|
Menjadikan Misa Suatu Perayaan yang Sesungguhnya:
Tips Merencanakan Misa
oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D. *
Pernahkah kalian merencanakan sebuah pesta? Kita semua pergi ke banyak pesta, tetapi jika kalian pernah merencanakan suatu pesta, maka kalian tahu bahwa pesta tidak terjadi dengan sendirinya.
Suatu pesta yang baik membutuhkan perencanaan dan persiapan; membutuhkan kerja keras yang tidak pernah dilihat sebagian besar dari mereka yang datang ke pesta itu.
Misa juga tidak terjadi dengan sendirinya. Setiap Ekaristi dipersiapkan dan direncanakan oleh seseorang. Sesungguhnya, perencanan liturgi pada umumnya merupakan suatu upaya kelompok oleh lebih dari satu orang.
Sepanjang masa dewasa, kalian akan mempunyai banyak kesempatan untuk membantu merencanakan liturgi. Kata liturgi adalah istilah umum yang mencakup tidak hanya Misa, melainkan seluruh doa umum resmi Gereja. Dalam artikel ini, liturgi pada umumnya berarti Misa, tetapi prinsip-prinsip perencanaan yang sama berlaku dalam mempersiapkan doa-doa lainnya juga.
Seringkali apabila orang diminta untuk membantu merencanakan suatu liturgi (untuk keperluan retret, doa bersama atau acara serupa) atau untuk menjadi anggota seksi liturgi gereja, mereka menolak sebab mereka merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Artikel ini akan memberikan rasa percaya diri kepada kalian untuk menawarkan bantuan apabila muncul kesempatan yang demikian. Saya mendorong kalian untuk terlibat dalam perencanaan liturgi sebab pengalaman ini akan memperkaya liturgi kalian secara keseluruhan - bahkan atas hal-hal yang kalian tidak membantu merencanakannya.
Mengetahui apa yang direncanakan dalam sebuah pesta akan membantu kita menghargai kerja keras di belakang layar yang telah dilakukan seseorang bagi kita setiap kali kita diundang ke pesta. Mengetahui apa yang direncanakan dalam sebuah liturgi akan memperkaya setiap pengalaman Ekaristi.
Apakah yang terjadi?
Hal terpenting dalam perencanaan liturgi adalah memulai dengan arah yang benar: Apakah yang ingin kalian lakukan? Apakah yang kalian inginkan terjadi?
Godaannya adalah memulai dengan detail-detail seperti: Apa saja nyanyian kesukaanku? Siapakah yang akan membaca? Siapakah yang akan menghantarkan persembahan roti dan anggur? Kalian dapat begitu larut dalam detail-detail macam ini hingga kalian kehilangan pandangan akan prinsip utama dari perencanaan: Apakah yang sesungguhnya ingin kalian lakukan?
Apabila kalian merencanakan suatu pesta ulangtahun, pesta syukuran atau pesta Halloween, kalian ingin para tamu kalian menikmati pesta. Segala yang kalian lakukan (makanan, musik, permainan) diarahkan untuk mencapai tujuan itu: agar para tamu bergembira. Kalian memilih detail-detailnya dalam terang tujuan itu.
Kita menanyakan hal-hal yang sama ini ketika kita merencanakan sebuah Misa: Apakah yang kita inginkan terjadi? Apakah tujuannya? Ke manakah kalian pergi untuk menemukan apakah tujuannya?
Jika kalian dengan seksama mencermati kata-kata yang didoakan dalam Misa, kalian akan mendapati bahwa dalam inti setiap Ekaristi kita berdoa agar Tuhan mengutus Roh Kudus untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Ini agar kita “yang menerima Tubuh dan Darah Kristus dihimpun menjadi satu umat oleh Roh Kudus” (Doa Syukur Agung II).
Doa serupa memohon, “Kuatkanlah kami dengan Tubuh dan DarahNya, penuhilah kami dengan Roh KudusNya, agar kami sehati dan sejiwa dalam Kristus” (Doa Syukur Agung III). Tujuan utama dari Ekaristi adalah agar kita menjadi satu dalam Kristus dan satu sama lain.
Dalam hal inilah, Misa sangat berbeda dari sebuah pesta. Dalam sebuah pesta, kalian ingin para tamu bergembira. Inilah tujuan kalian. Dalam Ekaristi, kalian ingin semua orang yang ikut ambil bagian di dalamnya dipenuhi Roh Kudus, agar dosa-dosa mereka diampuni dan mereka ditarik lebih dekat kepada Kristus dan kepada satu sama lain.
Ada begitu banyak yang harus dilakukan! Juga, jauh lebih sulit daripada sekedar membuat mereka bergembira. (Dan jika kalian datang ke Misa hanya untuk bergembira, maka kalian akan pulang dengan kecewa).
Tidak Ada Penonton Bisu
Pesta tidak berhasil jika para tamu hanya berdiri dan saling memandang satu sama lain. Agar suatu pesta berhasil, kalian ingin para tamu saling berinteraksi. Kalian ingin mereka ikut ambil bagian dalam pesta, menikmati suasana, dan saling mengenal satu sama lain. Agar para tamu bergembira, kalian harus menemukan cara guna membuat mereka terlibat. Kalian harus membantu mereka bergerak dari sekedar penonton menjadi pelaku.
Prinsip yang sama amatlah penting dalam mempersiapkan sebuah Misa. Kalian perlu menemukan cara guna menggerakkan orang dari menonton menjadi melakukan. Dan ini tidak selalu mudah.
Orang-orang kita lebih cenderung menjadi penonton daripada pelaku. Kita menonton televisi, kita menonton sepakbola dan kita menonton konser. Ketika kita pergi ke gereja, kita telah terbiasa menonton daripada melakukan. Salah satu bagian dari mempersiapkan Misa adalah menemukan cara guna membuat umat terlibat.
Beberapa cara di mana kalian dapat membantu umat terlibat adalah: mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai pelayanan liturgis (koor, lektor, pelayan luar biasa komuni suci). Umat menjadi terlibat ketika mereka diundang untuk menyanyi, untuk ikut dalam prosesi, untuk membuat Tanda Salib, untuk memeriksa batin, untuk berdoa spontan bersama.
Tetapi yang terlebih penting adalah “laku” batin. Pada saat-saat yang tepat, masing-masing kita sepatutnya membangun dalam diri kita sikap memohon, bersyukur dan mempersembahkan.
Menghormati Tradisi
Di setiap pesta ulangtahun tampaknya perlu ada sebuah kue ulangtahun dan lagu “Selamat Ulangtahun”, sementara yang berulangtahun meniup lilin. Inilah yang menjadi tradisi dari suatu pesta ulangtahun.
Apakah unsur-unsur tradisi dari suatu perayaan Misa? Tidak segala sesuatu telah siap tersedia. Kalian perlu mengenal tradisi. Tradisinya berasal dari kisah-kisah biblis Yesus dan para murid-Nya pada Perjamuan Malam Terakhir. Bentuk Ekaristi adalah suatu perjamuan makan.
Apa-apa saja yang terjadi ketika kalian duduk dalam suatu perjamuan resmi sanak keluarga - misalnya dalam perayaan syukuran? Pertama-tama, sanak keluarga datang berkumpul. Kalian saling menyapa satu sama lain dan mendengarkan kabar masing-masing. Lalu, kalian menuju meja perjamuan, di mana kalian memanjatkan doa syukur, makan dan minum. Dan akhirnya, kalian mengucapkan selamat berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Misa memiliki bentuk yang sama: Berkumpul, Bercerita, Berbagi Santapan dan Pengutusan.
Mendengarkan Kisah
Tujuan utama dari Ekaristi adalah mempersatukan kita dengan Kristus dan dengan satu sama lain, jadi langsung saja kita mulai dengan rencana ini.
Bagaimanakah kalian dapat membantu individu-individu itu untuk berkumpul dan menjadi satu? Dengan menyambut ramah, menyampaikan salam dan bertegur sapa dan menciptakan suasana yang menyenangkan, merupakan cara-cara untuk mengumpulkan mereka bersama. Nyanyian mempersatukan pikiran dan suara dan membantu kita untuk memfokuskan diri pada apa yang akan kita lakukan bersama.
Dalam suatu pesta, kalian sering menceritakan kisah-kisah yang dapat dikenang atau yang berhubungan dengan mereka yang hadir. Saling bertukar pengalaman bersama dapat merupakan suatu cara untuk mempertalikan mereka semua yang hadir.
Ketika kita berkumpul dalam Misa, kita menceritakan kisah-kisah yang diilhami Roh Kudus yang membawa kita semua berkumpul di sini. Kita membaca dari Kitab Suci mengenai Yesus, hidup-Nya dan wafat-Nya. Kita membaca mengenai iman mereka yang mengikuti-Nya dan menjadi Gereja-Nya.
Dalam setiap Ekaristi, kita mendengar kata-kata, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”, yang mengingatkan kita bahwa kita akan melakukan apa yang dilakukan Yesus, kita akan hidup sebagaimana Yesus hidup. Kitab Suci mengatakan kepada kita bagaimana Ia hidup dan bagaimana seharusnya kita mengikuti Dia.
Bagaimanakah kalian dapat membantu setiap orang yang hadir untuk sungguh mendengarkan ayat-ayat Kitab Suci? Dalam perundingan mengenai perencanaan, dengan perlahan dan hikmad bacalah ayat-ayat yang akan dibacakan dalam Misa. Terkadang, kita terbantu dengan membaca ayat-ayat itu dari beberapa terjemahan yang berbeda. Jika ia yang bertugas membaca dalam Misa hadir dalam rapat perencanaan, baiklah bagi si lektor untuk membacakannya kepada kelompok.
Selanjutnya, diskusikan apa makna dari ayat-ayat tersebut. Akan berguna jika kita membaca penjelasan atau komentar atas bacaan. Begitu kalian paham akan apa makna teks itu sendiri, berusahalah untuk menemukan apa makna teks itu bagi kalian. Ketika Kitab Suci dibacakan di Gereja, Kristus Sendiri yang berbicara. Apakah yang Kristus sampaikan kepada kalian?
Bagaimanakah kalian dapat membantu agar pesan ini didengarkan oleh mereka semua yang berkumpul untuk merayakan Misa? Suatu sarana penting untuk memahami apa yang Kristus sampaikan melalui Kitab Suci adalah homili. Sungguh membantu jika imam yang akan menyampaikan homili dapat hadir pada waktu rapat perencanaan. Jika imam tak dapat hadir, akan sangat bermanfaat jika imam tahu apa yang didiskusikan ketika tim perencana merefleksikan bacaan.
Suatu cara lain untuk membantu agar pesan dari ayat-ayat Kitab Suci didengarkan adalah dengan memilih lagu-lagu yang memiliki pesan yang sama. Perencana liturgi yang baik senantiasa mencamkan ayat-ayat Kitab Suci dalam benaknya sementara ia memilih nyanyian bagi perayaan.
Marilah Berdoa
Kitab Suci dalam sebuah Misa adalah sepenting musik dalam sebuah pesta. Kitab Suci memainkan peran kunci dalam mengilhami permohonan-permohonan dalam Doa Umat.
Bagaimanakah kalian mempersiapkan permohonan-permohonan ini? Apakah yang kalian mohon? Berdoalah bagi hal-hal yang diperlukan untuk menghantar kita ke dalam keselarasan dengan apa yang baru saja kita dengar diwartakan dalam bacaan-bacaan. Permohonan yang baik mengalir dari bacaan-bacaan Kitab Suci.
Gereja menganjurkan permohonan-permohonan kita dibagi dalam empat kategori. Pertama, berdoa bagi kepentingan Gereja. Sebagai misal, kalian dapat berdoa agar kita menjadi sebagaimana kita dipanggil lewat bacaan-bacaan Kitab Suci.
Kedua, berdoa bagi pemerintahan sipil dan para pemimpin politik kita. Sebagai misal, kalian dapat berdoa demi damai dan keadilan bagi segenap bangsa-bangsa.
Ketiga, berdoa bagi mereka yang secara khusus membutuhkan doa kita. Sebagai misal, kalian dapat berdoa bagi mereka yang baru saja menderita kemalangan akibat banjir, perang atau suatu wabah penyakit.
Keempat, berdoa bagi kepentingan mereka yang berkumpul dalam Misa ini.
Doa Umat adalah doa liturgis, yakni, doa Tubuh Kristus. Kalian berdoa bagi hal-hal yang dikehendaki Kristus. Dan apakah yang dikehendaki Kristus? Jawab atas pertanyaan itu kita temukan dalam bacaan-bacaan Kitab Suci.
Doa Umat memiliki suatu bentuk yang terdiri dari tiga bagian. Pertama, imam mengundang kita untuk berdoa. Kedua, seorang pembaca memaklumkan permohonan. Kita berdoa bagi permohonan tersebut, pertama-tama dalam hati dan kemudian melalui sarana suatu aklamasi, seperti, “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.” Aklamasi ini dapat dinyanyikan atau didaraskan. Ketiga, setelah permohonan terakhir, imam mempersatukan permohonan-permohonan itu ke dalam suatu doa yang kita tanggapi dengan “Amin”.
Ketika menuliskan permohonan-permohonan, patut diingat bahwa permohonan-permohonan itu disampaikan kepada umat dan bukan kepada Tuhan. Pembaca mengundang umat untuk berdoa. Imamlah yang berbicara kepada Tuhan dalam doa. Pembaca berbicara kepada umat.
Berbagi Santapan
Sekarang kita menuju meja. Dalam makan bersama, kita menata meja, mengucap syukur dan kemudian makan dan minum. Dalam suatu pesta, kita menata meja perjamuan dengan taplak yang meriah, dekorasi yang semarak, makanan dan minuman.
Dalam Misa, langkah-langkah ini disebut Persiapan Persembahan (yang dimulai sesudah Doa Umat), Doa Syukur Agung (yang dimulai dengan “Kudus, Kudus, Kudus”) dan Ritus Komuni (yang dimulai dengan Bapa Kami).
Siapakah yang akan membantu mempersiapkan altar: taplak, lilin dan piala? Siapakah yang akan menghantarkan roti dan anggur kepada imam?
Memanggang hosti untuk Ekaristi merupakan suatu cara yang baik untuk terlibat dalam Misa. Doa atas roti - “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami siapkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan” - memiliki makna istimewa ketika doa itu berhubungan dengan jerih payah kalian.
Doa Syukur Agung adalah inti Misa. Di samping doa-doa yang biasa kita dengar pada hari-hari Minggu dan hari-hari biasa, ada beberapa doa lainnya juga yang telah disetujui. Tanyakanlah kepada imam yang akan memimpin Misa apakah kalian dapat membantu memilih yang mana dari doa-doa tersebut yang kira-kira paling sesuai untuk Misa ini. (Untuk melakukannya, tim kalian perlu membaca doa-doa tersebut dalam sebuah buku yang disebut Sacramentarium, yang dapat kalian pinjam dari pastor.)
Ritus Komuni dimulai dengan Doa Bapa Kami. Dalam Doa Syukur Agung, kita berdoa agar Roh Kudus menjadikan kita satu. Sekarang kita mohon pengampunan dari Tuhan dan dari satu sama lain; kita berbagi salam damai; kita makan dan minum bersama, yang kesemuanya adalah tanda persatuan yang dijanjikan Ekaristi.
Merencanakan sebuah pesta dan merencanakan sebuah Ekaristi mempunyai tujuan yang serupa, yakni memastikan bahwa semua yang hadir terlibat di dalamnya. Ketika merencanakan sebuah pesta, adalah penting bahwa mereka yang hadir mempunyai suasana hati yang sama. Para tamu harus bergembira dan bersemangat.
Hal yang sama berlaku dalam merencanakan sebuah perayaan Ekaristi. Mereka yang hadir juga harus mempunyai disposisi batin yang sama. Berusahalah menemukan cara-cara guna membantu mereka semua yang hadir mengalami makna dari tindakan-tindakan ini. Perarakan, nyanyian dan keheningan dapat membantu.
Pengutusan
Baiklah kita ingat kisah tentang dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus (Lukas 24:13-35). Sesudah mengenali Yesus saat Ia memecah-mecahkan roti, mereka pun meninggalkan ruang perjamuan dan bergegas kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan pengalaman mereka akan Tuhan yang bangkit kepada para murid lainnya.
Doa-doa penutup Misa membantu kita melakukan perubahan yang serupa. Bantulah umat untuk “meninggalkan ruang perjamuan” dengan membawa Misa ke dalam dunia dan dalam hidup mereka sehari-hari. Doa, pengumuman akan peristiwa-peristiwa mendatang, berkat, pengutusan dan nyanyian yang menantang komitmen umat dapat membantu “pengutusan” ini.
Ketika para tamu meninggalkan pesta, kalian berharap setiap orang menikmati saat-saat yang mengesankan sehingga mereka menceritakannya kepada yang lain. Pesta itu sendiri sepatutnya membantu mempererat ikatan di antara mereka yang hadir. Ketika mereka pulang, persahabatan yang diperkokoh itu akan menyapa dunia dengan gembira. Umat paroki sepatutnya pulang dengan semangat yang sama. Iman mereka diperteguh dengan perayaan Ekaristi.
Mempersiapkan sebuah Misa bukanlah perkara yang mudah; bukan sekedar membantu setiap orang bergembira. Merencanakan liturgi adalah merencanakan suatu perayaan agar setiap orang dapat menyadari secara terlebih mendalam makna hidup dan wafat Kristus.
Kalian tidak sekedar menawarkan suatu undangan ke sebuah pesta. Melainkan, kalian menawarkan suatu undangan ke perubahan seumur hidup! Itulah yang menjadikan perencanaan liturgi begitu sulit. Itulah yang menjadikan perencanaan liturgi begitu patut dipuji!
Merencanakan Misa yang Berkesan
Memelihara semangat Misa hari Minggu adalah terutama karya Roh Kudus. Tetapi kalian dapat membantu.
Ambil satu kalimat atau ayat dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari Minggu yang mempunyai makna khusus bagimu. Tuliskanlah pada sebuah kartu. Simpanlah kartu itu dalam sakumu atau pergunakanlah sebagai batas dalam buku yang seringkali engkau pergunakan. Renungkanlah ayat itu sepanjang minggu. Hapalkanlah ayatnya.
Pada Misa hari Minggu, ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas hal-hal istimewa yang telah Tuhan lakukan bagimu. Tuliskanlah satu dari hal-hal yang engkau syukuri secara istimewa sepanjang pekan ini. Engkau dapat menambahkannya pada kartu yang bertuliskan ayat Kitab Suci. Sepanjang minggu, teruslah bersyukur kepada Tuhan atas anugerah ini.
Ambil satu dari apa-apa yang engkau mohon kepada Tuhan dalam Misa hari Minggu dan tambahkan itu pada kartumu. Sepanjang minggu, teruslah berdoa untuk intensi ini.
Sesudah Misa hari Minggu, buatlah sebuah kartu baru untuk minggu mendatang. Kartu dari Minggu yang telah lalu, daripada dibuang, baiklah dikumpulkan dengan kartu-kartu dari Minggu sebelumnya. Setelah beberapa bulan, engkau akan mempunyai suatu catatan yang amat menarik dan berguna mengenai perjalanan imanmu.
Jika kalian ikut membantu merencanakan Misa, kalian bahkan mungkin mau mempersiapkan kartu-kartu macam itu agar mereka yang ikut ambil bagian dalam Misa dapat mencatat permenungan mereka.
TANYA JAWAB
T. : Ekaristi bukanlah suatu kata yang umum. Dari manakah asalnya?
J. : Ekaristi berasal dari suatu kata kerja Yunani yang artinya “mengucap syukur dan memuji.” Bahasa Yunani adalah bahasa yang umum dipakai oleh banyak negara-negara yang berbeda pada masa-masa awal kekristenan (Injil, misalnya, pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani). Di awal Doa Syukur Agung dalam Misa, kalian mendengar kata-kata: “Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita. …Sudah layak dan sepantasnya.” Dalam bahasa Yunani, masing-masing dari frasa-frasa ini merupakan bentuk dari kata kerja dari mana kita mendapatkan kata “Ekaristi”. Kata “Ekaristi” meringkas apa yang kalian lakukan dalam Misa: Kalian menyucap syukur dan memuji Tuhan.
T. : Pater mengatakan bahwa “disposisi batin” amat penting. Saya masih belum sungguh tahu apa yang harus saya lakukan untuk memiliki disposisi batin yang baik. Bagaimanakah saya dapat mengarahkan hati saya ke sana?
J. : Kita mempunyai sedikit saja kontrol atas perasaan-perasaan kita, tetapi cobalah ini: Dalam Misa, ketika imam memanjatkan doa mengenai “mengenangkan hal-hal mengagumkan yang telah Tuhan lakukan bagi kita”, berusahalah untuk mengenangkan tidak hanya hal-hal yang telah Tuhan lakukan bagi kita di masa lampau (misalnya Perjamuan Malam Terakhir dan Kebangkitan), tetapi juga hal-hal spesifik yang atasnya kalian secara pribadi mengucap syukur di sini dan sekarang ini (nilai yang baik, seorang kawan baru yang kalian jumpai secara kebetulan). Dalam setiap Misa, imam memohon kepada Tuhan untuk mengutus Roh Kudus guna menjadikan kita satu. Tetapi apakah yang kalian butuhkan? Apa yang kalian perlukan untuk menjadi seorang anggota Tubuh Kristus yang terlebih aktif? Jika kenangan kalian dan permohonan kalian spesifik dan penting bagi kalian, maka perasaan batin akan syukur dan permohonan akan mengalir mengikuti.
T. : Sebagai remaja, bagaimanakah kami dapat terlibat dalam Misa - di samping menjadi putera altar - dan tanpa merasa kami mencampuri urusan anggota-anggota Gereja yang lebih senior?
J. : Jika kami melihat para remaja terlibat dalam Misa, kami tidak merasa kalian “mencampuri urusan kami.” Malahan sebaliknya! Sebagian besar dari kami akan merasa bersyukur dan bersukacita sebab itu merupakan suatu pertanda bagi kami bahwa Gereja dan iman yang begitu berarti bagi kami telah diwariskan pada generasi berikutnya dan tidak akan mati dan lenyap ketika kami sendiri telah tidak lagi di dunia.
* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M. is a Franciscan friar who has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris.
sumber : “Making Mass a Real Celebration: Tips on Planning by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|