Kesaksian Iman:
Kematian Dia yang Dikasihi Tuhan


Tulisan ini dibuat sebagai suatu kesaksian iman demi menggerakkan siapa pun yang membacanya untuk merindukan suatu kematian yang bahagia, yang dalam rahmat Tuhan, suatu kematian yang kudus, yang bukan hanya hak istimewa para santa santo, melainkan bisa didapatkan siapa pun yang hidupnya berkenan di hadapan Allah.

Frederika Stephanie Emilia, seorang pendoa. Andai tidak terganjal ijin orangtua, dia adalah seorang biarawati. Setiap harinya dimulai  pukul dua pagi, ketika ia bangun awal supaya dapat tuntas mendaraskan semua doa dan devosinya: doa-doa kepada Allah Tritunggal Mahakudus, devosi kepada Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, devosi kepada para malaikat agung dan malaikat pelindung, devosi kepada para kudus, dan devosi bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Harinya diakhiri dengan Novena kepada Hati Kudus Yesus dan Novena kepada Santa Perawan Maria yang didaraskan setiap jam mulai petang.

Selain semangat doanya, tidak ada yang istimewa darinya. Pendiam dan tertutup. Melakukan hal-hal rumah tangga yang biasa dan melayani Mama yang sudah lanjut usia. Pelayanan yang dilakukan dengan sabar, sepenuh hati, dengan berusaha memuaskan Mama yang perfeksionis, demanding, rewel, mungkin khas orang lanjut usia? "Untuk membalas air susu Mama," katanya, atau di saat lain ia berkata, "Sewaktu kita masih bayi, rewel dan menyusahkan, membangunkan tidur malamnya, Mama tidak pernah memukul, atau menampar atau membanting kita, melainkan melayani kita dengan kasih." "Kalau bukan sekarang, kapan lagi aku bisa membalas kasih Mama?" Sewaktu Mama jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit, ia melayani dengan pengetahuan yang mantap seolah ia pernah belajar menjadi seorang jururawat. Ketika orang heran, dari mana didapatnya pengetahuan itu, ia hanya berujar, "Dengan doa." Keinginannya yang pernah terucap, namun belum / tidak pernah terwujud adalah membuka rumah singgah, macam yang dianjurkan Bapa Suci Fransiskus, untuk para lanjut usia.

Karena pelayanannya ini, dan karena ia sendiri selalu menjaga kebersihan rumah dengan sangat teliti, ia kecapaian dan jatuh sakit; penderitaan yang ditanggungnya sendiri, dalam diam, sebab sudah kebiasaannya dan tekadnya untuk tidak mau merepotkan orang lain. Bahkan di setiap hari ulang tahunnya, ia tidak pernah mengharapkan hadiah, sebaliknya ia yang bagi-bagi hadiah. Penderitaan yang ditanggung dalam bisu. Dan kebisuannya ini berujung maut; kematian yang tak disangka dan tiba-tiba, sehingga mengejutkan semua orang.


"Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya." ~ Mazmur 116:15

Mengingat pergaulannya yang tidak luas, tidak aktif dalam doa dan kegiatan lingkungan, dan ia tidak mengenal seorang imam pun secara pribadi; juga mengingat betapa tidak mudahnya mendapatkan seorang imam untuk pelayanan ibadat, maka betapa luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepada Emilia, yang dikasihi-Nya, dalam menghantarkan kepulangan jiwanya secara layak ke rumah Bapa. Seorang imam Karmel terkasih setia mendampingi dengan tulus hati dalam doa sederhana penyambutan jenazah yang tiba di kota asal dan dalam ibadat tutup peti, dengan doa-doa kepada Tuhan dan seruan mohon perantaraan para kudus, (bagaimana imam tahu bahwa Emilia setia berdevosi mohon perantaraan para kudus?) yang diakhiri dengan seruan kepada Santa Emilia. Doa Rosario lingkungan yang diadakan dalam rangka bulan Mei menghormati Santa Perawan Maria juga berkenan dipindahkan ke rumah duka.

Puncak kasih Allah Yang Maharahim sungguh terasa dalam ibadat kremasi. Terjadi hal-hal yang di luar wewenang, sehingga, kendati jenazah diberangkatkan sesuai jadwal, kedatangannya ke tempat perabuan mengalami keterlambatan. Di sinilah kami diingatkan akan kuasa Kerahiman Ilahi, sebab tepat saat peti dan altar selesai dipersiapkan, alarm doa jam tiga petang, jam Kerahiman Ilahi, berbunyi. Seorang imam diosesan terkasih telah sebelumnya mengatakan: "Tuhan Sang Kerahiman menerima Frederika Stephanie Emilia dalam kebahagiaan surgawi. RIP."

Imam Karmel terkasih juga yang melayani ibadat keremasi dengan luar biasa khusuk, khidmad, dengan banyak percikan penyucian dan pendupaan, dengan hak-hak istimewa yang diberikan kepada keluarga; imam sendiri memimpin mereka yang hadir untuk melantunkan lagu meditasi, "Yesus… Yesus… Yesus…" Dalam suasana seperti itu, dan melihat imam terkasih kerap membungkuk hormat di depan peti jenasah, orang merasa seperti sedang ikut ambil bagian dalam upacara kematian seorang kudus! Betapa luar biasa kasih dan kerahiman yang Allah limpahkan kepada orang yang dikasihinya. Sebanyak dia berdoa dan berkenan di hadapan Allah, sebanyak itu curahan kasih dan kerahiman yang Allah limpahkan kepadanya. Terpujilah Allah Yang Maharahim!

Airmata duka mengalir tanpa henti tak tertahankan. Imam-imam terkasih memberikan penghiburan, "Biarkan airmatamu mengalir, sebab itu tanda cintamu padanya. Sambil bisikkan doa dan pelan-pelan ikhlaskan dia."

"Let God, let go in peace."
"Emilia ada denganmu dalam doa-doanya dari surga… Semangatnya tetap buatmu."
"F.S. Emilia, yang kudus dan luar biasa, berada dalam persekutuan para kudus di surga."
Amin. Amin. Amin.



16 Juni 2019
Hari Raya Tritunggal Mahakudus
mengenang yang terkasih F. S. Emilia ("Percakapan Jiwa dengan Dia", wafat 11 Mei 2019)



Kerahiman di Saat Kematianmu
diterjemahkan dari "Reflection 159: Mercy at the Hour of Your Death"; divinemercy.life


Setiap kali kita berdoa "Salam Maria", kita berdoa untuk saat suci kematian kita. Dengan melakukannya, kita mempercayakan saat itu kepada Bunda Tersuci kita agar ia menjadi perantara kita pada saat kita paling membutuhkannya. Doa suci lainnya yang didoakan dalam persiapan untuk saat itu adalah Kaplet Kerahiman Ilahi. Terlalu sering kita takut akan saat kematian kita. Dan meski hal ini dapat dimengerti hingga batas tertentu, kita harus membiarkan Tuhan kita menyingkapkan kepada kita pentingnya dan sucinya momen kudus itu. Semuanya dalam hidup ini haruslah merupakan persiapan untuk saat terakhir ini dari kehidupan duniawi kita. Jika kita telah mencari Kerahiman Allah yang berlimpah sepanjang hidup, maka kita diyakinkan akan Kerahiman-Nya saat kematian kita menuju hidup selanjutnya. Jika belum, kita masih harus percaya bahwa Kerahiman-Nya tak terbatas dan, selama kita masih bernapas dan hidup, Ia menawarkan untuk membanjiri kita dengan karunia kudus-Nya (Lihat Buku Catatan Harian # 811).

Apakah kamu takut akan saat kematianmu? Atau apakah kamu takut akan saat kematian orang-orang yang kamu kasihi? Meski hal ini normal dan dapat dimengerti, kita harus berupaya untuk melihat saat itu sebagai suatu saat Kerahiman agung. Allah mengasihi, dengan kasih mendalam, jiwa yang berada di saat terakhir hidup ini. Ia melihat dengan antisipasi suci pada jiwa yang merindukan persatuan yang penuh dan segera yang menanti. Refleksikan saat sucimu. Ketahuilah bahwa Tuhan kita ingin memulai persiapanmu untuk saat itu sekarang ini dengan terus meningkatkan Kerahiman-Nya dalam dirimu. Biarkan Kerahiman itu tercurah dan mungkinkan ia untuk mempersiapkan hatimu untuk saat di mana kamu mendapat hak istimewa untuk memandang wajah Tuhan kita dari muka ke muka.

Bunda Tersuci, doakan aku sekarang dan pada saat kematianku. Yesus terkasih, aku rindu hatiku selalu siap untuk saat ketika Engkau memanggilku pada Diri-Mu. Semoga semua yang aku lakukan dalam hidup ini menjadi suatu persiapan untuk saat kematian itu, dan semoga aku menerima di saat itu Kerahiman-Mu yang berlimpah. Tuhan, sudilah juga memberi aku rahmat untuk membantu mempersiapkan orang-orang lain untuk saat suci ini dan untuk berdoa bagi mereka dengan sungguh-sungguh ketika saat itu tiba.
Yesus, aku percaya pada-Mu.


Doa untuk Arwah Orang yang Terkasih