Percakapan Jiwa dengan Dia




    Orang Beriman versus Orang Tidak Beriman

Di depan terlihat padang luas terbentang. Hujan membasahi bumi. Aku tak tertarik untuk menjelajahi padang. Sekonyong-konyong Yesus ada di sampingku. Kedua tangan-Nya terangkat membawa selembar tudung besar di atas kepala untuk menangkis hujan. Dengan anggukan kecil Ia memberiku isyarat untuk mengikuti-Nya. Jadi, aku berjalan bersama Dia, Tuhan-ku, melintasi padang di bawah guyuran air hujan. Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan bahwa tanah yang telah kami pijak dan lalui sekonyong-konyong lenyap seolah ditelan bumi. Demikianlah kami berjalan hingga tiba di batas padang. Tampak di depan hanya ada sebuah jurang yang lebar dan dalam sebagai satu-satunya jalan. Di atas jurang yang menganga, tampak sebuah jembatan gantung. Jembatan ini terdiri dari bilah-bilah papan yang dipasang pada jarak tertentu yang saling dihubungkan satu sama lain dengan tali-temali. Aku membayangkan, apabila kaki-kaki dijejakkan di atasnya, pastilah jembatan ini akan terayun-ayun kian kemari! Aku perhatikan lagi bahwa jembatan ini sungguh amat panjang, begitu panjang hingga ujungnya tak terlihat. Pula, pandangan mataku untuk memperkirakan ujung jembatan terhalang oleh kabut tebal yang menggantung di sekitar jembatan. Betapa ngeri!

Selanjutnya, aku melihat diriku berada dalam sebuah terowongan besar yang gelap. Satu-satunya penerang adalah lilin dalam kandelar kecil dalam genggamanku. Aku merasa pengap dan sesak, tapi aku tahu ada Dia, Tuhan-ku, bersamaku, jadi aku menapak maju. Aku memperhatikan bahwa semakin jauh aku masuk, lorong tampak semakin menyempit. Aku mulai takut, berkeluh-kesah, hingga panik dan nyaris putus asa oleh sebab lorong gelap pengap yang menyesakkan ini tampaknya tanpa akhir! Tetapi, aku percaya pada Tuhan-ku yang menyertai langkahku, dan dengan kandelar yang semakin erat kugenggam, aku terus melangkah maju. Sekarang jalanan mulai menanjak halus. Terus kuayunkan langkah-langkahku hingga, akhirnya, tiba di ujung lorong yang bermandikan cahaya. Dan, ya, aku melihat Dia, Tuhan-ku, dalam terang yang gilang-gemilang dengan kedua tangan-Nya terulur untuk menyambutku. Betapa bahagia!

Diterangkan kepadaku bahwa gambaran pertama mewakili orang tak beriman yang tengah dilanda masalah. Sebab tak beriman, ia tak mempunyai pegangan hidup. Kala badai hidup menerjang, ia kehilangan arah; tak ada jalan keluar! Semua tampak gelap, tampak samar, tanpa harapan. Yang tinggal hanyalah keputus-asaan belaka. Gambaran kedua mewakili orang beriman yang tengah dilanda masalah yang sama. Sebab beriman dan percaya akan penyertaan Tuhan, ia pun terus melangkah maju menyusuri lorong kendati gelap pengap, kendati sesak di dada, kendati lorong seolah tanpa akhir. Sebab percaya pada Tuhan, pengharapan tiada pupus. Dan sungguh, di akhir perjalanan ia mendapatkan apa yang ia rindukan. Kebahagiaan abadi bersama Dia yang adalah segalanya baginya! (Steph, Januari 2012)

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”


    Orang Beriman versus Orang Beriman

Aku bersimpuh dalam doa. Sedih dan pilu menguasai hati. Aku merasa sendirian; betapa sepi yang menyayat hati.

Dalam doa, sekonyong-konyong aku melihat Dia yang memandang sekilas kepadaku dan lalu berbalik pergi. Tampak Ia membelakangiku dengan kedua tangan di balik punggung-Nya. Jari-jemari-Nya mengisyaratkan padaku untuk mengikuti-Nya. Aku segera bangkit berdiri. Langkah-langkahku berat sebab tumpukan salju yang tebal seolah hendak membenamkan kakiku. Tetapi aku pantang mundur dan berjalan terus di belakang Dia yang adalah Tuhan-ku.

Kami sampai ke sebuah gereja indah dan megah. Aku melongok ke dalam. Suasana damai tenang dalam cahaya temaram. Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di gereja kedua yang sama indah dan megah dengan gereja yang pertama; sama damai dan tenang. Yang membuatnya terlebih indah dan mengagumkan dibandingkan gereja yang pertama adalah cahaya yang melingkupinya; betapa sinar yang terang benderang! Seolah diliputi sukacita surgawi.

Selanjutnya Ia membawaku ke sebuah taman besar dengan aneka rupa tanam-tanaman yang  tumbuh hijau asri alami. Bunga-bungaan liar aneka rupa dan warna bermekaran di sana sini. Sungguh menawan dan menyejukkan hati. Akan tetapi, taman kedua yang kami kunjungi jauh terlebih menawan dan menyukakan hati. Tanam-tanaman sama tumbuh hijau asri, bebungaan sama aneka warna dan harum mewangi, tapi di taman ini semua tampak terawat dan terpelihara. Rumput-rumput disiangi, tanam-tanaman ditata indah dan pepohonan dipangkas rapi. Berkas-berkas cahaya matahari nan cemerlang menerobos masuk lewat celah dedaunan. Betapa bagai firdaus surgawi!

Tuhan-ku kembali mengayunkan langkah-Nya hingga sampailah kami ke sebuah pantai. Sungguh indah pemandangan; pasir yang bersih dan ombak bergulung-gulung dalam cahaya senja. Pantai kedua yang kami singgahi terlebih lagi indah dan mengagumkan dibandingkan pantai yang pertama, sebab semua keindahan di sana dilingkupi oleh cahaya siang yang benderang. Sungguh, serasa berada di pantai surgawi!  

Dengan itu berakhirlah perjalanan kami. Tuhan-ku pergi dan aku tinggal sendiri. Apakah Tuhan, yang hendak Kau sampaikan kepadaku?

Aku mendengar bisikan lembut dalam batinku. Gambaran pertama dan gambaran kedua adalah gambaran jiwa orang beriman. Sebab beriman kepada Allah, keduanya nampak indah dan cantik. Namun demikian, keindahan yang kedua mengungguli keindahan yang pertama sebab jiwa kedua berserah pada pemeliharaan, penyelenggaraan dan kehendak kudus Allah. Kendati menanggung sakit, jiwa memberikan diri untuk disiangi, dipangkas, dibentuk, ditata seturut kehendak ilahi. Sebab itulah Terang Allah melingkupi jiwa dan berkuasa penuh atasnya; sebab itulah jiwa jauh lebih indah menawan dan berkenan di hadapan Allah. (Steph, Desember 2011)

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”


    "Aku akan Menyediakan"

Aku mengeluh dan mengaduh. Gairah hidup seakan sirna. Beban hidup terasa berat. Kemiskinan ini menghimpit begitu dahsyat. Di manakah rejeki yang Kau janjikan, ya Tuhan? Doa kupanjatkan tiada kunjung henti siang dan malam. Mengapakah Engkau seolah tak mendengar? Mengapakah Engkau berlambat menolong? Airmata mengalir deras, sebab Ia, satu-satu-Nya Penolong, seakan menutup mata dan telinga terhadap sengsaraku.

Sekonyong-konyong Dia, Tuhan-ku, datang dan membawaku pergi. Dibawanya aku ke padang es yang luas. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah tumpukan salju tebal. Udara terasa dingin menggigit dan aku mulai gemetar. Aku tak melihat ada manusia, binatang ataupun tumbuh-tumbuhan; tak tampak tanda-tanda kehidupan di sini. Jadi, aku bertanya kepada Dia, "Tuhan, bagaimanakah aku dapat hidup di sini?" Ia memandangku dan dengan senyum yang meneguhkan hati menjawab, "Aku akan menyediakan." Dan kami pun melangkah pergi.

Selanjutnya, Ia membawaku ke sebuah padang gurun yang luas. Tanah yang kering-kerontang merekah di sana-sini. Matahari bersinar dengan teriknya, seakan hendak melumerkan apa saja yang masih tersisa di atas bumi. Aku merasakan dahaga yang dahsyat, tapi aku tak melihat ada air, pun tak tampak tanda-tanda kehidupan di sini. Aku mengeluh, "Tuhan, bagaimanakah aku dapat hidup di sini?" Ia memandangku dan dengan senyum yang meneguhkan hati menjawab, "Aku akan menyediakan."

Lagi, Ia membawaku ke sebuah wilayah luas yang tampaknya dulu adalah sebuah hutan belantara. Namun, yang kini tampak olehku adalah seolah hutan itu telah habis dilalap api. Aku melihat dataran yang menghitam, tunggul-tunggul yang gosong. Tak ada pepohonan, tak ada semak; tak ada hewan berkeliaran; tak ada-tanda kehidupan di sini. Aku mengaduh, "Tuhan, bagaimanakah aku dapat hidup di sini?" Ia memandangku dan dengan senyum yang meneguhkan hati menjawab, "Aku akan menyediakan." (Steph, Januari 2012)

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
up  Halaman Utama