|
Raja Itu....
Dia yang duduk di bawah pohon rindang,
dan tidak pernah lupa pada orang yang telah menanamnya.
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
ADA BANYAK RAJA
Ada banyak raja di dunia ini. Raja benaran dan raja-rajaan. Ada raja yang terkenal karena punya kualitas istimewa, tetapi juga ada raja yang terkenal karena kejahatannya. Kita mengenal raja dalam arti ia punya kerajaan dan istana; tetapi juga ada raja dari pengertian yang lain sama sekali: raja judi, raja ekstasi, dan masih ada banyak yang lain. Singkat kata, menjadi raja atau mendapat predikat raja ternyata mesti ada syaratnya. Umumnya pertama, orang itu punya keistimewaan entah warisan atau didapat dari usaha dan tindakannya. Kedua, predikat raja selalu diberi arti oleh dan dengan kehadiran orang lain. Seorang raja mempunyai kuasa untuk memerintah, maka sering dikatakan bahwa raja dunia identik dengan “kuasa, uang dan kemashyuran”. Jadi bayangkan kalau raja tidak punya kuasa, uang dan kemashyuran; raja tersebut pasti tidak punya power. Raja yang baik menurut ukuran umum yakni kalau punya kuasa, uang dan kemashyuran, tetapi tidak lupa diri. Raja yang baik: dia duduk di bawah pohon rindang, dan selalu ingat orang yang telah menanam pohon itu.”
KRISTUS ITU RAJA KITA - JADILAH WARGA YANG BAIK
Tuhan Yesus adalah Raja semesta alam. Ia Raja orang Yahudi, raja bangsa manusia, raja atas segala ciptaan; Ia juga adalah raja kita, umat beriman. Tentang Kerajaan-Nya, Kitab Suci melukiskan bahwa Kerajaan Tuhan Yesus melampaui segala sesuatu, melebihi dan mengatasi segala singgasana, segala kerajaan, pemerintahan dan segala penguasa dunia. Kerajaan-Nya universal dan mencakup semua manusia dan ciptaan lain di dunia ini.
Walau demikian Kerajaan-Nya bukan jauh dari dunia ini ataupun isapan jempol belaka, tetapi dengan kekuasaan-Nya yang begitu besar itu malahan, “Ia telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Dia tidak mementingkan DiriNya Sendiri, tetapi justru mengorbankan nyawa demi menebus umat manusia. Kutip kata-kata penyamun yang disalibkan bersama Yesus: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, namun Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Tuhan Yesus tidak salah tetapi disalibkan demi kita; inilah kebesaran seorang Raja; Raja yang agung dan mulia tetapi dekat dengan manusia. Raja yang tidak mementingkan kekuasaan-Nya dengan menyusun “kabinetnya” yang hebat dalam pendidikan dan keterampilan, tetapi justru memilih orang-orang yang sederhana dengan hati luar biasa untuk menjadi rasul-Nya. Orang-orang Yahudi tidak menerima cara Yesus mengekspresikan peran-Nya sebagai Raja, karena ukuran dunialah yang mereka gunakan untuk menilai seorang raja. Terhadap mereka, Tuhan Yesus menjelaskan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Maka pelajaran penting ini hendak kita tegaskan dalam pewartaan kita:
Pertama, Yesus Kristus adalah Raja kita, mari kita tunduk dan mengikuti-Nya dengan setia. Dia raja kita, Dia menjamin keselamatan kita karena Dia mengasihi kita hingga menyerahkan nyawa untuk kita. Jadilah warga kerajaan-Nya yang baik dan benar. Kedua, Tuhan Yesus walaupun Raja, Ia dekat dengan orang lain. Mendengarkan keluh kesah orang dan selalu menolong yang ada dalam kesulitan. Barangsiapa memiliki kuasa, jabatan atau pangkat tertentu di antara kita, hendaknya ia menjadi dekat dengan sesama. Kekuasaan dan jabatan jangan menjadi sarana mengisolasi diri dari orang banyak, apalagi tidak peduli pada kehidupan orang lain. Ketiga, seorang pembesar / pemimpin pasti mengalami kesulitan dan tantangan, hinaan dan perlawanan bahkan kesalahan orang lain pun sering dilemparkan kepada pemimpin. Pengalaman itu hendaknya tidak dilihat dengan kacamata kebencian, melainkan cinta kasih. Seorang pemimpin harus membenci kejahatan seseorang, tetapi dia tidak boleh membenci orang yang melakukan kejahatan itu.
Yesus orang Nazaret itu, justru menjadi Raja karena Hati-Nya yang mengasihi dan terus mengasihi.
|