|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Januari 2012
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
ORANG KAYA & KERAJAAN ALLAH
dikutip dari penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick
 Para murid, dengan tali-temali tebal dililitkan pada tiang-tiang, telah membuat batas di depan penginapan guna membatasi khalayak ramai. Dari situlah Yesus menyampaikan khotbah. Karena di antara para pendengar-Nya ada banyak saudagar kaya dari kota, Ia mengajar mengenai harta dan bahaya menimbun harta. Keadaan mereka, demikian kata-Nya, lebih berbahaya dibandingkan para pemungut cukai, yang lebih mudah diperbaiki dibandingkan mereka. Sembari menyampaikan kata-kata ini, Yesus menunjuk pada tali-temali yang memisahkan-Nya dari orang banyak, dan menyampaikan kata-kata: "Seutas tali seperti tali-temali itu akan lebih mudah masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Tali-temali itu terbuat dari bulu unta, tebalnya setebal lengan orang dewasa, dan dililitkan empat kali pada tiang-tiang sekeliling pembatas.
Kaum kaya mempertahankan diri dengan mengatakan bahwa mereka memberikan amal derma dari segala keuntungan mereka. Tetapi Yesus menjawab bahwa amal yang telah diperas dari keringat orang-orang miskin tidak akan mendatangkan berkat. Pengajaran ini tak menyenangkan para pendengar-Nya....
Yesus menyampaikan ajaran mengenai kesia-siaan dan kesombongan. Ia tidak mengadakan penyembuhan pada hari itu sebab, sebagaimana dikatakan-Nya, mereka menganggap diri lebih baik dari orang lain, dan menganggap kedatangan-Nya untuk mengajar di kota mereka sebagai karena jasa mereka sendiri; Yesus ingin mereka tahu bahwa Ia dihantar ke sana oleh pengetahuan-Nya akan kemalangan mereka dan kerinduan-Nya untuk merendahkan hati dan mempertobatkan mereka.
"Kemiskinan yang dibicarakan dalam tradisi ini tidak pernah merupakan fenomena materiil semata. Kemiskinan materiil semata tidak mendatangkan keselamatan, meski tentu saja mereka yang kurang beruntung di dunia ini dapat tergantung pada kebaikan Allah dengan suatu cara tertentu. Tetapi hati mereka yang tak punya apa-apa itu dapat menjadi keras, teracuni, jahat - dalam hatinya penuh dengan ketamakan akan hal-hal materiil, lupa akan Allah, serakah akan harta milik materiil."
~ Paus Benediktus XVI, "Yesus dari Nazaret"
Di lain pihak, kemiskinan yang dibicarakan Injil bukan sekedar sikap rohani pula. Tidak semua dari kita dimintai hal yang sama sehubungan dengan tidak mempunyai apa-apa atau berkekurangan, tetapi kita semua membutuhkan penyangkalan diri yang pantas bagi jiwa kita agar tidak ditumpulkan dan dimerosotkan oleh harta kekayaan. Memiliki harta hendaknya menjadi suatu cara untuk melayani sesama, yang membentuk perkembangan kebebasan batin melawan keinginan untuk menimbun kekayaan. Bagi umat Kristiani, sebab ini adalah cara untuk mencapai ketakterikatan yang dibutuhkan demi memiliki Kerajaan Surga dan mengasihi sesama.
"Barang-barang duniawi" kata St Josemaria, Pendiri Opus Dei, "tidaklah buruk, tetapi memerosotkan akhlak apabila manusia menempatkannya sebagai berhala, apabila ia memujanya. Barang-barang duniawi memuliakan manusia apabila dipergunakan sebagai sarana kebaikan, keadilan dan karya cinta kasih Kristiani. Kita tak dapat memburu barang-barang materiil seolah barang-barang itu adalah harta pusaka (…) 'Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.' Jika kita menimbun kekayaan, jika kita tidak mempergunakan apa yang kita miliki untuk menciptakan keadilan dan cinta kasih, jika kita tidak takterikat pada barang-barang materiil, hati kita dan pikiran kita menjadi semakin sempit - saya katakan bahkan semakin murahan - sebab kita dipanggil pada tujuan yang lebih agung, lebih luhur, lebih murah hati, dan itulah di mana harta kita yang sesungguhnya berada.
Kesulitan dan penderitaan itu sendiri bukanlah suatu yang baik. Tetapi jika ditanggung dengan rela, atau jika penderitaan yang tak terhindarkan itu ditanggung dengan kebebasan roh, dan ditujukan pada tujuan-tujuan yang lebih mulia, ia akan menghantar pada keutamaan: kesederhanaan, ketakterikatan, atau keutamaan kemiskinan suci. Kiranya kita mendapati kaidah St Josemaria ini berguna: "Janganlah lupa: ia yang memiliki paling banyak adalah ia yang paling sedikit membutuhkan. Janganlah ciptakan kebutuhan-kebutuhan bagi dirimu sendiri."

VOX PATRIS
Nasihat-nasihat Rohani St Paulus dari Salib
Mereka yang dipanggil Allah menjadi serupa dengan PutraNya dalam kemuliaan, terlebih dahulu dipanggil-Nya menyerupai PutraNya dalam kemiskinan.
Penderitaan-penderitaan yang diakibatkan oleh kemiskinan, apabila diterima dengan rela hati, akan membuatmu lebih dikasihi Allah daripada andai engkau melakukan segala matiraga yang lain.
Apabila engkau bertahan dalam menanggung penderitaan akibat kemiskinan dengan penuh pasrah kepada Allah, maka kamu akan beralih dari kemiskinan yang sementara ini kepada kekayaan surgawi yang abadi.
|
|
BERBAHAGIALAH ORANG YANG MISKIN DI HADAPAN ALLAH
oleh: St Leo Agung, Paus (wafat ± tahun 461)
Tak dapat diragukan bahwa mereka yang miskin dapat lebih mudah mencapai kerendahan hati dibandingkan mereka yang kaya. Dalam mereka yang miskin, kekurangan barang-barang duniawi seringkali disertai dengan kepasrahan yang tenang, sementara mereka yang kaya lebih cenderung untuk pongah. Kendati demikian, banyak orang kaya dengan suka hati mempergunakan kelimpahan mereka bukan untuk membualkan kesombongan mereka sendiri melainkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Mereka berpendapat merupakan suatu keuntungan terbesar bagi mereka jika mereka dapat mempergunakannya untuk meringankan kesulitan sesama.
Keutamaan ini terbuka bagi semua orang, tanpa peduli golongan ataupun kondisi mereka sebab semua orang dapat setara dalam kerelaan untuk memberi, kendati tak setara dalam hal kekayaan duniawi. Sungguh, ketaksetaraan mereka sehubungan dengan hal-hal duniawi tidaklah penting, asal mereka didapati setara dalam kekayaan rohani. Oleh karena itu, berbahagialah, kemiskinan yang tidak terjebak oleh cinta akan hal-hal duniawi dan tidak berupaya diperkaya oleh kekayaan duniawi, melainkan rindu untuk bertambah kaya dalam hal-hal surgawi.
Para rasul adalah mereka yang pertama sesudah Tuhan Sendiri yang memberi kita teladan akan kemiskinan yang murah hati ini, ketika mereka semua sama-sama meninggalkan harta milik mereka dalam menanggapi panggilan Tuan Surgawi. Dengan pertobatan sejati mereka diubah dari penjala ikan untuk menjadi penjala manusia, dan dengan teladan mereka sendiri mereka memenangkan banyak jiwa-jiwa lain untuk meneladani iman mereka sendiri. Dalam diri putera-putera pertama Gereja ini hanya ada satu hati dan satu jiwa di antara segenap mereka semua yang percaya. Dengan meninggalkan segala harta dan kekayaan duniawi mereka dalam dedikasi mereka untuk hidup miskin, mereka diperkaya dengan hal-hal abadi, dan seturut khotbah rasuli, mereka bersukacita tiada memiliki apapun dari dunia ini dan memiliki segalanya bersama Kristus.
Sebab itu, ketika Rasul Petrus sedang dalam perjalanan naik ke Bait Allah dan dimintai sedekah oleh seorang yang lumpuh, ia menjawab: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Apakah yang lebih luhur dari kerendahan hati ini? Dan apakah yang dapat lebih kaya dari kemiskinan ini? Meski Petrus tak dapat menolong dengan uang, ia dapat memberikan anugerah jasmaniah. Dengan sepatah kata Petrus mendatangkan kesembuhan bagi orang yang lumpuh sejak dari lahirnya itu; ia yang tidak memberikan sekeping mata uang dengan gambar raja, mengukirkan gambar Yesus dalam hati orang ini.
Dan dengan kekayaan harta ini, ia tak hanya menolong orang yang pulih dayanya untuk berjalan, melainkan juga limaribu orang lainnya yang percaya akan khotbah sang rasul karena mukjizat penyembuhan ini. Dengan demikian Petrus, yang dalam kemiskinannya tidak memiliki uang untuk diberikan kepada si pengemis, memberikan berlimpah rahmat ilahi yakni dengan memulihkan kaki satu orang, ia menyembuhkan hati beribu-ribu orang yang percaya. Petrus mendapati mereka semua ini lumpuh; tetapi ia menjadikan mereka melonjak kegirangan dalam Kristus.
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah … Ini ditujukan kepada mereka yang mengandalkan Allah, yang mempercayakan hidup mereka dalam tangan Allah dan percaya akan kasih Allah kepada mereka. Miskin di hadapan Allah berarti bergantung pada Allah dalam segala hal. Berarti memohon Allah untuk segala sesuatu, di segala waktu, tahu bahwa Allah akan menjawab. Berarti bahwa kita tidak berputus asa, melainkan mengenali kemiskinan kita dan perlunya Allah dalam hidup kita. Kekhawatiran tiada lagi ada sebab kita yakin bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah."
~ St Ignatius, Martir
|
|

|
|
ST FRANSISKUS ASSISI DAN NONA KEMISKINAN
dikutip dari Sacrum Commercium [= Percakapan Suci]
Sementara mereka bergegas mencapai puncak dengan langkah ringan, lihatlah Nona Kemiskinan, berdiri di puncak bukit. Ia tercengang melihat mereka mendaki dengan kekuatan begitu rupa hingga nyaris terbang. "Sudah begitu lama aku tidak melihat orang begitu bebas dari segala beban." Dan demikianlah Nona Kemiskinan menyambut mereka dengan banyak berkat. "Katakanlah Saudara-saudara, apakah gerangan alasan kedatangan kalian kemari dan mengapakah kalian datang dengan begitu bergegas dari lembah derita ke bukit terang?" Mereka menjawab, "Kami rindu menjadi abdi-abdi Allah sebab Ia adalah Raja Mulia. Jadi, berlutut di hadapanmu, kami dengan rendah hati mohon kepadamu untuk sudi tinggal bersama kami dan menjadi pembimbing jalan kami kepada Raja Mulia, sebagaimana engkau bilamana fajar datang dari puncak bukit mengunjungi mereka yang duduk dalam kegelapan dan dalam bayang-bayang kematian."
|
"Kiranya kita tiada menghendaki yang lain
kiranya kita tiada merindukan yang lain
kiranya tiada yang lain yang menyenangkan dan membahagiakan kita
selain dari Pencipta dan Penebus dan Juruselamat kita,
Satu-satunya Allah yang Benar, yang adalah Kepenuhan yang Baik,
segala yang baik, setiap yang baik, Allah yang benar dan mahatinggi;
kiranya tiada yang menghalangi kita,
tiada yang memisahkan kita ataupun tiada yang merintangi kita." ~ St Fransiskus
|
 Seorang kaya yang amat kikir ikut menghadiri pesta perkawinan di Kana. Kebetulan ia juga ikut minum anggur mukjizat Yesus. Setelah pesta usai, ia berkata kepada tuan rumah bahwa ia ingin bertemu Yesus.
"Apakah ada masalah yang hendak dibicarakan?" tanya tuan rumah dengan ramah.
"Besok anak saya ulang tahun. Ia minta dipestakan, padahal saya tidak punya banyak uang. Sebab itu, saya bermaksud meminta tolong pada Yesus agar Ia berkenan mengubah ketela menjadi roti."
"Apakah engkau sudah menyediakan ketela?" tanya tuan rumah.
"Saya juga tidak punya ketela, tetapi saya yakin dan percaya Yesus pasti akan menyediakan ketelanya sekaligus!"
Tuan rumah menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Seumur hidup belum pernah kujumpai iman sebesar ini!"
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|