Perkataan Cemar - Belum Cukupkah Kita Mendengarnya?
oleh: Dr. James H. Toner *


“Tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan,” demikian St Yakobus dalam suratnya yang ditulis pada abad pertama kepada Gereja perdana.

Duapuluh abad kemudian, saya tidak dapat terlebih setuju dengan pernyataannya. Sepanjang karir saya telah melewatkan cukup banyak masa hidup saya di pos-pos militer, di lapangan-lapangan dan di kamar-kamar ganti - di semua tempat di mana bahasa, gurauan dan cerita-cerita yang terdengar kerapkali tidak sesantun yang kita harapkan. Tetapi sepanjang dekade-dekade belakangan ini terjadi suatu kemerosotan begitu rupa dalam kesantunan berbicara sehingga saya pikir kita dapat menganggapnya sebagai memalukan. (Memalukan, menurut Webster, adalah suatu perasaan yang menyakitkan akibat perasaan bersalah yang kuat, malu, ketidaklayakan atau cemar.)

Sebagai pemuda yang tumbuh dewasa di era 1950-an, saya dan teman-teman terkadang mempergunakan bahasa atau menceritakan gurauan-gurauan yang kami tak ingin ibu atau pastor kami mendengarnya. Tetapi kami nyaris tak pernah mempergunakan bahasa “carut-marut” atau gurauan-gurauan cemar di lingkungan kerja, tempat-tempat umum atau dalam jarak pendengaran orang-orang dewasa. Kami tahu bahasa yang lebih santun. Saya pikir kami masih punya rasa malu.

Sekarang ini, batasan-batasan yang kita tentukan sendiri macam itu dalam penggunaan bahasa yang tidak pantas, nyaris tak ada lagi. Bahasa yang kita dengar sekarang ini dalam kehidupan nyata dan di televisi ataupun dalam film-film - dan banyak pesan-pesan di T-Shirt - sejujurnya, adalah bahasa yang cemar.

Saya pikir kita dapat membedakan antara bahasa yang cemar dan menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat. Karena kita percaya akan yang kudus, kita tahu bahwa apa yang tidak kudus adalah dosa. Perintah Tuhan yang kedua mengajar kita demikian. Katekismus Gereja Katolik memperluasnya dengan memaklumkan, “Perintah kedua melarang penyalahgunaan nama Allah, artinya setiap pemakaian yang tidak pantas mengenai nama Allah, nama Yesus Kristus, tetapi juga nama Perawan Maria dan semua orang kudus” (2146). Di samping itu, Katekismus juga menyatakan bahwa “Menghujah Allah bertentangan dengan penghormatan yang harus diberikan kepada Allah dan nama-Nya yang kudus. Dengan sendirinya ia adalah dosa berat” (2148). Tetapi sekedar kata-kata carut-marut tidak apa-apa bukan? Apakah bahasa yang cemar - yang bukan hujat - sungguh memalukan, sungguh dosa?


Mengurangi Perkataan Cemar

Dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk meninggalkan kata-kata yang tidak sopan. Ini bukan berarti saya seorang sempurna; seumpama ketika seorang pengemudi yang ugal-ugalan seenaknya memotong jalan, saya cenderung melontarkan kata-kata dari masa muda saya. Mea culpa! Tetapi saya tahu apa yang benar dan saya berusaha untuk tinggal di dalamnya. Salah satu masalahnya adalah, dari perspektif banyak orang sekarang ini, kata-kata umpatan, sumpah-serapah dan “gurauan kamar mandi” seringkali bukan sesuatu yang salah, tidak memalukan dan tentunya tidak dosa.

Jika kita hendak meluruskan masalah kekacauan bahasa ini, ada tiga hal yang harus kita lakukan.

Pertama, kita yang menganggap bahasa cemar sebagai tidak dapat diterima harus senantiasa menunjukkan komitmen kita untuk berbahasa santun. Mudahnya, kita wajib mempraktekkan apa yang kita katakan.

Kedua, kita wajib mendidik mereka yang kita kasihi dan menghantar mereka untuk mengerti bahwa bahasa cemar bukan saja secara sosial tidak dapat diterima, memalukan dan menghina bagi sebagian orang; melainkan juga dosa. St Yakobus menulis, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (1:26). Kita juga membaca dalam Kitab Sirakh, “Jangan membiasakan mulutmu kepada carut-marut yang tak terkendali, sebab perkataan dosa terkandung di dalamnya” (23:13). Dalam setiap Misa sebelum Injil dimaklumkan, ketika kita membubuhkan Tanda Salib di dahi, bibir dan dada, kita berdoa memohon agar kebenaran Injil tinggal dalam akal budi kita, dalam perkataan kita dan dalam hati kita. Patutlah hal itu kita camkan apabila kita sampai terjerumus ke dalam perkataan cemar.

Apakah masuk akal bahwa dengan bibir dan lidah yang sama yang menyambut Tuhan kita dalam Ekaristi Kudus, kita dapat melontarkan sumpah-serapah dan hujat dan makian dan kata-kata cemar? Kita adalah umat Allah dan St Paulus mengatakan karena kita adalah anak-anak Allah, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu” dan janganlah ada perkataan yang kosong atau yang sembrono, karena “tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah” (Efesus 4:29; 5:4-5; Kolose 3:8).


Taati Apa yang Difirmankan

Ada suatu cara duniawi - tetapi tidak terlalu duniawi! - untuk menjelaskannya. Sama seperti kita tak akan memasukkan kotoran ke dalam mulut kita, sepatutnyalah kita tidak menyebabkan orang lain terkena kotoran yang keluar dari mulut kita. Semua orang, bahkan yang tak tahu adat atau sopan-santun sekalipun mengerti bahwa tidak dibenarkan batuk atau bersin di muka orang, menyebabkan mereka terkena kuman-kuman jasmani. Jadi mengapakah mereka berpikir bahwa berbicara buruk kepada atau mengenai orang lain, dapat diterima, membiarkan yang lain terkena “kuman-kuman rohani”? Kita umat Kristiani patut mengisi pikiran kita dengan apa yang dapat dipercaya dan terhormat. Perhatikan kata-kata St Paulus ini kepada jemaat di Filipi, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (4:8). Ia juga menasehati kita, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6), dan bahasa yang cemar menunjukkan baik suatu keterpikatan kepada apa yang tidak benar dan tidak terhormat maupun kurangnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain (Filipi 2:3-4). Jadi, dalam arti yang sebenar-benarnya, ketika kita mempergunakan bahasa cemar, kita menunjukkan perlawanan kepada Allah dan sesama, dan ini adalah hal yang sangat serius.

Sebagai umat beriman Kristen Katolik kita diajar untuk berusaha sedapat mungkin membina hubungan baik dengan yang lain, dan kita tidak menolong diri kita sendiri maupun orang lain apabila kita berkubang dalam perkataan cemar atau profan. Singkat kata, gagasannya adalah “taati apa yang difirmankan” (bdk 1 Petrus 1:14-16); dan kita tidak dapat melaksanakannya sebaik-baiknya jika perkataan kita cemar.

Ketika melayani sebagai pelatih basket di suatu sekolah menengah Katolik, saya menetapkan suatu peraturan mutlak: Tidak ada perkataan cemar - titik! Saya tidak harus berdebat dengan para pemain saya mengenai apa itu bahasa cemar; semua pemain mengetahuinya apabila mereka mengatakannya atau mendengarnya - setidaknya dari sudut pandang Pelatih Toner mengenai apa itu “perkataan cemar”.

Ketiga, mempergunakan bahasa yang santun dan mempedulikan kepentingan orang lain berarti damai, bukan konflik; sukacita, bukan dukacita (bdk Yohanes 15:11). Bagaimanapun, sebagaimana dikatakan imam dalam Misa sesudah doa Bapa kami, kita menantikan “dalam pengharapan sukacita” kedatangan penyelamat kita, Yesus Kristus. Kita dapat menikmati gurauan dan berkelakar satu sama lain secara sopan. Humor itu suatu berkat tetapi, seperti api atau air, atau seperti makanan dan minuman, humor dapat disalahgunakan. Dan kita umat Katolik dipanggil pada kesopanan. Menurut Katekismus, kesopanan mengatur pandangan dan gerakan sesuai dengan martabat manusia dan hubungan di antara mereka (2521). Sikap yang demikian berlaku dalam bagaimana kita melihat, bagaimana kita berlaku dan bagaimana kita berbicara. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Kita tidak dapat menghormati Tuhan dengan lidah yang sama yang kita pergunakan untuk hujat, profanasi, dan kecemaran.


Dalam Hati Kita, Dalam Bibir Kita

Jika kita mengatakan apa yang kita yakini dan meyakini apa yang kita katakan, kita menempatkan suatu teladan baik bagi komunitas di mana kita tinggal - keluarga kita, paroki kita, tempat kerja kita, dll. Kita tahu bahwa kita hendaknya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, melainkan membiarkan Tuhan melalui Roh KudusNya mengubah kita sehingga kita dapat melihat apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Ini dapat menjadi suatu tantangan yang berat bagi kita semua! Kita tidak mau tampak aneh, dan kita berharap berpenampilan dan berbuat dan berbicara sebagaimana orang-orang di sekitar kita. Dan bahasa yang cemar semakin lazim dalam film-film, di televisi dan di lapangan-lapangan.

Meski demikian, kita wajib menolaknya jika kita rindu mendengarkan Injil. Kita wajib mohon agar Sabda Allah tinggal dalam akal budi kita, dalam hati kita dan dalam bibir kita Jadi, marilah kita berpaling kepada Injil di mana dikatakan, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Lukas 6:45).

* Dr. James H. Toner holds his doctorate from the University of Notre Dame and is the author of four books, including Morals Under the Gun (The University Press of Kentucky, 2000). He is professor of ethics at the Air War College, Maxwell (Ala.) Air Force Base. Beginning in 2002, he holds the Chair of Character Development at the U.S. Air Force Academy in Colorado Springs, Cob.
sumber : “Trash Talk - Haven't We Heard Enough?” by Dr. James H. Toner; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.