Refleksi Mengenai St Yosef
BEGITU ISTERINYA, BEGITU PULA SUAMINYA
oleh: Broeder John M. Samaha, S.M.


Ketika ditanya mengenai martabat St Yosef dalam tradisi Kristiani, alm P. Francis L. Filas, S.J., pakar paling ahli di Amerika Serikat mengenai masalah ini, menjawab singkat, “Begitu isterinya, begitu pula suaminya.” Orang yang paling dekat dengan Yesus dan Maria sudah sepatutnya pantas menerima segala hormat dan pujian.

St Yosef jarang mendapatkan perhatian. Biasanya ia dilupakan, atau setidaknya dibiarkan berdiri dalam bayang-bayang di belakang. Sifatnya yang tidak suka menonjolkan diri tampaknya mempengaruhi sedikitnya perhatian yang diberikan kepadanya oleh banyak para pengajar Gereja.

Dalam suatu madah memuliakan Ekaristi Kudus, St Thomas Aquinas menggambarkan tak memadainya bahasa manusia untuk mengungkapkan penghormatan dan sembah sujud sepenuhnya kepada Sakramen Mahakudus. St Bernardus dan para pemuja Maria lainnya menyuarakan gagasan yang sama mengenai Santa Perawan. Saya pikir kita dapat mengatakan hal yang sama mengenai St Yosef, suami Maria dan bapa Yesus yang perawan.

Penghormatan kepada St Yosef berkembang perlahan setelah banyak studi dan refleksi, dan bukannya seketika menjadi terang dan jelas dalam sekejab mata. Bahkan hingga kini banyak umat Katolik cenderung beranggapan bahwa St Yosef adalah seorang santo yang mengagumkan, namun ia bukanlah bapa yang sesungguhnya dari Yesus, sebab itu kita menghormatinya sebagai pelindung Maria. Dengan tanggapan sepintas macam itu, orang-orang tersebut segera saja melupakan St Yosef dan mengasingkannya ke bagian belakang.

Sesungguhnya, pendapat macam ini merupakan pandangan umum pada tigabelas abad pertama kekristenan. Sejarah Gereja menunjukkan bahwa St Yosef adalah korban “benign neglect” (= kelalaian yang tak membahayakan) dari para kudus dan para Bapa serta para Pujangga Gereja awali. St Agustinus dan beberapa pujangga lainnya memang menulis mengenai St Yosef, tetapi amat jarang. Gelombang ini bergerak perlahan dalam 500 tahun berikutnya dan kita mendapati awal mula yang sederhana dari devosi  yang kokoh kepada St Yosef.

Teologi mengenai panggilannya, martabatnya, kekudusannya dan perantaraannya mulai berkembang baru pada abad pertengahan; abad ketujuhbelas adalah masa keemasannya. Antusiasme St Theresia dari Avila bagi St Yosef sungguh luar biasa, secara jelas diungkapkan dalam tulisan-tulisannya, serta diabadikan dalam duabelas biara baru yang diberi nama St Yosef.

Gelombang besar perhatian dimulai dengan para paus dari akhir abad kesembilanbelas. Semua paus dari masa-masa modern, sejak dari Paus Pius IX hingga Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, telah menyampaikan ajaran-ajaran penting mengenai St Yosef dalam dokumen-dokumen resmi mereka. Sejak tahun 1870, Gereja secara resmi mendorong trend baru ini ketika Paus Pius IX memaklumkan St Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta. Paus sesudahnya, Paus Leo XIII, menghadirkan St Yosef di hadapan kita dengan kedudukan dan tempat yang dengan amat tepat dijabarkan dalam ensikliknya mengenai St Yosef, Quamquam Pluries, 1889, “Tak dapat diragukan bahwa St Yosef lebih mendekati dari siapa pun ke keunggulan martabat dengan mana Bunda Allah melampaui segenap makhluk ciptaan dengan begitu luar biasa.”

Pemahaman dan penghormatan yang begitu mulia terhadap martabat St Yosef tidak berkembang seluruhnya seketika itu juga; dibutuhkan studi dan meditasi terus-menerus akan panggilan gandanya. Ekstrim terlalu banyak atau terlalu sedikit haruslah dengan seksama dihindari. Tanggapan khas yang sering kali dijumpai adalah bahwa Injil mengatakan Yosef adalah seorang yang tulus hati. Apa lagi yang dapat dikatakan?

Banyak sekali! Pada tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II menyampaikan kepada kita suatu penjelasan dan refleksi yang sungguh indah mengenai panggilan unik St Yosef dalam rencana keselamatan Allah dengan Redemptoris Custos (= Pelindung sang Penebus). Anjuran Apostolik yang inspirasional, yang menandai seratus tahun diterbitkannya ensiklik Paus Leo XIII ini, berbicara tentang Peran dan Perutusan St Yosef dalam Kehidupan Kristus dan Gereja. Anjuran Apostolik ini mengingatkan kita akan apa yang menjadikan St Yosef istimewa, bukan hanya bagi kita secara pribadi, melainkan bagi Gereja semesta.

Sebagian orang mempertimbangkan akan tidak disebutkannya sama sekali peran Yosef dalam Kitab Suci. Tetapi, panggilan Maria pun tidak. Walau demikian, apa yang sedikit dibicarakan itu sungguh dalam maknanya. Para teolog telah mengajukan alasan-alasan mengenai banyak peran dan hak istimewa yang dianugerahkan kepada Maria. Proses yang sama menyusul sehubungan dengan St Yosef. Begitu ke-Allah-an Yesus dan keibuan yang perawan dari Maria kokoh ditetapkan dalam doktrin Katolik dan dalam pemahaman umum, Yosef mulai muncul tanpa khawatir bahwa posisinya yang unik sebagai bapa yang perawan dari Yesus dan suami yang perawan dari Maria akan disalahtafsirkan.

Perkembangan devosi kepada St Yosef pada kenyataannya merupakan segi lain dari devosi kepada Maria. Permenungan secara lebih mendalam akan perutusan Yosef menghantar kita untuk mengenal secara lebih mendalam keagungan Maria. Posisi St Yosef dalam hubungannya dengan Yesus Kristus, Penebus kita, bertumbuh dari posisinya sehubungan dengan Maria, Bunda sang Penebus. Hal yang sama berlaku pula bagi Maria dan Yesus. Semakin kita mengenal Maria, semakin kita akan mengenal Putranya, yang dari-Nya Maria mendapatkan segala martabat dan Ia yang ia renungkan dengan setia. Paus Benediktus XV dengan jelas mengungkapkan gagasan ini, “Oleh St Yosef kita dihantar langsung kepada Maria, dan oleh Maria kepada sumber dari segala kekudusan, Yesus Kristus, yang menguduskan kebajikan keluarga melalui ketaatan-Nya kepada St Yosef dan Bunda Maria.”

Mutlak pasti adalah kenyataan bahwa Tuhan tidak memilih seorang yang tidak pantas untuk menjadi suami Maria, yang akan menjadi Bunda Perawan dari Putra Allah. Walau andaikata St Yosef hanyalah sekedar pelindung Maria dan bukan suaminya, ia masih tetap menempati suatu posisi yang jauh melampaui segenap manusia lainnya. Tetapi, Yosef adalah suaminya, dipersatukan dengan Bunda Allah dalam suatu perkawinan yang sungguh murni sebab perkawinan tersebut adalah perkawinan yang perawan. Perkawinan itu diadakan oleh Tuhan dengan tujuan melayani Inkarnasi, agar Putra Allah dapat diterima dan bertumbuh dewasa dalam persatuan perkawinan yang kudus itu. Sama seperti, dari segala makhluk ciptaan Tuhan tidak mendapati seorang pun yang lebih layak dari Maria untuk menjadi Bunda Yesus, demikian pula Tuhan tidak mendapati seorang pun yang lebih layak dari Yosef untuk menjadi suami Maria, dan dipersatukan dengan Yesus oleh ikatan rohani kebapaan sejati.

Dalam kata-kata Paus Leo XIII, “Tuhan, dengan memberikan Yosef kepada Santa Perawan, tidak memberikannya kepada Maria hanya sekedar sebagai pendamping hidupnya, saksi keperawanannya dan pelindung kehormatannya; Ia juga memberikan Yosef kepada Maria agar ia, melalui ikatan perkawinan, dapat ikut ambil bagian dalam martabat Maria yang agung luhur.”

Di Kalvari, ketika Yesus mempercayakan Maria ke dalam pemeliharaan St Yohanes sepanjang sisa hidupnya di dunia, hal itu merupakan tanda dari perkenanan ilahi. Dan kita terpesona akan kekudusan Yohanes. Namun demikian, betapa terlebih lagi perkenanan ilahi ketika Yosef dipilih untuk menjadi suami Maria sepanjang berpuluh tahun masa Hidup Tersembunyi; sebagai salah satu dari sedikit orang yang diserahi kepercayaan Misteri Inkarnasi; menjadi satu-satunya orang yang menerima puncak kasih sayang Maria kepada manusia dan membalas kasih sayang itu? Maria akan menjadi tidak sempurna dalam panggilan hidupnya sebagai seorang isteri apabila ia mencintai seorang lain lebih dari suaminya. Sebaliknya juga berlaku bagi Yosef.

Persamaan kekudusan antara Maria dan Yosef haruslah, tentu saja, dipelihara secara seimbang. Relasi Maria dengan Yesus jauh melampaui relasinya dengan Yosef. Tetapi, Paus Leo XIII mengingatkan kita bahwa sesudah Maria, tak seorang pun memiliki martabat yang terlebih agung dari Yosef, tak seorang pun memiliki kekudusan yang melebihi Yosef.

Bagaimanakah kita dapat memahami bahwa Yosef menjadi dia dengan segala yang ada padanya itu karena Maria? Artinya, Yosef dianugerahi tanggung jawab kebapaan atas Yesus oleh karena perkawinannya yang perawan dengan Maria. Melalui perkawinan ini, Yosef bukanlah sekedar seorang bapa asuh, ataupun bapa angkat Yesus; melainkan jauh lebih dari itu. Yesus diberikan kepada Maria bukan hanya sekedar ia seorang perawan, melainkan karena ia adalah isteri yang perawan dan sah dari St Yosef. Yesus diberikan kepada keluarga St Yosef, dan hal itu dilakukan hanya melalui Maria. Meski St Yosef bukanlah bapa Yesus secara fisik, namun ia dianugerahi ikatan rohani kebapaan atas seorang Putra yang adalah Putranya sendiri sebab Ia adalah Putra Maria.

Yesus, Maria dan Yosef membentuk Keluarga Kudus, kesatuan manusia inti dari strategi Allah dalam Inkarnasi dan Penebusan. Mereka ada bersama-sama dalam sejarah keselamatan. Ketiganya tak terpisahkan, dan sepatutnya senantiasa dipandang dan dipahami bersama-sama secara teologis, pastoral, maupun dalam karya seni Gereja. Identitas istimewa mereka dalam rancangan Allah saling berkaitan. Memandang mereka secara terpisah sungguh disayangkan dan dapat menyesatkan.

Hendaknyalah kita tidak melupakan St Yosef. Apa yang dilakukan St Yosef bagi Yesus dan Maria, akan dilakukannya juga bagi kita, baik bagi kita pribadi maupun bagi Gereja semesta.

Begitu Isterinya, Begitu Pula Suaminya.

sumber : "Like Wife, Like Husband; Reflection on St. Joseph" by Brother John M. Samaha, S.M.; The Marian Library/International Marian Research Institute, Dayton, Ohio; www.udayton.edu/mary

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”