40 Jam Devosi
oleh: P. William P. Saunders *

Paroki saya mengadakan Empat Puluh Jam Devosi. Bagaimanakah asal-mula devosi ini?
~ seorang pembaca di Ashburn


Empat Puluh Jam Devosi adalah doa terus-menerus khusus selama 40 jam yang dilakukan di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan secara khidmad. Tentu saja, fokus dari devosi ini adalah Ekaristi Kudus. Sebagai umat Katolik, sabda Kristus berkobar-kobar dalam hati kita, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51).

Pertama, demi menegaskan keyakinan kita akan kehadiran nyata Tuhan kita dalam Sakramen Mahakudus, Konsili Vatikan Kedua mengajarkan bahwa Ekaristi Kudus adalah “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (“Lumen Gentium”, No. 11). Sementara Misa adalah pusat tindakan sembah sujud kita sebagai orang Katolik, suatu tindakan yang ikut ambil bagian dalam kenyataan abadi sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan kita, Konsili Vatikan Kedua menjunjung tinggi dan mendorong adorasi kepada Sakramen Mahakudus di luar Misa. Tentu saja devosi yang demikian berasal dari Kurban Kudus Misa dan menggerakkan umat beriman kepada baik persatuan sakramental maupun persatuan rohani dengan Tuhan kita (“Eucharisticum Mysterium,” No. 50). Seperti diajarkan Paus Pius XII dalam “Mediator Dei” (Pengantaraan Tuhan), “Praktek adorasi ini memiliki dasar yang sah dan kokoh.” Bapa Suci Yohanes Paulus II telah berulangkali “menganjurkan dengan sangat” devosi kepada Sakramen Mahakudus baik secara pribadi maupun secara bersama, termasuk prosesi pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dan 40 Jam Devosi (bdk “Dominicae Cenae,” No. 3; “Inaestimabile Donum,” No. 20-22; dan “Ecclesia de Eucharistia,” No. 25).

Kedua, angka 40 senantiasa mengandung arti suatu periode waktu yang suci: hujan pada masa Nuh berlangsung selama 40 hari 40 malam; bangsa Yahudi mengembara di padang gurun selama 40 tahun, Tuhan kita berpuasa dan berdoa selama 40 hari sebelum Ia memulai pewartaan-Nya di hadapan umum. Empat Puluh Jam Devosi mengenangkan tradisi “periode 40 jam” dari pemakaman Tuhan kita hingga kebangkitan-Nya. Sesungguhnya pada Abad Pertengahan, Sakramen Mahakudus dipindahkan ke tempat penyimpanan, “Makam Paskah,” selama periode 40 jam ini guna melambangkan masa yang dilewatkan Tuhan kita dalam makam.

Empat Puluh Jam Devosi dimulai dengan suatu Misa Pentahtaan yang khidmad, yang meliputi pentahtaan Sakramen Mahakudus dan prosesi. Sakramen Mahakudus ditempatkan di atas altar dalam sebuah monstrans. Sepanjang 40 jam berikutnya, umat beriman berkumpul untuk berdoa secara pribadi ataupun bersama dalam adorasi kepada Tuhan kita. Sakramen Mahakudus disimpan dalam tabernakel sementara dipersembahkan Misa harian, dan kemudian kembali ditahtakan setelah Misa. Di akhir devosi, dipersembahkan Misa Penyimpanan, lagi meliputi suatu prosesi, pujian kepada Sakramen Mahakudus dan penyimpanan akhir Sakramen Mahakudus. Walau periode 40 jam seharusnya dilakukan secara terus-menerus, beberapa gereja mengadakan jeda, menyimpan Sakramen Mahakudus pada malam hari, karena alasan keamanan.

Empat Puluh Jam Devosi dapat dipandang nyaris bagai sebuah retret-mini atau perutusan paroki. Imam tamu dapat diundang untuk menyampaikan serangkaian homili. Sakramen Pengakuan Dosa ditawarkan dan umat beriman didorong untuk menerimanya. Dengan demikian, saat paling tepat untuk menjadwalkan Empat Puluh Jam Devosi adalah pada Masa Adven atau Masa Prapaskah.

Sementara Empat Puluh Jam Devosi menumbuhkan kasih umat beriman kepada Tuhan kita dalam Sakramen Mahakudus, tiga dimensi khusus juga tercakup dalam devosi ini: 1. perlindungan dari yang jahat dan dari pencobaan; 2. silih bagi dosa-dosa kita sendiri dan bagi jiwa-jiwa menderita dalam api penyucian; 3. pembebasan dari malapetaka politik, jasmani ataupun rohani. Di sini umat beriman memohon kepada Tuhan untuk mencurahkan rahmat-Nya yang berlimpah bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi sesama; bukan hanya bagi kepentingan-kepentingan pribadi, melainkan juga bagi kepentingan-kepentingan dunia.

Setelah membahas dimensi rohani dari Empat Puluh Jam Devosi, kita akan terlebih lagi menghargai latihan rohani ini dengan mengetahui sejarahnya. Praktek Empat Puluh Jam Devosi berasal dari Milan sekitar tahun 1530. Tentu saja, sebelum masa ini, dalam Gereja sudah ada pentahtaan dan pujian kepada Sakramen Mahakudus, prosesi Ekaristi dan devosi-devosi kepada Sakramen Mahakudus yang disimpan dalam tabernakel. Pada tahun 1539, Paus Paulus III menanggapi sebuah petisi dari Keuskupan Agung Milan yang memohon indulgensi atas praktek ini, “Oleh sebab putera kami terkasih Vikaris Jenderal dari Keuskupan Agung Milan, atas doa warga kota tersebut, demi meredakan murka Allah yang bangkit akibat penghinaan-penghinaan umat Kristiani, dan demi mendatangkan kesia-siaan atas upaya dan rancangan jahat Turki yang mendesak maju hendak membinasakan kekristenan, maka di antara praktek-praktek saleh lainnya, telah menetapkan suatu rangkaian doa dan permohonan yang dipanjatkan siang dan malam oleh segenap umat beriman Kristus, di hadapan Tubuh Terkudus Tuhan kita, di segenap gereja-gereja di kota yang disebutkan di atas, dengan suatu cara bahwa doa-doa dan permohonan ini dilakukan oleh umat beriman sendiri dengan saling bergantian selama empat puluh jam terus-menerus di setiap gereja secara berturut-turut, sesuai perintah yang ditetapkan oleh Vikar…. Kami menyetujui dalam Tuhan kita suatu penetapan yang begitu saleh ini.”  Pernyataan ini tampaknya adalah persetujuan resmi yang paling awal oleh Gereja mengenai devosi ini; Empat Puluh Jam Devosi dengan cepat tersebar luas.

Pada tahun 1550, St Filipus Neri dan St Ignatius Loyola juga telah memperkenalkan devosi ini, teristimewa demi silih atas dosa. Menyadari rahmat luarbiasa yang tercurah melalui devosi ini, pula menyadari bahaya-bahaya yang mengancam Gereja, Paus Klemens VIII dalam suratnya “Graves et diuturnae” (25 Nov 1592) memaklumkan, “Kami telah memutuskan untuk menetapkan secara umum di Ibukota Roma ini suatu rangkaian doa yang terus-menerus sedemikian rupa hingga di gereja-gereja yang berbeda, pada hari-hari yang ditentukan, diadakan Empat Puluh Jam Devosi yang saleh dan bermanfaat, dengan pengaturan gereja-gereja dan waktu yang sedemikian sehingga, setiap jam baik siang maupun malam sepanjang tahun, dupa sembahyang akan membubung tanpa terputus di hadapan wajah Tuhan kita.” Beliau juga menerbitkan peraturan-peraturan untuk devosi, yang kemudian dikumpulkan dan dipromulgasikan oleh Paus Klemens XI pada tahun 1705, dan dikenal sebagai Instructio Clementina.

Di Amerika Serikat, St Yohanes Neumann (1811-1860), Uskup Philadelphia yang keempat, adalah seorang penganjur Empat Puluh Jam Devosi yang gigih. Walau devosi ini telah ada di gereja-gereja di seluruh penjuru kota (pula di tempat-tempat lain di seluruh negeri), namun demikian belum pernah diusahakan sebelumnya, suatu jadwal devosi ini yang terorganisir dan terpadu di wilayah keuskupan. St Yohanes memiliki devosi yang amat mendalam kepada Tuhan kita dalam Sakramen Mahakudus dan ia berniat untuk menanamkan kehidupan rohani yang demikian kepada umatnya.

Sayangnya, pada masa itu suatu sentimen anti Katolik yang hebat melanda Philadelphia. Dalam kerusuhan Know Nothing pada tahun 1844, dua gereja dibakar sementara yang lainnya berhasil diselamatkan hanya karena ancaman tembakan senjata. Sebab itu, sebagian imam menyampaikan nasehat kepada St Yohanes bahwa memperkenalkan Empat Puluh Jam Devosi hanya akan menyulut kebencian terhadap umat Katolik dan menghantar Sakramen Mahakudus pada tindak profanasi. St Yohanes berada dalam kebimbangan.

Suatu insiden aneh yang terjadi membantu St Yohanes mengambil keputusan. Suatu malam, ia bekerja hingga larut malam di meja kerjanya dan tertidur di kursinya. Nyala lilin yang ada di atas meja jatuh dan menghanguskan sebagian kertas-kertas, tetapi semuanya masih dapat dibaca. St Yohanes terjaga, terkejut dan mengucap syukur bahwa api tidak melalap habis semuanya. Ia sujud berlutut untuk memanjatkan syukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya; dan terdengarlah suara-Nya yang mengatakan, “Seperti api berkobar di sini tanpa menghanguskan ataupun merusakkan tulisan, demikian juga Aku akan mencurahkan rahmat-Ku dalam Sakramen Mahakudus tanpa mencemarkan kehormatan-Ku. Sebab itu, janganlah takut akan profanasi; janganlah lagi ragu untuk melaksanakan rancanganmu demi kemuliaan-Ku.”

St Yohanes Neumann memperkenalkan Empat Puluh Jam Devosi pada sinode diosesan pertama pada bulan April 1853, dan devosi pertama dimulai di Paroki St Filipus Neri, sungguh suatu tempat yang pas mengingat St Filipus Neri telah memprakarsai devosi ini di kota Roma. St Yohanes sendiri melewatkan nyaris sepanjang tiga hari itu dalam doa di Gereja. Tak muncul masalah. St Yohanes kemudian memperkenalkan program tersebut untuk seluruh keuskupan, sehingga diadakan Empat Puluh Jam Devosi sepanjang tahun itu secara bergiliran di setiap paroki. St Yohanes Neumann menyusun sebuah booklet khusus untuk devosi ini dan mendapatkan indulgensi khusus bagi umat beriman yang ikut ambil bagian di dalamnya. Dalam Sidang Pleno di Baltimore pada tahun 1866, Empat Puluh Jam Devosi mendapatkan approval untuk seluruh keuskupan di Amerika Serikat.

Empat Puluh Jam Devosi memberikan kesempatan yang sungguh mengagumkan untuk perkembangan rohani setiap orang secara pribadi dan paroki secara keseluruhan. Dalam dunia di mana pencobaan dan kejahatan merajalela, di mana penghargaan terhadap Misa Kudus dan devosi kepada Tuhan kita dalam Ekaristi Kudus telah merosot, di mana tobat dan pengakuan dosa telah dilupakan, kita membutuhkan Empat Puluh Jam Devosi lebih dari sebelumnya.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Forty Hours Devotion” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”