Lakukanlah Ini Untuk Mengenangkan Daku
oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D. *
Setiap kali kita ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi kita mendengarkan kata-kata, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Tetapi, apakah arti kata-kata ini? Bagaimana kita mengenangkan Yesus? Jelas kita tak dapat mengingat seseorang yang belum pernah kita jumpai. Mengapakah kita hendak menggabungkan diri bersama umat Kristiani lainnya pada Hari Tuhan untuk mengenangkan Yesus jika kita tidak pernah bertemu Yesus dalam doa, atau Kitab Suci atau jika - jangan sampai terjadi! - kita tak pernah berjumpa dan mengenal Kristus dalam komunitas yang menyandang nama-Nya.
Hanya karena kita mengenal Kristus dan mengasihi Kristus maka kita ditarik dalam setiap Perayaan Ekaristi untuk mengenangkan-Nya. Kita tak dapat mengenangkan Yesus jika kita tidak mengenal-Nya. Jadi pertanyaan pentingnya adalah: Bagaimanakah kita dapat mengenal Yesus?
Mengenal Yesus
Jujur, saya tidak pernah sungguh merenungkan pertanyaan itu sampai saya duduk untuk menulis artikel ini. Saya tidak ingat saat ketika saya tidak mengenal Yesus. Saya pertama-tama mengenal-Nya dari ayah dan ibu. Merekalah yang mengajarkan doa-doa pertama saya. Mereka mengajar saya untuk berbicara kepada Yesus dan mengatakan kepada Yesus bahwa saya mengasihi-Nya. Kasih orangtua kepada saya menceritakan kasih Yesus kepada saya.
Salah satu kenangan awal dari masa kanak-kanak saya adalah pergi ke Misa bersama ayah dan ibu. Saya melihat mereka berdoa, dan jelas bahwa mereka mengenal Yesus. Ketika saya mulai bersekolah, saya belajar mengenal Yesus dari Katekismus Baltimore dan dari sejarah Kitab Suci, buku-buku pelajaran agama yang umum di kelas-kelas sebelum Vatican II.
Apa yang Hilang?
Pengalaman saya mungkin khas seperti kebanyakan umat Katolik yang telah lanjut usia. Dan meski pengalaman ini mendatangkan banyak manfaat bagi saya, sekarang saya sadar bahwa satu unsur pentingnya hilang: Kitab Suci. Kitab Suci memainkan peran minim dalam pemahaman saya akan Yesus. Saya tidak ingat Kitab Suci sering disebut di sekolah. Katekismus Baltimore jarang menyebutnya. Sangat sedikit bagian Kitab Suci dibacakan (dalam bahasa Latin) dalam Misa. Terkadang pada hari-hari Minggu imam paroki kami membacakan Injil dalam bahasa ibu di awal homili; tetapi selain dari itu, saya tidak mengenal Kitab Suci.
Para uskup dalam Konsili Vatican II (1962-1965) sadar bahwa jika mereka hendak memulihkan Ekaristi pada tempat pusatnya dalam kehidupan Katolik, mereka harus memulihkan Kitab Suci pada tempatnya yang sepatutnya, baik dalam rumah Katolik maupun dalam liturgy Katolik. Itulah sebabnya mereka memutuskan untuk membacakan lebih banyak bagian dari Kitab Suci dalam setiap Perayaan Ekaristi “agar santapan Sabda Allah dihidangkan secara lebih melimpah kepada umat beriman” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #51).
Para Bapa Konsili menanggapi serius perkataan St Hieronimus (345-420): “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Jika dalam setiap Perayaan Ekaristi kita hendak “mengenangkan Kristus”, pertama-tama kita harus mengenal Kristus; dan untuk mengenal Kristus kita harus mengenal Kitab Suci.
Mengenal Kitab Suci
Dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, sesudah Ritus Pembuka (sebagaimana kita bicarakan dalam artikel sebelumnya dari serial ini), kita mulai mengenangkan Yesus - kita merayakan Liturgi Sabda. Kalian mungkin familiar dengan unsur-unsur bagian ini dalam Misa: Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan, Epistula, Alleluya, Injil, Homili, Syahadat dan Doa Umat. (Tentu saja ada sedikit variasi sesuai masa-masa Gereja.)
Pada hari Minggu sepanjang tahun (di luar Masa Prapaskah - Paskah dan Masa Adven - Natal) Epistula dan Injil dibacakan secara berkesinambungan. Artinya bacaan untuk suatu Minggu pada umumnya melanjutkan bacaan dari Minggu sebelumnya. Bacaan Pertama (biasanya dari Perjanjian Lama) dipilih sehubungan dengan tema Injil.
Sesudah Bacaan Pertama, kita menyanyikan atau mendaraskan Mazmur Tanggapan, suatu nyanyian dari madah yang diilhami Allah Sendiri, yakni Kitab Mazmur. Mazmur dipilih dalam terang tema bacaan-bacaan, tetapi para ahli liturgis yang memilih berbagai ayat Kitab Suci untuk dimaklumkan dalam Perayaan Ekaristi juga mengambil mazmur-mazmur yang akan memperkenalkan kaum awam Katolik pada bentuk doa yang tradisional, biblis dan puitis ini. (Dulunya, terutama para imam dan mereka yang “berprofesi religius” yang mendaraskan mazmur.)
Menyambut Sabda
Ketika saya masih seorang kanak-kanak yang dibesarkan di Kansas, setiap hari Minggu sesudah imam membacakan Injil, imam menginterupsi Misa, melihat sekeliling dan memandang ke arah kongregasi: itulah saatnya khotbah. Khotbah memberikan kesempatan untuk mengajarkan dasar-dasar keyakinan Katolik atau menjelaskan ajaran moral Gereja.
Pada masa sekarang, sesudah pemakluman bacaan-bacaan Kitab Suci, kita mendengarkan homili yang membantu kita memahami dan mengamalkan Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan. Homili membantu kita menyambut Sabda. Sama seperti kalian mengambil seketul roti dan memecah-mecahkannya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil untuk dimakan, demikianlah homili mengambil Sabda Allah dan “memecah-mecahkannya” bagi kita untuk disambut dan dikecap agar Sabda Allah sungguh menjadi pemberi hidup bagi kita.
Homili biasanya diikuti oleh saat hening sejenak. Sepanjang saat hening ini, masing-masing kita berkesempatan mengucap syukur kepada Allah atas Sabda yang telah kita dengar dan mengamalkannya ke dalam situasi-situasi hidup individual. (Apabila saya memimpin Perayaan Ekaristi dan menyampaikan khotbah, saya merasa terbantu oleh homili dari kualitas saat hening ini.)
Aku Percaya...
Selanjutnya kita berdiri dan mendaraskan Kredo. Awalnya, Kredo adalah Pengakuan Iman bagi mereka yang hendak dibaptis pada tahap ini dalam Misa. Sekarang, sementara kita bergerak dari Liturgi Sabda ke Liturgi Ekaristi, Kredo mengingatkan kita akan Pembaptisan kita.
Dalam setiap Misa kita memperbaharui janji baptis kita untuk mematikan cinta diri dan dosa sementara kita mempersatukan kurban kita dengan kurban Kristus. Setiap kali kita datang ke Perayaan Ekaristi, kita datang melalui Pembaptisan.
Kabulkanlah Doa Kami
Liturgi Sabda diakhiri dengan Doa Umat. Guna memahami fungsi doa umat ini, bayangkan kalian akan segera meninggalkan rumah untuk pergi ke suatu pertemuan. Sebelum meninggalkan rumah, kalian memandang ke dalam cermin untuk melihat apakah kalian sudah tampak sebagaimana yang kalian kehendaki - rambut tertata rapi, pakaian sudah dikancingkan, dll. Mungkin tampilan dalam cermin menyebabkanmu melakukan beberapa menit pembenahan terakhir.
Doa Umat mempunyai tujuan serupa dalam Perayaan Ekaristi. Kita telah berkumpul sebagai Tubuh Kristus. Sementara kita bersiap untuk menghampiri meja Ekaristi, kita memandang ke dalam bacaan-bacaan seperti kita memandang ke dalam cermin: untuk melihat apakah Kristus yang dihadirkan di sana serupa dengan Tubuh Kristus yang hadir di sini dalam jemaat ini. Seringkali tidak.
Dalam Doa Umat kita berdoa agar kita dapat serupa Tubuh Kristus seperti yang dimaksudkan dalam Kitab Suci: tubuh yang damai, tubuh yang menaungi mereka yang tak punya rumah, menyembuhkan yang sakit dan memberi makan yang lapar. Permohonan-permohonan, sebagaimana halnya dengan semua doa liturgis, adalah suara Tubuh Kristus, kepala dan anggota-anggotanya, kepada Bapa dalam Roh Kudus. Itulah sebabnya mengapa permohonan-permohonan berpusat pada intensi-intensi yang kita tahu adalah kehendak Allah.
Hadir dalam Sabda
Ada banyak waktu dan kesempatan di mana kita dapat membaca Kitab Suci. Akan tetapi, ketika Kitab Suci dibacakan dalam Misa, pemakluman ini memiliki nilai istimewa sebab Kristus Sendiri hadir dalam Sabda-Nya, “sebab Ia Sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #7). Keyakinan kita bahwa Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi dalam rupa roti dan anggur jangan sampai membuat kita melalaikan atau melupakan cara-cara lain di mana Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi.
Suatu hari saya sedang merayakan Ekaristi dengan sekelompok laki-laki Katolik di penjara lokal. Kami sedang mendiskusikan Inkarnasi dan betapa mengagumkannya bahwa Tuhan kita mengenakan daging dan menjadi sungguh manusia, seseorang serupa kita dalam segala hal terkecuali dosa.
Salah seorang dalam kelompok mengatakan, “Ia menjadi sama seperti kita, Pater Tom. Ia harus berdiri di hadapan pengadilan. Mereka menuduhkan kepada-Nya segala macam perkara yang tidak dilakukan-Nya. Semua teman-Nya lari meninggalkan-Nya. Ia dihinakan dan didera. Ia sungguh sama seperti kita.”
Ketika saya mengatakan bahwa pemahamannya akan Yesus menjadi seperti kita dalam segala hal merupakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, seorang dari mereka mengatakan, “Mungkin itulah maksudnya ketika kita mengatakan bahwa Kitab Suci diilhami. Roh Kudus berbicara kepada kita dengan cara-cara yang berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda dalam hidup kita - di sini, di luar, ketika kita muda, ketika kita tua.”
Saya yakin tahanan itu mempunyai pemahaman yang baik mengenai apa yang dimaksudkan dengan, “Kristus hadir dalam Sabda.” Kita tak hanya sekedar membaca mengenai sesuatu yang terjadi lama di masa silam dan nun jauh di sana. Sabda Allah hadir dan hidup di sini dan sekarang ini. Dan, dengan cara yang misterius, kita menjadi hadir dalam peristiwa-peristiwa yang kita rayakan.
Kenangan Liturgis
Ketika kita “mengenangkan” Yesus dalam Ekaristi, kita tak hanya sekedar mengingat peristiwa-peristiwa di masa lampau, kenangan liturgis menjadikan kita hadir dalam peristiwa itu. Perhatikan bagaimana kata “ingat” dipergunakan dalam kisah penyaliban dalam Injil Lukas: Ketika salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus meminta-Nya “Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja,” ia tak meminta Yesus untuk sekedar “memikirkannya” sebagaimana kita mengingat orang-orang yang kita jumpai dalam liburan musim panas yang lalu. Ia memohon Tuhan untuk mengingatnya dalam makna biblis / liturgis. Ia mohon untuk diingat, yakni, menjadi sungguh hadir di surga bersama Yesus. Dapat kita lihat beginilah Yesus memahami makna mengingat. Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23: 43).
Waktu-Sekarang-Allah yang Abadi
Ketika kita “mengenangkan Yesus” dalam Perayaan Ekaristi, kita bergerak dari waktu kronologis kita: lampau - sekarang - yang akan datang, dan masuk ke dalam “waktu keselamatan” Allah Sendiri di mana lampau - sekarang - yang akan datang, lebur dalam waktu-sekarang-Allah yang abadi. Ketika kita menyanyi, “Adakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhan-ku?” Jawabnya adalah, “Ya, saya di sana!” Sungguh, kita di sana sekarang!
“Dengan mengenangkan misteri-misteri Penebusan itu Gereja membuka bagi kaum beriman kekayaan keutamaan serta pahala Tuhan-nya sedemikian rupa, sehingga rahasia-rahasia itu senantiasa hadir dengan cara tertentu. Umat mencapai misteri-misteri itu dan dipenuhi dengan rahmat keselamatan” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #102). Dalam suatu cara yang nyata namun misterius, kita menjadi hadir bersama para Rasul dalam Perjamuan Malam Terakhir. Kita ada di sana, di Kalvari. Bersama para rasul kita menyaksikan Kebangkitan dan Pengutusan Roh Kudus. Kita berdiri bersama para malaikat dan para kudus dan mencicipi perjamuan surgawi!
Setiap Perayaan Ekaristi dimulai dengan Liturgi Sabda. Dengan mendengarkan suara Kristus Sendiri, kita mengenangkan. Dan dalam kenangan itu kita menjadi hadir dalam misteri iman. Kita dipenuhi Roh Kudus, diilhami untuk berjanji mengamalkan hidup bagi satu sama lain dan menjadi satu tubuh. Kita memeteraikan janji itu dengan berbagi perjamuan kudus. Dan itulah subyek dari artikel selanjutnya dalam serial ini.
* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.
sumber : “Do This in Memory of Me,” Eucharist: Jesus With Us by Thomas Richstatter, O.F.M.; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org; diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
|