Ziarah Iman bersama Para Kudus:

Desember

1 Desember

 B. Dionisius a Nativitate dan B. Redemptus a Cruce, Martir

Dionisius a Nativitate
Redemptus
Dionisius dilahirkan pada tahun 1600 di Honfleur, sebuah kota di pantai utara Perancis. Ayahnya adalah seorang nahkoda kawakan. Di usia duabelas tahun ia telah ikut ayahnya berlayar mengarungi samudera luas. Ekspedisi pelayaran kerap membawanya ke Goa di mana ia akhirnya memutuskan untuk menggabungkan diri dalam sebuah Biara Karmel. Redemptus dilahirkan di Paredes, Portugal pada tahun 1598. Ia masuk tentara dan diutus ke daerah jajahan Portugis dan akhirnya ditempatkan di Goa. Redemptus pun memutuskan untuk mengakhiri karirnya dalam dinas ketentaraan dan menjadi seorang bruder Karmelit. Di Biara Karmelit inilah Dionisius dan Redemptus bertemu. Pada tahun 1638, Portugis mengirim utusan ke Aceh. Dionisius ikut serta sebagai pastor tentara dan juru bahasa. Ia ditemani oleh Redemptus. Sesampainya di Aceh, mereka diterima dengan ramah. Tetapi sesudah itu mereka ditangkap dan dipenjarakan oleh penguasa setempat. Pada tanggal 29 November 1638 mereka menerima mahkota kemartiran sebagai sebagai martir Indonesia.

Renungan:

Yesus Kristus adalah guru dan pemimpin. Dionisius dan Redemptus mengikuti sang Pemimpin dalam hidup dan mati. Mereka berjalan bersama Kristus di jalan Kristus. Mereka mati satu kali sebagai martir tetapi beroleh ganjaran hidup abadi. Semua orang yang mengikuti-Nya masuk “sekolah” Yesus, Raja Damai. Sekolah Yesus terdapat dalam Gereja. Sepanjang Tahun Liturgi, Gereja mengajarkan kepada kita: iman, moral dan doa. Semua yang belajar pada Yesus dan setia mengikuti-Nya akan menikmati damai bahagia dan keselamatan abadi.


2 Desember

 St. Bibiana, Perawan dan Martir

Bibiana berasal dari sebuah keluarga Kristen yang saleh, yang semua anggotanya wafat sebagai martir. Ayahnya, Flavian, seorang pejabat Roma, ditangkap karena imannya dalam pemerintahan Kaisar Yulianus; ia disiksa dan dibuang ke pengasingan di mana ia wafat sebagai martir. Ibunya, Dafrosa, ditahan di rumah bersama kedua anaknya: Bibiana dan Demetria. Dua minggu kemudian Dafrosa pun wafat sebagai martir dengan dipenggal kepalanya. Bibiana dan Demetria dipenjarakan dalam sebuah sel yang sempit, gelap dan kotor tanpa diberi makanan sedikit pun. Diharapkan dengan penyiksaan itu mereka akan menyangkal imannya. Tetapi kedua kakak beradik ini tetap teguh. Setelah mengakui imannya, Demitria wafat di kaki sang tirani. Bibiana diserahkan kepada seorang perempuan pendosa bernama Rufina yang dengan bujuk rayu serta ancaman berusaha memaksanya masuk ke dalam pelacuran. Ketika Rufina menyerah, Bibiana dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Akhirnya, Bibiana dijatuhi hukuman mati dengan dicambuk hingga tewas pada tahun 363. Di kemudian hari, sebuah gereja dibangun di atas makamnya; di kebun gereja tumbuhlah suatu tanaman yang dapat menyembuhkan sakit kepala dan epilepsi. Bibiana dijadikan santa pelindung penderita sakit jiwa dan epilepsi.

Renungan:

Yesus menjadi Terang Dunia lewat hidup, sabda, sengsara, wafat serta kebangkitan-Nya. Santa Bibiana, perawan dan martir, bersama segenap anggota keluarganya, menjadi terang dunia seturut teladan Kristus. Jika orang turut mati bersama Kristus, ia pun turut hidup bersama Kristus; jika orang turut menderita bersama Kristus, ia pun turut jaya bersama Kristus. Semua orang Kristen percaya bahwa Kristus akan membangkitkan umat manusia di hari akhirat. Tetapi dalam arti tertentu, kita telah bangkit bersama Kristus berkat karya Roh Kudus. Kehidupan Kristiani di dunia ini sudah merupakan keikutsertaan dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah. Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kolose 2:12,3:1).


3 Desember

 St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi

Fransiskus dilahirkan pada tanggal 17 April 1506 dalam sebuah keluarga bangsawan di Navarra, Spanyol Utara. Ia menempuh pendidikan di Universitas Paris dan bersahabat dengan Ignatius dari Loyola. Pada tanggal 15 Agustus 1534, ia menjadi salah satu dari tujuh orang anggota Serikat Yesus yang pertama. Mereka berjanji di hadapan Tuhan untuk mengabdikan hidup demi pertobatan orang-orang tak beriman dan keselamatan jiwa-jiwa. Selanjutnya mereka pergi ke Roma untuk menawarkan karya bakti mereka kepada Paus. Pada tahun 1537, Fransiskus ditahbiskan menjadi imam. Empat tahun kemudian ia berangkat ke Asia sebagai misionaris. Sepuluh tahun lamanya ia bekerja di Goa, Sri Langka, Indonesia dan Jepang. Fransiskus mewartakan Injil di pantai barat India sampai ke Malaka. Ia mewartakan Injil di daerah-daerah baru dan menjadi perintis bagi misionaris lain. Awal tahun 1546, ia berlayar dengan kapal dagang ke Indonesia bagian timur terutama di Maluku di mana ia membaptis kira-kira 1000 orang. Ketika hendak masuk Tiongkok, ia wafat karena sakit dan kepayahan di pulau Sancian pada tanggal 2 Desember 1552. Jenazahnya dibawa ke Goa dan disemayamkan di sana hingga sekarang. Fransiskus Xaverius dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622.  

Renungan:

a. Karya Misi adalah amanat Kristus sendiri. Gereja dibentuk sebagai lembaga keselamatan, sebagai sakramen universal keselamatan.
b. Asal dan Tujuan Misi. Asalnya adalah cinta kasih Allah Tritunggal Mahakudus yang mengutus Allah Putra dan Allah Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa. Tujuannya ialah menghantar manusia hidup bahagia dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal.
c. Alasan Misi ialah cintakasih Allah kepada segenap manusia. Gereja senantiasa menerima dan menimba cinta kasih Allah. Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
d. Jalan Perutusan ditetapkan oleh Gereja sama seperti yang dijalani oleh Kristus sendiri: jalan kemiskinan, ketaatan, pengabdian dan pengorbanan diri sampai mati, dan dari kematian itu muncullah Ia, melalui kebangkitan-Nya, sebagai pemenang.

Semuanya itu telah dihayati dan dialami oleh St Fransiskus. Paus Pius XI memaklumkan St Fransiskus Xaverius sebagai pelindung karya misi bersama Santa Theresia dari Lisieux.


4 Desember

 St. Barbara, Martir

Barbara adalah seorang gadis jelita, puteri Dioscorus, seorang pedagang Romawi. Apabila ayahnya pergi jauh untuk berdagang, Barbara dikurung di kamar dalam menara yang mempunyai dua buah jendela. Suatu hari ketika ayahnya pulang, ia melihat ada yang ganjil. Ada tiga jendela di menara dan di jendela ketiga tergantung sebuah salib. Barbara telah memeluk iman kepada Kristus berkat pengajaran seorang imam. Ayahnya yang kafir amat murka. Ia menyeret Barbara seraya berteriak, “Ikut ayah ke pengadilan dan kau harus menyangkal imanmu yang tak masuk akal itu.” Barbara baru berusia 14 tahun, sebab itu hakim tak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya bertambah berang, ia menyeret puterinya kepada algojo agar didera supaya mengingkari imannya. Namun usahanya sia- sia. Barbara tetap setia kepada imannya. Ayahnya yang murka menghunus pedang dan menebas leher puterinya sendiri. Pada saat itu juga ayahnya disambar petir dan tewas seketika. Barbara wafat sebagai martir pada tahun 306. Umat Katolik biasa berdoa kepada St Barbara agar jangan meninggal tanpa menyambut sakramen-sakramen Gereja.

Renungan:

Damai yang dibawa Kristus adalah damai sejati dan abadi. Sementara damai yang diupayakan manusia adalah sementara dan dapat juga semu. Itulah maksud Kristus ketika Ia berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Matius 10:34-36). Itulah yang dialami Barbara. Namun demikian, Barbara justru menerima damai abadi yang sejati. Itulah yang dijanjikan dan diberikan oleh Kristus, sang Raja Damai. Injil membawa pemisahan tegas. Ada dua sikap yang tidak bisa dipertemukan. Sehingga dapat dikatakan, kedatangan Yesus bahkan mengobarkan pertentangan. Kita perlu mempersiapkan diri untuk itu. Kita sendiri memang tidak mencari pertentangan, tetapi pertentangan itu merupakan konsekuensi atau resiko dari pewartaan walaupun tidak harus seperti itu. Ya Kristus berilah kami damai.


5 Desember

 St. Sabas, Abbas

Sabas dilahirkan di Mutalaska, dekat Kaisarea, pada tahun 439. Ia masuk Biara Basilian yang dipimpin oleh Santo Eutimos Agung. Pada tahun 491, ia ditahbiskan menjadi imam. Pada tahun 494 ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi dari semua biara di Palestina. Sabas mendirikan laura besar (pertapaan) antara Yerusalem dan Laut Mati, yang hingga kini masih dihuni oleh para rahib (Mar Saba) dari Gereja Ortodoks Timur. Semua laura di Palestina menerima bimbingannya. Sabas wafat dalam usia 94 tahun pada tanggal 5 Desember 532 di Laura Mar Saba.

 St. Reinardus, Uskup

Santo Reinardus adalah seorang peziarah yang selama tiga hari penuh - tanpa tidur, makan dan minum - berdoa menapaki Jalan Salib Yesus, Kebun Zaitun dan Bukit Golgota di Yerusalem. la mengenakan jubah yang kotor dan lusuh, tanpa alas kaki, dan sepanjang perjalanan mencucurkan airmata. Reinardus adalah Uskup Luttich, Belgia, yang berjalan kaki ke Kota Suci untuk bertobat sebab ia telah membeli jabatan uskup demi ambisi pribadi. Ketika Paus mendengar tobat sejati ini, ia meminta Reinardus untuk tetap mengemban jabatannya. Dengan rajin Uskup Reinardus mengunjungi semua paroki dalam wilayah keuskupannya, berkotbah, membangun jembatan dan irigasi, membagi makanan dan membela mereka yang tertindas.

Renungan:

Adventus: Kedatangan Tuhan. Tuhan datang kepada manusia. Inilah dimensi paling dalam dari iman kita. Kita menghidupi iman kita bila kita bersikap-siap menyambut kedatangan-Nya. Marilah merenungkan makna terdalam dari seluruh Masa Adven ini yang terwujud dalam Sakramen Pembaptisan. “Adven Domini” dalam hati dan jiwa kanak-kanak patut dilanjutkan sepanjang hidup hingga ajal menjemput. Itulah pentingnya peran pendidikan agama. Hasilnya ialah terbentuknya suara hati. Semua orang harus tahu dan yakin bahwa orang akhirnya selamat bila berpegang pada prinsip hidup ini: bonum fasciendum, malum vitandum; kerjakanlah yang baik dan jauhkanlah yang jahat. Suara hati adalah suara Tuhan yang paling dekat pada manusia. “Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ulangan 30:14).  


6 Desember

 St. Nikolaus, Uskup

Nikolaus dilahirkan di Parara, Asia Kecil, dalam sebuah keluarga kaya pada abad keempat. Harta orangtuanya dimanfaatkannya untuk berbuat amal. Ia berziarah ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Yerusalem, ia dipilih menjadi Uskup Myra yang berkedudukan di Lycia, Asia Kecil. Ketika masa penganiayaan berlangsung, ia menguatkan iman umatnya dan di saat tenang ia melindungi mereka dari bidaah-bidaah antara lain Arianisme. Tradisi melukiskan Santo Nikolas sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisinya adalah “Sinterklas” yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia juga membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak yang nakal. Nikolaus dikenal dimana-mana, ia termasuk santo yang amat populer. St Nikolaus dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Ia juga santo pelindung pelaut, anak-anak, pedagang.

Renungan:

Nikolaus dikenal sebagai uskup yang simpatik. Ia memberikan perhatian besar pada penderitaan kaum miskin dan kaum tertindas. Santo Nikolas dikenang karena cinta kasihnya yang besar, yang dilakukannya tidak dengan berpura-pura, melainkan dengan tulus dan lembut hati. Ketika seseorang mendekati dan memperlakukan orang lain dengan kasih, ia akan memetik buah-buah kehidupan. Dengan cara ini ia melayani Tuhan. Satu hal yang menjadi kekhasan ajaran Kristen adalah sukacita. Dalam segala keadaan orang harus bersukacita. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12).


7 Desember

 St. Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja

St. Ambrosius dilahirkan di Trier, Jerman Barat, sekitar tahun 340. Ayahnya adalah Gubernur Gaul yang meliputi wilayah yang amat luas. Ambrosius mengenyam pendidikan yang baik di Universitas Roma. Setelah tamat, ia diangkat menjadi Gubernur Liguira dan Aemilia di Italia Utara. Kemudian terjadilah suatu peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya. Uskup Arian bernama Auxentius wafat. Timbul perselisihan, sehingga Gubernur Ambrosius datang untuk melerai. Tak disangka-sangka, secara aklamasi rakyat memilih Ambrosius sebagai uskup baru. Setelah ditahbiskan menjadi uskup, seluruh hidupnya diabdikan untuk kepentingan umat. Ia mendalami Kitab Suci di bawah bimbingan Simplisius. Dengan gigih ia membela iman Kristen dari bidaah Arianisme. Dialah yang menghantar Agustinus ke pangkuan Gereja kudus. Ia menciptakan banyak madah pujian dan menuliskan bacaan-bacaan rohani yang memperkaya ofisi Geraja. Ambrosius wafat pada tanggal 4 April 397.

Renungan:

Ketika Ambrosius sebagai pejabat pemerintah kota sedang menenangkan pemilihan Uskup Milan yang diwarnai perselisihan, sekonyong-konyong seorang anak berseru, “Ambrosius uskup!” Semua yang ada di situ lalu menyerukan hal yang sama. Kepercayaan rakyat tidak dikecewakannya. Sebagai uskup ia mengambil kebijaksanaan secara terbuka. Dalam khotbah-khotbahnya, ia memberikan kesaksian iman. Pertemuan-pertemuan diadakan untuk menunjukkan bahaya bidaah Arianisme. Yesus telah memilih St. Ambrosius dengan cara yang unik. Meski belum dibaptis, ia sudah menunjukkan kualitas hidup seorang Kristiani. Ini menjadi tantangan bagi orang Kristen. Betapa orang Kristen sering hidup tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Mereka menjadi Kristen hanya demi kepentingan tertentu, entah ekonomis atau politis. Bagi mereka agama hanyalah sekedar alat, bukan kehidupan itu sendiri. Kita berdoa agar mereka segera sadar akan kekeliruan mereka.


8 Desember

SP Maria Dikandung Tanpa Dosa

Conceptio Mariae Immaculatae sudah lama dirayakan di seluruh Gereja. Pada tahun 1477 Paus Sixtus IV mendirikan Kapel Sixtin untuk menghormati Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Dosa. Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX memaklumkan Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa karena ia menjadi Bunda Yesus. Sejak dari awal hidupnya, Maria dipersiapkan secara istimewa bagi tugas yang luhur mulia. Ia suci dan tak bercela di hadapan Allah. Ia dipilih dari antara segala manusia dan dipenuhi rahmat. Ia diberkati di antara segala wanita dan Allah mengerjakan perbuatan-perbuatan besar padanya.

Renungan:

Doa kepada Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Dosa oleh Paus Yohanes Paulus II: Kepadamu Maria yang Dikandung Tanpa Dosa, Bunda Adven kami, terpujilah engkau yang penuh rahmat. Hari ini dengan perayaan agung Gereja mengenang pemenuhan rahmat ini yang dengannya Allah memenuhimu sejak saat engkau dikandung. Perkataan rasul Paulus memenuhi hati kami dengan kegembiraan, Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20). Kami gembira dengan melimpahnya rahmat ini, “Yang Dikandung Tanpa Dosa.” Terimalah kami di sisimu, sebagaimana adanya. Terimalah kami. Pandanglah hati kami! Terimalah kepedulian kami dan pengharapan kami. Bantulah kami, ya engkau yang penuh rahmat, untuk hidup di dalam rahmat, untuk bersabar di dalam rahmat, dan jika mungkin untuk kembali kepada rahmat Allah yang hidup yang merupakan kebaikan yang paling agung dan paling tinggi bagi manusia. Persiapkanlah kami bagi kedatangan Putramu! Terimalah kami dengan segala persoalan hidup kami setiap hari, kelemahan dan penyimpangan kami, krisis kami, kegagalan-kegagalan pribadi, keluarga dan masyarakat kami. Jangan biarkan kami kehilangan keinginan baik. Jangan biarkan kami kehilangan ketulusan hati dan kejujuran dalam perbuatan kami. Mohonkanlah keadilan bagi kami melalui doamu. Peliharalah perdamaian di seluruh dunia. Sertailah kami ya engkau yang tak bernoda. Dampingilah Tahta Suci. Dampingilah Gereja di seluruh dunia. Amin.


9 Desember

 St. Fransiskus Antonius Fasani

Antonius Fasani dilahirkan pada tanggal 6 Agustus 1681 di Lucera, Italia. Dalam usia 10 tahun ia telah ditinggal ayahnya. Pada tahun 1695 ia menggabungkan diri dengan Ordo Fransiskan Konventual dan mengambil nama Fransiskus. Pada tahun 1705 Fransiskus ditahbiskan. Ia menjabat dosen filsafat di Kolese Lucera sambil melayani umat. Ia seorang mistikus, dikenal karena kehidupan doa yang mendalam dan karunia-karunia adikodrati; orang melihatnya melayang sementara ia berdoa. Ketika ia wafat pada tahun 1742, anak-anak berlarian sepanjang jalan sambil berseru, "Santo kita wafat! Santo kita wafat!"

 St. Petrus Fourier

Petrus Fourier dilahirkan pada tanggal 30 November 1565 di Lorraine. Ia menggabungkan diri dalam Biara Chaumouzey dan ditahbiskan pada tahun 1589. Pada tahun 1597, ia ditugaskan di Paroki Mattaincourt yang umatnya rusak lakunya dan acuh terhadap agama. Petrus berdoa kepada Tuhan, “Engkau-lah Imam Paroki yang utama, aku ini hanya vicar-Mu. Dan perkenankanlah aku mengatakan kepada-Mu, dengan segala kerendahan hati, bahwa Engkau wajib membuat berhasil apa yang tak mampu aku lakukan.”  Parokinya perlahan-lahan berkembang menjadi paroki teladan dan imam-imam datang untuk mengunjunginya. Pada tahun 1598 ia mendirikan Puteri-puteri SP Maria untuk pendidikan anak-anak perempuan. Ia mendirikan Anak-anak Maria. Pada tahun 1621 ia dipercaya untuk memulihkan tata tertib di rumah tarekatnya. Ia membantu membentuk Kongregasi Juruselamat pada tahun 1629 dan menjadi superior jenderalnya. Petrus Fourier wafat pada tanggal 9 Desember 1640.

Renungan:

Persepsi tentang Surga. Surga adalah bahagia tertinggi dan definitif sebagai tujuan akhir dan pemenuhan terdalam kerinduan manusia. Unsur-unsur bahagia tertinggi itu ialah kehidupan kasih yang sempurna bersama Allah Tritunggal Mahakudus dan persekutuan bersama para kudus. Mereka yang berbahagia di surga memandang Allah Tritunggal Mahakudus dengan segala kemuliaan-Nya dari muka ke muka dan dipersatukan dalam cinta kasih yang kekal. Hal demikian dinamakan pandangan yang membahagiakan “visio beatifica”. Mereka melihat Dia; kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yohanes 3:2). Itulah sukacita terbesar di surga.


10 Desember

 St. Miltiades, Paus dan Pengaku Iman

Miltiades dilahirkan di Afrika Utara. Pada tahun 311 ia diangkat menjadi paus. Sepanjang masa pontifikatnya, tahun 311-314, ia mengalami baik berakhirnya masa penganiayaan terhadap umat Kristiani maupun berkembangnya suatu aliran sesat di Kartago di bawah pimpinan Donatus yang biasa disebut Donatisme. Kaisar Romawi Konstantin Agung menghadiahkan Istana Luteran kepada paus yang hingga kini menjadi tempat kediaman dan gereja resmi Uskup Roma. Pada bulan Oktober 313, di Lateran diselenggarakan konsili dengan melipatgandakan jumlah uskup. Dengan suara bulat konsili tetap mengangkat Secilianus sebagai Uskup Kartago dan menghukum aliran Donatisme. Paus Miltiades berlaku bijaksana terhadap penganut aliran sesat, sehingga banyak yang berpaling kembali ke pangkuan Gereja. Miltiades wafat pada tahun 314 di Roma, Italia.

Renungan:

Persepsi tentang Purgatorium. Gereja merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firence dan Konsili Trente. Api penyucian disebut juga purgatorium. Penderitaan yang paling berat dalam purgatorium ialah kerinduan hebat karena belum dapat memandang Allah. Sedangkan pelipur yang paling besar ialah harapan akan memandang Allah dan selamat untuk selama-lamanya Jiwa-jiwa di api penyucian diliputi sesal atas dosa-dosa mereka dan kerinduan hebat kepada Tuhan yang Mahabaik dan Mahakudus. Jiwa-jiwa di penyucian adalah mereka yang meninggal dalam rahmat Allah namun belum suci sepenuhnya. Mereka pasti akan menikmati keselamatan kekal, tetapi sebelum itu masih harus terlebih dahulu menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu. Tradisi Gereja berbicara mengenai api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks Kitab Suci.


11 Desember

 St. Damasus, Paus dan Pengaku Iman

Damasus dilahirkan sekitar tahun 306 di Roma, Italia. Ia adalah seorang diakon berumur enampuluh tahun ketika dipilih menjadi paus yang ke-37 pada tanggal 1 Oktober 366 menggantikan Paus Liberius (352-366). Pada masa itu bidaah Arianisme dan bidaah-bidaah lainnya berkembang pesat. Ajaran-ajaran sesat itu mempengaruhi sebagian uskup, imam dan juga umat Kristen. Damasus menentang tuntutan Ursinus, seorang anti-paus, pendukung utama Arianisme. Paus Damasus adalah seorang ahli Ilmu Ketuhanan, Kitab Suci, dan mahir dalam Kesusasteraan Latin. Ia meminta St Hieronimus mengerjakan terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin yang sekarang dikenal sebagai Vulgata. Ia juga mengubah bahasa liturgis Gereja dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Ia bekerja keras merawat dan memelihara katakomba-katakomba, makam-makam para matir dan reliqui serta dengan cermat menuliskan riwayat para kudus. Ia menaruh hormat begitu rupa terhadap para kudus dan memandang rendah dirinya, hingga ia pernah menulis, "Saya, Damasus, ingin dimakamkan di sini, tetapi takut mengotori abu para kudus." Sebab itu, ia meminta agar jenazahnya kelak dikuburkan bersama ibu dan saudarinya di sebuah gereja kecil di Via Ardeatina. Paus Damasus wafat pada tahun 384, pemintaannya dipenuhi dan relikuinya disemayamkan di Gereja Santo Lorenzo di Damaso.

Renungan:

Persepsi tentang Neraka. Keadaan pengucilan diri secara defenitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus disebut “neraka.” Penderitaan yang paling berat dan buruk ialah perpisahan secara tetap dengan Allah. Hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan karena untuk itulah manusia diciptakan dan itulah yang dirindukan manusia. Dalam bahasa Ibrani neraka disebut “Gehenna.” Yesus berbicara beberapa kali tentang “gehenna” yaitu api-api yang tidak terpadamkan. Mereka yang masuk neraka adalah mereka yang sampai akhir hidupnya menolak untuk percaya dan bertobat. Dengan pedas Yesus mengatakan bahwa Ia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Matius 13:41-42). Ia akan mengucapkan keputusan pengutukan, Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Matius 25-41). Gereja mengajarkan bahwa jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat dan menolak Tuhan, langsung masuk neraka sesudah kematian. Mereka mengalami siksa neraka yang abadi. Himbauan dan ajakan penting, pernyataan-pernyataan dan ajaran Gereja mengenai neraka merupakan peringatan kepada manusia supaya mempergunakan kebebasannya secara bertanggung jawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya.


12 Desember

SP Maria dari Guadalupe

Pada tahun 1531 Santa Perawan Terbekati menampakkan diri beberapa kali kepada seorang Indian bernama Juan Diego. Ketika atas permintaan Uskup, Juan Diego meminta suatu bukti bahwa penampakan itu berasal dari surga, maka tergambarlah lukisan Bunda Maria pada mantolnya. Gambar kudus ini sekarang disimpan di katedral baru yang indah dan Bunda Maria dari Guadalupe diangkat sebagai pelindung segenap Amerika. Bunda Maria dari Guadalupe mengatakan kepada kita semua, “Janganlah khawatir mengenai apapun, bukankah aku ada di sini? Aku, yang adalah bundamu. Bukankah engkau ada dalam perlindunganku?”

Renungan:

Segala karunia dan berkat berlimpah pada Maria sebagai Bunda Allah digambarkan dalam sumber cahaya dan terang alami matahari, bulan dan bintang-bintang. Gambaran ini kita temukan dalam Wahyu kepada St Yohanes.
Doa kepada Bunda Maria dari Guadalupe: Bunda tercinta, kami mengasihimu, kami berterimakasih atas janjimu untuk menolong kami bila kami berada dalam kesempitan. Kami mempercayakan diri ke dalam kasihmu, yang kuasa mengeringkan airmata dan menghibur kami. Ajaklah kami menemukan damai dalam diri Yesus Putramu dan berkatilah kami di sepanjang hari-hari hidup kami. Tolonglah kami membangun sebuah bait di dalam hati kami. Jadikan hati kami itu seindah bait yang telah dibangun di atas Gunung Tepeyac bagimu. Suatu bait penuh penyerahan, pengharapan dan cinta kasih kepada Yesus yang terus berkembang setiap hari. Bunda tercinta, engkau memilih tinggal bersama kami dengan menghadiahkan gambar dirimu sendiri yang amat ajaib dan suci pada mantel Juan Diego. Biarkanlah kami menikmati kehadiranmu yang penuh kasih itu bila kami memandang wajahmu. Berilah kami keberanian seperti Juan Diego menyampaikan pesanmu mengenai harapan kepada setiap orang. Engkaulah Bunda kami dan sumber inspirasi kami. Dengarkanlah dan jawablah doa-doa kami. Amin. 3x Salam Maria.


13 Desember

 St. Lusia, Perawan dan Martir

Lusia dilahirkan di Syracuse, Sisilia, dalam sebuah keluarga bangsawan Romawi. Ketika Lusia masih kecil, ayahnya yang Kristen itu meninggal dunia. Pendidikannya lebih banyak tergantung pada ibunya, Eutychia. Lusia berikrar untuk mempersembahkan dirinya sebagai mempelai Kristus. Bersama ibunya, Lusia berziarah ke makam Santa Agata di Catania. Doa mereka dikabulkan, dan ibunya yang sakit tak tersembuhkan itu pun sembuh. Bahkan St Agata menampakkan diri dan mengatakan, Engkau akan segera menjadi kemuliaan bagi Syracuse, seperti aku bagi Catania. Lusia hidup pada masa Kekaisaran Dioklesianus yang kafir dan bengis. Kaisar menganggap dirinya keturunan dewa dan segenap rakyat diwajibkan menyembahnya. Lusia dibujuk dengan berbagai macam cara untuk mengingkari iman, tetapi Lusia tetap bertahan karena Tuhan besertanya. Akhirnya seorang algojo memenggal kepala Lusia, yang menerima mahkota kemartiran pada tanggal 13 Desember 304. Lusia sangat dihormati di Roma, teristimewa di Sisilia, sejak abad ke-6. Umat Kristen mendirikan sebuah gereja di Roma untuk menghormatinya. Namanya tertera dalam Doa Syukur Agung Misa. Sejak Abad Pertengahan orang berdoa kepadanya untuk kesembuhan penyakit mata.

Renungan:

Lusia berarti cahaya. Makna nama itulah yang ia hidupi. Santa Lusia tidak takut akan ancaman di pengadilan. Ia tetap kosnsisten memilih Kristus yang hadir dalam dirinya bersama Bapa dan Roh Kudus. Cahaya iman dipancarkan lewat penderitaan. Ia menumpahkan darah demi membela iman akan Kristus. Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia, demikian sabda Yesus (Yohanes 14:23). Adakah kita juga mendapati Kristus dalam hati kita?


14 Desember

 St. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja

Yohanes dari Salib dilahirkan pada tahun 1542 di Spanyol. Ia bersekolah sambil bekerja sebagai pelayan rumah sakit. Pada usia duapuluh satu tahun ia masuk biara Ordo Karmelit dam ditahbiskan pada tahun 1567. Ia berjumpa dengan Santa Theresia dari Avila yang mendorongnya untuk menghidupkan kembali semangat asli ordonya. Saudara-saudara seordo banyak yang tidak setuju. Ia pun mengalami banyak cobaan dan kesulitan. Usaha pembaharuan yang dilakukannya membuatnya dijebloskan ke dalam penjara biara dan diperlakukan dengan kejam. Itulah salibnya. Tetapi Yohanes tidak patah semangat. Salib Kristus membawa kebangkitan. Cobaan dan kesulitan yang dialami justru memperbaharui hidup batinnya dan menambah kekayaan rohaninya. Pengalaman hidup batin berkat bimbingan Roh Kudus dilukiskannya dalam bentuk tulisan “Pendakian Gunung Karmel” dan “Malam Gelap Gulita”. Yohanes dari Salib wafat pada tanggal 14 Desember 1591 dan dimaklumkan sebagai Pujangga Gereja.

Renungan:

Setiap orang yang mengikuti Kristus harus menyangkal dirinya. Iman, harapan dan cinta kasih St Yohanes dari Salib merupakan salib rohaninya. Urgensi pembaharuan atau reformasi ordonya menuntut kesabaran dan keberanian. Yohanes melihat ordonya menyimpang dari garis dasarnya maka harus diselamatkan. Di dalam kesunyian ilahi ia menemukan pandangan bagi orang-orang kontemplatif menuju dunia mistik yang jauh dan sukar untuk menggapainya. Iman Kristen yang dipancarkan lewat cinta kasih Kristiani selalu mengandung unsur-unsur mistik yang mempersatukan Tuhan dan alam ciptaan-Nya. Penghayatan dan pengalaman iman itu tidak terlepas dari unsur-unsur rohani dari dalam alam mistik.


15 Desember

 St. Kristiana (Nino), Pengaku Iman

Konon pada awal abad keempat seorang gadis budak belian yang tidak dikenal dijual di kota Georgia, Iberia, Rusia Selatan. Gadis itu dihormati penduduk setempat karena kebaikan hatinya, kesabaran dan keajaiban-keajaiban yang dilakukannya dengan berdoa. Bahkan penyakit ratu yang tak tersembuhkan berhasil disembuhkannya. Gadis tak dikenal itu kemudian dikenal oleh masyarakat dengan nama Nino. Dalam buku para martir di Roma ia disebut dengan nama Kristiana. Raja dan ratu akhirnya meminta untuk diajari agama Kristen. Nino bebas mengajar agama. Bahkan pada tahun 325, raja meminta Kaisar Romawi Konstantin Agung mengirimkan para imam dan uskup untuk menyebarkan agama di seluruh Georgia. Nino undur diri sebagai pertapa di Bodbe, Kakheti, dan wafat pada tahun 320.

Renungan:

Pada suatu hari seorang perempuan datang membawa bayinya yang sakit kepada. Kristiana dan minta didoakan. Kristiana menutupi bayi itu dengan mantolnya yang lusuh. Ia berdoa dengan menyebut namaYesus. Kemudian ia menyerahkan kembali bayi itu kepada ibunya dalam keadaan sehat. Berita gembira yang ajaib itu tersebar luas ke seluruh negeri. Ratu Iberia juga sakit. Ia datang kepada Kristiana minta didoakan, dan ia pun sembuh juga. Ketika ratu hendak memberi hadiah sebagai tanda terimakasih, Kristiana berkata, “Penyembuhan atas diri ratu bukan perbuatan saya, melainkan karya Tuhan-ku, Yesus Kristus. Ia adalah Putra Allah Pencipta dunia.” Karena pengajarannya, akhirnya raja dan ratu beserta seluruh rakyat negeri mengenal dan mengimani Yesus Kristus.


Sumber: “Ziarah Iman Pastor Jan Lali SVD, Renungan Harian Bersama Para Kudus Sepanjang Tahun”; diterbitkan oleh Penerbit Buku Sabda, Yayasan Sabda Bahagia; Jakarta 2005; tambahan dan edit oleh YESAYA: yesaya.indocell.net