|
KITAB SUCI
 Yesus Menggandakan Roti
Kisah Yesus memberi makan dalam Mat 15:32-39 apakah merupakan pengulangan kisah dalam Mat 14:13-21?
~ Yulia
Kisah kedua tentang perggandaan roti (Mat 15:32-39) bukanlah pengulangan dari kisah pertama. Jelas bahwa tradisi lisan yang mengisahkan kedua peristiwa ini mengakibatkan keduanya memiliki pola yang sama, tetapi masing-masing peristiwa mempunyai artinya tersendiri.
Pada peristiwa pertama, antara Tiberias dan Kapernaum (yaitu di tengah-tengah karya Yesus di Galilea), orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dan lebih berdesak-desakan, mendekati Yesus untuk mengangkat Dia menjadi pembebas (bdk. Yoh 6). Yesus menolak. Tetapi kemudian pada sore harinya Ia mempergandakan roti; suatu tanda jelas bahwa Ia adalah Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi. Hari berikutnya, Yesus-lah yang menuntut supaya mereka menerima Dia apa adanya. Hal ini mengakibatkan banyak orang menolak Dia (Yoh 6:60). Kemudian Yesus berjalan ke perbatasan-perbatasan Galilea, di mana banyak di antara penduduknya adalah orang kafir. Mereka juga ingin mendengarkan Yesus. Di sana, di pantai seberang, bagian timur, Yesus menawarkan kepada mereka roti sebagai makanan perpisahan sesudah mereka mengikuti Dia selama dua hari melintasi padang gurun.
Kedua peristiwa pergandaan roti ini berbeda dalam beberapa hal, seperti jumlah roti dan jumlah orang yang ikut makan. Bakul yang disebut dalam Mrk 6:43, umpamanya, mengacu pada keranjang keras yang biasa dipakai oleh orang-orang Yahudi, dan dalam Mrk 8:8 mengacu kepada keranjang anyaman atau tas lipat orang-orang Yunani. Angka 12 mengacu pada keduabelas suku Israel dan keduabelas rasul. Sedangkan angka 7 mengacu kepada “ketujuh bangsa kafir” yang menduduki tanah Kanaan dan ketujuh diakon pada Gereja perdana. Perbedaan-perbedaan ini menggarisbawahi keinginan penginjil untuk memperhitungkan situasi Gereja yang sesungguhnya pada waktu ia menulis Injilnya, karena Injilnya lahir dalam lingkungan Yahudi, tetapi berkembang dalam lingkungan bangsa-bangsa Yunani.
Oleh karena itu, untuk pergandaan roti yang pertama para penginjil mencatat, “Yesus mengucap berkat” (Mrk 6:41; Mat 14:19), dan dalam pergandaan roti yang kedua “Yesus mengucap syukur” (Mrk 8:6; Mat 15:36). Ungkapan pertama adalah kata-kata yang digunakan untuk Ekaristi di kalangan komunitas Kristiani Yahudi. Ungkapan kedua adalah kata-kata yang digunakan dalam gereja-gereja yang berbahasa Yunani.
Ada orang yang merasa bahwa terjadi hanya satu peristiwa tetapi terekam secara berbeda dalam komunitas beriman yang berbahasa Yahudi dan berbahasa Yunani sebelum ditulis dalam Injil-injil sinoptik sebagai dua peristiwa. Tetapi urutan penulisan keduanya sangat kuno dan tidak berasal dari masa yang lebih kemudian di mana kontak dengan peristiwa-peristiwa asli sudah hilang. Kedua peristiwa yang berbeda ini ditegaskan dalam Mat 16:9-10 dan lebih-lebih lagi dalam Mrk 8:19-20. Mukjizat pergandaan roti (dua kali pergandaan roti) menduduki tempat yang penting dalam Injil sinoptik karena mengacu kepada Yesus sebagai Mesias.
 Apa itu Lectio Divina?
Saya pernah mendengar tentang Lectio Divina. Kalau tidak salah itu merupakan salah satu bentuk doa melalui pembacaan Kitab Suci. Mohon penjelasan lebih lanjut mengenai metode ini.
~ David
Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci yang direnungkan dengan tujuan untuk berdoa dari Kitab Suci dan hidup dari Sabda Allah. Semangat dasar Lectio Divina adalah:
(a) Firman Tuhan harus menjadi pembimbing arah. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105);
(b) Percaya akan keunggulan Kitab Suci lebih daripada kitab-kitab yang lain;
(c) Kitab Suci adalah sumber hikmat. Kitab Suci menuntun kita kepada keselamatan oleh iman akan Kristus Yesus;
(d) Lectio Divina menuntut kita membaca Kitab Suci karena digerakkan oleh suatu kerinduan untuk bertobat. Kita mau mengubah hidup kita menjadi serupa dengan Kristus;
(e) Hati kita haruslah bebas supaya dapat berjaga di hadapan Allah. Hanya Sabda Allah yang disimpan dalam hati yang baik akan menghasilkan buah dalam ketekunan;
(f) Dalam Lectio Divina kita berdoa mohon bantuan Roh Kudus yang bersemayam di dalam hati kita. Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus, maka “harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (Dei Verbum / D V 12).
Lectio Divina dibagi dalam empat tahap, yakni lectio (= pembacaan), meditatio, oratio dan contemplatio. Tujuan Lectio adalah mengerti apa yang dikatakan oleh teks. Pertanyaan yang harus dijawab: Apa yang dikatakan oleh teks ini? Apa isinya? Pengertian yang tepat tentang teks yang dibaca sangat penting agar hidup kita dibimbing dan diarahkan oleh Sabda Allah. Intisari Meditatio adalah menerapkan seluruh rahasia dan kebenaran Sabda Allah pada diri sendiri. Dalam meditatio orang menyelidiki diri sendiri di bawah terang Sabda Allah, di bawah bimbingan Allah dan pengarahan sabda-Nya. Oratio adalah doa yang digerakkan dan diilhami oleh sabda. Dalam kenyataannya kita tidak tahu berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi berkat lectio divina kita diajak untuk berdoa menurut kehendak Allah dan Roh Kudus sendiri berdoa untuk kita kepada Allah. Contemplatio / Kontemplasi adalah buah dan anugerah pendengaran dan ketaatan iman yang hidup. Kontemplasi bisa dianugerahkan dalam doa, tetapi lebih sering terjadi dalam hidup, dalam hidup yang digerakkan dan diterangi oleh Sabda Allah. Seorang kontemplatif hidup di dalam Allah, ia mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas, di mana Kristus ada. Ini tidaklah berarti ia jauh dari dunia dalam segala pergaulan hidupnya. Ia tetap bergumul dalam dunia, tetapi ia melihat segala sesuatu dengan pikiran Allah.
 Bagaimana Melakukan Lectio?
Bagaimana seharusnya kita melakukan lectio? Apa yang harus kita lakukan agar dapat mengerti apa yang dikatakan teks? Bagaimana orang dapat menangkap isi teks?
~ Dony
Lectio bukanlah hal “terkesan” atau “tersentuh” oleh suatu ayat, karena hal itu sangat tergantung kepada keadaan batin kita. Apabila pembacaan Kitab Suci tergantung pada “terkesan” atau “tersentuh”, kita hanya mengikuti perasaan-perasaan sesaat dan tidak diarahkan oleh Sabda Allah. Pertama-tama kita perlu belajar membaca: “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Lukas 8:18).
Pertama, kita perlu membaca dengan seluruh tubuh kita agar dapat mendengar dan mengalirkan getaran kata-katanya ke dalam diri kita. Baiklah teks dibaca dua atau tiga kali secara lisan (terutama dalam lectio divina bersama). Beri perhatian pada kalimat dan pada kata-kata. Dengan demikian apa yang diucapkan mulut bergetar dalam telinga dan menggema dalam hati. Kedua, membaca dengan akal budi. Tujuan lectio ialah untuk mamahami apa yang dikatakan teks dan apa isinya. Karena kebanyakan kita adalah orang yang kurang terlatih untuk memusatkan pikiran dan perhatian, maka baiklah kita membaca dengan alat tulis di tangan. Kita perlu melihat mana pernyataan-pernyataan yang pokok, siapakah yang berbicara atau bertindak, apa yang dikatakan atau apa tindakannya, kepada siapa, mengapa, dst. Yang dituntut dari kita ialah kemampuan untuk memperhatikan kalimat atau larik dengan teliti dan penuh cinta. Hindarkanlah segala ketergesaan. Setiap orang dituntut bekerja menurut kemampuannya. Ketiga, membaca dengan hati, artinya dengan iman dan kerinduan untuk menerima hikmat Allah. Kita perlu selalu ingat bahwa lectio divina adalah suatu kegiatan rohani, dan setiap langkah adalah suatu anak tangga untuk naik menuju Allah. Selamat belajar membaca dan engkau akan menemukan banyak kekayaan di sana.
|