Siapa itu Elia?
oleh: P. William P. Saunders *
Dalam misa harian baru-baru ini dibacakan kisah Elia dan bagaimana ia diangkat ke surga dalam suatu kereta berapi dalam angin badai. Saya bingung. Bukankah pintu surga ditutup setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan tidak dibuka hingga Tuhan kita menunaikan kurban-Nya demi dosa-dosa kita? Bagaimana Elia dapat pergi ke surga? Jika ia tidak pergi ke surga, ke manakah ia pergi?
~ seorang pembaca di Alexandria

Elia adalah seorang nabi besar yang hidup pada abad kesembilan SM, dalam masa pemerintahan Raja Ahab dan Ratu Izebel, dan Raja Ahazia dari Israel. Kisahnya dapat kita temukan dalam Kitab Raja-Raja I dan II dalam Perjanjian Lama. Elia memaklumkan bahwa Yahwe adalah satu-satunya Allah yang benar, dan ia menyerukan kepada orang banyak agar bertobat dari menyembah berhala-berhala palsu, dari mengacuhkan perjanjian dan dari dosa melawan hukum-hukum Tuhan.

Tibalah waktunya ketika misi Elia harus berakhir dan tugas kenabian akan diserahkan kepada Elisa, muridnya. Bahkan rombongan nabi dari Betel dan Yerikho berkata kepada Elisa, “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh Tuhan terangkat ke sorga?” Mengantisipasi kepergian Elia, Elisa meminta “dua bagian dari roh(nya)”. Kemudian, “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.” Elisa lalu memungut jubah Elia (tanda jabatannya sebagai seorang nabi), dan memulai misinya sebagai nabi Yahweh. Bahkan rombongan nabi memaklumkan, “Roh Elia telah hinggap pada Elisa” (bdk 2 Raja-raja 2).

Kemanakah Elia pergi? Pertama-tama kita patut ingat apa yang disabdakan Tuhan, “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia” (Yohanes 3:13). Kristus turun dari surga dalam Inkarnasi. Melalui karya penyelamatan-Nya, Ia membukakan pintu surga yang telah ditutup akibat dosa asal Adam dan Hawa. Pada waktu yang ditetapkan, Ia naik ke Surga; Surat kepada Jemaat di Ibrani mengajarkan, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita” (9:24).

Jika pintu surga ditutup pada masa Elia (lagi, akibat dosa asal Adam dan Hawa), dan jika “tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain … Anak Manusia, lalu ke manakah Elia pergi? Elia kemungkinan dibawa ke Sheol, “dunia orang mati” di mana jiwa-jiwa orang benar menantikan Mesias membuka pintu surga. Menggarisbawahi point ini, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Kristus yang sudah wafat telah turun dengan jiwa-Nya, yang tinggal bersatu dengan Pribadi Ilahi-Nya, ke tempat perhentian oran mati. Ia membuka pintu surga bagi orang-orang benar yang hidup sebelum Dia” (#637). (Baca juga: Apakah Yesus Turun ke Neraka?)

Atau, apakah Elia pergi ke suatu tempat lain? St Paulus menyebutkan tiga surga “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia” (2 Korintus 12:2-4).

Dari Kitab Suci, ketiga surga itu dapat digambarkan sebagai berikut: Surga Pertama adalah atmosfir bumi. Kata Ibrani “shamayim” dapat diterjemahkan sebagai “surga”, tetapi lebih tepat menunjuk pada “langit”. Kata Ibrani lain untuk surga pertama ini adalah “shachaq” yang secara lebih tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “clouds” atau “sky” atau dalam bahasa Indonesia “langit”.

Surga Kedua adalah “angkasa luar” di mana terdapat bintang-bintang dan planet-planet.

Surga Ketiga, sebagaimana digambarkan oleh St Paulus, adalah Firdaus, di mana Tuhan tinggal dan sanctuarium surgawi berada.

Dari gambaran di atas, dan mengingat pintu surga ditutup, Elia agaknya diangkat ke surga pertama. Lagi, di sini Kitab Suci memberikan beberapa petunjuk. Elia bernubuat semasa pemerintahan Ahab dan Ahazia; Elisa bernubuat semasa pemerintahan selanjutnya, yakni semasa pemerintahan saudara Ahazia - yakni Yoram - yang memerintah Israel selama duabelas tahun (2 Raja-raja 1:17, 3:1). Dalam tahun kelima zaman Yoram, anak Ahab raja Israel - Yoram, anak Yosafat raja Yehuda menjadi raja (2 Raja-raja 8:16). “Lalu sampailah kepadanya (Yoram, anak Yosafat) sebuah surat dari nabi Elia” (2 Tawarikh 21:12). Bagaimana ia dapat menerima sebuah surat dari Elia jika Elia telah diangkat ke Firdaus? Dalam surat tersebut, Elia menyebutkan dosa-dosa Yoram, anak Yosafat dan lalu menubuatkan tulah dan penyakit yang akan diderita olehnya dan keluarganya. Patut dicatat bahwa sebagian ahli Kitab Suci berpendapat bahwa surat itu kemungkinan telah disusun Elia pada masa hidupnya dan dikirimkan kemudian dengan beberapa revisi guna menyesuaikannya dengan situasi pada masa itu.

Petunjuk lain berasal dari Diakon Filipus dalam bab 8 Kisah Para Rasul. Filipus membaptis sida-sida Etiopia yang dijumpainya dalam perjalanan menuju selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza. Setelah selesai membaptis, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi… Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea” (Kisah para Rasul 8:39-40). (Asdod adalah satu dari kelima kota penting di Filistin, 18 mil timurlaut Gaza dan 3 mil masuk dari Medeterania). Satu catatan menarik ialah bahwa api dan angin merupakan manifestasi Roh - ingat kereta berapi dan angin badai. Jadi sebagaimana Filipus dibawa melalui surga pertama oleh Roh ke suatu tempat lain, kemungkinan demikian pula halnya dengan Elia. Sebagai misal, Elia bisa saja dibawa ke suatu tempat lain yang jauh, mungkin kembali ke Gunung Karmel (di mana ia dapat menulis surat kepada Yoram), di mana ia wafat, dihantar ke Sheol (tempat penantian) dan menantikan Mesias. Jadi misterinya adalah apakah Elia dibawa melalui “surga ketiga” untuk tinggal sementara waktu di suatu tempat lain atau apakah ia dibawa langsung ke Sheol.

Misteri selanjutnya adalah apakah Elia wafat atau tidak. Kita yakin teguh bahwa kematian adalah akhir kehidupan duniawi, kematian adalah akibat dosa dan kematian telah diubah Kristus yang bangkit tubuh dan jiwa dari kematian (Katekismus Gereja Katolik #1007-1009). Jika Elia tidak mati, melainkan pergi ke Sheol dengan kereta berapi, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Elia “diangkat ke surga” seperti Bunda Maria. Kesimpulan ini akan keliru sebab Santa Perawan Maria diangkat ke surga didasarkan pada kenyataan bahwa oleh suatu rahmat istimewa dari Tuhan, Santa Perawan dikandung tanpa noda dosa asal dan dari sejak saat pertama kehidupannya ikut ambil bagian dalam peristiwa-peristiwa penyelamatan dalam hidup Tuhan kita. Sebab itu, janji akan kehidupan kekal dengan jiwa dan tubuh yang dimuliakan di Firdaus dianugerahkan kepada Bunda Maria di akhir hidupnya.

Tentu, Allah Yang Mahakuasa dapat saja menganugerahkan suatu rahmat istimewa kepada Elia. Namun demikian, orang juga akan sampai pada kesimpulan bahwa bahkan andai Elia dibawa tubuh dan jiwa ke dalam Sheol dalam kereta berapi, pastilah ia mengalami semacam kematian dan tubuhnya mengalami semacam perubahan untuk menerima ganjaran yang dijanjikan kepada kita semua melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan.

Lalu bagaimana dengan nubuat-nubuat? Melalui Nabi Maleakhi, Tuhan bersabda, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu….” (Maleakhi 4:5). Kitab Sirakh juga menegaskan, “Engkau (Elia) tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus….” (Sirakh 48:10). Oleh karena alasan itu, banyak ahli-ahli Taurat dan kaum awam secara umum yakin bahwa Elia tidak mati; melainkan ia menanti hingga Tuhan mengutusnya kembali untuk mempersiapkan datangnya hari Tuhan, masa ketika Mesias akan mendirikan kerajaan-Nya. Oleh sebab itu, Injil menyebutkan bagaimana ahli-ahli Taurat dan yang lainnya bertanya-tanya kalau-kalau Yesus Sendiri adalah “Elia yang akan datang”. Herodes “merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali” (lihat Lukas 9:7-10), dan ketika Yesus bertanya kepada para rasul-Nya, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” mereka menjawab, “Ada juga yang mengatakan: Elia” (Lukas 9:18-22).

Masalah ini kemudian dibahas oleh Yesus Sendiri. Dalam Injil St Matius, Yesus mengidentifikasikan “Elia yang akan datang”. Pertama, Ia mengatakan, “Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan - jika kamu mau menerimanya - ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Matius 1:13-15). Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis (Matius 17:10-13). Yesus kemudian mengajarkan bahwa nubuat digenapi tidak dalam kembalinya Elia dari abad kesembilan SM (atau Elia bereinkarnasi), melainkan St Yohanes Pembaptis berdiri sebagai ganti nabi besar itu.

Karenanya, masih ada pada kita beberapa misteri seputar Elia. Kita dapat simpulkan beberapa point: Elia diangkat dalam sebuah kereta berapi dalam angin badai. Jabatan kenabiannya dilimpahkan kepada Elisa, muridnya. Setelah mengalami semacam kematian, ia juga menanti di Sheol kedatangan Mesias yang akan menaklukan dosa dan maut, dan membuka pintu surga. Dalam peristiwa Transfigurasi Tuhan kita dalam bab 17 Injil tulisan St Matius, Elia dan Musa menampakkan diri bersama Yesus; berdua mereka menantikan kegenapan nubuat dan pembebasan mereka dari Sheol. Kemudian, pada waktu yang ditetapkan, Kristus yang telah menderita di salib turun ke dalam Sheol dan membawa jiwa-jiwa kudus yang menantikan-Nya itu ke Firdaus (Katekismus Gereja Katolik #633)


* Fr. Saunders is pastor of Queen of Apostles Parish and dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Who Is Elijah?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin The Arlington Catholic Herald.”