Kepedihan Hidup Sesudah Aborsi
oleh: P. William P. Saunders *
Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel mengenai dampak aborsi, yang meliputi “Sindroma Pasca Abortus”. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Alexandria

Sindroma Pasca-Abortus berada di bawah kategori “kekacauan akibat stress pasca-trauma”. The American Psychiatric Association (APA) menjelaskan bahwa kekacauan akibat stress pasca-trauma terjadi apabila “orang mengalami suatu peristiwa yang melampaui batas pengalaman biasa manusia yang pasti akan menggoncangkan jiwa nyaris siapa saja.” Jelas, aborsi, pembunuhan langsung atas seorang manusia yang tak berdosa, memenuhi definisi ini. Sebab itu, APA's Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Revised (1987) secara spesifik memasukkan aborsi sebagai suatu tekanan psiko-sosial.

Mengapa aborsi mengakibatkan stress pasca-trauma yang demikian? Alasannya: Pertama, aborsi dan pembunuhan kanak-kanak merupakan “tindak kejahatan yang durhaka” (“Gaudium et Spes,” No. 51). Membunuh seorang bayi tak berdosa yang belum dilahirkan adalah kejahatan yang keji. Tindakan kejahatan yang sedemikian itu akan mengakibatkan dampak gangguan hebat atas kesehatan rohani dan psikologis si ibu yang bertanggung jawab.

Kedua, prosedur aborsi sungguh brutal, ganas dan biadab. Jika seorang meragukan kebrutalan dan kebiadaban aborsi, silakan menonton, “A Matter of Choice,” “The Silent Scream” atau “The Eclipse of Reason.” Di samping itu, prosedur aborsi mengacaukan tubuh perempuan yang secara fisiologis telah dipersiapkan untuk memelihara seorang bayi yang akan bertumbuh-kembang dan untuk melahirkan anak itu. Memahami baik alasan-alasan pertama maupun kedua, aborsi membangkitkan perasaan rendah diri, bersalah, malu dan terasing.

Ketiga, jauh dalam lubuk hati, seorang, baik laki-laki maupun perempuan, tahu bahwa aborsi adalah salah dan bahwa seorang bayi dibunuh. Namun demikian, orang akan berusaha merasionalisasikan tindakannya atau mengenyahkan perasaan-perasaan tersebut. Lama-kelamaan, dampak aborsi akan meledak dalam kehidupan manusia dengan efek-efek yang menghancurkan.

Keempat, aborsi menghambat komunikasi. Pada umumnya seorang perempuan tak hendak membicarakan aborsi yang dialaminya; melainkan aborsi itu tetap tinggal sebagai suatu rahasia kelabu yang harus ditanggungnya seorang diri. Ia juga tak hendak mengingat kejadian-kejadian seputar aborsi atau prosedur aborsi itu sendiri; kenangan macam itu tidak menyenangkan lagi menyakitkan. Tambahan beban berupa hambatan komunikasi ini menyertai perasaan-perasaan depresi, sedih, menghindarkan diri dan penyangkalan diri. Sebagai misal, orang akan berbicara dengan mudah mengenai operasi usus buntu, operasi lutut atau bahkan operasi bedah plastik; namun tak seorang pun berbicara bebas mengenai menggugurkan kandungan.

Kelima, tindakan aborsi berdampak negatif atas relasi dengan orang lain. Si perempuan akan menolak laki-laki yang mungkin telah mendesaknya untuk menggugurkan kandungannya atau yang menyetujui aborsi tersebut. Ia akan menarik diri dari yang lain, khawatir akan penilaian dan penghakiman mereka atas tindakannya yang keji. Ia tinggal dalam keterasingan. Ketiga alasan terakhir ini - rasionalisasi dan upaya menekan perasaan, hambatan komunikasi dan keterasingan - bersatu menghambat proses pemulihan.

Alasan-alasan yang menimbulkan Sindroma Pasca-Abortus ini jelas saling berkaitan. Beberapa gejala spesifik dari Sindroma Pasca-Abortus meliputi “menangis berkepanjangan, depresi, perasaan bersalah, ketidakmampuan untuk memaafkan diri sendiri, kesedihan mendalam, amarah, kelumpuhan emosional, problem atau kelainan seksual, kekacauan pola makan, perasaan rendah diri, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, mimpi-mimpi buruk dan ganguan tidur, dorongan untuk bunuh diri, kesulitan dalam relasi, serangan gelisah dan panik, serta kilas balik.” Dalam suatu penelitian atas para perempuan yang menjalani prosedur aborsi didapati bahwa 31 persen dari antara mereka mengalami dorongan untuk bunuh diri; 50 persen mengalami gangguan emosional dan psikologis yang berkelanjutan hingga berbulan-bulan lamanya; 28 persen berusaha bunuh diri; 60 persen menyatakan bahwa keputusan untuk menggugurkan kandungan menjadikan hidup mereka semakin terpuruk; dan 94 persen menyesali keputusan menggugurkan kandungannya. (“Abortion: How Much Do You Know?” dan “Abortion: Your Risks,” keduanya diterbitkan oleh The American Life League.) Gejala-gejala ini mungkin tidak muncul segera sesudah aborsi, melainkan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya. Tak diragukan lagi, bukti-bukti yang demikian menegaskan dampak aborsi yang menghancurkan atas diri sang ibu.

Sindroma Pasca-Abortus menyatakan diri teristimewa apabila didapati keadaan-keadaan tertentu pada waktu aborsi, termasuk di antaranya: orientasi keibuan, anak-anak sebelumnya, aborsi-aborsi sebelumnya, ikatan religius dan keyakinan, kurangnya dukungan teman dan sahabat, paksaan atau tekanan, aborsi trisemester kedua, aborsi genetik versus fakultatif, ambivalensi dalam pro-aborsi, problem-problem emosional sebelumnya, rasa rendah diri, kurangnya dukungan keluarga, remaja versus dewasa. (Bdk. Association for Interdisciplinary Research in Values and Social Change, I, 1).

Sindroma Pasca-Abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis, namun demikian penyembuhan secara rohani juga diperlukan. Hanya dengan rahmat Tuhan yang ditawarkan lewat doa, Sakramen Tobat dan Ekaristi Kudus, seorang perempuan yang terluka akibat dosa berat aborsi dapat menemukan pengampunan dan damai. Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik “Evangelium Vitae” mengatakan, “Sekarang kami ingin menyampaikan sepatah kata khusus kepada kaum wanita yang pernah mengalami pengguguran. Gereja menyadari adanya banyak faktor yang barangkali pernah mempengaruhi keputusan anda. Gereja juga tidak meragukan, bahwa cukup sering itu merupakan keputusan yang menyakitkan dan bahkan menghancurkan hati. Barangkali luka hati anda belum sembuh. Sudah tentu apa yang terjadi dulu dan sekarang pun masih tetap keliru sekali. Akan tetapi jangan putus asa dan jangan kehilangan harapan. Melainkan cobalah memahami apa yang telah terjadi dan hadapilah itu dengan jujur. Kalau anda belum menjalankannya, serahkan diri anda dengan rendah hati dan kepercayaan untuk bertobat. Bapa segala kerahiman bersedia mengampuni anda dan menganugerahi anda damai-Nya dalam Sakramen Pendamaian. Anda akan memahami bahwa tiada apapun yang hilang secara definitif. Anda juga akan mampu meminta ampun dari anak anda, yang sekarang hidup dalam Tuhan. Berkat bantuan dan nasehat orang-orang lain yang sahabat dan pakar, dan sebagai buah pengalaman pahit anda, anda dapat termasuk pembela-pembela yang paling menyentuh hati bagi hak hidup setiap orang. Melalui komitmen anda terhadap hidup, entah dengan menerima kelahiran anak-anak lain atau dengan menampung dan memelihara mereka yang paling membutuhkan orang yang dekat dengan mereka, anda akan menjadi pendukung cara yang baru memandang hidup manusiawi” (no. 99).

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sadness of Life After Abortion” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”