|
“Jika Kamu Mendengar Suara-Ku,
Janganlah Berkeras Hati!”
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Seorang datang ke toko serba ada dan bertanya kepada penjual, “Saya ingin membeli kebahagiaan dan kedamaian, apakah ada?” Penjaga toko menjawab, “Maaf, di sini kami tidak menjualnya, tetapi jangan khawatir, kami menjual bibitnya. Jika anda mau silakan beli, tanam, jaga dan rawat, maka anda akan mendapatkan hasilnya.” Ada dua pesan yang perlu digarisbawahi dari kisah tua ini: pertama, kebahagiaan dan kedamaian tidak bisa dibeli bukan karena tidak tersedia tetapi memang tidak ada; yang ada hanya benihnya. Kalau mau bahagia, ambil benihnya, lalu ditanam dan dirawat, maka benih itu akan menghasilkan buah. Kedua, kebahagiaan dan kedamaian bukan produk jadi tetapi merupakan proses panjang penuh dengan perjuangan dan usaha.
Seruan Seorang Nabi
Di zaman modern ini, sering muncul orang-orang yang memperkenalkan diri sebagai “nabi, utusan Tuhan,” bahkan ada yang berani menyebut diri sebagai “Tuhan”. Anehnya, sikap, tindakan dan kelakuan mereka sering sangat kontras, sehingga dalam dirinya sendiri muncul kebingungan dan ketidakpastian.
Kalau kita amati, nabi-nabi seperti yang dilukiskan dalam Kitab Suci bukan orang sembarangan. Kehadiran mereka dikonkritkan dengan kebutuhan manusia pada zamannya dan pesan apa yang hendak Tuhan sampaikan kepada umat-Nya. Nabi diibaratkan seperti seorang “penyambung lidah” antara Allah dan manusia; mereka menyampaikan pesan, peneguhan bahkan kritik. Tujuannya jelas: agar apa yang direncanakan dan dikehendaki Tuhan, dilaksanakan oleh manusia makluk ciptaan-Nya. Karena tugas itu, nabi dirindukan suaranya tetapi sekaligus tidak disukai, bahkan dibenci kritikannya. Karena tugas macam itu, resiko seorang nabi adalah penderitaan. Tidak seorang nabi pun bebas dari penderitaan. Yeremia dicemooh umat Israel, Amos dimaki-maki nabi-nabi palsu, dan masih ada banyak nabi lain yang menderita karena panggilannya.
Kekuatan para nabi hanya satu: otoritas yang mereka terima dari Yahweh. Perutusan mereka datang dari Tuhan, sehingga seorang nabi harus punya relasi khusus dengan Allah. Hasil dari relasi khusus itu ditabur kepada manusia untuk direspon / ditanggapi.
Yesus Mengajar dengan Penuh Kuasa
Jika nabi-nabi tradisional sibuk dengan mendengarkan apa yang Tuhan sampaikan, maka Yesus lebih dari itu. Dia yang adalah Putra Allah berbicara dengan otoritas khusus, sehingga pengajaran-Nya penuh kuasa. Kitab Suci melukiskan bahwa hal itu bisa terjadi karena Ia mengajar dan menjalankan apa yang Ia ajarkan; Ia menasehati dan melaksanakan apa yang Ia katakana. Singkat kata, ada keseimbangan antara kata dan perbuatan-Nya.
Kuasa Yesus diakui, bahkan setan sekalipun berkata, “Aku tahu siapa Engkau. Yang Kudus dari Allah.” Dengan kuasa inilah Yesus menyembuhkan orang sakit, menguatkan mereka yang lemah dan menghibur yang menderita. Yesus tidak hanya melakukan ini semua karena belas-kasihan semata, tetapi lebih dari itu, karena Ia punya kuasa.
Sebagai orang Kristen / orang-orang-Nya Yesus Kristus, kita diharapkan mejadi nabi bagi semua orang dengan memperkenalkan Yesus kepada orang lain. Tugas mulia ini bukan tanpa tantangan atau kesulitan. Kita belajar mulai dari hal-hal yang sederhana, sekurang-kerangnya dalam hal keseimbangan antara kata dan perbuatan kita. Dari yang sederhana itu pasti akan dihasilkan buah yang besar. Ingat kata kunci cerita awal di atas “kami tidak menjual kebahagian, yang ada hanya benihnya saja. Silakan ambil, tanam dan rawat, maka pasti akan ada hasil yang menggembirakan.” Demikian juga semangat kenabian dalam diri kita hanya bisa muncul kalau ditanam, dijaga dan dirawat agar bisa menghasilkan buah. Tuhan memberkati kita.
|