|
Ziarah Iman bersama Para Kudus:
Januari
16 Januari
St. Marsellus I, Paus dan Martir
Wafat Paus Marsellinus I (296-304) mengakibatkan Tahta Suci lowong selama beberapa tahun. Gereja digoncang penganiayaan oleh Kaisar Diokletianus (284-305). Syukurlah, tiga tahun sesudah kematian Diokletianus terpilihlah seorang paus baru, Marsellus I pada tahun 308. Karena penganiayaan pada masa pemerintahan Diokletianus, umat tercerai-berai. Gereja dalam keadaan kacau balau. Gereja harus dipulihkan. Marsellus mengatur kembali adminsitrasi Gereja sementara mengatasi segala masalah. Orang-orang yang murtad perlu bertobat, mengakui kesalahan dan melakukan penitensi berat, untuk kemudian diterima kembali dalam pangkuan Gereja. Tuntutan itu ditentang banyak orang, hingga mencapai puncaknya menjadi peristiwa berdarah. Kaisar Maxentius menangkap Marsellus dan mengasingkannya. Paus Marsellus wafat dalam pembuangan pada tahun 309. Tetapi Gereja akhirnya bangkit kembali, bertahan dan bahkan berkembang hingga sekarang.
Renungan:
Paus Marsellus dicaci-maki, dibenci dan harus banyak menderita karena Kristus. Umat Kristiani pada masa pemerintahan Diokletianus dan Maxentius mengalami penganiayaan hebat karena iman mereka. Penderitaan merupakan bahasa universal. Bahasa penderitaan melahirkan daya tarik dan simpati yang besar dari berbagai pihak. Sangat nyata, orang akan menjadi semakin bersatu, berbagi duka, solider dalam penderitaan. Jika seorang sanggup menanggung penderitaan dalam jalan Allah, sesungguhnya ia sedang membuka pintu kehidupan baru baginya. Kebaikan yang dilakukan membuatnya menderita, namun penderitaan tidak akan sia-sia. Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran. Dalam situasi sulit seperti sekarang ini orang Katolik diajak tahan menanggung segala bentuk penderitaan. Orang Katolik ditantang dan diajak untuk berbuat lebih banyak.
17 Januari
St. Antonius, Abbas
Antonius dilahirkan di Mesir dalam sebuah keluarga yang kaya raya pada tahun 251. Ketika usianya 20 tahun, orangtuanya meninggal dunia. Ia mewarisi sejumlah besar harta. Namun pemuda Mesir ini lebih tertarik pada sabda hidup dari Injil, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21). Didorong oleh Roh kehidupan dari Sang Sabda, ia membagi harta kekayaannya kepada fakir miskin. Ia sendiri memilih corak hidup pertapaan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan menyatu dengan Kristus sang Miskin yang kaya raya. Karena imannya yang kuat dan kokoh ia mampu mengatasi segala cobaan dan godaan. Hidup tapa menghantar Antonius ke tingkat hidup rohani yang tinggi. Dengan nasehat dan petunjuk-petunjuk yang tepat ia membantu banyak orang yang lapar dan haus akan bimbingan rohani. Dari hidup kontemplasi yang mendalam ia menimba kekuatan untuk membela iman Katolik melawan ajaran sesat kaum Arian. Antonius wafat dalam damai pada tahun 356, dalam usia 105 tahun.
Renungan:
Santo Antonius Abbas bukanlah orang yang melakukan tapa tanpa tujuan. Hidup bakti dalam biara konptemplatif bertujuan melatih diri, menahan nafsu, melawan nafsu tidak teratur, nafsu dosa-dosa pokok: sombong, marah, tamak, kikir, iri hati, cabul dan malas, untuk menggalang etos kerja dan membangun pelbagai kebajikan-kebajikan cinta kasih, keadilan dan kebenaran, kebebasan, kemerdekaan yang bertanggung-jawab. Pertapaan adalah komunitas biara yang hidup dalam kesunyian dan keheningan. Mereka hidup penuh disiplin dan dinamis. Mereka membagi waktu untuk berdoa dan berkarya secara efisien. Mereka memusatkan hidupnya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan berdoa untuk keselamatan segenap Gereja dan umat manusia.
18 Januari
St. Priska, Perawan dan Martir
Puteri bangsawan Roma ini tidak diketahui hari kelahiran dan wafatnya. Namun Gereja mewarisi catatan ringkas yang menceritakan bahwa pada saat berusia 13 tahun, gadis kecil ini ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Claudius (41-54) karena tetap setia kepada iman akan Yesus Kristus. Priska dihormati sebagai perawan dan martir oleh umat Kristen Roma. Jenazahnya dimakamkan di Katakombe Santa Priscila di Jalan Salaria. Keharuman namanya didokumentasikan dalam sebuah gereja yang diberi nama Gereja Santa Priska.
Renungan:
“Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). Kebenaran abadi ini berlaku bagi Santa Priska, remaja kecil yang berasal dari keluarga bangsawan Roma. Ia termasuk dalam bilangan orang yang dipanggil kepada keselamatan. Dan keselamatan itu harus dibayarnya dengan harga mahal. Ia merelakan kepalanya dipisahkan dari tubuhnya demi iman akan Kristus. Sejarah Gereja selalu ditandai dengan darah para martir. Darah para martir adalah benih-benih kekristenan.
19 Januari
St. Marius, Martir
Sekitar awal abad keempat Marius, bangsawan kaya dari Persia, berziarah bersama keluarga: isterinya Marta dan kedua buah hati mereka Audifax dan Abakuh, ke kota Roma. Tujuan ziarah adalah mengunjungi pusat Gereja Kristus dan makam para martir. Sayangnya, mereka tiba di Roma saat situasi gawat, yakni penganiayaan umat Kristen pada awal masa pemerintahan Kaisar Honorius (395-4240). Marius prihatin akan nasib orang-orang Kristen yang meringkuk di penjara-penjara. Ia mengunjungi mereka dan membagi-bagikan harta miliknya kepada mereka agar mereka dapat menyambung hidup. Tetapi karena perbuatannya itu, ia dipandang sebagai lawan dan musuh kaisar. Akhirnya Marius beserta isteri dan kedua anaknya ditangkap sewaktu menguburkan jenazah para pahlawan iman Kristiani di kota abadi itu. Mereka mati sebagai saksi iman yang sama yang mereka kagumi.
Renungan:
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35). Umat Paroki Leo Agung, Jatibening, menanggung penderitaan karena rumah ibadatnya dibakar oleh pemuda-pemuda yang tidak bertanggung jawab. Kerusuhan di Situbondo menyebabkan umat Kristen menderita karena gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen dibakar. Hal serupa terjadi juga di Tasikmalaya: sebuah gereja Kristen Katolik dibakar. Sudah pasti, umat Kristen merasa sedih dan pedih hati. Tetapi perlu dicamkan, penderitaan masa mendatang akan jauh lebih hebat. Bukan lagi gedung gereja, tetapi imanmu akan Yesus Kristus yang hendak dirampas. Imanmu itu lebih berharga daripada emas, perak ataupun tubuhmu sendiri. Iman menyangkut hak asasi. Keyakinan adalah hak-hak dasar kemanusiaan. Kita mesti bersiap menghadapi deraan lebih hebat lagi. Kiranya kita semua berdoa, “Hai langit, turunkanlah Sang Adil dari atas; hai awan, curahkanlah Dia.”
20 Januari
St. Fabianus, Paus dan Martir
Paus Fabianus, yang berasal dari Roma, dinobatkan menjadi Paus menggantikan Paus Santo Anterus (235-236) pada tanggal 10 Januari tahun 236. Ia mengatur kembali administrasi Gereja. Umat dibagi dalam tujuh wilayah gerejani yang dipimpin oleh tujuh diakon dengan dibantu oleh tujuh subdiakon untuk mengurus banyak laporan tertulis mengenai para martir. Tetapi Kaisar Gaius Decius (249-251) membangkitkan kembali penganiayaan terhadap umat Kristiani. Bahkan Paus Fabianus juga ditangkap dan dibunuh pada tanggal 20 Januari tahun 250.
Renungan:
Jika seorang ibu tidak memberi dadanya dihisap oleh kehidupan baru, niscaya akan punahlah kehidupan. Jika seorang ayah tidak membiarkan keringatnya dihisap oleh anak- anaknya, maka tidak akan terjadi perkembangan. Adalah tanggung jawab moral orangtua untuk memelihara kemanusiaan. Itu dilakukan dengan segala pengorbanan. Orangtua akan senatiasa dikenang oleh anak-anaknya. Bayangkan, andaikata para penganut iman perdana tidak bersusah-payah, tidak memeras air mata, tidak menumpahkan darah, adakah iman Katolik di bumi ini? Tidak bisa dibayangkan adanya iman Katolik tanpa para martir. Mereka telah mempertaruhkan daya, airmata, darah dan nyawa agar supaya kebaikan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka menyiram bumi Gereja dengan darah dan kemartirannya dan memberi kesuburan dari tahun ke tahun, dari abad ke abad. Kemenangan yang mengalahkan dunia ialah iman. Walau sejarah mencatat penindasan dan aniaya, iman masih terus bertumbuh di bumi. Semangat yang senantiasa dipelihara dalam Gereja adalah spiritualitas kemartiran. Tetapi bukan dengan cara gagah-gagahan untuk memperlihatkan diri sebagai martir, melainkan dengan cara terus berbuat baik, membela kemanusiaan dengan segala resikonya.
21 Januari
St. Agnes, Perawan dan Martir
Agnes dilahirkan pada tahun 291. Ia seorang remaja yang cantik jelita hingga banyak pemuda jatuh hati padanya. Agnes hidup pada masa kekaisaran Romawi mencapai puncak kejayaan dan sang kaisar menghendaki disembah sebagai dewa. Agnes adalah salah seorang dari antara banyak umat Kristiani yang menolak menyembah kaisar. Ia baru berusia 13 tahun dan bersedia mati daripada mengkianati imannya. Beberapa pemuda bersedia menikahinya asal ia menyangkal iman. Tetapi Agnes mengatakan, “Aku telah mempunyai seorang Kekasih. Ia mencintaiku dan aku pun mencintai-Nya. Dialah Yesus Kristus.” Perkataan Agnes membuat mereka murka. Agnes diikat di atas api unggun dan api pun dinyalakan. Sungguh aneh, meski api berkobar, Agnes tidak terbakar. Hal ini membuat mereka bertambah geram. Seorang dari mereka menghunus pedang dan menghujamkannya pada leher jenjang si gadis. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 304.
Renungan:
“Aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Roma 12:1). Spiritualitas yang dihayati Santa Agnes sejalan dengan semangat teologis Santo Paulus. Jiwa raga diserahkan kepada Allah. Semangat yang sama diinspirasi dari korban hidup yang dilakukan Yesus Kristus demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia. “Aku telah mempunyai seorang Kekasih. Ia mencintaiku dan aku pun mencintai-Nya. Dialah Yesus Kristus.” Sosok Agnes layak menjadi teladan bagi kita semua, khususnya pemuda dan pemudi zaman kini. Hendaklah kita memiliki spiritualitas bahwa tubuh adalah kenisah Roh Kudus. Kita memancarkan cahaya rahmat bagi orang lain. Sang Pencipta dan Roh Cinta Kasih harus dimaklumkan kepada dunia melalui tubuh kita.
22 Januari
St. Anastasius, Martir
Raja Chosroes Abhanwez dari Persia menggempur kota Yerusalem pada tahun 614. Di antara tentaranya terdapat seorang prajurit muda bernama Magundat. Terkesan oleh teladan hidup umat Kristiani yang rukun dalam semangat cinta kasih, Magundat bertobat dan dibaptis dengan nama Anastasius. Ia keluar dari dinas militer dan masuk biara di Palestina. Setelah tujuh tahun hidup sebagai biarawan yang hidup dalam doa, Anastasius diutus ke Caesarea untuk mewartakan Injil. Tetapi ia ditangkap, disiksa dengan aniaya dan kerja paksa. Sebab Anastasius tak hendak menyangkal imannya, maka bersama 70 umat Kristen lainnya, ia dicekik hingga tewas di tepi sungai Eufrat (Irak) pada tahun 628.
Renungan:
Pada tahun 614 Raja Chosroes Abhanwez dari Persia menaklukkan Yerusalem dan merampas Salib Suci. Magundat mendapatkan informasi bahwa itu adalah salib Yesus Kristus dari Nazaret yang disiksa dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi karena menyebut DiriNya Putra Allah. Ia begitu terkesan oleh kuasa nyata reliqui kudus itu dan devosi serta kekudusan hidup umat Kristiani yang sujud di bawah salib, hingga ia bertobat. Setelah dihantar dalam iman Kristiani, bagi Anastasius, di salib itu bukan lagi Yesus yang mati melainkan Yesus yang hidup. Salib memang menjadi batu sandungan. Mengapa orang harus menjalani hidup hanya untuk salib, menderita, menyangkal diri dan berbagai tindakan bodoh lainnya dari segi pertimbangan manusiawi. Tetapi bagi orang beriman salib merupakan hikmat terdalam dari kehadiran Allah. Salib itu kekuatan. Tanpa kesediaan untuk menerima salib, segala cita-cita tinggal setengah jalan karena setiap cita-cita, setiap rencana, setiap kehendak baik memiliki salibnya sendiri-sendiri. Jadi, jika mau maju dan berkembang dalam apa yang diimpikan orang harus bersedia menerima salib dan mengatasinya. Bagi orang Kristen, setiap orang dipanggil untuk menunaikan panggilan hidupnya dengan bersedia memikul salib yang menyertainya.
23 Januari
St. Martina, Perawan dan Martir
Martina adalah puteri seorang pejabat Romawi Kristen yang kaya raya. Ia adalah gadis yang pengasih dan penyayang serta peduli pada sesama, khususnya mereka yang tertindas kemiskinan. Sesudah kematian kedua orangtuanya, ia membagi-bagikan harta miliknya kepada fakir miskin dan membaktikan diri dalam doa. Pada masa pemerintahan Kaisar Aleksander Severus Martina diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa. Martina menolak dan memilih mati demi membela iman kepada Kristus. Peristiwa itu terjadi pada tahun 228. Empat abad kemudian penghormatan diberikan kepadanya. Pada tahun 1634 Paus Urbanus VIII mendirikan sebuah gereja untuk menghormatinya.
Renungan:
Pernahkah engkau bersyukur atas iman yang engkau miliki? Jika engkau tiada menemukan rasa syukur itu, sia-sialah imanmu. Engkau tidak menemukan kebaikan dari imanmu. Sungguh sayang. Hal itu bukan karena iman tak memberi apapun kepadamu, tetapi karena engkau memiliki iman yang hanya tertempel di luar; iman yang hanya label. Engkau tidak menghayati iman dalam arti sedalam-dalamnya. Iman itu benar, tidak menyesatkan, karena bersumber pada wahyu, ajaran Tuhan. Santo Paulus bergembira dan bersyukur karena pewartaannya benar sesuai dengan panggilan Allah yang memanggil semua orang untuk diselamatkan. Adakah engkau merasakan bahwa iman akan Kristus membebaskanmu? Allah mempunyai ruang pengampunan yang luas dan dalam. Allah membimbing dan bila engkau tersesat, Allah membawamu lagi ke jalan yang benar. Yang penting engkau sadar akan iman kepada Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup.
24 Januari
St. Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Fransiskus dilahirkan di kastil Château de Thorens dalam sebuah keluarga bangsawan di Savoy pada tanggal 21 Agustus 1567, sebagai yang sulung dari duabelas bersaudara anak-anak François de Boisy dan Françoise de Sionnz. Orangtuanya ingin Fransiskus menjadi seorang ahli hukum, masuk dalam dunia politik dan meneruskan garis kekuasaan keluarga. Ia bersekolah di La Roche dan Annecy di Perancis dengan para pengajar dari Serikat Yesuit. Selanjutnya dalam usia duabelas tahun mengambil kuliah di Collège de Clermont di Paris. Dalam masa remajanya, Fransiskus mulai terengaruh ajaran Calvin mengenai predestinasi (= takdir) dan percaya bahwa ia ditakdirkan masuk neraka. Tetapi ia berpendirian, “Kalau aku tidak diizinkan mencintai Tuhan di akhirat, setidak-tidaknya aku akan berusaha sekuat tenaga mencintai-Nya di dunia ini.”Fransiskus belajar hukum dan theologi di Universitas Padua, Itali dan meraih gelar doktor di kedua bidang. Saat pulang, jabatan Senator tlah menantinya. Ia memilih untuk mengurbankan karir duniawi demi cita-cita menjadi imam. Ia diutus untuk menobatkan para pengikut Calvin di Choblais. Pada tahun 1602 Fransiskus ditahbiskan sebagai Uskup Geneva (Swiss). Kekayaan rohani dibagi-bagikan Fransiskus dalam banyak tulisan, pamflet dan buletin. Ia adalah orang kudus pertama yang memakai surat kabar untuk mewartakan iman. St Fransiskus wafat pada wafat pada tanggal 28 Desember 1622 di Lyon. Pada tanggal 8 Januari 1662 Fransiskus de Sales dimaklumkan sebagai beato oleh Paus Alexander VII dan dikanonisasi pada tanggal 19 April 1665 oleh paus yang sama. Pada tahun 1877 ia dimaklumkan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Beato Pius IX dan pada tahun 1923 dimaklumkan sebagai pelindung pers dan penulis Katolik oleh Paus Pius IX.
Renungan:
Fransiskus de Sales, karena panggilan Allah, meninggalkan karier dan memilih menjadi imam. Lewat karya imamatnya ia menantang pengaruh ajaran predestinasi (takdir) yang disebarluaskan Calvin. Tuhan berkenan akan ketulusan hati dan khotbahnya yang penuh kasih dan kelembutan. Dari 72.000 umat Katolik yang telah memeluk ajaran Calvinisme, 67.000 di antaranya kembali ke pangkuan Gereja Katolik. Fransiskus ditahbiskan menjadi Uskup Geneva (Swiss). Ia berjumpa dengan St. Yohana Fransiska de Chantal dan mereka mendirikan Serikat Visitasi yang intinya hendak meneladan Maria yang dengan kerendahan hati mengunjungi (visitasi) dan membantu Elisabet saudarinya. Segala sesuatu di dunia merupakan sarana di tangan Tuhan untuk menyelamatkan dunia. St Fransiskus de Sales mempergunakan surat kabar sebagai sarana tepat untuk mewartaan Sabda Allah. Sarana yang tepat artinya yang baik dan berguna. Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang tepat dengan sarana yang tepat pula.
25 Januari
Pesta Bertobatnya St Paulus, Rasul
Paulus dilahirkan di Tarsus (Turki Tenggara). Ia seorang Yahudi, namun mewarisi kewarganegaraan Romawi dari ayahnya. Semula namanya adalah Saulus. Ia dididik di Yerusalem oleh Gamaliel, seorang rabbi yang termasyhur, dan termasuk golongan Farisi. Saulus disegani karena fanatisme terhadap Hukum Taurat. Ketika mendengar bahwa di Damsyik banyak pengikut Kristus yang tak mengindahkan Hukum Taurat, ia merasa terpanggil untuk menumpas orang-orang Kristen. Hatinya berkobar-kobar dengan satu tujuan yakni menangkap dan menyeret mereka ke Yerusalem agar mereka mengalami nasib sama dengan Guru mereka. Dalam perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba ia disilaukan oleh cahaya ajaib dari langit. Kudanya terhentak dan Saulus terhempas ke tanah, tergeletak tak berdaya. Sayup-sayup terdengarlah suara Kristus, “Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” “Siapakah Engkau?” Jawab-Nya, “Aku Yesus yang kau aniaya. Bangunlah dan masuklah ke kota. Di sana akan Aku katakan apa yang harus kau perbuat.” Di Damsyik, Saulus dibaptis menjadi Kristen dan namanya diubah menjadi Paulus. Untuk sementara ia hidup menyendiri di Arabia. Sekembalinya ke Damsyik, ia menjadi pewarta Kristus. Pertobatan Santo Paulus terjadi secara tiba-tiba dan istimewa. Dengan penuh semangat ia mengajar orang-orang Kristen. Paulus dikenal sebagai rasul orang kafir karena membaptis orang-orang bukan Yahudi tanpa membebankan adat Yahudi kepada mereka. Ia mengadakan perjalanan rasuli hingga 3-4 kali mengelelilingi dunia untuk menyebarkan Injil dan mendirikan jemaat-jemaat. Untuk memelihara jemaat-jemaat itulah ia menulis surat-suratnya. Paulus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepalanya sekitar tahun 67.
Renungan:
Karunia tobat adalah awal hidup berahmat. Tobat menjadi awal satu hidup baru. Tobat merupakan kesempatan beralih dari kehidupan lama ke kehidupan baru. Itulah pengalaman Saulus, yang kemudian bernama Paulus. Sebelumnya, ia adalah seorang pemburu dan penganiaya mereka yang berjalan di jalan Tuhan. Dalam perjalanan ke Damsyik, ia mengalami proses pertobatan. Pengalamannya sangat menantang dan menggetarkan, pengalaman beralih dari semangat lama ke semangat baru. Kemudian semangat baru itu menjiwai seluruh kehidupan dan karyanya. Setiap orang memiliki masalah dan masa lalu. Masa lalu dapat begitu gelap sehingga orang menjadi putus asa dan merasa diri tidak berguna. Inilah pengalaman kegelapan. Tidak ada jalan atau memang ia tidak bisa melihat jalan. Tetapi tenggelam dan meratapi masa lalu adalah satu hal yang tidak bijaksana. Manusia baru diajak untuk melihat masa depan. Masa depan menjanjikan ruang pertobatan dan perbaikan diri. Allah memberi ruang pengampunan bukan hanya secara fisik di kamar-kamar pengakuan yang ada di gedung gereja. Allah memang memberi pintu pengampunan. Jika orang menyesal akan apa yang dilakukan pada masa lalu dan ingin memulai hidup baru, Allah mempunyai pintu untuk itu. Seperti Paulus, tobat kita harus diwujudkan dengan karya nyata guna mengungkapkan sikap tobat kita. Seluruh hidup dibaktikan untuk kehidupan baru. “Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam Aku.”
26 Januari
St. Timotius dan St. Titus, Uskup
Santo Timotius dilahirkan di Listra, Asia Kecil. Berkat pewartaan Santo Paulus, Timotius bersama ibunya - Eunike - dan neneknya - Lois - memeluk agama Kristen. Tujuh tahun kemudian Paulus singgah kembali ke Listra dan mendapati Timotius sebagai seorang pemuda yang saleh dan bijaksana, sebab itu Paulus mengambilnya sebagai rekan kerja di Asia kecil dan Yunani. Kadang kala ia mendahului Paulus sebagai utusan terpercaya, tetapi sering juga ditinggalkan demi memperteguh iman jemaat baru. Rahmat dan berkat Tuhan mengangkat Timotius menjadi Uskup Efesus yang pertama. Di sanalah ia menerima dua epistula St Paulus. Karena menolak menyembah berhala, Uskup Timotius dirajam hingga tewas sekitar tahun 97.
Santo Titus adalah murid kesayangan Santo Paulus. Titus mengikuti gurunya sampai ke Konsili Yerusalem. Ia mendapat tugas dari Paulus untuk mengumpulkan amal kasih dari jemaat di Korintus bagi jemaat di Yerusalem yang sedang mengalami paceklik. Selanjutnya Titus diangkat menjadi uskup di Pulau Kreta, Yunani. Titus yang giat, berjiwa besar, dan pandai berdiplomasi ini wafat pada tahun 96. Epistula St Paulus kepada Titus dapat kita baca dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.
Renungan:
Betapa dalam kehidupan sehari-hari, umat Kristen tidak dapat bekerja sama demi keselamatan masyarakat dan Gereja. Mereka saling bertengkar dan memperjuangkan diri atau kelompok masing-masing. Pekerjaan mereka bertumpang tindih dan tidak saling menunjang. Mereka berebut lahan kerja yang sama. Semua orang ingin menjadi yang utama. Akibatnya, banyak urusan terbengkalai. Sering ditemukan antar bagian pelayanan tidak bersinergi tetapi bekerja sendiri-sendiri; tidak ada koordinasi kerja yang baik tetapi saling menonjolkan diri. Dalam epistulanya, Paulus menyampaikan pesan ini mengenai tanggung-jawab pewartaan Injil: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (I Korintus 3:6-7).
27 Januari
St. Angela Merici, Perawan
Sumber: “Ziarah Iman Pastor Jan Lali SVD, Renungan Harian Bersama Para Kudus Sepanjang Tahun”; diterbitkan oleh Penerbit Buku Sabda, Yayasan Sabda Bahagia; Jakarta 2005; tambahan dan edit oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya
|