Yosef versus Yosef
oleh: P. Francis J. Peffley

Yosef dari Perjanjian Lama
dijual sebagai budak
Yosef dari Perjanjian Baru
diperingatkan dalam mimpi

Apalah artinya sebuah nama? Apakah orang-orang yang memiliki nama yang sama juga memiliki banyak persamaan? Kita dapat melihatnya dalam diri dua tokoh terkenal dalam Kitab Suci, keduanya bernama Yosef, dan melihat persamaan mereka.

Yosef dari Perjanjian Lama adalah Yosef yang pertama. Gereja memandangnya sebagai tipe, atau gambaran, akan Kristus. Namun demikian, banyak orang kudus berpendapat bahwa Yosef yang pertama adalah juga gambaran akan St Yosef. Marilah kita lihat sepuluh persamaan antara Yosef dari Perjanjian Lama dan St Yosef dari Perjanjian Baru.

Persamaan pertama, keduanya memiliki ayah bernama Yakub. Ingat akan referensi biblis mengenai para bapa bangsa yang besar Abraham, Ishak dan Yakub? Seorang dari putera Yakub adalah Yosef. Injil Matius, yang mencatat silsilah keluarga Yesus, mengatakan bahwa Yakub adalah ayah Yosef, suami Maria yang melahirkan Kristus.

Persamaan kedua, keduanya adalah keturunan pemimpin bangsa. Yosef yang pertama adalah seorang bapa bangsa, seturut garis keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Ia adalah yang terakhir dan mungkin yang terbesar dari antara para bapa bangsa Perjanjian Lama. St Yosef juga keturunan pemimpin bangsa sebab ia adalah seorang keturunan Raja Daud. Sebagian ahli Kitab Suci berspekulasi bahwa andai bangsa Romawi tidak menduduki Palestina pada masa itu, dan andai garis keturunan Daud masih terus berkesinambungan, St Yosef akan menjadi orang yang pantas menduduki tahta.

Persamaan ketiga, keduanya mengalami penderitaan, namun menghadapi segala kesulitan dalam hidup mereka sehari-hari tanpa berkeluh-kesah. Yosef yang pertama, tanpa pikiran buruk di benaknya, pergi ke padang untuk mencari saudara-saudaranya, dan saudara-saudaranya itu bersekongkol untuk membunuh dia. Mereka menangkapnya, menanggalkan jubahnya dan melemparkannya ke dalam sebuah sumur. Kemudian, ketika mereka melihat suatu kafilah orang Ismael sedang dalam perjalanan ke Mesir, mereka menjualnya sebagai budak. Yosef dapat saja mengeluh, “Tuhan, inilah aku; seorang yang saleh. Mengapakah Engkau membiarkan penderitaan ini menimpaku?” Bukankah itu yang kadang kala kita keluhkan? Ketika kita menghadapi masa-masa sulit dalam hidup, kerapkali kita mengeluh, “Tuhan, mengapa harus aku? Apakah salahku?” Tetapi, terkadang Tuhan membiarkan kita mengalami penderitaan dan sengsara demi suatu kebaikan yang terlebih lagi, seperti yang Ia lakukan terhadap Yosef di Mesir. Karena Yosef dapat menafsirkan mimpi Firaun, Firaun menjadikannya tuan dan penguasa atas rumahnya. Yosef, yang dulunya seorang penggembala domba, sekarang adalah salah seorang pejabat terpenting di Mesir.

St Yosef harus mengalami banyak penderitaan juga. Maria sedang mengandung ketika, sebagai anggota keluarga Daud, mereka harus melakukan perjalanan ke Betlehem guna mendaftarkan diri dalam sensus seperti yang diperintahkan penguasa Romawi. Sungguh suatu perjalanan berat sekitar 85 mil jauhnya dengan menunggang keledai, tanpa terlebih dahulu memesan penginapan. Tetapi, Yosef taat pada hukum. Ia pergi juga dan tak mendapatkan penginapan, sebab Betlehem telah penuh sesak dengan para pengunjung lain yang datang untuk tujuan yang sama. Tanpa kenal lelah ia mengetuk pintu demi pintu, tetapi tak ada tempat baginya. Renungkanlah apa yang ada di benaknya saat itu. Ia sebagai suami, kepala rumah tangga, dan tahu bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Allah. Akhirnya, mereka menemukan sebuah gua di pinggiran kota di mana para gembala menggembalakan kawanan domba mereka, dan Yesus dilahirkan di kandang hewan. Raja langit dan bumi dibaringkan dalam sebuah palungan - wadah makanan hewan. Renungkanlah penderitaan itu, masa-masa sulit yang harus dialami Yosef. Tetapi, mengenang semua itu, hal-hal yang baik datang bahkan dari pengalaman yang sulit macam itu. Sebagai misal, dengan demikian digenapilah nubuat bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem. Tidak dinubuatkan bahwa Mesias akan dilahirkan di Nazaret. Di samping itu, Keluarga Kudus lebih memiliki kebebasan pribadi dalam gua daripada andai mereka tinggal di suatu penginapan yang penuh sesak. Keuntungan tambahan, sekarang kita dapat menyanyikan lagu-lagu seperti “Away in a Manger” dan bukan “Away in a Marriott [hotel],” misalnya.   

Persamaan keempat, keduanya meninggalkan rumah mereka dan pergi ke Mesir. Yosef dijual sebagai budak belian dan dibawa ke Mesir. St Yosef melarikan diri ke Mesir bersama keluarganya demi menghindari angkara murka Herodes.

Persamaan kelima, keduanya memiliki kemampuan untuk memahami mimpi. Dalam Perjanjian Lama, Yosef menjadi termasyhur karena kemampuannya ini. Semasa masih di penjara, ia dapat menafsirkan mimpi juru roti dan mimpi juru minuman Firaun. Ketika Firaun mendapatkan suatu mimpi yang aneh mengenai tujuh lembu gemuk dilahap oleh tujuh lembu kurus, ia tak dapat memahami maknanya. Firaun juga bermimpi mengenai setangkai gandum dengan tujuh bulir gandum yang baik; sekonyong-konyong muncul pula tujuh bulir gandum yang kurus, yang melahap bulir-bulir gandum yang baik. Firaun tak dapat memahami mimpi-mimpi ini, maka ia memanggil para ahli, tetapi mereka juga tak dapat menafsirkannya. Firaun mendengar mengenai kemampuan Yosef, maka ia memanggilnya dan memintanya menafsirkan mimpi-mimpi itu. Yosef memberikan tafsir mimpi kepada Firaun - bahwa Tuhan akan memberkati Mesir dengan tujuh tahun kelimpahan, tetapi setelah masa itu akan datang tujuh tahun kelaparan hebat. Karena kebijaksanaan Yosef dalam melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang, Firaun mengangkatnya sebagai pengurus rumah dan penguasa atas segala harta miliknya.

St Yosef juga mampu memahami makna mimpi-mimpinya. Perjanjian Baru mengisahkan empat mimpi, yang dipahami St Yosef dan tanpa ragu ditaatinya. Yang pertama adalah ketika ia bimbang ragu untuk mengambil Maria sebagai isterinya. Malaikat mengatakan, “Yosef, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu. Sebab dari Roh Kudus-lah ia mengandung Anak ini.” Yosef mengenali petunjuk dalam mimpi sebagai datang dari Allah dan ia mentaati arahan malaikat. Demikian pula, ia mengenali mendesaknya pesan yang disampaikan dalam mimpi yang kedua - “Larilah ke Mesir. Herodes berusaha membunuh Anak itu.” Dalam mimpi yang ketiga, Yosef mengerti bahwa sudah amanlah keadaannya untuk kembali ke Palestina sebab Herodes telah mangkat. Dan yang terakhir, dalam mimpi yang keempat, Yosef menerima nasehat malaikat untuk kembali ke Nazaret sebab putera Herodes telah menjadi raja. Kemampuan St Yosef untuk mengenali bimbingan ilahi yang disampaikan kepadanya lewat mimpi telah sungguh menyelamatkan Keluarga Kudus dalam beberapa peristiwa.

Persamaan keenam, keduanya adalah penguasa atas rumah dan harta milik raja. Firaun, raja Mesir, menjadikan Yosef sebagai penguasa dan tuan atas segala harta miliknya di Mesir. St Yosef, sebagai kepala Keluarga Kudus, adalah penguasa atas rumah Raja Semesta Alam di Nazaret. Yesus, Raja atas segala raja, Tuan atas segala tuan, Alfa dan Omega, memilih Yosef untuk menjadi kepala Keluarga Kudus, menjadi tuan, menjadi pemimpin dan penguasa atas rumah-Nya.    

Persamaan ketujuh adalah kemurnian dan kesucian mereka. Ingat apa yang terjadi pada Yosef? Yosef seorang yang sangat gagah, amat tampan, dan isteri Potifar jatuh hati kepadanya dan berusaha merayunya. Dari hari ke hari ia meminta dan berusaha membujuk Yosef untuk melakukan perzinahan, tetapi dengan tegas Yosef menolak. Hingga akhirnya, perempuan ini berdusta dengan mengatakan kepada Potifar, “Lihatlah apa yang berusaha dilakukan orang Ibrani ini kepadaku.” Potifar menjebloskan Yosef ke dalam penjara, di mana ia dikurung dua tahun lamanya. Dalam Perjanjian Baru, St Yosef adalah suami yang murni dari Maria. St Yosef, laki-laki paling murni dan paling suci yang pernah diciptakan Tuhan, menikah dengan Bunda Perawan. Mereka hidup dalam kemurnian sepanjang perkawinan mereka. Dengan demikian, keindahan keutamaan kemurnian dan kesucian diteladankan baik oleh Yosef dari Perjanjian Lama maupun oleh St Yosef dari Perjanjian Baru.

Persamaan kedelapan, keduanya mengalami kemiskinan. Yosef dari Perjanjian Lama, segala hak milik yang ada padanya direnggut darinya - saudara-saudaranya merampas hak warisannya, ia sendiri dijual sebagai budak tanpa memiliki apapun, dan secara tidak adil ia dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa tahun. St Yosef mengalami kemiskinan juga. Dalam Injil dikisahkan bahwa ia seorang tukang kayu, seorang dari kalangan pekerja. Ketika ia membawa keluarganya ke Betlehem, dan lalu ke Mesir, kemungkinan besar ia membawa serta perkakasnya agar ia dapat terus mencari nafkah demi menunjang hidup, tetapi hanya itulah segala yang dimilikinya dalam hal materi. Kita juga tahu bahwa Keluarga Kudus adalah keluarga miskin sebab ketika Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, mereka mempersembahkan dua ekor anak burung merpati, persembahan yang ditetapkan bagi mereka yang miskin.

Persamaan kesembilan, kedua Yosef bertanggung jawab untuk memberi makan seluruh dunia. Karena nasehat Yosef, Mesir merupakan satu-satunya negeri di dunia yang masih memiliki gandum dalam masa kelaparan yang hebat. Bangsa-bangsa lain datang ke Mesir untuk membeli gandum dari mereka. Terima kasih kepada Yosef, orang-orang di seluruh dunia masih bisa makan, dan Firaun bahkan menjadi semakin kaya dan semakin berkuasa. Lalu, apakah hubungannya dengan St Yosef? St Yosef adalah yang memelihara dan memberi makan Yesus. Ia mengamalkan keahliannya dan dengan itu mendapatkan nafkah untuk membeli makanan, yang menjadi makanan Yesus. St Yosef, sebagai kepala Keluarga Kudus, mengajarkan keahliannya kepada Yesus dan juga mengajarkan dasar-dasar agama kepada-Nya. Ia membantu Yesus bertumbuh dewasa dan menjadi Ekaristi bagi kita, yang memberi kita makan dengan Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allah-an-Nya Sendiri. Dengan demikian, secara tidak langsung, Yosef telah memberi makan seluruh dunia dengan Roti Hidup.

Yang terakhir, kita dapat datang kepada kedua Yosef di saat kesulitan. Orang-orang Mesir dan juga dari bangsa-bangsa lain datang kepada Yosef untuk gandum yang mereka butuhkan sepanjang masa kelaparan yang hebat. Pada masa sengsara ini ada pepatah yang mengatakan, “Datanglah kepada Yosef untuk mendapatkan apa yang kau butuhkan.” Karena Yosef memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap Firaun, banyak permohonan orang banyak dikabulkan. Kita para imam, para religius maupun awam dapat datang kepada St Yosef di saat kesulitan. Apapun kesulitan ataupun penderitaan yang kita alami, kita datang kepada Yosef sebab ia mempunyai pengaruh yang begitu kuat terhadap Putranya, Raja Alam Semesta. Yesus, sebagai Putra yang berbakti, taat pada Perintah Allah yang keempat dan, sepanjang sesuai dengan kehendak Bapa, melakukan apapun seperti yang diminta BundaNya dan Bapa AsuhNya.

Demikianlah sepuluh persamaan antara Yosef dari Perjanjian Lama dan St Yosef dari Perjanjian Baru, dua tokoh besar dalam Kitab Suci. Marilah sekarang kita merenungkan bagaimana mereka juga mengalami banyak pencobaan dan penderitaan sama seperti yang kita alami, dan marilah kita mengikuti teladan mereka dalam kasih setia dan ketekunan melayani Tuhan. Mereka senantiasa dapat dan siap sedia menolong kita, tetapi tentu saja jika kita “datang kepada Yosef.”


sumber : "The Two Josephs" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”