Komunitas Berkumpul
oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D. *
Mengapakah saya pergi ke Misa? Cara saya menjawab pertanyaan ini mengungkapkan suatu perubahan penting dalam cara saya memahami Ekaristi.
Salah satu kenangan paling awal dari masa kanak-kanak saya adalah pergi ke Misa setiap hari. (Seungguhnya, ibu saya yang pergi ke Misa setiap hari; ia membawa saya serta.) Kami pergi ke Misa untuk berdoa. Ibu membawa buku doanya, yang disisipi kartu-kartu doa kesukaannya. Terkadang kami mendaraskan Rosario dengan lantang bersama mereka yang hadir dalam Misa harian. Tetapi, segala doa ini berhenti saat konsekrasi. Itulah saat ketika ibu meletakkan buku doanya, dan kami memandang ke altar sementara imam mengunjukkan hosti yang sekarang telah menjadi Tubuh Kristus.
Saya menghargai kenangan-kenangan ini dan saya hendak berbicara mengenainya tidak hanya dengan nostalgia, melainkan juga dengan rasa hormat yang besar. Cara memprsembahkan Misa yang demikian telah membentuk tak terhitung banyaknya generasi laki-laki dan perempuan kudus. Tetapi jika kalian bertanya kepada saya sekarang “Mengapakah Anda pergi ke Misa?” saya akan menjawab, “Saya pergi ke Misa, pertama-tama, untuk berkumpul bersama umat Kristiani lainnya.”
Jawaban ini mungkin kedengaran aneh, atau dipaksakan, atau sekedar dibuat-buat agar sesuai dengan judul artikel ini. (Dan saya harus akui, jawaban ini bahkan terdengar aneh di telinga saya ketika saya mendengar diri saya mengatakannya, sebab ini masih baru bagi saya juga.) Tetapi hal pertama-tama yang kita umat Katolik lakukan ketika kita pergi ke Misa atau merayakan Ekaristi adalah kita berkumpul!
Ritus Pembuka
Semua unsur ritual yang kita alami di awal Misa - Tanda Salib, air suci, nyanyian, salam, saat hening, doa - memiliki satu tujuan: mengumpulkan kita bersama dalam satu Tubuh Kristus sehingga bersama-sama kita dipersiapkan untuk mendengarkan Sabda Allah dan merayakan Ekaristi. Air suci dan Tanda Salib mengingatkan kita akan baptisan umum kita.
Salib ditandakan pada dahi kita ketika kita dibaptis ke dalam Kristus. Penyebutan “Bapa, Putra dan Roh Kudus” berbicara mengenai rahmat kehidupan Tritunggal Mahakudus di mana kita ikut ambil bagian sebagai suatu komunitas orang-orang yang dibaptis. Nyanyian pembuka menyatukan suara kita, akal budi kita dan perkataan kita menjadi suatu suara Kristus. Doa Pembuka yang menutup Ritus Pembuka ini menyatukan segala doa pribadi, permohonan dan puji-pujian kita menjadi satu doa Gereja. Teks Latin dari Misale Romawi menamakan doa ini Collecta sebab mengumpukan segala doa-doa kita menjadi satu.
Kita Berkumpul Bersama
Kata-kata berkumpul, berkumpul bersama, berhimpun sering dipergunakan dalam Kitab Suci untuk menggambarkan apa yang dilakukan kita umat Kristiani pada hari Tuhan. Dalam, mungkin teks tertulis paling awal yang kita miliki mengenai Ekaristi, Santo Paulus berbicara mengenai bagaimana jemaat Korintus “berkumpul bersama” untuk merayakan perjamuan Tuhan (1 Korintus 7:5; 11:17-18,20,33: 14:26, dst)
Pada hari Tuhan, komunitas berkumpul untuk Perjamuan Tuhan. Santo Lukas menulis, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…” (Kisah Para Rasul 20:7). Pada abad kedua, Santo Yustinus, berusaha menjelaskan apa yang dilakukan umat Kristiani pada hari Minggu, menulis, “Pada hari yang kami sebut hari matahari, semua yang tinggal di kota ataupun desa berkumpul di satu tempat yang sama.”
Berkumpul tidak memainkan peran penting dalam pengalaman Misa saya sepanjang tahun-tahun sebelum Konsili Vatican II. Misa merupakan sesuatu yang amat pribadi, tetapi juga agak perseorangan dan individual. Saya pergi ke Misa untuk berdoa - untuk memanjatkan doa-doa saya sementara imam di altar memanjatkan doa-doanya. Saat konsekrasi adalah satu-satunya saat imam dan umat sungguh “bersama” (mungkin ini tidak berlaku bagi semua umat Katolik, tetapi yang pasti pengalaman saya - dan pengalaman banyak biarawati, awam dan para imam dengan siapa saya membicarakan masalah ini dalam retret dan workshop).
Sekarang, pengalaman Ekaristi saya agak berbeda. Misa merupakan sesuatu yang lebih komunal dan sosial daripada perseorangan dan individual, meski sama-sama pribadi. Ekaristi adalah sekaligus komunal dan pribadi. Sesuatu yang kita lakukan bersama, secara komunal; dan bersama-sama, kita masing-masing secara pribadi mengalami rahmat kasih Allah.
Menjadikan Gereja Kelihatan
Melalui Sakramen Baptis, Penguatan dan Ekaristi, kita diinisiasi masuk ke dalam Tubuh Kristus dan kita menjadi Gereja. Tetapi adalah ketika kita berkumpul bersama untuk merayakan Ekaristi, dengan suatu cara yang istimewa, kita menjadikan Gereja kelihatan.
Sebagai misal, suatu jigsaw puzzle, bahkan meski dalam kotak, mempunyai suatu gambar. Tetapi kalian tak dapat mengatakan gambar apa itu hingga kalian menyusun puzzle. Apabila kalian mengeluarkan puzzle dari kotak dan menyusun potongan-potongan jigsaw puzzle, barulah gambarnya kelihatan.
Inilah yang kita lakukan dalam Ekaristi. Kita bertemu, kita berkumpul, dan kita menjadikan kelihatan siapa kita sebagai Gereja. Pada permulaan dari dokumen paling awal yang dimaklumkan Konsili Vatican II, kita membaca bahwa Ekaristi “merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #2)”. Ekaristi adalah “di mana Gereja dinyatakan secara kelihatan.”
Tanggung Jawab Baru
Meski saya meyakini segala yang saya tulis di sini dan saya telah belajar serta mengajar tentang dokumen-dokumen dan Teologi Konsili Vatican II selama 40 tahun, harus saya akui bahwa saya masih tidak selalu nyaman dengan gagasan “baru” ini. Apabila saya pergi ke Misa pada hari Minggu, sebagian dari diri saya masih lebih suka menemukan suatu tempat tersendiri di bangku gereja dimana saya dapat membenamkan muka ke dalam kedua tangan saya, memblokir semua suara dan wajah di sekeliling saya dan berdoa dalam keheningan kepada Tuhan mengenai segala persoalan dan kebutuhan saya. Mungkin pembawaan saya atau karena saya dibesarkan dalam masa sebelum Vatican II, tetapi berkumpul tidak selalu nyaman bagi saya.
Pertama-tama berkumpul - kenyataan bahwa Ekaristi pada pokoknya merupakan sesuatu yang kita lakukan bersama sebagai Gereja - menempatkan kewajiban-kewajiban baru pada saya, pada kita semua. Di antara “kewajiban-kewajiban” ini, saya hendak menyebutkan tiga: keramah-tamahan, nyanyian dan keheningan.
Keramah-tamahan
Kenyataan bahwa Ekaristi merupakan sesuatu yang kita lakukan bersama sebagai suatu komunitas telah mendorong banyak paroki untuk menempatkan para penyambut atau para pelayan ramah-tamah di pintu-pinti gereja untuk menyambut kita saat kita datang untuk ikut ambil bagian dalam Misa hari Minggu. Akan tetapi, keramah-tamahan adalah pelayanan semua orang.
Tiap-tiap kita haruslah berupaya untuk menjadi Gereja yang menyambut dengan sukahati. Mungkin yang harus kita lakukan hanyalah tersenyum atau memberi jalan agar mereka yang datang sesudah kita dapat dengan mudah mendapatkan tempat duduk. Mungkin kita dapat berbagi buku nyanyian. Ini semua adalah hal-hal kecil, tetapi adalah penting bahwa kita mengatakan dengan bahasa tubuh kita bahwa kita senang yang lain ada disana untuk bersembah sujud bersama kita sehingga bersama-sama kita dapat membentuk Gereja!
Nyanyian
Seringkali di awal Perayaan Ekaristi hari Minggu kita diundang untuk ikut memadahkan lagu. Tetapi, bagi kebanyakan kita sekarang, musik bukanlah sesuatu yang kita lakukan, melainkan sesuatu yang kita dengarkan. Menyanyi adalah sesuatu yang dilakukan oleh para profesional. Jika kalian mendapati diri kalian berpikiran seperti ini ketika diminta untuk menyanyikan nyanyian pembuka, janganlah berpikir mengenai “nyanyian” atau “musik” melainkan pertama-tama berpikirlah mengenai berkumpul.
Ketika diundang untuk menyanyikan nyanyian pembuka, kita diminta untuk menyatukan akal budi kita dan hati kita dengan segenap mereka yang hadir, dengan mendaraskan dan melambungkan doa yang sama, pada waktu yang sama, dengan melodi, irama dan nada yang sama. Ini merupakan suatu aktivitas bersama, menyatukan suara individual kita menjadi satu suara Kristus yang memuliakan Bapa dalam Roh Kudus.
Meski jika suara indah merdu bukanlah salah satu talenta kalian, adalah tetap penting untuk mengambil buku nyanyian, untuk membangun kata dan perasaan dalam hati - dan bibir kalian.
Keheningan
Dalam Ritus Pembuka dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, kita diundang untuk berdoa beberapa saat dalam saat hening. Ini bukanlah sekedar jeda, melainkan suatu unsur penting berkumpul. Kita datang berkumpul untuk menyembah Allah dan perlu mengganti persneling dari dunia rutin efisiensi dan produksi, mencari nafkah dan merawat keluarga. Kita masuk ke dalam dunia simbol dan sakramen, doa dan sujud. Pergantian ini hanya dapat dilakukan dalam keheningan, dan keheningan hanya dapat diciptakan jika semua orang bersama-sama mengheningkan diri.
Kehadiran Kristus
Bahkan jika terkadang sulit untuk menyambut yang lain, untuk menggabungkan diri dalam nyanyian dan untuk menciptakan ruang hening bagi sembah sujud komunal, ada bahkan kesulitan yang terlebih besar lagi sehubungan dengan berkumpul. Kita percaya bahwa ketika kita berkumpul, kita menjadikan kelihatan Gereja, Tubuh Kristus.
Sebagai konsekuensinya, kita percaya bahwa komunitas itu sendiri, kumpulan orang-orang ini, di sini, di gereja ini, adalah “tanda dan sakramen” pertama dari kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Yesus sungguh hadir dalam komunitas yang berkumpul. Yesus menjanjikan, “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20). Namun demikian, ketika saya memandang sekeliling, terkadang sulit bagi saya untuk melihat kehadiran Kristus. Seringkali lebih mudah bagi saya untuk melihat Kristus dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrir daripada melihat kehadiran-Nya dalam diri orang-orang yang ada dalam jangkauan penglihatan saya.
Inilah tantangan pertama, “skandal” pertama yang dihadirkan Ekaristi kepada kita. Agar dapat merayakan Ekaristi dengan baik, saya harus mengenali Tubuh ini, saya harus mengenali Tubuh Kristus dalam diri sesama warga paroki. Sebab, terkecuali jika saya bersedia bergabung bersama orang-orang ini - para kudus dan para pendosa, yang kaya dan yang miskin, semua yang berupaya mengikuti Yesus sementara mereka berupaya menemukan jalan Tuhan bagi mereka - saya mendatangkan hukuman atas diri saya sendiri (bdk. 1 Korintus 11:29).
Dan bagaimana jika sebagian orang dalam jemaat mengalami problem yang sama ini dengan saya? Begaimana jika saya datang ke Misa dan berusaha berkumpul dengan orang-orang yang telah saya sakiti atau maki atau dustai? “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23-24). Berkumpul memberikan kepada kita banyak hal untuk direnungkan!
Mengapakah kita pergi ke Misa? Jika kalian menjawab pertanyaan itu, mulai sekarang saya harap kalian akan mengatakan, “Saya pergi ke Misa, pertama-tama, untuk berkumpul bersama umat Kristiani lainya.” Dan apakah yang kita lakukan sewaktu kita berkumpul? Kita mengenangkan. Dan itulah subyek dari artikel selanjutnya dalam serial ini.
* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.
sumber : “The Community Gathers ,” Eucharist: Jesus With Us by Thomas Richstatter, O.F.M.; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org; diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
|