98. YESUS DI DANAU TIBERIAS. PENGAJARAN KEPADA PARA MURID-NYA DEKAT KOTA YANG SAMA     


5 Februari 1945

Yesus bersama ketigabelas murid-Nya di Danau Galilea. Ada dua buah perahu dengan tujuh orang dalam masing-masing perahu. Yesus berada dalam perahu Petrus, perahu pertama, bersama Petrus, Andreas, Simon, Yusuf dan kedua sepupunya. Di perahu yang lain ada kedua putera Zebedeus bersama Yudas Iskariot, Filipus, Tomas, Natanael dan Matius.

Perahu melaju pesat di Boreas yang sejuk, yang meriakkan airnya dengan sangat lembut; riak-riak air digarisi dengan tabir buih tipis yang menyerupai renda halus di atas danau yang jernih indah berwarna biru turquoise. Perahu-perahu itu meninggalkan di belakang mereka dua jalur ombak, yang nyaris segera menyatu, dengan demikian membentuk suatu busa yang berkilau-kilau, sungguh indah dipandang, sementara mereka berlayar berdampingan, perahu Petrus hanya beberapa yard di depan perahu lainnya.

Dari perahu ke perahu, yang terpisah hanya beberapa yard, para murid saling melontarkan kata dan komentar. Dengan demikian aku tahu bahwa teman-teman Galilea sedang menggambarkan dan menjelaskan kepada teman-teman Yudea berbagai tempat di danau, perdagangan mereka, orang-orang penting yang tinggal di wilayah tersebut, jarak dari titik berangkat mereka ke tempat tujuan, yakni dari Kapernaum ke Tiberias. Kedua perahu tidak digunakan untuk menangkap ikan, melainkan hanya mengangkut penumpang.

Yesus duduk di haluan dan jelas tengah menikmati keindahan alam sekeliling-Nya, ketenangan, langit dan danau yang biru. Danau dikelilingi oleh pantai yang hijau, di mana banyak desa-desa berwarna putih muncul di tengah hijaunya pedesaan. Nyaris berbaring di atas tumpukan layar, di haluan paling depan, Ia tiada peduli akan percakapan para murid, dan sering menundukkan kepala-Nya memandang pada cermin danau yang biru safir, seolah Ia sedang menduga kedalamannya dan tertarik pada makhluk-makhluk hidup dalam air yang gamblang. Aku bertanya-tanya apakah yang sedang Ia pikirkan… Petrus berbicara kepada-Nya dua kali untuk menanyakan apakah sinar matahari mengganggu-Nya sebab matahari sudah terbit dari timur dan tengah bersinar penuh ke atas perahu, dan udara sudah hangat, meski tidak panas; dan kedua kalinya ia menanyai-Nya apakah Ia mau roti dan keju seperti yang lain. Tapi Yesus tak menginginkan naungan ataupun roti. Dan Petrus tidak mengganggu-Nya lagi.

Beberapa perahu pesiar kecil, hampir seukuran sebuah shallop, tapi dihiasi dengan canopy-canopy ungu dan bantal-bantal empuk, memotong jalur perahu para nelayan. Teriakan, ledakan tawa-ria dan harum semerbak parfum ada bersama mereka.

Perahu-perahu itu penuh perempuan-perempuan cantik, banyak orang Romawi yang bersuka-ria, sebagian orang Palestina dan beberapa orang Yunani. Informasi ini aku dapatkan dari perkataan seorang pemuda ramping, yang kulitnya secoklat buah zaitun yang hampir masak, berpakaian keren jubah merah pendek, dengan pinggiran pola geometris Yunani yang dikencangkan erat pada pinggangnya dengan sebuah ikat pinggang, yang merupakan karya indah seorang pandai emas. Dia mengatakan: "Hellas sungguh indah! Tapi bahkan tanak air Olympic-ku tak memiliki biru ini dan bunga-bunga ini. Sungguh tak mengherankan bahwa para dewi meninggalkannya untuk datang ke sini. Marilah kita menebarkan bunga-bunga, mawar-mawar dan puji-pujian kita kepada para dewi, yang bukan lagi orang Yunani melainkan orang Yudea…" Dan dia menebarkan ke atas para perempuan dalam perahunya kelopak-kelopak mawar yang indah dan dia melemparkan sebagian ke dalam sebuah perahu dekatnya.

Seorang Romawi menjawabnya: "Tebarkanlah, tebarkanlah, Yunani! Tapi Venus bersamaku. Aku tidak menebarkan mawar, aku memungutnya dari bibir yang indah ini. Lebih manis!" Dan dia membungkuk untuk mencium bibir yang tersenyum merekah milik Maria Magdalena, yang sedang berbaring di atas bantal-bantal dengan kepalanya yang berambut pirang di atas pangkuan si orang Romawi.

Sekarang ini perahu-perahu kecil berada di depan dua perahu besar dan keduanya, karena kurang pengalaman para pendayungnya dan karena hembusan angin kencang yang sekonyong-konyong, perahu-perahu itu nyaris bertabrakan.

"Berhati-hatilah, jika kalian masih menyayangi nyawa kalian," teriak Petrus, yang menjadi garang saat ia membelokkan perahu, dengan membanting kemudi, demi menghindari tabrakan. Makian dari para lelaki dan teriak ngeri dari para perempuan terdengar dari perahu-perahu. Orang-orang Romawi mengejek orang-orang Galilea dengan mengatakan: "Menyingkirlah, kalian anjing-anjing Yahudi bulukan."

Petrus dan orang-orang Galilea yang lain tidak menganggap sepi ejekan dan Petrus terutama, merah padam bagai seekor ayam jantan, berdiri di atas tepian perahu, yang menjadi oleng berat di satu sisi, dengan kedua tangan berkacak pinggang, membalas setimpal ejekan dengan tanpa mengecualikan orang-orang Romawi atau Yunani atau Yahudi ataupun perempuan-perempuan Yahudi. Tidak, dia mengata-ngatai para perempuan itu dengan julukan-julukan yang lebih suka tidak aku ceritakan. Percekcokan terus berlangsung hingga keruwetan kapal dan dayung berhasil diurai dan mereka semua pergi di jalan mereka masing-masing.

Yesus tidak bergerak dari tempat-Nya. Ia tetap duduk, pikiran-Nya menerawang jauh, tanpa tatapan ataupun sepatah kata pun mengenai perahu ataupun para penumpangnya. Bertopang pada satu siku, Ia terus melihat di pantai kejauhan, seolah tak suatupun terjadi. Juga sekuntum bunga dilemparkan kepada-Nya, aku tidak tahu oleh siapa, tentunya oleh seorang perempuan, sebab aku dapat mendengar seorang perempuan tertawa ketika bunga itu dilemparkan. Tapi Ia… tidak bergeming. Bunga itu nyaris mengenai wajah-Nya, lalu jatuh ke atas lantai perahu dan berakhir di bawah kaki-kaki Petrus yang murka. Ketika perahu-perahu kecil itu hendak bergerak pergi, aku melihat Magdalena berdiri dan mengikuti isyarat dari salah seorang rekan dosanya, yakni, dia mengarahkan mata indahnya ke arah wajah Yesus yang tenang, Yang pikiran-Nya menerawang begitu jauh. Betapa jauh dari dunia ini yang menghadapinya!...

"Katakan, Simon!" pinta Yudas Iskariot. "Sebab kau adalah seorang Yudea sepertiku, katakan padaku. Si cantik pirang dalam pangkuan orang Romawi, dia itu yang berdiri beberapa menit yang lalu, bukankah dia saudari Lazarus dari Betania?"

"Aku tidak tahu," jawab singkat Simon si Cananean. "Aku kembali ke tengah orang hidup hanya baru beberapa waktu yang lalu, dan dia sudah seorang perempuan muda…"  

"Aku harap, kau tak akan mengatakan kepadaku bahwa kau tak mengenal Lazarus dari Betania! Aku tahu benar bahwa kau sahabatnya dan bahwa kau ke sana juga bersama Guru."

"Dan jika ya?"

"Dan sebab demikian, aku katakan bahwa kau pasti tahu juga si pendosa itu yang adalah saudari Lazarus. Bahkan orang-orang mati tahu tentang dia! Orang banyak membicarakannya selama sepuluh tahun belakangan ini. Ia mulai menjadi mabuk kepayang segera sesudah dia mencapai usia pubertas. Tapi selama lebih dari empat tahun!  Kau pasti tahu akan skandal itu, bahkan meski kau berada di 'lembah orang mati'. Seluruh Yerusalem membicarakannya. Dan Lazarus mengurung diri di Betania… Bagaimana pun, dia melakukan hal yang benar. Tak seorang pun mau menginjakkan kaki di rumahnya yang indah di Zion, di mana saudarinya itu juga datang dan pergi. Maksudku: tak seorang kudus yang hidup. Di desa…baiklah!... Bagaimanapun juga dia selalu berkeliling, tidak pernah di rumah… Dia tentunya di Magdala sekarang… Dengan seorang kekasih baru… Kau tidak menjawabku? Dapatkah kau membohongiku?"

"Aku tidak membohongimu. Aku diam."

"Jadi, benar dia! Kau mengenalinya, juga!"

"Aku melihatnya ketika dia masih kanak-kanak dan dia murni kala itu. Aku baru melihatnya lagi sekarang… Tapi aku mengenalinya. Meski cabul, dia adalah gambaran hidup dari ibunya, seorang perempuan kudus."

"Baik, jadi, mengapa kau hendak menyangkal bahwa dia adalah saudari sahabatmu?"

"Kita selalu berupaya menyembunyikan borok-borok kita dan borok-borok mereka yang kita kasihi. Teristimewa jika dia seorang jujur.

Yudas tertawa dibuat-buat.

"Kau benar sekali, Simon. Dan kau jujur," komentar Petrus.

"Dan apakah kau mengenalinya? Kau tentunya pergi ke Magdala untuk menjual ikan, dan aku bertanya-tanya berapa kali kau sudah melihatnya!..."

"Bocah, kau harus tahu bahwa ketika punggungmu serasa patah sesudah kerja jujur seharian, kau tidak akan tertarik pada perempuan. Kau hanya mencintai tempat tidur jujur istrimu."

"Eh! Semua orang suka hal-hal yang indah! Setidaknya, jika tidak ada suatu alasan lain, tentu suka melihatnya."

"Kenapa? Untuk mengatakan: "Tak ada makanan untuk mejaku"? Tidak, tentu saja tidak. Aku telah belajar banyak hal dari danau dan dari pekerjaanku, dan ini adalah salah satunya: ikan dari air yang segar dan tenang tidak cocok tinggal di air asin atau di pusaran air."

"Apa maksudmu?"

"Aku maksudkan bahwa setiap orang sepatutnya pada tempatnya, demi menghindari kematian yang mengerikan."

"Apakah Magdalena membuatmu merasa seolah engkau hendak mati?"

"Tidak, aku kuat. Tapi katakan kepadaku: apakah kau merasa tidak enak, mungkin?"

"Aku? Oh! Aku bahkan tidak melihat kepadanya!..."

"Kau pembohong! Aku yakin bahwa kau dikuasai iri hati sebab kau tidak berada di perahu itu, agar lebih dekat dengannya… malahan ujung-ujungnya kau harus berada dekatku… Begitu dekat, hingga kau menghormatiku dengan percakapanmu, karena dia, sesudah begitu banyak hari-hari tenang."

"Aku? Dia bahkan tidak melihat kepadaku! Dia selalu melihat kepada Guru!"

"Ah! Ah! Ah! Dan dia mengatakan bahwa dia tidak melihat kepadanya! Bagaimana kau dapat melihat ke arah mana dia melihat, jika kau tidak melihat kepadanya?"

Mereka semua tertawa mendengar ucapan Petrus, terkecuali Yudas, Yesus dan Simon Zelot.

Yesus menyudahi pembicaraan dengan bersikap seolah Ia tidak mendengar, dan bertanya kepada Petrus: "Itukah Tiberias?"

"Ya, Guru. Aku akan mengubah haluan sekarang."

"Tunggu. Bisakah kau berhenti di teluk kecil yang tenang itu? Aku ingin berbicara kepada kalian saja."

"Aku akan mengukur kedalamannya dan memberitahu-Mu." Dan Petrus menurunkan sebuah galah panjang ke dalam air dan bergerak perlahan menuju pantai. "Ya, bisa, Guru. Apakah aku harus pergi mendekat ke pantai?"

"Sejauh yang kau dapat. Ada keteduhan dan ketenangan. Aku menyukainya."

Petrus mengemudikan perahu menuju pantai. Daratan sekitar limabelas yard, paling jauh. "Aku sekarang akan berlabuh."

"Stop. Dan kalian datang sedekat mungkin dan dengarkan."

Yesus meninggalkan tempat-Nya dan duduk di tengah perahu, di atas sebilah papan yang diletakkan melintang. Perahu yang lain ada di depan-Nya, sementara para murid dalam perahu-Nya duduk mengelilingi-Nya.

"Dengarkanlah. Kalian mungkin berpikir bahwa Aku tidak memperhatikan pembicaraan kalian dan bahwa karenanya Aku adalah seorang guru yang malas yang tidak merawat para muridnya. Kalian harus tahu bahwa jiwa-Ku tidak meninggalkan kalian barang sekejap pun. Pernahkah kalian melihat seorang dokter yang sedang mempelajari seorang pasien yang terjangkit oleh suatu penyakit yang belum teridentifikasi dan menimbulkan gejala-gejala yang berlainan? Dia mengamati si pasien, sesudah mengunjunginya, dia mengamati pasiennya baik ketika si pasien tidur ataupun bangun, pagi maupun petang, ketika si pasien berbicara dan ketika dia diam, sebab setiap gejala dapat membantu mengidentifikasikan penyakit yang tersembunyi dan menyarankan suatu penyembuhan. Aku berlaku sama terhadap kalian. Aku menarik kalian dengan sarana benang-benang yang tak kasat mata namun paling peka, yang dipertalikan dengan-Ku, dan benang-benang itu menyampaikan kepada-Ku bahkan getaran-getaran paling lemah dari ego kalian. Aku membiarkan kalian percaya bahwa kalian bebas, bahwa kalian dapat mengungkapkan diri kalian sebagaimana apa adanya, seperti yang terjadi ketika seorang anak sekolah atau seorang gila berpikir bahwa dia tidak sedang diawasi oleh pengawasnya.   

Kalian adalah sekelompok orang, tapi kalian membentuk suatu nucleus, yakni, satu inti saja. Oleh karenanya kalian adalah satu unit, yang dibentuk sebagai suatu tubuh dan yang harus dipelajari dalam ciri-ciri karakteristik pribadinya, yang lebih atau kurang baik, guna membentuknya, menyatukannya, menyelaraskannya, menebalkan sisi-sisi polyhedric [= segi banyak]-nya, dan menjadikannya suatu unit yang sempurna. Itulah sebabnya mengapa Aku mempelajari kalian. Dan Aku mempelajari kalian juga ketika kalian sedang tidur.

Siapakah kalian? Akan menjadi apakah kalian? Kalian adalah garam dunia. Kalian harus menjadi garam dunia. Dengan garam, daging diawetkan dari pembusukan dan banyak makanan lainnya juga. Tapi jika garam tidak asin, dapatkah digunakan untuk menggarami? Aku ingin menggarami dunia bersama kalian, untuk membumbuinya dengan cita rasa surgawi. Tetapi bagaimanakah kalian menggarami jika kalian menjadi hambar?

Apakah yang menyebabkan kalian kehilangan cita rasa surgawi? Yang manusiawi. Air laut, yakni: air dari laut sesungguhnya, sangatlah asin hingga tidak baik untuk diminum, ya kan? Dan meski demikian, jika orang mengambil secawan air laut dan menuangkannya ke dalam sebuah amphora berisi air segar, maka orang dapat meminumnya, sebab air laut sudah begitu diencerkan hingga kehilangan kekuatannya yang menyengat. Umat manusia adalah seperti air segar yang dicampurkan pada garam surgawi kalian. Lagi, andai kita dapat mengambil satu aliran kecil air dari laut dan mengalirkannya ke dalam danau ini, dapatkah kalian menelusuri aliran kecil air itu? Tidak. Aliran air asin itu akan hilang dalam air segar. Itulah apa yang terjadi kepada kalian ketika kalian membenamkan, atau lebih tepatnya, kalian menenggelamkan misi kalian dalam begitu banyak kemanusiaan.

Kalian adalah manusia. Aku tahu. Dan siapakah Aku? Aku adalah Ia Yang memiliki segala kekuatan yang mungkin. Dan apakah yang Aku lakukan? Aku mengkomunikasikan kekuatan yang begitu rupa kepada kalian sesudah memanggil kalian. Tapi apakah gunanya mengkomunikasikannya kepada kalian, jika kalian menghilangkannya di bawah longsoran pengaruh dan sentimen manusia?

Kalian, kalian harus menjadi terang dunia. Aku memilih kalian: Aku, Terang Allah di antara manusia, agar kalian dapat meneruskan untuk menerangi dunia, sesudah Aku kembali kepada Bapa. Tapi dapatkah kalian menerangi jika kalian adalah lampu-lampu berasap yang telah padam? Tidak. Bukan, dengan asapmu - asap kabut adalah lebih buruk dari sumbu yang sama sekali padam - kalian akan menggelapkan terang suram yang mungkin masih dimiliki hati manusia.

Oh! Sungguh malang mereka yang akan datang kepada para rasul demi mencari Allah, dan bukannya terang, mereka akan mendapatkan asap! Itu akan menjadi skandal dan kematian bagi mereka. Tapi rasul yang tak layak akan dikutuk dan dihukum. Takdir kalian sangat luhur! Dan suatu komitmen yang sungguh luar biasa pula! Tapi ingat bahwa barangsiapa diberi lebih, juga wajib untuk memberi lebih. Dan kepada kalian telah diberikan yang terbanyak, baik dalam pendidikan maupun dalam kasih karunia. Kalian dididik oleh Aku, Sabda Allah, dan kalian menerima dari Allah karunia menjadi "para murid", yakni, para penerus Putra Allah.

Aku ingin kalian merenungkan pemilihan diri kalian, mempelajari diri kalian dengan seksama, menimbang diri kalian… dan jika seorang merasa bahwa dia pantas hanya menjadi seorang percaya - Aku bahkan tidak akan mengatakan: jika seorang merasa bahwa dia tiada lain hanyalah seorang berdosa yang tidak bertobat; Aku hanya katakan: jika seorang merasa bahwa dia pantas hanya menjadi seorang percaya - tapi tidak merasakan kekuatan seorang rasul, biarkan dia mengundurkan diri.

Dunia ini luas, indah, cukup berlimpah, cukup bervariasi bagi mereka yang mencintainya! Dunia menawarkan segala bunga-bungaan dan segala buah-buahan yang layak bagi perut dan indera. Aku hanya menawarkan satu hal: kekudusan. Dan di dunia kekudusan adalah hal yang paling hina, paling miskin, paling sulit, paling berduri dan paling teraniaya yang ada. Di Surga kehinaannya diubah menjadi kemuliaan, kemiskinannya menjadi kekayaan, onak durinya menjadi karpet bertabur bunga, kesulitannya menjadi jalan mulus menyenangkan, aniayanya menjadi damai dan kebahagiaan. Tapi di sini dibutuhkan kerja keras seorang pahlawan untuk menjadi seorang kudus. Hanya itu yang dapat Aku tawarkan.

Apakah kalian bersedia tinggal bersama-Ku? Adakah kalian tidak merasa ingin tinggal? Oh! Janganlah terkejut atau menyesal. Kalian akan mendengar Aku mengajukan pertanyaan ini kepada kalian berulang kali. Dan apabila kalian mendengarnya, pikirkanlah bahwa hati-Ku menangis saat menanyakannya, sebab terluka oleh ketidakpekaan kalian terhadap panggilan kalian. Jadi periksalah batin kalian, kemudian nilailah dengan jujur dan tulus hati, dan lalu tentukan keputusan kalian. Tentukan keputusan kalian, agar kalian tidak menjadi pengkhianat. Katakan 'Guru, teman-teman, aku sadar bahwa aku tidak diciptakan untuk hidup seperti ini. Aku berikan cium perpisahan kepada kalian dan aku katakan kepada kalian: doakanlah aku.'

Lebih baik begitu daripada berkhianat. Lebih baik… Apakah yang Kau katakan? Berkhianat terhadap siapa? Siapa? Aku. Perkara-Ku, yang adalah perkara Allah, sebab Aku dan Allah adalah satu. Dan kalian, ya, kalian akan mengkhianati diri kalian sendiri, kalian akan mengkhianati jiwa kalian, dengan memberikannya kepada Setan. Apakah kalian ingin tetap menjadi seorang Yahudi? Aku tidak akan memaksa kalian untuk berubah. Tapi janganlah berkhianat. Janganlah mengkhianati jiwa kalian, Kristus dan Allah. Aku bersumpah bahwa Aku, tidak juga mereka yang setia kepada-Ku akan mengkritik kalian, pun mereka tidak akan merendahkanmu di hadapan khalayak beriman. Baru beberapa saat yang lalu salah seorang saudara kalian mengatakan suatu perkataan yang bagus: "Kita selalu berupaya menyembunyikan borok-borok kita dan borok-borok mereka yang kita kasihi." Dan dia yang akan pergi, akan menjadi suatu borok, suatu kanker, yang sesudah tumbuh dalam tubuh apostolik kita, akan terlepas, karena penyakit gangrennya yang total, dengan meninggalkan suatu bekas yang menyakitkan yang dengan cermat akan kita sembunyikan.

Jangan, janganlah menangis, kalian yang lebih baik. Janganlah menangis. Aku tidak bersungut-sungut terhadap kalian, pula Aku tidak akan tidak bertoleransi melihat kalian begitu lambat. Kalian baru saja dipilih dan Aku tak dapat mengharapkan kalian sempurna. Aku bahkan tidak akan menuntut itu sesudah bertahun-tahun, sesudah mengulang seratus kali atau duaratus kali hal yang sama dengan sia-sia. Tidak, dengarkanlah: dalam beberapa tahun mendatang kalian akan berkurang dalam semangat dari sekarang, sebab kalian adalah neophyte [= orang yang baru bertobat masuk agama baru]. Demikianlah hidup… demikianlah manusia… Kalian kehilangan daya dorong sesudah lompatan pertama. Tapi (Yesus meloncat) Aku bersumpah kepada kalian bahwa Aku akan menang. Dimurnikan oleh seleksi alam, dikuatkan oleh percampuran adikodrati, kalian, orang-orang yang lebih baik, akan menjadi pahlawan-pahlawan-Ku. Pahlawan-pahlawan Kristus. Pahlawan-pahlawan Surga. Kuasa Kaisar akan bagai debu dibandingkan kemuliaan imamat kalian. Kalian, para nelayan miskin dari Galilea, kalian, orang-orang Yudea yang tak dikenal, kalian, yang sekedar angka dalam himpunan begitu banyak orang yang ada sekarang, akan menjadi lebih terkenal, lebih diagungkan, lebih dihormati dari Kaisar, dan dari segala kaisar-kaisar dunia yang pernah atau yang akan ada. Kalian akan dikenal dan diberkati di masa mendatang yang segera datang dan di abad-abad yang paling jauh mendatang, hingga akhir dunia. Aku menunjuk kalian pada takdir yang begitu agung mulia, sebab kalian bersedia dengan jujur. Dan Aku akan menguraikan ciri-ciri khas yang penting dari karakter apostolik, agar supaya kalian dapat pas untuk takdir kalian.

Selalu waspada dan siaga. Pinggangmu selalu berikat, dan lampumu selalu menyala, seolah kau hendak pergi setiap saat atau berlari untuk menyambut seseorang yang akan datang. Kalian sesungguhnya, dan hingga kematian kalian, akan menjadi peziarah-peziarah tak kenal lelah yang mencari para pengembara; dan hingga kematian memadamkannya, lampu kalian hendaknya dijunjung tinggi dan menyala demi menunjukkan jalan kepada jiwa-jiwa yang sesat untuk datang ke dalam kawanan Kristus.

Kalian hendaknya setia kepada Guru Yang menunjuk kalian pada pelayanan yang demikian. Agan diganjarilah hamba yang selalu didapati tuannya waspada dan hingga maut menjemput ada dalam keadaan rahmat. Kalian tidak dapat dan tidak boleh mengatakan: "Aku masih muda, aku punya waktu untuk ini dan untuk itu, dan lalu baru aku akan berpikir tentang Guru-ku, kematianku, jiwaku! Orang-orang muda beresiko mati seperti orang-orang tua, dan orang-orang kuat seperti orang-orang lemah. Dan yang tua dan yang muda, yang kuat dan yang lemah setara dalam serangan pencobaan. Waspadalah, sebab jiwa dapat mati sebelum tubuh dan kalian dapat tanpa mengetahuinya membawa dalam diri kalian jiwa yang telah membusuk. Kematian suatu jiwa sungguh tak terasa! Bagai matinya sekuntum bunga. Tak ada tangis, tak ada tawa… dia menundukkan nyalanya bagai mahkota bunga yang letih, dan gugur. Kemudian, sesudah jangka waktu yang lama, terdakang segera sesudahnya, tubuh menyadari bahwa dia membawa mayat menjijikkan dalam dirinya, dia menjadi gila ketakutan dan bunuh diri demi menghindari persatuan yang demikian… Oh! dia tidak menghindarinya! Dia jatuh ke dalam keriapan ular-ular di Gehenna dengan jiwanya yang sangat menjijikkan.

Janganlah tidak jujur seperti makelar atau pengacara yang tidak jujur yang berpihak pada dua klien yang berlawanan, janganlah semunafik para politisi, yang menyebut orang ini dan orang itu "teman", padahal dia adalah musuh bagi keduanya. Janganlah bertindak dengan dua cara yang berbeda. Kalian tak dapat menertawakan Allah atau menipu-Nya. Bersikaplah terhadap manusia seperti kalian bersikap terhadap Allah, sebab suatu penghinaan kepada manusia adalah penghinaan kepada Allah. Biarkan Allah melihat kalian sebagaimana kalian ingin dilihat oleh sesama manusia.

Jadilah rendah hati. Kalian tak dapat mengecam Guru kalian karena tidak bersikap demikian. Aku memberikan teladan. Bertindaklah seperti Aku bertindak. Jadilah rendah hati, lemah lembut dan sabar. Itulah caranya bagaimana dunia ditaklukkan. Bukan dengan kekerasan atau kekuatan. Jadilah kuat dan keras terhadap keburukan-keburukanmu. Berantas itu, hingga dengan resiko patah hati. Beberapa hari yang lalu Aku meminta kalian untuk waspada terhadap mata kalian. Tapi kalian tidak tahu bagaimana melakukannya. Aku katakan kepada kalian: adalah lebih baik menjadi buta dengan mencungkil mata yang penuh nafsu, daripada menjadi cabul.

Jadilah tulus hati. Aku adalah kebenaran: keduanya dalam kemuliaan dan dalam hal-hal manusiawi. Aku ingin kalian tulus juga. Mengapa menipu Aku, atau saudara-sudaramu, atau sesamamu? Mengapa menipu orang? Sombong seperti kalian, mengapakah kalian tidak mengatakan: 'Aku tak ingin orang tahu bahwa aku seorang pembohong?' Dan tulus hati terhadap Allah. Apakah kalian pikir kalian dapat mendustai-Nya dengan doa-doa yang panjang? Oh! anak-anak yang malang! Allah melihat ke dalam hati kalian!

Murni dalam berbuat baik. Juga dalam memberi sedekah. Seorang pemungut cukai tahu bagaimana melakukannya sebelum pertobatannya. Dan kalian tidak dapat? Ya, Aku memujimu, Matius, untuk persembahan mingguanmu yang murni, yang hanya Bapa dan Aku yang tahu bahwa itu darimu dan Aku mencontohkan kau sebagai teladan. Juga itu adalah suatu bentuk kemurnian, sahabat-sahabat-Ku. Janganlah menelanjangi kebaikanmu sebagaimana kalian tidak akan menelanjangi seorang anak perempuan belia di hadapan orang banyak. Jadilah perawan-perawan dalam berbuat baik. Suatu perbuatan baik adalah perawan apabila perbuatan itu bebas dari segala pertalian dengan pikiran akan kesombongan dan pujian, atau dari dorongan kesombongan.

Jadilah setia dalam panggilanmu kepada Allah. Kalian tak dapat mengabdi pada dua tuan. Sebuah ranjang pengantin tidak dapat menampung dua mempelai perempuan sekaligus. Allah dan Setan tidak dapat berbagi pelukan denganmu. Manusia tidak dapat, juga Allah ataupun Setan tidak dapat berbagi tiga kali pelukan, yang berbeda dengan ketiganya yang saling memeluk satu sama lain. Tolaklah nafsu terhadap emas pun nafsu terhadap daging, nafsu terhadap daging pun nafsu terhadap kekuasaan. Itulah apa yang ditawarkan Setan kepada kalian. Oh! kekayaannya yang menipu! Kehormatan, kesuksesan, kekuasaan, kekayaan: pasar cabul di mana jiwa kalian adalah barang dagangan yang sah. Jadilah puas dengan yang sedikit. Allah memberi kalian apa yang dibutuhkan. Itu sudah cukup. Ia menjamin itu untuk kalian seperti yang Ia lakukan untuk burung-burung di udara, dan kalian jauh lebih berharga dari burung-burung. Tapi Ia menghendaki kepercayaan dan kesahajaan dari kalian. Jika kalian mengandalkan-Nya, Ia tidak akan mengecewakan kalian. Jika kalian bersahaja, karunia setiap hari-Nya akan cukup bagi kalian.

Janganlah menjadi orang-orang yang tak ber-Tuhan, dengan menjadi milik Allah hanya nama. Mereka yang tak ber-Tuhan adalah orang-orang yang mencintai emas dan kekuasaan, yang tampak bagai setengah dewa, lebih dari mereka mencintai Allah. Jadilah kudus dan kalian akan menjadi seperti Allah dalam kekekalan masa. Janganlah tidak bertoleransi. Sebab kalian semua adalah orang-orang berdosa, berlakulah terhadap orang lain sebagaimana kau ingin orang lain memperlakukanmu: yakni, dengan belas-kasihan dan pengampunan.

Janganlah menghakimi. Oh! Janganlah menghakimi! Kalian belum lama berselang bersama-Ku, dan meski demikian kalian telah melihat berapa banyak kali Aku, meski tidak berdosa, telah dihakimi secara salah dan didakwa atas dosa-dosa yang tidak pernah ada. Suatu penghakiman yang buruk adalah suatu penghinaan. Dan hanya orang-orang kudus sejati yang tidak membalas setimpal mereka yang menyakitinya. Karenanya tahanlah diri kalian dari menyakiti yang lain agar kalian tidak disakiti. Dengan demikian kalian tidak akan gagal dalam kewajiban kalian entah dalam cinta kasih, atau kerendahan hati yang lemah lembut dan kudus, yang adalah musuh Setan, bersama dengan kemurnian. Ampunilah, selalu mengampuni. Katakan: 'Aku mengampuni, Bapa, agar aku boleh diampuni oleh Engkau atas dosa-dosaku yang tak terbilang banyaknya.'     

Bertumbuh dalam kesempurnaan dari waktu ke waktu, dengan kesabaran, ketekunan dan kegagahan. Siapakah yang mengatakan kepada kalian bahwa menjadi baik itu tidak menyakitkan? Tidak, Aku katakan kepada kalian: itu adalah kerja keras paling berat. Tapi ganjarannya adalah Surga dan karenanya adalah pantas menguras tenaga dalam kerja yang demikian.

Dan kasih! Oh! Kata-kata apakah yang harus Aku pergunakan demi mendorong kalian untuk mengasihi? Tak ada yang tepat demi mempertobatkan kalian kepada kasih, wahai orang-orang malang, yang dihasut oleh Setan! Jadi Aku katakan: "Bapa, percepatlah saat pemurnian. Tanah ini dan kawanan milik-Mu ini kering dan berpenyakitan. Tapi ada setitik embun yang dapat membasuh dan melegakan mereka. Bukalah sumber mataairnya. Bukalah Aku, Bapa. Di sini Aku berkobar-kobar dalam kerinduan untuk menggenapi kehendak-Mu, yang adalah juga kehendak-Ku dan akan Kasih yang Kekal. Bapa, Bapa, Bapa! Lihatlah Anak Domba-Mu dan jadilah Ia yang Mengorbankan-Nya."

Yesus sungguh terinspirasi. Berdiri, dengan kedua tangan-Nya terentang dalam bentuk sebuah salib, wajah-Nya terangkat ke langit. Dalam balutan jubah linen-Nya dan dengan danau biru di belakang-Nya, Ia tampak bak seorang malaikat agung yang berdoa. Penglihatan berakhir dengan gerak tubuh-Nya ini.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 2                     Daftar Istilah                      Halaman Utama