104. YESUS DI KOTA-LAUT MENERIMA SURAT MENGENAI YUNUS   


11 Februari 1945

Yesus berada di kota laut yang indah, yang pada peta memiliki luas yang alami dan teluk yang dilindungi, dengan kapasitas untuk menampung banyak kapal, yang bahkan dibuat lebih aman dengan tembok raksasa pelabuhan. Pastilah kota itu banyak digunakan juga untuk kepentingan militer, sebab aku melihat trireme Romawi [= sejenis perahu kuno yang panjang dan rendah] dengan para prajurit di dalamnya. Mereka sedang turun dari kapal, meski aku tidak tahu apakah karena mereka mengganti pasukan atau karena mereka memperkuat garnisun. Pelabuhan, yakni kota pelabuhan, secara samar mengingatkanku akan Naples, yang didominasi oleh pegunungan Vesuvian.

Yesus sedang duduk dalam sebuah rumah sederhana dekat pelabuhan. Pastilah rumah nelayan, mungkin teman-teman Petrus dan Yohanes, sebab aku melihat bahwa mereka merasa familiar dalam rumah dan dengan para penghuninya. Aku tidak melihat gembala Yusuf. Dan, tentu saja, aku tidak melihat Iskariot, yang masih absen. Yesus berbicara santai kepada para anggota keluarga dan kepada orang-orang lain yang telah datang untuk mendengarkan-Nya. Tapi bukan suatu khotbah sungguhan. Perkataan-Nya penuh nasihat dan penghiburan, sebab hanya itu yang dapat Ia berikan.  

Andreas masuk, ia tampaknya baru datang dari pergi melaksanakan suatu tugas, sebab juga ada beberapa ketul roti dalam tangannya. Wajahnya memerah ketika ia mendekat, sebab pastilah sungguh merupakan suatu siksaan baginya menarik perhatian orang pada dirinya, dan bukan berbicara tapi ia berbisik: "Guru, dapatkah Engkau ikut bersamaku? Di sana.. di sana ada hal baik yang perlu dilakukan. Tapi hanya Engkau yang dapat melakukannya."

Yesus bangkit bahkan tanpa menanyakan apa hal baik itu.

Tapi Petrus bertanya: "Kemana kau hendak membawa-Nya? Ia sangat lelah. Sudah waktunya makan malam. Mereka dapat menunggu-Nya hingga besok."

"Tidak… harus dilakukan segera. Itu…"

"Kenapa kau tidak berbicara, kau rusa yang ketakutan? Bagaimana seorang yang besar dan kuat bisa seperti itu!... Kau kelihatan seperti ikan kcil yang tersangkut dalam jaring!"

Andreas bahkan terlebih memerah lagi wajahnya. Yesus membelanya dengan menariknya kepada DiriNya. "Aku suka dia seperti itu. Biarkan dia. Saudaramu ini seperti air yang menyehatkan. Air bekerja tanpa suara dalam kedalaman, muncul dari tanah seperti suatu aliran yang sangat baik, air itu menyembuhkan mereka yang pergi menghampirinya. Marilah kita pergi, Andreas."

"Aku ikut juga! Aku ingin lihat kemana dia membawa-Mu," desak Petrus.

Andreas memohon: "Tidak, Guru. Hanya Engkau dan aku saja. Jika banyak orang maka mustahil. Ini masalah cinta…"

"Apa itu? Apakah kau sedang bermain paranymph [= seorang teman pergi bersama mempelai laki-laki untuk menjemput mempelai perempuan pasa masa Yunani kuno] sekarang?"

Andreas tidak menjawab saudaranya. Ia berkata kepada Yesus: "Seorang laki-laki ingin menceraikan isterinya dan… dan aku telah berbicara. Tapi aku tak dapat. Tapi jika Engkau yang berbicara… oh! Engkau akan berhasil, sebab laki-laki itu bukanlah seorang yang jahat. Dia… dia… dia akan mengatakannya kepada-Mu."

Yesus pergi keluar bersama Andreas tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Petrus agak bimbang, dia lalu berkata: "Aku akan pergi. Setidaknya aku ingin melihat kemana mereka pergi." Dan ia keluar, meski yang lain mengatakan padanya untuk tidak melakukannya.

Andreas hendak keluar dari sebuah jalanan sempit yang padat. Dan Petrus mengikutinya. Andreas mengelilingi sebuah alun-alun kecil penuh perempuan tua. Dan Petrus mengikutinya. Ia menelusuri perjalanannya melewati sebuah gerbang besar yang terbuka ke sebuah halaman yang luas dikelilingi oleh rumah-rumah kecil miskin yang rendah. Aku menyebutnya gerbang besar sebab ada sebuah bangunan lengkung. Tapi tidak ada pintu. Dan Petrus mengikutinya. Yesus memasuki salah satu rumah kecil itu bersama Andreas. Petrus berjaga-jaga di luar. Seorang perepmuan melihatnya dan bertanya: "Apakah kau sanak Aava? Dan keduanya itu? Apakah kalian datang untuk membawanya pergi?"

"Diamlah, kau, babon yang suka berkotek-kotek! Aku jangan sampai terlihat."

Menyuruh seorang perempuan diam! Suatu tugas yang sulit. Dan sebab Petrus melemparkan tatapan menghina kepadanya, perempuan itu pergi membicarakannya dengan perempuan-perempuan tua lainnya. Petrus yang malang segera dikelilingi oleh sekelompok perempuan, anak-anak dan juga para lelaki, yang sekedar saling menyuruh diam satu sama lain, membuat keributan yang mewartakan kehadiran mereka. Petrus dikuasai amarah… tapi sia-sia.

Suara Yesus yang mantap, tenang dan merdu terdengar dari dalam rumah, bersamaan dengan suara tangis seorang perempuan dan suara kasar seorang laki-laki. "Jika dia selalu adalah seorang istri yang baik, mengapakah menceraikannya? Apakah kau pernah bersalah kepadanya?"

"Tidak, Guru, aku bersumpah untuk itu! Aku mencintainya bagai biji mataku," erang si perempuan.  

Dan si laki-laki, tajam dan keras: "Tidak. Dia tidak pernah bersalah kepadaku terkecuali bahwa dia mandul. Dan aku menginginkan anak-anak. Aku tidak ingin kutukan Allah atas namaku."

"Bukan salah istrimu, jika dia mandul."

"Dia menimpakan kesalahan padaku. Padaku dan pada sanak keluargaku, seolah kami berkhianat…"

"Perempuan, jujurlah. Apakah engkau tahu bahwa kau mandul?"

"Tidak. Aku dulu dan aku sekarang sama seperti semua perempuan lainnya. Juga dokter mengatakan begitu. Tapi aku tidak berhasil mempunyai anak."

"Kau dapat lihat bahwa dia tidak mengkhianatimu. Dia juga menderita karena itu. Maukah kau menjawab dengan jujur juga? Jika dia adalah seorang ibu, apakah kau akan menceraikannya?"

"Tidak. Aku bersumpah. Tidak ada alasan untuk itu. Tapi rabbi mengatakannya, dan juga ahli Taurat: "Seorang perempuan yang mandul adalah kutukan Allah atas sebuah rumah dan adalah hak dan kewajibanmu untuk memberinya surat cerai dan tidak menyia-nyiakan kejantananmu dengan tidak mempunyai anak-anak.' Aku melakukan apa yang ditetapkan Hukum."

"Tidak. Dengarkanlah. Hukum mengatakan: 'Jangan berzinah' dan kau akan melakukannya. Itu adalah perintah yang sebenarnya dan tidak ada yang lain. Dan jika karena kekerasan hatimu Musa memberikan cerai, itu adalah untuk mencegah intrik dan perseliran yang dibenci Allah. Dan lalu kejahatan kalian semakin dan semakin memperluas ketetapan Musa, menciptakan rantai-rantai jahat dan batu-batu perajam yang menjadikan banyak perempuan sekarang, selalu menjadi kurban dari kesombongan kalian, dari nafsu kalian, dari ketulian kalian dan kebutaan kalian terhadap kasih. Aku katakan kepadamu: adalah tidak sah untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan. Tindakanmu adalah penghinaan terhadap Allah. Apakah Abraham mungkin menceraikan Sara? Dan Yakub, Rahel? Dan Elkana, Hana? Dan Manoah, istrinya? Apakah kau tahu Pembaptis? Tahu? Baik: bukankah ibunya mandul hingga usia tuanya dan lalu melahirkan orang kudus Allah, seperti istri Manoah melahirkan Simson, dan Hana istri Elkana melahirkan Samuel, dan Rahel melahirkan Yusuf, dan Sara melahirkan Ishak? Atas kendali diri suami, atas kasihnya kepada istrinya yang mandul, atas kesetiaannya terhadap perkawinan, Allah menganugerahkan suatu ganjaran, dan suatu ganjaran yang dirayakan selama berabad-abad, sebab Ia menganugerahkan penghiburan kepada para perempuan mandul yang menangis, sehingga tidak lagi mandul ataupun sedih, melainkan mulia dalam kegembiraan yang meluap menjadi seorang ibu. Kau tidak boleh menyakiti kasihnya. Jadilah benar dan jujur. Allah akan mengganjari engkau melebihi jasa-jasamu."

"Guru, Engkau adalah satu-satunya yang berbicara demikian... Aku tidak tahu. Aku bertanya kepada para alim ulama dan mereka mengatakan kepadaku: "Lakukanlah." Tapi tidak sepatah kata pun yang memberitahu aku bahwa Allah mengganjari suatu perbuatan baik dengan karunia-karunia. Kami ada dalam tangan mereka… dan mereka menutup mata kami dan hati kami dengan tangan besi. Aku bukan seorang yang jahat, Guru. Janganlah marah terhadapku."

"Aku tidak marah. Aku merasa kasihan terhadapmu lebih dari Aku merasa kasihan terhadap perempuan yang menangis ini. Sebab sakitnya akan berakhir dengan berakhirnya hidupnya. Sementara sakitmu akan dimulai saat itu, yang akan berlangsung untuk selamanya. Renungkanlah itu."

"Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tak ingin itu terjadi. Maukah Engkau bersumpah kepadaku atas nama Allah Abraham bahwa apa yang Engkau katakan itu adalah kebenaran?"

"Aku adalah Kebenaran dan Kebijaksanaan. Barangsiapa percaya kepada-Ku akan memiliki keadilan, kebijaksanaan, kasih dan damai."

"Aku ingin percaya kepada-Mu. Ya, aku ingin percaya kepada-Mu. Aku merasa ada sesuatu dalam DiriMu yang tidak ada dalam diri mereka yang lain. Baiklah. Aku sekarang akan pergi kepada imam dan akan aku katakan kepadanya: 'Aku tak lagi ingin menceraikannya. Aku akan merawatnya dan aku hanya akan memohon Allah untuk menolongku merasa lebih berkurang sakitnya karena tidak memiliki anak.' Aava: janganlah menangis. Kita akan minta Guru datang lagi untuk membuatku baik, dan kau… terus mencintai aku."

Perempuan itu menangis terlebih keras, sebab kontrasnya perbedaan antara dukacita sebelumnya dan sukacitanya sekarang.

Yesus sebaliknya tersenyum. "Janganlah menangis. Tataplah Aku. Lihatlah, perempuan."

Perempuan itu mendongak. Dia melihat kepada wajah-Nya yang bercahaya melalui airmatanya.

"Kemarilah, sobat. Berlututlah di samping istrimu. Aku sekarang akan memberkati kalian dan menguduskan persatuan kalian. Dengarkanlah: 'Tuhan Allah leluhur kami, Yang menjadikan Adam dari debu tanah dan memberinya Hawa sebagai penolong, agar mereka dapat memenuhi bumi dengan manusia, membesarkan mereka dalam takut kudus akan Engkau, turunlah dengan berkat-Mu dan kerahiman-Mu, bukalah dan suburkanlah rahim yang telah ditutup Musuh guna menghantar mereka kepada dosa ganda perzinahan dan keputusasaan. Berbelas-kasihanlah terhadap kedua anak ini, Bapa Yang Kudus, Pencipta Yang Mahamulia. Jadikan mereka bahagia dan kudus. Kiranya dia menjadi sesubur pohon anggur, dan suaminya pelindungnya, sebagaimana pohon elm menopang pohon anggur. Turunlah, o Hidup, untuk memberikan hidup. Turunlah, o Api, untuk mengobarkan. Turunlah, o Kuasa, untuk mengaktifkan. Turunlah! Anugerahkanlah kepada mereka agar pada perayaan syukur atas panen yang berlimpah tahun depan mereka dapat mempersembahkan kepada-Mu buah rahim mereka, anak sulung mereka, seorang anak laki-laki, yang dikuduskan bagi-Mu, Bapa Yang Kekal, Yang memberkati mereka yang berharap pada-Mu.'" Yesus berdoa dengan suara lantang, kedua tangan-Nya terentang di atas kepala mereka yang tertunduk. Orang-orang tak lagi menahan diri dan mereka berkumpul bersama, Petrus berada di depan mereka semua.

"Berdirilah. Milikilah iman dan jadilah kudus."

"Oh! Tinggallah, Guru!" mohon pasangan yang didamaikan kembali itu.

"Aku tak dapat. Aku akan kembali. Aku akan sering ke sini."

"Tinggallah, tinggalah. Berbicaralah juga kepda kami!" teriak khalayak ramai. Yesus memberkati namun tidak berhenti. Ia hanya berjanji untuk kembali segera. Dan dia pergi menuju rumah yang menjamu-Nya, dengan diikuti oleh sekelompok kecil orang.

"Orang yang ingin tahu: apakah yang harus Aku lakukan terhadapmu?" Yesus bertanya kepada Petrus di jalan.

"Terserah Engkau. Akan tetapi, aku di sana…"

Mereka memasuki rumah, membubarkan orang banyak yang menyampaikan komentar-komentar atas perkataan yang mereka dengar, dan mereka pun duduk untuk santap malam.

Petrus masih penasaran. "Guru, apakah sungguh mereka akan memiliki seorang putera?"

"Pernahkah kau melihat Aku menjanjikan hal-hal yang tidak menjadi kenyataan? Apakah kau pikir Aku bebas menggunakan kepercayaan kepada Bapa untuk berbohong dan berdusta?"

"Tidak… tapi… Dapatkah Engkau melakukan itu kepada semua pasangan yang menikah?"

"Ya. Tapi Aku melakukannya hanya di mana Aku melihat bahwa seorang anak dapat menjadi suatu pendorong kepada kekudusan. Aku tidak melakukannya di mana itu akan menjadi suatu penghalang."

Petrus menggaruk-garuk rambutnya yang beruban dan diam.

Gembala Yusuf masuk. Dia berbalut debu seperti orang yang telah melakukan suatu perjalanan jauh.

"Kau? Mengapa kau di sini?" tanya Yesus sesudah suatu cium salam.

"Aku membawa beberapa surat untuk-Mu. BundaMu yang memberikannya kepadaku beserta satu surat dari-Nya. Ini." Dan Yusuf menyerahkan kepada-Nya tiga gulungan kecil dari semacam perkamen tipis, yang diikat dengan sebuah pita kecil. Gulungan yang paling besar juga dimeterai. Gulungan kedua hanya ditali simpul, gulungan ketiga memperlihatkan meterai yang sudah terbuka. "Yang ini dari BundaMu," kata Yusuf, sembari menunjuk pada gulungan dengan tali simpul. Yesus membukanya dan membacanya. Pertama dengan suara pelan dan lalu lantang. "Kepada PutraKu terkasih, damai dan berkat. Seorang utusan dari Betania tiba di sini pukul satu pada hari pertama bulan Elul. Dia adalah gembala Ishak, kepada siapa Aku memberikan cium damai dan makanan atas nama-Mu dan demi rasa terima kasih dari pihak-Ku. Dia membawakan untuk-Ku kedua surat ini yang Aku kirimkan kepada-Mu, dan dia mengatakan bahwa sahabat-Mu Lazarus dari Betania mendesak-Mu untuk menyetujui permintaannya. YesusKu terkasih, Putra dan Tuhan terberkati, Aku juga punya dua permintaan kepada-Mu. Yang satu adalah mengingatkan-Mu bahwa Engka berjanji kepada-Ku untuk memanggil BundaMu yang malang untuk mengajari-Nya Sabda. Yang satunya adalah bahwa sepatutnya Engkau tidak datang ke Nazaret tanpa terlebih dahulu berbicara kepada-Ku."

Yesus sekonyong-konyong berhenti, Ia berdiri, dan menghampiri Yakobus dan Yudas. Ia memeluk erat keduanya dan akhirnya mengulang di luar kepala berita: "Alfeus telah kembali ke pangkuan Abraham pada akhir bulan purnama, dan besarlah duka yang meliputi kota…" Kedua putera itu menangis di dada Yesus, Yang melanjutkan membaca: "Pada saat terakhir dia menginginkan Engkau. Tapi Engkau jauh. Tapi itu adalah suatu penghiburan bagi Maria, yang menganggapnya sebagai suatu tanda akan pengampunan Allah, dan hendaknya itu memberikan damai juga kepada keponakan-keponakan-Ku." Dengarkah kalian? Ia mengatakannya. Dan Ia tahu apa yang Ia katakan."

"Berikanlah suratnya kepadaku," mohon Yakobus.

"Tidak, itu akan menyakitkan hatimu."

"Kenapa? Apakah yang dapat lebih menyakitkan dari kematian seorang ayah?..."

"Bahwa dia mengutuki kita," desah Yudas.

"Tidak. Tidak begitu," kata Yesus.

"Ya, Engkau katakan begitu… agar tidak menusuk hati kami. Tapi memang begitu."

"Kalau begitu, bacalah."

Dan Yudas membaca: "Yesus: Aku mohon pada-Mu, dan juga Maria memohon kepada-Mu; janganlah datang ke Nazaret hingga masa berkabung usai. Kasih mereka kepada Alfeus membuat orang-orang Nazaret tidak adil terhadap Engkau dan BundaMu menangis karena itu. Sahabat baik kita, Alfeus, menghibur-Ku dan menenangkan kota. Laporan dari Asyur dan Ismail mengenai istri Khuza membangkitkan pergolakan besar. Tapi Nazaret sekarang bagaikan satu lautan yang diombang-ambingkan oleh angin yang berbeda. Aku memberkati Engkau, PutraKu, dan Aku mohon damai dan berkat-Mu bagi jiwa-ku. Damai bagi keponakan-keponakan-Ku. Bunda."

Para rasul menyampaikan komentar mereka dan menghibur kedua bersaudara yang menangis.

Tapi Petrus berkata: "Tidakkah Engkau membaca yang itu?"

Yesus mengangguk tanda setuju dan membuka surat Lazarus. Ia memanggil Simon Zelot. Mereka membaca bersama, di suatu pojok. Mereka lalu membuka gulungan yang lain dan membacanya juga, mereka mendiskusikannya di antara mereka sendiri; dan aku melihat Zelot berupaya membujuk Yesus untuk sesuatu, tapi tak berhasil.

Yesus, dengan gulungan-gulungan dalam tangan-Nya, pergi ke tengah ruangan dan mengatakan: "Dengarkanlah, sahabat-sahabat. Kita satu keluarga dan tidak ada rahasia di antara kita. Dan jika adalah suatu tindak belas kasihan untuk menyembunyikan suatu kejahatan, maka adalah suatu keadilan untuk mengatakannya. Dengarkanlah apa yang ditulis oleh Lazarus dari Betania: 'Kepada Tuhan Yesus damai dan berkat, damai dan sehat walafiat bagi sahabatku Simon. Aku menerima surat-Mu dan, sebagai seoran pelayan, aku menempatkan hatiku, perkataanku dan segala prasaranaku demi pelayanan kepada-Mu demi membuat-Mu bahagia dan demi beroleh kehormatan untuk tidak menjadi seorang pelayan yang tak berguna. Aku pergi kepada Doras, ke kastilnya di Yudea, untuk memintanya menjual kepadaku hambanya, Yunus, seperti yang Kau inginkan. Aku akui bahwa jika aku tidak diminta oleh Simon, seorang sahabat karib, atas nama-Mu, aku tak hendak menghadapi serigala yang suka menghina, keji dan jahat. Tapi demi Engkau, Guru-ku dan Sahabat-ku, aku merasa aku dapat menghadapi juga Mamon. Sebab aku pikir bahwa barangsiapa bekerja untuk-Mu, dekat dengan-Mu dan sebagai konsekuensinya dilindungi. Dan aku pastilah telah ditolong, sebab, berlawanan dengan perkiraan, aku menang. Pembicaraan berlangsung sulit dan penolakan-penolakan pertamanya sangat menghinakan. Tiga kali aku harus membungkuk kepada mandor budak yang berkuasa itu. Dia lalu memaksaku untuk menunggu beberapa hari. Akhirnya inilah suratnya. Dia pantas bagai ular berbisa. Dan aku nyaris tak berani mengatakan kepada-Mu: - Menyerahlah untuk mendapatkan tujuan-Mu -, sebab dia tidak layak mendapatkan Engkau. Tapi tak ada cara lain. Aku terima atas nama-Mu dan aku tanda-tangani. Jika aku melakukan yang salah, celalah aku. Tapi yakinlah: aku berusaha melayani Engkau sebaik aku dapat. Kemarin seorang murid Yudea-Mu datang, mengatakan bahwa dia datang atas nama-Mu untuk mencari tahu apakah ada berita untuk disampaikan kepada-Mu. Dia mengatakan bahwa dia adalah Yudas dari Keriot. Tapi aku lebih suka menunggu Ishak untuk mengirimkan surat ini. Dan aku terkejut bahwa Engkau telah mengutus seorang lain, sebab Engkau tahu bahwa Ishak datang ke sini setiap Sabat untuk beristirahat. Tak ada lagi yang harus aku sampaikan kepada-Mu. Hanya, dengan mencium kaki-Mu yang kudus, aku memohon kepada-Mu untuk membawanya kepada pelayan dan sahabat-Mu, Lazarus, seperti yang Engkau janjikan. Semoga sehat walafiat bagi Simon. Kepada-Mu, Guru dan Sahabat, cium damai dan doa mohon berkat. Lazarus.'"

Dan sekarang gulungan yang lain: "Semoga Lazarus sehat walafiat. Aku sudah memutuskan. Kau akan mendapatkan Yunus dengan jumlah dua kali lipat. Tapi aku menentukan syarat berikut dan aku tidak akan mengubahnya untuk alasan apapun. Aku ingin Yunus menuntaskan panen tahunan, jadi dia akan diserahkan pada bulan Tishri, pada akhir bulan. Aku ingin Yesus dari Nazaret untuk datang secara pribadi menjemputnya, dan aku akan meminta-Nya untuk memasuki rumahku, agar aku dapat bertemu dengan-Nya. Aku ingin pembayaran segera sesudah penandatanganan kontrak. Salam. Doras."

"Dasar menyebalkan!" teriak Petrus. "Tapi siapakah yang akan membayar? Aku ingin tahu berapa yang dia inginkan dan kita… kita selalu tanpa sepeser pun!"

"Simon yang membayar. Untuk membuat Aku dan Yunus yang malang berbahagia. Dia membeli hanya keterpurukan orang, yang sama sekali tidak akan melayaninya. Tapi dia beroleh ganjaran besar di Surga."

"Kau? Oh!" Mereka semua terperanjat. Bahkan kedua putera Alfeus lupa akan duka mereka sebab ketercengangan mereka.

"Dia. Adalah adil bila ini diketahui."

"Adalah juga adil bila diketahui mengapa Yudas Iskariot pergi kepada Lazarus. Siapakah yang mengutusnya? Engkau-kah?"

Tetapi Yesus tidak menjawab Petrus. Ia sangat serius dan termenung. Ia keluar dari meditasi-Nya hanya untuk mengatakan: "Berikanlah makanan kepada Yusuf dan lalu marilah kita pergi dan beristirahat. Aku akan menyiapkan jawaban untuk Lazarus… Apakah Ishak masih di Nazaret?"

"Dia menungguku."

"Kita semua akan pergi."

"Tidak. BundaMu mengatakan…" Mereka semua sama sekali bingung.

"Tenanglah. Itulah apa yang Aku inginkan. BundaKu berbicara dengan hati-Nya yang mengasihi. Aku menilai dengan budi-Ku. Aku lebih suka melakukannya sementara Yudas tidak ada. Dan Aku ingin mengulurkan tangan persabahatan kepada sepupu-sepupu-Ku, Simon dan Yusuf, dan berduka bersama mereka sebelum masa berkabung usai. Kemudian kita akan kembali ke Kapernaum, ke Genesaret, yakni ke danau, menantikan akhir bulan Tishri. Dan kita akan membawa kedua Maria bersama kita. Ibumu butuh kasih sayang. Kita akan memberikannya kepadanya. Dan BundaKu butuh damai. Aku adalah damai-Nya."

"Apakah Engkau pikir di Nazaret?..." tanya Petrus.

"Aku tidak berpikir apapun."

"Oh! Baiklah! Sebab, jika mereka menyakiti-Nya, atau menyebabkan-Nya bersedih hati!... Mereka akan harus berhadapan denganku!" kata Petrus sama sekali sedih.

Yesus membelainya, tapi pikiran-Nya menerawang juauh. Ia sedih, dapat aku katakan demikian. Ia lalu pergi di antara Yudas dan Yakobus dan duduk memeluk mereka demi menghibur mereka. Yang lain berbicara dengan suara lirih agar tidak mengganggu duka mereka.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 2                     Daftar Istilah                      Halaman Utama