“Engkaulah anak yang Ku-kasihi...!”
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Patut disayangkan banyak gereja sekarang tampil dengan wajah yang sangat eksklusif, sambil mengklaim diri sebagai gerakan yang paling benar atau paling sempurna. Konflik pun sering kali tidak bisa dihindari. Sebabnya macam-macam, salah satunya soal pembaptisan dalam gereja. Dan anehnya, sering fokus pertikaian justru terletak pada cara pembaptisan dan bukan pada makna baptisan itu sendiri.
Dalam Gereja Katolik, pembaptisan dikatakan sah kalau dalam ritus baptis itu ada unsur air (simbol kehidupan, simbol penyucian, simbol pembersihan) dan rumusan baptis harus Trinitaris: “Saya membaptis kamu dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.” Sikap ini diambil sesuai dengan keyakinan Gereja akan makna terdalam dari Sakramen Baptis itu sendiri yakni: Pertama, dengan pembaptisan seseorang diterima menjadi anggota Gereja. Artinya pembaptisan itu memasukan seseorang dalam komunitas Gereja, dia berhak menerima pelayanan dan buah rahmat dalam Gereja. Dia resmi menjadi anggota Gereja. Kedua, dengan pembaptisan seseorang dimeterai secara rohani menjadi pengikut Kristus. Meterai rohani ini adalah sebuah tanda rohani yang diterima seseorang dan tanda ini tidak akan terhapuskan sampai mati.
Dalam tradisi Yahudi baptisan dengan air adalah simbol pertobatan seseorang dari dosa. Kitab Suci memberi kesaksian bahwa setelah mendengarkan seruan tobat oleh Yohanes Pembaptis, maka datanglah orang banyak dari seluruh penjuru Yudea, “sambil mengaku dosa” mereka memberi diri dibaptis.
Ketika membaca kisah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, banyak orang mengajukan pertanyaan kritis: Bagaimana Yesus yang adalah Tuhan, dibaptis oleh seorang manusia? Bagaimana Yesus yang kita yakini tidak berdosa, justru menerima baptisan pengampunan dosa? Pertanyaan-pertanyaan ini masih wajar karena di balik pertanyaan itu muncul keingintahuan yang sangat besar tentang usaha dan karya Yesus Kristus.
Ada dua hal kurang lebih yang membuat baptisan Tuhan Yesus, TIDAK BISA disamakan begitu saja dengan baptisan orang-orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis atau bahkan baptisan kita sendiri:
1. Kedatangan Yesus sudah dinubuatkan dengan sangat jelas oleh Yohanes: “Aku membaptis kamu dengan air tetapi DIA yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Jadi kedatangan Yesus ke sungai Yordan itu bukan karena tuntutan pertobatan seperti orang kebanyakan, tetapi seperti nubuat Yohanes kedatangan Yesus ke sungai Yordan adalah bagian dari rencana dan kehendak Allah untuk memperkenalkan Yesus di muka umum. Nampak sangat jelas superioritas dari pihak Yesus yang datang; dimaklumkan kedatangan-Nya.
2. Pembaptisan Tuhan Yesus di sungai Yordan dengan air, masih dilengkapi dengan “pelantikan Yesus” melalui suara dari Langit. Simak keterangan Injil: “Setelah Yesus dibaptis terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya…. Engkaulah anak yang Ku-kasihi, kepada-Mu Aku berkenan.”
Dari sini nampak bagi kita bahwa baptisan Yesus punya makna yang lain yakni “nubuat akan kedatangan Yesus, dan pelantikan Yesus sebagai “Putra Yang dikasihi”. Dengan peristiwa ini Yesus mulai tampil di muka umum. Inilah awal dari karya dan perutusan Tuhan Yesus di depan publik. Dan luar biasanya, Yesus memulai semua karya-Nya justru dengan tindakan awal ini: turun dan mengambil rupa atau bersolider dengan manusia. Ternyata tindakan ini bukan hanya awal dengan memberi diri dibaptis, tetapi kemudian lebih solider lagi yakni dengan memberi diri disalibkan - wafat di salib untuk manusia.
Sebuah kesadaran baru muncul ketika kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus yakni adalah bahwa kita, berkat pembaptisan yang kita terima dalam Gereja, diangkat menjadi “putera / puteri Allah”, kita menjadi orang khusus; dimana manusia lama kita,ditanggalkan dan kita mengenakan manusia baru. Maka setiap orang yang dibaptis dituntut hidup sesuai dengan identitasnya sebagai orang yang terbaptis.