Bab 6
Nuh dan Keturunannya.
Hom dan Dsemschid, Para Pemimpin Bangsa


Aku melihat Nuh, seorang tua yang bersahaja, berbusana jubah putih panjang. Ia sedang sibuk di sebuah kebun buah-buahan, memangkas pepohonan dengan sebuah pisau tulang. Segumpal awan melayang-layang di atasnya; dalam awan terdapat suatu Figur manusia. Nuh jatuh berlutut. Aku melihat bahwa ia, pada saat itu, diberitahu secara batin mengenai rencana Allah membinasakan bangsa manusia, dan ia diperintahkan untuk membangun sebuah bahtera. Aku melihat Nuh bersedih hati atas pemakluman itu, dan ia berdoa agar hukuman dibatalkan. Ia tidak segera mulai bekerja. Lagi Allah menampakkan diri kepadanya, dua kali berturut-turut, memerintahkannya untuk segera memulai pembangunan, jika tidak, ia akan binasa bersama seluruh bangsa manusia lainnya.

Akhirnya, aku melihat Nuh pindah bersama segenap kaum keluarganya ke negeri di mana Zoroaster, Bintang Cemerlang, sesudah itu tinggal. Nuh berdiam di suatu wilayah yang tinggi, terpencil dan berhutan di mana ia dan banyak pengikutnya tinggal di bawah kemah-kemah. Di sini ia mendirikan sebuah mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Allah. Baik Nuh maupun anggota keluarganya tidak mendirikan rumah-rumah permanen, sebab mereka percaya akan nubuat Air Bah. Tetapi bangsa-bangsa kafir sekelilingnya mendirikan pondasi-pondasi raksasa, menetapkan batas-batas halaman, dan membangun beraneka ragam bangunan yang dirancang untuk menahan serangan dan serbuan musuh.

Banyak perbuatan-perbuatan keji dan ngeri di atas bumi pada masa itu. Manusia menyerahkan dirinya pada berbagai-bagai macam kejahatan, bahkan yang paling tidak wajar. Mereka saling menjarah satu sama lain dan merampas apa saja yang berkenan di hati mereka; mereka memporakporandakan rumah-rumah dan ladang-ladang; mereka menculik para wanita dan gadis. Seiring meningkatnya jumlah mereka, meningkat jugalah kejahatan keturunan Nuh. Mereka bahkan menjarah dan menghinakan Nuh sendiri. Mereka tidak jatuh ke dalam keadaan tanpa peradaban. Mereka tidak liar dan biadab; sebaliknya mereka hidup bercukupan dan mempunyai rumah-rumah yang tertata baik - tetapi mereka amat dirasuki oleh kejahatan.

Mereka mempraktekkan penyembahan berhala yang paling tercela. Setiap orang membuat berhalanya masing-masing menurut apa yang paling disukainya. Dengan licik, mereka berupaya membujuk-rayu keturunan langsung Nuh. Mesekh, putera Yafet dan cucu Nuh, menjadi rusak lakunya sesudah ia, ketika bekerja di ladang, menerima dari mereka suatu minuman beracun yang memabukkannya. Minuman itu bukan anggur, tetapi jus dari sejenis tanaman yang biasa mereka minum dalam porsi kecil sementara bekerja, dan yang daun-daun dan buah-buahnya mereka kunyah. Mesekh menjadi ayah dari seorang putera, yang dinamai Hom.

Ketika anak itu dilahirkan, Mesekh memohon dengan sangat kepada saudaranya - Tubal - untuk mengambil bayi itu, dan dengan demikian menyembunyikan kesalahannya. Tubal bersedia melakukannya karena belas kasihan kebapakan. Bayi laki-laki itu, dengan batang dan tunas dari suatu akar tertentu yang liat, diletakkan ibunya di depan kemah Tubal. Dengan itu, ibunya berharap mendapatkan hak atas warisannya; akan tetapi Air Bah telah di ambang pintu, sebab itu rencananya sia-sia belaka. Tubal mengambil anak itu dan membesarkannya dalam keluarganya tanpa mengungkapkan asal-usulnya.

Dan dengan demikianlah kanak-kanak itu dibawa masuk ke dalam bahtera. Tubal menamainya Hom, nama akar yang tunasnya diletakkan dekatnya sebagai satu-satunya tanda. Kanak-kanak itu tidak diberi susu, melainkan diberi minum akar itu. Jika tanaman ini dibiarkan tumbuh tegak, tingginya akan setinggi orang dewasa; tetapi jika ia menjalar di tanah, ia akan memunculkan tunas-tunas serupa asparagus, keras dengan pucuk-pucuk yang lembut.

Tanaman ini dipergunakan sebagai makanan dan sebagai ganti susu. Akar ini berumbi, dan darinya muncul suatu mahkota dari beberapa lembar daun berwarna coklat. Batangnya cukup tebal dan sarinya dijadikan makanan, dimasak seperti bubur atau dipipihkan dalam lapisan-lapisan tipis dan dipanggang. Di mana ia tumbuh subur, tanaman ini berkembang biak dengan pesat dan menutupi hamparan-hamparan tanah. Aku melihatnya dalam bahtera.

Memakan waktu yang amat lama sebelum akhirnya bahtera selesai dibangun, sebab Nuh kerap menghentikan pengerjaannya; satu jeda bertahun-tahun lamanya. Tiga kali Allah memperingatkannya untuk melanjutkan pembangunan. Setiap kali, Nuh akan mempekerjakan pekerja-pekerja, memulai pembangunan dan lagi menghentikannya dengan harapan Allah akan berbelaskasihan. Tetapi pada akhirnya pembangunan pun selesai. Aku melihat bahwa dalam bahtera, seperti pada salib, ada empat jenis kayu: palma, zaitun, cedar dan cemara. Aku melihat pohon-pohon ditebang dan Nuh sendiri memanggul di atas kedua bahunya ke tempat pembangunan bahtera, sebagaimana Yesus sesudahnya memanggul balok salib-Nya. Lokasi yang dipilih untuk pembangunan bahtera adalah sebuah bukit yang dikelilingi oleh sebuah lembah. Pertama-tama, dasarnya yang dibangun.

Bahtera itu bundar di bagian belakang dan lunasnya, yang berbentuk seperti sebuah palungan, diolesi dengan ter. Ada dua loteng yang ditopang pada tonggak-tonggak berlubang, yang berdiri satu di atas yang lain. Tonggak-tonggak ini bukan batang-batang pohon yang bundar, melainkan dalam belahan-belahan oval yang diisi dengan bubur putih yang menjadi berserabut ke arah tengah. Batang pohon itu bermata, atau bergalur, dan daun-daun besar tumbuh sekelilingnya tanpa cabang-cabang. (Mungkin dari spesies palma.) Aku melihat para pekerja melubangi tonggak dengan sebuah alat. Pohon-pohon yang lain dipotong menjadi papan-papan tipis. Ketika Nuh telah membawa semua material ke lokasi yang ditentukan dan menatanya, pembangunan pun dimulai.

Bagian dasar dibuat dan dilapisi ter, baris pertama tonggak-tonggak didirikan, dan lubang-lubang di mana tonggak-tonggak berdiri, diisi dengan ter. Lalu dibangunlah lantai kedua dengan barisan tonggak-tonggak yang lain untuk lantai ketiga, dan lalu dipasang atap. Ruang-ruang di antara tonggak-tonggak ini diisi dengan bilah-bilah coklat dan kuning yang diletakkan bersilang, lubang-lubang dan celah-celah disumpal dengan semacam wol yang didapat dari pepohonan dan tanam-tanaman tertentu, dan lumut putih yang tumbuh amat subur sekeliling pepohonan. Kemudian semuanya dilapisi ter bagian dalam dan luar. Atapnya bundar.

Jalan masuk di antara kedua jendela terletak di bagian tengah satu sisi, sedikit lebih besar dari separuh jalan naik. Di tengah atap juga terdapat sebuah lubang persegi empat. Ketika bahtera telah sepenuhnya dilapisi ter, bahtera berkilau bagai sebuah cermin dalam sinar matahari. Selanjutnya, Nuh bekerja seorang diri untuk jangka waktu yang lama di ruang-ruang berbeda yang diperuntukkan bagi hewan-hewan, sebab semuanya harus dipisahkan. Dua jalan melintasi bagian tengah bahtera, dan di belakang dalam bagian yang oval, tersembunyi oleh hiasan-hiasan gantung, berdiri sebuah mezbah kayu, yang mejanya berbentuk setengah lingkaran.

Sedikit di depan mezbah terdapat satu bokor batu bara. Inilah api mereka. Di kiri dan kanan terdapat ruang-ruang yang disekat-sekat untuk kamar-kamar tidur. Segala macam peti dan peralatan diusung masuk ke dalam bahtera, pula banyak benih, tanam-tanaman dan perdu ditanam sekeliling tembok, yang segera saja diselimuti tanam-tanaman menjalar. Aku melihat sesuatu seperti pohon-pohon anggur dengan buah-buah anggur besar berwarna kuning dibawa masuk, tandan-tandannya sepanjang satu lengan.

Tak ada kata yang dapat mengungkapkan apa yang diderita Nuh dari kejahatan dan niat busuk para pekerja sepanjang masa-masa bahtera dibangun. Mereka memperoloknya; mereka mencacinya dalam berbagai macam cara; mereka menyebutnya dungu. Nuh mengupah mereka dengan baik dengan ternak, akan tetapi itu tak menghindarkan mereka dari mencemoohnya. Tak seorang pun tahu mengapa ia membangun bahtera, sebab itu mereka mengejeknya. Ketika semuanya telah selesai, aku melihat Nuh mengucap syukur kepada Allah, yang lalu menampakkan diri. Allah mengatakan kepadanya untuk mengambil sebatang pipa buluh dan memanggil segala binatang dari keempat penjuru bumi. Semakin dekat hari penghukuman, semakin gelaplah langit. Kecemasan yang ngeri menghantui seluruh bumi; matahari tak lagi menampakkan wajahnya dan gemuruh guntur tak henti-hentinya terdengar. Aku melihat Nuh pergi beberapa jauhnya ke utara, selatan, timur dan barat, sembari meniupkan pipa buluhnya. Binatang-binatang berdatangan begitu mendengar tiupan buluh dan memasuki bahtera secara teratur, berdua-dua, jantan dan betina. Mereka masuk melewati sebilah papan yang direntangkan dari pintu masuk ke tanah. Ketika semuanya sudah aman di dalam, papan itu juga diangkut masuk. Binatang-binatang terbesar, gajah putih dan unta, masuk terlebih dahulu. Mereka gelisah menjelang datangnya badai. Butuh beberapa hari lamanya sebelum semua binatang masuk. Burung-burung masuk melalui tingkap-tingkap dan bertengger pada tiang-tiang di bawah atap dan dalam sangkar-sangkar, sementara unggas air masuk menuju dasar bahtera. Binatang-binatang darat berada di lantai tengah. Binatang-binatang yang untuk disembelih, masing-masing berjumlah tujuh pasang.

Bahtera terdampar dengan sendirinya di puncak bukit, berkilau dalam cahaya kebiruan. Dari jauh, bahtera tampak seolah turun dari awan-gemawan. Dan sekarang Air Bah telah menjelang. Nuh telah memaklumkannya kepada kaum keluarganya. Ia membawa bersamanya ke dalam bahtera Sem, Ham dan Yafet bersama para isteri dan anak-anak mereka. Dalam bahtera ada cucu-cucu berusia limapuluh hingga delapanpuluh tahun bersama anak-anak mereka, besar dan kecil. Semua yang telah bersusah-payah membangun bahtera dan semua yang baik dan bebas dari berhala, masuk bersama Nuh ke dalam bahtera. Ada lebih dari seratus orang dalam bahtera, dan adalah perlu memberi makan setiap hari kepada binatang-binatang dan membersihkan mereka. Harus aku katakan, sebab aku selalu melihatnya demikian, bahwa anak-anak Sem, Ham dan Yafet semuanya masuk ke dalam bahtera. Ada banyak anak-anak lelaki dan perempuan di dalam bahtera; sesungguhnya seluruh kaum keluarga Nuh yang baik. Kitab Suci menyebutkan hanya tiga anak Adam: Kain, Habel dan Set; meski demikian, aku melihat banyak yang lain di antara mereka, dan aku selalu melihat mereka berpasang-pasangan, anak-anak lelaki dan perempuan. Begitu pula, dalam 1 Petrus 3:20 disebutkan hanya delapan orang yang diselamatkan dalam bahtera; yakni, empat pasang leluhur darimana, setelah Air Bah, bumi dipenuhi kembali dengan bangsa manusia. Aku juga melihat Hom dalam bahtera. Kanak-kanak itu diikatkan dengan selembar kulit pada sebuah buaian dari kulit kayu yang dibentuk seperti palungan. Aku melihat banyak bayi-bayi ditempatkan dalam buaian serupa, terapung-apung di atas Air Bah.

Ketika bahtera naik ke atas permukaan air, ketika khalayak ramai di bukit-bukit sekitarnya dan di atas pepohonan yang tinggi menangis dan meratap, ketika air dipenuhi dengan mayat-mayat mengapung dari orang-orang yang tewas tenggelam dan dengan pepohonan yang tercabut hingga akar-akarnya, Nuh dan kaum keluarganya telah aman dalam bahtera. Sebelum ia dan isterinya, ketiga puteranya bersama isteri masing-masing masuk ke dalam bahtera, sekali lagi Nuh memohon dengan sangat belas kasihan Allah. Ketika semuanya telah masuk, Nuh menarik masuk papan dan mengunci pintu. Ia membiarkan saudara-saudara dekat dan sanak keluarga mereka di luar, yakni mereka yang selama pembangunan bahtera telah memisahkan diri darinya. Kemudian pecahlah suatu badai dahsyat yang mengerikan. Halilintar dan kilat sambar-menyambar dengan hebat, hujan dicurahkan begitu deras, dan bukit di mana bahtera berlabuh segera menjadi sebuah pulau. Duka nestapa menyayat hati, begitu memilukan hingga aku percaya itu merupakan sarana banyak orang bagi keselamatan jiwa. Aku melihat setan, hitam menyeramkan, dengan rahang runcing dan ekor panjang, hilir mudik kian kemari menembus badai dan mencobai manusia dalam keputusasaan. Katak dan ular mencari tempat perlindungan dalam celah-celah bahtera. Aku tidak melihat lalat dan binatang-binatang kecil yang menjijikkan; mereka itu ada sesudahnya untuk menyengsarakan manusia.

Aku melihat Nuh mempersembahkan kurban dalam bahtera di atas altar yang dihampari kain merah dan di atasnya lagi kain putih. Dalam sebuah peti yang melengkung disimpan tulang-belulang Adam. Selama doa dan kurban, Nuh menempatkannya di atas altar. Aku juga melihat di atas altar Piala Perjamuan Malam Terakhir yang, semasa pembangunan bahtera, dibawa kepada Nuh oleh tiga figur berjubah putih. Mereka tampak seperti ketiga laki-laki yang memaklumkan kelahiran seorang putera kepada Abraham. Ketiganya datang dari sebuah kota yang kemudian musnah pada masa Air Bah. Mereka menyapa Nuh sebagai seorang yang kemasyhurannya telah sampai ke telinga mereka, dan mengatakan kepadanya bahwa ia harus membawa bersamanya ke dalam bahtera sesuatu yang misterius yang mereka berikan kepadanya, agar benda itu dapat lolos dari Air Bah. Sesuatu yang misterius itu adalah Piala. Di dalamnya terdapat sebutir gandum, sebesar biji bunga matahari, dan sepotong ranting anggur. Nuh menancapkan keduanya pada sebuah apel kuning dan memasukkannya ke dalam Piala. Piala itu tak bertutup, sebab sebuah cabang akan tumbuh darinya. Setelah tercerai-berainya manusia pada waktu pembangunan Menara Babel, aku melihat Piala itu dalam kepemilikan salah seorang keturunan Sem di negeri Semiramis. Ia adalah leluhur kaum Samanenses, yang dibentuk di Kanaan oleh Melkisedek. Ke sanalah mereka membawa Piala.

Aku melihat bahtera berlayar di atas air, dan mayat-mayat terapung di sekelilingnya. Bahtera berhenti di puncak sebuah pegunungan yang tinggi dan berkarang, jauh di timur Siria, dan di sana tinggal untuk waktu yang lama. Aku melihat daratan sudah mulai muncul; kelihatan seperti lumpur diselimuti suatu lapisan kehijauan.

Segera sesudah Air Bah, ikan dan kerang mulai dimakan. Selanjutnya, dengan semakin berkembang-biaknya manusia, mereka makan roti dan burung. Mereka mengusahakan ladang-ladang, dan tanah begitu subur hingga gandum yang mereka tabur menghasilkan bulir-bulir yang amat besar. Akar darimana Hom memperoleh namanya juga ditanam. Kemah Nuh berdiri di tempat di mana, di masa sesudahnya, adalah kediaman Abraham. Di dataran dan di wilayah sektiarnya, putera-putera Nuh mendirikan kemah-kemah mereka.

Aku melihat kutuk atas Ham. Tetapi Sem dan Yafet dengan berlutut menerima Berkat dari Nuh. Berkat disampaikan kepada mereka dengan upacara serupa dengan yang dilakukan Abraham ketika menyampaikan Berkat yang sama kepada Ishak. Aku melihat kutuk yang dilontarkan Nuh atas Ham bergerak ke arah Ham bagai suatu awan hitam dan menggelapkannya. Kulitnya kehilangan warnanya yang putih dan menjadikannya gelap. Dosanya adalah dosa sakrilegi, dosa dia yang akan secara paksa memasuki Tabut Perjanjian. Aku melihat bangsa yang paling rusak akhlaknya dari Ham dan mereka tenggelam semakin dan semakin dalam di kegelapan. Aku melihat bahwa bangsa-bangsa yang hitam, penyembah berhala dan bodoh adalah keturunan Ham. Warna kulit mereka bukan karena sinar matahari, melainkan karena sumber gelap darimana bangsa yang tercela itu berasal.

Mustahil bagiku untuk menceritakan bagaimana aku melihat bangsa-bangsa bertambah banyak dan berkembang dan, dalam berbagai macam cara yang berbeda, jatuh ke dalam kegelapan dan kerusakan akhlak. Tetapi dengan semua itu, banyak berkas-berkas cahaya memancar dari mereka dan mencari terang.

Ketika Tubal - putera Yafet - bersama anak-anaknya sendiri dan anak Mesekh - saudaranya -, memohon nasehat kepada Nuh ke wilayah manakah sebaiknya mereka pergi, jumlahnya ada limabelas keluarga. Anak-anak Nuh telah berkembang jauh sekelilingnya dan keluarga-keluarga Tubal dan Mesekh juga tinggal beberapa jauh dari kediaman Nuh. Ketika anak-anak Nuh mulai bertengkar dan saling menindas satu sama lain, Tubal bermaksud pindah ke tampat yang lebih jauh. Ia tak hendak berurusan dengan keturunan-keturunan Ham, yang telah berencana untuk membangun Menara. Tubal dan keluarganya tidak mengindahkan undangan yang kemudian diterima untuk ikut serta dalam pembangunan; undangan itu ditolak pula oleh anak-anak Sem.

Tubal bersama bala pengikutnya menghadirkan diri di depan kemah Nuh, memohon arahan ke manakah sebaiknya ia pergi. Nuh tinggal di atas pegunungan antara Libanus dan Caucasus. Ia menangis ketika melihat Tubal dan para pengikutnya, sebab ia mengasihi bangsa itu, sebab bangsa itu lebih baik, lebih takut akan Allah, dibandingkan yang lain. Nuh menunjuk suatu wilayah sebelah timur laut dan berpesan kepada mereka untuk tetap setia pada perintah Allah dan untuk mempersembahkan kurban, dan Nuh membuat mereka berjanji menjaga kemurnian keturunan mereka, dan tidak bercampur dengan keturunan Ham. Nuh kemudian memberi mereka ikat pinggang dan pelindung dada yang telah ada bersamanya di bahtera. Kepala-kepala keluarga hendaknya mengenakannya saat melakukan pelayanan ilahi dan menyelenggarakan upacara-upacara perkawinan, agar terhindar dari kutuk dan keturunan yang rusak akhlaknya. Upacara yang dilakukan Nuh ketika mempersembahkan kurban, mengingatkanku akan Kurban Kudus Misa. Ada doa-doa dan tanggapan-tanggapan yang berselang-seling, dan Nuh bergerak dari satu tempat ke tempat lain di altar dan membungkuk dengan hormat. Nuh juga memberi mereka sebuah tas kulit berisi sebuah bejana dari kulit kayu, di mana terdapat sebuah kotak oval keemasan berisi tiga bejana lain yang lebih kecil. Mereka juga menerima darinya akar atau umbi-umbian dari tanaman Hom, gulungan-gulungan kulit kayu atau kulit di mana tertulis huruf-huruf, dan balok-balok kayu bundar di mana terukir simbol-simbol.

Orang-orang ini memiliki warna kulit yang cerah, kuning kemerahan, dan sangat elok. Mereka mengenakan pakaian dari kulit dan wol, yang diikat di pinggang, hanya lengan-lengannya saja yang dibiarkan telanjang. Kulit mereka kenakan dengan kencang, hingga pada mulanya aku berpikir orang-orang ini berbulu. Tetapi ternyata tidak demikian, sebab kulit mereka sendiri sehalus satin. Terkecuali bermacam-ragam benih, mereka tidak membawa banyak barang bawaan bersama mereka, sebab mereka berangkat ke suatu wilayah yang tinggi di timur laut. Aku tidak melihat unta, tetapi ada pada mereka kuda, keledai dan hewan-hewan dengan tanduk-tanduk lebar seperti rusa jantan.  

Aku melihat mereka, para pengikut Tubal, di suatu gunung yang tinggi di mana mereka tinggal satu di atas yang lain dalam gubuk-gubuk yang panjang dan rendah serupa anjang-anjang. Aku melihat mereka menggali tanah dan menanam pepohonan dalam barisan-barisan. Sisi gunung sebaliknya beriklim dingin.

Di kemudian hari, seluruh wilayah menjadi lebih dingin. Sebagai konsekwensi dari perubahan iklim ini, salah seorang cucu Tubal, leluhur Dsemschid, membawa mereka lebih jauh ke arah barat daya. Dengan sedikit pengecualian, semua yang pernah melihat Nuh dan berpamitan darinya wafat di tempat ini, yakni di gunung ke mana Tubal telah menghantar mereka. Mereka yang mengikuti Dsemschid semuanya dilahirkan di gunung ini. Mereka membawa serta bersama mereka beberapa orang lanjut usia yang pernah mengenal Nuh, yang masih bertahan hidup, mengusung mereka dengan amat hati-hati dalam tandu-tandu.

Ketika Tubal bersama keluarganya memisahkan diri dari Nuh, aku melihat di antara mereka anak Mesekh, Hom, yang bersama Tubal masuk ke dalam bahtera. Hom telah dewasa, dan aku melihatnya amat bebeda dari mereka yang di sekelilingnya. Ia berperawakan besar seperti raksasa, dengan pikiran yang sangat serius dan ganjil. Ia mengenakan jubah panjang; ia bagai seorang imam. Ia biasa pergi seorang diri ke puncak gunung dan di sana melewatkan malam demi malam. Ia mengamati bintang-bintang dan mempraktekkan magis. Ia diajar oleh iblis untuk menuangkan apa yang ia lihat dalam penglihatan ke dalam pengetahuan, agama, dan karenanya ia meremehkan dan menghapuskan ajaran Henokh. Kecenderungan-kecenderungan jahat yang diwarisi dari ibunya bercampur dalam dirinya dengan ajaran turun-temurun yang murni dari Henokh dan Nuh, yang, kepadanya anak-anak Tubal bertaut. Hom, dengan penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu palsunya, menyalahtafsirkan dan mengubah kebenaran lama. Ia belajar dan merenung, mengamati bintang-bintang dan mendapatkan penglihatan-penglihatan yang, dengan perantaraan setan, menunjukkan kepadanya gambaran sesat akan kebenaran. Melalui kemiripannya dengan kebenaran, ajaran dan pemujaan berhalanya menjadi cikal bakal bidaah. Tubal adalah seorang yang baik. Perilaku dan ajaran-ajaran Hom amat menyebalkan hati Tubal, yang begitu berduka melihat salah satu puteranya, ayah Dsemschid, mempertautkan dirinya pada Hom. Aku mendengar Tubal mengeluh: “Anak-anakku tidak bersatu, Andai aku tidak memisahkan diri dari Nuh!”

Hom menyalurkan air dari dua sumber air dari bagian gunung yang lebih tinggi ke bawah ke tempat pemukiman. Segera keduanya bergabung menjadi satu aliran yang, setelah satu aliran pendek, berkembang menjadi suatu sungai yang lebar. Aku melihat Dsemschid beserta para pengikutnya menyeberangi sungai itu saat keberangkatan mereka. Hom menerima penghormatan nyaris bagai dewa dari para pengikutnya. Hom mengajarkan kepada mereka bahwa Allah ada dalam api. Ia juga banyak berkutat dengan air, dan dengan akar liat darimana ia mendapatkan namanya. Ia menanamnya dan dengan khidmad membagi-bagikannya sebagai makanan dan obat yang sakral. Pembagian ini pada akhirnya menjadi suatu upacara agama. Ia membawa jus atau buburnya ke mana-mana bersamanya dalam sebuah bejana coklat seperti lesung. Kampaknya terbuat dari bahan yang sama. Mereka mendapatkan barang-barang itu dari orang-orang suku lain yang tinggal jauh di sebuah wilayah yang bergunung-gunung dan menempa peralatan yang demikian dengan sarana api. Aku melihat mereka di suatu gunung darimana api menyala; terkadang di satu tempat, terkadang di lain tempat. Aku pikir bejana yang dibawa-bawa Hom bersamanya dibuat dari logam atau batu yang leleh yang mengalir dari gunung dan yang ditampung dalam suatu cetakan. Hom tidak pernah menikah, juga tidak berusia amat lanjut. Ia mewartakan banyak dari penglihatan-penglihatannya sehubungan dengan kematiannya. Hom sendiri mengimani penglihatan-penglihatan itu, seperti juga Derketo dan para pengikutnya yang lain di masa sesudahnya. Tetapi aku melihatnya mati secara mengerikan, dan yang jahat membawanya tubuh dan jiwa; tak satu pun tersisa darinya. Oleh karena itulah para pengikutnya beranggapan, bahwa, seperti Henokh, ia telah diangkat ke suatu kediaman yang kudus. Ayah Dsemschid adalah murid Hom, dan Hom meninggalkannya semangatnya agar ia kelak dapat menjadi penerusnya.

Sebab pengetahuannya, Dsemschid menjadi pemimpin bangsanya. Mereka segera menjadi suatu bangsa, dan dipimpin oleh Dsemschid bergerak lebih jauh ke selatan. Dsemschid sangat terhormat; ia seorang yang berpendidikan dan memegang teguh ajaran-ajaran Hom. Ia luar biasa dinamis dan penuh semangat, jauh lebih aktif dan lebih baik juga dari Hom, yang disposisinya gelap dan keras. Ia mempraktekkan agama sebagaimana dirumuskan oleh Hom, menambahkan banyak hal dari dirinya sendiri, dan memberikan banyak perhatian pada bintang-bintang. Para pengikutnya menganggap api sebagai sakral. Mereka semua dibedakan dengan suatu tanda khusus yang menyatakan bangsa mereka. Manusia pada masa itu tinggal bersama dalam suku-suku; mereka tidak bercampur seperti sekarang ini. Tujuan utama Dsemschid adalah meningkatkan kualitas bangsanya dan memelihara mereka dalam kemurnian semula; ia memisah-misahkan dan menyatukan mereka sebagaimana yang baik menurut pandangannya. Ia membiarkan mereka sama sekali bebas, namun demikian mereka amat tunduk padanya. Keturunan bangsa itu, yang sekarang aku lihat liar dan biadab di daratan-daratan dan pulau-pulau yang jauh, tak dapat dibandingkan dengan leluhur mereka dalam hal keindahan pribadi atau watak dasar; sebab bangsa-bangsa awal adalah luhur dan sederhana, namun gagah berani. Bangsa-bangsa yang sekarang juga jauh kurang cakap dan cerdas, dan memiliki kualitas jasmani yang lebih rendah.

Dalam pengembaraannya, Dsemschid menetapkan pondasi-pondasi kota kemah, menandai ladang-ladang, membuat jalan-jalan panjang dari batu, dan membentuk pemukiman-pemukiman di sana sini dengan sejumah tertentu laki-laki dan perempuan, kepada siapa ia memberikan ternak, pepohonan dan tanam-tanaman. Dengan hewan tunggangannya, ia mengelilingi bidang-bidang tanah yang luas, memukul bumi dengan suatu alat yang senantiasa ia bawa dalam tangannya, dan lalu orang-orangnya mulai bekerja di tempat-tempat itu, membongkar dan memarang, membuat batas-batas dan menggali saluran-saluran. Dsemschid luar biasa tegas dan adil. Aku melihatnya sebagai seorang lelaki tua yang tinggi perawakannya, sangat kurus dengan warna kulit merah kekuningan. Ia mengendarai seekor hewan kecil yang amat gesit dengan kaki-kaki ramping dan garis-garis hitam dan kuning, amat mirip seekor keledai. Dsemschid mengendarai tunggangannya mengelilingi suatu bidang tanah seperti orang-orang kita mengelilingi suatu ladang pada malam hari dan mempersiapkannya untuk diolah. Ia berhenti di sana sini, menancapkan kampaknya ke dalam tanah atau menanamkan pancang guna menandai lokasi-lokasi pemukiman mendatang. Alat itu, yang di kemudian hari disebut mata bajak emas Dsemschid, bentuknya seperti sebuah salib Latin. Mata bajak itu panjangnya sekitar satu lengan dan, ketika ditarik, membentuk sebuah sudut yang tepat dengan patilnya. Dengan alat ini, Dsemschid membuat retakan-retakan di tanah. Gambar dari alat ini ada di sisi jubahnya di mana kantong-kantong biasanya berada. Gambar ini mengingatkanku akan simbol jabatan yang senantiasa dibawa Yusuf dan Aseneth di Mesir, dan dengan alat itu juga mereka memeriksa tanah, meski alat milik Dsemschid lebih menyerupai sebuah salib. Di bagian atasnya terdapat sebuah cincin.

Dsemschid mengenakan sebuah mantol yang jatuh ke belakang dari depan. Dari ikat pinggang ke lutut tergantung empat penutup kulit, dua di belakang dan dua di depan, ditalikan pada pinggang dan diikatkan di bawah lutut. Kakinya dibalut dengan kulit dan tali- temali. Ia mengenakan sebuah pelindung dada keemasan. Ia mempunyai beberapa pelindung dada serupa untuk dikenakan pada berbagai upacara. Mahkotanya berbentuk sebuah lingkaran emas; ujung mahkota bagian depan lebih tinggi dan bengkok serupa sebuah tanduk kecil, dan di bagian bawahnya melambai sesuatu seperti sebuah bendera kecil.  

Dsemschid terus-menerus berbicara mengenai Henokh. Ia tahu bahwa Henokh diangkat dari dunia tanpa mengalami kematian. Ia mengajarkan bahwa Henokh telah mewariskan kepada Nuh semua kebajikan dan semua kebenaran, telah menunjuknya sebagai bapa dan pelindung semua berkat, dan bahwa dari Nuh semua berkat ini telah diwariskan kepada dirinya. Ada padanya sebuah bejana keemasan berbentuk telur di mana, sebagaimana dikatakannya, disimpan sesuatu yang berharga yang telah disimpan oleh Nuh dalam bahtera, dan yang diwariskan kepada dirinya. Bilamana ia memancangkan kemahnya, di sana bejana keemasan ditempatkan di atas sebuah kolom, dan di atasnya, pada tonggak-tonggak yang indah berukir macam-macam figur, sebuah naungan dibentangkan. Kemah itu tampak seperti sebuah kuil kecil. Penutup bejana adalah sebuah mahkota dari semacam renda. Apabila Dsemschid menyalakan api, ia melemparkan ke dalam api sesuatu yang ia ambil dari bejana. Bejana itu sungguh pernah dipergunakan dalam bahtera, sebab Nuh menyimpan api di dalamnya; tetapi sekarang bejana itu adalah berhala yang amat dihormati Dsemschid dan orang-orangnya. Apabila ditahtakan, api dinyalakan di hadapannya, doa-doa dipanjatkan dan hewan-hewan dikurbankan, sebab Dsemschid mengajarkan bahwa Allah yang agung berdiam dalam api, dan bahwa ada pada-Nya dewa-dewa dan roh-roh yang lebih rendah yang melayani-Nya.

Semua tunduk pada Dsemschid. Ia mendirikan pemukiman laki-laki dan perempuan di sana sini, memberi mereka ternak dan memberi ijin untuk menanam dan membangun. Sekarang mereka diijinkan untuk mengikuti kehendak mereka sendiri dalam hal perkawinan, sebab Dsemschid memperlakukan mereka seperti ternak, menetapkan isteri-isteri bagi para pengikutnya seturut pandangannya. Ia sendiri mempunyai beberapa isteri. Salah seorang isterinya sungguh cantik jelita dan berasal dari keluarga yang lebih baik dari yang lain. Dsemschid menetapkan putera dari isterinya ini untuk menjadi penerusnya. Seturut perintah Dsemschid, menara-menara bundar besar didirikan dengan anak-anak tangga naik untuk mengamati bintang-bintang. Para perempuan tinggal terpisah dan tunduk taat. Mereka mengenakan pakaian-pakaian pendek, bagian tubuh dan dada dari bahan seperti kulit, dan sesuatu tergantung di bagian belakangnya. Sekeliling leher dan di atas pundak mereka mengenakan sebuah mantol penuh yang bundar, yang jatuh di bawah lutut. Pada bagian pundak dan dada, dihias dengan lambang-lambang atau huruf-huruf. Di setiap wilayah yang ia dirikan, Dsemschid memerintahkan agar dibangun jalan-jalan langsung ke arah Babel.

Dsemschid senantiasa menghantar orang-orangnya ke wilayah-wilayah yang tak berpenghuni, di mana tak ada bangsa yang harus dihalau. Ia bergerak ke mana saja dengan kebebasan penuh, sebab ia hanyalah seorang pendiri, seorang penetap. Bangsanya memiliki warna kulit kemerahan yang cerah, orang-orang yang sangat elok. Semuanya mengenakan tanda guna membedakan kemurnian dari keturunan campuran. Dsemschid bergerak ke sebuah gunung yang tinggi berselimutkan es. Aku tidak ingat bagaimana ia berhasil melintas, tetapi banyak dari pengikutnya binasa. Mereka mempunyai kuda atau keledai; Dsemschid mengendarai hewan kecil bergaris-garis. Pergantian iklim telah menghalau mereka dari negeri mereka. Di sana menjadi terlalu dingin bagi mereka, tetapi di sini sekarang lebih hangat. Dalam pengembaraannya terkadang ia bertemu dengan suatu suku yang tak berdaya atau suku yang melarikan diri dari kelaliman pemimpin mereka, atau menanti dalam penderitaan datangnya seorang pemimpin. Dengan sukahati mereka tunduk pada Dsemschid, sebab ia lemah-lembut, dan ia membawa bagi mereka biji-bijian dan berkat. Mereka adalah orang-orang buangan yang melarat, yang seperti Ayub, dijarah dan terasing. Aku melihat orang-orang miskin yang tak mempunyai api dan yang harus membakar roti mereka pada batu-batu yang panas di bawah terik sinar matahari. Ketika Dsemschid memberi mereka api, mereka menganggapnya sebagai dewa. Ia berjumpa dengan suatu suku lain yang mengorbankan anak-anak yang cacat atau yang tidak mencapai standard keelokan mereka. Anak-anak kecil dikubur hidup-hidup hingga sebatas pinggang dan api dinyalakan sekeliling mereka. Dsemschid mengakhiri adat ini. Ia membebaskan banyak anak-anak malang, yang ia kumpulkan dalam sebuah kemah dan percayakan pemeliharaannya pada beberapa perempuan. Sesudahnya, ia mempergunakan mereka, di sana sini, sebagai hamba-hamba. Dsemschid amat berhati-hati menjaga kemurnian garis silsilah.

Dsemschid pertama bergerak ke arah barat daya, dengan Gunung Nabi di selatan sisi kirinya; kemudian ia ke arah selatan, gunung masih di kirinya, tetapi di sebelah timur. Aku pikir, sesudahnya ia melintasi Caucasus. Pada masa itu, ketika wilayah-wilayah itu dipenuhi manusia, ketika semuanya hidup dan aktif, negeri-negeri kita masih berupa hutan, padang belantara dan rawa-rawa; hanya ke arah timur dapat dijumpai suatu suku kecil pengembara. Bintang Cemerlang (Zoroaster), yang hidup jauh sesudahnya, adalah keturunan dari putera Dsemschid, yang ajaran-ajarannya ia hidupkan kembali. Dsemschid menulis berbagai macam hukum pada kulit kayu dan piringan-piringan batu. Satu surat panjang seringkali terdiri dari satu kalimat. Bahasa mereka adalah bahasa primitif, yang masih ada kemiripannya dengan bahasa kita. Dsemschid hidup tepat sebelum Derketo dan puterinya, ibu kaum Semiramis. Ia sendiri tidak pergi ke Babel, meski karyanya mengarah ke sana.

Aku melihat sejarah Hom dan Dsemschid sementara Yesus membicarakannya di hadapan para filsuf kafir, di Lanifa di Pulau Cyprus. Para filsuf ini berbicara di hadapan Yesus mengenai Dsemschid sebagai salah seorang raja bijaksana yang paling kuno yang telah datang lebih jauh dari India. Dengan sebuah mata bajak keemasan yang diterima dari Allah, ia telah membagi-bagi dan membangun pemukiman-pemukiman di banyak pulau, dan yang telah menyebarluaskan berkat ke mana-mana. Mereka menanyai Yesus mengenai Dsemschid dan beberapa hal mengagumkan sehubungan dengannya. Yesus menanggapi pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa Dsemschid pada hakekatnya adalah seorang yang bijak, seorang bijaksana menurut darah dan daging, bahwa ia adalah seorang pemimpin bangsa-bangsa; bahwa setelah tercerai-berainya manusia saat pembangunan Menara Babel, ia memimpin satu bangsa dan menetapkan negeri-negeri menurut suatu tatanan tertentu; bahwa ada pemimpin-pemimpin lain seperti itu yang telah, sungguh, mengamalkan hidup yang lebih buruk darinya, sebab bangsanya tidak jatuh pada ketidaktahuan yang begitu rupa sebagaimana kebanyakan yang lainnya. Tetapi Yesus menunjukkan juga kepada mereka dongeng-dongeng yang telah ditulis mengenainya dan bahwa ia adalah sisi gambar yang salah, suatu tipe palsu dari imam dan raja Melkisedek. Ia meminta mereka untuk memperhatikan perbedaan antara bangsa Dsemschid dan bangsa Abraham. Sementara aliran-aliran bangsa-bagnsa berjalan terus, Allah telah mengutus Melkisedek kepada keluarga-keluarga terbaik, untuk memimpin dan mempersatukan mereka, untuk mempersiapkan bagi mereka tanah-tanah dan tempat-tempat kediaman, agar mereka dapat memelihara diri tak bercela dan, sesuai dengan tingkat kelayakan mereka, didapati kurang lebih layak untuk menerima Janji. Siapa itu Melkisedek, Yesus serahkan kepada mereka sendiri untuk memutuskannya, tetapi satu hal mereka dapat yakin, bahwa ia adalah seorang tipe kuno dari yang akan datang, tetapi akan segera datang kegenapan Janji. Kurban roti dan anggur yang telah ia persembahkan akan digenapi dan disempurnakan, dan akan berlangsung hingga akhir waktu.      


sumber : “The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich”

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Dosa dan Konsekwensinya        previous  Halaman Sebelumnya     Halaman Selanjutnya  next      up  Halaman Utama