|
Sempurna
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Hari ini kita merayakan Pesta Santa Perawan Maria diangkat ke Surga atau yang lebih dikenal dengan “Maria Assumpta”. Injil berkisah bahwa Bunda Maria dipuji oleh Elisabet dalam kunjungannya yang sangat dramatis itu. Inilah kata-kata Elisabet:
“Terpujilah engkau di antara perempuan dan terpujilah buah tubuhmu. Siapakah aku ini maka ibu Tuhan-ku berkenan melawati aku? Sebab sesungguhnya, tatkala salammu terdengar olehku, anak dalam rahimku melonjak kegirangan” (Lukas 1:42-44)
Bunda Maria mengunjungi Elisabet dan kunjungan itu membawa kegembiraan kepada keluarga Elisabet. Maka layak dan pantas kalau ia menerima pujian dari Elisabet, saudaranya. Memang sukacita apa pun dalam hidup manusia, mendorong manusia untuk bersyukur, berterima kasih atau memuji. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan pengalaman syukur itu, pujian dan terima kasih yang Bunda Maria terima justru dibawanya ke hadapan Tuhan. Simak kata-kata Bunda Maria:
“Aku mengangungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku.
Sebab Ia memperhatikan hamba-Nya yang hina ini, mulai sekarang aku disebut yang bahagia” (Lukas 1:46-48)
Maria sebagai Teladan Iman
Pada zaman ini makin banyak pengikut Kristus melihat Bunda Maria sebagai teladan iman. Dan memang benar karena seluruh kehidupan Bunda Maria tidak bisa lepas dari yang namanya iman kepercayan itu; karena percaya ia menerima kabar sukacita dari malaikat, karena percaya ia pergi mengunjungi Elisabet, karena percaya ia menyimpan semua perkara itu dalam hati dan karena percaya ia berdiri di bawah kaki Salib Putranya. Jadi kalau iman Maria sedemikian kuat dan sempurna maka ia pantas dan layak dijadikan teladan iman.
Zaman sekarang manusia kehilangan dan merindukan figur atau teladan. Dunia menjadi kacau balau karena di sana-sini orang tidak menemukan keteladanan, contoh hidup. Banyak orang menjadi idola, tetapi sesudah sekian waktu menjadi basi dan cenderung menjadi batu sandungan. Kaum muda punya banyak idola tetapi kadang kehidupan tokoh idola justru membuat mereka tergoda jatuh atau sekurang-kurangnya bingung. Keteladanan, contoh hidup adalah elemen penting dan mendasar yang harus ada dalam diri seorang tokoh idola.
Bunda Maria dalam seluruh hidupnya mengungkapkan iman secara sempurna, dan ia hidup bukan hanya bersama tetapi dari Putranya. Kata-kata indah pernah ditulis seorang teolog:
“Bunda Maria membawa Yesus. Ia masih membawa-Nya dalam dirinya bagaikan dalam sebuah sibori, dimana Yesus tinggal tersembunyi. Ia menjadi suatu monstrans yang akan menunjukkan Anaknya. Sekarang sudah dapat dilihat bahwa ia mengandung. Maria membawa Yesus, tetapi ia juga dibawa oleh Yesus; Ia membawa Penciptanya, yang mengunggulinya.”
Membawa Yesus Dalam Hidup Kita
Sebagai orang percaya, kita diajak seperti Bunda Maria membawa Tuhan Yesus dalam seluruh hidup kita. Karena Yesus itulah yang menjamin hidup kita, yang menguatkan kepribadian dan harkat kita sebagai anak-anak Allah.
Seperti Bunda Maria kita pun harus berbuat baik kepada orang lain, membawa kegembiraan, mengunjungi orang lain. Semua hal itu sangat indah dan menyenangkan dan betapa kita pun sering mendapat pujian karena tindakan-tindakan itu; tetapi baiklah kita tidak mengejar untuk dipuji atau dikagumi orang. Menerima dan menyimpan pujian dari orang lain untuk diri kita sendiri hanya membuat kita menjadi angkuh dan sombong. Sifat jelek ini pada gilirannya akan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan sesama. Sebaliknya, kita justru ingin tetap setia bersyukur dan membawa semua pujian itu kepada Tuhan, karena Ia “melakukan perbuatan-perbuatan itu” dalam diri kita.
Kesempurnaan iman Bunda Maria, bukan karena ia hebat atau pintar ataupun kaya, tetapi karena kerendahan hatinya ia mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Seorang pengikut Kristus akan sampai pada kebajikan iman seperti itu kalau ada kerendahan hati dalam dirinya.
Bunda Maria, doakanlah kami dan hantarkanlah kami lebih dekat kepada Yesus Putramu. Amin.
|