Keakraban Ilahi:

SALIB SEHARI-HARI
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.


Ya Yesus Tersalib, tolonglah aku, dengan jasa-jasa salib-Mu, untuk memikul salibku setiap hari.

MEDITASI

1.   Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:38). Dengan kata-kata ini, Tuan Ilahi secara jelas memaklumkan bahwa salah satu syarat mutlak untuk menjadi murid-Nya adalah memikul salib. Akan tetapi, kata salib, hendaknya tidak membuat kita berpikir hanya mengenai penderitaan-penderitaan tertentu, yang pada umumnya bukanlah bagian kita. Pertama-tama, sepatutnyalah kita memikirkan hal-hal biasa sehari-hari yang tak menyenangkan yang adalah bagian dari hidup setiap orang dan yang harus kita coba terima sebagai satu dari begitu banyak sarana untuk berkembang dan berbuah dalam rohani.

Seringkali lebih mudah menerima, dalam limpahan kemurahan hati, kurban-kurban dan penderitaan-penderitaan besar dari satu kejadian, daripada penderitaan-penderitaan kecil tak berarti, yang berhubungan erat dengan status hidup kita dan penunaian kewajiban kita: penderitaan yang muncul sehari-hari dalam bentuk yang sama, dengan intensitas dan tuntutan yang sama, di antara situasi-situasi yang tiada akhir dan tak berubah. Ini mungkin termasuk penyakit-penyakit jasmani yang diakibatkan kesehatan yang rapuh, keterbatasan ekonomi, keletihan atas beban kerja atau kekhawatiran; mungkin penderitaan moral sebagai akibat dari perbedaan pendapat, perselisihan, atau salah paham. Di sini terletak salib sesungguhnya yang Yesus tawarkan kepada kita sehari-hari, mengundang kita untuk memikulnya seturut teladan-Nya - salib sederhana, yang tak menuntut kegagah-beranian yang hebat, tetapi yang sungguh menuntut kita untuk mengulang Fiat kita setiap hari, dengan lemah-lembut memberikan bahu kita untuk memikul beban dengan murah hati dan penuh kasih. Nilai, buah-buah dari kurban kita sehari-hari berasal dari penerimaan tanpa syarat ini, yang membuat kita menerimanya sebagaimana Allah menawarkannya kepada kita, tanpa berusaha menghindarinya atau mengurangi berat bebannya. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Matius 11:26).


2.   Yesus menyebut penderitaan kita salib sebab kata salib menunjuk pada alat keselamatan; dan Ia tak menghendaki penderitaan kita menjadi mandul, melainkan menjadi sebuah salib, yakni, suatu sarana untuk mengangkat dan menguduskan jiwa-jiwa kita. Sesungguhnya, suatu penderitaan ditransformasikan, diubah menjadi sebuah salib begitu kita menerimanya dari tangan-tangan Juruselamat, dan dengan bertaut pada kehendak-Nya yang akan mentransformasikannya demi keuntungan rohani kita. Jika ini benar adanya bagi penderitaan-penderitaan besar, ini juga sama benarnya bagi penderitaan-penderitaan kecil; semuanya adalah bagian dari rancangan ilahi, semuanya, bahkan yang terkecil sekalipun, telah diarahkan oleh Allah dari sepanjang kekekalan masa demi pengudusan kita. Sebab itu, marilah kita menerimanya dengan tenang, dan tak membiarkan diri tenggelam oleh hal-hal yang tak menyenangkan; baiklah kita membiarkannya di tempat mereka berada, di tempat mereka sungguh berada dalam rancangan ilahi, yakni di antara alat-alat dengan mana kita dapat mencapai cita-cita kita akan kekudusan dan persatuan dengan Allah. Jika hal-hal yang tak menyenangkan ini adalah suatu yang jahat sebab membuat kita menderita, hal-hal yang tak menyenangkan ini juga adalah suatu yang baik, sebab memberikan kepada kita kesempatan untuk melatih keutamaan; memurnikan kita dan menarik kita dekat kepada Tuhan. Akan tetapi, memahami nilai salib tidak sama dengan memikul salib; kita perlu keberanian juga. Apabila kita membiarkan diri dibimbing oleh Yesus, Ia pasti akan memberikan keberanian kepada kita dan akan menopang kita dalam pergulatan dan penderitaan kita sehari-hari, memimpin kita di jalan yang telah dipilih-Nya Sendiri, dan ke tingkat kekudusan yang telah Ia tetapkan bagi tiap-tiap kita. Haruslah kita memiliki kepercayaan yang besar, maju dengan mata kita tertutup, dan sepenuhnya melupakan diri sendiri. Kita harus menerima salib yang Tuhan tawarkan kepada kita dan memikulnya dengan kasih. Jika, dengan pertolongan rahmat, kita berhasil dalam menguduskan segala penderitaan sehari-hari kita, besar maupun kecil, tanpa kehilangan ketenangan dan kepercayaan kita, kita akan menjadi orang-orang kudus. Banyak jiwa menjadi patah semangat apabila memikirkan penderitaan, dan berupaya dalam berbagai macam cara untuk menghindarinya sebab mereka tak memiliki cukup kepercayaan pada Tuhan, dan tidak sepenuhnya yakin bahwa semuanya dirancangkan oleh-Nya, hingga ke detil-detil terkecil, demi kebaikan sejati mereka. Dalam setiap penderitaan, apapun dimensinya, selalu tersembunyi suatu rahmat penebusan, suatu rahmat pengudusan; dan rahmat ini menjadi milik kita sejak dari saat kita menerima penderitaan dalam semangat iman, demi kasih kepada Allah.


PERCAKAPAN

Aku melihat Engkau, ya Yesus, Pembimbing-ku, meninggikan standard Salib dan penuh kasih mengatakan kepadaku: `Terimalah salib yang Aku ulurkan kepadamu, dan tak peduli betapa berat salib ini tampaknya bagimu, ikutilah Aku dan janganlah ragu.' Sebagai tanggapan atas undangan-Mu, aku berjanji kepada-Mu, ya Mempelai Surgawi-ku, untuk tak lagi menolak kasih-Mu. Aku melihat-Mu sebagaimana Engkau dulu sedang dalam perjalanan ke Kalvari, dan aku rindu untuk segera mengikuti-Mu.   

“Seperti seorang mempelai perempuan tak akan menyenangkan mempelai laki-lakinya jika ia tidak dengan tekun berupaya agar menjadi serupa dengan pasangannya, demikian juga, ya Yesus, Mempelai-Ku, aku berbulat hati sekarang dan untuk selamanya, untuk secermat mungkin meneladani-Mu dan untuk menyalibkan diriku sepenuhnya bersama-Mu… Aku akan menganggap klausura, Kalvari-ku; ketaatan harian, salibku; dan ketiga kaul, paku-pakuku. Aku tak mengharapkan penghiburan apapun selain dari yang berasal dari-Mu, tidak sekarang, tetapi di surga; apa yang aku pedulikan apakah aku melewatkan hidup yang bahagia atau tidak adalah sepanjang aku mengamalkan hidup religius. Dengan rela aku menyerahkan hatiku pada penderitaan, dukacita, dan kerja. Aku bahagia dengan tidak bahagia, sebab puasa dalam hidup ini mendahului perjamuan abadi yang menantiku.

“Semua ini tak ada artinya, ya Allah-ku, demi mendapatkan Engkau, yang mengandung segala kebaikan. Tiada pencobaan akan tampak sulit pun tiada aku akan berpaling karena kesulitan-kesulitan yang mungkin aku hadapi; aku rindu menerima kepahitan dan segala bentuk salib dengan siap sedia” (bdk. St Teresa Margareta, Spiritualitas).

“Ya Tuhan, adakah, di antara segala karya-Mu, satu saja yang tidak ditujukan demi kebaikan terluhur jiwa yang Engkau anggap sebagai milik-Mu, sebab jiwa telah menyerahkan diri dalam pelayanan kepada-Mu, mengikuti-Mu ke manapun, bahkan hingga mati di Salib, berbulat hati untuk membantu-Mu memikul beban-Mu dan tiada pernah meninggalkan-Mu sendirian? … Aku mengandalkan kebaikan-Mu… Hantarlah aku kemanapun Engkau kehendaki; aku bukan lagi milikku sendiri, melainkan milik-Mu. Perbuatlah terhadapku, ya Tuhan, apa yang Engkau kehendaki; aku mohon hanya rahmat untuk tidak pernah menghinakan-Mu. Aku rindu menderita, ya Tuhan, sebab Engkau, juga, telah menderita (bdk. St Theresia dari Yesus, Hidup, 11)    


sumber :Divine Intimacy: The Daily Cross by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”