YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Mei - Juni 2012
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12


YESUS MENGUSIR PARA PEDAGANG DARI HALAMAN BAIT ALLAH
dikutip dari penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick

Ketika Yesus bersama segenap murid pergi ke Bait Allah, Ia mendapati di sana, di sekeliling halaman, deretan pengemis, para pedagang sayur-mayur hijau, burung-burung dan segala macam makanan. Dengan suatu cara yang lemah-lembut dan bersahabat, Ia menghampiri mereka dan meminta mereka mundur bersama barang-barang mereka ke halaman kaum Kafir. Ia dengan lemah lembut menegur mereka akan ketidakpantasan mengambil tempat di mana embikan anak-anak domba dan hiruk-pikuk ternak yang lain akan mengganggu kekhusukan mereka yang beribadat. Dengan bantuan para murid, Ia membantu para penjual memindahkan meja-meja mereka ke tempat yang Ia tunjukkan kepada mereka.

Pada hari ini Yesus menyembuhkan banyak orang asing yang sakit di Yerusalem, khususnya mereka yang miskin, pekerja yang timpang yang tinggal dekat Senakel di Bukit Sion. Sungguh suatu himpunan orang banyak yang menakjubkan yang berkumpul di Yerusalem. Kota sepenuhnya dikelilingi oleh perkemahan gubuk-gubuk dan tenda-tenda ...

Ketika Yesus naik lagi ke Bait Allah bersama para murid, Ia untuk kedua kalinya memperingatkan para penjual untuk mundur. Karena semua jalan dibuka sebab kurban anak domba Paskah akan segera dimulai, banyak lagi pedagang yang berkerumun hingga ke halaman para pengemis. Yesus meminta mereka mundur dan menyorong meja-meja mereka. Ia bertindak dengan terlebih tegas dari kejadian terakhir. Para murid membuka jalan bagi-Nya menerobos orang banyak. Sebagian pedagang menjadi marah. Dengan gerak isyarat kepala dan tangan, mereka melawan-Nya dengan berang, dan pada saat itulah Yesus, merentangkan tangan-Nya dan mendorong salah satu meja. Mereka tiada berdaya melawan-Nya; tempat segera kosong, dan semua barang dipindahkan ke halaman luar. Kemudian Yesus menyampaikan kata-kata peringatan kepada mereka. Ia mengatakan bahwa dua kali Ia telah memperingatkan mereka untuk memindahkan barang-barang mereka, dan bahwa jika Ia mendapati mereka di sana lagi, Ia akan bertindak dengan terlebih tegas terhadap mereka. Yang paling tidak sopan mencemooh-Nya: "Apakah yang berani dilakukan si Galilea, si Ulama dari Nazaret? Kami tidak takut pada-Nya." Ejek-ejekan ini mulai di saat mereka pindah. Banyak yang berdiri di sekitar memandang pada Yesus penuh tanda tanya. Orang-orang Yahudi saleh mendukung tindakan-Nya dan memuji Yesus saat Ia tidak ada. Mereka juga berteriak, "Nabi dari Nazaret!" Kaum Farisi, yang malu dan murka atas apa yang telah terjadi, telah berhari-hari sebelumnya secara pribadi memperingatkan orang untuk menjauhkan diri dari orang asing selama perayaan, tidak mengikuti-Nya, bahkan tidak banyak bicara mengenai-Nya. Akan tetapi orang semakin terpikat pada Yesus, sebab telah banyak di antara mereka yang telah mendengarkan pengajaran-Nya atau telah disembuhkan oleh-Nya.

Sementara Yesus meninggalkan Bait Allah, Ia melewati seorang lumpuh di salah satu halaman. Orang itu berteriak-teriak kepada-Nya. Yesus menyembuhkannya, dan ia yang tadinya lumpuh itu masuk ke dalam Bait Allah penuh sukacita memaklumkan Yesus sebagai penyelamatnya. Karena hal ini, timbullah kegemparan...

Fajar hari Yesus an para murid pergi ke Bait Allah yang terang-benderang dengan banyak lampu, di mana orang banyak telah berhimpun dari segala penjuru bersama persembahan mereka. Yesus mengambil tempat di salah satu halaman bersama para murid, dan di sana Ia mengajar. Segerombolan pedagang lagi-lagi menerobos masuk ke dalam halaman pengemis dan bahkan ke halaman perempuan. Mereka nyaris hanya dua langkah dari umat yang beribadat. Sementara para pedagang masih terus berdatangan menerobos masuk, Yesus memerintahkan para pendatang baru untuk mundur, dan mereka yang sudah menempati posisi di dalam untuk undur diri. Akan tetapi mereka menolak dan meminta bantuan penjaga dekat sana. Penjaga, tak mau ambil resiko bertindak sendiri, melaporkan apa yang terjadi kepada Sanhedrin (= Mahkamah Agama). Sementara itu Yesus terus gigih dalam memerintahkan para pedagang untuk mundur. Ketika mereka dengan berani menolak, Ia menarik dari lipatan-lipatan jubah-Nya sebuah tali dari buluh-buluh yang dijalin atau ranting-ranting kecil willow dan membuka cincin yang mengikat ujung-ujungnya, sehingga setengah darinya terurai. Dengan ini Ia bergegas menuju para pedagang, membalikkan meja-meja mereka dan mengusir mundur mereka yang masih bersikeras bertahan, sementara para murid, menahan di kiri dan kanan, mendorong para lawan-Nya pergi. Dan sekarang datanglah segerombolan imam dari Mahkamah Agama dan memerintahkan Yesus untuk mengatakan siapa yang memberi-Nya wewenang untuk bertindak demikian di tempat itu. Yesus menjawab bahwa, meski Misteri Kudus telah dibawa pergi dari Bait Allah, namun Bait Allah tetap merupakan suatu tempat kudus dan tempat di mana doa dari begitu banyak orang benar disampaikan. Bait Allah bukanlah tempat untuk mengeruk laba, menipu, dan perdagangan murahan yang hingar-bingar. Yesus memaklumkan perintah-perintah BapaNya; mereka bertanya siapakah BapaNya. Ia menjawab bahwa Ia tak punya waktu untuk menjelaskan hal itu kepada mereka dan bahkan jika Ia menjelaskannya mereka tak akan mengerti; dengan itu Ia berbalik pergi dari mereka dan terus mengusir para pedagang.

Dua kompi tentara sekarang tiba di lokasi, tetapi para imam tidak berani bertindak melawan Yesus. Mereka sendiri malu sebab telah menoleransi penyelewengan yang demikian. Khalayak yang berkumpul sekitar sana memaklumkan Yesus benar, dan para prajurit bahkan membantu memindah-mindahkan stand-stand para pedagang dan menyingkirkan meja-meja dan barang-barang yang terjungkir-balik. Yesus dan para murid mengusir para pedagang ke halaman depan, akan tetapi ia tidak mengusik para pedagang sopan yang menjual burung-burung merpati, ketul-ketul roti, dan makanan yang dibutuhkan di ceruk-ceruk tembok sekeliling halaman dalam. Sesudah itu Ia dan para pengikut-Nya pergi ke halaman Israel. Kira-kira antara pukul tujuh dan delapan pagi ketika semua ini terjadi.

Kisah selengkapnya silakan baca:





dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)




CINTA YESUS UNTUK BAPA DAN UNTUK RUMAH-NYA MENGHANTAR PADA SALIB
Homili Paus Benediktus XVI, Angelus 11 Maret 2012

Saudara dan Saudari terkasih,

Dalam Minggu Prapaskah Ketiga ini Injil - tulisan St Yohanes - menceritakan kisah terkenal Yesus mengusir para pedagang hewan dan para penukar uang dari Bait Allah di Yerusalem (Yohanes 2:13-25). Peristiwa ini, sebagaimana dicatat oleh semua Penginjil, terjadi dalam Perayaan Paskah Yahudi dan meninggalkan kesan mendalam baik bagi khalayak ramai maupun para murid. Bagaimanakah seharusnya kita menafsirkan tindakan Yesus ini?

Pertama-tama patut dicatat bahwa tindakan ini tidak menyulut kegusaran para petugas ketertiban umum sebab dipandang sebagai suatu bentuk tindakan nubuat: sungguh, dalam nama Allah para nabi kerap dicatat melontarkan kecaman murka dan terkadang melakukannya dengan gerak isyarat simbolis. Masalahnya, jika ada, adalah menyangkut wewenang. Sebab itulah kaum Yahudi menanyai Yesus: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" (Yohanes 2:18); tunjukkan kepada kami bahwa Engkau sungguh bertindak dalam nama Allah.

Pengusiran para pedagang dari Bait Allah juga ditafsirkan dalam makna politik dan revolusioner, menempatkan Yesus sejajar dengan gerakan kaum Zelot. Kaum Zelot, tepatnya, "mencintai" hukum Allah dan siap sedia mempergunakan kekerasan demi dihormatinya hukum. Pada masa Yesus, mereka menantikan seorang Messias yang akan membebaskan Israel dari kekuasaan Romawi. Akan tetapi Yesus tidak memenuhi pengharapan ini, begitu rupa hingga sebagian murid meninggalkan-Nya dan Yudas Iskariot bahkan mengkhianati-Nya.

Sesungguhnya adalah mustahil menafsirkan tindakan Yesus ini sebagai kekerasan: kekerasan bertentangan dengan Kerajaan Allah; kekerasan adalah alat anti-Kristus. Kekerasan tidak pernah berguna bagi kemanusiaan melainkan merendahkannya.

Jadi, marilah kita mendengarkan kata-kata yang diucapkan Yesus ketika Ia melakukan tindakan ini. "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan." Dan para murid lalu ingat bahwa dalam Mazmur tertulis: "cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku."

Mazmur ini merupakan seruan memohon pertolongan dalam situasi bahaya gawat oleh sebab kedengkian para musuh: dilema yang harus dialami Yesus dalam Sengsara-Nya. Cinta untuk Bapa dan cinta untuk rumah-Nya akan menghantar-Nya ke salib: cinta kasih-Nya yang dibayar dengan diri-Nya Sendiri, bukan cinta yang hendak melayani Allah melalui kekerasan.

Sesungguhnya "tanda" yang akan Yesus berikan sebagai bukti dari wewenang-Nya adalah wafat-Nya dan kebangkitan-Nya Sendiri. "Rombak Bait Allah ini," kata-Nya, "dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Dan St Yohanes mencatat: "yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri" (Yohanes 2:20-21). Dengan Paskah Yesus, suatu bentuk sembah sujud baru dimulai, ibadat kasih, dan sebuah kenisah baru yang adalah DiriNya Sendiri, Kristus yang Bangkit, melalui siapa setiap orang percaya dapat menyembah Allah "dalam roh dan kebenaran" (Yohanes 4:23).  

Sahabat-sahabat terkasih, Roh Kudus mulai membangun kenisah baru ini dalam rahim Perawan Maria. Marilah kita berdoa melalui perantaraannya agar setiap umat Kristiani dapat menjadi batu yang hidup dari bangunan rohani ini.


Mengapa Tuhan Yesus Marah? oleh P. Gregorius Kaha, SVD
Homili tentang Kemarahan




CINTA YESUS TIDAK BERHENTI PADA SEBUAH KENISAH YANG DARI BATU
Homili Beato Paus Yohanes Paulus II, Angelus 2 Maret 1997

Saudara dan Saudari terkasih,

1. Dalam Injil Minggu Prapaskah Ketiga, St Yohanes menceritakan bahwa ketika Yesus mendapati para pedagang dan para penukar uang di Bait Allah di Yerusalem, Ia membuat sebuah cambuk dari tali dan mengusir mereka dengan kata-kata amarah: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan" (Yohanes 2:16).

Sikap "keras" Tuhan mungkin tampak kontras dengan kelemah-lembutan yang biasa Ia tunjukkan sementara Ia menghampiri para pendosa, menyembuhkan yang sakit dan menyambut mereka yang kecil dan lemah. Akan tetapi, apabila kita lihat lebih dekat, kelemah-lembutan dan sikap keras ini merupakan ekspresi dari kasih yang sama yang dapat lemah-lembut ataupun menuntut seturut kepentingan. Kasih sejati senantiasa disertai dengan kebenaran.

Cinta dan kasih Yesus kepada rumah Bapa jelas tidak berhenti di sebuah kenisah yang terbuat dari batu. Seluruh dunia adalah milik Allah dan janganlah dicemarkan. Dengan tindakan nubuat-Nya, sebagaimana dikisahkan dalam Injil pada hari ini, Kristus membuat kita berhati-hati terhadap pencobaan "jual-beli" bahkan dalam agama, dengan membengkokkannya pada kepentingan-kepentingan duniawi atau kepentingan-kepentingan lain yang tak ada hubungannya dengan agama.

Suara Kristus juga berseru lantang melawan "para pedagang kenisah" dari masa kita, melawan mereka semua yang menjadikan pasar mereka sebagai "agama" mereka, hingga menginjak-injak martabat pribadi manusia dengan segala bentuk pelecehan, atas nama allah-kuasa, allah-harta. Marilah kita memikirkan, misalnya, kurangnya hormat terhadap kehidupan, yang terkadang menjadi obyek dari eksperimen yang berbahaya, marilah memikirkan polusi ekologis, komersialisasi obat seks dan eksploitasi anak-anak dan kaum miskin.   

2. Ayat Injil juga memiliki arti yang terlebih spesifik, yang mengacu pada misteri Kristus dan pemakluman sukacita Bapa. Menanggapi mereka yang meminta-Nya untuk menegaskan nubuat-Nya dengan suatu tanda, Yesus menyodorkan semacam tantangan "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (Yohanes 2:19). Penginjil yang sama menekankan bahwa Ia sedang berbicara mengenai tubuh-Nya, menyinggung Kebangkitan-Nya mendatang. Dengan demikian kemanusiaan Kristus dihadirkan sebagai "kenisah" sejati, rumah Allah yang hidup. Tubuh itu akan "dihancur-binasakan" di Golgota, akan tetapi segera "dibangun kembali" dalam kemuliaan, menjadi tempat kediaman rohani dari segenap mereka yang menerima pesan Injil dan membiarkan diri dibentuk oleh Roh Allah.

3. Kiranya Santa Perawan Maria membantu kita untuk menerima sabda Putra Ilahinya. Misi Maria adalah justru menghantar kita kepada-Nya, mengulang kepada kita undangan yang ia tawarkan kepada para pelayan di Kana: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yohanes 2:5). Marilah kita mendengarkan suara keibuannya! Maria tahu benar bahwa tuntutan-tuntutan Injil, bahkan meski berat dan keras, adalah rahasia kebebasan sejati dan sukacita sejati kita.   


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”