Ziarah Iman bersama Para Kudus:

Oktober

16 Oktober

 St. Gerardus dari Majella

Gerardus dilahirkan di daerah Napoli Selatan, Italia, pada tahun 1726. Sejak masa kecilnya, Gerardus telah mengalami banyak rahmat berkat yang bersifat adikodrati. Pada usia 7 tahun, dengan dispensasi ia diperkenankan menyambut Tuhan Yesus dalam komuni pertama. Ketika usianya 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia membantu meringankan beban ibunya dengan menjadi pelayan pada seorang tukang jahit. Disamping melayani majikan, ia sendiri juga belajar menjahit. Dengan upah yang diterimanya, Gerardus membantu ibu dan adik-adiknya, orang-orang miskin serta Gereja. Sesudah pandai menjahit, ia pindah bekerja sebagai pelayan di kediaman Uskup Lacedonia. Di sini, ia mendapatkan peluang besar dalam mengembangkan hidup rohani. Ia banyak menghabiskan waktu untuk berdoa. Pada suatu hari, sewaktu sedang menimba air, kunci yang ada di sakunya terjatuh ke dalam sumur. Pelayan-pelayan lain berdiri sekeliling sumur memarahinya. Gerardus bergegas pergi ke kapela mengambil patung Kanak-kanak Yesus. Patung itu diturunkannya ke dalam sumur lalu ditariknya kembali atas, keluar dari sumur. Semua orang terheran sebab kunci tergantung pada tangan Kanak-kanak Yesus. Suara batin semakin bergelora mendorongnya untuk hidup bakti dalam biara. Perrnohonannya kepada pimpinan Tarekat Redemptoris berkali-kali ditolak karena alasan kesehatan, sebelum akhirnya ia diterima. Banyak mukjizat dikerjakannya. Hari dan jam kematiannya pun sudah diketahuinya jauh sebelum Gerardus wafat pada tanggal 15 Oktober. Gerardus dimaklumkan sebagai `santo' oleh Paus Pius X (1903-1914).

Renungan:

Nabi Elia percaya dan patuh taat kepada Sabda Allah. Secara ajaib ia diberi makan oleh Tuhan melalui burung-burung gagak yang membawa kepadanya roti dan daging. Memang Tuhan Mahakuasa. Kuasa dan cinta kasih Tuhan nampak juga dalam hidup dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dikerjakan oleh Santo Gerardus Majella. Banyak perbuatan manusia beriman yang nampaknya bukan tanda, tetapi bukan tanpa bantuan kuasa Tuhan. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).


17 Oktober

 St. Margareta Maria Alacoque, Perawan

Margareta Maria Alacoque dilahirkan pada tahun 1647. Sejak masih kecil, Margareta hampir tak pernah menikmati kesenangan duniawi. Ayahnya meninggal dunia sewaktu Margareta masih kecil. Ibunya sakit-sakitan. Kehidupan keluarga diurus oleh bibi dan saudara sepupu, padahal mereka tidak menyayangi Margareta. Pada usia 21 tahun, sesudah perang batin yang cukup berat, ia memilih meninggalkan ibunya yang sakit-sakitan untuk masuk Biara Visitasi. Ia diterima di Biara Paray le Monial, Perancis. Dalam biara pun penderitaannya tak berakhir. Pelbagai tugas dicobanya, tetapi gagal. Nampaknya ia tidak berguna untuk sesuatupun. Acapkali ia dimarahi; seakan-akan tak ada orang yang suka melihatnya. Namun dengan sabar dan tanpa mengeluh ia menerima semuanya itu. Ia banyak dikuatkan oleh penampakan Yesus. Tiga kali Tuhan Yesus menampakan diri kepadanya. Tuhan kita menghendaki penghormatan kepada Hati-Nya yang Mahakudus. Margareta Maria Alacoque wafat pada tahun 1690 dan dimaklumkan sebagai `santa' pada tahun 1920.

Renungan:

Kebijaksanaan Tuhan nampak dalam penampakan Hati Kudus Yesus. Hati adalah tanda atau lambang cinta kasih, ungkapan segala perasaan dan emosi yang menyenangkan dan membahagiakan. Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Beban berat dan duka derita hidup pun akan menjadi ringan. Suster Margareta Maria Alacoque menjadi saksi akan kebesaran sabda Tuhan Yesus ini. Dari kecil sampai wafatnya ia mengalami banyak duka derita. Ia berlindung kepada Yesus dalam Komuni Kudus dan adorasi di depan Sakramen Mahakudus. Penampakan Hati Kudus Yesus menguatkan iman, bukan saja Margareta, melainkan segenap umat Tuhan. Suka duka, salah paham, iri hati, curiga dan cemburu adalah kerikil-kerikil tajam kehidupan manusia. Bahkan dengki dan benci bisa terjadi dalam komunitas keluarga maupun komunitas biara-biara. Senjata rohani kita adalah doa untuk kawan dan lawan kita. Santa Margareta Maria Alacoque berlindung pada Yesus dalam tabernakel. Banyak orang yang memikul beban berat, merasa letih lesu dan bahkan jatuh tergelincir. Sungguh sayang mereka lupa bahwa Yesus dalam tabernakel, dalam kapela-kapela dan gereja-gereja berseru, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Pergilah kepada Hati Kudus Yesus yang lemah-lembut dan rendah hati.


18 Oktober

 St. Lukas, Pengarang Injil

Lukas dilahirkan dalam sebuah keluarga kafir di Antiokia pada abad pertama. Ia seorang dokter yang kemudian bertobat dan menggabungkan diri dengan Paulus. Ia menemani Paulus dalam perjalanan ke Makedonia. Ia ikut serta juga dalam perjalanan ke Yerusalem dan ke Roma. Di Yerusalem Paulus ditangkap dan ditawan selama dua tahun. Semasa itulah kemungkinan Lukas mengumpulkan bahan untuk kitab Injilnya dan kitab Kisah Para Rasul bagian pertama. Dalam karangannya, Lukas banyak dipengaruhi oleh Paulus, baik dalam pendapat maupun ajaran. Seperti Paulus, Lukas menekankan bahwa keselamatan ditujukan kepada semua orang, tetapi khususnya mereka yang lemah dan hina dina, kaum fakir miskin dan para pendosa. Lukas seorang pekerja yang teliti; ia biasa memeriksa kebenaran cerita dari saksi-saksi pertama yang melihat sendiri apa yang dilakukan dan diwartakan Yesus. Injil Lukas dilambangkan dengan sapi jantan bersayap, sebab ia mengawali Injilnya dengan kisah Zakaria mempersembahkan kurban di kenisah dan menekankan imamat Kristus di dunia. Lukas juga menulis Kisah Para Rasul yang menggambarkan perkembangan Gereja sejak Yesus naik ke surga sampai saat Paulus tiba di Roma. Lukas wafat dalam usia 84 tahun di Yunani.

Renungan:

Banyak orang Israel di zaman para nabi merasa senang dan gembira mendengarkan nabi-nabi, utusan Tuhan, yang datang menyampaikan firman Tuhan kepada mereka. Mereka akan bersukaria apabila sang nabi berseru: “Kita selamat.” Rasa gembira dan sukacita yang dialami oleh orang yang berkemauan baik pastilah dialami juga oleh St Lukas. Semua pengalaman mengenai keselamatan dibukukan dan dilestarikan dalam kitab Injilnya dan dalam kitab Kisah Para Rasul. Lukas adalah seorang dokter; betapa senang dan gembira ia mengetahui para pasien disembuhkan. Terlebih, orang-orang berdosa yang bertobat diampuni dosanya seperti dalam perumpamaan anak yang hilang. Betapa kita bersyukur dan bersukacita mengetahui bahwa orang berdosa yang bertobat masih dapat diselamatkan. Pengalaman iman menambah iman. Puji Tuhan!


19 Oktober

 St. Paulus dari Salib

Paulus Fransiskus dilahirkan di Ovada, Genoa, Italia pada tanggal 3 Januari 1694 dalam keluarga yang saleh. Semasa muda ia membentuk perkumpulan kaum muda yang bertujuan untuk saling mendukung dalam hidup suci. Pada tahun 1720, Paulus mendapat penampakan. Pada penampakan yang ketiga, Bunda Maria berpesan agar ia mendirikan kongregasi di mana para anggotanya mengenakan jubah hitam demi mengenangkan sengsara dan wafat Putranya. Maka, dengan restu Gereja, ia mendirikan Ordo Passionis yang bertujuan mengembangkan devosi kepada sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus wafat pada tanggal 18 Oktober 1775 di Roma.

Renungan:

Salib dan sengsara Yesus menjadi semangat hidup dan landasan karya Kongregasi Passionis. Memang suka duka sudah menjadi teman hidup setiap anak cucu Adam di mayapada ini. Dalam hidup bermasyarakat manusia juga mengalami suka duka. Krisis moneter, krisis ekonomi yang bagaikan badai melanda bangsa Indonesia dan berpuncak pada pembakaran rumah-rumah, gedung-gedung pasar swalayan dan plaza adalah akibat dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Banyak barang dijarah dan kendaraan dibakar hangus. Banyak orang tewas terpanggang. Dan penderitaan nasional masih terus berlanjut dengan amukan massa yang ganas bagaikan ditunggangi iblis dalam peristiwa 13 dan 14 Mei 1998. Gelombang sengsara dan penderitaan masih berlanjut, sampai kapankah? Gereja mengajak kita acapkali merenungkan sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian kita belajar menghadapi penderitaan hidup kita dengan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Yesus, serta mempersembahkannya kepada Allah Bapa. Maka, kita akan dapat mengatasi segala penderitaan hidup dengan tabah dan tawakal.


20 Oktober

 St. Irene dari Portugal, Martir

Irene dilahirkan dalam sebuah keluarga terpandang di Tomar, Portugal. Sebab menghendaki yang terbaik bagi puteri mereka, orangtuanya mengirimkan Irene bersekolah di biara. Kecantikannya membuat dua laki-laki terpikat kepadanya, tetapi Irene dengan halus menolak, sebab ia telah menjadi Mempelai Kristus. Karena sakit hati, seorang dari mereka menyebarluaskan fitnah bahwa Irene berbuat tidak pantas. Kabar busuk segera menyebar ke seantero kota dan memancing kemarahan laki-laki lainnya yang cintanya ditolak. Ia menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi riwayat biarawati yang jiwanya jauh lebih cantik dari parasnya itu. Irene ditikam hingga tewas dan mayatnya dicampakkan ke Sungai Tagus. Para biarawati lain mencari dan mencari tetapi tak dapat menemukannya. Dibimbing sinar ajaib, para biarawan Benediktin menemukan jenazah Irene yang tidak rusak dekat kota Scalabris. Mereka memakamkannya secara pantas. Penduduk di sana memberikan penghormatan mendalam kepada Irene hingga mengubah nama kota mereka, Scalabris, menjadi Santarem [= Santa Irene]. St Irene wafat pada tahun 653.

Renungan:

Allah adalah kasih. Allah tidak bisa tidak mengasihi. Itulah pengalaman semua rasul dan para martir. Hanya, dari pihak manusia kasih kepada Tuhan dan kepada sesama dapat tidak awet bahkan dapat musnah. Irene, seorang perempuan cantik jelita, karena kasihnya kepada Kristus lebih suka mempersembahkan diri kepada Kristus daripada menjadi isteri orang kaya. Akibat pilihan hidupnya itu, ia tewas dibunuh oleh pembunuh bayaran. Jadi, di manakah terletaknya kasih Kristus? Tentu saja dalam hidup kekal; itulah tujuan akhir hidup kita. Orang beriman sejati akan tetap mengasihi Tuhan karena kasih setia-Nya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mazmur 13:6).


21 Oktober

 St. Ursula dan kawan-kawan, Martir

Ursula, puteri seorang raja Inggris yang cantik jelita, hidup pada abad keempat. Suatu ketika seorang raja kafir meminangnya, tetapi ia menolak. Ursula dan  sebelas kawannya melarikan diri; mereka berniat berlayar ke Roma. Tetapi, kapal mereka terjebak badai dan hanyut ke muara sungai Rhein. Mereka berlayar terus ke hulu hingga tiba di kota Koln. Di kota ini mereka ditangkap oleh suku bangsa Hun yang kafir. Karena mengaku iman dan membela keperawanan, akhirnya mereka semua tewas sebagai martir. Jenazah mereka dimakamkan oleh orang-orang Kristen pada masa itu. Pada tahun 1155 relikui mereka ditemukan di sebuah kubur dekat gereja di Koln.

Keluhuran budi dan kegagahberanian Santa Ursula mengilhami Santa Angela Merici untuk memilih Ursula menjadi pelindung tarekat religius suster-suster yang didirikannya di Brescia pada tahun 1535. Perlindungan St Ursula atas tarekat Ursulin membuat tarekat itu berkembang menjadi suatu lembaga religius yang besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tarekat itu kini lebih dikenal dengan nama “Ordo Suster-suster Ursulin (OSU)”. Tarekat Ursulin mulai bekerja di Indonesia sejak tahun 1856.

Renungan:

Yesus Tuhan dan Juru Selamat kita melakukan kehendak Bapa dengan menjadi kurban, wafat di salib. Itulah kurban yang hidup dari Kristus. Santa Ursula dan kawan-kawannya meneladani jejak Kristus. Dengan gigih Ursula membela imannya, kemurniannya, bahkan sampai mati dibunuh. Itulah kurbannya yang hidup, yang berkenan kepada Allah. “Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Setiap orang, sesuai panggilan hidupnya, dipanggil untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai kurban yang hidup. Untuk itu kita perlu selalu hidup dalam suasana tobat, rendah hati, berdoa bagi semua orang, khususnya orang berdosa, rajin berdoa mencari Allah dan kehendak-Nya.


22 Oktober

 St. Salome, Perempuan yang Melayani Yesus

Salome adalah isteri Zebedeus dan ibu kandung rasul Yakobus dan rasul Yohanes. Sejak di Galilea ia sudah menjadi pengikut Yesus dan bersama para perempuan lainnya Salome melayani segala kebutuhan Yesus. Ia setia mengikuti Yesus sang Guru hingga peristiwa salib di Golgota (bdk Mrk 15:40-41). Ia juga seorang dari para perempuan yang mengunjungi makam Yesus pagi-pagi benar pada hari pertama minggu setelah Sabat lewat (Mrk 16:1).

Renungan:

Menurut kisah Kitab Suci, Santa Salome berperan sebagai seorang pelayan bagi Yesus. Menjadi pelayan Kristus berarti menjadi hamba-Nya. Banyak hamba Tuhan yang bersedia melayani siapa saja yang membutuhkan seperti santa Salome dan perempuan-perempuan lainnya melayani Yesus. Besarlah pengorbanan yang diberikan oleh banyak pelayan Tuhan dalam kebun anggur-Nya. Tentunya, masih banyak lagi pelayan-pelayan lain yang secara tidak langsung bersedia melayani mereka yang membutuhkan bantuan. Ya, benar kita menjalani hidup ini bagai seorang pelayan. Karena dengan melayani, kita dilayani. Dan dengan menjadi hamba-Nya, kita menjadi milik-Nya. Sungguh baik kita merenungkan nasehat Bunda Maria kepada kita melalui anak-anak di Medjugorje: Anak-anak, aku mengundangmu untuk bertobat secara pribadi. Tanpa kalian, rencana Allah tidak dapat direalisasikan. Anak-anakku, berkembanglah dari hari ke hari semakin dekat kepada Allah melalui doa. Aku memberimu senjata guna melawan goliatmu. Inilah batu-batumu:
1. Berdoa Rosario dengan hati
2. Ekaristi
3. Kitab Suci
4. Berpuasa
5. Pengakuan dosa setiap bulan


23 Oktober

 St. Yohanes Capestrano, Pengaku Iman

St Yohanes Capestrano dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1386 di Capestrano, Italia. Ia belajar hukum di Perugia. Pada tahun 1412, Yohanes diangkat sebagai Gubernur Perugia di bawah Raja Landislas. Pada tahun 1416 pecah perang antara Perugia dan Malatesta. Yohanes bermaksud menjadi juru damai, tetapi para musuh malahan menjebloskannya ke dalam penjara. Pada hari ketiga dalam penjara ia melihat suatu penampakan ajaib. Ia melihat seorang imam Fransiskan diliputi cahaya terang benderang. Yohanes merasa takut, katanya dalam hati, “Aku tidak mau menjadi imam, apalagi biarawan.”  Pada tahun 1416, dalam usia 30 tahun, ia akhirnya masuk Ordo Fransiskan dan menjadi murid St Bernardinus dari Siena. Yohanes menghayati cara hidup yang keras. Setelah ditahbiskan imam, ia berkarya selama 40 tahun di seluruh Eropa. Khotbah-khotbahnya menarik dan menyentuh ribuan orang. Bersama St Bernadinus ia berusaha memperbaharui Ordo Fransiskan, mempersatukan kelompok-kelompok yang bertentangan dan memajukan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci. Yohanes wafat pada tanggal 23 Oktober 1456 dan dimaklumkan sebagai santo pada tahun 1724.

Renungan:

Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Tiga pribadi ilahi hidup dalam persatuan abadi. Yesus juga menghendaki persatuan macam itu terdapat dalam para pengikut-Nya: tinggal dalam Dia, supaya Dia tinggal dalam mereka, dan melalui Dia Allah Tritunggal, Keesaan abadi, tinggal dalam para pengikut-Nya. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Hasil persatuan St Yohanes Capestrano dengan Yesus, Imam Agung, Raja dan Nabi dalam persatuan dengan Allah Tritunggal dan dengan Gereja kudus serta dalam Tarekat OFM adalah karya kerasulannya di seluruh penjuru Eropa. Yesus meninggalkan warisan suci, mulia, luhur tiada bertara, yakni Ekaristi Kudus yang adalah peringatan Paskah Kristus, yaitu karya penyelamatan yang sudah digenapi Kristus lewat hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya. Persatuan kita dengan Tuhan Yesus dalam Perayaan Ekaristi berpuncak dalam Komuni Kudus. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4). Hasil dari persatuan kita dengan Yesus banyak: pengarnpunan dosa-dosa kita, hubungan dengan Yesus dan sesama yang semakin erat, banyak berkat rohani dan jasmani seperti yang dialami oleh St Yohenes dari Capestrano. Cintailah Ekaristi. Itulah sarana persatuan dan kehidupan kekal bersama Yesus.


24 Oktober

 St. Antonius Maria Claret, Uskup dan Pengaku Iman

St Antonius Maria Claret dilahirkan pada tahun 1807 di Sallent dekat Barcelona, Spanyol. Ayahnya seorang tukang tenun. Sejak kecil Antonius biasa berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan berdoa rosario. Ia rajin membantu ayahnya, tetapi lebih tertarik menjadi imam. Ia masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1835 di Vich. Ia membaktikan diri dalam karya bimbingan retret dan giat melaksanakan misi lainnya bagi umat di Catalonia dan pulau-pulau lain di sekitar Laut Tengah. Upayanya yang terkenal ialah ribuan brosur dan tulisan rohani yang berguna bagi katekese. Ia mendirikan tarekat religius Kongregasi Misionaris Imam-Imam Putera Maria yang Tak Bernoda yang kemudian dikenal dengan nama Claretian. Semasa Antonius masih hidup, tarekatnya telah berkembang sampai ke Perancis, Afrika dan Amerika. Pada tahun 1850 ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Santiago, Kuba oleh Paus Pius IX (1846-1878). Ia menjelajahi seluruh pulau Kuba, memperbaharui pendidikan seminari serta mendirikan banyak organisasi sosial. Di tengah segala kesibukan itu, ia memperhatikan hidup doa dan tapa. Tantangan musuh-musuhnya mengarah kepada pembunuhan sampai ia sempat terluka oleh Holguin pada tahun 1858. Ratu Isabela II memanggilnya menjadi penasehatnya di Spanyol. Pada tahun 1868 terjadi revolusi untuk menggulingkan Ratu Isabela dan Antonius mengikuti sang ratu ke pengungsiannya di Perancis. Antonius ikut ambil bagian dalam Konsili Vatikan I di mana ia dengan gigih membela ajaran `Infalibilitas Paus', yakni bahwa paus tidak dapat sesat dalam mengajar. Ia amat rajin menyebarluaskan devosi kepada Sakramen Mahakudus, Santa Perawan Maria Tak Bercela dan Rosario. St Antonius Maria Claret wafat pada tahun 1870.

Renungan:

Tuhan menciptakan tiap-tiap orang lewat bangsa, suku, nenek moyang, ayah dan ibunya. Tuhan memperlengkapi tiap-tiap orang itu dengan bakat-bakat untuk mencapai tujuan dan maksud seperti yang dikehendaki Tuhan demi kemuliaan-Nya dan keselamatan umat manusia. Hal ini terlihat jelas dalam perjalanan hidup Santo Antonius sebagai imam, uskup agung, serta karya hidupnya sebagai misionaris antara lain: penerbitan media Katolik, karya-karya tulis, pendidikan imam di seminari, penasehat Ratu Isabella serta organisasi-organisasi sosial, bahkan mempertahankan ajaran tentang infalibilitas paus. Sungguh agung karya Tuhan karena Tuhan sendiri membimbing serta menyertainya setiap hari. “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20).


25 Oktober

 St. Margareta, Martir

Margareta seorang perempuan saleh yang dibunuh oleh suaminya pada tahun 1176. Ia dimakamkan di luar tempat pemakaman orang-orang beriman. Awalnya suaminya menyangkal dan mengatakan Margareta mati gantung diri. Tetapi, di makam Margareta terjadi banyak mukjizat. Penipuan suaminya pun terbongkar. Jenazah Margareta digali dan dimakamkan di Gereja Roskilde, Denmark.

Renungan:

Ajaran Yesus dan sakramen-sakramen-Nya dipelihara dan dilestarikan oleh Gereja-Nya. Lewat Sakramen Ekaristi Yesus mengalirkan rahmat keselamatan yang diperoleh-Nya bagi manusia melalui kurban salib dan tubuh mistik-Nya, yakni Gereja. Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan Gereja. Adalah tugas Gereja untuk membangun umat Allah di muka bumi. Hasil karya misioner gereja selama 2000 tahun menjangkau seluruh dunia. Dengan menghayati dan mengamalkan nasehat-nasehat injili, para religius berperan serta dalam membangun dan menyelamatkan dunia. Seorang teladan religius adalah Mgr. Leo Soekoto, SJ. Beliau mampu menghimpun dan mempersatukan para imam, biarawan biarawati dari pelbagai tarekat dan bangsa serta umat dan pelbagai suku bangsa dalam Keuskupan Agung Jakarta. Beliau wafat dan disemayamkan di Pemakaman Girisonta, dekat jalan raya menuju Yogyakarta, tempat beliau belajar dan berkarya sebagai imam biarawan SJ.


26 Oktober

 St. Lucianus dan St. Marcianus, Martir

Lucianus dan Marcianus keduanya adalah tukang sihir. Suatu ketika, seorang perempuan Kristen mematahkan kutuk mereka hanya dengan membuat Tanda Salib. Sebab itu, mereka membakar buku-buku sihir mereka dan bertobat. Setelah menjadi Kristen, mereka menjual harta milik dan membagikannya kepada fakir miskin, lalu keduanya mengasingkan diri untuk berdoa dan bertapa. Mereka pergi ke Bithinia dan daerah-daerah lainnya juga untuk menyebarkan dan mewartakan Injil. Sementara itu Raja Decius mengeluarkan keputusan untuk menangkap orang-orang Kristen di daerah Bithinia. Lucianus dan Marcianus ikut ditangkap dan dibawa ke Prokosul Sabinus. "Dengan kekuasaan apakah kalian berani mewartakan Kristus?" tanya Sabinus. Lucianus menjawab, "Setiap orang harus berusaha sungguh-sungguh untuk membebaskan saudara-saudaranya dari kesesatan yang berbahaya." Mereka disiksa secara keji agar menyangkal iman. Namun, kesengsaraan yang diderita tidak membuat mereka goyah, bahkan dengan gembira mereka menyambut hukuman dibakar hidup-hidup pada tahun 250 di Nikomedia.

Renungan:

Yesus bersabda, “Firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 14:24). Ia memaklumkan BapaNya kepada kita, demikian juga karya-nya, kebaikan-Nya, kehendak-Nya dan belas kasih-Nya kepada manusia. Ia mewartakan berita keselamatan bagi seluruh dunia di tengah pertentangan dan perlawanan rnusuh-musuh-Nya. Ia mengorbankan hidup-Nya, mengutus para rasul, mendirikan gereja-Nya, menetapkan sakramen-sakramen. Ia membentuk persekutuan baru antara Allah dan manusia dan mengajar hukum yang menyempurnakan hidup yaitu cinta kasih. Maka ketika Bapa di surga berbicara untuk kedua kalinya bahwa Yesus adalah PutraNya yang terkasih, Bapa bersabda, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:5). Sebab, sabda Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6).


27 Oktober

 St. Frumensius, Uskup dan Pengaku Iman

Kakak beradik Frumensius dan Edesius berasal dari Tyrus, Libanon. Mereka mempunyai seorang guru pribadi bernama Meropius. Keduanya berkembang menjadi pemuda yang berhati mulia dan saleh. Frumensius dan Edesius ikut Meropius dalam perjalanan ke India guna menambah dan memperdalam ilmu. Tetapi dalam perjalanan, ketika mereka tiba di Laut Merah, kapal mereka pecah dihantam badai. Semuanya tewas, hanya tinggal kakak beradik ini saja yang selamat. Mereka terdampar di pantai Etiopia. Orang-orang Etiopia menangkap dan menghadapkan mereka kepada Raja Etiopia. Raja Aksum tidak membunuh kedua bersaudara itu, melainkan mempekerjakan mereka sebagai pegawai raja. Frumensius bahkan diangkat sebagai sekretaris Raja Aksum dan diminta mendidik puteranya. Kesempatan emas ini digunakan untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Etiopia. Frumensius bersama Edesius berhasil mengumpulkan banyak orang dan mendirikan kapela. Sesudah Raja Aksum wafat, Frumentius dan Edesius diizinkan pulang ke Tyrus, tanah airnya. Edesius ditahbiskan menjadi imam. Sedangkan Frumensius pergi menemui Santo Atanasius Uskup dan Patriak kota Aleksandria. Ia minta bantuan tenaga imam untuk melayani umat Etiopia yang sudah dibaptisnya dan melanjutkan pewartaan Injil di sana. Santo Atanasius malahan menahbiskan Frumensius menjadi uskup agar umat Etiopia mempunyai seorang gembala. Bidaah Arianisme menjadi hambatan karya kerasulannya. Meski demikian ia tetap meneruskan karya pewartaannya, mempermandikan banyak orang serta menterjemahkan doa-doa liturgis untuk karya pewartaan Injil di Etiopia. Frumensius wafat pada tahun 380. Ia dijuluki “Rasul Etiopia.”

Renungan:

Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:29). Janji Tuhan Yesus pasti digenapi. Upah di dunia yang baru pasti melebihi segala ukuran di dunia ini. Itulah yang dimaksud dengan seratus kali lipat. Dan kepadanya juga akan diberikan hidup sejati dan kekal. Pokoknya apa saja yang kita lakukan demi kemuliaan dan keselamatan sesama, seperti yang dilakukan oleh Frumensius dan Edesius akan diganjar dengan hidup sejati dan kekal di dunia yang baru, yakni kerajaan Allah.


28 Oktober

 St. Simon dan St. Yudas, Rasul

Simon adalah salah seorang dari keduabelas rasul. Injil Matius dan Injil Markus menyebut Simon orang Kanaan; sedangkan Injil Lukas menyebutnya Simon Zelot. Kedua julukan itu dapat ditafsirkan sama: agaknya Simon ini bekas pengikut gerombolan gerilya yang tak menghendaki kerjasama dengan kaum penjajah Romawi dan giat berjuang untuk kemerdekaan bangsanya. Rasul Yudas dikenal juga dengan nama Tadeus. Pada perjamuan malam terakhir ia bertanya kepada Yesus apa sebabnya Yesus menyatakan diri kepada murid-murid-Nya dan bukan kepada dunia. Para rasul diutus untuk mewartakan Kabar Gembira dan memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk melanjutkan tugas mereka yang menjadi tugas misioner Gereja. Apakah dalam tugas keseharian kita memperlihatkan Kristus kepada orang lain?

Renungan:

Benih sabda kerajaan Allah tumbuh subur dalam diri Simon dan Yudas. Sewaktu mereka menggabungkan diri dengan Yesus, Simon termasuk gerakan bawah tanah yang ingin menyingkirkan kekuasaan Roma sedangkan Yudas melihat Yesus sebagai calon penguasa negeri. Meski berbeda dalam pandangan, keduanya sama-sama mempercayakan diri kepada Yesus Sang Mesias sejati. Dan mereka mengikuti-Nya hingga Ia wafat. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Sabda kebenaran ini berlaku untuk semua pengikut Yesus.


29 Oktober

"Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus"

Rasul formal diutus Tuhan Yesus Kristus yang secara resmi mengutus mereka ke seluruh dunia. Keduabelas rasul itu adalah: Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes, Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Thomas, Yakobus anak Alpheus, Tadeus, Simon Zelot dan Yudas Iskariot yang kemudian digantikan kedudukannya oleh Matias. Mereka inilah tonggak-tonggak Gereja yang pertama dan selama-lamanya.

Santo Paulus, rasul agung segala bangsa, mengatakan bahwa orang-orang yang hidup tak bercela di hadapan Allah adalah laksana bintang-bintang yang menerangi alam semesta. Banyak dari antara para pengikut Kristus yang rela mempersembahkan hidupnya sebagai martir demi iman kepada Kristus dan perkembangan kerajaan-Nya.

Renungan:

"Tahun Santo Paulus" 28 Juni 2008 - 29 Juni 2009 dicanangkan Bapa Suci Benediktus XVI sebagai peringatan 2000 tahun kelahiran Rasul Paulus. Berkenaan dengan itu, pada Hari Minggu Misi Sedunia Ke-82 tahun 2008, Paus menawarkan kepada kita untuk mencermati semangat misioner Rasul Paulus sebagai contoh bagi kita dalam mewartakan Injil. Beliau menyegarkan kembali panggilan misioner kita melalui pesannya, "Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus". Bapa Suci mengatakan, “Saudara-saudara terkasih, seperti pada masa awal, sekarang ini pun Kristus membutuhkan rasul-rasul yang siap sedia mengorbankan dirinya. Kristus membutuhkan saksi dan martir seperti St Paulus." Sebab itu, baiklah kita berdoa, "Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau telah memanggil kami untuk menjadi pelayan dan rasul Yesus Kristus, PutraMu, seperti Santo Paulus, rasul agung segala bangsa. Semoga kami dapat meneladan dia, membaktikan diri sepenuhnya bagi kemuliaan nama-Mu, berani memberitakan Injil kepada semua orang, terlebih kepada orang-orang yang telah kehilangan imannya dan yang belum mengenal Engkau. Demi Yesus Kristus, PutraMu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin."


30 Oktober

 St. Marcellus, Martir

Marcellus dilahirkan di Arzas, Galicia. Ia menikah dengan Nona dan dikarunia 12 anak. Besama seluruh keluarganya Marcellus bertobat dan dibaptis menjadi Kristen. Pada tahun 298, diselenggarakan pesta ulangtahun Kaisar Maximian Herculeus. Marcellus, sebagai seorang senturion Romawi yang bertugas di Tangier, Afrika, diundang serta. Ketika tiba upacara korban kafir untuk memuja kaisar dan dewa-dewa, Marcellus menolak serta. Dengan tegas ia mengatakan, “Aku hanya mengabdi kepada Raja Abadi, yakni Yesus Kristus.” Karena perkataannya ini, ia langsung ditangkap dan dihukum pancung pada tanggal 30 Oktober 298. Sekretaris pengadilan, yaitu Kasianus, mendengar kesaksian Marcellus dan menolak mencatat hukuman; Kasianus juga mengaku Kristen sehingga akhirnya ia pun wafat sebagai martir pada tanggal 3 Desember. Keduabelas anak Marcellus mengikuti teladan ayah mereka, dan semuanya wafat sebagai martir demi membela Injil.

Renungan:

Iman akan Yesus Kristus telah menghantar St Marcellus dan anak-anaknya kepada kerajaan Kristus. “Aku hanya mengabdi kepada Tuhan Yesus Kristus.” Kesaksian yang sama digemakan oleh Gereja kudus sepanjang masa. Tahun 1920 dimulailah karya misioner Gereja di Todabelu Bajawa - Ngada, Flores. Sesudah diadakan persiapan oleh para mantan misionaris dari Togo - Afrika, dimulailah perang antara terang Kristus dan kegelapan animisme. Salah satu berkat besar untuk masyarakat Flores berkat agama Katolik ialah kriminalitas atau tindakan pidana dan kejahatan-kejahatan lain jarang terjadi. Kita dapat berkata dengan hati penuh syukur atas jasa-jasa para misionaris kita, “Maka kamu akan bercahaya di antara mereka laksana bintang-bintang yang menyinari dunia.” Ya Tuhan jadikanlah aku terang dunia!


Sumber: “Ziarah Iman Pastor Jan Lali SVD, Renungan Harian Bersama Para Kudus Sepanjang Tahun”; diterbitkan oleh Penerbit Buku Sabda, Yayasan Sabda Bahagia; Jakarta 2005; tambahan dan edit oleh YESAYA: yesaya.indocell.net