|
Keakraban Ilahi:
NILAI PENDERITAAN
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.
Ya Yesus Tersalib, ajarilah aku keheningan Salib; buatlah aku mengerti nilai penderitaan.
MEDITASI
1. Sengsara Yesus mengajarkan kepada kita dengan suatu cara yang konkrit bahwa dalam kehidupan Kristiani kita harus dapat menerima penderitaan demi kasih kepada Allah. Ini suatu pelajaran yang berat dan mengerikan bagi kodrat kita, yang condong pada kesenangan dan kebahagiaan; akan tetapi, ini berasal dari Yesus, Guru kebenaran dan hidup, Guru terkasih dari jiwa-jiwa kita, yang menghendaki hanya kebaikan sejati bagi kita. Jika Ia memberikan penderitaan kepada kita, ini adalah karena penderitaan mengandung suatu harta pusaka.
Penderitaan itu sendiri adalah suatu yang buruk dan tidak menyenangkan; jika Yesus berkehendak untuk memeluknya dalam segala kepenuhannya dan jika Ia menawarkannya kepada kita, mengundang kita untuk menghargai dan mencintainya, ini dalam pandangan suatu kebaikan mulia yang tak dapat dicapai dengan cara-cara lain - kebaikan luhur penebusan dan pengudusan jiwa-jiwa kita.
Meski manusia, dengan kedua kodratnya, merupakan obyek penderitaan, Allah berkehendak membebaskan leluhur pertama kita dari penderitaan melalui anugerah-anugerah preternatural mereka; namun karena dosa, anugerah-anugerah ini hilang untuk selamanya, dan penderitaan secara tak terhindarkan memasuki hidup kita. Keseluruhan penderitaan yang telah menyengsarakan manusia merupakan akibat langsung dari ketidak-teraturan yang diakibatkan oleh dosa, bukan hanya oleh dosa asal, melainkan juga oleh dosa-dosa aktual. Kendati demikian Gereja bermadah: Sungguh menguntungkanlah dosa! Mengapa? Jawabannya terletak dalam kasih tak terhingga Allah yang mengubah segalanya dan menarik dari kejahatan dosa dan penderitaan, kebaikan luhur penebusan umat manusia. Ketika Yesus menimpakan atas diri-Nya dosa-dosa umat manusia, Ia juga menimpakan konsekuensi-konsekuensinya, yakni, penderitaan dan maut; dan penderitaan ini, yang dipeluk-Nya sepanjang seluruh masa hidup-Nya, dan teristimewa dalam Sengsara-Nya, menjadi alat penebusan kita. Sakit, akibat dosa, dalam Yesus dan bersama Yesus, menjadi sarana memusnahkan dosa itu sendiri. Dengan demikian seorang Kristen hendaknya tidak memandang sakit hanya sebagai suatu beban yang tidak diinginkan yang membuatnya berkecut hati, melainkan ia harus melihat lebih jauh ke dalamnya - suatu sarana penebusan dan pengudusan.
2. Penderitaan adalah perasaan tak menyenangkan yang kita alami ketika sesuatu - situasi, keadaan - tidak selaras dengan kecondongan-kecondongan hati kita, kepentingan-kepentingan kita, harapan-harapan kita; yang tidak selaras dengannya atau memuaskannya, tetapi sebaliknya, bertentangan dan berlawanan dengannya. Sementara semua orang merupakan obyek dari kemalangan ini, hanya umat Kristiani yang memiliki rahasia untuk menerimanya dalam hidupnya tanpa menyingkirkan keharmonisan atau kebahagiaan yang dapat ia nikmati, dengan menyelaraskan segala bentuk penderitaan dengan aspirasi-aspirasi pribadinya, yang, baginya, tak pernah dapat dibatasi pada suatu prinsip kebahagiaan duniawi. Keharmonisan ini mungkin, sebab apa yang tampak sebagai perlawanan dan pertentangan dari sudut pandang manusia, kerap kali berbalik menjadi ketuntungan apabila dilihat dari terang yang berbeda. Jadi, misalnya, penderitaan jasmani, kedinginan, kelaparan, sakit-penyakit, meski tak mengenakkan bagi jasmani, namun dapat sangat berguna untuk mencapai suatu kebaikan moral atau rohani, seperti mencapai keutamaan, atau kemajuan dalam kekudusan. Jika, dari sudut pandang murni manusia, sebagian penderitaan tampak merugikan dan tak berguna, tidak pernahlah demikian adanya apabila dipandang dari sudut pandang rohani. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Bahkan kemalangan terdahsyat, pribadi ataupun umum, dapat menjadi sarana-sarana yang berharga dan paling efektif dalam mengangkat jiwa. Jadi, segala bentuk penderitaan dapat dijadikan selaras dengan gagasan-gagasan terluhur Kristiani: keselamatan kekal, kekudusan, kemuliaan Allah, kebaikan jiwa-jiwa. Tetapi keselarasan ini mustahil tanpa kasih; atau lebih tepatnya, hanya mungkin sebanding dengan kasih kita, sebab hanya dengan kasih saja Yesus mengubah Salib, suatu alat siksa yang ngeri, menjadi alat yang paling berdaya-guna demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia. Sama halnya dengan kita: belas kasihan, kasih kepada Allah dan kepada jiwa-jiwa, akan memampukan kita untuk menerima segala bentuk penderitaan, menyelaraskannya dengan aspirasi-aspirasi tertinggi kita. Dengan cara ini, penderitaan mendapatkan tempat, suatu tempat yang sangat penting, dalam hidup kita, tanpa menyingkirkan damai dan ketenangan kita. Sebaliknya, roh kita terbuka di bawah inspirasi yang semakin murah hati, kepada suatu kasih yang terlebih luhur. Sebagai dampaknya, kita akan bahagia, bahkan sementara kita mengalami sakit. Lihatlah bagaimana Yesus telah mengubah penderitaan; lihatlah nilai yang didatangkan atasnya oleh sengsara-Nya.
PERCAKAPAN
“Ya Tuhan, Engkau tak suka membuat kami menderita, tetapi Engkau tahu itulah satu-satunya jalan untuk mempersiapkan kami mengenal Engkau sebagaimana Engkau mengenal Diri-Mu Sendiri, untuk mempersiapkan kami menjadi serupa dengan-Mu. Engkau tahu benar bahwa jika Engkau mengirimkan kepadaku bayang-bayang kebahagiaan duniawi, aku akan bertaut kepadanya dengan segenap hatiku, dan jadi Engkau menolakku bahkan bayangan ini … sebab Engkau menghendaki hatiku sepenuhnya milik-Mu.
“Hidup berlalu begitu cepat hingga jelaslah lebih baik memiliki mahkota yang terindah dan sedikit penderitaan, daripada mahkota yang biasa-biasa saja dan tanpa penderitaan. Apabila aku merenungkan bahwa, dengan suatu dukacita yang ditanggung dengan sukacita, aku akan dapat terlebih mengasihi-Mu sepanjang kekekalan masa, aku mengerti dengan jelas bahwa andai Engkau memberiku seluruh alam semesta, dengan segala harta di dalamnya, itu tak berarti apa-apa dibandingkan dengan penderitaan yang paling ringan. Setiap penderitaan baru, setiap sayatan di hati, adalah angin sepoi-sepoi yang ditanggung untuk-Mu, ya Yesus, keharuman jiwa yang mengasihi-Mu; maka Engkau akan tersenyum penuh kasih, dan segera menyiapkan suatu duka baru, dan mengisi piala hingga meluap, dengan memikirkan bahwa semakin jiwa bertumbuh dalam kasih, semakin ia harus bertumbuh pula dalam penderitaan.
“Betapa anugerah, ya Yesus-ku, dan betapa pastilah Engkau sungguh mengasihiku hingga mengirimkan kepadaku penderitaan! Kekekalan itu sendiri tak akan cukup lama untuk memberkati-Mu karenanya. Mengapakah kesukaan ini? Inilah rahasia yang akan Engkau singkapkan kepadaku dalam rumah surgawi kita pada hari ketika Engkau akan menghapus segala airmata kami.
“Tuhan, Engkau meminta padaku penderitaan ini, dukacita ini... Engkau memerlukannya bagi jiwa-jiwa, bagi jiwaku. Ya Yesus, sebab Engkau telah membuatku mengerti bahwa Engkau akan memberiku jiwa-jiwa melalui Salib, semakin banyak salib yang aku jumpai, semakin berkobar dahagaku untuk menderita.
“Aku tidak bahagia tidak dibebaskan dari penderitaan di sini; penderitaan yang dipersatukan dengan kasih adalah satu-satunya hal yang tampaknya aku dambakan di lembah airmata ini” (St Thérèse dari Kanak-kanak Yesus, Surat-surat, 32, 50, 23, 40, 58, 224 - Kisah Suatu Jiwa).
sumber : “Divine Intimacy: The Value of Suffering by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|