Bab 22
Percakapan Yesus dengan Maria si Pendiam;
Percakapan Yesus dengan BundaNya

Dengan ditemani Lazarus, Yesus pergi juga ke kediaman para perempuan, dan Marta membawa Yesus kepada saudarinya, Maria si Pendiam, dengan siapa Yesus ingin berbicara. Sebuah tembok memisahkan halaman yang besar dari halaman yang lebih kecil; meski demikian, halaman yang lebih kecil ini masih cukup luas. Di dalamnya terdapat sebuah taman tertutup yang berdampingan dengan kediaman Maria. Mereka berjalan melewati sebuah gerbang, Yesus tinggal dalam taman kecil sementara Marta pergi memanggil saudarinya si Pendiam. Taman itu ditata sungguh indah. Di tengahnya berdiri sebuah pohon kurma yang besar, sekelilingnya tanam-tanaman aromatik dan perdu. Di satu sisi terdapat sebuah mataair atau lebih tepat semacam danau kecil dengan sebuah bangku batu di tengah danau. Dari tepi danau ke bangku batu ditempatkan sebilah papan yang dapat diseberangi Maria si Pendiam. Dan di sanalah, di bangku batu, Maria duduk di bawah sebuah naungan dengan air di sekelilingnya. Marta pergi kepadanya dan memintanya datang ke taman, sebab seseorang sedang menanti di sana untuk berbicara dengannya. Maria si Pendiam amat taat. Tanpa membantah, ia mengenakan kerudungnya dan mengikuti saudarinya ke taman. Kemudian Marta undur diri. Maria tinggi perawakannya dan sangat cantik jelita. Usianya sekitar tigapuluh tahun. Ia biasa mengarahkan matanya ke surga. Jika sesekali ia memandang ke sisi di mana Yesus berada, itu hanyalah pandangan sekilas dan amat samar, seolah ia memandang di kejauhan. Bahkan ketika berbicara mengenai dirinya sendiri, ia tidak pernah menggunakan kata ganti saya, melainkan selalu engkau, seolah ia melihat dirinya sebagai orang kedua dan berbicara kepadanya. Ia tidak menyalami Yesus ataupun berlutut di hadapan-Nya. Yesus-lah yang pertama menyalaminya, dan mereka berjalan-jalan bersama sekeliling taman. Tepatnya, mereka tidak saling bercakap. Maria si Pendiam mengarahkan pandangannya jauh di atas dan berbicara seolah semuanya sedang berlalu di hadapan matanya. Yesus berbicara dengan cara yang sama mengenai BapaNya dan kepada BapaNya. Maria tidak pernah menatap Yesus, meski sementara berbicara ia sesekali setengah berpaling ke samping di mana Yesus berjalan. Pecakapan lebih merupakan sebuah doa, sebuah madah pujian, sebuah kontemplasi, suatu penyingkapan misteri daripada suatu percakapan. Maria tampak seolah acuh atas keberadaannya sendiri. Jiwanya berada di suatu dunia lain sementara raganya berada di dunia.

Dalam percakapan mereka sepanjang waktu itu, aku dapat mengingat bahwa, sementara memandang secara intuitif pada Inkarnasi Kristus, mereka berbicara seolah melihat Tritunggal Mahakudus sedang bertindak dalam misteri itu. Aku tak dapat mengingat kata-kata mereka yang sederhana namun mengandung makna mendalam. Maria memandangnya dan mengatakan: “Bapa mengutus Putra untuk turun kepada umat manusia, di mana seorang Perawan akan mengandung-Nya.” Kemudian Maria menggambarkan sukacita para malaikat dan bagaimana Gabriel diutus kepada Santa Perawan. Lalu ia bercerita mengenai kesembilan paduan suara malaikat, yang semuanya turun bersama pembawa kabar sukacita. Maria bercerita sebagaimana seorang kanak-kanak dengan riang gembira menceritakan suatu perarakan yang melintas di hadapannya.” Selanjutnya, ia tampak memandang ke dalam kamar Santa Perawan, kepada siapa Maria si Pendiam mengucapkan kata-kata ekspresif mengenai pengharapannya agar Santa Perawan menerima pesan malaikat. Ia melihat malaikat tiba dan memaklumkan kedatangan Juruselamat. Ia melihat semua dan menceritakan semua, seolah mengungkapkan pikirannya dalam perkataan yang lantang, dengan mata memandang di kejauhan. Sekonyong-konyong ia berhenti, matanya terarah kepada Santa Perawan yang tampaknya tengah masuk ke dalam dirinya sendiri sebelum menjawab kepada malaikat, dan ia dengan polos mengatakan, “Jadi, engkau telah mengucapkan kaul keperawanan? Ah, jika engkau menolak menjadi Bunda Allah, apakah gerangan yang akan terjadi? Apakah akan ada seorang perawan lain?” Lalu, berbicara kepada bangsanya, ia berseru, “Andai sang Perawan menolak, betapa lama, wahai yatim piatu Israel, engkau masih harus berkeluh-kesah!”  Dan sekarang, dipenuhi sukacita oleh fiat Santa Perawan, ia meledak dalam kata-kata pujian dan syukur, menceritakan keajaiban kelahiran Yesus dan, berbicara kepada Kanak-kanak Ilahi, mengatakan, “Mentega dan madu akan menjadi makananku.” Lagi ia mengulang nubuat-nubuat, menceritakan nubuat-nubuat Simeon dan Hana, dan lain-lain, berbicara dengan tokoh-tokoh berbeda sehubungan dengannya, dan sepanjang waktu ini seolah memandang peristiwa-peristiwa itu, berada sejaman dengan mereka. Akhirnya, sampai pada masa sekarang, ia berkata, seolah pada diri sendiri, “Sekarang Engkau di jalan yang pahit dan menyengsarakan,” dan seterusnya. Meski ia tahu bahwa Tuhan ada di sampingnya, namun ia bertindak dan berbicara seolah Ia tak berada lebih dekat dengannya dibandingkan segala penglihatan yang baru saja dikisahkannya. Yesus menyela Maria dari waktu ke waktu, dengan doa dan syukur, memuji BapaNya dan menjadi pengantara bagi umat manusia. Seluruh percakapan sungguh menyentuh tak terkira dan amat mengagumkan.

Yesus meninggalkan Maria. Kembali ke keheningan dan sikap lahiriahnya yang apatis, Maria pulang ke rumah. Ketika Yesus kembai kepada Lazarus dan Marta, Ia mengatakan kepada mereka sesuatu seperti berikut, “Ia bukannya tanpa pengertian, tetapi jiwanya bukanlah dari dunia ini. Ia tidak melihat dunia ini dan dunia ini tidak memahaminya. Ia bahagia. Ia tidak mengenal dosa.”

Maria si Pendiam dalam keseluruhan keadaan rohani kontemplasinya sungguh dan sama sekali tak sadar akan segala yang terjadi atasnya atau sekelilingnya. Ia senantiasa terasing secara demikian. Belum pernah sebelumnya ia berbicara di hadapan yang lain seperti yang baru saja dilakukannya dengan Yesus. Di hadapan semua yang lain, ia diam membisu, meski bukan karena sombong atau tidak ramah. Tidak, melainkan karena ia tidak melihat orang-orang itu secara batin, tidak melihat apa yang mereka lihat, melainkan memandang pada Penebusan dan hal-hal surgawi saja. Apabila terkadang disapa oleh seorang sahabat keluarga yang terpelajar dan saleh, ia akan memang terdengar mengucapkan beberapa patah kata, meski tanpa mengerti sepatah katapun dari apa yang telah dikatakan kepadanya. Tanpa ada hubungannya dengan penglihatan yang dilihatnya secara batin pada saat itu, ia mendengar tanpa mendengarkan; sebagai konsekuensinya, jawab yang disampaikannya yang berpusat pada apa yang pada saat itu memikat perhatiannya, membingungkan para pendengar. Oleh alasan inilah ia dianggap oleh keluarga sebagai dungu. Keadaannya membuat Maria membutuhkan kediaman tersendiri, sebab jiwanya tidak hidup pada masa itu. Ia mengusahakan sebuah kebun kecil dan menyulam untuk kepentingan Bait Allah. Marta membawakan pekerjaan untuknya. Maria terampil dengan jarumnya, yang ia lakukan dalam refleksi dan meditasi yang ta terputus. Ia berdoa dengan teramat saleh dan tekun, dan meanggung semacam silih derita bagi dosa-dosa yang lain, sebab jiwanya kerap terhimpit seolah beban seluruh dunia ditimpakan atasnya. Kediamannya ditata nyaman dengan sofa dan bermacam perabot. Ia makan sedikit dan senantiasa seorang diri. Ia wafat dalam dukacita mendalam atas dahsyatnya Sengsara Yesus, yang dinubuatkan kepadanya dalam roh.

Marta berbicara kepada Yesus mengenai Magdalena dan kekhawatirannya sendiri yang besar sehubungan dengan saudarinya ini. Yesus menghiburnya, mengatakan bahwa Magdalena pasti akan bertobat, tetapi Marta harus tanpa kenal lelah berdoa baginya serta mendorongnya untuk mengubah hidup.

Sekitar setengah dua, Santa Perawan tiba bersama Maria Khuza, Lea, Maria Salome, dan Maria Kleopas. Pelayan telah terlebih dahulu mengabarkan kedatangan mereka. Marta, Serafia, Maria Markus dan Susana menuju balai di pintu masuk kastil di mana kemarin Yesus diterima oleh Lazarus. Para pelayan membawa makanan dan minuman serta bejana-bejana yang diperlukan untuk membasuh kaki para tamu dan melaksanakan tugas penyambutan; para tamu mengganti pakaian dan mengenakan kerudung baru. Semua mengenakan pakaian wol yang tak dicelup, berwarna putih kekuningan atau kecoklatan. Mereka ikut ambil bagian dalam suatu santap ringan, dan kemudian mengikuti Marta ke kediamannya.

Yesus dan para lelaki sekarang menghadirkan diri untuk menyalami para perempuan kudus; sesudahnya Yesus undur diri untuk berbincang dengan Santa Perawan. Ia mengatakan kepada Bunda-Nya dengan cara paling khidmad dan penuh kasih sayang bahwa Ia akan memulai pekerjaan-Nya, bahwa Ia sekarang akan pergi ke baptisan Yohanes dan Ia akan kembali dan sekali lagi bersama BundaNya sejenak di wilayah Samaria, tetapi kemudian Ia akan undur diri ke padang gurun selama empatpuluh hari. Ketika Maria mendengar-Nya berbicara mengenai padang gurun, ia menjadi amat khawatir. Ia memohon dengan sangat kepada-Nya untuk tidak pergi ke tempat yang begitu ngeri di mana Ia dapat mati kelaparan dan kehausan. Yesus menjawab bahwa mulai sekarang hendaknyalah ia tidak berupaya menghalangi-Nya dengan pemikiran-pemikiran manusia, sebab Ia harus menunaikan misi-Nya, dan BundaNya harus mengurbankan segala tuntutan pribadi yang murni atas-Nya. Yesus menambahkan bahwa meski Ia akan senantiasa mengasihinya untuk selamanya, namun sekarang Ia diperuntukkan bagi segenap umat manusia. Hendaknyalah BundaNya melakukan sebagaimana yang dikatakan-Nya dan Bapa SurgawiNya akan mengganjarinya, sebab apa yang dinubuatkan Simeon akan segera digenapi, sebilah pedang akan menembusi jiwanya. Santa Perawan mendengarkan dengan khidmad. Ia teramat berduka, meski pada saat yang sama amat kuat dalam penyerahan diri kepada Allah, sebab Yesus sungguh lemah-lembut dan penuh kasih sayang.

Sore itu Lazarus mengadakan perjamuan di mana Simon si Farisi dan beberapa orang lain dari sektenya diundang. Para perempuan makan di sebuah ruang yang berdekatan, yang dipisahkan dengan kisi-kisi, dari ruang makan para lelaki, tetapi dapat mendengar semua yang dikatakan Yesus. Yesus mengajar mengenai iman, harapan, kasih dan ketaatan. Ia mengatakan bahwa mereka yang hendak mengikuti-Nya, jangan menoleh ke belakang. Hendaknyalah mereka mengamalkan apa yang Ia ajarkan dan menderita pencobaan yang mungkin menimpa mereka, tetapi bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan mereka. Ia menyinggung lagi mengenai jalan onak duri di hadapan-Nya, mengenai pukulan deraan dan aniaya yang harus Ia tanggung. Yesus menanamkan kesan mendalam atas mereka akan kenyataan bahwa barangsiapa menyebut diri sahabat-Nya akan harus menderita bersama-Nya. Para pendengar amat tersentuh hatinya; mereka mendengarkan dengan takjub perkataan-Nya. Tetapi apa yang Ia katakan mengenai Sengsara-Nya yang pahit, tidak dapat mereka pahami sepenuhnya. Mereka tidak menangkap kata-kata-Nya dalam artinya yang sederhana dan harafiah, melainkan menganggapnya sebagai ungkapan simbolis dari suatu nubuat. Kaum Farisi yang hadir, meski kurang dalam disposisi batin dibandingkan yang lainnya, tiada mendapati sesuatu yang salah dalam perkataan Yesus. Tetapi, kali ini Yesus berbicara dengan amat lembut hati.


sumber : “The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich”; diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net