Keakraban Ilahi:

PENDERITAAN DAN PENYERAHAN DIRI
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.


Ya Tuhan, ajarilah aku untuk menderita dengan pasrah, tanpa secara sia-sia memusatkan perhatian pada diri sendiri, melainkan dalam penyerahan total pada kehendak ilahi-Mu.

MEDITASI

1.   Rahasia belajar untuk menderita dalam cara yang saleh dicapai terutama dengan melupakan diri dan kesusahan diri sendiri dan dengan berserah diri pada Allah.

Jiwa yang tenggelam dalam penderitaannya sendiri dan memusatkan seluruh perhatian pada penderitaannya itu, menjadi tak dapat menanggung penderitaannya dengan tenang dan gagah-berani. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34), sabda Yesus, dan dengan demikian mengajarkan kepada kita untuk menanggung dengan tenang, hari demi hari, waktu demi waktu, kesusahan dan salib apapun yang Allah tempatkan di jalan kita, tanpa memikirkan mengenai apa yang kita derita kemarin, tanpa khawatir akan apa yang harus kita tanggung esok. Bahkan apabila penderitaan kita itu hebat, hendaknyalah kita tidak membesar-besarkannya, pun terlalu mementingkannya; hendaknyalah kita tidak mengembangkan kecondongan tak sehat memelihara kesusahan kita, merenungkannya, menimbang-nimbang dan menganalisanya di bawah setiap aspek. Bertindak seperti ini akan berakibat lumpuhnya semangat kurban kita, kemampuan kita untuk menerima dan untuk bertindak, dan menjadikan diri tak berguna baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama. Orang yang terlalu sensitif dan sibuk dengan penderitaannya sendiri, seringkali menjadi tidak peka dan acuh terhadap penderitaan sesama.

Guna menolak kecondongan-kecondongan cinta diri ini yang dengan tepat didefinisikan oleh Pater Faber sebagai “ulat kesusahan Kristiani”, haruslah kita melupakan diri sendiri, keluar dari diri sendiri dan penderitaan kita sendiri, memberikan perhatian pada penderitaan sesama dan berusaha meringankannya. Ini adalah cara yang sangat efektif guna memulihkan kembali kekuatan di saat-saat patah semangat dalam menanggung salib kita sendiri. Hendaknya kita mencamkan kebenaran bahwa kita tidak pernah sendirian dalam penderitaan; bahwa jika penderitaan kita berat, akan selalu ada mereka yang menderita jauh lebih dahsyat dari kita. Permasalahan-permasalahan kita, cukup sering, hanyalah setetes air dibandingkan samudera dukacita yang melanda umat manusia, dan nyaris tiada artinya dibandingkan Sengsara Yesus.

Mereka yang khawatir secara berlebihan pada permasalahan-permasalahan mereka sendiri lama kelamaan akan menjadi frustrasi karenanya. Tenggelam dalam kesusahan diri, mereka menindas setiap dorongan untuk bermurah hati. Sebaliknya, mereka yang tahu bagaimana melupakan diri mereka sendiri, memelihara keseimbangan diri, dan lebih memikirkan sesama daripada diri sendiri. Mereka selalu terbuka pada cinta kasih dan kemurahan hati terhadap Allah dan sesama. Inilah jiwa-jiwa bersahaja yang, sebab mereka tidak asyik dengan diri sendiri, dapat menanggung penderitaan dengan murah hati dan mendapatkan banyak manfaat bagi pengudusan mereka sendiri.


2.   Kendati segala upaya untuk melarikan diri dari kemalangan kita dan melupakan permasalahan-permasalah kita, kita dapat melalui saat-saat kesusahan berat yang demikian, kegelapan pekat yang demikian, hingga jiwa kita yang malang tiada tahu bagaimana untuk keluar darinya - teristimewa ketika cakrawala, bukannya menjadi cerah, malahan menjadi gelap dan terlebih lagi mencekam. Di saat-saat demikian hanya ada satu hal yang perlu dilakukan: melompat dalam kegelapan, menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan-tangan Allah. Kita begitu tak berdaya dan lemah hingga kita selalu membutuhkan suatu tempat pengungsian; jika kita hendak melupakan diri dan berhenti memikirkan kepentingan-kepentingan diri sendiri, kita membutuhkan seseorang yang akan menopang dan peduli pada kita. Seseorang ini adalah Allah, yang tiada pernah melupakan kita, yang tahu semuanya mengenai penderitaan kita dan kebutuhan kita, yang melihat betapa lemahnya kita, dan yang selalu siap untuk datang memberikan pertolongan kepada mereka yang mencari pengungsian kepada-Nya. Tentu saja, kita dapat mencari penghiburan dan pertolongan dari makhluk-makhluk hingga tahap tertentu, akan tetapi janganlah kita menipu diri; orang tidak akan selalu mengerti kita, pula mereka tak akan selalu siap membantu kita. Akan tetapi jika kita berpaling kepada Allah, kita tiada akan pernah dikecewakan; bahkan jika Ia tidak mengubah situasi kita atau menyingkirkan permasalahan-permasalahan kita, Ia akan menghibur hati kita secara batin, dalam ketersembunyian dan dalam keheningan, dan akan memberikan kepada kita kekuatan untuk bertekun.

Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku” (Mazmur 54:4). Inilah sikap penyerahan diri yang seharusnya kita miliki di saat-saat penderitaan, dan yang seharusnya kita perteguh dengan semakin bertambahnya kesusahan kita. Jika semangat penyerahan diri kita sebanding dengan kedahsyatan penderitaan kita, maka kita tidak akan kehilangan ganjaran dari penderitaan-penderitaan itu.

Banyak jiwa membesar-besarkan penderitaan mereka, mendramatisirnya sebab mereka tak dapat melihat tangan kebapaan Allah di dalamnya, sebab iman mereka akan Penyelenggaraan Ilahi-Nya belum cukup kuat; dan karenanya, mereka tak dapat berserah diri pada-Nya dengan sepenuh hati. Jika hidup kita dan segala peristiwanya, bahkan yang paling menyakitkan, tidak beristirahat dalam tangan Allah, maka kita punya alasan untuk takut, akan tetapi sebab semuanya selalu ada dalam tangan-tangan-Nya, ketakutan kita itu tanpa dasar dan kita hendaknya tidak khawatir. Suatu jiwa yang mengandalkan Allah dan berserah diri pada-Nya dapat tinggal tenang di tengah pencobaan-pencobaan besar, dan dapat menerima bahkan keadaan-keadaan tragis dengan pasrah, dan menderita dengan tenang dan gagah berani, sebab jiwa senantiasa ditopang oleh Allah.


PERCAKAPAN

“Ya Tuhan, anugerahilah agar kiranya aku tiada pernah berhenti berpaling kepada-Mu, dan memandang hanya Engkau saja. Dalam penghiburan maupun dalam kesusahan aku akan berlari kepada-Mu, dan tiada berhenti pada yang lain; aku akan berlari dengan begitu kencang hingga tak ada waktu bagiku untuk melihat yang lain, pula tidak melihat hal-hal yang dari dunia, sebab kecepatanku akan demikian kencang. Oleh sebab itu, demi kasih kepada-Mu, aku akan menolak kesenangan, istirahat, ketergantungan pada pertimbangan manusia, kepuasan dalam apresiasi mereka, ketakutan akan ketidaknyamanan jasmani, patah semangat dan kesuksesan ataupun kegagalan. Singkat kata, aku akan menolak semua yang tak berasal dari Allah.

“Aku sadar bahwa salib-salibku diijinkan dan dikehendaki oleh-Mu, ya Allah-ku, guna mengajariku mengandalkan-Mu kendati apapun jua.

“Ya Allah, jadilah satu-satunya kekuatanku dalam ketakutan, kelemahan dan kesusahan; jadilah sabahatku, atau lebih lagi andalanku. Tamu Ilahi, yang tinggal dalam diriku, di tahta hatiku, tinggallah bersamaku sebagai pelindungku; Engkau saja yang berwenang dan berkuasa atas seluruh keberadaanku; Engkau seorang yang adalah kekasih jiwaku!

“Mengapakah aku harus khawatir atau takut? Semuanya adalah milik-Mu, ya Allah, dan Engkau akan memperhatikan kerinduan-kerinduanku dan menyelenggarakannya. Engkau adalah kasih tak terhingga, dan Engkau mengasihi buatan tangan-Mu lebih dari yang dapat mereka ketahui dan kasihi sendiri. Siapakah gerangan yang berani mempertanyakan kuasa-Mu, atau perhatian penuh kasih, penyelenggarahan ilahi yang Engkau anugerahkan pada makhluk-makhluk-Mu dari sepanjang kekekalan masa, dan dengan kuasa kasih-Mu?

“Aku percaya bahwa semua yang Engkau lakukan dan ijinkan terjadi adalah demi kebaikanku dan keselamatanku, dan aku menyerahkan diriku pada bimbingan-Mu dengan penuh cinta dan kepercayaan, dan tanpa kekhawatiran, ketakutan ataupun batasan.” (Beata Marie Thérèse Soubiran).    


sumber :Divine Intimacy: Suffering and Abandonment by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”