TANYA JAWAB IMAN KATOLIK


    ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS


"The Messiah, Yesus Tidak Pernah Disalibkan"

Seorang teman meminjami saya buku “The Messiah, Yesus Tidak Pernah Disalibkan”. Saya membaca sebagian buku itu dan hati saya merasa panas. Saya dengar, filmnya sudah dibuat di Iran dan akan segera masuk ke Indonesia. Perlukah kita melancarkan protes terhadap beredarnya film itu di Indonesia?
~ Louise

Film “The Messiah” memang sudah dibuat di Iran. Kiranya kita harus siap secara mental dan rohani apabila suatu saat nanti film ini masuk ke Indonesia. Hendaknya kita bersikap dewasa dan tidak menanggapinya sebagaimana film kompilasi FITNA. “The Messiah, Yesus Tidak Pernah Disalibkan”, sebuah film Yesus yang dituturkan dari cara pandang Islam. Film ini menimbulkan berbagai reaksi dari komunitas Kristen, karena di film ini Yesus tidak mati disalibkan tetapi digantikan oleh Yudas Iskariot. Film “The Messiah” ditulis, diproduksi dan disutradarai oleh seorang pembuat film dari Iran bernama Nader Talebzadeh. Film ini dibuat berdasarkan apa yang ditulis Al Quran mengenai Yesus dan berdasarkan Injil Barnabas - sebuah kitab yang tidak termasuk dalam kanonisasi Kitab Suci. Film ini menyajikan dua penutupan film - dari sudut Muslim dan Kristen tentang Yesus dan salib-Nya.

Dr Emir Caner, seorang dekan dari Southwestern Baptist Theological Seminary merekomendasikan umat Kristen menonton film ini dengan menanyakan beberapa hal berikut:
a. Bilamanakah Yesus digantikan Yudas Iskariot menurut apa yang tertulis di Al Quran?
b. Mengapa ibunda dan para murid Yesus tidak mengenali bahwa orang yang mereka ikuti itu telah ditukar sebelum berada di atas kayu salib?
c. Apa tujuan “Allah” membutakan mata semua orang di sana, termasuk murid-murid Yesus dan Maria, Bunda Yesus, sehingga mereka tetap berpikir bahwa Yesus-lah yang disalibkan?

Dr Caner, yang juga seorang professor bidang sejarah, mengatakan bahwa dia percaya bahwa pada akhirnya dengan cara kita menonton sambil bertanya berdasarkan sudut pandang di atas, kita bisa menerima film ini. “Mungkin orang Muslim dan Kristen akan menyadari melalui film ini bahwa Al Quran hanya menawarkan suatu kemungkinan cerita yang mungkin terjadi pada saat itu, walaupun Kitab Suci sudah dengan jelas menuliskan sejarah secara mendetail yang dapat dipercaya dan telah dibuktikan kebenarannya bahkan sampai saat ini.” Demikian Caner menuliskan pernyataannya. Hampir secara keseluruhan, penampilan Yesus dalam “The Messiah” mirip dengan versi Yesus yang dibuat oleh dunia barat; rambut pirang dan melakukan mukjizat. Hanya yang berbeda adalah bagaimana Yudas tiba-tiba secara ajaib berubah menyerupai Yesus dan menggantikan Yesus disalibkan. Jadi, silahkan saja kalau mau menonton, tidak perIu terpancing emosi; nikmati saja, dan sekali lagi, seperti dikatakan Dr Caner, bahwa Al Quran hanya menawarkan suatu kemungkinan cerita yang mungkin terjadi pada saat itu.

lebih lanjut silakan baca YESUS-KAH YANG DISALIBKAN? Antara Film The Messiah, Injil dan Data Sejarah” oleh: P. F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr

Bahasa Roh

Beberapa teman yang aktif dalam persekutuan doa karismatik mengatakan bahwa mereka memperoleh karunia bahasa roh dan mereka bisa berbahasa roh. Apakah karunia bahasa roh ini sama dengan bahasa roh yang diterima oleh para rasul pada hari Pentakosta?
~ Andri

Jika kita cermati, pada peristiwa hari Pentakosta kehadiran dan pencurahan Roh Kudus disertai dengan “bunyi seperti tiupan angin keras” yang memenuhi seluruh rumah. Hal itu berarti kehadiran Roh Kudus selalu menggerakkan. Artinya, Roh Kudus bersifat mengubah atau mempengaruhi. Dalam kisah tersebut juga dicatat, “tampaklah lidah-lidah seperti nyala api” yang bertebaran dan hinggap di atas kepala mereka. Dalam Perjanjian Lama, api menjadi simbol pembaharuan dan pemurnian. Maka api sering dipakai sebagai ungkapan pengudusan. Dalam peristiwa Pentakosta digambarkan para rasul “berbicara dalam bahasa-bahasa lain.” Orang-orang yang berkumpul pun mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu yang membawa perubahan dalam diri para rasul.

Tampaknya, saat ini orang mencampur-adukkan antara “bahasa-bahasa lain” pada hari Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2 dengan “bahasa Roh” dalam 1 Korintus 14. Karena itu tidak sedikit orang yang merasa mempunyai karunia seperti para rasul. Padahal, sebenarnya ini adalah dua hal yang mempunyai makna dan latar belakang berbeda. Misalnya, pada hari Pentakosta ada karunia berbicara dalam bahasa lain. Sedangkan yang terjadi pada jemaat di Korintus ada karunia untuk berkata-kata dalam bahasa Roh. Pada hari Pentakosta, orang-orang yang percaya mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain dan orang-orang yang mendengarnya memahami apa yang dikatakan para rasul hingga mereka heran dan tercengang. Sedangkan di Korintus, tidak semua orang percaya berkata-kata dalam bahasa Roh dan bahasa yang diucapkan tidak dimengerti oleh seorang pun. Karenanya ada perbedaan besar antara keduanya dan kita bisa menarik kesimpulan bahwa “karunia berbahasa Roh” yang dialami oleh banyak orang dalam persekutuan doa, misalnya, BUKAN bukti utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang. Bukti paling utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang adalah apakah seseorang itu menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupan, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23).


    GEREJA KATOLIK


Apa itu Dewan Pastoral Paroki dan BGKP?

Saya mendengar bahwa di paroki ada badan yang disebut BGKP. Apa itu sebenamya? Lalu apa hubungannya dengan dewan paroki?
~ Riana

Istilah yang lebih tepat untuk dewan paroki adalah Dewan Pastoral Paroki. Tujuan Dewan Pastoral Paroki sangat operasional, yakni terlaksananya panggilan dan perutusan umat Allah untuk berpartisipasi secara aktif dalam hidup dan kegiatan pastoral paroki. Maksudnya umat dipanggil tidak hanya untuk berkarya dan sibuk dengan aneka kegiatan, melainkan juga dan pertama-tama untuk menghayati imannya sebagai umat paroki, sebagai umat Allah yang hidup. Secara organisatoris dan kelembagaan partisipasi umat dijalankan melalui perwakilan dalam Dewan Pastoral Paroki. Keberadaan dan fungsi Dewan Pastoral Paroki semata-mata bercorak pastoral. Karena itu di setiap paroki hendaknya dibentuk dewan lain yang berbeda dengan Dewan Pastoral Paroki, yang bertugas membuat perencanaan dan pelaksanaan di bidang perolehan, pemilikan, dan pengelolaan harta benda Gerejawi. Menurut Hukum Kanonik, dewan ini disebut Dewan Keuangan Paroki. Di Keuskupan Surabaya Dewan ini disebut Badan Gereja Katolik Paroki (BGKP) yang sudah didaftar dalam sebuah Akta Notaris. Dewan ini terdiri dari beberapa umat paroki yang dipilih menurut norma hukum universal dan norma yang ditetapkan oleh Uskup Diosesan, dengan fungsi membantu pastor paroki dalam mengelola harta benda paroki (kan. 537, 1280).

Harta benda gerejawi memiliki tujuan pastoral, dalam arti diperoleh, dimiliki dan dikelola agar Gereja mencapai tujuan-tujuannya yang khas terutama untuk mengatur ibadat ilahi, memberi sustentasi (= penghidupan) yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lainnya, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan (kan. 1254, § 2). Dengan kata lain, harta benda gerejawi diperoleh dari umat untuk perutusan seluruh umat paroki, untuk mewujudkan solidaritas antar paroki sekeuskupan dan bahkan antar keuskupan. Karena itu, kiranya perlu dibangun koordinasi dan kerjasama yang erat, serta kontrol timbal balik antara Dewan Pastoral Paroki dan BGKP, agar sekalipun Dewan Pastoral Paroki bukan merupakan subyek pemilik dan pengelola harta benda gerejawi, namun harta benda itu sungguh-sungguh dikelola dan digunakan demi pelayanan dan perutusan Gereja itu sendiri. Koordinasi dan kerjasama itu dituntut juga karena Dewan Pastoral Paroki bergantung pada BGKP dalam hal pendanaan seluruh kegiatan pastoral paroki dan kepengurusan dewan. Dewan Pastoral Paroki tidak bisa membuat rencana kerja yang melibatkan penggunaan keuangan atau aset paroki tanpa melihat kondisi keuangan paroki dan tanpa mendengar nasihat atau pendapat BGKP. Sebaliknya, dalam merencanakan pembangunan atau pengelolaan aset Gereja, BGKP tidak bisa mengabaikan nasihat dan pendapat Dewan Pastoral Paroki dari segi kegunaan atau tujuan pastoral, atau dari segi keterkaitannya dengan visi misi Dewan Pastoral Paroki. Dalam merencanakan perolehan dana dari umat, BGKP membutuhkan bantuan dan kerjasama dari Dewan Pastoral Paroki untuk memotivasi dan menggerakkan umat. Jadi, Dewan Pastoral Paroki dan BGKP harus saling berkoordinasi serta mengadakan rapat bersama secara periodik, untuk saling memberikan informasi, pendapat, dan usulan. Perencanaan dan penggunaan anggaran Dewan Pastoral Paroki dipertanggungjawabkan kepada BGKP.


    KITAB SUCI


Yesus Menggandakan Roti

Kisah Yesus memberi makan dalam Mat 15:32-39 apakah merupakan pengulangan kisah dalam Mat 14:13-21?
~ Yulia

Kisah kedua tentang perggandaan roti (Mat 15:32-39) bukanlah pengulangan dari kisah pertama. Jelas bahwa tradisi lisan yang mengisahkan kedua peristiwa ini mengakibatkan keduanya memiliki pola yang sama, tetapi masing-masing peristiwa mempunyai artinya tersendiri.

Pada peristiwa pertama, antara Tiberias dan Kapernaum (yaitu di tengah-tengah karya Yesus di Galilea), orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dan lebih berdesak-desakan, mendekati Yesus untuk mengangkat Dia menjadi pembebas (bdk. Yoh 6). Yesus menolak. Tetapi kemudian pada sore harinya Ia mempergandakan roti; suatu tanda jelas bahwa Ia adalah Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi. Hari berikutnya, Yesus-lah yang menuntut supaya mereka menerima Dia apa adanya. Hal ini mengakibatkan banyak orang menolak Dia (Yoh 6:60). Kemudian Yesus berjalan ke perbatasan-perbatasan Galilea, di mana banyak di antara penduduknya adalah orang kafir. Mereka juga ingin mendengarkan Yesus. Di sana, di pantai seberang, bagian timur, Yesus menawarkan kepada mereka roti sebagai makanan perpisahan sesudah mereka mengikuti Dia selama dua hari melintasi padang gurun.

Kedua peristiwa pergandaan roti ini berbeda dalam beberapa hal, seperti jumlah roti dan jumlah orang yang ikut makan. Bakul yang disebut dalam Mrk 6:43, umpamanya, mengacu pada keranjang keras yang biasa dipakai oleh orang-orang Yahudi, dan dalam Mrk 8:8 mengacu kepada keranjang anyaman atau tas lipat orang-orang Yunani. Angka 12 mengacu pada keduabelas suku Israel dan keduabelas rasul. Sedangkan angka 7 mengacu kepada “ketujuh bangsa kafir” yang menduduki tanah Kanaan dan ketujuh diakon pada Gereja perdana. Perbedaan-perbedaan ini menggarisbawahi keinginan penginjil untuk memperhitungkan situasi Gereja yang sesungguhnya pada waktu ia menulis Injilnya, karena Injilnya lahir dalam lingkungan Yahudi, tetapi berkembang dalam lingkungan bangsa-bangsa Yunani.

Oleh karena itu, untuk pergandaan roti yang pertama para penginjil mencatat, “Yesus mengucap berkat” (Mrk 6:41; Mat 14:19), dan dalam pergandaan roti yang kedua “Yesus mengucap syukur” (Mrk 8:6; Mat 15:36). Ungkapan pertama adalah kata-kata yang digunakan untuk Ekaristi di kalangan komunitas Kristiani Yahudi. Ungkapan kedua adalah kata-kata yang digunakan dalam gereja-gereja yang berbahasa Yunani.

Ada orang yang merasa bahwa terjadi hanya satu peristiwa tetapi terekam secara berbeda dalam komunitas beriman yang berbahasa Yahudi dan berbahasa Yunani sebelum ditulis dalam Injil-injil sinoptik sebagai dua peristiwa. Tetapi urutan penulisan keduanya sangat kuno dan tidak berasal dari masa yang lebih kemudian di mana kontak dengan peristiwa-peristiwa asli sudah hilang. Kedua peristiwa yang berbeda ini ditegaskan dalam Mat 16:9-10 dan lebih-lebih lagi dalam Mrk 8:19-20. Mukjizat pergandaan roti (dua kali pergandaan roti) menduduki tempat yang penting dalam Injil sinoptik karena mengacu kepada Yesus sebagai Mesias.

Apa itu Lectio Divina?

Saya pernah mendengar tentang Lectio Divina. Kalau tidak salah itu merupakan salah satu bentuk doa melalui pembacaan Kitab Suci. Mohon penjelasan lebih lanjut mengenai metode ini.
~ David

Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci yang direnungkan dengan tujuan untuk berdoa dari Kitab Suci dan hidup dari Sabda Allah. Semangat dasar Lectio Divina adalah:

(a) Firman Tuhan harus menjadi pembimbing arah. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105);
(b) Percaya akan keunggulan Kitab Suci lebih daripada kitab-kitab yang lain;
(c) Kitab Suci adalah sumber hikmat. Kitab Suci menuntun kita kepada keselamatan oleh iman akan Kristus Yesus;
(d) Lectio Divina menuntut kita membaca Kitab Suci karena digerakkan oleh suatu kerinduan untuk bertobat. Kita mau mengubah hidup kita menjadi serupa dengan Kristus;
(e) Hati kita haruslah bebas supaya dapat berjaga di hadapan Allah. Hanya Sabda Allah yang disimpan dalam hati yang baik akan menghasilkan buah dalam ketekunan;
(f)  Dalam Lectio Divina kita berdoa mohon bantuan Roh Kudus yang bersemayam di dalam hati kita. Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus, maka “harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (Dei Verbum / D V 12).

Lectio Divina dibagi dalam empat tahap, yakni lectio (= pembacaan), meditatio, oratio dan contemplatio. Tujuan Lectio adalah mengerti apa yang dikatakan oleh teks. Pertanyaan yang harus dijawab: Apa yang dikatakan oleh teks ini? Apa isinya? Pengertian yang tepat tentang teks yang dibaca sangat penting agar hidup kita dibimbing dan diarahkan oleh Sabda Allah. Intisari Meditatio adalah menerapkan seluruh rahasia dan kebenaran Sabda Allah pada diri sendiri. Dalam meditatio orang menyelidiki diri sendiri di bawah terang Sabda Allah, di bawah bimbingan Allah dan pengarahan sabda-Nya. Oratio adalah doa yang digerakkan dan diilhami oleh sabda. Dalam kenyataannya kita tidak tahu berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi berkat lectio divina kita diajak untuk berdoa menurut kehendak Allah dan Roh Kudus sendiri berdoa untuk kita kepada Allah. Contemplatio / Kontemplasi adalah buah dan anugerah pendengaran dan ketaatan iman yang hidup. Kontemplasi bisa dianugerahkan dalam doa, tetapi lebih sering terjadi dalam hidup, dalam hidup yang digerakkan dan diterangi oleh Sabda Allah. Seorang kontemplatif hidup di dalam Allah, ia mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas, di mana Kristus ada. Ini tidaklah berarti ia jauh dari dunia dalam segala pergaulan hidupnya. Ia tetap bergumul dalam dunia, tetapi ia melihat segala sesuatu dengan pikiran Allah.

Bagaimana Melakukan Lectio?

Bagaimana seharusnya kita melakukan lectio? Apa yang harus kita lakukan agar dapat mengerti apa yang dikatakan teks? Bagaimana orang dapat menangkap isi teks?
~ Dony

Lectio bukanlah hal “terkesan” atau “tersentuh” oleh suatu ayat, karena hal itu sangat tergantung kepada keadaan batin kita. Apabila pembacaan Kitab Suci tergantung pada “terkesan” atau “tersentuh”, kita hanya mengikuti perasaan-perasaan sesaat dan tidak diarahkan oleh Sabda Allah. Pertama-tama kita perlu belajar membaca: “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Lukas 8:18).  

Pertama, kita perlu membaca dengan seluruh tubuh kita agar dapat mendengar dan mengalirkan getaran kata-katanya ke dalam diri kita. Baiklah teks dibaca dua atau tiga kali secara lisan (terutama dalam lectio divina bersama). Beri perhatian pada kalimat dan pada kata-kata. Dengan demikian apa yang diucapkan mulut bergetar dalam telinga dan menggema dalam hati. Kedua, membaca dengan akal budi. Tujuan lectio ialah untuk mamahami apa yang dikatakan teks dan apa isinya. Karena kebanyakan kita adalah orang yang kurang terlatih untuk memusatkan pikiran dan perhatian, maka baiklah kita membaca dengan alat tulis di tangan. Kita perlu melihat mana pernyataan-pernyataan yang pokok, siapakah yang berbicara atau bertindak, apa yang dikatakan atau apa tindakannya, kepada siapa, mengapa, dst. Yang dituntut dari kita ialah kemampuan untuk memperhatikan kalimat atau larik dengan teliti dan penuh cinta. Hindarkanlah segala ketergesaan. Setiap orang dituntut bekerja menurut kemampuannya. Ketiga, membaca dengan hati, artinya dengan iman dan kerinduan untuk menerima hikmat Allah. Kita perlu selalu ingat bahwa lectio divina adalah suatu kegiatan rohani, dan setiap langkah adalah suatu anak tangga untuk naik menuju Allah. Selamat belajar membaca dan engkau akan menemukan banyak kekayaan di sana.


    SANTA PERAWAN MARIA


Dasar Penghormatan kepada Bunda Maria

Seorang teman dari gereja lain mengatakan bahwa penghomatan kepada Bunda Maria itu tidak ada dasarnya. Mohon penjelasan, manakah dasar teologis penghormatan kepada Bunda Maria?
~ Jenny

Konsili Vatikan II menyebut tiga dasar teologis untuk penghormatan kepada Bunda Maria. Pertama, keterlibatan aktif Maria dalam Misteri Yesus. Maria terlibat aktif sebagai Bunda Allah Putra. Tak ada orang lain yang dapat menyamai peranan istimewa Maria ini. Maria adalah satu-satunya ciptaan yang mendapatkan anugerah ini. Penyerahan Maria dalam ketaatan, iman, dan cinta kasihnya, menyebabkan Maria menjadi sangat luhur. Kedua, kesucian dan keluhuran tertinggi Maria. Kesucian Maria tidak bisa dibandingkan dengan kesucian lainnya, karena Maria menghambakan diri secara total dalam keadaannya yang tanpa dosa. Maria tidak dihormati seakan-akan ia sendiri berprestasi besar, melainkan karena Allah berkarya dalam dia. Kesucian Maria adalah anugerah Allah, namun anugerah itu sungguh diterimanya, menjadi miliknya sendiri dan membentuk pribadinya. Ketiga, Maria dimuliakan. Setelah penghambaan dirinya di dunia ini selesai, Maria menerima anugerah rahmat ilahi dimuliakan di surga mengatasi semua manusia dan malaikat. Gereja menghormati Maria secara khusus, karena Maria-lah satu-satunya ciptaan yang memiliki keintiman terdalam dengan Yesus. Penghormatan kepada Maria ini hanya mungkin karena Maria membawa kita kepada Tuhan dan karena dalam dia Allah menggapai kita, yaitu Allah yang telah menyerahkan seluruh diri dan hidup-Nya kepada manusia. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa penghormatan khusus kepada Maria ini bukanlah “hasil rekayasa baru” Gereja Katolik, melainkan bersumber dan sudah ada sejak semula dalam Gereja. Ajaran tentang penghormatan khusus kepada Maria ini hanyalah merupakan pernyataan ulang dari apa yang sudah ada dalam Gereja sejak awal.

Apakah Rosario Menghambat Ekumene?

Saudara-saudari yang non-Katolik seringkali mempertanyakan soal doa rosario. Saya sendiri kadang juga menjadi ragu. Rasanya doa rosario terlalu menonjolkan Maria. Apakah doa rosario justru bisa menghambat kehidupan ekumenis dengan saudara-saudari kita?
~ Sylvie

Memang ada sejumlah orang yang takut kalau-kalau doa Rosario kurang ekumenis karena sifat khasnya yang menonjolkan Maria. Tetapi, doa rosario termasuk jenis penghormatan Bunda Allah yang dianjurkan oleh Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja: Suatu devosi yang diarahkan pada inti kristologis dari iman kristiani, sedemikian rupa sehingga “bila si ibu dihormati, Sang Putra pun (...) dikenal, dikasihi, dan dimuliakan dengan semestinya.” Jika dihayati dengan tepat, doa rosario malahan membantu dan pasti tidak menghambat ekumenisme. Kardinal F.X. Nguyen Van Thuan dari Vietnam mengatakan: “Bagiku, Maria bagaikan Injil hidup yang siap membantuku dalam segala hal dan segala situasi, lebih dari para santo dan santa. Bagiku, Maria adalah Bundaku, yang diberikan Yesus kepadaku. Reaksi pertama seorang anak dalam ketakutan atau kesakitan adalah seruan, `Mama, mama!' Kata ini adalah segalanya bagi seorang anak. Maria hidup secara total untuk Yesus. Perutusannya adalah berbagi beban di dalam karya penyelamatan-Nya. Segala kemuliaan Maria berasal dari Yesus. Karena itu, hidupku tidak akan menghasilkan apa-apa jika terpisah dari Yesus.”

Gereja memandang Maria bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai pembimbing yang senantiasa menghantar jiwa-jiwa yang menghormatinya dengan devosi sejati - kepada Putranya, teristimewa kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Apabila kita berdoa kepada Hati Maria yang Tak Bernoda di saat kesesakan, ia akan menunjuk pada Tabernakel, pada Dia yang adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup,” dan dengan caranya menyampaikan kepada kita seperti yang dikatakannya kepada para pelayan di Kana, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5). Paus Yohanes Paulus II mempersembahkan seluruh dirinya dan kepausannya kepada Bunda Maria. Dalam lambang kepausan beliau tertera huruf “M” yang berarti “Maria”, Bunda Allah, kepada siapa ia berdevosi secara mendalam. Motto pribadi bapa suci, yang disulamkan pada sisi jubah-jubahnya, adalah “Totus Tuus Sum Maria”, bahasa Latin yang artinya “Bunda Maria, aku sepenuhnya milikmu”. Selanjutnya Paus Yohanes Paulus II mengatakan dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae: “Sejak tahun-tahun muda saya, doa rosario memainkan peran penting dalam kehidupan rohani saya. Saya sungguh-sungguh sadar akan hal ini sewaktu saya mengunjungi Polandia baru-baru ini. Doa rosario telah menemani saya pada saat suka dan saat duka. Pada doa rosariolah saya mempercayakan setiap keprihatinan; dalam doa rosario saya selalu mendapatkan peneguhan.” Semoga kita semakin bertekun dalam doa rosario dan semakin memasrahkan hidup kita pada pemeliharaan penuh kasih Bunda Maria. Bunda Maria akan senantiasa melindungi kita dengan doa-doanya, dan menghantar kita untuk semakin mengenal dan mengalami kasih Yesus.


    HIDUP MANUSIA


Luka Batin & Karma

Mohon pendapat mengenai Luka Batin dan Karma.
~ Theresia

LUKA BATIN: Memang setiap peristiwa traumatik bisa menimbulkan luka batin. Pengalaman yang sangat mengguncang atau menyedihkan seringkali terbawa dalam batin dan menimbulkan luka traumatik. Mungkin kita sudah berusaha melupakan peristiwa atau pengalaman tersebut, tetapi seringkali itu belum menyembuhkan. Luka batin yang serius dapat membawa dampak negatif, bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain di sekitar kita. Luka batin yang serius bahkan dapat menjadi penghalang bagi kita untuk menerima rahmat Allah. Mengampuni kesalahan orang lain dan berdamai, kiranya merupakan hal utama dalam proses penyembuhan luka batin. Kita senantiasa diundang untuk mengampuni setulus hati, sepenuh hati, tidak dengan berat hati, tidak dengan mengatakan “Aku mengampuni, tetapi aku tidak dapat melupakan.” Dengan penerimaan dan pengampunan sepenuh hati, kita akan terbebas dari bayang-bayang kegelapan masa lalu dan dapat memulai hidup lebih baik.

KARMA: Kiranya kita tak perlu cemas akan karma, sebab hal itu hanya akan membawa dampak negatife saja. Pikirkanlah hal yang positif; kembangkan pikiran-pikiran yang baik. Senantiasa yakinlah akan penyelenggaraan ilahi; menerima dengan penuh iman bahwa segala yang Tuhan berikan merupakan berkat bagi kita dan sesama. Sayangnya, sering kita sulit untuk menangkap berkat dan anugerah-anugerah rohani di balik peristiwa yang tidak enak. Baiklah kita tetap tekun berdoa, murah hati dan penuh pengampunan serta menyerahkan segalanya pada penyelenggaraan ilahi. Tuhan berkenan akan hati yang sanggup mencintai dan menerima realita hidup ini dengan lembut dan penuh kasih.

Hukuman Mati: Bagaimana Pandangan Gereja Katolik?

Akhir-akhir ini terasa tuntutan yang mendesak pemerintah agar segera menghapuskan penerapan hukuman mati di negeri ini. Bagaimanakah sebenarnya pandangan Gereja Katolik mengenai hukuman mati?

Almarhum Paus Yohanes Paulus II dalam pelbagai kesempatan menyatakan perlawanannya terhadap praktek hukuman mati. Begitu pula sikap pemimpin-pemimpin Katolik lainnya. Magisterium Gereja Katolik pada tahun-tahun terakhir ini menjadi makin vokal melawan praktek hukuman mati. Paus Yohanes Paulus II dalam Evangelium Vitae menyatakan bahwa “sebagai hasil perbaikan terus-menerus dalam penataan sistem pidana”, kasus-kasus di mana eksekusi pelanggar mutlak-perlu “amat jarang, kalau tidak praktis tidak ada”. Juga di St. Louis pada bulan Januari 1999 Paus menghimbau kesepakatan untuk mengakhiri hukuman mati atas dasar bahwa hukuman mati “kejam dan tidak perlu”. Para Uskup banyak negara berbicara senada. Kardinal Avery Dulles memberikan sepuluh tesis sebagai ringkasan ajaran Gereja:

1. Tujuan hukuman di pengadilan sipil ada empat hal: rehabilitasi penjahat, perlindungan masyarakat terhadap penjahat, pencegahan potensial lain, dan keadilan retributif.
2. Pembalasan yang adil yang berusaha menegakkan tatanan yang adil dari segala sesuatu tak boleh dicampur-adukkan dengan balas dendam yang patut ditegur.
3. Hukuman boleh dan harus diberikan dengan hormat dan kasih terhadap orang yang dihukum.
4. Penjahat dapat patut mati. Menurut Kitab Suci, terkadang Allah Sendiri memberikan hukuman mati dan kadang-kadang menugaskan orang lain melaksanakannya.
5. Orang-perorangan dan kelompok privat tak boleh atas kuasa sendiri mendatangkan kematian sebagai hukuman.
6. Negara mempunyai hak, pada prinsipnya, untuk memberikan hukuman mati dalam kasus-kasus di mana tiada keraguan tentang beratnya pelanggaran dan kesalahan orang tertuduh.
7. Hukuman mati jangan dijatuhkan bila tujuan hukuman dapat sama-sama atau lebih baik dicapai dengan sarana lain yang tak berdarah, seperti pemenjaraan.
8. Hukuman mati tak sepatutnya bila terdapat efek negatif yang serius bagi masyarakat, seperti kesalahan pengadilan, meningkatnya rasa balas dendam, atau kekurangan homat terhadap nilai hidup manusia tak bersalah.
9. Orang yang secara khusus mewakili Gereja, seperti klerus dan kaum religius, mengingat panggilan khususnya, hendaknya tidak memaklumkan atau tidak melaksanakan hukuman mati.
10. Orang Katolik, dalam usaha membentuk pandangan apakah hukuman harus didukung sebagai kebijakan umum, atau dalam situasi tertentu, hendaklah memperhatikan bimbingan Paus dan para Uskup. Ajaran Katolik yang lazim harus dipahami dalam kesinambungan dengan Kitab Suci dan Tradisi.


    KEHIDUPAN SESUDAH MATI


Mengapa Mendoakan Arwah?

Setiap bulan November kita mengadakan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Mengapa umat Katolik mendoakan arwah saudara-saudarinya yang telah meninggal dunia? Mohon penjelasan.
~ Anton

Kita mempunyai keyakinan bahwa dengan kematian, hidup seseorang tidak dilenyapkan melainkan hanya diubah, sebab dalam keadaan apapun, entah hidup atau mati, kita selalu bersama Tuhan dan milik Tuhan (bdk Roma 14:8). Itulah keyakinan Gereja sejak awal mula. Dalam misteri Paskah, yaitu peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, kematian seluruh umat manusia menemukan jawaban dan maknanya. Bila orang meninggal dalam Kristus, maka orang “beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korinstus 5:8). Maka Gereja dengan mantap menyakini bahwa setiap orang yang meninggal dalam Kristus akan dibangkitkan oleh Allah bagi kehidupan bersama dengan-Nya untuk selama-lamanya. Gereja mengimani bahwa di satu pihak Kristus akan membangkitkan semua orang mati pada akhir zaman; akan tetapi di lain pihak setiap orang Kristiani telah ikut mengalami kebangkitan Kristus melalui pembaptisan dan terutama Ekaristi Kudus (bdk Yohanes 6:54; Roma 6:3-4; Kolose 2:12). Dengan demikian, dalam kehidupan sekarang ini kita sudah mulai mencicipi hidup abadi bersama Allah. Namun dengan kematian, hidup abadi bersama Allah itu dianugerahkan secara penuh oleh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus Putra-Nya. Dalam rangka perjalanan kepada kehidupan mulia secara penuh bersama Allah di surga itulah, Gereja mendampingi setiap warganya yang sedang menghadapi ajal dan yang telah meninggal dunia melalui segala macam doa dan olah kesalehan lainnya.

Dasar praktek doa Gereja untuk orang-orang yang sedang menghadapi ajal dan yang telah meninggal dunia selain terletak pada iman Gereja akan kebangkitan Kristus, dan karenanya akan kebangkitan orang-orang mati pula, juga terletak pada persekutun orang-orang kudus dalam Gereja. Untuk mereka yang telah meninggal dan yang masih menatikan kerahiman Allah inilah doa untuk arwah atau peringatan arwah diadakan. Doa ini lahir dari keyakinan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang penuh belas kasihan dan kerahiman, dan bahwa sebagai persekutuan orang-orang kudus seluruh warga Gereja, entah yang masih hidup ataupun yang sudah mati, tetap saling berhubungan dan saling mendukung dalam doa dan cinta kasih (bdk LG 49). Pada hakikatnya, semua orang beriman dalam Gereja selalu berada dalam situasi solidaritas persekutuan. Persekutuan seluruh Gereja menunjuk kenyataan bahwa kehidupan iman dan juga keselamatan kita bukanlah masalah pribadi melainkan urusan bersama. Ikatan persekutuan orang beriman itu bukan hanya terjadi dalam sejarah hidup sekarang ini, tetapi juga dalam saat kematian dan saat mencapai kepenuhan keselamatan dari Allah di surga. Maka, kita boleh percaya bahwa di hadapan Allah yang berbelas kasih, atas dasar kemahakuasaan dan keabadian-Nya, setiap doa kita pasti mempunyai daya dan maknanya bagi mereka yang kita doakan.