Kerendahan Hati dan Kelemah-lembutan
oleh: St Fransiskus de Sales


Krisma Suci, yang dipergunakan Gereja seturut tradisi apostolik, terbuat dari minyak zaitun yang dicampur dengan balsam, yang, di antara lainnya, melambangkan dua keutamaan yang secara istimewa amat mencolok dalam diri Tuhan Sendiri, dan yang secara khusus diperintahkannya kepada kita, seolah keduanya, di atas segalanya, menarik kita kepada-Nya dan mengajar kita untuk meneladani-Nya: Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.    

Kerendahan hati menjadikan hidup kita berkenan bagi Allah, kelemah-lembutan menjadikan kita berkenan bagi manusia. Balsam, sebagaimana saya katakan sebelumnya, yang tenggelam di dasar segala cairan, merupakan gambaran dari kerendahan hati; dan minyak, yang mengapung di atas, merupakan gambaran dari kelemah-lembutan dan sukacita, melambung di atas segala yang lain, dan mengatasi segala yang lain, bunga dari Kasih itu sendiri, yang, demikian kata St Bernardus, sampai pada kesempurnaan apabila tidak hanya sekedar sabar, melainkan lemah-lembut dan penuh sukacita. Jadi perhatikanlah, puteri, bahwa engkau harus memelihara karisma mistik kelemah-lembutan dan kerendahan hati ini dalam hatimu, sebab ini merupakan muslihat favorit musuh untuk membuat manusia puas dengan apa yang tampak dari lahir serupa dengan karunia-karunia ini, tanpa memeriksa batin mereka, dan dengan demikian mengira diri sebagai lemah-lembut dan rendah hati sementara sesungguhnya mereka jauh dari itu. Dan ini mudah dilihat, sebab, kendati lagak lemah-lembut dan rendah hati, mereka digelisahkan oleh kesombongan dan kemarahan karena kesalahan atau pertentangan paling remeh sekalipun.

Apabila, ketika diserang dengan makian atau perlakuan yang tak menyenangkan, kesombongan kita menjadi terusik dan kita meledak dalam murka, ini merupakan bukti bahwa kelemah-lembutan dan kerendahan hati kita tidaklah sungguh, dan sekedar berpura-pura. Ketika Patriark Yusuf mengirimkan saudara-saudaranya kembali dari Mesir ke rumah ayahnya, ia hanya memberi mereka satu nasehat Janganlah berbantah-bantah di jalan.

Tentu saja merupakan suatu kewajiban untuk menolak yang jahat dan untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan dari mereka atas siapa kita dituntut tanggung jawab, sedikit demi sedikit namun pasti, tetapi dengan lemah-lembut dan tenang. Tak ada suatupun yang dapat menenangkan si gajah ketika murka seperti saat si gajah melihat anak domba; demikian pula tak ada suatupun yang dapat mematahkan kedahsyatan peluru meriam sebaik wool. Koreksi yang diberikan dalam kemarahan, meski diperlembut dengan akal sehat, tiada pernah mendatangkan dampak seefektif koreksi yang diberikan sama sekali tanpa kemarahan; sebab jiwa yang berakal budi yang secara alamiah tunduk pada akal budi, hanyalah sekedar kekejian yang menundukkan akal budi pada hawa nafsu, dan di manapun akal budi dipimpin oleh hawa nafsu, ia menjadi mengerikan.    

Berdasarkan itu, adalah lebih baik untuk belajar bagaimana hidup tanpa menjadi marah daripada mengandaikan orang dapat berpikiran sehat dan mengendalikan amarahnya dengan benar; dan jika melalui kelemahan dan kerapuhan orang dikuasai oleh kemarahan, adalah jauh lebih baik untuk mengenyahkan kemarahan secara paksa daripada bersepakat dengannya; sebab memberikan jalan betapapun kecilnya pada kemarahan, maka ia akan menjadi tuan, bagai si ular, yang dengan mudah bergerak dengan badannya di manapun begitu si ular dapat memasukkan kepalanya. Kalian akan bertanya bagaimana mengenyahkan kemarahan. Anakku, ketika engkau merasakan gerakan-gerakan pertamanya, pusatkanlah dirimu dengan lembut dan sungguh, bukan dengan gegabah atau sembrono. Terkadang dalam ruang pengadilan para pejabat yang bertugas menenangkan jalannya sidang membuat lebih banyak keributan daripada orang-orang yang mereka usaha tenangkan; dan jadi, jika engkau ceroboh dalam mengendalikan kemarahanmu, engkau akan mencampakkan hatimu ke dalam kekacauan yang terlebih parah dari sebelumnya, dan, di tengah kehebohan, ia akan kehilangan segala kendali diri.

Dengan menenangkan dirimu seperti itu, ikutilah nasehat yang diberikan St Agustinus yang telah lanjut usia kepada Uskup Auxilius yang lebih muda. “Lakukanlah,” demikian katanya, “apa yang harus dilakukan manusia.” Seperti pemazmur yang siap berseru, Mataku mengidap karena sakit hati. Yang aku maksud, ketika kita merasa digalaukan oleh kemarahan, hendaknyalah kita memohon pertolongan Allah, seperti para rasul, ketika mereka diombang-ambingkan angin sakal dan badai, dan Ia pasti mengatakan, Tenanglah! Tetapi bahkan di sini aku hendak mengingatkanmu lagi, bahwa doa-doamu sendiri melawan perasaan marah akan mendorongmu untuk lemah-lembut, tenang dan tanpa berapi-api. Ingatlah kaidah ini dalam obat penawar kemarahan apapun yang engkau cari. Selanjutnya, begitu engkau sadar akan suatu tindak kemarahan, silihlah segera kesalahan dengan tindak kelemah-lembutan terhadap orang yang membangkitkan kemarahanmu. Suatu obat mujarab bagi ketidakbenaran adalah dengan menarik kembali apa yang telah kau salah katakan begitu engkau menyadari kesalahanmu; dan demikian pula, suatu obat yang baik bagi kemarahan adalah dengan segera memperbaikinya lewat tindak kelemah-lembutan. Ada suatu pepatah kuno yang mengatakan bahwa luka-luka baru lebih cepat menutup.

Di samping itu, apabila tiada yang menggalaukan kemarahanmu, himpunlah kelemah-lembutan dan kebaikan hati, berbicara dan bertindak dalam perkara-perkara besar maupun perkara-perkara kecil selemah-lembut mungkin. Ingatlah bahwa Pengantin dalam Kidung Agung digambarkan sebagai tak hanya meneteskan madu, dan susu juga, dari bibirnya, melainkan memilikinya “di bawah lidahnya” artinya, dalam hatinya. Jadi, sepatutnyalah kita tak hanya berbicara lemah-lembut kepada sesama kita, melainkan hendaknyalah kita dipenuhi, hati dan jiwa, dengan kelemah-lembutan; dan hendaknyalah kita tidak hanya mencari kemanisan madu aromatik dalam kesopanan dan keramah-tamahan dengan orang-orang asing, melainkan juga kemanisan susu di antara mereka yang dari kalangan kita sendiri dan dari tetangga kita; suatu kemanisan yang sangat amat kurang bagi sebagian orang yang adalah malaikat-malaikat di luar rumah dan menjadi setan-setan di rumah!


sumber : : “Introduction to the Devout Life” by St Francis de Sales

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net