Bab 12
Abraham


Abraham dan leluhurnya termasuk dalam suatu bangsa kuat yang amat khas. Mereka hidup menggembalakan ternak. Mereka bukan sungguh penduduk asli Ur, di Kasim, melainkan mereka pindah ke sana. Mereka melaksanakan otoritas dan yurisdiksi istimewa. Di sana sini mereka mengambil kuasa atas wilayah-wilayah tertentu di mana padang rumput subur ditemukan. Mereka menetapkan batas-batas, mendirikan altar-altar batu, dan dengan demikian tanah yang dilingkungi menjadi milik mereka. Sesuatu terjadi atas Abraham pada masa awal kanak-kanaknya, serupa yang terjadi pada kanak-kanak Musa, dan Abraham diselamatkan nyawanya oleh inangnya.

Dinubuatkan kepada penguasa negeri bahwa seorang kanak-kanak ajaib akan dilahirkan yang kelahirannya akan mendatangkan bencana atas kepentingan penguasa. Sang penguasa segera bertindak. Ibu Abraham menyembunyikan diri sebelum kelahiran puteranya dalam gua yang sama di mana Set disembunyikan oleh Hawa. Di sana Abraham dilahirkan, dan di sana ia dibesarkan secara diam-diam oleh inangnya, Maraha. Maraha dipandang sebagai seorang hamba miskin yang bekerja di padang belantara. Gubuknya dekat gua ini, yang dinamai seturut Maraha: Gua Menyusui. Ia, sesudah kematiannya dan sesuai permintaannya sendiri, dimakamkan di sana oleh Abraham.

Abraham adalah seorang kanak-kanak yang luar biasa besar. Ketika, karena ukuran badannya yang tak umum ini, ia dianggap orang sebagai kanak-kanak yang dilahirkan sebelum nubuat, orangtuanya membawa Abraham pulang. Akan tetapi kebijaksanaanya yang matang membahayakan nyawanya, sebab itu inangnya membawanya lari, dan menyembunyikannya lagi untuk jangka waktu yang lama di gua yang sama. Banyak kanak-kanak seusianya dibantai pada waktu itu. Abraham amat mengasihi Maraha, inangnya. Di tahun-tahun sesudahnya, dalam segala perjalanannya, ia membawa Maraha besertanya di atas sebuah unta. Maraha juga tinggal bersamanya di Socoth. Maraha meninggal dunia dalam usia seratus tahun. Abraham menggali sebuah makam untuknya dalam batu putih yang, bagai sebuah bukit, melingkupi gua di mana ia dilahirkan. Gua itu menjadi suatu tempat ziarah, khususnya para ibu. Sepanjang rangkaian sejarah, kita dapati suatu perlambangan misterius dari aniaya awal yang harus ditanggung Maria dan Kanak-kanak Yesus. Dalam gua yang sama ini juga Maria dan Bayinya menyembunyikan diri dari prajurit Herodes yang mencari sang Kanak-kanak.

Ayah Abraham menerima banyak rahmat dari surga, dan ia memahami banyak misteri. Bangsanya memiliki karunia menemukan emas dalam bumi, dan dari emas itu ia membuat berhala-berhala kecil serupa yang dicuri Rahel dari Laban. Ur adalah suatu wilayah di utara Kasdim. Aku melihat di banyak bagian dari wilayah ini, di bukit-bukit dan dataran-dataran, muncul nyala-nyala api putih, seolah tanah terbakar api. Aku tidak tahu apakah api ini muncul dengan sendirinya atau dinyalakan oleh manusia.

Abraham adalah seorang ahli perbintangan. Ia mengerti sifat-sifat benda dan pengaruh bintang-bintang atas kelahiran. Ia melihat segala macam hal dalam bintang-bintang, tetapi ia mengarahkan semuanya kepada Allah. Ia mengikuti Allah dalam segala hal dan hanya melayani Dia saja. Ia menyampaikan penetahuannya pada yang lain di Kasdim, tetapi ia menyerahkan kembali semuanya kepada Allah.

Aku melihat bahwa dalam suatu penglihatan ia menerima dari Allah perintah untuk berangkat dari negerinya sendiri. Allah menunjukkan kepadanya suatu tanah lain, dan keesokan paginya Abraham, tanpa bertanya apapun, mengumpulkan semua orangnya dan berangkat. Sesudahnya aku melihatnya memancangkan kemah di suatu wilayah Palestina yang tampak olehku terhampar sekitar tempat di mana sesudahnya Nazaret berdiri. Abraham sendiri di sini mendirikan sebuah mezbah membujur dari batu dengan sebuah kemah di atasnya. Suatu ketika, kala berlutut di depan mezbah, suatu cahaya turun dari surga atasnya. Seorang malaikat, seorang utusan Allah, menampakkan diri, mengatakan sesuatu kepadanya, dan menyerahkan kepadanya suatu hadiah yang transparan dan bercahaya. Malaikat berbicara kepada Abraham, dan Abraham menerima Berkat misterius, Yang Kudus dari Surga; ia membuka jubahnya dan menempatkannya di dadanya. Di katakan kepadaku bahwa itu adalah Sakramen Perjanjian Lama. Abraham masih belum tahu apakah isinya. Hal itu disembunyikan darinya, sebagaimana disembunyikan dari kita substansi Sakramen Mahakudus. Tetapi, hadiah itu diberikan kepadanya sebagai suatu yang kudus, sebagai suatu janji akan keturunan yang dijanjikan. Malaikat itu tepat sama seperti yang memaklumkan perkandungan Messias kepada Santa Perawan Maria. Malaikat itu juga selembut dan setenang Gabriel dalam melaksanakan tugasnya, tidak bergegas dan tergesa sebagaimana malaikat-malaikat lain yang aku lihat dalam peristiwa serupa. Aku pikir Abraham senantiasa membawa hadiah misterius itu bersamanya. Malaikat berbicara kepadanya mengenai Melkisedek yang akan merayakan di hadapannya kurban yang, sesudah kedatangan Messias, akan digenapi, dan yang akan berlangsung untuk selamanya.

Abraham lalu mengambil dari sebuah peti lima buah tulang-belulang besar yang ia susun di atas mezbah dalam bentuk sebuah salib. Api dinyalakan di depannya, dan ia mempersembahkan kurban. Api bernyala bagai sebuah bintang, pusatnya berwarna putih dan berkas-berkas sinarnya berwarna merah.

Aku juga melihat Abraham dan Sara di Mesir. Ia pergi ke sana dalam ketaatan pada perintah Allah; pertama, karena bencana kelaparan; dan kedua, untuk mengambil suatu pusaka yang telah dibawa ke sana oleh salah seorang sanak Sara. Pusaka itu berupa kepingan-kepingan emas segitiga yang dirangkai membentuk suatu daftar silsilah anak-anak Nuh, dan teristimesa dari Sem ke masa Abraham sendiri. Pusaka itu dibawa ke Mesir oleh seorang puteri dari bibi Sara dari pihak ibu, yang pergi ke sana dengan suatu suku penggembala, sebagian keturunan cabang samping dari Ayub, yang sesudahnya merosot akhlaknya ke keadaan liar. Di sana ia mempekerjakan diri sebagai pelayan. Ia mencuri pusaka itu seperti yang di kemudian hari dilakukan Rahel terhadap berhala Laban. Daftar silsilah itu dibuat serupa timbangan yang digantung pada tali-tali. Daftar silsilah ini terdiri atas kepingan-kepingan kecil segitiga yang dirangkai, dan darinya tergantung tali-tali tunggal sejajar. Pada kepingan-kepingan emas terdapat figur-figur dan huruf-huruf yang menunjukkan Nuh, dan teristiewa keturunan Sem. Apabila tali-tali itu dibiarkan tergantung, beragam kepingan semuanya akan terbentang. Aku mendengar, tetapi aku telah lupa, jumlah shekel dari rangkaian itu. Silsilah keluarga ini jatuh ke tangan Firaun dan para imam. Mereka membuat bermacam-macam hitungan atasnya berdasarkan perhitungan-perhitungan kronologis mereka yang tak ada habisnya, tetapi mereka tiada pernah dapat mengertinya dengan tepat.

Ketika kemalangan-kemalangan besar menimpa Firaun, ia meminta nasehat kepada para imam berhala dan memberikan kepada Abraham segala yang dimintanya.

Sekembalinya Abraham ke Palestina, aku melihat Lot bersamanya dalam sebuah kemah. Abraham menunjuk sekeliling dengan jarinya. Dalam perilakunya ada sesuatu yang serupa perilaku Tiga Raja. Ia mengenakan pakaian wol putih panjang yang berlengan, ikat pinggang putih berjalin dengan rumbai-rumbai, dan semacam tudung kepala yang tergantung di punggung. Di atas kepalanya terdapat sebuah topi kecil, dan di dadanya terdapat sebuah penutup dada berbentuk hati yang terbuat dari logam atau batu-batuan berharga. Jenggotnya panjang. Tak dapat aku katakan dengan kata-kata betapa baik dan murah hatinya Abraham. Jika ada padanya sesuatu yang menyukakan hati orang lain, teristimewa jika itu ternak, seketika itu juga ia akan memberikannya kepada orang itu, sebab ia memaklumkan perang terhadap iri dan tamak. Pakaian Lot nyaris sama seperti pakaian Abraham, tetapi Lot tidak setinggi pula tidak berparas seagung Abraham. Lot sungguh, baik, tetapi sekaligus sedikit tamak. Aku sering melihat para hamba Abraham dan Lot bertengkar, dan aku melihat Lot memisahkan diri dari Abraham. Tetapi sementara ia pergi, aku melihatnya diliputi kabut. Di atas Abraham, aku melihat sinar. Aku melihat Lot membongkar kemah-kemahnya dan berkelana. Ia mendirikan sebuah altar dari batu-batu padang dan memancangkan sebuah kemah di atasnya. Orang-orang pada masa itu cakap membangun dari batu-batu kasar, dan tuan bersama pelayannya bahu-membahu bekerja. Altar yang baru saja disebut berada di wilayah Hebron, yang di kemudian hari menjadi tempat kediaaman Zakharia, ayah Pembaptis. Wilayah ke mana Lot pindah amat subur, seperti juga seluruh bagian negeri ini ke arah Yordan. Aku melihat kota-kota sekitar kediaman Lot dijarah, dan Lot sendiri bersama segala harta miliknya dibawa pergi. Aku melihat seorang yang berhasil melarikan diri menyampaikan kabar itu kepada Abraham, yang segera memohon pertolongan surga. Kemudian dengan mengerahkan para hambanya, ia mengejutkan musuh dan membebaskan saudaranya. Lot amat berterima kasih dan penuh penyesalan telah memisahkan diri darinya. Para musuh dan para prajurit pada umumnya, khususnya para raksasa, tidak berpakaian seperti para pengikut Abraham. Pakaian mereka lebih sempit dan lebih pendek; pakaian itu terdiri dari banyak potongan, dengan kancing-kancing, bintang-bintang dan hiasan-hiasan lain. Para raksasa itu sungguh luar biasa besar. Mereka dengan brutal dan biadab membawa semua yang dapat mereka bawa, tetapi mereka seringkali harus menyerahkan barang-barang rampasan itu kepada mereka yang pada gilirannya menjarah mereka.


sumber : “The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich”

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Dosa dan Konsekwensinya        previous  Halaman Sebelumnya     Halaman Selanjutnya  next      up  Halaman Utama