru, yang tinggal di taman warna, ketika Ia membungkuk ke atas anak-anak untuk mendengarkan mereka, mengajar mereka dan lalu memberkati mereka; seulas senyum yang dilemahkan oleh belas-kasihan ketika Ia melihat kemalangan-kemalangan daging atau jiwa; akhirnya seulas senyum ilahi, ketika Ia berbicara tentang BapaNya atau BundaNya, atau menatap atau mendengarkan BundaNya Yang Tersuci.

Aku tidak pernah melihatnya terlalu mencemaskan kesehatan, tidak bahkan di saat-saat siksa aniaya yang paling pahit. Sepanjang derita dikhianati, sepanjang dukacita saat Ia mencucurkan keringat darah, dan kejang-kejang sakrat maut-Nya. Apabila kesedihan mengatasi kecemerlangan manis dari senyum-Nya, kesedihan tidaklah cukup untuk menghapuskan damai, yang bagai suatu mahkota yang berkilau dengan permata-permata surgawi pada dahi-Nya yang licin dan menerangi pribadi ilahi-Nya. Pula aku tidak pernah melihat-Nya larut dalam kegembiraan yang berlebihan. Ia tidak pantang tawa terbahak-bahak, apabila situasi menuntut itu, tetapi Ia akan segera kembali ke damai tenang rajawinya. Namun saat Ia tertawa, Ia secara mengagumkan tampak jauh lebih muda, hingga ke tahap tampak seperti seorang pemuda berumur duapuluh tahun dan dunia tampak merekah melalui tawa-Nya yang menawan, sepenuh hati dan lantang serta merdu. Pun tak dapat aku katakan bahwa aku pernah melihatnya melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Entah Ia bergerak atau berbicara, Ia melakukannya begitu tenang, meski begitu, tanpa menjadi lamban atau tanpa gairah. Itu mungkin karena, sebab Ia tinggi, Ia dapat melangkah lebar, tanpa harus berlari, untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dan begitu pula Ia dapat meraih benda-benda yang jauh tanpa harus bangkit berdiri untuk melakukannya. Bahkan cara Ia bergerak sungguh santun dan agung.

Dan bagaimana dengan suara-Nya? Baik: aku sudah mendengar-Nya berbicara selama nyaris dua tahun, dan meski begitu aku terkadang kehilangan alur pembicaraan-Nya sebab aku menjadi begitu asyik dalam mempelajari suara-Nya. Dan Yesus, dengan sangat lemah lembut dan sabar, mengulangi apa yang telah Ia katakan dan Ia menatap padaku dengan senyum seorang Guru Yang baik guna memastikan bahwa tak ada suatu pun yang hilang dalam dikte-Nya karena sukacitaku dalam menikmati dan mendengarkan suara-Nya serta mempelajari nadanya dan pesonanya. Tetapi sesudah dua tahun aku juga tidak dalam posisi untuk dapat mengatakan dengan tepat nada apa itu. Aku dengan pasti mengeluarkan nada bas dan juga nada tenor ringan. Tetapi aku selalu ragu apakah itu adalah suara tenor yang kuat atau suara bariton sempurna dengan rentang vokal yang sangat luas. Akan aku katakan bahwa adalah yang terakhir sebab suara-Nya terkadang mengambil nada-nada yang kaya resonansi bagai lonceng perunggu, lembut merdu dan begitu dalam, teristimewa ketika Ia berbicara kepada seorang pendosa, guna menghantarnya kembali kepada Rahmat atau Ia menunjukkan penyimpangan-penyimpangan manusia kepada orang banyak. Tetapi apabila Ia menganalisa atau mengutuk hal-hal terlarang atau Ia menunjukkan kemunafikan manusia, nada yang bagai perunggu dari suara-Nya menjadi lebih jelas; dan nada-nada itu setajam gelegar guntur apabila Ia menyatakan Kebenaran atau kehendak-Nya dan nada-nada itu bervibrasi bagai lembaran emas yang dihantam dengan sebuah palu kristal apabila Ia memadahkan puji-pujian Kerahiman atau mengagungkan karya Allah; tetapi warna nada suara-Nya sungguh teramat menawan apabila Ia berbicara kepada atau tentang BundaNya. Suara Yesus kala itu sungguh penuh luapan kasih: kasih hormat seorang putra, dan kasih Allah Yang memuji karya-Nya yang paling sempurna. Dan Ia menggunakan nada yang sama, meski tidak sebegitu kuat, apabila Ia berbicara kepada orang-orang kesayangan-Nya, kepada orang-orang yang bertobat dan kepada anak-anak. Dan suara-Nya tiada pernah lelah, tidak bahkan dalam suatu khotbah yang sangat panjang, sebab suara-Nya itu mewarnai dan menyempurnakan pikiran dan perkataan-Nya, dengan menekankan kuasa atau kebaikan-Nya, seturut perkaranya.

Dan terkadang aku tinggal diam, dengan pena di tanganku, mendengarkan, dan lalu aku tersadar bahwa Ia telah terlalu jauh di depan, dan bahwa adalah mustahil untuk mengejar-Nya… dan aku tinggal diam, dan Yesus dengan lemah lembut mengulangi perkataan-perkataan-Nya. Ia melakukan hal yang sama apabila aku diinterupsi, guna mengajarku untuk dengan sabar menanggung hal-hal atau orang-orang yang mengganggu, dan aku membuat-Nya mengerti bagaimana "mengganggu"-nya itu ketika gangguan itu menjauhkanku dari kebahagiaan mendengarkan Yesus…

Sekarang, di Kana, Ia tengah berterima kasih kepada Susana atas tumpangan yang diberikan kepada Aglae. Mereka sendirian di bawah sebuah pergola yang sarat buah-buah anggur yang sudah mulai masak. Semua lainnya ada di dapur menyegarkan diri.

"Perempuan itu sangat baik, Guru. Dia sama sekali bukan merupakan suatu beban bagi kami. Dia membantuku setiap kali aku mencuci, ketika kami membersihkan rumah saat Paskah, seolah dia adalah pelayan, dan aku dapat meyakinkan Engkau bahwa dia bekerja seperti budak untuk membantuku menyelesaikan baju-baju kami untuk perayaan Paskah. Dia bijaksana dan undur diri setiap kali seorang datang ke rumah; dan dia berupaya untuk tidak sendirian bahkan bersama suamiku. Dia jarang berbicara di hadapan keluarga dan menyantap sedikit saja makanan. Dia bangun setiap pagi untuk merapikan diri sebelum para lelaki bangun dan aku selalu mendapati api sudah dinyalakan dan rumah sudah dibersihkan. Tetapi apabila kami sendirian dia akan bertanya padaku tentang Engkau dan memohon padaku untuk mengajarinya mazmur-mazmur agama kita. Dia biasa mengatakan: 'Supaya aku dapat berdoa seperti Guru berdoa.' Sudah selesaikah dia harus menderita sekarang? Sebab dia sungguh sangat menderita. Dia takut akan semua dan dia mendesah dan banyak menangis. Apakah dia bahagia sekarang?"

"Ya, bahagia secara adikodrati dan bebas dari takut. Dia ada dalam damai. Dan Aku berterima kasih kepadamu atas kebaikan yang kau berikan kepadanya."

"Oh! Tuhan-ku. Kebaikan apakah? Aku memperlakukannya dengan kasih dalam nama-Mu, sebab hanya itu saja yang dapat aku lakukan. Dia adalah seorang saudari yang malang. Aku menyadari itu. Dan aku mengasihinya, demi syukur kepada Yang Mahatinggi Yang telah memelihara aku dalam rahmat-Nya."

"Dan kau sudah melakukan lebih banyak dibandingkan andai kau berkhotbah di Bel Nidrasc. Sekarang ada padamu seorang lainnya di sini. Apa kau mengenalinya?"

"Siapakah yang tidak mengenalnya di sini?"

"Tak seorang pun, itu benar. Tetapi kau dan daerah sini belum tahu Maria yang kedua, yang akan selalu setia pada panggilannya. Selalu. Aku minta kau mempercayainya."

"Engkau yang mengatakannya. Engkau tahu. Aku percaya."

"Katakan juga: 'Aku mengasihi.' Aku tahu bahwa adalah lebih sulit untuk berbelas-kasihan dan mengampuni seorang dari kaum kita sendiri, yang sudah berdosa, daripada seorang yang punya alasan sebagai seorang kafir. Tetapi jika sesal kita dalam melihat kemurtadan keluarga sungguh mendalam, biarlah belas-kasihan dan pengampunan kita itu terlebih lagi mendalam. Aku sudah mengampuni Israel semuanya," Yesus mengakhiri dengan menekankan perkataan terakhir.

"Dan aku akan mengampuni, sejauh menyangkut aku. Sebab aku pikir seorang murid hendaknya melakukan apa yang dilakukan sang Guru."

"Kau ada dalam kebenaran dan Allah bersukacita karenanya. Marilah kita pergi ke tempat yang lainnya berada. Hari mulai gelap. Akan menyenangkan beristirahat dalam kedamaian malam."

"Tidakkah Engkau akan berbicara kepada kami, Guru?"

"Aku belum tahu."

Mereka masuk ke dalam dapur di mana makanan dan minuman sudah dipersiapkan untuk makan malam.

Susana maju ke depan dan dengan wajahnya sedikit memerah dia berkata: "Maukah saudari-saudariku naik ke atas bersamaku? Kita harus menata meja-meja sebab sesudahnya kita harus mempersiapkan tempat-tempat tidur untuk para laki-laki. Aku dapat mengerjakannya sendiri. Tapi akan butuh waktu yang lebih lama."

"Aku ikut juga, Susana ," kata Santa Perawan.

"Tidak, kami sudah cukup dan ini akan membantu kami untuk saling mengenal satu sama lain, kerja sungguh membantu membangun persaudaraan."

Merka pergi keluar bersama sementara Yesus, sesudah meneguk air yang diberi sedikit sirup - aku tidak tahu apa itu - pergi dan duduk bersama BundaNya, para rasul dan para laki-laki dari rumah itu, di bawah naungan sejuk pergola, meninggalkan para pelayan dan nyonya rumah bebas untuk menyelesaikan persiapan makanan. Suara ketiga murid perempuan yang sedang menata meja dapat terdengar dari ruang atas.

Susana menceritakan mukjizat yang dikerjakan Yesus pada waktu perkawinannya dan Maria dari Magdala menjawab: "Mengubah air menjadi anggur adalah hal yang hebat, tetapi mengubah seorang pendosa menjadi seorang murid perempuan bahkan terlebih hebat. Allah menganugerahiku untuk menjadi seperti anggur itu: supaya aku dapat menjadi yang terbaik."

"Tak diragukan lagi. Ia mengubah segalanya dengan suatu cara yang sempurna. Dulu ada seorang di sini, dan tambahan lagi dia seorang yang tidak mengenal Allah, yang perasaannya dan imannya Ia ubah. Dapatkah kau ragu bahwa yang sama tidak akan terjadi padamu, yang sudah seorang Israel?"

"Seorang? Muda?"

"Muda. Cantik."

"Dan di manakah dia sekarang?" tanya Marta.

"Hanya Guru yang tahu."

"Ah! Benar, dia adalah orang yang dulu aku bicarakan kepadamu. Yesus sedang bersama Lazarus sore itu dan dia mendengar perkataan yang diucapkan mengenai perempuan itu. Betapa harum mewangi di sana di ruangan itu! Harumnya melekat pada pakaian Lazarus selama beberapa hari. Dan meski begitu Yesus mengatakan bahwa hati perempuan yang bertobat itu mengunggulinya dengan harum pertobatannya. Aku bertanya-tanya kemanakah dia telah pergi. Aku pikir ke suatu tempat sunyi terpencil…"

"Dia sebatang kara, dan dia seorang asing. Aku di sini, dan aku dikenal. Dia menyilih dalam keterasingan, aku… hidup dalam dunia, di antara mereka yang mengenal aku. Aku tidak iri akan takdirnya, sebab aku bersama Guru. Tetapi aku harap aku akan dapat meneladaninya suatu hari kelak, dengan tinggal tanpa apapun yang dapat mengalihkanku dari-Nya."

"Apakah kau akan meninggalkan-Nya?"

"Tidak. Tetapi Ia mengatakan bahwa Ia akan pergi. Jiwaku kala itu akan mengikuti-Nya. Aku dapat menantang dunia bersama-Nya. Tanpa-Nya aku akan takut terhadap dunia. Aku akan menempatkan suatu padang gurun antara aku dan dunia."

"Dan bagaimana dengan Lazarus dan aku? Apa yang harus kami lakukan?"

"Apa yang kau lakukan dalam kesedihanmu. Kalian akan saling mengasihi dan akan mengasihi aku. Dan tanpa harus malu… Sebab kala itu kau akan sendirian, tetapi kau akan tahu bahwa aku bersama Tuhan. Dan aku akan mengasihimu dalam Tuhan."

"Maria itu kuat dan teguh pendirian dalam keputusan-keputusannya," komentar Petrus yang mendegarnya. Dan Zelot menanggapi: "Dia adalah pisau yang tajam seperti ayahnya. Dia mewarisi perawakan ibunya, tetapi semangat ayahnya yang pantang menyerah."

Dan si perempuan dengan semangat yang pantang menyerah itu menuruni tangga untuk memberitahu rekan-rekannya bahwa makan malam sudah siap.        

Negeri memudar dalam damai tenang malam tak berbintang. Hanya terang redup bintang-bintang memperlihatkan bayangan gelap pepohonan dan bayangan putih rumah-rumah. Tak ada yang lain. Beberapa burung malam mengepak-ngepakkan sayap diam-diam sekitar rumah Susana, dalam upaya mencari serangga, melesat lewat dekat orang-orang yang duduk di teras sekeliling sebuah lampu, yang menyorotkan terang redup kekuningan pada wajah-wajah mereka yang berkumpul sekeliling Yesus. Marta, yang pastinya ngeri akan kelelawar, menjerit setiap kali seekor kelelawar noctule besar melesat lewat dekatnya. Yesus sebaliknya sibuk dengan ngengat-ngengat yang tertarik oleh lampu dan dengan lengan-Nya yang panjang Ia berusaha menjauhkan mereka dari api.

"Keduanya adalah binatang yang sangat bodoh," kata Tomas. Yang pertama salah menganggap kita sebagai lalat hijau, yang lain salah menganggap api sebagai matahari dan akhirnya terbakar. Mereka tidak punya bahkan bayangan otak."  

"Mereka itu binatang. Apa kau berharap mereka dapat berpikir?" tanya Iskariot.

"Tidak. Tapi aku ingin mereka setidaknya punya insting."

"Mustahil mereka memilikinya. Aku berbicara tentang ngengat. Sebab mereka mati sesudah upaya pertama mereka. Insting muncul dan berkembang melalui pengalaman mengejutkan yang menyakitkan," komentar Yakobus Alfeus.

"Dan bagaimana dengan kelelawar? Mereka seharusnya memilikinya sebab mereka hidup selama bertahun-tahun. Mereka bodoh, itu saja," jawab pedas Tomas.

"Tidak, Tomas. Tidak lebih bodoh dari manusia. Sering kali manusia juga seperti kelelawar-kelelawar yang bodoh. Mereka terbang, atau tepatnya mereka mengepak-ngepakkan sayapnya, seperti orang mabuk, sekeliling hal-hal yang hanya dapat menyebabkan kesedihan. Itu dia: saudara-Ku sudah memukul jatuh seekor dengan mantolnya. Berikan pada-Ku," kata Yesus.

Yakobus Zebedeus, yang di kakinya si kelelawar yang bingung sudah jatuh dan sekarang menggelepar dengan canggung di atas lantai, memungutnya dengan dua jari pada satu dari sayap-sayapnya yang seperti membran dan mengulurkannya, seolah sehelai gombal kotor, dan menempatkannya di atas pangkuan Yesus.

"Ini dia binatang yang tidak waspada. Biarlah kita membiarkannya dan kalian akan lihat bahwa dia akan pulih, tetapi tidak mengubah kelakuannya."

"Suatu upaya penyelamatan yang aneh. Aku pasti akan sudah membunuhnya," kata Iskariot.

"Jangan. Kenapa? Dia punya hidup juga, dan dia ingin hidup," jawab Yesus.

"Aku pikir tidak. Dia entah tidak tahu bahwa dia punya hidup atau tidak ingin hidup. Dia membahayakan hidupnya!"

"Oh! Yudas! Yudas! Betapa kau akan berlaku keras terhadap para pendosa, terhadap manusia. Juga manusia tahu bahwa mereka punya satu hidup dan hidup yang lainnya dan mereka tidak ragu untuk membahayakan keduanya, yang satu maupun yang lainnya."

"Apakah kita punya dua hidup?"

"Hidup jasmani dan hidup jiwa, kau tahu itu."

"Ah! Aku pikir Engkau sedang berbicara tentang reinkarnasi. Sebagian orang mempercayainya."

"Tidak ada reinkarnasi. Tetapi ada dua hidup. Dan kendati demikian manusia membahayakan keduanya. Andai kau adalah Allah bagaimana kau akan menghakimi manusia, yang dianugerahi akal budi di samping insting?"

"Dengan keras. Terkecuali dia adalah orang yang tidak waras otaknya."

"Tidakkah kau akan mempertimbangkan situasi-situasi yang membuat manusia gila secara moral?"

"Tidak, tidak akan."

"Jadi kau tidak akan berbelas-kasihan pada siapa pun yang mengenal Allah dan mengenal Hukum, dan kendati demikian berdosa."

"Aku tidak akan berbelas-kasihan. Sebab manusia harus dapat mengendalikan dirinya sendiri."

"Dia seharusnya dapat."

"Dia harus, Guru. Suatu aib yang tak dapat diampuni jika seorang dewasa melakukan dosa-dosa tertentu, teristimewa ketika tiada suatupun yang memaksanya."

"Dosa-dosa yang manakah menurutmu?"

"Dosa-dosa sensualitas yang pertama. Orang merendahkan dirinya sendiri tanpa dapat diperbaiki…"

Maria dari Magdala menundukkan kepalanya… Yudas melanjutkan: "… dan orang yang merusak orang-orang lainnya juga, sebab semacam ragi terpancar keluar dari tubuh orang-orang yang tidak murni dan itu mengganggu bahkan orang-orang yang murni dan mendorong mereka untuk meniru yang tidak murni…"

Sementara Magdalena menundukkan kepalanya lebih dalam, Petrus berkata: "He, kamu! Jangan terlalu keras! Yang pertama bersalah atas aib yang tak dapat diampuni macam itu adalah Hawa, dan kau tidak akan mengatakan padaku bahwa dia dirusakkan oleh pancaran ragi tidak murni dari seorang yang berhasrat berahi. Bagaimanapun aku ingin kamu tahu bahwa, sepanjang menyangkut aku, bagaimanapun aku tidak akan terganggu bahkan andai aku duduk dekat seorang yang cabul. Itu urusannya…"       

"Orang selalu tertular dengan berada di dekatnya. Jika tubuhnya tidak, maka jiwanya ya, dan itu lebih buruk."

"Kau kelihatan seperti seorang Farisi! Maafkan aku, jika demikian halnya maka orang seharusnya mengunci diri dalam sebuah menara kristal dan tinggal di sana, terpenjara."

"Tetapi, janganlah percaya, Simon, bahwa itu akan membantumu. Pencobaan-pencobaan lebih mengerikan dalam kesendirian," kata Zelot.

"Oh! Baiklah! Itu akan bagai mimpi. Tidak mencelakakan," jawab Petrus.

"Tidak mencelakakan? Tidak tahukah kau bahwa pencobaan menghantar pada gagasan, gagasan pada kompromi demi bagaimanapun memuaskan insting orang yang bangkit, dan lalu kompromi membuka jalan ke pembenaran dosa di mana sensualitas digabungkan dengan pemikiran?" tanya Iskariot.

"Aku tidak tahu menahu mengenai itu semua, Yudasku tersayang. Mungkin karena aku tidak pernah menggagas, seperti katamu, suatu hal tertentu. Tetapi aku pikir bahwa kita sudah pergi sangat jauh dari kelelawar dan bahwa adalah suatu kerja yang bagus bahwa kau bukan Allah. Jika tidak kau akan sama sekali seorang diri di Firdaus, dengan kekerasanmu. Apa kata-Mu, Guru?"

"Aku katakan bahwa adalah bijaksana untuk tidak terlalu mutlak sebab para malaikat Tuhan mendengarkan perkataan-perkataan manusia dan mencatatnya dalam kitab-kitab abadi dan akan dapat tidak menyenangkan suatu hari kelak dikatakan: 'Terjadilah padamu seturut penghakimanmu sendiri.' Aku katakan bahwa jika Allah mengutus Aku itu berarti bahwa Ia hendak mengampuni semua dosa-dosa yang atasnya manusia bertobat, sebab Ia tahu betapa lemahnya manusia, karena Setan. Yudas, katakan pada-Ku: apa kau setuju bahwa Setan dapat menguasai suatu jiwa hingga memaksakan paksaan atasnya, yang dapat mengurangi beratnya dosa di mata Allah?"

"Tidak setuju. Setan dapat merusak, tetapi bagian yang inferior saja."

"Kau menghujat, Yudas anak Simon," seru Zelot dan Bartolomeus nyaris bersamaan.

"Kenapa? Dengan cara apa?"

"Kau membuat Allah dan Kitab berdusta. Kita baca di dalamnya bahwa Lucifer merusak juga bagian yang superior, dan Allah, melalui sabda-Nya, sudah mengatakannya kepada kita berulang kali," jawab Bartolomeus.

"Dikatakan juga bahwa manusia punya kehendak bebas. Yang artinya Setan tidak dapat melakukan kekerasan terhadap pikiran dan perasaan manusia. Bahkan Allah tidak melakukannya."

"Tidak, Allah tidak melakukannya, sebab Ia adalah Keteraturan dan Kesetiaan. Tetapi Setan melakukannya, sebab dia adalah Ketidakteraturan dan Kedengkian," Zelot bersikeras.

"Kedengkian bukanlah sentimen yang dipertentangkan dengan kesetiaan. Kau salah."

"Aku benar, sebab jika Allah adalah Kesetiaan dan karenanya tidak akan ingkar untuk memenuhi perkataan-Nya untuk membiarkan manusia bebas dalam perbuatan-perbuatannya, roh jahat tidak dapat mengingkari perkataan yang demikian, sebab dia memang tidak pernah menjanjikan kehendak bebas kepada manusia. Tetapi benar bahwa dia adalah Kedengkian dan karenanya menyerang Allah dan manusia, menyerang kebebasan intelektual manusia, di samping tubuhnya, dengan mengurangi kebebasan berpikir macam itu ke perbudakan dalam orang-orang yang dirasukinya, dengan jalan mana orang melakukan perbuatan-perbuatan, yang tidak akan dilakukannya, andai dia bebas dari Setan," Zelot bersiteguh.

"Aku tidak setuju."

"Jadi, bagaimana dengan orang-orang yang kerasukan? Kau menyangkal bukti dari fakta-fakta," teriak Yudas Tadeus.

"Orang-orang kerasukan itu tuli, atau bisu atau gila. Mereka tidak cabul."

"Itukah satu-satunya kejahatan yang ada dalam pikiranmu?" tanya Tomas ironis.

"Itu adalah yang paling umum dan paling rendah."

"Ah! Aku pikir itu adalah yang kau kenal dengan lebih baik," kata Tomas tertawa. Yudas melompat bangun seolah dia ingin bereaksi. Tetapi dia mengendalikan diri dan turun ke bawah dan lalu berjalan pergi melintasi ladang-ladang.

Ada keheningan… Kemudian Andreas berkata: "Gagasannya tidak sama sekali salah. Sesungguhnya orang akan berkata bahwa Setan menguasai hanya indera: penglihatan, pendengaran, perkataan dan otak. Tetapi, Guru, bagaimanakah perbuatan-perbuatan jahat tertentu dapat dijelaskan? Apakah itu bukan kerasukan? Doras, misalnya?..."    

"Doras, seperti katamu, untuk tidak menjadi tanpa cinta kasih terhadap siapa pun, dan kiranya Allah mengganjarimu untuk itu, atau Maria, seperti kita semua tahu, dan dia adalah yang pertama tahu, sesudah petunjuk-petunjuk jelas yang tanpa kasih dari Yudas, adalah mereka yang secara lebih sepenuhnya dirasuki oleh Setan, yang memperluas kuasanya atas ketiga kuasa besar manusia. Itu adalah kerasukan yang paling menindas dan tidak kentara, dari mana hanya mereka yang dapat membebaskan diri mereka sendiri yang sangat sedikit direndahkan dalam jiwa mereka sehingga masih dapat mengenali undangan dari Terang. Doras tidak cabul. Tetapi bahkan meski begitu dia tidak mau datang kepada sang Penebus. Dan itulah di mana terletak perbedaannya. Yakni, sementara dalam kasus orang-orang yang gila, bisu, tuli, buta sebab kerasukan roh jahat, sanak keluarga mereka berupaya dan melakukan apa yang perlu untuk membawa mereka kepada-Ku, dalam kasus mereka yang rohnya dirasuki, hanya roh mereka yang dapat mencari kebebasan. Itulah sebabnya mengapa mereka diampuni sekaligus dibebaskan. Sebab adalah kehendak mereka untuk memulai perlawanan terhadap perbudakan roh jahat. Dan sekarang marilah kita pergi dan beristirahat. Maria, sebab kau tahu bagaimana rasanya dijerat, berdoalah bagi mereka yang memberikan diri mereka sendiri dari waktu ke waktu pada perbuatan si Musuh, dengan berbuat dosa dan menyebabkan kesedihan."

"Ya, Guru-ku. Akan aku lakukan. Dan tanpa prasangka buruk apapun."

"Damai serta semua orang. Marilah kita akhiri di sini penyebab dari begitu begitu banyak diskusi. Ada kegelapan bersama kegelapan, di luar, dalam malam. Tetapi kita akan masuk ke dalam untuk tidur di bawah perlindungan para malaikat." Dan Ia meletakkan di atas sebuah bangku si kelelawar, yang melakukan usaha pertamanya untuk terbang, dan Ia undur diri bersama para rasul ke ruangan atas, sementara para perempuan bersama tuan dan nyonya rumah turun ke bawah.     
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 4                 Daftar Istilah                    Halaman Utama