116. YESUS BERBICARA KEPADA NIKODEMUS, MALAM HARI, DI GETSEMANI   


24 Februari 1945

Yesus berada di dapur sebuah rumah kecil di hutan kecil zaitun, sedang bersantap malam bersama para murid-Nya. Mereka berbicara mengenai peristiwa-peristiwa hari itu, yang, meski demikian, bukanlah peristiwa istimewa yang baru saja diceritakan, sebab aku mendengar mereka berbicara mengenai peristiwa-peristiwa lain, di antaranya penyembuhan seorang kusta dekat pemakaman, sepanjang jalan Betfage.

"Ada juga seorang centurion Romawi yang melihat," kata Bartolomeus. Dan dia melanjutkan: "Dia bertanya kepadaku, sementara duduk di atas kudanya: 'Apakah orang yang kau ikuti itu sering melakukan hal-hal seperti itu?' dan ketika aku mengiyakan, dia berseru: 'Jadi Ia lebih besar dari Aesculapius dan akan lebih kaya dari Croesus.' Aku jawab: 'Ia akan selalu miskin, menurut dunia, sebab Ia tidak pernah menerima, melainkan memberi dan hanya menginginkan jiwa-jiwa untuk dibawa kepada Allah yang benar.' Sang centurion menatap padaku keheranan, lalu menghela kudanya dan berderap pergi."

"Ada juga seorang perempuan Romawi dalam sebuah tandu. Pastilah seorang perempuan. Tirainya tidak dibuka, tapi dia mengintip melaluinya. Aku melihatnya," kata Tomas.

"Ya, dekat ujung belokan jalan. Dia menyuruh mereka berhenti ketika si kusta berteriak: 'Putra Daud, kasihanilah aku!' Salah satu tirainya lalu disingkapkan dan aku melihatnya melihat pada-Mu melalui sebuah teropong yang mahal, lalu dia tertawa ironis. Tapi ketika dia melihat bahwa Engkau menyembuhkannya hanya dengan memberikan suatu perintah, dia memanggilku dan bertanya: 'Apakah Ia yang mereka sebut Mesias sejati?' Aku jawab "Ya' dan dia berkata kepadaku: 'Apakah kau bersama-Nya?' dan lalu dia bertanya: 'Apakah Ia sungguh baik?'" kata Yohanes.

"Jadi kau melihatnya! Seperti apakah dia?" tanya Petrus dan Yudas.

"Yah!... Seperti perempuan…"

"Wow, suatu penemuan besar!" kata Petrus tertawa. Dan Iskariot mendesak: "Tapi apakah dia cantik, muda, kaya?"

"Ya. Aku pikir dia muda dan juga cantik. Tapi aku lebih memperhatikan Yesus daripada aku memperhatikan dia. Aku ingin melihat apakah Guru akan segera berangkat kembali…"

"Bodoh!" gumam Yudas di antara giginya.

"Kenapa?" tanya Yakobus Zebedeus membela saudaranya. "Saudaraku ini bukan seorang pesolek yang sedang mencari cinta. Dia menjawab demi sopan-santun. Tapi dia tidak kurang dalam kualitas pertamanya."

"Kualitas apa?' tanya Iskariot.

"Kualitas seorang murid, yang kasih satu-satunya adalah Guru."

Yudas, yang sangat marah, menundukkan kepalanya.

"Bagaimanapun… bukan suatu hal yang baik terlihat berbicara dengan orang-orang Romawi," kata Filipus. "Mereka sudah mendakwa kita orang-orang Galilea, dan karenanya kurang 'murni' dibandingkan orang-orang Yudea. Dan itu karena kelahiran kita. Kemudian mereka mendakwa kita karena sering tinggal di Tiberias, tempat pertemuan orang-orang non-Yahudi, Romawi, Fenisia, Siria… dan lalu… oh! betapa banyak hal yang mereka dakwakan kepada kita!..."

"Kau baik, Filipus, dan kau menarik selubung ke atas kepahitan kebenaran yang kau katakan. Tapi kebenarannya, tanpa selubung, adalah ini: betapa banyak hal yang mereka dakwakan kepada-Ku," kata Yesus Yang sejauh ini diam saja.

"Bagaimanapun, mereka tidak sepenuhnya salah. Terlalu banyak kontak dengan orang-orang kafir," kata Iskariot.

"Apakah kau pikir mereka yang kafir hanya mereka yang tidak memiliki hukum Musa?" tanya Yesus.

"Yah, siapa lagi?"

"Yudas!... Dapatkah kau bersumpah atas nama Allah kita bahwa kau tidak punya kekafiran dalam hatimu? Dan dapatkah kau bersumpah bahwa orang-orang Israel yang paling terkemuka tidak memilikinya?"

"Guru… aku tidak tahu mengenai yang lain… tapi aku dapat bersumpah sejauh menyangkut diriku sendiri."

"Menurutmu, apakah itu kekafiran?" tanya Yesus lagi.

"Adalah mengikuti agama yang sesat, adalah menyembah dewa-dewa," jawab Yudas sengit.

"Yang mana?"

"Dewa-dewa Yunani dan Romawi, dewa-dewa Mesir… yakni dewa-dewa dengan ribuan nama, dan orang-orang yang tidak ada, yang menurut kaum kafir, mengisi Olympus mereka."

"Tidak ada allah lain yang ada? Hanya dewa-dewa Olympus?"

"Yang mana lagi? Bukankah itu sudah terlalu banyak?"

"Terlalu banyak, ya. Tapi ada banyak lagi dan dupa-dupa dibakar di altar-altar mereka oleh setiap orang, juga oleh imam-imam, ahli-ahli Taurat, kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Herodian, semua orang Isarel, betul begitu? Bukan itu saja, tapi dibakar juga oleh murid-murid-Ku."

"Ah! Tentu saja tidak!" kata mereka semua.

"Tidak? Sahabat-sahabat-Ku… Siapakah di antara kalian yang tidak mempunyai suatu pemujaan rahasia, atau beberapa pemujaan rahasia? Yang satu pemujaan terhadap keelokan dan kepintaran. Yang lain kebanggaan akan pengetahuannya. Yang lain membakar dupa demi pengharapannya menjadi seorang besar, dari sudut pandang manusia. Yang lain memuja perempuan. Yang lain uang… Yang lain berlutut di hadapan ilmu pengetahuannya… dan sebagainya. Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepadamu bahwa tidak ada manusia yang tidak ternoda oleh pemujaan berhala. Jadi mengapa memandang rendah mereka yang kafir karena kemalangan, sementara kalian tetap kafir dengan kehendak bebasmu sendiri, meski kalian milik Allah yang benar?"

"Tapi kami manusia, Guru," banyak dari antara mereka berseru.

"Itu betul. Jadi… berbelas-kasihanlah kepada semua orang sebab Aku telah datang untuk semua orang dan kalian tidak lebih layak dari Aku."

"Tetapi, kami didakwa dan misi-Mu dihalangi."

"Kendati demikian akan terus dilakukan."    

"Sehubungan dengan perempuan," kata Petrus, yang mungkin karena dia duduk di sebelah Yesus, merasa berbesar hati, bahwa dia sangat baik. "Selama beberapa hari, dan tepatnya sejak Engkau berbicara di Betania pertama kali sesudah kita kembali Yudea, seorang perempuan, sepenuhnya tertutup kerudung, telah mengikuti kita sepanjang waktu. Aku tidak tahu bagaimana dia tahu tujuan-tujuan kita. Aku tahu bahwa dia hampir selalu entah di barisan paling belakang dari orang-orang yang mendengarkan Engkau apabila Engkau berbicara, atau di belakang orang banyak yang mengikuti Engkau apabila Engkau berjalan berkeliling, atau bahkan di belakang kami apabila kami pergi memaklumkan Engkau di penjuru negeri. Di Betania, pertama kalinya, dia berbisik kepadaku dari balik kerudungnya: 'Orang yang katamu akan berbicara, apakah Ia sungguh Yesus dari Nazaret?' Aku jawab kepadanya ya dan sore harinya dia ada di balik sebuah batang pohon mendengarkan Engkau. Lalu aku tidak melihatnya. Tapi sekarang, di sini di Yerusalem, aku melihatnya dua atau tiga kali. Hari ini aku bertanya kepadanya: 'Apakah kau membutuhkan-Nya? Apakah kau sakit? Apakah kau butuh derma?" Dia selalu menggelengkan kepalanya, sebab dia tidak pernah berbicara kepada siapapun."     

"Suatu hari dia bertanya kepadaku: 'Di manakah Yesus tinggal?' dan aku katakan kepadanya: 'Di Getsemani'," kata Yohanes.

"Kau dasar bodoh! Jangan. Kau seharusnya mengatakan: 'Perlihatkan wajahmu. Perkenalkanlah dirimu dan aku akan memberitahumu," kata Iskariot, uring-uringan.

"Tapi kapankah kita pernah menanyakan hal-hal yang seperti itu?!" seru Yohanes, polos dan tak berdosa.

"Kau bisa melihat semua orang lainnya. Dia selalu berkerudung. Dia entah seorang mata-mata atau seorang kusta. Dia tidak boleh mengikuti kita dan tahu mengenai kita. Jika dia memata-matai, itu berbahaya bagi kita. Mungkin dia dibayar oleh Mahkamah Agama untuk itu…"

"Ah! Apakah Mahkamah Agama menggunakan cara-cara seperti itu?" tanya Petrus. "Apakah kau yakin?"

"Hampir pasti. Aku dari Bait Allah dan aku tahu."

"Bagus! Itu tepat sekali dengan apa yang baru dikatakan Guru," kata Petrus.

"Apa?" Yudas sudah merah karena marah.

"Bahwa juga di antara para imam ada orang-orang kafir."

"Apa hubungannya dengan membayar seorang mata-mata?"

"Banyak! Sungguh, terlalu banyak! Mengapakah mereka membayar orang? Untuk menggulingkan Guru dan menang atas-Nya. Jadi mereka menempatkan diri mereka sendiri di atas altar dengan jiwa-jiwa busuk mereka di bawah pakaian mereka yang bersih," jawab Petrus dengan logika yang baik.

"Baik, kenyataannya adalah," potong Yudas, "perempuan itu berbahaya bagi orang banyak dan bagi kita. Bagi orang banyak jika dia seorang kusta, bagi kita jika dia seorang mata-mata."

"Yakni, bagi Dia, pada akhirnya," jawab Petrus.

"Tapi jika Ia jatuh, kita jatuh juga…"

"Ah! Ah!" Petrus tertawa dan mengakhiri: "Dan sang pujaan akan hancur berkeping-keping, jika jatuh, dan kita kehilangan waktu kita, reputasi kita dan mungkin hidup kita, jadi, Ah! Lebih baik berusaha dan jangan membiarkannya jatuh atau… lari sebelum itu terjadi, betul begitu? Sebaliknya aku… lihat, aku memeluk-Nya lebih erat. Jika Ia jatuh, digulingkan oleh para pengkhianat Allah, aku ingin jatuh bersama-Nya," dan Petrus mendekap Yesus dengan tangan-tangannya yang kekar.  

"Aku tidak sadar bahwa aku telah melakukan sesuatu yang sangat membahayakan, Guru," kata Yohanes dengan sangat sedih: ia menatap Yesus. "Pukullah aku, hajar aku, tapi selamatkanlah Diri-Mu. Akan sangat mengerikan jika aku adalah penyebab kematian-Mu!... Aku tidak akan pernah dapat memafkan diriku sendiri. Aku rasa airmata akan meninggalkan bekas-bekas bakar pada pipiku dan menghanguskan mataku. Apa yang sudah aku lakukan ini! Yudas benar: aku ini bodoh."

"Tidak, Yohanes, tidak, dan kau melakukan hal yang benar. Biarkan perempuan itu datang. Selalu. Dan hormatilah kerudungnya. Itu mungkin dikenakan sebagai perlindungan dalam pergulatan antara dosa dan kerinduan akan penebusan. Tahukah kau luka apakah yang diakibatkan atas seorang ketika pergulatan macam itu terjadi? Tahukah kau betapa banyak orang menangis dan menanggung malu? Kau, Yohanes, putera tersayang dengan hati seorang anak yang baik, kau katakan bahwa wajahmu akan berbekas airmata jika kau adalah penyebab kemalangan-Ku. Tapi kau harus tahu bahwa ketika nurani yang hidup kembali mulai menggerogoti daging, yang penuh dosa, guna membinasakan daging dan menang dengan jiwanya, ia harus membakar semua yang tadinya adalah daya tarik bagi daging, dan si makhluk mengeriput dan layu di bawah nyala api yang melalap. Hanya sesudahnya, ketika penebusan selesai, makhluk kedua, yang kudus dan lebih sempurna keindahannya dibentuk kembali, sebab adalah keindahan jiwa yang muncul dari mata, dari senyum, dari suara dan dari kebanggaan jujur di atas kepala ke atas mana pengampunan Allah telah turun dan bercahaya bagai sebuah mahkota."   

"Jadi aku tidak melakukan hal yang salah?..."

"Tidak. Petrus juga tidak. Biarkan perempuan itu. Sekarang kalian semua boleh pergi dan beristirahat. Aku akan tinggal bersama Yohanes dan Simon, kepada siapa Aku ingin berbicara. Pergilah."

Para murid undur diri. Mungkin mereka tidur di penggilingan minyak. Aku tidak tahu. Mereka pergi, dan mereka tentunya tidak kembali ke Yerusalem, di mana gerbang-gerbangnya telah ditutup untuk berjam-jam lamanya.

"Kau katakan, Simon, bahwa Lazarus mengutus Ishak dan Maximinus kepadamu hari ini, ketika Aku sedang di Menara Daud. Apakah yang dia inginkan?"

"Dia ingin mengatakan kepada-Mu bahwa Nikodemus ada di rumahnya dan ingin berbicara kepada-Mu secara rahasia. Aku telah lancang mengatakan: 'Biarkan dia datang. Guru akan menunggunya malam hari.' Engkau dapat sendirian hanya pada malam hari. Itulah sebabnya aku mengatakan kepada-Mu: 'Biarkan mereka semua pergi, terkecuali Yohanes dan aku.' Kita perlu Yohanes untuk pergi ke jembatan Kidron dan menantikan Nikodemus yang berada di salah satu rumah Lazarus, di luar tembok. Aku harus tinggal untuk menerangkan situasi. Apakah aku melakukan hal yang salah?"

"Tidak, kau telah melakukan yang benar. Pergilah, Yohanes, ke tempatmu."

Yesus dan Simon sendirian. Yesus merenung. Simon menghormati keheningan-Nya. Tapi sekonyong-konyong Yesus menginterupsinya dan, seolah Ia sedang menyimpulkan suatu pemikiran batin dalam suara yang keras, Ia berkata: "Ya. Itu hal terbaik yang dapat dilakukan. Ishak, Elia dan yang lainnya sudah cukup untuk menghidupkan gagasan yang semakin dikenal di antara orang-orang yang baik dan sederhana. Untuk para penguasa… Ada cara-cara lain. Ada Lazarus, Khuza, Yusuf, dan yang lainnya… Tapi para penguasa… tidak menginginkan Aku. Mereka gemetar dan takut akan kuasa mereka. Aku akan pergi dari hati Yudea ini, yang semakin dan semakin memusuhi Kristus."

"Apakah kita akan kembali ke Galilea?"

"Tidak, tapi kita akan pergi jauh dari Yerusalem. Yudea perlu diinjili. Dia adalah bagian Israel juga. Tapi di sini, kau lihat apa yang terjadi… Semuanya siap mendakwa Aku. Aku akan undur diri. Dan untuk kedua kalinya…"

"Guru, ini Nikodemus," kata Yohanes yang masuk terlebih dahulu.

Mereka saling menyalami satu sama lain, lalu Simon membawa Yohanes keluar dari dapur, meninggalkan keduanya sendirian.

"Guru, maafkan aku jika aku ingin berbicara kepada-Mu secara rahasia. Aku tidak percaya banyak orang sehubungan dengan Engkau dan aku sendiri. Aku tidak bertindak sepenuhnya atas dasar pengecut. Ini juga demi bijak dan demi keinginan untuk dapat lebih melayani Engkau, daripada jika aku menjadi milik-Mu secara terbuka. Kau punya banyak musuh. Aku adalah seorang dari sedikit orang di sini yang mengagumi Engkau. Aku minta nasehat Lazarus. Lazarus punya kuasa karena kelahirannya, dia disegani karena dia terpandang di kalangan orang-orang Romawi, dia benar di hadapan mata Allah, dia bijak karena pembawaan yang matang dan pengetahuan, dia adalah sahabat sejati-Mu dan sahabat sejatiku. Itulah alasan-alasan mengapa aku ingin berbicara kepadanya. Dan aku gembira bahwa dia sampai pada kesimpulan yang sama sepertiku. Aku memberitahunya mengenai… diskusi terakhir di Mahkamah Agama mengenai Engkau."

"Dakwaan-dakwaan terakhir. Katakan dengan terus terang."

"Dakwaan-dakwaan terakhir. Ya, Guru. Aku baru saja hendak mengatakan: 'Baiklah, aku salah seorang pengikut-Nya juga' supaya setidaknya ada seorang yang berada di pihak-Mu dalam majelis itu. Tapi Yusuf, yang ada di sebelahku, berbisik: 'Diamlah. Janganlah kita mengungkapkan pikiran-pikiran kita. Akan aku jelaskan nanti.' Dan ketika kami keluar dia berkata: 'Lebih baik begitu. Jika mereka tahu bahwa kita adalah murid-Nya, mereka akan menyembunyikan dari kita pemikiran-pemikiran dan keputusan-keputusan mereka, dan itu akan dapat mencelakakan-Nya dan kita. Jika, sebaliknya, mereka pikir bahwa kita hanya ingin tahu mengenai hidup-Nya, mereka tidak akan memakai dalih.' Aku sadar bahwa dia benar. Mereka sangat… jahat! Aku juga punya kepentingan-kepentingan dan kewajiban-kewajibanku… dan Yusuf juga… Engkau mengerti, Guru…"

"Aku tidak mencelamu dalam hal apapun. Aku tengah mengatakan itu kepada Simon, sebelum kau datang kemari. Dan Aku sudah memutuskan untuk pergi dari Yerusalem."

"Engkau membenci kami sebab kami tidak mengasihi Engkau!"

"Tidak. Aku tidak membenci bahkan musuh-musuh-Ku."

"Engkau mengatakannya. Betul. Engkau benar. Betapa menyedihkan untukku dan Yusuf! Dan Lazarus? Apakah yang akan dikatakan Lazarus, yang hari ini telah memutuskan untuk membiarkan Engkau meninggalkan tempat ini dan pergi ke salah satu rumah yang dimilikinya di Sion. Lazarus seorang yang sangat kaya-raya. Sebagian besar kota adalah miliknya, juga banyak tanah di Paletina. Ayahnya, pada kekayaannya sendiri dan pada kekayaan Eucheria, yang berasal dari suku dan keluarga-Mu, menambahkan hadiah dari kaum Romawi kepada pelayan mereka yang setia, dan dia mewariskan suatu warisan yang sangat besar kepada anak-anaknya. Dan yang lebih penting lagi, persahabatan yang terselubung namun kuat dengan Romawi. Tanpa itu, tak seorang pun dapat menyelamatkan rumah tangga dari aniaya, sesudah perilaku aib Maria, perceraiannya, yang diberikan kepadanya hanya karena posisinya, hidupnya yang tak bermoral di kota itu yang ada dalam kuasanya, dan di Tiberias, pelacuran elit yang diubah oleh Romawi dan Atena menjadi sebuah ranjang pelacuran bagi banyak orang yang terpilih. Sungguh, andai Teofilus si orang Siria itu adalah seorang proselyte [= orang yang baru masuk suatu agama] yang lebih percaya, dia tidak akan memberikan kepada anak-anaknya pendidikan Hellenistic [=menyangkut sejarah, budaya dan seni sesudah Aleksander Agung] yang membunuh begitu banyak keutamaan dan menebarkan begitu banyak kenikmatan indera, dan yang, diminum dan dimuntahkan tanpa konsekuensi oleh Lazarus dan teristimewa oleh Marta, tapi yang menjangkiti dan berkembang-biak dalam diri Maria yang tak bermoral dan menjadikannya aib bagi keluarganya dan bagi Palestina! Tidak, tanpa naungan kuasa Romawi, mereka tentu sudah dikutuki lebih dari penderita kusta. Tapi sebab situasinya demikian, mereka beroleh keuntungan darinya."

"Tidak. Aku akan undur diri. Barangsiapa menginginkan Aku akan datang kepada-Ku."

"Aku seharusnya tidak berbicara!" Nikodemus menjadi sedih.

"Tidak. Tunggu dan yakinlah" dan Yesus membuka sebuah pintu dan memanggil: "Simon! Yohanes! Kemarilah."

Kedua murid bergegas masuk.  

"Simon, katakan kepada Nikodemus apa yang sedang Aku katakan kepadamu ketika dia datang."

"Bahwa para gembala sudah cukup untuk orang-orang sederhana, Lazarus, Nikodemus dan Yusuf serta Khuza untuk para penguasa dan bahwa Engkau akan pergi dari Yerusalem tanpa meninggalkan Yudea. Itulah apa yang Engkau katakan. Mengapakah Engkau memintaku untuk mengulanginya? Apakah yang telah terjadi?"

"Tidak ada. Nikodemus takut bahwa Aku mungkin pergi karena apa yang telah dia katakan kepada-Ku."  

"Aku katakan kepada Guru bahwa Mahkamah Agama bersikap semakin dan semakin memusuhi, dan bahwa Ia perlu menempatkan Diri di bawah perlindungan Lazarus. Dia melindungi propertimu sebab Romawi ada di pihaknya. Dia juga akan melindungi Yesus."

"Benar. Suatu nasehat yang baik. Meski kastaku tidak disukai juga oleh Romawi, sepatah kata dari Teofilus telah menyelamatkan propertiku selama pengasinganku dan kustaku. Dan Lazarus sangat bersahabat terhadap-Mu, Guru."

"Aku tahu. Tapi Aku telah memutuskan. Dan Aku melakukan apa yang Aku katakan."

"Jadi, kami akan kehilangan Engkau!"

"Tidak, Nikodemus. Orang-orang dari segala sekte pergi kepada Pembaptis. Orang-orang dari segala sekte dan kedudukan akan dapat datang kepada-Ku."

"Kami datang kepada-Mu sebab kami tahu bahwa Engkau lebih besar dari Yohanes."

"Kau masih bisa datang. Aku akan menjadi seorang rabbi yang berdiri sendiri seperti Yohanes, dan Aku akan berbicara kepada orang banyak yang mau mendengarkan suara Allah dan dapat percaya bahwa Aku adalah Suara itu. Dan yang lainnya akan melupakan Aku. Jika mereka setidaknya dapat melakukan itu."

"Guru, Engkau sedih dan kecewa. Dan Engkau benar. Semua orang mendengarkan Engkau. Dan mereka begitu percaya kepada-Mu hingga mereka memperoleh mukjizat-mukjizat. Bahkan seorang pelayan Herodes, yang kebaikan alamiahnya pastilah sudah dirusakkan oleh istana yang mesum itu, bahkan para prajurit Romawi percaya kepada-Mu. Hanya kami di Sion yang sangat sulit… Tapi tidak semua orang. Engkau tahu… Guru, kami tahu bahwa Engkau telah datang dari Allah, bahwa Engkau adalah UlamaNya, dan bahwa tidak ada yang lebih besar dari Engkau. Juga Gamaliel mengatakannya. Tidak seorang pun dapat mengerjakan mukjizat-mukjizat seperti yang Engkau kerjakan terkecuali Allah bersamanya. Juga orang-orang terpelajar seperti Gamaliel percaya itu. Jadi mengapakah kami tidak dapat memiliki iman yang sama seperti orang-orang Israel yang sederhana? Oh! Katakanlah kepadaku. Aku tidak akan menghianati Engkau, bahkan meski Engkau katakan kepadaku: 'Aku berdusta demi menguatkan perkataan-perkataan bijak-Ku dengan suatu meterai yang tak dapat dicemoohkan seorang pun.' Apakah Engkau Mesias dari Allah? Yang Dinantikan? Sabada Bapa, inkarnasi untuk mengajar dan menebus Israel seturut Perjanjian?"

"Apakah kau menanyakan itu dari dirimu sendiri, atau apakah orang-orang lain mengutusmu untuk menanyakannya?"

"Dari diriku sendiri, Tuhan. Aku mengalami badai dan siksaan dalam diriku. Membedakan angin dan suara-suara. Mengapakah aku, seorang dewasa, tidak memiliki keyakinan Damai seperti yang dimiliki orang ini, meski dia nyaris buta huruf dan seorang anak, keyakinan yang memberikan senyum yang begitu rupa pada wajahnya, terang yang begitu rupa pada matanya, sinar matahari yang begitu rupa pada hatinya? Bagaimanakah kau percaya, Yohanes, untuk dapat begitu yakin? Ajariiah aku, Nak, rahasiamu, dengan sarana-sarana apa kau dapat melihat dan memahami bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias!"

Wajah Yohanes menjadi semerah strawberry, lalu dia menundukkan kepalanya, seolah dia sedang meminta maaf atas pernyataan yang begitu mulia, dan menjawab rendah hati: "Dengan mengasihi."

"Dengan mengasihi! Dan bagaimana denganmu, Simon, seorang yang lurus hati, di ambang usia senjamu, kau, seorang terpelajar, yang sudah lelah dibujuk untuk takut akan dusta di mana-mana?"

"Dengan meditasi."

"Mengasihi! Meditasi! Aku juga mengasihi dan meditasi dan aku masih belum yakin!"

Yesus memotong dengan mengatakan: "Akan Aku katakan kepadamu suatu rahasia sejati. Mereka tahu bagaimana dilahirkan kembali, dengan roh yang baru, bebas dari segala ikatan, perawan dalam segala gagasan. Dan karenanya mereka memahami Allah. Jika orang tidak dilahirkan kembali, orang tidak dapat melihat Kerajaan Allah ataupun percaya pada Rajanya."

"Bagaimanakah seorang yang telah dewasa dapat dilahirkan kembali? Sesudah dilahirkan dari rahim ibunya, orang tidak dapat masuk kembali ke dalamnya. Apakah Engkau mungkin merujuk pada reinkarnasi, yang dipercayai banyak kaum kafir? Tidak, tidak mungkin. Bagaimanapun pastilah bukan masuk kembali ke dalam rahim, melainkan suatu reinkarnasi di luar waktu. Yakni, bukan sekarang. Bagaimana?"

"Tidak ada selain satu kehidupan tubuh di dunia dan hanya satu kehidupan abadi jiwa di luar dunia. Sekarang Aku tidak sedang berbicara mengenai darah dan daging, melainkan mengenai roh yang abadi, yang dilahirkan pada kehidupan sejati melalui dua hal: melalui air dan Roh. Tapi yang lebih besar adalah Roh; tanpa Roh air hanyalah suatu simbol. Dia yang telah dibasuh melalui air, lalu harus memurnikan dirinya melalui Roh dan melalui Roh dia harus menjadi menyala dan bercahaya, jika dia ingin untuk hidup dalam pelukan Allah di sini dan dalam Kerajaan abadi. Sebab apa yang dilahirkan dari daging, adalah dan akan tetap daging, dan mati bersama daging sesudah melayaninya dalam nafsu dagingnya dan dosa-dosanya. Tetapi apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh dan hidupnya kembali kepada Roh darimana dia dilahirkan, sesudah membesarkan rohnya sendiri ke kematangan yang sempurna. Kerajaan Surga akan didiami hanya oleh mereka yang telah mencapai kematangan rohani yang sempurna. Oleh karenanya, janganlah terkejut jika Aku katakan: 'Adalah perlu bagimu untuk dilahirkan kembali.' Kedua murid ini tahu bagaimana dilahirkan kembali. Yang lebih muda menundukkan daging dan menyebabkan rohnya hidup kembali dengan menempatkan egonya pada pancang kasih. Semua yang lainnya dibakar. Dari abu di sana muncullah bunga rohaninya yang segar, sekuntum helianthus [= jenis bunga matahari] yang mengagumkan yang mengarah ke Matahari abadi. Yang lebih tua menempatkan kapak dari meditasi jujurnya pada akar dari cara berpikirnya yang lama, dia mencabut tanaman yang lama dengan meninggalkan hanya tunas kehendak baik, dengan mana dia menyebabkan pikiran-pikiran barunya dilahirkan. Dia sekarang mengasihi Allah dengan suatu roh yang baru dan melihat-Nya. Setiap orang punya caranya sendiri untuk tiba di pelabuhan.  

Setiap angin adalah baik asalkan orang tahu bagaimana membentangkan layar - Kau merasakan angin bertiup, dan seturut arahnya kau dapat menyelaraskan talinya. Tapi kau tak dapat mengatakan darimana angin datang, demikian pula kau tak dapat memanggil angin yang kau butuhkan. Juga Roh memanggil dan Roh datang memanggil dan berlalu. Tapi hanya yang siaga dapat mengikutinya. Seorang anak mengenal suara ayahnya, roh tahu suara Roh darimana dia dilahirkan."

"Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"

"Kau, seorang pengajar di Israel, bertanya kepada-Ku? Tidak mengertikah kau hal-hal ini? Kami berbicara dan bersaksi atas apa yang kami tahu dan kami lihat. Jadi, sekarang, aku berbicara dan bersaksi atas apa yang Aku tahu. Bagaimanakah kau akan pernah dapat percaya akan apa yang tidak kau lihat, jika kau tidak percaya akan kesaksian yang Aku sampaikan kepadamu? Bagaimanakah kau dapat percaya kepada Roh, jika kau tidak percaya kepada Inkarnasi Sabda? Aku telah turun untuk naik kembali dan membawa bersama-Ku mereka yang ada di bawah sini. Hanya Ia yang turun dari Surga: Putra Manusia. Dan hanya Ia yang akan naik ke Surga dengan kuasa untuk membuka Surga: Aku, Putra Manusia. Ingatlah Musa. Dia meninggikan seekor ular di padang gurun untuk menyembuhkan penyakit Israel. Ketika Aku ditinggikan, mereka yang sekarang buta, tuli, bisu, gila, kusta, sakit karena demam dosa, akan disembuhkan dan barangsiapa percaya kepada-Ku akan memiliki hidup abadi. Juga mereka yang percaya kepada-Ku, akan memiliki hidup bahagia itu. Janganlah mengernyitkan dahimu, Nikodemus. Aku telah datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghilangkan. Allah tidak mengutus Putra TunggalNya ke dalam dunia supaya mereka yang ada di dunia dapat dihukum, melainkan supaya dunia dapat diselamatkan melalui Dia. Dalam dunia Aku telah menemukan segala dosa, segala bidaah, segala pemujaan berhala. Tapi dapatkah burung layang-layang yang terbang cepat di atas debu mengotori bulu-bulunya dengannya? Tidak. Dia hanya membawa sepanjang jalan-jalan dunia yang menyedihkan suatu partikel dari langit biru, dan harum langit, dia melontarkan panggilan demi membangunkan manusia dan membuat mereka mengangkat mata mereka dari lumpur dan mengikuti terbangnya yang kembali ke langit. Aku melakukan yang serupa. Aku telah datang untuk membawamu bersama-Ku. Datanglah!... Barangsiapa percaya kepada Putra Tunggal tidak akan dihakimi. Dia sudah diselamatkan, sebab Putra berbicara atas namanya kepada Bapa dan berkata: 'Dia mengasihi Aku." Tapi adalah sia-sia melakukan perbuatan-perbutan kudus, jika orang tidak percaya. Dia sudah dihakimi sebab dia tidak percaya dalam nama Putra Tunggal Allah. Yang manakah Nama-Ku, Nikodemus?

"Yesus."

"Bukan. Juruselamat. Aku adalah Keselamatan. Barangsiapa tidak percaya kepada-Ku, menolak keselamatannya dan dihakimi oleh Keadilan abadi. Dan inilah penghakimannya: 'Terang sudah diutus kepadamu dan kepada dunia, demi menyelamatkanmu, tapi kau dan manusia memilih kegelapan daripada terang, sebab kau memilih perbuatan-perbuatan jahat, yang biasa kau lakukan, daripada perbuatan-perbuatan baik yang Ia tunjukkan kepadamu, supaya kau dapat mengikutinya dan menjadi orang kudus.' Kau membenci Terang sebab para pelaku kejahatan mencintai kegelapan bagi kejahatan-kejahatan mereka, dan kau menghindari Terang agar Terang tidak menerangi luka-lukamu yang tersembunyi. Aku tidak menunjuk kepadamu, Nikodemus. Tapi itu adalah kebenaran. Dan hukuman akan sebanding dengan penghakiman, baik untuk pribadi dan untuk komunitas. Sehubungan dengan mereka yang mengasihi Aku, dan mempraktekkan kebenaran yang Aku ajarkan, dan oleh karenanya untuk kedua kalinya dilahirkan dalam roh mereka, oleh suatu kelahiran yang lebih sejati, Aku katakan bahwa mereka tidak takut kepada Terang, sebaliknya mereka menghampiri Terang, sebab terang mereka sendiri meningkatkan Terang yang menerangi mereka, suatu kemuliaan timbal balik yang membuat Allah bahagia dalam anak-anak-Nya dan anak-anak dalam Bapa. Tidak, anak-anak Terang tidak takut diterangi. Bukan, dalam hati mereka dan melalui perbuatan-perbuatan mereka, mereka mengatakan: 'Bukan aku, Ia, Bapa, Ia, Putra, Ia, Roh, yang mengerjakan kebaikan dalam diriku. Kemuliaan bagi Mereka, untuk selama-lamanya.' Dan dari Surga menjawablah madah abadi dari Tiga Yang saling mengasihi satu sama lain dalam Persatuan sempurna mereka: 'Berkat abadi untukmu, anak sejati dari kehendak Kami.' Yohanes, ingatlah kata-kata itu ketika saatnya tiba untuk menuliskannya. Nikodemus, apakah kau yakin?"

"Ya, Guru. Bilakah aku akan dapat berbicara kepada-Mu lagi?"

"Lazarus akan tahu ke mana harus membawamu. Aku akan pergi kepadanya sebelum pergi dari sini."

"Aku pergi, Guru. Berkatilah hamba-Mu."

"Damai-Ku sertamu."

Nikodemus pergi keluar bersama Yohanes.

Yesus berkata kepada Simon: "Apakah kau melihat karya kuasa Kegelapan? Seperti seekor laba-laba, dia menempatkan perangkapnya dan menjerat dan membelenggu mereka yang tidak tahu bagaimana mati supaya dapat dilahirkan kembali seperti seekor kupu-kupu, yang begitu kuat mengoyakkan jaring laba-laba yang gelap dan pergi melintasinya, dengan membawa serta pada sayap-sayapnya yang keemasan helai-helai jaring yang berkilau sebagai tanda mata akan kemenangannya, seperti bendera dan panji-panji yang diambil dari musuh. Mati untuk hidup. Mati untuk memberimu kekuatan untuk mati. Ayo, Simon, dan beristirahatlah. Dan Allah sertamu."  

Semuanya pun berakhir.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 2                     Daftar Istilah                      Halaman Utama